
Al sudah tidak ingin lagi memikirkan semua masalah tentang Tia. Baginya Tia itu adalah masalalu yang sudah tidak penting lagi untuk Al ingat dan pikirkan. Al hanya fokus untuk mempersiapkan tentang acara 7 bulanan untuk Sang Istri. Hari ini Al sudah memilih sebuah janji untuk menemani Ara pergi untuk berbelanja danĀ melakukan berbagai persiapan untuk acara diakhir pekan nanti.
Al sudah bersiap - siap untuk pergi menjemput Sang Istri dirumahnya. Selama didalam perjalanan menuju kerumahnya, ponselnya berdering Al langsung menjawab panggilan teleponnya itu.
"Sayang...kamu dimana sih? Aku udah daritadi lo nungguin kamu." Renggek Ara.
"Iya sayang...ini udah dekat kok, Kamu sabar ya!"
"Berapa lama lagi? Beneran udah dekat kan?"
"Iya beneran kok sayang....kamu tunggu aku diluar ya."
"Oke sayang!"
Setelah itu Ara langsung mengakhiri panggilan teleponnya, Ara langsung berjalan menuju keluar rumah dengan penuh semangat.
Tidak berapa lama kemudian Al sudah sampai lalu segera turun dari mobilnya, "Sayang..." Panggil Al sambil berjalan menghampiri Ara.
"Sorry ya aku telat...tadi aku harus mengerjakan pekerjaan aku sebentar baru aku bisa pulang, kamu gak ngambek kan karena aku kelamaan?" Ujar Al sambil mengelus pipi Ara.
"Hampir saja aku ngambek kalau saja kamu tidak menjawab panggilan telepon aku tadi." Balas Ara dengan wajah cemberut.
"Kamu cemberut begini aja cantik ya." Goda Al.
"Udah deh kamu gak usah gombalin aku...ayo kita berangkat sekarang." Ujar Ara langsung berjalan meninggalkan Suaminya yang kini hanya berusaha menahan tawanya.
"Silahkan masuk Tuan Putri." Ujar Al sambil membukakan pintu untuk Ara.
Ara masuk tanpa mengatakan apa - apa, sebenarnya Ara masih kesal kepada Al karena tidak pernah ontime kalau mereka berdua sedang janjian untuk pergi. Hanya saja dia juga mengerti kalau Al tidak melakukan segalanya dengan sengaja. Tapi tetap saja Ara berpikir untuk memberikan pelajaran untuk Suaminya itu agar suaminya itu merasa bersalah.
Dengan cepat Al masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Selama didalam perjalanan Al menggenggam jemari Sang Istri. Al ingin agar Ara tidak merasa kesal lagi kepadanya. Dia berusaha untuk melakukan usahanya agar Ara tidak marah lagi.
'Ternyata Al percaya ya kalau aku saat ini sedang ngambek dan marah? Sekali - sekali gapapa kali ya ngerjain Suami sendiri. Lagian salah dia juga sih!' Batin Ara.
"Tumben banget nih tangan aku digenggam terus? Kan kita sedang tidak menyeberang jalan?" Ejek Ara.
"Emangnya gak boleh ya sayang? Aku kan pengen mesra - mesraan lagi sama kamu seperti dulu...." Balas Al tidak mau kalah. Lalu dengan cepat Al langsung memberikan kecupan ditangan Ara.
"Makanya kamu jangan terlalu cuek dong sayang...aku juga butuh diperhatikan tau! Emang benar ya kata orang - orang kalau pasangannya itu akan merasa bosan, dulunya aku tidak percaya, tapi melihat kamu sekarang yang hanya memperdulikan pekerjaan kamu aku jadi semakin yakin kalau kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu dari pada aku." Ujar Ara yang meluapkan isi hatinya.
"Sayang...aku gak pernah berubah lho. Emang aku akui bekalangan ini aku terlalu sibuk...tapi itu semuanya kan beralasan? Udah dong jangan kesal lagi, kasihan tau sikembar yang ada didalam sana kalau mendengarkan kamu marah - marah terus seperti ini." Al berusaha untuk merendahkan amarah Ara.
"Sayangnya Mama maaf ya karena Mama marah - marah mulu...tapi kalau tidak begini Papa kalian juga tidak akan mengerti kalau Mama sangat kesepian dirumah dan membutuhkan perhatian darinya." Ucap Ara dengan penuh penekanan.
Al hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya saja, "Sorry ya sayang...kalau proyek aku selesai aku janji deh akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan kamu dan Anak kita... Aku juga berusaha keras untuk segera menyelesaikannya sayang... karena apa? Aku ingin setelah kamu lahiran nanti, aku ingin terus berada disamping kamu..." Ujar Al sambil kembali mencium tangan Istrinya.
"Udah deh gak usah janji - janji sekarang sama aku...."
"Ya udah aku akan buktikan kalau ucapan aku ini emang benar." Ujar Al dengan serius.
'Tuh kan seru juga kalau seperti ini..Al gak tau aja kalau aku hanya sedang berpura - pura marah. Ternyata akting aku cukup meyakinkan ya?' Batin Ara sambil berusaha untuk menahan agar tidak tertawa.
Akhirnya mereka berdua sampai juga di mall, Ara langsung turun dan terus saja merangkul Suaminya, belakangan ini Ara benar - benar sangat posesif karena dia tidak ingin ada wanita lain yang menatap Suaminya. Apalagi dirinya kini tengah mengandung besar.
Kini mereka berdua sudah sampai di butik, Ara langsung berjalan melihat gaun - gaun yang terpajang disana, dia sampai kebingungan sendiri karena dibutik itu memliki koleksi gaun yang sangat cantik - cantik. Ara sudah mengambil beberapa pasang gaun yang akan dicobanya diruang ganti.
Tapi sebelum itu Ara memilihkan beberapa warna senada untuk Al. Dia ingin diacara 7 bulanannya nanti, dirinya dan Al seragaman.
"Kamu coba ini semua ya sayang..." Ara memberikan beberapa pasang pakaian untuk Al.
Al tidak berkomentar sama sekali, Al langsung berjalan menuju ruang ganti juga yang terletak bersebelahan dengan Ara. Al dapat mendengar suara Sang Istri yang terus menerus mengeluh karena bentuk tubuhnya.
"Kamu kenapa sayang?" Al mengetuk pintu kamar ganti Ara.
Ara keluar dengan wajah cemberut, "Gaun yang aku suka gak muat sayang..." Jawab Ara dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Pilih yang lain saja sayang...lagian kan masih banyak pilihan yang lain." Al berusaha untuk membujuk Ara agar tidak sedih lagi.
"Tapi aku sukanya yang itu...lihat warna ini sama dengan pakaian yang kamu pakai sekarang. Cantik dan serasi sekali bukan? Aku tetap ingin yang ini sayang." Rengek Ara yang membuat Al semakin bingung sendiri.
Kemudian Al memanggil pegawai ditoko itu, "Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?"
"Istri saya mau gaun yang ini...apakah masih ada ukurannya lagi?"
"Tidak Pak...hanya ada satu saja."
"Pokoknya saya tidak mau tau...mau bagaimana pun caranya kalian harus mendapatkan gaun seperti ini lagi dengan ukuran tubuh Istri saya."
"Tapi Pak...Baik saya mengerti."
Setelah itu pegawai ditoko itu mengambil gaun yang ada ditangan Ara untuk memesan warna gaun yang sama lagi dengan warna gaun biru muda itu.
"Udah selesai kan?" Ujar Al.
"Tapi kan tetap saja emangnya gaunnya pasti ada?" Ujar Ara.
Al mengangguk, "percaya sama aku.....kamu tunggu disini sebentar aku ingin berganti pakaian." Kemudian Al masuk kembali kedalam kamar ganti pakaiannya dalam waktu sekejab saja Al sudah keluar.
Al dan ara berjalan sambil bergandengan tangan, "Gimana Mbak? Bisa kan gaunnya? Saya tidak memperdulikan berapa harga gaun itu...hanya saja dalam dua hari lagi gaunnya harus selesai." Ketus Al.
"Baik Pak kami usahakannya."
"Kalau gaunnya sudah selesai, tolong kirimkan langsung kealamat ini." Al memberikan alamat rumahnya lalu setelahnya membayarkan tagihan untuk pakaiannya.
Setelah semuanya selesai, Al dan Ara keluar dari butik itu. "Awww...."
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Al yang sangat khawatir dengan keadaan Istrinya.
"Sikembar menendang - nendang perut aku sayang..." Jawab Ara sambil mengelus - elus perutnya.
"Jadi gimana sayang? Apa sangat sakit?"
"Oh iya?"
"Sayang Papa...kalian pasti lagi bermain ya didalam perutnya Mama...jangan nakal ya sayang...kasihan nih Mama kalian." Setelahnya Al mencium sambil mengelus perut buncit Istrinya itu.
"Sepertinya mereka berdua dapat mendengarkan ucapan kamu deh Al...sekarang mereka berdua jauh lebih tenang lagi, tapi sayang..."
"Kenapa sayang?" Tanya Al.
"Aku laper...sedari tadi kita melewati tempat makan...aku sejujurnya telah menahannya sedari tadi...tapi semakin aku tahan aku semakin tersiksa karena wangi makanan ada dimana - mana." Rengek Ara dengan manja.
"Aku kirain ada apa lagi sayang....baiklah ayo kita makan. Kamu ingin makan apa?" Tanya Al sambil kembali merangkul Ara.
"Hmmm...aku ingin makanan yang pedas - pedas sayang...." Ujar Ara dengan sangat bersemangat.
"Oke baiklah Tuan Putri..." Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanannya lagi untuk mencari tempat makan yang banyak makanan pedasnya. Hari ini Al hanya ingin membuat Sang Istri senang saja, pasalnya memang benar bekalangan ini Al sering tidak menemani Ara karena lebih banyak menghabiskannya untuk melakukan pekerjaannya.
******
Omanya Alex menghampiri cucu kesayangannya itu didalam kamar Alex. Omanya mengetuk pintu kamar Alex sambil memanggil - manggil Alex.
Tidak berapa lama kemudian pintu kamarnya sudah dibuka oleh Alex, "Ada apa Oma?" Tanya Alex.
"Boleh Oma masuk kedalam?" Ucap Omanya dengan wajah ketat.
"Tentu saja Oma..." Alex langsung menggeser badannya sedikit kesamping agar Omanya bisa masuk kedalam kamarnya.
Omanya duduk disofa yang ada didalam kamar Alex, "Duduk disin Lex." Ujar Omanya sambil menepuk - nepuk sofa sebelahnya. Alex menurutinya kemauan Omannya, Alex berjalan mendekati Omanya lalu duduk tepat disebelah Omanya.
"Ada apa Oma? Apa ada masalah yang serius?" Tanya Alex sambil menatap Omanya.
__ADS_1
Omanya menghela nafas dengan kasar, "Oma tidak mengerti dengan kamu Lex...kenapa kamu harus bersikap sekarar itu dengan Bella! Sebenarnya apa kesalahan dia? Apakah dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua?" Omanya Alex langsung saja meluapkan isi hatinya.
"Dia memang pantas mendapatkannya Oma...dia sudah membuat Alex benar - benar kecewa, benci dan muak. Alex mohon tolong Oma sudah dia pergi dari rumah ini. Alex sudah tidak ingin bertemu dan menatap wajahnya lagi." Ketus Alex yang kembali emosi ketika sedang membicarakan tentang Bella.
"Tapi apa sebenarnya kesalahan dia sampai membuat kamu sebegitu membencinya? Bahkan kamu tidak ingin mengatakannya kepada Oma. Dengar Lex semua orang juga punya salah, tapi dia juga berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua kan? Oma benar - benar sangat menyukai Bella." Ujar Omanya.
'Bagaimana mungkin aku mengatakan apa yang telah Bella dan Daniel lakukan dibelakangku? Sebaiknya Oma tidak perlu tau tentang ini.' Batin Alex.
"Alex benar - benar tidak bisa memberikan Bella kesempatan kedua Oma." Tegas Alex sambil berdiri.
"Tapi kenapa Lex? Apa kesalahan Bella sebesar itu sampai kamu tidak bisa memberikan dia kesempatan lagi?" Tanya Omanya lagi dengan sangat penasaran.
"Iya Oma...bagi Alex kesalahan yang Bella lakukan sudah tidak bisa mendapatkan maaf lagi. Alex benar - benar membenci dia, jadi Alex mohon sama Oma agar tidak memaksa Alex udah menerima Bella kembali karena hal itu tidak akan mungkin terjadi. Tidak untuk Bella!" Tegas Alex lagi.
"Tapi kenapa Lex? Apa kamu tidak ingin melihat Oma kamu ini merasa bahagia? Lalu kenapa dengan hubungan kamu dengan Daniel? Kenapa kamu selalu saja menghindar untuk bertemu dengan Adikmu itu?" Desak Omanya.
"Alex ingin membuat Oma bahagia, tapi tidak dengan wanita seperti Bella. Sudahlah Oma aku sedang tidak ingin membahas tentang Daniel." Ujar Alex yang membuat Omanya semakin lama semakin menaruh curiga.
'Apa yang terjadi sebenarnya? Apa ini juga berkaitan dengan Daniel?' Batin Omanya.
"Baiklah Lex...Oma tidak akan pernah bertanya dan membahas tentang ini lagi dengan kamu. Tapi Oma tidak akan membiarkan Bella untuk pergi dari rumah ini sampai Oma tau apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu dan dia." Setelah mengatakan hal itu Omanya Alex langsung keluar dari kamar cucunya itu.
"Aku benar - benar tidak mengerti dengan sikap keras kepalanya Alex! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku harus segera mencari taunya sendiri." Ujar Omanya yang masih berada didepan kamar Alex, lalu Omanya berjalan pergi menuju kamarnya.
Sedangkan didalam kamar Alex yang merasa sangat emosi hanya meluapkannya dengan segelas bir yang memang sengaja disiapkannya bila dia benar - benar merasa kacau.
'Kenapa Oma tidak mau mengusir dia? Apa iya aku harus mengatakan semuanya dulu baru Oma akan merubah keputusannya? Aaaarrrgh!' Batin Alex.
Setelah menghabiskan satu botol Bir, Alex yang merasa kekurangan akhirnya memerintahkan pelayannya untuk mengambilkan bir dan mengantarkannya kedalam kamarnya.
"TOKTOKTOK!"
Setelah mendengarkan pintu kamarnya diketuk, Alex langsung memerintahkannya untuk masuk kedalam kamarnya, Alex yang saat ini sedang menatap kearah jendelanya tidak tau siapa yang saat ini sedang membawakan satu botol bir untuk dirinya.
"Tuan..."
Lamunan Alex buyar seketika ketika mendengar panggilan dari pelayannya itu, Alex langsung menoleh, "Siapa yang memerintahkan kamu untuk masuk kedalam kamarku? Pergi!" Ketus Alex dengan suara yang meninggi.
"Baik Tuan..." Tanpa mengatakan apa - apa lagi Bella langsung berjalan keluar kamar,
"Tunggu!" Seru Alex.
"Kenapa kamu hanya membawakan satu botol bir? Bukankah aku memerintahkan 3 botol?" Bentak Alex.
Bella hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Alex sama sekali, "Kamu tuli...aku sedang berbicara kepada kamu!" Ketus Alex lagi.
Bella tetap diam tidak ingin menjawab pertanyaan Alex, Bella malah memilih untuk pergi dari kamar Alex.
"HEI...BERANINYA KAMU MENGABAIKAN UCAPANKU!" Teriak Alex.
"DASAR WANITA TIDAK TAU MALU!" Teriak Alex yang masih tidak diperdulikan oleh Bella.
Alex malah semakin emosi sendiri dengan sikap diam Bella, Alex terus berteriak sampai Bella berbicara kepadanya, "DASAR WANITA MURAHAN!" Teriak Alex.
Langkah Bella kembali terhenti, kini Bella sudah mengepalkan kedua tangannya berusaha untuk merendamkan amarahnya saat ini.
"Kenapa? Kamu merasa ya kalau dipanggil seperti itu? Sepertinya itu memang sebutan yang cocok untuk kamu Bella!" Ketus Alex lagi sambil tertawa lepas.
Emosi Bella sudah tidak bisa ditahannya lagi, Bella berjalan dengan cepat untuk menghampiri Alex.
"PLAK!"
*****
Duh bagaimana ya selanjutnya?
__ADS_1
Oh iya ditunggu ya kejutannya...heheh
Happy reading guys!