
Saat ini Ara sedang menatap wajah Suaminya yang tengah serius dalam melakukan pekerjaannya. Sebenarnya Ara sudah bosan seharian tidak diperbolehkan melakukan apapun juga, dia hanya boleh untuk makan dan makan saja sampai membuat dirinya benar - benar kenyang.
Ara terus saja memakan buah apelnya sambil menatap wajah Al terus menerus, sebenarnya Ara ingin protes kepada Al hanya saja Ara tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya itu. Bukannya Al tidak menyadari kalau dirinya terus saja ditatap oleh Istrinya seperti seseorang yang sedang ingin mengatakan sesuatu.
Hanya saja pekerjaan Al masih banyak, Al ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa berduaan dengan Istrinya itu. Ara yang merasa terabaikan mulai mencari perhatian dari Al agar dirinya kembali diperhatikan.
Ara sengaja mondar mandir dihadapan Al, ya walaupun Ara tidak mengatakan apa - apa, Al mulai tidak fokus lagi dalam melakukan pekerjaannya.
"Sayang..." Panggil Al.
Ara tersenyum karena rencananya berhasil, Ara berjalan menghapiri suaminya itu.
"Apa kamu memanggilku?" Ujar Ara dengan sangat bersemangat.
"Iya....kamu udah bosan ya?" Tanya Al sambil menatap wajah cantik istrinya itu.
"Iya sayang....kamu masih lama lagi?" Rengek Ara dengan manja.
"Gak kok sayang....sabar ya sebentar lagi selesai..." Ujar Al sambil membelai wajah Ara.
Ara hanya cemberut saja mendengarkan ucapan dari Suaminya barusan. "Ya udah deh...aku tunggu kamu ya..." Ujar Ara lalu kembali lagi ke tempat duduknya.
Al dengan segera kembali untuk melanjutkan pekerjaannya lagi, Kini Ara mulai mencari kegiatan dengan ponselnya, entah apa yang sedang dilakukannya sampai dirinya senyum - senyum sendiri, tanpa sengaja Al sedang melirik Ara.
Ara seperti chattingan dengan seseorang lalu senyum - senyum sendiri sontak membuat Al merasa tidak suka, Al dengan risau segera menutup berkas yang ada dihadapannya lalu berjalan menghapiri Ara.
"Sayang..." Panggil Al.
"Hmm...kenapa kamu gak lanjut kerja lagi sayang..." Tanya Ara tanpa menatap Al sama sekali.
"Kamu lagi ngapain sih?" Balas Al tanpa menjawab pertanyaan Ara.
"Ini aku lagi chattingan aja...kamu lanjut deh kerjanya sayang..." Balas Ara masih mengacuhkan suaminya.
Al semakin penasaran dengan yang dilakukan oleh Ara, Al mengintip Ara sedang chattingan dengan siapa. "Siapa dia?" Tanya Al sontak membuat Ara memandangi suaminya.
"Ini Dokter Alan sayang...aku sedang bertanya - tanya sama dia...." Jawab Ara jujur.
"Jadi kamu kok senyum - senyum sendiri....jelas - jelas itu sangat mengangguku Ra!" Tegas Al yang mulai merasa cemburu.
Ara menatap wajah suaminya itu dengan tatapan yang tidak mengerti, "Kamu kenapa sih Al? Aku kan tidak menganggu kamu lagi....kenapa kamu malah merasa terganggu? Aneh banget deh." Ujar Ara dengan keheranannya.
"Iya aku gak suka melihat kamu senyum - senyum kepada pria lain....jangan lakukan itu lagi....bagaimana aku bisa berkonsentrasi dalam melakukan pekerjaanku coba?" Balas Al dengan tatapan cemburunya itu.
" Astaga sayang...ini Dokter Alan lho! Aku juga gak akan mungkin macam - macam dengan Dokter Alan, ya walaupun aku tau kalau dia tampan." Ujar Ara dengan jujur.
"Iya tetap saja aku tidak suka kamu tersenyum seperti itu kepada dia." Tegas Al.
"Kamu cemburu ya?" Tanya Ara akhirnya dengan senyumannya yang semakin mengembang.
Gak kok siapa bilang kalau aku sedang cemburu? Aku kan hanya bilang kalau aku tidak suka...." Jawab Al.
"Iya dari tingkah kamu...kamu seperti sedang cemburu kok sayang...hayo ngaku! Gengsi banget sih kamu..." Goda Ara membuat Al semakin salah tingkah.
"Gak kok...idih ngapain mesti gengsi sih sayang...Ya udah deh terserah kamu aja, aku lanjut kerja ya." Ujar Al lalu kembali lagi berjalan menuju kursinya.
Al duduk dengan muka yang sudah ditekuk, tentu saja Ara menyadarinya, Ara berjalan mendekati suaminya yang saat ini sok - sokkan sibuk dengan berkas dihadapannya kembali.
"Ada apa lagi Ra?" Tanya Al dengan berusaha mengabaikan Ara yang saat ini ada disebelahnya.
"Aku suka kalau kamu sedang marah begini sayang...." Ujar Ara sambil memegangi dagu suaminya.
"Apaan sih Ra....kalau begini kapan aku akan selesai dengan pekerjaanku ini. Udah mendingan kamu duduk lagi ya...atau kamu bisa tiduran didalam sana." Pinta Al masih mengacuhkan Ara.
"Sayang...aku tadi hanya bercanda...beneran! Aku hanya ingin melihat ekspresi dari kamu saja...Aku hanya ingin mencari perhatian kamu saja karena sedari tadi kamu terus saja sibuk dengan pekerjaan kamu...." Bisik Ara.
"Dan aku bilang tidak apa - apa kan Ra...."
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu tidak menyukainya ya? Dasar gengsian." Ujar Ara.
"Lihat sayang...Papa kamu lagi marah sama Mama...bilangin gih supaya Papa kamu tidak ngambek lagi. Mama kan hanya ingin diperhatikan saja...." Ujar Ara sambil mengelus - elus perutnya.
Al sempat melirik sekilas, lalu tetap mengacuhkan Ara, Ara semakin tidak suka bila dicuekin dari suaminya itu, Ara membelai wajah Al lalu duduk diatas pangkuan suaminya itu. Sontak saja membuat Al kaget.
"Sayang...aku kan lagi kerja..." Ujar Al lagi.
"Iya terus..." Ujar Ara sambil memebelai wajah tampan Al.
"Gimana aku bisa lanjut kerjanya kalau kamu seperti ini?" Tanya Al sambil menatap Ara.
"Iya terus?"
"Kok terus mulu si....ya sebaiknya kamu duduknya disofa sana biar aku bisa lanjut kerja lagi. Kalau gak pekerjaanku tidak akan selesai - selesai dan kita tidak akan pulang - pulang." Ujar Al.
"Iya terus...." Kali ini Ara sudah melingkarkan kedua tangannya ditengkuk leher Suaminya itu. Ara mulai menutup berkas kerja suaminya, sontak saja membuat Al menggerlitkan alisnya.
"Kok kerjaan aku malah ditutup?" Protes Al.
"Apa kode yang aku berikan masih belum jelas ya sayang?" Ujar Ara dengan manja sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu ingin aku melakukan apa Ra? Kalau begini caranya kita tidak akan bisa kembali lho! Kamu mau kita gak bisa pulang?" Ujar Al yang masih berlagak sok jual mahal.
"Aku tidak perduli sayang....asalkan aku bisa bersama dengan kamu....jujur aku sangat kangen sama kamu." Bisik Ara sampai membuat pertahanan Al runtuh.
"Oke...jangan pernah menyesalinya ya..." Balas Al.
__ADS_1
Al mulai kehilangan kendalinya, Al mencium kening Ara, lalu sempat menatap Ara beberapa saat lalu mencium pipi kanan dan kiri Ara, Ara masih memejamkan matanya. Al mulai mencium bibir Ara sekilas, padahal Ara ingin membalas ciuman yang diberikan oleh suaminya itu.
Ara mulai membuka matanya, "Sayang...kamu lagi balas dendam sama aku ya?" Ujar Ara yang bisa menebak rencana Suaminya itu.
"Iya...."
Wajah Ara mulai cemberut menatap suaminya.
"kenapa sayang? Kamu merasa kecewa atau bahkan kamu tengah mengharapkan hal yang lebih lagi?" Balas Al.
"Gak...." Ucap Ara cepat.
"Oh iya? Tapi kenapa pipi kamu memerah?" Goda Al.
"Aku ngerasa aku telah berbuat kesalahan, ya udah mendingan kamu lanjutin kerja aja deh. Aku akan sabar menunggu kamu." Balas Ara, lalu ketika Ara ingin beranjak dari tubuh Al, Al langsung menarik Ara kembali sehingga kembali terjatuh diatasnya,
"Apa yang kamu lakukan!" Ujar Ara yang merasa kaget.
Al dengan cepat langsung saja menyambar bibir sang Istri, sampai membuat Ara kembali kaget, Ara memukul - mukul dada suaminya dengan menggunakan kedua tangannya. Tubuh Ara sudah ditahan oleh Al, Al memeluk tubuh Ara dengan sangat eratnya.
Ara masih berusaha untuk melawan dan melepaskan diri, akan tetapi dirinya tak kuasa sampai pada akhirnya Al sendirilah yang melepaskan ciuman mereka berdua, "Kali ini aku beneran sayang...."
Ara masih memandangi wajah dari suaminya itu, tidak ada tanda - tanda kebohongan disana. Ara mulai menelan salivanya sendiri.
Al secara perlahan mulai mencium bibir Ara lagi, kali ini Ara sudah tidak melakukan perlawanan lagi, bahkan Ara lambat laun membalas setiap kecupan dan lumatan yang diberikan oleh Suaminya itu.
Mereka benar - benar nekat melakukannya didalam kantor Al, entah sejak kapan Ara sudah tidak mengenakan pakaiannya lagi. Al melakukannya dengan cepat sampai Ara tidak menyadarinya. Keduanya terus saja menyatukan diri sampai pada akhirnya sama - sama mencapai pelepasan masing - masing, setelahnya Al mengendong tubuh polos Ara lalu membawanya ke ranjang dan meletakkan Ara disana, lalu Al mengecup kening Ara beberapa saat. Kemudian Al menyelimuti Sang Istri.
"Kamu tidur ya sayang...kamu pasti lelah. Malam ini kita menginap dikantor ya...." Ujar Al.
Ara hanya mengangguk menuruti keinginan suaminya. Dirinya memang benar - benar sudah merasa sangat lelah, capek dan ngantuk.
"Aku lanjutin kerjaan aku lagi ya...good nite sayang! love you!" Ujar Al sambil membelai wajah Ara.
"Love you too sayang...jangan terlalu lama bekerja ya...kamu juga butuh istirahat sayang!" Balas Ara.
"Iya sayang tidak akan lama kok, hanya setelah aku menyelesaikan pekerjaan aku ini saja. Aku janji deh." Ujar Al lagi lalu pergi meninggalkan Ara sendirian.
Al kembali untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Sedangkan Ara sudah memejamkan kedua matanya.
******
Mikha ragu untuk masuk kedalam rumah, padahal dirinya sedari tadi sudah sampai, dia masih tidak ingin bertemu dan melihat wajah Alvin. Tapi Mikha juga tidak mungkin terus menerus berada diluar rumah seperti ini kan? Mikha menatap jamnya yang kini sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dirinya sudah benar - benar merasa kedinginan dengan angin malam yang hari ini terasa begitu dingin.
Dengan terpaksa akhirnya Mikha memutuskan untuk masuk juga, apalagi saat ini perutnya sudah merasa sangat keroncongan. Mikha menekan bell masuk lalu melangkah masuk kedalam.
Mikha masuk sambil celingak celnguk untuk menatap apakah masih ada orang yang belum tidur, setelah memastikannya Mikha merasa lega karena ternyata sudah tidak ada lagi seseorang yang masih tersadar.
Dengan semangat Mikha melngkah menuju ruang makan karena merasa sangat lapar dan sudah tidak bisa menahannya lagi, sesampainya disana senyuman Mikha berubah menjadi wajah yang sangat ketat.
"Alvin..."
"Tunggu Mik...aku udah selesai kok...mendingan kamu saja yang disini aku akan pergi." Setelah mengatakan itu Alvin langsung berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Mikha yang masih terpaku ditempatnya.
'Kenapa Alvin baru makan sekarang ya? Apa dia sedari tadi nungguin aku pulang? Enggak mungkin kan?' Pikir Mikha lalu merasa masa bodoh.
Mikha mulai mengambil makanannya lalu melahapnya dengan semangat, dirinya benar - benar sudah merasa lapar sedari tadi. Dengan sekejab saja makanan Mikha sudah habis. Setelah merasa kenyang Mikha menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Kini Mikha sudah berdiri didepan pintu kanmarnya, Mikha masih ragu antara membuka pintu kamarnya atau tidak sampai pada akhirnya Alvin keluar dan menarik pegangan pintu kamarnya, Mikha yang sedang memegang gagang pintunya malah ikutan ketarik lalu keduanya saling terjatuh satu sama lainnya denga posisi Mikha berada diatas tubuh Alvin.
Dengan cepat Mikha langsung bangkit dan merapikan dirinya. Lalu tanpa mengatakan apapun juga Mikha segera masuk kedalam kamar mandi.
"Sorry Mik...aku tidak tau kalau tadi kamu akan masuk kedalam." Teriak Alvin dari luar kamar mandi.
Mikha tidak memberikan jawaban apapun juga, Kini Mikha masih memegangi dadanya. Detak jantung Mikha serasa tidak karuan karenanya. 'Kenapa sih harus terjadi kejadian seperti tadi?' Batin Mikha yang merasa sangat malu.
Setelah berdiam diri tanpa melakukan apa - apa didalam kamar mandinya, Mikha yang sudah mulai merasa tenang akhirnya memutuskan diri untuk mandi agar membuat dirinya jauh lebih rileks lagi.
Mikha yang sudah selesai mandi secara perlahan keluar dari dalam kamar mandi, ternyata Alvin berada didalam kamar sambil memegangi ponselnya. Mikha hanya berusaha untuk tidak menganggap keberadaan Alvin sama sekali, Mikha mulai masuk kedalam ruangan ganti pakaiannya, didalam sana Mikha mulai mengenakan piyama tidurnya secara asal.
'Kenapa aku yang jadi salah tingkah seperti ini sih? Biasa aja Mik...ingat kalau kamu masih marah dan sakit hati sama Alvin....jangan mudah luluh begitu saja.' Pikiran itulah yang akhirnya membuat Mikha memberanikan diri untuk menghadapi Alvin.
Tanpa mengatakan apapun juga, Mikha langsung naik keatas ranjang mereka. Mikha mulai menarik selimut tebalnya lalu membelakangi Alvin. Alvin melihat Mikha merasa sangat sedih, Alvin mengarahkan tangannya karena dia ingin sekali menyentuh Mikha. Akan tetapi seakan tak kuasa Alvin akhirnya menahan tangannya.
'Maafin aku Mik...aku berharap kamu akan membuka pintu maaf untukku...dan aku akan bersabar untuk itu.' Batin Alvin.
******
Ditempat lain...
Alan yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya tidak tau arah dan tujuannya dirinya ingin kemana hingga akhirnya Alan mengemudikan mobilnya kearah apartemen Clara, lalu sesampainya diparkiran Alan langsung mematikan mesin mobilnya. 'Ya Tuhan apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku malah menuju kesini?' Pikirnya.
Alan hanya berdiam diri saja didalam mobilnya tanpa melakukan apapun juga.
'Aku sudah sampai disini setidaknya aku harus turun dan mengecek keadaan Clara pada saat ini.' Pikiran itulah yang akhirnya membuat Alan memberanikan turun dari mobilnya.
Alan berjalan masuk kedalam lobi apartemen lalu menuju ke lift dan menekan tombol lalu menunggu beberapa saat sampai pada akhirnya pintu liftnya terbuka. Alan masuk lalu menekan angka gedung apartemen Clara.
Kini Alan sudah berada didepan pintu apartemen Clara, dirinya ingin sekali untuk menekan bell atau langsung masuk kedalam sana karena dirinya memang mengetahui password masuk apartemen Clara. Entah apa yang membuat Alan merasa ragu, Alan mengurungkan niatnya untuk menekan bell.
'Maaf Cla....kalau boleh jujur aku ingin sekali menemui kamu...tapi aku sadar kalau kamu tidak akan menyukainya.' Batin Alan dengan lirih.
Alan memutuskan pergi dari apartemen Clara, seperti seseorang yang sedang frustasi Alan berjalan menatap bawah saja. Alan bahkan tidak memperdulikan kalau ponselnya terus saja berdering. Malam ini Alan memutuskan untuk pergi ke sebuah bar.
Alan minum bir sebanyak - banyaknya sampai membuat dirinya benar - benar sangat mabuk.
__ADS_1
Samar - samat Tia melihat Alan, dia berjalan mendekati Alan untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah untuk melihat orang. 'Alan? Sejak kapan dia menjadi seorang pemabuk seperti ini?' Batin Tia.
Tia tersenyum mengejek, lalu mengambil ponselnya untuk merekam Alan yang terus saja meneguk minumannya tanpa henti, "Kakak akan memberikan kamu sebuah kejutan Cla...kamu pasti akan sangat senang melihatnya."
Setelah merekan selama yang dia inginkan, Tia memutuskan untuk pergi dari sana.
Keesokan harinya, Alan yang berada didalam kamar hotel masih tertidur dengan pulasnya, ponselnya terus saja berdering sampai membuat dianya merasa sangat terganggu.
Alan meraba - raba ponselnya untuk mencari keberadaan ponselnya itu, setelah menemukannya tanpa melihat nama dari si penelepon Alan langsung menjawab panggilannya.
"Hmmm...halo..."
"Ini Mama Lan! Apa yang sebenarnya kamu lakukan tadi malam? Kenapa kamu mengabaikan panggilan telepon Mama tadi malam? Kamu benar - benar mencoreng nama baik dari keluarga kita! Kembali sekarang juga!"
"Apa sih yang sedang Mama katakan? Emangnya Alan berbuat apa Ma?"
"Kalau kamu mau tau...pulang sekarang juga! Mama dan Papa tunggu kamu dirumah."
"Iya Ma..."
Setelah itu Alan kembali tidur kembali karena kepalanya masih terasa sangat pusing sekali.
Dua jam kemudian, Alan mulai bangun dari tidur panjangnya, Alan memegangi kepalanya yang saat ini sangat pusing. Alan berjalan menuju kamar mandi karena merasa sangat mual, Alan memuntahkan segalanya disana sampai dirinya benar - benar merasa lega.
Setelah itu Alan melihat dirinya didepan cermin, Alan membasuh wajahnya dengan menggunakan air, setelah merasa jauh lebih segar lagi, Alan keluar dari kamarnya untuk sarapan, entah mengapa semua mata saat ini sedang tertuju kepadanya.
'Apa aku yang sedang kege'eran ya? Tapi kenapa aku merasa kalau mereka semua saat ini sedang menatap kearahku? Apa mungkin ini semua hanya perasaanku saja?' Batin Alan.
Alan berusaha untuk mengacuhkan pandangan - pandangan dari orang yang tidak dikenalnya itu, akan tetapi semakin lama dirinya merasa sangat risih dengan tatapan - tatapan itu. Hingga akhirnya Alan kembali lagi menuju kamar hotelnya.
"Aneh banget deh...apa diwajahku ini ada hal yang aneh? Kenapa semua orang seperti sedang menatapku?" Ujarnya sambil menatap diirnya lagi didepan cermin.
Tapi Alan tetap tidak mengetahui apa - apa, hingga akhirnya dia memutuskan untuk check out dari kamar hotelnya itu. Alan mempercepat langkahnya untuk masuk kedalam mobilnya lalu segera melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Perasaan Alan benar - benar tidak enak sama sekali, tapi dia juga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Alan memutuskan untuk singgah sebentar ke restoran untuk membelikan makanan kesukaan Clara, dia berencana untuk memberikan makanan itu tepat didepan pintu apartemen Clara.
Sesampainya disana Alan langsung meletakkan makanan yang beli tadi dan beberapa cemilan, susu dan vitamin untuk wanita hamil. Kemudian Alan menekan tombol bell apartemen Clara secara berkali - kali. Lalu dengan cepat kabur dari sana.
Ternyata secara kebetulan Tia yang memang ingin menemui Clara melihat apa yang sednag dilakukan oleh pria itu. Tia tersenyum sinis menatap Alan. 'Alan...Alan...apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan? Biarpun kamu melakukan itu, Clara tidak akan pernah kembali lagi kepada kamu...' Batin Tia.
Kini Tia sudah berada didepan pintu apartemen Clara. Hanya perlu beberapa saat hingga akhirnya Clara membukakan pintu untuk tamunya itu.
"Kak Tia..." Ujar Clara saat melihat Tia sudah berada didepan apartemennya pagi - pagi seperti ini.
"Hai Cla..." Ujar Tia sembari memberikan pelukkan untuk Clara.
"Mari silahkan masuk Kak..."
Clara masih bingung kenapa Tia datang pagi - pagi dengan belanjaan yang sangat banyak ditangannya itu.
"Ini semua Kakak letakkan dimana? Oh iya Cla, ini ada sarapan, mendingan kamu makan dulu deh." Ujar Tia sambil membuka satu persatu plastik belanjaan itu.
"I-iya Kak..."
Clara memindahkan makanannya ke piring lalu menawari Tia juga, akan tetapi Tia menolaknya dengan alasan sudah sarapan. Tanpa merasa curiga sama sekali Clara melahap makanannya itu, itu adalah makanan dari salah satu restoran favorite Clara.
Clara melahap makanannya tanpa memikirkan apapun juga,
"Gimana Cla? Apa kamu menyukainya?" Tanya Tia.
"Iya Kak...thanks ya Kak! oh iya bagaimana Kakak mengetahui tentang makanan kesukaan Clara ini?" jawab Clara penasaran sambil meneguk minumannya.
"Ini semua dari Alan..." Ujar Tia jujur.
"UHUK...UHUK...UHUK!"
Spontan Clara tersedak ketika Tia mengatakan hal itu.
"Pelan - pelan Cla...kamu tidak perlu merasa seterkejut ini..." Ujar Tia sambil menepuk - nepuk pundak Clara.
Setelah merasa jauh lebih baik lagi, Clara menatap Tia dengan tatapan tidak mengerti. "Kakak tau apa yang saat ini sedang kamu pikirkan...tadi tanpa sengaja Kakak bertemu dengan Alan, dia meletakkan semua makanan dan belanjaan ini didepan pintu lalu pergi. Oh iya Kakak akan menunjukkan sesuatu yang sangat menarik untuk kamu lihat." Ujar Tia dengan sangat bersemangat.
Clara masih tidak percaya dengan apa yang sedang didengarnya saat ini, 'Jadi Alan yang membawa ini semua...' Batin Clara.
"Kamu mau melihatnya Cla?" Tanya Tia lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Clara.
Clara hanya mengangguk saja.
"Ini rekaman tadi malam, secara tidak disengaja Kakak bertemu dengan Alan tadi malam di Bar....Kakak melihat dia begitu mabuk, awalnya Kakak tidak percaya kalau itu adalah Alan, tapi semakin Kakak mendekat ternyata benar kalau itu adalah Alan.
Clara melihat video rekaman yang ditunjukkan oleh Tia, Clara masih tidak habis pikir kalau Alan bisa semabuk itu. Bahkan saat bersama dengan dirinya saja Alan tidak pernah menyentuh alkohol. Direkaman ini malah Clara melihat Alan seperti seseorang yang sudah terbiasa untuk minum minuman keras.
"Gak mungkin itu Alan Kak..." Ujar Clara sambil mengelengkan kepalanya.
"Kamu masih tidak percaya? Apa jangan - jangan kamu masih cinta lagi sama pria seperti itu? Ingat Cla, keluarganya sudah menghina dan menginjak - injak harga diri kamu!" Ucap Tia dengan penuh penekanan sambil memegang kedua bahu Clara.
"Tapi itu tidak mungkin Alan Kak! Dia bukan pria yang suka minum seperti itu..." Clara masih membela Alan.
Tia malah tersenyum mengejek dan sinis menatap Clara.
"Ternyata kamu tidak pernah melupakan pria itu Cla...! Kamu masih saja membelanya seperti biasanya...." Ujar Tia.
*******
Tadaaa.... semoga kalian suka ya dengan episode hari ini.
__ADS_1
So guys, ini cerita dari sudut pandang author ya...!
Happy reading guys!