SECRET LOVE

SECRET LOVE
Kisah Aaric dan Asyilla


__ADS_3

Kedua pasang mata yang sedang berada di meja makan nampak memperhatikan kedatangan seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan garis rahang yang nyaris sempurna. Ketampanannya sering dikatakan bak seperti pahatan dewa yunani kata orang-orang.


Meskipun begitu, ia tak tinggi hati jika mendengar pujian banyak orang yang dialamatkan untuknya. Baginya, ketampanan yang dimilikinya yang merupakan bentuk warisan dari kedua orang tuanya itu bukanlah apa-apa jika, sampai detik ini belum bisa membahagiakan kedua orang yang telah sudi melahirkannya ke dunia.


Aaric merasa dirinya belum bisa berbakti dengan cara yang benar pada kedua orang tuanya. Ia ingin kembali melihat senyuman yang cerah dari wajah senja mereka. Yakni dengan membawa kembali pelita mereka yang telah lama hilang.


Laki-laki itu berjalan dengan langkah gontai. Terlihat jelas air mukanya yang sedikit muram di pagi itu menyiratkan jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya saat itu.


"Sarapan dulu Ar," Bu Sofia mengambilkan piring dan mulai menyendokkan nasi beserta lauk pauk yang tersaji pagi itu.


"Cukup Ma," Aaric memulai acara sarapan paginya dengan perasaan tak tenang sejak kemarin malam. Entah apa yang menggangu pikirannya saat itu. Yang jelas, setelah kemarin hari ia kembali dari luar kota untuk memastikan sesuatu yang harus ia ketahui, perasaannya semakin tak tenang saja.


Pikirannya kembali berkemelut mengingat pembicaraannya bersama seorang pengurus sebuah panti asuhan di kota yang ia sengaja sambangi.


Tiba di sana, Aaric menatap sebuah bangunan berupa rumah besar jika di lihat dari tampak depan. Mobilnya telah terparkir rapih setelah memasuki gerbang yang di bukakan oleh seorang gadis muda yang tersenyum padanya.


"Dek, apa benar ini panti asuhan kasih bunda?" tanyanya setelah berdiri tak jauh dari gadis muda itu.


"Benar Om," gadis itu mengangguk, menatap pria dewasa yang ada dihadapannya.


"Apa bisa saya ketemu dengan ibu Sari?"


"Ibu Sari sudah lama meninggal. Kalau Om mau bertemu dengan pengurus baru, silahkan masuk." gadis itu menuntun Aaric untuk masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan pengurus di sana.


Di sepanjang jalan menuju dalam, ia dapat memperhatikan aktifitas anak-anak yang hampir sama di setiap panti. Begitu miris ia rasakan disaat melihat anak-anak yang bermain dengan begitu ceria, senyuman dan tawa nampak jelas tergambar di wajah-wajah mereka yang lucu dan menggemaskan. Sungguh nasib yang kurang beruntung bagi mereka yang harus tumbuh kembang tanpa adanya sosok kedua orang tua disampingnya.


Apakah adiknya pun bernasib sama seperti mereka?


Kini pria itu sudah duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan hijab sampai menutupi tubuhnya. Wanita itu tersenyum setelah mendengar maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.


"Saya turut berduka atas apa yang sudah terjadi dengan keluarga anda Pak Aaric. Musibah, manusia tidak ada yang tahu kapan akan menghampiri. Meski itu sudah terjadi sangat begitu lama, tetap saja pasti sangat menyakitkan dan meninggalkan luka bagi keluarga yang ditinggalkan."


Aaric hanya mampu tersenyum sendu untuk menutupi kesedihan setelah menceritakan awal mula peristiwa yang terjadi pada keluarganya berpuluh tahun lalu. Hingga menyebabkan ia kehilangan adik perempuannya, dan membuat kedua orang tuanya dirundung kesedihan setiap saat.


"Terima kasih, Bu. Saya sengaja datang kemari untuk memastikan setelah mendapatkan petunjuk dari teman saya mengenai keberadaan adik saya. Saya begitu berharap sekali di panti ini saya bisa mendapatkan petunjuk dan menemukan keberadaan adik saya, setelah dari begitu banyak panti saya kunjungi yang tidak menemukan titik terang."


Wanita paruh baya itu menghela napas panjang. Ia memperhatikan struktur wajah Aaric yang mengingatkannya pada seseorang.


"Sangat sulit sekali jika sudah terjadi begitu lama. Bahkan sejak dulu, sebelum saya meneruskan kepengurusan dari Almarhumah Ibu Sari, saya sudah ikut lama dengan beliau. Sedikit banyak saya tahu semua anak-anak yang dirawat di sini. Banyak anak yang masuk dan keluar dari panti ini. Mulai dari bayi, balita, kami rawat mereka hingga pada suatu saat selalu ada keluarga yang dengan tulus ingin mengadopsi mereka. Jadi kami tentu kesulitan jika Pak Aaric tidak menyebutkan bagaimana ciri-ciri dari adik anda itu."


Kini giliran Aaric yang menghela napasnya dalam-dalam. Begitu sulit untuk mencari keberadaan adiknya untuk saat ini. Sesaat ia merasa lelah dan pasrah dengan keadaan yang tidak selalu memihaknya. Tetapi ia tak akan menyerah begitu saja, ia sangat yakin jika Asyilla masih ada bersama mereka di dunia ini. Andai saja sejak dulu saat ia kecil bisa ikut mencari keberadaan adiknya, besar kemungkinan kesempatan untuk menemukan adiknya akan terbuka lebar. Namun saat ini begitu terasa sulit baginya.


"Ar," panggil Bu Sofia. Namun yang dipanggil tak urung menghiraukan. Tetap saja terus melamun.


"Aaric!" panggilnya lagi dengan suara cukup keras.


"Hah? I-iya Ma?" terkejut dengan suara ibunya yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


"kamu lagi mikirin apa?" tanya Bu Sofia melihat anak laki-lakinya itu melamun berwajah muram dan sama sekali belum menyelesaikan sarapannya.


"Ya?"


"Mikirin apa?" tanya ulang Bu Sofia.


"Nggak kok Ma, aku nggak ada mikirin apa-apa." elaknya seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Apa ada masalah dalam pekerjaan?" kali ini ayahnya yang ikut menimpali. "Ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran kamu?"


Aaric menggeleng, "Nggak ada, semuanya baik-baik aja. Papa jangan khawatir." Kilahnya.


"Papa belum bisa kembali ke perusahaan secepatnya. Maaf sudah membuat kamu menanggung beban yang berat semua itu sendirian." dengan perasaan sedih dan menyesal ayahnya mengeluarkan isi hatinya.


"Papa jangan berbicara seperti itu, Aaric anak Papa. Jadi sewajarnya kalau aku berkewajiban membantu Papa untuk mengurus perusahaan." terangnya pada sang ayah yang kini tersenyum bangga padanya.


"Tapi kamu ngelamun sejak tadi, Mama tahu kamu pasti ada mikirin sesuatu kan?"

__ADS_1


Aaric menghela napas setelah kemudian memberikan senyuman manis pada ibunya yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Ibunya itu selalu saja tahu apa yang sedang dipikirkannya. Aaric tidak bisa menghindar bahkan mengelabui wanita yang telah melahirkannya itu. Ibunya seperti seorang cenayang yang hebat pikirnya.


*


*


*


Hampir jam makan siang, tetapi Aaric masih bergelut dengan setumpuk pekerjaannya. Meski sedang menghadapi berlapis-lapis berkas yang harus dia periksa, tetapi pikirannya malah melanglang buana memikirkan hal lain.


Ia teringat akan adiknya. Entah kenapa setelah kepulangan dari luar kota beberapa hari yang lalu membuat Aaric semakin merindukan adiknya itu.


Asyilla Audreyca Halim.


Ya, nama yang selalu terngiang-ngiang selama berpuluh tahun dalam kepalanya. Bahkan setiap malam saat ia memejamkan mata untuk tertidur pun tak lepas bayangan wajah kecil adiknya selalu hadir dalam bunga tidurnya.


Bayangan wajah bayi perempuan yang sangat cantik dan menggemaskan itu selalu hadir. Seolah menyiratkan jika adiknya itu masih tetap bersama mereka. Mengingat bagaimana saat ia tengah memeluk sang adik pada waktu itu. Hingga kejadian naas dan malapetaka itu terjadi ketika banyak orang-orang bertubuh tinggi dan besar memasuki rumahnya dan mengacaukan segalanya berujung membawa sang adik dalam dekapannya raib.


Aaric kecil menangis histeris kala melihat orang-orang menyeramkan tersebut membawa sang adik yang juga tengah menangis pergi meninggalkan rumahnya. Ia terus menerus menangis, tak ada yang dapat dilakukan oleh seorang bocah berusia 6 tahun itu untuk menyelamatkan adiknya. Terlebih ia melihat para pegawai rumah yang menjaganya saat ditinggal oleh kedua orang tuanya itu terkapar tak berdaya.


Ia terus terisak sembari mendekap boneka kecil milik adiknya yang tertinggal. Hingga waktu berlalu, terdengar suara mobil dengan sebuah sirine yang mengalun memekakan telinga. Seiring dengan itu terdengar derap langkah kaki yang menghampirinya yang tengah terduduk di sudut ruangan dengan keadaan tubuh yang bergetar.


Dia melihat diantara banyak orang di sana yang menghampirinya, terlihat samar-samar sosok kedua orang tuanya yang meraihnya dengan tangisan yang sama seperti dirinya.


Asyilla mereka telah pergi. Dan itu karena dirinya yang tidak bisa menjaganya. Membuat sang ibu berkali-kali jatuh tak sadarkan diri karena menerima kenyataan jika bayi kecilnya itu telah pergi meninggalkannya.


Kepingan peristiwa tersebut terus membenak bahkan membekas di ingatannya. Tak ayal jika sedang menyendiri, ia bahkan selalu teringat akan peristiwa yang membuatnya memiliki trauma tersendiri.


Suara ketukan meja dari ujung pena yang Aaric ketuk terdengar berirama, menandakan jika ia saat ini sedang tidak fokus pada pekerjaannya.


Lamunannya kembali mengingatkan pada pembicaraannya beberapa hari yang lalu bersama pengurus panti mengenai keberadaan adiknya.


"Apakah ibu bisa membantu saya? Saya akan memberikan apapun, atau bila perlu saya akan membantu panti ini dengan menjadi donatur tetap jika ibu berkenan membantu saya."


Didetik berikutnya, satu kalimat yang terdengar oleh indra pendengarannya membuat Aaric mengerungkan dahinya.


"Maaf, jika saya tidak sopan. Melihat wajah Pak Aaric sekilas mengingatkan saya pada seseorang yang pernah tinggal di sini." ucap ibu panti tersebut.


"Bagaimana Bu?" balas Aaric yang terlihat kebingungan. Apa mungkin ada seseorang yang wajahnya begitu mirip dengannya. Ia ingin tertawa, tapi juga penasaran. Sebisa mungkin ia menahan tawanya dengan mengatupkan mulutnya.


"Iya, wajah anda dengan seseorang tersebut sangat mirip sekali menurut saya."


"Begitukah? Apa orang tersebut masih tinggal di sini?" ucapnya yang semakin memberikan perhatiannya pada wanita itu.


"Sayangnya tidak, kurang lebih satu tahun yang lalu dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan panti ini." jelas ibu panti.


"Siapa Bu? Apa benar orang tersebut mirip dengan saya?" tanyanya yang cukup tertarik untuk membahasnya.


"Sangat terlihat mirip jika diperhatikan dengan seksama. Tetapi dia seorang perempuan."


"Perempuan?"


"Iya, namanya Kiana. Dia seorang gadis yang cukup lama tinggal di sini sejak kami menemukannya di panti dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Kiana anak yang baik, penyayang, dan peduli terhadap adik-adiknya di sini. Selama tinggal di sini, dia selalu membantu kami untuk membantu mengurus anak-anak lainnya. Dia dekat dengan ibu Sari. Bahkan menganggapnya seperti ibunya sendiri. Tidak mau meninggalkan panti dan selalu menolak jika ada keluarga yang ingin mengadopsinya. Tapi setelah kepergian beliau, Kiana ikut meninggalkan panti ini dengan alasan tidak mau menjadi beban lagi bagi panti dengan memberikan kesempatan pada adik-adiknya yang lain." cerita panjang lebar ibu panti padanya.


"Adik yang saya cari seorang bayi perempuan." dengan tergesa-gesa ia mengeluarkan ponselnya setelah menggulir beberapa saat dan menunjukannya pada wanita itu.


"Ini adik saya." ucapnya, melihat raut wajah ibu panti yang cukup lama memperhatikan photo di ponselnya dengan kerungan di dahinya, membuat Aaric harap-harap cemas dan tak sabar melihat reaksi wanita tersebut.


"Sebentar..." ucap ibu panti.


Aaric semakin menegang, hal seperti inilah yang ia rasakan setiap berkunjung dari panti ke panti setelah memperlihatkan wajah adiknya dalam keadaan masih bayi.


"Saya seperti tidak asing dengan wajah bayi ini," seloroh wanita tersebut hampir seperti menggumam.


Aaric tercekat, jantungnya semakin bertalu-talu. Tangannya terasa gemetaran di bawah sana.

__ADS_1


"Ini... seperti bayi yang pernah kami rawat beberapa tahun yang lalu. Ya, sudah lama sekali. Tapi saya masih ingat karena bayi ini cukup menyita perhatian semua dengan kedatangannya."


"Jadi Bu?" tanya Aaric yang semakin tak sabaran untuk mendengar ceritanya. Semoga saja ada jalan yang dapat mempertemukannya dengan adiknya melalui cerita ibu panti.


"Saya kurang pasti mengenai benar atau salahnya. Tetapi jika diperhatikan lagi, ini memang bayi yang pernah saya rawat dan tumbuh besar di panti ini."


Aaric terperangah, apa mungkin yang dimaksud ibu panti jika adiknya itu sejak dulu berada di sini?


"Lalu bagaimana Bu? Apa kemungkinan bayi itu adalah adik saya? Apa dia ada disini?" rasanya Aaric seperti mendapatkan angin segar ditengah Padang pasir yang tandus. Harapannya begitu melambung tinggi dengan pengakuan wanita paruh baya yang kini tengah beranjak dari tempat duduknya dan melenggang entah kemana yang cukup lama meninggalkannya dalam keterpakuan.


Aaric hanya dapat diam membisu seraya memandangi potret adik kecilnya.


"Semoga saya tidak salah, dan bisa membantu mengungkap kebenarannya untuk Pak Aaric." ucap Ibu Panti yang telah kembali duduk berhadapan dengan Aaric.


"Bayi itu adalah Kiana. Seorang anak yang tumbuh besar di panti ini hingga ia dewasa. Yang baru saja kita bicarakan karena sangat mirip sekali dengan anda. Ini adalah photo Kiana saat ia masih sekolah menengah pertama."


Aaric memandangi wajah seorang gadis cantik yang berada dalam sebuah album photo. Tak dapat dipungkiri, sekilas saja ia melihat wajah gadis itu seperti ia melihat ibunya dalam versi lebih muda. Manik matanya terus memandangi secara bergantian photo adiknya yang masih bayi dengan photo seorang gadis yang tengah tersenyum manis, ditambah dengan lesung di kedua pipinya yang semakin membuat gadis itu terlihat cantik. Benar-benar mirip sekali dengan ibunya, pikir Aaric.


"Kiana pergi sudah lama sekali. Tapi ia meninggalkan sebuah barang miliknya yang mungkin tidak ia sadari waktu itu." ibu panti menyerahkan sebuah benda pada Aaric yang kemudian pria itu meraihnya.


Aaric menerima sebuah gelang mungil dengan liontin yang menggantung berinisialkan huruf A.


Pria itu menatap sendu benda tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyadari jika liontin dari gelang tersebut sama persis bentuknya dengan yang dimiliki ibunya. Dia pun mengingat dengan jelas jika hari dimana ia kehilangan, adik kecilnya itu memakai sebuah gelang yang sama persis seperti yang saat ini ia pegang.


"Ini-- ini milik adik saya..." ucapnya dengan suara bergetar. "Sama seperti punya Mama. Adik saya masih hidup... Dia--" suaranya tercekat, ia mengusap air bening yang keluar begitu saja dipelupuk matanya.


Aaric tidak bisa menahan perasaan bahagianya. Tentu saja hal itu membuat harapan yang begitu besar dalam dirinya agar dapat segera bertemu dengan adiknya yang telah lama hilang.


Ya, semoga saja. Dia harus cepat mencari keberadaan adiknya dimana pun ia berada.


"Pak Aaric." panggil seseorang. Seperti biasa pria itu masih tetap dalam lamunannya yang menerawang jauh dalam benaknya yang dalam.


"Pak," masih saja pria tampan itu sama sekali tak merespon panggilan dari seorang laki-laki yang berada di hadapannya.


"Pak Aaric!" panggil laki-laki itu lagi dengan suara lebih keras. Apa atasannya itu sedang melamun? Lagi?


"Ya?"


"Bapak baik-baik saja?"


" Hah? Saya? Ya, saya baik-saya baik. Maaf saya kurang mendengarkan. Kamu bilang apa tadi?" ucapnya seraya menatap sekretarisnya itu.


"Klien sangat puas dengan kerja sama kita, Pak. Bahkan mereka mengusulkan bagaimana jika besok malam kita-- Mmm... maksud saya Pak Aaric bisa makan malam sederhana dengan membawa keluarga atau pasangannya masing-masing."


"Makan malam ya?" Aaric nampak berfikir.


"Kedengarannya sangat bagus. Walau bagaimana pun ini merupakan proyek besar antara ketiga perusahaan yang sangat sukses kita kerjakan. Untuk sekedar merayakan keberhasilan kita dengan makan malam, saya rasa tidak masalah. Kamu atur saja jadwalnya, Yan."


"Baik Pak," ucap laki-laki muda itu yang bernama Rayn.


"Siang ini ada pertemuan diluar?"


"Ada Pak. Bapak siang ini cuma punya jadwal untuk bertemu dengan ibu di pusat perbelanjaan."


"Nemenin Mama ya?" ucapnya seraya menghela napasnya dalam-dalam.


Sebenarnya ia merasa malas untuk menemani ibunya untuk sekedar makan dan berkeliling dari satu toko ke toko lainnya. Bukan karena malas menghabiskan waktu bersama ibunya. Tetapi malas karena harus bertemu dengan teman-teman ibunya yang sengaja membawa anak gadis mereka pula. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Aaric sudah tak aneh lagi dengan apa yang dilakukan oleh ibunya dan teman-temannya itu.


"Benar Pak. Bahkan ibu sudah mengingatkan saya sejak tadi pagi untuk memberitahukan kepada Bapak agar tidak lupa."


"Kalau begitu ingatkan saya lagi nanti."


"Baik Pak."


Melihat punggung kepergian asistennya itu setelah berpamitan padanya, Aaric beranjak dari duduknya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja kerjanya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


__ADS_2