SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 165


__ADS_3

Akhirnnya sampai juga Clara dan Alan diparkiran apartemennya Clara, Clara langsung turun tanpa mengatakan sepatah katapun juga. Alan menyusul Clara lalu mengikuti Clara berjalan memasuki lobi apartemen Calra.


Clara semakin mempercepat langkah kakinya, membuat Alan juga melakukan hal yang sama, Alan juga mempercepat langkahnya demi untuk mengejar Clara. Clara semakin merasa kesal dengan Alan. Kini keduanya sudah berdiri beriringan didepan pintu lift. Clara terus saja menekan tombol liftnya sampai terbuka.


Alan hanya berdiri saja tanpa melakukan apapun juga, Clara ingin segera sampai didalam apartemennya dan karena dirinya tidak ingin melihat Alan dulu. Dirinya masih benar - benar merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan Alan hari ini. Rencana yang sudah lama disusun oleh Clara dan Tia hancur berantakan.


Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, pintu liftnya terbuka juga, dengan cepat Clara langsung masuk kedalam dan setelah Clara ingin menutupnya Alan langsung masuk dengan cepatnya membuat Clara semakin kesal, Clara hanya memalingkan wajahnya dari Alan sambil melipat tangannya.


Rasanya mereka berdua berada didalam lift dengan sangat lama karena saling diam - diaman seperti ini. Beberapa saat kemudian pintu lift sudah terbuka kembali. Clara dengan cepat langsung keluar tanpa menghiraukan Alan. Alan juga keluar lalu menyusul Clara.


Begitu sampai didepan pintu apartemennya Clara, Clara membalikkan badannya sebentar untuk menatap Alan, "Cukup sampai disini sana! Mendingan kamu pulang sekarang! Aku sedang tidak ingin melihat kamu dulu." Ujar Clara lalu segera masuk kedalam apartemennya dengan menutup pintu apartemennya dengan cepat.


Clara yang masih berada dibalik pintu hanya menghela nafasnya dengan kasar, dirinya tidak tau kalau hari ini akhirnya tiba juga, Alan benar - benar mampu menghancurkan rencana yang sudah dipersiapkannya dari jauh - jauh hari begitu saja.


'Kenapa sih Lan kamu harus muncul dan menghancurkan segala rencana yang telah aku buat? Kenapa harus kamu?' Batin Clara dengan sangat frustasinya.


Clara mulai menangis sambil duduk dilantai dengan keadaan yang sudah tidak berdaya lagi. Dia benar - benar tidak tau lagi harus melakukan apa. Yang ada didalam pikiran Clara saat ini adalah untuk kabur saja dari Alan. Setelah menangis hampir lebih setengah jam, Clara yang sudah merasa tenang akhirnya menghapus airmatanya lalu masuk kedalam kamarnya, Clara mulai mengemasi barang - barangnya lalu memasukkannya didalam koper miliknya.


Clara hanya membawa beberapa pakaian saja dan beberapa barang penting miliknya. Dia benar - benar ingin kabur lagi dari Alan dan dari semua yang telah terjadi. Setelah selesai mengemasi barang - barangnya, Clara membawa kopernya dari kamar. Clara menatap apartemennya sebentar sebelum pada akhirnya dirinya benar - benar pergi meninggalkan apartemennya itu.


Tapi sebelum keluar, Clara melihat dulu apakah Alan sudah pergi dari depan pintu apartemennya apa belum, setelah memastikan kalau Alan sudah tidak berada disana lagi, Clara langsung bergegas pergi dari sana. Tidak lupa Clara sudah mematikan pomselnya agar siapapun juga tidak bisa untuk menghubunginya, Clara benar - benar bertekat penuh untuk kabur dari semua orang.


Kini Clara sudah mengemudikan mobilnya, dia sendiri tidak tau dengan arah dan tujuannya untuk saat ini, hanya saja dirinya ingin menenangkan diri dan pikirannya dulu untuk saat ini, terutama dari Alan. Jauh didalam lubuk hati Clara yang paling dalam dirinya sebenarnya sangat menginginkan untuk kembali lagi sama Alan, akan tetapi dirinya sendiri juga menyadari kalau hal itu tidak akan mungkin dilakukan olehnya.


Jadinya Clara memilih untuk pergi dan kabur saja dari semuanya, ya walaupun Clara tau sendiri kalau kabur juga tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi hanya itulah jalan satu - satunya yang hanya terpikir olehnya.


******


Alvin yang saat ini sudah berada didalam mobilnya memutuskan untuk menunggu Mikha keluar dari dalam akan tetapi Mikha tak kunjung keluar membuat Alvin sedikit frustrasi karenanya.


"Dimana sih kamu Mik? Kenapa masih belum keluar juga sampai sekarang?" Ujar Alvin yang sudah mulai gelisah.


Alvin sudah berusaha untuk menghubungi Mikha hanya saja Mikha tidak menjawab panggilan darinya, "Ini gak benar...mendingan aku masuk lagi untuk memastikan kalau Mikha masih berada didalam sana apa gak!" Ucap Alvin, lalu ketika Alvin ingin membuka pintu mobilnya, Alvin melihat Mikha sedang berjalan bersama dengan Bosnya, Alvin memutuskan untuk tidak keluar mobil, dirinya hanya ingin melihat Mikha dari dalam saja agar dirinya dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi diluar sana.


Diam - diam Alvin sudah merasa sangat kesal melihat kedekatan Mikha dengan Bosnya itu, Alvin masih berusaha untuk menahan dirinya agar Mikha tidak semakin marah kepadanya, hanya saja semakin Alvin mencoba untuk menahan dirinya semakin dirinya sudah tidak sanggup lagi melihat kedekatan Istrinya dengan Bosnya itu. Padahal diluar sana belum tentu sama dengan apa yang sedang dilihat Alvin.


Alvin hanya melihat dari luar saja tanpa mengetahui pembahasan yang sedang diperbincangkan oleh keduanya. Tapi begitu saja Alvin sudah merasa sangat cemburu, gimana tidak cemburu kalau Istrinya sedang tertawa lepas bersama dengan atasannya itu, kesabaran Alvin sudah habis, akhirnya Alvin memutuskan untuk turun dari mobil lalu menyamperin Istrinya itu.


"Sayang...ternyata kamu disini? Aku cariin kamu lho!" Ujar Alvin seraya merangkul Mikha.


"Alvin kamu apaan sih!" Mikha berusaha untuk melepaskan dirinya dari Alvin.


"Sayang ayo kita pulang! Ini sudah sangat larut lho! Aku tau kamu pasti capek banget kan?" Alvin kembali memeluk pinggang Mikha, Mikha hanya menatap Alvin dengan tatapan tajamnya saja.


'Apa sih yang sedang diperbuat oleh Alvin? Kenapa dia bersikap seperti ini dihadapan Pak Alex? Buat aku makin malu aja....' Pikir Mikha.


"Mikha...Suami kamu benar...mendingan kamu pulang ya. Oh iya thanks ya sudah membuat pesta saya menjadi meriah seperti tadi." Ujar Alex.


"Sorry ya Pak Alex...saya benar - benar merasa tidak enak dengan apa yang terjadi tadi." Mikha menunjukkan penyesalannya.


"Kalau begitu kami pulang sekarang ya...permisi!" Ujar Alvin sambil menarik MIkha untuk mengikutinya.


"Selamat malam Pak! Saya pulang duluan ya!" Mikha sempat mengatakan hal itu sebelum mengikuti Alvin masuk kedalam mobil.


Setelah masuk kedalam mobil, Mikha hanya memalingkan wajahnya saja dari Alvin, Alvin mendekatkan dirinya kepada Mikha membuat Mikha menjadi salah tingkah.


"Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Mikha dengan juteknya.


Alvin tersenyum, "Udah gak marah lagi nih?" Ujar Alvin lalu dengan segera memasangkan sabuk pengaman untuk Mikha.


Mikha kembali memalingkan wajahnya lagi, sedangkan Alex yang masih berdiri diluar hanya mengepalkan kedua tangannya saja sambil menatap tajam kearah Alvin dan Mikha saat ini.


'Brengsek! Kenapa di pesta yang ku buat malah membuat Mikha dan pasangannya kembali bersatu? Arrrggh! Sialan!' Batin Alex lalu berjalan kearah mobilnya.


"Jalan!" Pinta Alex dengan kasar.


Kemudian supir pribadi Alex langsung menghidupkan mesin mobilnya lalu mengemudikan mobilnya sesuai dengan permintaan Tuannya pada saat ini. Selama didalam perjalanan Alex benar - benar merasa sangat emosi dengan apa yang terjadi hari ini, Alex kira dirinya bisa mendekati Mikha karena tau kalau Mikha sedang memiliki masalah dengan Suaminya. Tapi belum sempat dirinya untuk mendekati Mikha, rencananya sudah hancur berantakan begitu saja.


"Kenapa yang terjadi malam ini malah menjadi boomerang untuk diriku sendiri? Kenapa bisa seperti ini?" Ujar Alex dengan emosinya.


"Tuan berbicara dengan saya?" Tanya Supirnya takut - takut.


"Tidak! Sebaiknya kamu konsentrasi penuh saja dalam menyetir tidak usah memperdulikan saya!" Pinta Alex dengan tegas.


"Baik Tuan."


Ponsel Alex tiba - tiba saja berdering membuat dirinya tersadar kembali dari lamunannya saat ini, 'Siapa sih yang berani mengangguku saat ini?' Pikr Alex.


Alex menggerlitkan allisnya, "Nomor tidak dikenal? Siapa?" Alex merasa sangat ragu untuk menjawab panggilan itu, hanya saja dirinya merasa sangat penasaran hingga akhirnya Alex memutuskan untuk menjawab panggilan telepon yang sudah berdering sejak tadi.


"Halo!"


"Kak! Ini aku..."


Setelah mendengarkan seseorang yang sedang berbicara diseberang sana akhirnya Alex mengetahui siapa yang menghubunginya barusan.

__ADS_1


'Daniel? Bagaimana dia mengetahui nomor telepon terbaruku saat ini? Mau apa lagi dia menghubungi diriku lagi? Apa masih belum puas juga dia merusak hubunganku dulu?' Pikir Alex.


Alex langsung memblokir nomor baru itu. Dia benar - benar sudah tidak ingin diganggu lagi oleh Adiknya itu, Adiknya yang dengan teganya bermain belakang dengan kekasihnya dulu. Alex benar - benar ingin melupakan masa lalunya itu.


********


Selama didalam perjalanan menuju rumah Mikha memutuskan untuk tidur saja, dirinya sengaja untuk melakukannya agar menghindari dirinya dari Alvin yang terus saja mencuri - curi kesempatan untuk menatapnya.


Akhirnya Mikha benar - benar tertidur dengan pulasnya, sesampainya dirumah, Alvin yang sudah memarkirkan mobilnya merasa ragu untuk membangunkan Sang Istri yang kini sudah sangat terlelapnya, 'Kasihan Mikha...pasti dirinya benar - benar sudah sangat kelelahan mendingan aku tidak usah untuk membangunkannya saja.' Pikir Alvin.


Kemudian Alvin turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu mobil tempat Mikha saat ini, Alvin membuka pintunya dengan perlahan agar tidak membangunkan Mikha. Dengan perlahan Alvin mengendong tubuh istrinya itu. Dengan kesusahan Alvin menekan bell, selang menunggu beberapa saat kemudian pintu rumahnya sudah dibukakan, Alvin langsung segera masuk kedalam dan melangkah cepat.


Alvin menaiki setiap anak tangga dengan perlahan sambil sesekali menatap wajah Mikha, 'Kamu cantik banget sayang....maafin aku yang udah nyakitin wanita sebaik kamu... semoga kamu segera memaafkan aku ya!' Batin Alvin.


Kini Alvin sudah berada didepan pintu kamar mereka, Alvin berusaha untuk membuka pintu kamarnya, akan tetapi Alvin merasa sangat kesulitan. Tanpa disengaja kepala Mikha malah terjedut ke pintu, hingga membuat Mikha terbangun.


"Awwww......" Teriak Mikha sambil memegangi kepalanya saat ini.


"Bagaimana bisa aku digendong sama kamu? Cepat turunkan aku!" Pinta Mikha sambil memukul - mukul dada Alvin dengan kedua tangannya.


"Iya...iya..." Alvin segera menurunkan Mikha dari gendongannya saat ini.


"Dasar modus! Ingat ya aku masih belum memaafkan kamu Vin!" Ujar Mikha lalu segera masuk kedalam kamarnya dengan sangat cepat.


"Iya..iyaa aku tau kok!" Balas Alvin lalu menyusul Mikha masuk kedalam kamar mereka.


Mikha langsung mengambil pakaian gantinya lalu masuk kedalam kamar mandi. Mikha memutuskan untuk mandi dengan air hangat agar rasa capeknya hilang seketika, kejadian hari ini benar - benar membuat Mikha tidak bisa berpikir dengan jernih.


Kini Mikha sudah menatap pantulan dirinya didepan cermin, 'Kalau dipikir - pikir aku memang tidak sebanding dengan wanita yang bernama Clara itu, pantas saja Alvin dan Dokter Alan terpikat olehnya.' Pikir Mikha yang menyadari dirinya.


Setelah itu Mikha memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, tanpa sengaja dirinya dan Alvin saling menatap satu sama lain. Dengan refkles Mikha langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


"Ehemmm..." Ujar Mikha sambil memegang tengkuk lehernya.


Mikha berjalan kearah tempat tidurnya lalu segera berbaring dan menyelimuti dirinya sampai keatas untuk menutupi dirinya dari Alvin.


Alvin sempat menatap Mikha sampai beberapa saat, tangan Alvin ingin sekali menyentuh punggung Mikha hanya saja seperti tertahan begitu saja.


"Selamat malam sayang...." Ucap Alvin pelan.


Sebenarnya Mikha dapat mendengarkan ucapan pelan dari Alvin hanya saja Mikha tidak ingin menjawab Alvin.


'Aku masih belum bisa untuk maafin kamu Vin...aku masih butuh waktu untuk itu agar kamu tidak seenaknya untuk membohongi aku lagi.' Batin Mikha.


Setelah itu Mikha memejamkan kedua matanya yang memang terasa sudah sangat mengantuk.


Kemudian Alvin memeluk tubuh Mikha dari belakang lalu membenamkan wajahnya disana sampai pada akhirnya dirinya jatuh tertidur juga.


*******


Tia saat ini sedang minum birnya sendirian di kediamanan. Dirinya saat inii benar - benar merasa sangat frustasi dengan apa yang telah terjadi malam ini, pikiran benar - benar kacau.


"Sialan!" Teriak Tia dengan histeris.


"Kenapa bisa jadi berantakan begini sih? Kenapa? Padahal tinggal menunggu sedikit lagi saja rencanaku sukses...! Sekarang apa yang bisa aku lakukan? Clara....dimana dia sekarang? Aku harus segera menemuinya!" Teriak Tia terus menerus sampai dirinya benar - benar merasa puas.


Tia berjalan sempoyongan untuk mencari keberadaan ponselnya saat ini, Setelah menemukannya Tia langsung menghubungi Clara, "Kenapa nomor Clara tidak aktif sih?" Ujar Tia.


Tia terus saja mencoba untuk menghubungi Clara akan tetapi sambungannya tetap tidak bisa untuk tersambung. "Dimana sih kamu Cla? Kenapa ponsel kamu tidak aktif!" Gerutu Tia dengan sangat kesal.


"Tidak...tidak bisa seperti ini....aku harus menemui Clara....! Aku harus bertanya kepada dia kenapa bisa seperti ini!" Ujar Tia sambil memegangi kepalanya yang sudah terasa sangat berat.


"Al....Al! Padahal tujuanku sudah sangat dekat sekali dengan kamu Al! Tapi kenapa berakhir seperti ini? Kamu tau gak sih Al kalau aku itu sangat amat mencintai kamu, dari dulu sampai sekarang! Kenapa kamu cepat sekali berubahnya hanya karena wanita sialan yang bernama Ara itu! Apa hebatnya dia dibandingkan dengan aku! Aku jauh lebih mengenal kamu dulu, aku lebih mengerti kamu! Bahkan aku lebih sukses dari dia. Tapi kenapa kamu tidak mau untuk kembali lagi bersama denganku? Kenapa? Kenapa?" Teriak Tia sambil berlinang airmata.


"Kenapa kamu jahat banget sama aku Al? Kenapa? Kamu tau gak yang kamu lakukan sama aku itu begitu kejam! Bahkan  sangat kejam." Ujar Tia yang sudah sangat mabuk.


Tia mulai berjalan menuju kamarnya sambil memegang segelas bir nya. Tia benar - benar frustasi karena rencananya gagal total. Setelah meneguk habis birnya itu Tia melemparkan gelas birnya begitu saja hingga pecah.


Kemudian Tia membaringkan dirinya diranjang empuknya.


"Aku masih belum menyerah Al....aku terlalu mencintai kamu!" Setelah mengatakan hal itu Tia mulai memejamkan matanya. Tia masih berharap bahwa kejadian yang terjadi malam ini itu hanya merupakan mimpi buruk saja dan setelah dirinya terbangun semuanya sudah kembali kesedia kala.


*******


Ditempat lain,


Alan yang baru saja sampai dikediaman orangtuanya, masih melamun didalam mobilnya, Alan benar - benar tidak tau lagi harus bagaimana untuk meyakinkan Clara. Clara masih bersikeras untuk tetap menolak dirinya, Alan tidak ingin memaksa Clara tapi disisi lain dia memikirkan kandungan Clara yang sudah mulai kelihatan.


Pikiran Alan benar - benar sangat terganggu dengan Clara, 'Aku harus bagaimana lagi Cla agar kamu mau untuk kembali bersama denganku?' Batin Alan.


Kemudian Alan masuk kedalam rumah orangtuanya dengan terus menundukkan kepalanya, dirinya benar - benar sedang tidak bersemangat. Hingga suara Papanya mengejutkan dirinya.


"Darimana saja kamu Alan? Kamu tau tidak kalau sedari tadi Mama kamu itu terus saja memanggil - manggil nama kamu!" Papanya Alan berjalan mendekati Anaknya dengan wajah marahnya.


"Sorry Pa...gimana keadaan Mama sekarang?" Tanya Alan.

__ADS_1


"Mama kamu sudah tidur! Kenapa sih kamu malah memilih untuk pergi ketimbang untuk menjaga Mama kamu yang saat ini sedang membutuhkan kamu? Kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu lakukan sekarang?" Ujar Papanya kembali.


Alan berjalan meninggalkan Papanya,


"Mau kemana kamu? Jangan ganggu Mamamu yang saat ini sedang tertidur." Ucap Papa Alan.


"Alan hanya ingin melihat Mama sebentar saja Pa." Ujar Alan lalu masuk kedalam kamar Mamanya dengan cepat. Alan berjalan untuk mendekati Mamanya, Alan memegang tangan Mamanya, "Ma...maafin Alan ya karena sudah meninggalkan Mama sendirian," Ujar Alan sembari mencium tangan Mamanya.


Setelah memastikan keadaan Mamanya Alan menyelimuti Mamanya lalu berjalan keluar untuk meninggalkan Mamanya. Baru saja Alan melangkah keluar, Papanya sudah menunggunya didepan pintu.


"Papa ingin bicara sama kamu...ikut Papa!" Ujar Papanya lalu berjalan duluan.


Alan mengikuti Papanya saja, "Ada apa Pa?" Tanya Alan setelah melihat Papanya sudah menghentikan langkahnya.


Papanya menatap Alan dengan serius, "Apa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" Tanya Papa Alan langsung to the point.


"Wanita itu punya nama Pa..." Ujar Alan yang tidak terima Papanya menyebut Clara dengan sebutan wanita itu.


"Iya terserahlah....jadi kamu masih berhubungan tidak dengan dia?" Papa Alan mengulangi pertanyaannya lagi.


Alan mengangguk pelan.


"Alan...Alan! Sudah berapa kali sih Papa dan Mama kasih tau sama kamu...dia itu tidak baik untuk kamu dan juga untuk masa depan kamu! Kenapa sih kamu tidak pernah mau untuk mendengarkan Papa dan Mama? Masih banyak wanita diluaran sana yang jauh lebih cantik dan baik dari dia! Papa heran deh sama kamu!" Ujar Papanya.


"Pa! Ini hidup Alan...Dan harus berapa kali Alan bilang sama Papa dan Mama kalau Alan sangat mencintai Clara...Alan tidak akan pernah mau menikah dengan wanita lain kecuali dengan Clara!" Ketus Alan.


"Kamu...! Kamu kenapa sih Lan? Kamu mau membuat Mamamu sampai mati karena perbuatan kamu ini? Iya? Papa masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu!" Ujar Papanya dengan suara yang sudah mulai meninggi.


"Gak Pa! Alan tidak ingin melihat Mama kenapa - kenapa...."


"Lalu kenapa kamu masih terus berhubungan dengan wanita itu? Kenapa Lan? Papa bisa mengenalkan kamu dengan salah satu Anak dari rekan bisnis Papa...." Ujar Papanya.


"Karena Alan memang tidak bisa lagi berpaling ke wanita lain lagi, Alan gak mau Pa! Harus berapa kali Alan bilang baru Papa bisa mengerti." Ujar Alan.


"Apa yang membuat kamu tidak bisa lagi berpaling ke wanita lain?" Tanya Papanya sambil mengerlitkan alisnya.


Alan menghela nafas dengan berat sebelum mengatakan yang sebenarnya sedang terjadi.


"Katakan Lan? Ada apa sebenarnya?" Papanya Alan terus saja mendesak dirinya.


Alan mengeluarkan sebuah amplop hasil test DNA milik Clara.


"Apa ini Lan?" Tanya Papanya.


"Buka saja Pa!" Pinta Alan tanpa ingin memberikan penjelasan.


Papanya Alan langsung membuka Amplop yang diberikan Alan kepadanya, Papanya Alan membacanya dengan sangat serius bahkan sangking seriusnya sampai membelalakkan kedua matanya.


"Apa maksudnya ini Lan?" Tanya Papanya lagi.


"Clara hamil Anaknya Alan Pa!" Tegas Alan.


"APA? BAGAIMANA MUNGKIN ITU TERJADI LAN?" Uajar Papanya dengan nada meninggi.


"Karena Alan tidak ingin kehilangan Clara Pa...semua itu terjadi begitu saja. Dan Alan berencana untuk menikahi Clara." Tegas Alan kembali.


Papanya masih tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Anaknya itu, "Gak...gak mungkin! Kamu pasti bohong kan Lan?" Ujar Papanya sambil mengeleng - gelengkan kepalanya.


"Alan serius Pa! Alan tidak pernah bercanda dengan hal yang seperti ini. Alan benar - benar ingin menikahi Clara Pa! Alan tidak ingin membiarkan Anak yang ada didalam kandungan Clara itu lahir tanpa seorang Papa." Ujar Alan.


"Gak...gak! Papa tidak setuju!" Ujar Papanya.


"Pa...tapi itu Anaknya Alan! Alan akan tetap menikahi Clara...."


"Kamu benar - benar sudah dibutakan dengan yang namanya cinta Lan! Kamu pikir gimana reaksi Mama kamu ketika mendengarkan hal ini? Kamu kira Mama kamu akan menyetujuinya? Kamu benar - benar ingin membunuh Mama kamu ya Lan?" Ketus Papanya kembali sambil menatap Anaknya dengan sangat tajam.


"Alan...Alan akan meyakinkan Mama Pa...." Ujar Alan yang merasa tidak yakin dengan apa yang barusan dikatakannya.


"Oh iya? Coba saja!" Ujar Papanya sambil tersenyum mengejek.


"Pa...Alan mohon sama Papa tolong berikan kesempatan untuk Alan dan Clara bersama....Alan tidak menuntut hal lainnya kok asalkan Papa dan Mama mengizinkan Alan untuk menikahi Clara. Ya Pa?" Alan berusaha untuk membujuk Papanya.


"Ini sudah malam...sebaiknya kamu istirahat saja." Ujar Papanya lalu berjalan meninggalkan Alan yang masih berharap.


"PA...." Panggil Alan yang sudah tidak digubris lagi oleh Papanya.


"PAPA!"


Hingga akhirnya membuat Alan terduduk lemah tak berdaya, 'Kenapa sih Papa dan Mama sebegitu tidak menyukai Clara? Clara itu wanita baik....bahkan terbaik untuk Alan.' Ucap Alan didalam hatinya dengan lirih.


******


Selamat Hari Raya Idul Fitri ya semuanya...


Minal aidin walfaizin ya mohon maaf lahir dan batin!

__ADS_1


Happy reading guys!


__ADS_2