
Alex dan Clara yang saat ini sedang memandangi Alvin dan Mikha dengan tatapan yang sukar untuk diartikan, ada tatapan tidak suka dan cemburu dimata keduanya.
Alex bahkan tidak menyadari lagi kalau ada yang sedang memperhatikan dirinya, wanita itu tersenyum puas melihat Alex seperti dibakar api cemburu, wanita itu berjalan untuk mendekati Alex.
"Ternyata kamu suka sama wanita yang sudah mempunyai pasangan ya Lex?" Bisik Bella.
Sontak membuat pandangan Alex tertuju kepadanya, "Kamu...kenapa kamu bisa ada disini?" Alex terus menatap Bella dengan tatapan tajamnya.
"Tenang Lex aku tidak akan macam - macam kok......aku hanya ingin bertemu dengan kamu!" Ujar Bella sambil memainkan jemarinya diwajah Alex.
Alex dengan kasar menepis tangan Bella, "Terserah kamu mau ngapain disini...tapi jangan dekat - dekat denganku! Mengerti." Ancam Alex lallu pergi meninggalkan Bella.
'Apa dimata kamu aku sudah tidak mempunyai arti apa - apa lagi ya Lex? Kenapa kamu sampai sebegini bencinya sama aku?' Batin Bella dengan sedih.
Bella hanya mengawasi Alex dari kejauhan saja, jujur didalam lubuk hati Bella yang paling dalam dia sebenarnya sangat menyesal telah selingkuh dari Alex pria yang selalu mencintainya dengan tulus dan menjaga kehormataannya. Kini Bella menyadari kalau tatapan Alex kepada dirinya telah berubah, Alex bukan Alex yang dulu lagi yang selalu menatapnya dengan tatapan cinta.
Akan tetapi Bella tidak ingin menyerah untuk meluluhkan hati Alex lagi, ya walaupun dia tau pasti kalau semuanya itu akan sangat sulit untuk dirinya. Hanya saja Bella ingin membuktikan bahwa dirinya benar - benar tulus dan menyesal dengan apa yang diperbuatnya dimasa lalu.
"Aku tidak akan pernah menyerah Alex! Aku akan membuat kamu untuk kembali lagi kepadaku..." Ucap Bella dengan penuh keyakinan.
Alex masih saja memandangi Mikha dan juga Alvin yang berdansa, sebenarnya Alex ingin sekali untuk melepaskan Mikha dari Suaminya akan tetapi dirinya tidak ingin menciptakan keributan ditempat pestanya sendiri.
Al dan Ara saling menatap satu sama lain, "Lihat itu mereka sayang....seperti sebentar lagi keduanya akan segera berbaikan." Ujar Al yang sangat senang melihat Alvin dan Mikha.
"Aku rasa juga seperti itu sayang!" Ujar Ara yang juga tengah berdansa dengan Suaminya.
"Sudah sangat lama kita tidak berdansa seperti ini ya sayang..." Al terus memeluk tubuh Istrinya yang sekarang sudah membesar.
"Iya sayang....kamu sudah tidak romantis lagi sih!" Gerutu Ara yang merindukan perlakuakn romantis dari Suaminya.
"Oh jadi kamu kangen dengan kejutan - kejutan romantis dari aku ya sayang?" Tebak Al sambil tersenyum nakal.
"Banget! Soalnya Suamiku ini sudah banyak berubah! Aku sampai tidak ingat lagi kapan terakhir kali kamu memberikan aku bunga." Ara terus saja mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya.
"Tunggu saja ya sayang! Aku akan membuat kamu mengingat setiap moment romantis yang akan aku berikan....tunggu saja saatnya." Bisik Al dengan nakal sambil mencium leher Ara membuat Ara merasakan sensasi geli dan juga senang.
"Tentu saja aku akan menunggunya!" Balas Ara yang kini sudah merona.
Dari kejauhan ada tatapan yang tidak suka terus menatap pasangan Al dan Ara, tatapan yang penuh dendam dan kebencian kepada keduanya, siapa lagi kalau bukan Tia, Tia kini sudah mengepalkan kedua tangannya sambil terus menatap tajam kearah mereka.
"Kak...apa yang harus kita lakukan sekarang?" Bisik Clara.
Tia masih tidak menggubrisnya, Tia masih saja sibuk sendiri dengan tatapannya, 'Lihat saja sampai kapan kalian akan terus merasa bahagia seperti itu! Nikmati saja setiap momment - momment kebersamaan kalian saat ini!' Batin Tia.
"Kak..." Panggil Clara sambil menyenggol lengan Tia sehingga membuat Tia tersadar kembali dan langsung menatap Clara yang saat ini sedang menatapnya.
"Apa kita bisa mulai sekarang rencananya? Aku semakin tidak suka melihat kebersamaan Alvin dengan istrinya itu!" Balas Clara.
"Tentu saja kita akan memulainya sekarang juga sayang!" Ujar Tia dengan senyuman liciknya.
Tia merangkul Clara dan membawanya berjalan keatas pentas, lalu setelahnya Tia menyuruh seseorang untuk mematikan musiknya, Sontak membuat semuanya kaget dan menatap kearah pentas.
"Perhatian semuanya...maaf mengganggu acara dansanya, setelah saya memberitahukan pengumuman penting ini acara dansanya akan dilanjutkan kembali. Harap mendengarkan!" Ucap Tia dengan menggunakan mic.
Sontak membuat semua tamu undangan bertanya - tanya bingung dengan apa yang telah terjadi saat ini, Al dan Ara pun memiliki perasaan yang tidak enak dengan apa yang akan dikatakan oleh Tia. "Sayang...kamu rasa kali ini apa yang akan dilakukan oleh Tia?" Bisik Ara.
"Entahlah sayang...kita tunggu saja pertunjukan dari dia!" Balas Al yang juga tidak mengetahui apa yang sedang direncanakan oleh mantan kekasihnya itu.
"Kenapa sih mantan pacar kamu suka sekali membuat sensasi dan mencari perhatian? Jujur aku tidak suka dengan dia!" Cetus Ara kembali dengan nada cemburu.
Al hanya tersenyum geli saja melihat reaksi dari Sang Istri,
"Kamu kok ketawa sih? Aku serius sayang!" Balas Ara yang semakin kesal melihat reaksi dari Suaminya.
"Kamu terlalu lucu sayang!...menurut aku dia itu ingin menunjukkan sesuatu yang akan membuat kita marah! Padahal dulu Tia itu sangat manis sayang, tidak seperti sekarang." Ujar Al yang semakin membuat Ara terbakar api cemburu.
"OH JADI DIA MANIS? LALU KENAPA KAMU TIDAK BALIKKAN SAJA DENGAN DIA?" Ujar Ara dengan suara mulai meninggi.
Al memutup mulut istrinya dengan cepat, "Karena aku mencintai kamu! Dia itu hanya masalalu aku saja sayang...." Ujar Al lalu mencium kening istrinya.
Tia sempat melihat kearah Al sebentar, lagi - lagi dirinya melihat kemesraan dari Al dan Ara yang semakin membuat amarahnya memuncak.
"Saya akan memberikan mic ini kepada Adik saya Clara...Clara silahkan sayang!" Ujar Tia sembari memberikan micnya.
Setelah Clara memegang micnya pandangan matanya langsung saja tertuju kepada Alvin dan Mikha.
"Kamu kenal dia?" Tanya Mikha yang merasa risih terus saja dilihatin.
"Iya kenal..." Jawab Alvin singkat.
"Siapa dia? Kenapa dia terus saja menatap kita?" Balas Mikha yang semakin tidak mengerti kenapa wanita itu terus saja menatap kearah mereka berdua.
"Kamu lihat saja pertunjukkan dari mereka.....nanti juga kamu akan mengerti!" Bisik Alvin tanpa ingin menjelaskannya.
'Apa sih maksud ucapan Alvin barusan? Pertunjukkan? Aku semakin tidak mengerti.' Batin Mikha sambil terus menatap Alvin sedangkan yang ditatap hanya tersenyum saja kepada dirinya.
"Maaf sebelumnya karena saya telah mengganggu acara ini....jujur saya tidak mempunyai niatan seperti itu...hanya saja saya ingin membuat sebuah pengumuman yang menurut saya sangat penting." Ujar Clara sambil mengelus perutnya.
"Saya....hamil! Dan pria yang menghamili saya tidak ingin bertanggug jawab karena dia telah memiliki keluarga....padahal tadinya dia bilang dia akan bertanggung jawab kepada saya...bodohnya saya percaya begitu saja dengan pria brengsek itu!" Ujar Clara sambil meneteskan airmatanya, sedangkan Tia menepuk - nepuk punggungnya.
"Karena saya tau dia menghadiri acara ini, saya bersikeras untuk datang kesini....sebenarnya saya sangat malu mengakuinya dihadapan semua orang seperti ini, hanya saja ini harus saya lakukan agar pria itu mau bertanggung jawab dan keluarga besarnya juga mendengarkan isi hati saya ini...." Kata - kata Clara sempat terhenti sejenak karena kini dia tengah menangis yang tentu saja bagian dari akting dirinya.
"Pria itu anak dari keluarga terhormat, keluarga kaya dan berpengaruh besar....kebetulan sekali semua keluarganya sedang berada disini dan mendengarkannya....pria itu sekarang sedang menatap saya dengan tatapan tanpa perasaan bersalah sama sekali, saya hanya ingin menuntut hal untuk anak yang saya kandung saja...tapi sepertinya dia benar - benar tidak ingin memberikannya...pria itu adalah...."
"Aku pria yang telah menghamili dia!" Balas Alan yang tidak tau tiba - tiba saja muncul entah darimana.
__ADS_1
"Alan! Kenapa kamu ada disini?" Tanya Clara.
"Bukan...pria itu bukan dia, pria itu sebenarnya adalah Alvin, iya Alvin Anak kedua dari keluarga William." Ujar Clara dengan cepat.
Sontak membuat semua orang berkasak kusuk sambil berbisik - bisik.
"Bukan...jangan dengarkan wanita ini...dia hanya ingin menghancurkan keluarga orang lain! Saya adalah mantan pacarnya, saya yang menghamili dia...." Balas Alan lagi.
"Hentikan Lan! Kenapa kamu terus saja mengakui bahwa ini Anak kamu? Ini benar - benar bukan Anak kamu..." Ujar Clara masih dengan akting menangisnya.
Alan berjalan mendekati Clara, "Oh iya? Coba buktikan kalau itu memang Anak dari Alvin?" Balas Alan sambil tersenyum.
"Ini buktinya!" Tia mengeluarkan bukti - bukti palsu yang memang sudah dipersiapkan oleh dirinya.
"Kalian semua bisa memeriksa bukti ini....bukti ini menunjukkan kalau Anak yang dikandung Clara ini adalah Anaknya Alvin." Balas Tia.
"Kalian tidak lupa kan kalau saya adalah seorang dokter? Bagaimana bisa hasil pemeriksaan keluar begitu cepat pada saat sang Ibu baru mengetahui kalau dirinya tengah berbadan dua? Sayang sekali ini semua adalah bukti palsu...bahkan saya bisa menyarankan agar Clara melakukan test DNA lagi...tapi sejujurnya saya tidak yakin kalau Clara mau..." Ucap Alan sambil tersenyum mengeringai.
'Brengsek kamu Lan! Kenapa kamu malah datang untuk mengacaukan semuanya?" Batin Clara.
"Kamu kenapa sih Lan tidak bisa move on dari aku?" Balas Clara dengan tangisannya yang sudah mulai terisak.
"Stop Lan! Apa sih mau kamu sebenarnya? Clara itu sudah tidak mencintai kamu lagi? Kamu sadar gak sih?" Ujar Tia sambil memeluk Clara.
"Apa yang sedang terjadi Cla? Kenapa Alan bisa datang kesini? Rencana kita benar - benar kacau sekarang!" Bisik Tia yang kini memeluk Clara.
"Aku juga gak tau Kak akan jadi seperti ini..." Balas Clara.
"Alvin kenapa kamu diam saja disana? Kamu sengaja ya mau menjebak aku dengan menghadirkan Alan disini? Kalian semua bisa melihat bukti - bukti hasil test DNA nya secara langsung..." Clara memerintahkan seseorang untuk membagi - bagikan hasil test nya itu kepada semua tamu undangan.
Kedua orang tua Alvin berjalan menghampiri Anak mereka, "Alvin jelaskan sama Papa apa yang sebenarnya terjadi? Bisa - bisanya kejadian memalukan seperti ini terjadi? Papa tidak mau tau kamu harus segera menyelesaikannya!" Ketus Papanya.
"Iya Vin! Kakak juga tidak menyangka dengan kejadian ini...Kakak percaya sama kamu kalau kamu tidak akan melakukan sesuatu yang akan memalukan nama keluarga besa kita! Selesaikan masalah ini dengan gentle, sebagai seorang pria!" Balas Al sambil menepuk bahu Sang Adik.
"Iya Pa, Kak!"
Kemudian Alvin menatap Mikha yang sedari tadi hanya terdiam saja, "Kamu harus percaya sama aku Mik....aku benar - benar tidak pernah selingkuh dengan dia!" Balas Alvin sambil menarik tangan Mikha untuk mengikutinya naik keatas panggung.
Alvin bertepuk tangan untuk akting Clara dan Tia sedari tadi...." Akting kalian berdua benar - benar payah!"
"Maksud kamu apa Vin? Ini benar - benar Anak kamu...kamu tidak melupakan malam indah itu kan?" Balas Clara lagi dengan aktingnya yang masih berusaha menyakinkan semua orang.
"Kamu yang menjebak aku malam itu Cla...tapi sayangnya aku tidak melakukan apa - apa pada saat itu." Balas Alvin.
"Alvin! Aku tidak tau kalau kamu adalah pria yang sangat brengsek! Bukannya kemarin kamu bilang akan bertanggung jawab?" Airmata Clara mulai membasahi kedua pipinya.
"Iya aku bilang aku akan bertanggung jawab kalau itu memang Anak aku....tapi ternyata itu bukan Anakku Cla...hentikan akting menangis kamu Cla, kamu kira aku bakalan percaya dengan kamu walaupun kamu menagis?" Balas Alvin sambil menghapus airmata palsu Clara.
Clara semakin merasa emosi dan marah, "Bukannya kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku Vin? Dan wanita ini....bukannya kamu hanya terpaksa untuk menikahnya?" Balas Clara sambil menatap Mikha dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Cukup Vin...aku moho hentikan ini semua...ini adalah acaranya Pak Alex...! Hentikan pertunjukkan wanita ini segera." Pinta Mikha sambil melepaskan pelukkannya dari Alvin.
Mikha sudah terlalu muak mendengarkan semua ini, dia ingin segera pergi dari sini, tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya karena dirinyalah yang mempunyai tanggung jawab penuh diacara ini.
"Kamu harus tau Mik...supaya kamu tidak salah paham lagi!" Balas Alvin.
"Clara...maaf aku sama sekali tidak percaya dengan ucapan kamu dan airmata kamu. Bagiku ucapan Alvin itu jujur, bahkan Alvin sudah mengatakan semuanya sebelum ini. Jadi kamu tidak perlu lagi repot - repot untuk menjelaskannya. Aku mohon sebagai seorang wanita, kamu harus hentikan sandiwara palsu kamu ini. Aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukkan dan buktikan?" Balas Mikha dengan tenang.
"Dasar bodoh! Jadi kamu mengira aku sedang melakukan pertunjukkan? Kamu benar - benar sudah dibutakan oleh cinta Alvin! Dia tidak sebaik yang kamu kira..." Ujar Clara yang semakin emosi.
Mikha tersenyum, "Aku tau kok semua masalalu dari Suamiku, kamu tidak perlu repot - repot lagi untuk menjelaskannya....Dan aku tekankan sama kamu, aku menikah dengan Alvin karena aku mencintainya bukan karena hal lain. Dan tidak karena beberapa orang yang hanya menginginkan harganya saja" Balas Mikha.
Alvin benar - benar merasa tersentuh dengan ucapan Istrinya barusan. Alvin terus saja melihat Mikha dengan tatapan cinta sekaligus bersalah.
Clara semakin tidak terima dengan ucapan Mikha barusan yang terus saja merendahkan dirinya. Dia benar - benar tersindir dengan Mikha, Clara sudah mengangkat tangannya dan bersiap untuk menampar Mikha.
Alvin langsung menahan tangan Clara, "Aku bilang hentikan sekarang juga Cla! Apa kamu masih tidak mengerti?" Balas Alvin.
"Lihat ini...!" Alvin memberikan bukti hasil test DNA yang membuktikan bahwa Anak yang ada didalam kandungan Clara itu adalah Anahknya Alan. Clara terus saja membaca kertas hasil test yang ditunjukkan kepadanya.
"Semua orang disini telah melihat kalau kamu itu sedang bersandiwara Cla...aku sudah memperingatkan kamu sebelum ini kan? Tapi kenapa kamu terus melakukannya?" Balas Alvin.
Clara mengeleng - gelengkan kepalanya saja, "Tidak bukti ini palsu! Aku tidak percaya!" Clara terus menerus mengelak dengan bukti yang ada ditangannya, Clara merobek kertas itu hingga tinggal kepingan - kepingan kecilnya saja.
Alvin tersenyum puas melihat reaksi Clara, "Kamu pikir aku hanya mempunyai satu bukti saja? Hentikan sekarang selagi aku masih bersikap baik atau aku akan melaporkan kamu atas dasar pencemaran nama baik!" Ancam Alvin.
"Tidak mungkin....ini semua tidak mungkin!" Teriak Clara dengan sangat histeris.
"Cla berhenti....aku akan bertanggung jawab ya sayang...! Aku tidak mau melihat kamu seperti ini." Ujar Alan yang sangat perih melihat Clara seperti itu. Alan memeluk Clara.
Sedangkan Tia masih tidak percaya dengan semua yang telah terjadi, dia padahal sudah menyusun rencana ini dengan sangat lama, dia tidak pernah melakukan sebuah kesalahan akan tetapi kali ini rencananya benar - benar berantakan, Tia hanya mengepalkan kedua tangannya sambil memandangi mantan kekasihnya saja.
'Aku masih belum menyerah Al! Aku masih ingin memiliki kamu....kalau aku tidak bisa bahkan orang lain pun tidak akan bisa memiliki kamu!' Batin Tia.
Entah apa yang membuat Tia benar - benar terobsesi dengan mantan pacarnya itu, padahal dirinya juga banyak yang menyukai. Akan tetapi dia masih belum bisa untuk melupakan Al sama sekali.
Tia pergi begitu saja dari sana, entah sejak kapan dia pergi tidak ada yang menyadarinya karena tiba - tiba saja lampunya dipadamkan. Tia langsung menghilang dari sana secepat mungkin.
Beberapa saat kemudian lampunya kembali dinyalahkan kembali, "Lepasin aku Lan!" Clara masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari Alan, Alan malah semakin memeluk Clara dengan sangat eratnya.
"Tidak akan pernah!" Balas Alan.
Clara masih berusaha untuk terus melepaskan dirinya dari Alan, akan tetapi tetap saja tidak berhasil. Tenaga Alan benar - benar sangat kuat sehingga dirinya tidak bisa berkutik lagi didalam pelukan Alan. Akhirnya Clara hanya diam pasrah saja didalam belakapan tubuh Alan.
"Sudah puas mengacaukan pesta ini?" Ujar Mikha lalu berjalan pergi meninggalkan Alvin.
__ADS_1
"MIKHA..." Panggil Alvin sambil berlari mengejar Istrinya itu.
"Mik dengerin aku dulu....please Mik..." Alvin terus saja mengikuti kemana Mikha berjalan sampai membuat Mikha emosi sendiri.
"Vin...kamu itu mau membuktikan apalagi sih sama aku? Masih belum puas juga sudah merusak acara Pak Alex? Aku malu Vin....!" Balas Mikha.
"Sorry Mik...aku benar - benar minta maaf sama kamu! Oke aku juga akan minta maaf sama Bos kamu itu. Sekarang kamu sudah tidak marah lagi kan sayang?" Alvin benar - benar terlihat sangat menyesal.
"Aku tidak ingin membalas masa pribadi kita disini Vin...kamu mengerti kan?" Ucap Mikha akhirnya.
Alvin mengangguk pelan.
"Oke kalau begitu kasih aku waktu selama disini untuk sendiri...." Ujar Mikha lagi.
Alvin kembali menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Mikha. Setelah kepergian Alvin, Mikha menghela nafas dengan kasar, 'Aku itu selalu percaya sama kamu Vin! Ya walaupun kamu tidak jujur dari awal sama aku...entah kenapa aku percaya sama kamu! Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri.' Ucap Mikha didalam hatinya.
Mikha mencari keberadaan Bosnya itu, dari kejauhan Mikha sedang melihat Alex sedang berbincang - bincang dengan tamunya, Mikha berjalan mendekati Alex, "Pak bisa kita bicara sebentar?" Pinta Mikha.
Alex sempat berpikir sebentar sebelum pada akhirnya menganggukkan kepalanya.
Alex berjalan kearah yang jauh lebih tidak terlalu mencolok, "Katakan..." Ucap Alex dengan ketusnya.
"Maafkan atas kekacauan dipesta ini ya Pak, saya benar - benar tidak tau akan terjadi seperti ini." Mikha benar - benar merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi.
"Tidak apa Mik....Saya baru tau kalau kamu sedang memiliki masalah besar seperti tadi." Balas Alex dengan santainya.
"Terimakasih Pak...saya benar - benar merasa tidak enak dengan Pak Alex. Saya sendiri juga tidak tau kalau akan seperti ini Pak." Balas Mikha.
Dari kejauhan Alvin sedang memandangi Istrinya sedang berbincang - bincang dengan Bosnya itu dengan tatapan yang tidak senang. 'Kenapa sih Mikha terlalu akrab dengan Bos nya itu? Aku benar - benar tidak menyukainya!' Batin Alvin.
Al dan Ara datang untuk menghampiri Alvin, "Tampaknya ada yang sedang cemburu nih?" Goda Ara.
Alvin langsung menatap Kakak iparnya itu, "Siapa yang cemburu! Tidak mungkin." Balas Alvin.
"Oh iya? Padahal kalau kamu cemburu juga tidak apa - apa kok, gengsi banget sih Vin!" Ara semakin menggoda Alvin.
"Tidak Kak! Aku hanya tidak suka aja melihat Mikha terlalu akrab dengan Bosnya itu!" Balas Alvin dengan sewotnya.
"Itu sama aja dengan kamu cemburu!" Ucap Ara sambil tertawa.
"Terserah Kak Ara saja! Yang pasti aku ingin sekali menarik tangan Mikha untuk menjauh dari bos nya itu, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya." Ujar Alvin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Karena kamu takut kalau Mikha semakin marah sama kamu?"
Alvin mengangguk lemah.
"Vin...kamu percaya sama Kakak, kalau hati Mikha itu hanya untuk kamu! Kamu tadi tidak melihatnya gimana Mikha membela kamu dihadapan semua orang? Dia bahkan mempercayai kamu lebih dari siapapun. Itu artinya dia benar - benar sudah memaafkan kamu." Ara menepuk - nepuk bahu Adik iparnya itu.
"Semoga saja yang Kak Ara bilang itu benar. Tapi sepertinya Mikha masih sangat kecewa sama Alvin Kak!" Ujar Alvin dengan wajah sendunya.
"Kamu cari momment untuk minta maaf sama dia...ingat wanita itu butuh hal - hal romantis juga Vin. Kakak percaya Mikha akan memaafkan kamu...hanya saja saat ini dia masih butuh waktu untuk itu semua." Balas Ara lagi.
"Aku tidak menyangka sejak kapan ya Istriku ini menjadi sangat bijak seperti ini?" Goda Al sambil melingkarkan tangannya diperut Ara.
"Sejak sama kamu sayang!" Ujar Ara sembari membelai wajah Suaminya dari belakang.
Alvin merasa seperti seorang penonton sekarang yang sedang menyaksikan pertunjukkan yang terjadi secara live dihadapannya, Alvin menjauh dari pasangan Kakaknya itu. Dia memutuskan untuk duduk, matanya terus saja menatap Mikha dari kejauhan, apapun yang dilakukan Mikha, Alvin tidak pernah melewatkannya.
"Aku akan cari cara agar kamu cepat memaafkan aku Mikha!" Ujar Alvin sambil tersenyum.
*******
Selama didalam perjalanan, Clara tidak mau untuk menatap Alan. Alan sesekali mencuri - curi pandang untuk menatap Clara.
"Kamu masih marah Cla?" Tanya Alan.
Clara tidak menjawab sama sekali, dia hanya menunjukkan tatapan tidak sukanya saja kepada Alan pada saat ini.
"Aku mengerti kamu masih marah sama aku dengan apa yang telah terjadi hari ini....tapi aku melakukannya hanya ingin membuat kamu sadar Cla! Apa kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan? Kamu bisa saja merusak pernikahan orang lain?" Ujar Alan.
"Lalu kenapa? Apa kamu kira kamu berhak mengatur apa yang aku lakukan?" Balas Clara dengan tatapan tajamnya.
Seketika Alan menghentikan mobilnya ke pinggir, "Apa kamu masih belum mengerti Cla? Aku tidak ingin kamu melakukan hal konyol yang akan melukai diri kamu sendiri!" Ucap Alan dengan penuh penekanan.
"Hal konyol? Lalu apa bedanya dengan yang keluarga kamu lakukan sama aku Lan?" Balas Clara sambil tersenyum mengejek.
Alan kembali menghela nafasnya denganĀ kasar, "Aku mengerti kalau kamu masih marah dan bahkan membenci keluargaku Cla, hanya saja apa kamu puas dengan apa yang telah kamu lakukan tadi? Siapa sih yang telah merubah kamu sampai seperti ini?"
Clara malah mengalihkan pandangannya dari Alan, "Aku mau pulang!" Ucap Clara.
"Oke...aku tidak akan memaksa kamu Cla...." Kemudian Alan kembali untuk mengemudikan moblinya lagi.
Kali ini sungguh tidak ada yang berbicara sama sekali, Clara masih dengan amarahnya sendiri sedangkan Alan tidak ingin memperkeruh suasana.
******
Gimana episode kali ini... terimakasih untuk menunggu dengan sabar kelanjutan cerita ini..
jujur terkadang Author down sendiri ketika melihat komentar dari kalian...
Hanya saja author kembali bersemangat karena masih banyak yang welcome dengan cerita ini!
Thankyou! Kalian luar biasa.
Happy Reading Guys!
__ADS_1