
Setelah derai air mata saling bercucuran. Kini senyum kebahagiaan telah nampak menghiasi diantara wajah-wajah yang beberapa saat lalu bermuka sendu.
Sepertinya halnya hari ini cuaca yang terlihat begitu cerah, secerah hati-hati yang tengah berbahagia dengan harapan dan impian yang telah menjadi kenyataan.
Kiana telah menerima semuanya. Dia telah berdamai dengan keadaan dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi diantara mereka. Nyatanya bukan hanya dirinya saja yang terluka, akan tetapi kedua orang tua serta kakaknya pun ikut merasakan luka yang mendalam akibat peristiwa yang menyakitkan itu.
Aaric yang sejak tadi terus mengucapkan kata maaf pada Kiana, saat ini terlihat tersenyum. Mengungkapkan kata-kata rasa penyesalan yang ada di dalam hatinya atas apa yang sudah terjadi pada Kiana dulu, kini membuatnya merasakan beban yang berat ia pikul selama ini seolah sirna.
"Kakak tahu, sejak pertama kali melihat kamu waktu itu saja Kakak sudah merasa kalau kamu itu Asyilla." ungkap Aaric dengan keseriusannya saat ini.
"Maksud kamu?" tanya Bu Sofia menatap anak sulungnya itu.
"Iya, Mama ingat nggak? Aku pernah bilang pernah bertemu dengan seorang gadis yang cantiknya seperti Mama? Ternyata itu Asyilla Ma yang aku temui. Adikku ini," lirik pria itu pada Kiana yang juga ternyata sedang menatapnya dengan mata yang membelalak.
"Benarkah? Kenapa kamu baru bilang sekarang?" ucap Bu Sofia tak menyangka.
Aaric menganggukkan kepalanya "Aaric gak mau gegabah tiba-tiba saja mengira orang yang baru aku temui itu sebagai Asyilla. Mama mau anak tampannya ini kena gebuk, apalagi nanti yang gebuknya itu ternyata adikku sendiri." ucap Aaric berusaha mencairkan suasana dengan kekehan kecilnya.
Kiana yang mendengar itu hanya tersenyum malu. Ternyata pria yang tak sengaja ia temui itu adalah kakaknya sendiri. Dunia memang penuh dengan tipu-tipu. Begitu dekat dirinya saat itu dengan keluarganya sendiri.
"Benarkan dek?"
"I-iya," kikuknya menjawab pertanyaan kakaknya. Kiana masih belum terbiasa. Ada perasaan canggung yang seolah membatasi mereka. Wajar saja, meski sebuah keluarga, akan tetapi mereka baru dipertemukan kembali setelah bertahun lamanya.
"Aku nggak tahu kalau itu ternyata Kakak-ku..." balas Kiana malu-malu.
Aaric hanya tersenyum melihat adiknya yang salah tingkah tersebut. Ia memaklumi. Sejurus kemudian ia mengusak rambut kepala Kiana untuk mulai mengakrabkan dirinya dengan Kiana.
"Ternyata adikku ini sudah besar," senyum pria itu merekah. "Bahkan tidak menyangka gadis kecil ini ternyata sudah berbuntut satu." goda Aaric menahan tawa.
"Kak..." rengek Kiana. Ia tidak menyadari baru saja sisi manja yang ada di dalam dirinya keluar begitu saja. Hidup selama 21 tahun membentuk dirinya menjadi seorang gadis yang memiliki karakter kuat dan mandiri. Tak pernah mengeluh, bahkan untuk berkeluh kesah pun ia tak mampu. Sisi lain dari sikap manja sebagai seorang anak tak pernah ia ungkapkan selama ini. Maka saat bertemu dengan keluarga yang selama ini menungguinya, ia tak segan memperlihatkan sisi kecil tersebut dari dirinya.
"Kakak bercanda dek," kekeh Aaric kembali mengusak rambut Kiana dengan gemasnya. "Kakak senang, saat tahu mempunyai seorang keponakan laki-laki yang tampan. Tentunya tak kalah tampan dari pamannya ini, kan?"
"Ar, kamu senang sekali menggoda adikmu ini." sela Bu Sofia.
"Karena Aaric kangen sama adek, Ma..."
"Sekarang kita semua sudah berkumpul. Mama senang pada akhirnya kita bisa bersama kembali." ungkap Bu Sofia dengan wajah cerahnya.
"Ma," panggil Kiana.
"Iya sayang?"
"Aku pamit sebentar boleh?" ucap Kiana ragu-ragu.
"Kamu mau kemana?" tanya Bu Sofia yang mulai gelisah takut jika putrinya itu akan pergi meninggalkannya.
"Aku mau lihat Al sebentar. Mama nggak apa-apa? Kasian Mas Bian pasti kerepotan mengasuh Al sejak tadi." balas Kiana yang melihat dengan jelas raut wajah kekhawatiran Mamanya.
"Kamu jangan khawatir, kakak baru saja lihat Al. Dia sedang tidur di kamar ditemani sama mbak."
"Syukurlah... Aku khawatir kalau dia rewel dan sampai menangis. Lalu Mas Bian?" tanya Kiana pada Aaric.
"Sedang mengobrol dengan Papa,"
Kiana mengangguk kecil. Ia cukup merasa lega saat mengetahui Al yang sedang tertidur. Sebelumnya ia merasa khawatir kalau bayinya itu akan rewel karena jauh darinya.
"Ma, bolehkan aku lihat Al sebentar?" tanya Kiana pada Bu Sofia dengan hati-hati.
"Mama ikut, Mama juga mau lihat cucu Mama." terang Bu Sofia yang mana ikut beranjak dari tempatnya untuk mengikuti langkah Kiana yang hendak memeriksa keadaan Al yang katanya tengah tertidur.
Kiana merasa bersalah kala melihat putra kecilnya itu tengah tertidur ditunggui oleh seseorang di dekatnya. Kecemasan nampak jelas di raut wajahnya. Apa Al sempat menangis? Apa bayinya itu merasa haus dan lapar? Terlebih semenjak kedatangan mereka di rumah itu bayinya belum ada minum lagi. Pastinya Al merasa haus dan lapar sampai ia tertidur seperti itu.
"Maafin ibu, Nak. Al pasti nyariin ibu ya sayang? Maaf, ibu baru bisa ketemu sama Al..." ucap Kiana lirih saat berada dekat dengan bayi gembul tersebut. Kiana mengusap lembut wajah putranya yang menggeliat kecil saat menerima sentuhannya. Mulutnya mengecap-ngecap seolah mencari sumber kehidupannya.
"Cucu Mama?" ucap Bu Sofia yang ikut duduk di samping Kiana sembari memperhatikan Al yang sedang tertidur.
"Iya Ma, namanya Albio. Albio Abizar Kharis Adijaya." balas Kiana begitu bangga saat memperkenalkan putra kecilnya dengan sebuah senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Nama yang sangat bagus," puji Bu Sofia menatap kagum pada cucu laki-laki pertamanya tersebut. Ia ikut membelai wajah bayi tampan tersebut penuh dengan kelembutan.
Kiana menoleh pada Bu Sofia. Manik matanya menyorotkan kebinaran.
__ADS_1
"Pemberian Mas Bian. Nama tengah Albio yang Mas Bian sematkan untuk melengkapi namanya."
"Iya, sayang. Perpaduan nama yang sangat indah." balas Bu Sofia kembali memuji anak menantunya.
"Al baru saja berusia 7 bulan. Minggu depan tepat 8 bulan. Dia udah bisa duduk tegak dan merangkak. Minumnya sangat kuat, bisa Mama lihat betapa gembulnya Al dengan pipi merah chubby-nya. Dia senang tertidur kalau ada yang menimangnya dengan alunan bersenandung."
"Sangat mengemaskan sekali. Mama tidak sabar untuk segera menimang dan mengajaknya bermain setelah ini."
"Al pasti senang," balas Kiana sembari menerawang jauh dalam benaknya.
"Asyilla Audreyca Halim..." gumam Kiana menyebut nama lahirnya. "Nama yang sangat indah juga..."
"Nama yang diberikan oleh Papa-mu tepat di saat kamu lahir ke dunia ini." ungkap Bu Sofia menerawang pada peristiwa mengharukan berpuluh tahun berlalu.
"Terima kasih sudah memberi nama yang begitu sangat indah," ucap terima kasih Kiana pada sosok wanita yang telah sudi melahirkannya ke dunia ini dengan mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.
"Nama yang sangat indah dan cocok untuk putri Mama yang cantik ini..."
"Sama seperti Mama, cantik." puji Kiana apa adanya, yang memang benar di usia Bu Sofia saat ini, Mamanya itu masih terlihat sangat cantik.
"Saat itu, Papa sangat bahagia dan antusias saat mengetahui akan memiliki seorang anak perempuan. Bahkan, nama yang di sematkan oleh Papa untukmu saat lahir sudah jauh-jauh hari ia persiapkan untuk bayi perempuannya."
"Apa sebahagia itu Papa saat itu?"
"Benar sayang, bahkan Papa nggak pernah sekalipun meninggalkan kamu saat masih bayi merah. Papa selalu menjaga kamu meski ia sudah lelah sekalipun. Menyayangimu melebihi apapun. Kamu dan Aaric adalah anugrah terindah yang pernah kami miliki. Mama sangat bahagia, sampai kejadian naas itu membuat kami terpukul dan kehilangan semangat untuk menjalani hari-hari yang terasa hampa. Kami seolah kehilangan arah tujuan hidup tanpa kamu."
"Ma..." melas Kiana yang tak sanggup lagi melihat kesenduan Mamanya.
"Tapi masa-masa sulit dan suram itu sudah pergi. Kini kamu sudah kembali, pelita hidup kami. Membuat senyum kebahagiaan dalam keluarga ini kembali cerah."
"Mama menyayangimu, Syilla..." Bu Sofia kembali merengkuh raga Kiana seolah tak ada bosannya. Menghantarkan beribu kerinduan yang bersarang di dalam hatinya.
Kiana membalas pelukan sang Mama. Dia merasakan kehangatan pelukan hangat yang penuh dengan kasih dan sayang. Kiana tidak dapat berkata-kata lagi untuk mengucapkan beribu kata terima kasih untuk ia ucapkan pada Mamanya. Meski ia tahu semua itu tidak akan pernah bisa terbalas oleh harta berharga apapun di dunia ini untuk membalas perjuangan seorang ibu yang tidak bisa dinilai oleh apapun. Kiana begitu sangat bersyukur memiliki sebuah keluarga yang masih peduli dan mengharapkannya untuk kembali.
"A-aku... A-ku sayang Ma-ma..." lirihnya dengan isak tangis yang kembali merekah. Kiana menyeka air mata Bu Sofia. Memeluknya kembali seolah pelukan hangat sang Mama tak pernah ada puasnya.
"Sudah, Mama nggak mau lagi ada air mata. Kalau kamu membahas hal-hal yang menyedihkan, Mama bisa-bisa terus menerus menangis lagi." kekehnya meski masih beruraian air mata. Kiana pun ikut terkekeh melihat guyonan Mamanya.
"Makasih Ma," ungkap tulus Kiana pada sang Mama.
"Dan Mama sudah begitu bersabar untuk menanti kembali anakmu ini..." balas Kiana tak kalah pedihnya.
Suasana haru kembali menyeruak diantara mereka. Kiana begitu bersyukur sehingga ia dapat mengambil hikmah pada semua peristiwa yang telah ia jalani selama ini. Sehingga ia dapat dipertemukan kembali dengan keluarganya, kedua orang tua dan juga kakaknya yang sangat menyayanginya.
"Ini seperti sebuah mimpi..." gumam Kiana masih tak menyangka.
"Buka matamu, jangan pernah berpaling lagi. Semua ini nyata apa adanya. Mama kini ada untuk kamu, sayang..."
Saat-saat haru tersebut tersekat, Kiana dan Bu Sofia cukup terkejut saat mendengar suara tangis kecil Al yang merengek terbangun dari tidurnya.
"Shalehnya ibu..." Kiana meraih putra kecilnya sejurus kemudian membawanya ke dalam pelukan. "Anak ibu sudah bangun," ucap Kiana mengecup pipi tembem bayinya yang tengah menangis karena baru kembali melihat ibunya.
"Maafin ibu sayang, Al pasti cariin ibu ya?" ucapnya pada Al yang sesenggukkan sembari menatap iris Kiana yang berbinar menatap kembali bayinya.
"Ibu ada di sini, Al jangan sedih lagi ya. Lihat, ada siapa sekarang? Al tahu siapa yang ada bersama kita?" tangis si kecil pun melemah saat mendengar suara Kiana. Manik mata hitam itu menatap iris sang ibu dengan buliran air bening yang masih berjatuhan. Kedua sudut bibirnya melengkung. Seolah tengah memberitahu bahwa ia rindu pada ibunya.
"Lihat, ini Neneknya Al, sayang. Al sekarang ada di rumahnya Nenek." tunjuk Kiana pada putranya mengarahkan arah pandangan Al pada Bu Sofia.
"Hai sayang... ini Uti. Uti kangen sekali sama Al." ucap Bu Sofia memperkenalkan diri sebagai Utinya.
"Mama mau Al panggil Uti saja. Al mau kan panggil Uti?" Bu Sofia menatap wajah tampan Al yang tengah sendu kini berubah dengan menampilkan sebuah senyuman kecil saat menatapnya.
"Anak pintar..." ujar Bu Sofia mengusap rambut kepalanya, yang mana saat ini bayi tersebut kegirangan karena perlakuan neneknya.
"Al minum ASI?"
"Iya, sekarang Al sudah minum ASI, Uti..."
"Memang dulu tidak?" tanya Bu Sofia dengan kerungan di dahinya.
Kiana menggeleng dengan wajah yang meringis.
"Awal-awal saat Al baru lahir dia belum bisa minum ASI." balas Kiana apa adanya. Mendengar hal itu, Kiana jadi ingat saat-saat susah bersama putranya kecilnya saat itu.
__ADS_1
"Apa bermasalah?"
Kiana mengangguk. "ASI-ku nggak lancar, makanya aku nggak bisa kasih dia minum ASI waktu itu. Tapi sekarang Al sudah bisa minum yang banyak kan Nak?" celotehnya pada sang putra yang malah ikut tertawa.
"Mama bisa lihat kan pipi tembamnya. Sangat menggemaskan. Al tumbuh dengan sehat, dia kuat sekali minum sampai-sampai badannya begitu gembul sebesar ini." ucapnya seraya memberikan ASI untuk Al yang sudah tak sabar mengecap-ngecap ingin mendapatkan sumber kehidupannya.
"Iya, cucu Mama ini selain tampan memang sangat menggemaskan. Mama jadi teringat saat dulu ketika kamu masih bayi. Sama persis seperti Al. Gembul sekali saat menyusu." kekeh Bu Sofia mengingat masa-masa membahagiakan saat merawat Asyilla kecil.
"Benarkah?" ucap Kiana sedikit tak percaya.
Bu Sofia mengangguk pelan seraya masih terkekeh kecil.
"Mama perhatikan Al sangat mirip sekali dengan ayahnya. Garis wajahnya sama persis seperti Bian. Hanya dengan melihatnya sekilas, orang akan tahu bahwa Al adalah putranya Bian." seloroh Bu Sofia.
"Ya, semua orang bilang seperti itu." balas Kiana dengan sedikit cemberut.
"Lho, kenapa sayang? Bukankah bagus kalau seorang anak memiliki wajah yang menurun dari ayahnya? Itu tandanya, cinta si suami itu sangat besar untuk kita."
"Tapi yang mengandungnya selama sembilan bulan itu aku, yang melahirkannya hingga bertaruh nyawa itu juga aku. Tapi nggak ada sedikitpun wajah Al yang menurun dariku." keluh Kiana yang baru kali ini mengeluh kesah pada seseorang. Dan hari ini ia begitu bahagia bisa berkeluh kesah pada Mamanya sendiri. Ia seperti seorang anak yang sudah terbiasa hidup dekat dengan ibunya. Padahal tahu sendiri, mereka baru dipertemukan setelah bertahun lamanya. Seharusnya merasa canggung. Tapi ikatan batin diantara mereka begitu besar. Kiana merasa nyaman berada dekat dengan Mamanya.
"Tidak apa, yang terpenting kasih sayang orang tua kepada anaknya tidak boleh berkurang. Masih banyak kesempatan di kemudian hari untuk memiliki anak yang mirip denganmu," ujar Bu Sofia membesarkan hati putrinya.
"Maksud Mama?"
"Mungkin kamu dan Bian bisa memberi Mama dan Papa satu cucu lagi yang mirip denganmu," goda Bu Sofia dengan senyuman manisnya.
Kiana membulatkan matanya penuh. Pipinya merah merona tersipu malu. Bagaimana bisa ibunya berpikir seperti itu. Albio saja masih bayi, apa dikata kalau dirinya hamil lagi? Ia tidak bisa membayangkan kerepotan yang akan dia lakoni setiap hari mengurus dua anak yang masih sama-sama berusia bayi.
"Kia..." panggil Bian saat melongokkan kepalanya di ambang pintu saat mendengar suara percakapan di dalam kamar tersebut. Merasa sungkan untuk masuk, saat mendapati Bu Sofia berada di sana bersama anak dan istrinya.
"Mas Bian..." ucap Kiana melihat suaminya yang berdiri di ambang pintu. Bu Sofia ikut menoleh pada menantunya itu yang tersenyum kikuk padanya.
"Bian? Ayo masuk. Tidak apa-apa. Syilla sedang menyusui Al."
"I-iya Tante," balas pria itu. Sejurus kemudian Bian pun masuk menghampiri anak dan istrinya. Dia melihat putra kecilnya yang tengah asik memompa sumber kehidupannya dengan tatapan mata yang menyorot tak lepas dari manik ibunya.
"Al baru bangun?" tanya Bian pada istrinya dengan suara pelan. Bukan karena apa, ia merasa sungkan pada Bu Sofia yang berada tepat duduk di samping Kiana.
"Baru saja bangun," ucap Kiana yang dibalas anggukan kepala Bian.
"Ya sudah, Mama keluar dulu. Papa pasti cariin Mama ini. Kalian istirahat dulu di kamar ini. Mama akan suruh mbak buat rapikan kamar kamu Syilla."
"Makasih Tante," balas Bian yang merasa tak enak hati karena sudah merepotkan.
Kepergian Bu Sofia membuat Bian bernapas lega. Perasaan gugup entah kenapa dia rasakan saat berada dekat dengan Bu Sofia dan Pak Halim. Tadi saja saat ia mengobrol panjang lebar dengan Pak Halim, ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Biasanya tidak seperti itu. Mungkin karena saat ini keadaan sudah berbeda. Kesan mertua yang kini menyemat pada Bu Sofia dan Pak Halim membuatnya merasakan kegugupan tersebut.
"Mas dari mana?"
"Selesai mengobrol dengan Pak Halim. Mmm... m-maksud Mas, Pa-pa kamu." ralatnya susah payah.
"Maafin aku baru bisa pegang Al, Mas pasti kerepotan."
"Nggak apa-apa, Al anak yang kuat. Dia pasti mengerti dengan keadaan ibunya yang sedang melepas rindu bersama kakek dan neneknya."
"Mama mau dipanggil Uti sama Al,"
"Oh ya? Wah... anak bapak punya Uti lagi." ucap Bian seraya mengusap kepala Al yang mana bayi itu menoleh sekilas padanya.
"Tadi Uti-nya Al bilang apa?" tanya Bian yang penasaran.
"Ngobrol banyak, tentang aku."
"Terus?"
"Ya cuma ngobrol aja."
"Sepintas tadi Mas sempat dengar, memangnya siapa yang mau kasih cucu lagi, sayang?"
Kiana mengatupkan mulutnya. Ia membuang muka saat Bian dengan serius menatap wajahnya dengan penuh pertanyaan.
"Sayang, siapa?" tanya Bian lagi yang penasaran.
"I-itu... Mmm... tetangga Ma-ma yang bakalan punya cucu lagi." balas Kiana sekenanya. Ia bingung harus jawab apa. Bahaya kalau suaminya itu tahu kalau Mamanya sedang membahas tentang mereka. Bisa besar kepala nanti suaminya. Semoga saja Bian tak mendengar apa yang sudah diucapkan Mamanya barusan.
__ADS_1
*****