
Suara seruan untuk menunaikan ibadah di pagi itu telah berkumandang dengan indahnya. Sepasang insan yang baru saja memulai lembaran hidup baru dalam biduk rumah tangga mereka telah bersiap untuk melaksanakan kewajiban mereka.
Kiana yang semakin terlihat cantik dengan mukena yang ia pakai telah selesai menghamparkan sajadah miliknya di belakang sang imam. Ia kembali merapikan apa yang ia kenakan saat ini untuk menghadap pada Sang Pencipta dengan lebih baik lagi.
Bian yang sedari tadi baru saja selesai memakai kopiah hitamnya nampak tersenyum manis pada istrinya. Hingga tak terasa, lantunan demi lantunan serta ibadah yang mereka lakukan telah selesai ditunaikan.
"Salim dulu," ucap Bian yang memutar tubuhnya menghadap Kiana yang menyodorkan tangannya untuk ia cium dengan takzim setelah sama-sama memanjatkan doa. Bian pun melakukan hal yang sama, meraih kepala sang istri untuk ia cium keningnya dengan mesra dan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
"Indahnya," ucapnya pada sang istri. Tidak pernah ia sangka jika saat ini akan merasakan kebahagiaan yang tak ternilai baginya.
Nikmat mana yang dapat dia dustakan?
Memiliki seorang istri cantik dan masih belia, serta seorang bayi laki-laki tampan sudah melengkapi hidupnya yang dulu tak sebahagia ini. Bian lebih bersemangat, ia seolah memiliki jutaan energi untuk mengahadapi kerasnya hidup di hari-hari mendatang itu karena kehadiran anak istrinya.
Hatinya seperti ditumbuhi bunga yang bermekaran, seolah banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Saat ini ia dapat merasakan bagaimana indahnya melaksanakan ibadah bersama istrinya. Ibadah yang dulu mungkin sudah lama ia tinggalkan dan baru kali ini ia kembali menunaikannya bersama sang istri.
Kiana memang wanita yang berbeda. Wanita itu mampu membawanya kembali ke jalan yang seharusnya ia raih. Sangat berbeda saat dulu ketika ia banyak memiliki pacar yang menuntunnya ke arah kesesatan. Pantas saja ibunya selalu tak suka jika melihat ia berpacaran dengan wanita cantik dan juga seksi. Bian kini tahu jawabannya. Sekali lagi dia tekankan, beruntung dan bersyukur dia memiliki Kiana dalam hidupnya.
Saat ini pun ia masih terpesona dengan tatapan menghipnotis Kiana setiap saat padanya. Seperti itu saja sudah mampu membuat dadanya berdebar hebat, sama seperti saat dulu ia merasakan rasa sayang untuk pertama kalinya pada seorang gadis yang kini menjadi istrinya itu.
"Eits, sebentar dulu. Jangan kemana-kemana Ki, aku mau manja-manja dulu sama kamu." sergah Bian yang langsung memposisikan dirinya untuk rebahan di atas pangkuan Kiana.
"Kirain mau apa," ucap Kiana yang cukup terkejut.
"Aku juga kan pengen kamu manjain. Mumpung si kecil masih tidur, aku gak mau ngelewatin momen indah seperti ini."
"Jadi ceritanya iri sama anak sendiri?"
"Ya nggak gitu juga, aku juga kepengen kan berduaan sama kamu." ujarnya seperti anak kecil. "Pegang kepalaku Bu, kamu bebas pegang-pegang sepuasnya. Aku ini Mas-mu, suami-mu lho ini." ucapnya meraih tangan Kiana untuk ia simpan di kepalanya.
"Ternyata Pak Bian manja," seloroh Kiana menahan senyum. Tak ayal ia pun membelai surai hitam milik suaminya dengan lembut.
"Hari ini aku masuk kerja lho Bu Kiana." seru Bian dengan wajah cemberutnya.
Kiana sudah tidak dapat menahan senyum geli pada suaminya.
"Ya bagus Pak Bian hari ini masuk kerja. Kasian Pak Hardi dengan pekerjaan yang lama ditinggalkan begitu aja."
"Kamu jangan salah ya Bu, selama aku di rumah pun selalu memperhatikan pekerjaanku itu. Jadi rasanya malas sekali kalau sekarang harus pergi, padahal pekerjaan masih aku bisa urus dari rumah. Ini weekend, seharusnya aku bersama keluarga kecilku."
"Pak Bian nggak bisa gitu, pekerjaan kan wajib untuk ditunaikan."
"Tapi aku nggak mau lho ninggalin anak istriku seharian. Aku bakalan kangen," rajuk pria itu sembari membenamkan wajahnya di perut Kiana. Sejurus kemudian kecupan demi kecupan ia daratkan di perut istrinya dengan gemas. Tangannya ikut melingkar pada pinggang yang menurutnya sangat terlihat seksi sekali. Bian suka berlama-lama dalam posisi ini. Bermanja-manja pada Kiana mungkin akan menjadi kebiasaan yang paling Bian sukai.
"Ini mau sampai kapan begini terus?" balas Kiana yang masih tersenyum geli yang sudah habis cara menanggapi celotehan suaminya.
"Kamu kayaknya nggak sayang sama aku ya, Ki?" Bian mendongak pada Kiana dengan tampang cemberut yang dibuat-buat.
"Kok gitu ngomongnya?"
"Ini, aku baru aja merasakan kedamaian dan kehangatan dalam pelukan kamu,"
"Hampir siang, nanti Mas kesiangan." balas Kiana.
"Padahal aku masih pengen manja-manja sama istriku," ucapnya setengah merajuk. Tak kalah ia kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Kiana dan memeluknya erat.
"Memang anak Mama kayaknya,"
"Ya udah pasti, suami-mu ini anak laki-laki pertama dari pasangan Bapak Hardian Adijaya dan Ibu Sremaya Rahajeng, yang menuruni keelokan dari kedua orang tuanya sehingga anak laki-laki yang mereka lahirkan itu tampan rupawan. Lihat, buktinya Albio yang begitu tampan. Bayi tertampan yang pernah Mas lihat, karena dia memiliki kedua orang tua yang rupawan juga. Nanti kalau Al sudah besar, sudah dipastikan akan memiliki adik-adik yang tampan dan juga cantik seperti Ibu dan Bapaknya." deretan kalimat panjang keluar dari mulut Bian yang mana mampu membuat Kiana tersipu malu dan kembali membelai kepala dan wajah suaminya. Bian pun tak kalah mengecupi tangan Kiana yang berada di wajahnya.
"Mas, Al sepertinya bangun. Sebentar aku ambil dia dulu." ucap Kiana saat mendengar suara tangis bayinya yang sudah terbangun.
__ADS_1
"Biar aku aja," Bian dengan cekatan mengambil bayinya yang sedang merengek menggeliat di atas kasur. Kemudian membawanya pada Kiana yang masih terduduk di atas karpet beludru halus dan sudah menanggalkan pakaian ibadahnya.
"Anak Bapak sudah bangun, Al cari ibu ya? Haus Nak?" ucapnya pada bayi yang kini sudah berusia 4 bulan itu. Kini bayi mereka terlihat lebih sehat dan berisi. Apalagi semenjak bayinya sudah meminum ASI langsung dari ibunya, terlihat semakin menggemaskan dan terlihat montok.
"Sini Mas, anakku nangis itu." ucapnya merentangkan tangan untuk segera meraih bayinya.
"Anakku-anakku, anak Mas juga ini, anak kita." sungut Bian. Kiana hanya tersenyum menahan tawanya setelah menggoda suaminya itu.
"Anak ibu bangun sambil nangis. Kasihan sayangnya ibu..." Kiana langsung menyusui bayinya yang bibirnya sudah mencecap-cecap mencari sumber minumnya.
"Lucu ya," ucap Bian saat memandangi bayinya yang sedang menyusu. Sesekali matanya melirik ke arah gundukkan indah yang kini tengah di dominasi oleh anaknya.
"Apanya?"
"Albio sayang, dia lucu banget. Lihat dia begitu gembulnya nyusu sama kamu buat aku tenang dan bahagia." ucapnya lagi seraya menciumi pipi montok bayinya.
"Sekarang lebih lancar ya keluarnya," ujar Bian lagi.
"Iya, bersyukur karena sekarang Al bisa minum ASI." jawab Kiana tak lepas menatap bayinya.
"Berkat bantuan aku, sayang. Jangan kamu lupakan Bapaknya ikut andil untuk menyuburkan sumber nutrisi anak dan suami-mu ini. Kinerja aku itu harus kamu apreasiasi, Bu." seloroh Bian semakin mendekatkan dirinya pada anak dan istrinya. Dia melingkupi kedua orang yang berharga dalam hidupnya itu dengan memeluk keduanya.
Kiana yang mendengar hal itu hanya mendelik pada Bian.
"Enak ya, Nak?" tanya Bian pada bayinya yang anteng sedang menyusu. Mata jernih bayi itu menatapnya dengan mulut kecil yang tak lepas dari benda kesukaan mereka berdua.
"Anteng banget sih kamu, sama kayak Bapak yang suka lupa waktu kalau udah ada di sana." kekehnya yang mendapatkan tatapan tajam dari Kiana.
"Anaknya lagi nyusu, jangan digodain kayak gitu."
"Aku kan cuma takjub aja sayang, ternyata benda milikku ini ternyata memiliki fungsi yang luar biasa buat aku dan Al." ucapnya terkekeh geli dengan perkataannya sendiri.
"Apaan sih, Mas..." balas Kiana melengos mengendikkan bahunya dimana Bian tengah menyimpan dagunya untuk melihat aktifitas anaknya dari atas.
"Makan malam, Mas? Diluar sama banyak orang?"
"Iya, sayang. Mau kan temenin aku? Kalau kamu nggak ikut, mendingan aku nggak usah datang juga."
"Lho kok gitu?"
"Makanya mau ya,"
"Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Nanti aku bakalan buat kamu malu, aku belum pernah makan malam diluar." ungkap Kiana mencurahkan kekhawatirannya.
"Ya nggak mungkinlah. Kan ada Mas yang selalu ada buat kamu. Pokoknya nanti malam kita pergi. Al nggak usah ikut, biar sama Oma Opanya aja di rumah. Ya udah, Mas mau mandi dulu." ucapnya yang sebelum pergi mencium pipi bayinya lama dan sempat-sempatnya mengecup dada sang istri yang tengah menyusui bayinya.
"Mas..." pekik Kiana yang mana suaminya terkikik sejurus kemudian menghambur masuk ke dalam kamar mandi.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Bian dan Kiana baru saja turun dari kamar mereka dengan wajah segar. Bian yang memangku Al di dadanya nampak lebih ceria pagi itu, sebelah tangannya yang menganggur ia gunakan dengan sebaik mungkin untuk meraih pinggang Kiana agar dapat berjalan beriringan dengannya.
Meski nampak risih karena belum terbiasa dengan perlakuan manis dari suaminya, Kiana tak bisa banyak menolak keinginan suaminya. Apalagi harus sampai terlihat orang-orang rumah. Pastilah malu rasanya.
__ADS_1
"Tumben banget meja makan masih kosong?" ucap Bian yang baru sampai keheranan dengan suasana pagi yang tidak seperti biasanya.
"Ibu sama Bapak belum turun, Pak. Mbak Fira baru saja turun, tapi menunggu di ruang keluarga saja katanya." ucap seorang pembantu rumah tangga baru tersebut.
"Oh... Ini yang masak siapa?" tanya Bian menunjuk pada menu sarapan yang tersaji di meja makan.
"Mbok Sarmi, saya bantu-bantu Pak."
"Ya udah, kita tunggu Mama Papa di sana aja dulu," ajak Bian pada Kiana untuk menghampiri adiknya di ruang keluarga.
"Aku ke dapur ya Mas,"
"Mau ngapain?"
"Lihat Mbok sebentar aja,"
"Jangan lama-lama." peringat Bian pada istrinya. Meski tahu apa yang akan dilakukan Kiana di sana, tetapi ia tidak mau melarang atau sampai membatasi apa yang ingin dilakukan oleh istrinya.
Sebenarnya Bian tidak suka kalau sekarang Kiana harus berlama-lama mengerjakan pekerjaan rumah. Toh Kiana istrinya sekarang. Suami dan anaknya lah yang harus menjadi prioritas. Dia mau Kiana hanya mengurus anaknya di rumah dan menanti kepulangannya, itu saja. Dia tidak mau Kiana sampai berlelah-lelah mengerjakan yang bisa dikerjakan oleh para pegawai di rumahnya.
Kiana hanya tersenyum, sebelum pergi dia sempat mengusap lembut pipi Bian. Pria itu hanya menatap kepergian seorang gadis muda lugu, polos, yang ia peristri dan telah memberikannya seorang putra yang begitu menggemaskan dan juga tampan. Meski cara pertemuan mereka yang tidak benar, hingga sampai kebersamaan mereka sampai sejauh ini, dalam hatinya yang terdalam Bian selalu merasa bersalah dan menyesal telah menyakiti istrinya.
"Wah... cucu Opa udah bangun." seru Pak Hardi yang baru datang bersama Bu Ajeng begitu berbinar saat melihat keberadaan anak dan cucunya.
"Sini-sini, Opa gendong ya? Mau? Iya mau?" ucap Pak Hardi. Bayi 4 bulan itu tertawa kecil melihat kakeknya yang ia anggap seperti sedang mengajaknya bermain. Pak Hardi meraih Al yang mana bayi itu pun merentangkan padanya.
"Tumben?" tanya Bu Ajeng pada Bian.
"Apa sih Ma?"
"Ini hari Sabtu, tapi pagi-pagi gini kamu udah rapih. Mau kemana?"
"Kerja dong, anak Mama ini kan rajin cari uang." jawab Bian santai.
"Halah, sekarang aja kamu begitu semenjak ada anak istri, dulu-dulu ngapain coba? Bisa inget nggak?"
"Apaan sih Ma... Nggak ada tuh dulu Bian macem-macem." Bian cukup gelisah saat melihat Kiana yang sudah kembali dengan membawa wadah berisi buah-buahan. Bisa gawat kalau istrinya itu mendengar tentang kenakalannya dulu dari mulut ibunya.
"Ya nggak macem-macem yang gimana-gimana, tapi sekalinya berbuat macem-macem bikin satu rumah pusing kepala." ungkap Bu Ajeng. Bian hanya cemberut, sekilas ia melihat Kiana yang tetap kalem seolah tak mendengar perkataan ibunya. Tapi Bian yakin kalau istrinya itu mendengar apa yang dikatakan ibunya.
"Nggak ada lho Mas macem-macem, aku macem-macemin cuma kamu aja sayang, tuh Al buktinya." ucap Bian pada Kiana yang kini ikut duduk di sampingnya. Bu Ajeng hanya memutar matanya malas.
"Ma, hari ini jadi kan?" tanya Fira yang datang langsung menodong ibunya.
"Ya harus, Mama udah persiapan banyak ini."
"Kapan perginya?" tanya Pak Hardi yang masih menggedong Al.
"Siangan aja, kalau sore takut hujan."
"Papa di rumah aja kalau gitu. Al nggak usah ikut ya, sama Papa aja biar ada temen."
"Ya harus tanya ibunya dulu, boleh atau nggak. Kalau Al ikut juga Mama malah makin seneng, makin rame."
"Memangnya mau pada kemana sih? Heboh banget Oma Opa ini," ucap Bian santai, Kiana hanya meremas lutut suaminya untuk memperingati.
"Mama mau jalan-jalan sama Fira,"
"Oh..." balas Bian mengangguk-angguk. "Kenapa harus bawa Al segala?" tanya Bian dengan mata menyipit.
"Ya Mama kan mau bawa Kiana sekalian buat jalan-jalan."
__ADS_1
"Hah?!" Bian membulatkan matanya, sejurus itu ia menatap Kiana yang tengah meringis dengan senyuman kecil padanya.