
"Ih... lucu banget sih kamu," ungkap Fira yang gemas pada keponakannya, anak dari Kakak laki-laki satu-satunya, dan juga cucu pertama laki-laki yang hadir di keluarganya.
Tentu saja keberadaan Al seolah menjadi pewarna baru bagi kehangatan dalam rumah itu. Segala perhatian kini tertuju pada bayi mungil yang tampan seperti ayahnya. Al begitu nyaris mirip sekali dengan Bian. Anak dan ayah itu bagai seperti pinang dibelah dua. Begitulah yang terus dikatakan oleh Bu Ajeng pada setiap orang yang ada di rumahnya. Bayi Al mengingatkannya pada sosok Bian ketika masih bayi seusianya dulu.
"Seneng banget aku lihat Al yang gemesin gini," ucapnya lagi yang terus menerus menghujani bayi itu dengan ciuman di wajahnya yang mulai terlihat memerah.
"Ini anak siapa ini, hem? Ganteng banget sih."
"Udah Ra, kasian Al sampai mukanya merah gitu." peringat Bu Ajeng pada anak gadisnya.
"Iya, Mama. Aku cuma gemes aja sama bayi ganteng ini." kilahnya.
Bu Ajeng hanya menghela napas dengan senyum yang tertarik di wajah senjanya yang masih terlihat cantik diusianya.
"Mama seneng banget Pa,"
"Seneng kenapa?" balas Pak Hardi yang sejak tadi memperhatikan cucu, anak, dan istrinya itu.
"Akhirnya rumah ini terasa hangat lagi."
"Itu pasti karena dengan adanya cucu kita. Papa benar kan?" sahut Pak Hardi melihat binar kebahagiaan pada wajah istrinya.
"Iya, Pa. Mama merasa dengan kehadiran Al ditengah-tengah kita saat ini membuat Mama bisa kembali tersenyum. Al seolah menjadi pelipur hati Mama saat setelah melihat Bian kemarin dalam kesusahan." curahan hati Bu Ajeng pada suaminya menyita perhatian Fira yang masih menimang Al yang terus menggeliat di pelukannya.
"Aku jadi ikut bersalah sama Mama dan Papa," sahut gadis itu dengan wajah murammya penuh dengan penyesalan.
"Coba aja aku lebih dulu cerita semuanya tentang apa yang terjadi sama Kak Bian dan Kiana, mereka nggak akan pernah menjalani hidup yang semenyakitkan itu." Fira menghela napasnya berulang kali, tatapan matanya tak lepas dari bayi yang kini sudah berwajah merah hendak menangis menggeliatkan tubuh kecilnya.
"Semua sudah menjadi jalannya untuk mereka jalani seperti ini. Terlepas dari apa yang sudah Bian lakukan, Papa sangat bangga dia bisa bertanggung jawab pada apa yang sudah dia lakukan."
"Iya, Pa. Mama akhirnya bisa bernapas lega, pada akhirnya Kiana gadis yang menjadi pendamping anak itu," senyuman tertarik begitu saja di sudut wajah senjanya.
"Mama juga nggak ngerti kenapa mereka bisa sampai-- Ya, Papa tahu sendiri bukan? Tapi bukan berarti Mama membernarkan apa yang sudah Bian lakukan pada Kiana. Tapi Mama sangat bersyukur Kiana yang menjadi menantu di rumah ini."
"Selalu kita doakan yang terbaik untuk anak-anak kita semuanya, Ma." Pak Hardi mengusap bahu istrinya.
"Ma... Ini Al udah nggak bisa diem ini," seru Fira yang mulai panik karena bayi tampan itu sudah merengek bahkan menangis.
*
*
*
"Kayaknya semua orang di rumah ini memang sedang kangen-kangennya sama Al." ujar Bian yang baru saja mengganti pakaian rumahnya dengan piyama tidur. Bian dapat melihat dengan jelas kegelisahan dari wajah istrinya yang serba salah sejak tadi.
"Al juga baru bangun, kan? Pasti lama lagi nunggu buat dia tidur cepet. Mumpung di luar ada yang jagain, belum larut malam juga. Kelihatan Mama Papa seneng banget ada Al sekarang di rumah." lanjutnya lagi seraya mendekat pada Kiana yang duduk di ujung ranjang dengan kedua tangan yang memangku di atas pahanya.
"Kenapa? Kok gelisah gitu sejak tadi?" tanya Bian ikut mendudukkan dirinya di samping Kiana. "Al pasti baik-baik aja, kalau dia nangis kita cepet ambil. Nggak apa-apa kan?" ucapnya menenangkan sang istri dengan meraih bahunya untuk ia peluk.
"Aku malu, Mas." cicit Kiana dengan suara menggumam.
"Malu? Malu kenapa? Sama siapa?"
"Mama Papanya, Mas. Mbak Fira juga." ungkapnya dengan suara tertahan.
Bian semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti apa yang dikatakan oleh Kiana. Ia memandang wajah Kiana dari arah samping dengan lekat, sejurus kemudian senyuman smirk tertarik di bibir Bian kala mengingat kejadian yang mungkin membuat Kiana malu.
Bian terus memandanginya dengan suara kekehan kecil yang mana membuat Kiana cemberut.
"Mas..." rengek Kiana pada Bian yang masih terkekeh kecil di sampingnya.
__ADS_1
"Apa sayang..." sambutnya menggoda sang istri tercinta. Dia menghadapkan wajahnya yang terbentuk dengan garis rahang yang tegas semakin menambah kesempurnaan tampannya wajah laki-laki itu.
"Kok malah ngetawain aku? Seneng ya bikin aku malu terus salah tingkah di depan Mama Papanya, Mas?"
"He'eh," jawab Bian singkat.
"Ih, nyebelin." sungut Kiana cemberut.
"Kamu lucu banget sih, bikin Mas gemes tahu." jujur pria itu berbisik di telinga Kiana, saking gemasnya ia mengecup dan menggigit kecil cuping telinga istrinya.
Kiana yang mulanya menjengit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, lambat laun ia hanya terdiam saat mendapatkan perlakuan secara intens seperti itu dari suaminya. Terlena sudah pasti, karena Bian bersikap begitu lembut padanya.
Melihat respon Kiana yang tak menolak atas apa yang dilakukannya, Bian semakin tertantang untuk melakukanya lebih jauh lagi. Ia semakin terus mengeksplor untuk menjelajah bagian tubuh lain Kiana dengan sapuan lidah dan usapan tangannya yang hangat.
Desiran yang dirasakan oleh pria itu di sekujur tubuhnya atas pertemuan kulit mereka yang saling bersentuhan membuat birahinya semakin memuncak.
Kembali ia menatap wajah sayu Kiana yang mulai ditumbuhi oleh anak keringat. Napas gadis itu pun tersengal-sengal. Dengan lembut, Bian membenamkan bibirnya di atas permukaan bibir ranum Kiana yang membuatnya semakin bersemangat, diiringi dengan gairah yang semakin memuncak hingga ia memagut dan terus memagut tanpa henti, hingga ******* rasa manis yang ia cecap dari benda kenyal dan hangat itu.
"Mas..." lirih Kiana di sela ciuman hangat dan semakin dalam diantara mereka. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari lomba maraton.
Bian melepas pagutan bibir diantara mereka, ia menatap wajah Kiana yang sayu penuh dengan damba yang tertahan. Sekali lagi, ia kembali menyerang istrinya setelah membaringkannya di ranjang hingga ia berada di atas tubuh Kiana, mengungkung indah untuk lebih leluasa lagi mencumbu tubuh istrinya.
Kedua tangannya tak lepas dengan gencar mempermainkan kedua aset berharga milik istrinya yang membuat ia mabuk kepayang. Dengan sentuhan lembutnya, memberikan pijatan-pijatan diarea itu membuat Kiana melenguh mengalun indah di telinganya. Tak lupa ia pun membenamkan dirinya diantara kedua aset kembar istrinya, mengulum, mempermainkannya bergantian dengan begitu rakusnya. Bibir dan lidahnya begitu asik mencecap-cecap di sana, bahkan menggigit-gigit kecil.
Kiana tak kuasa menahan ******* yang lolos begitu saja dari mulutnya. Kenikmatan yang baru beberapi kali ia rasakan dari suaminya setelah sekian lama
Dengan napas yang sama-sama saling memburu, Bian mengarah ke bagian bawah istrinya. Ia menyibak kain yang menghalangi kaki jenjang indah milik Kiana, mengusapnya kemudian memberikan kecupan-kecupan lembut disepanjang permukaan yang ada.
"Ki," panggil Bian sesaat setelah ia mengecup bagian kaki dalam Kiana yang membuatnya terperangah sampai menatap wajahnya dengan kerutan di dahinya.
Kiana menoleh pada Bian yang berada tepat di bawah kakinya seraya membenarkan letak bajunya yang sudah tak beraturan.
"Luka lama," jawab Kiana seraya berusaha untuk mendudukkan dirinya.
"Sakit?" tanya Bian lagi seraya mengusap bagian permukaan bekas luka tersebut yang kentara terlihat dari kulit bersih Kiana.
Kiana menggeleng pelan, ia tersenyum kemudian meraih pipi kanan Bian untuk ia belai dengan sebelah tangannya.
"Ini luka besar, pasti sangat sakit. Iya kan?" cerca Bian dengan suara bergetar yang mana matanya kini sudah berkaca-kaca saat terus memperhatikan kaki Kiana dengan bekas luka yang membuat hatinya tergores perih.
"Mungkin, karena aku nggak tahu gimana rasa sakitnya saat itu." Kiana membalas ucapan Bian dengan perasaan geli ketika suaminya itu terus mengecup permukaan luka tesebut dengan lembut.
"Sejak kapan? Kenapa aku baru jelas melihatnya, hem?"
"Sudah lama sekali, sejak bayi. Kata ibu pengasuh luka ini memang aku dapat ketika pertama kali ditemukan di panti. Jadi nggak ingat gimana sakitnya, lagi pula ini hanya luka lama. Mas jangan khawatir." jelas Kiana.
"Aku nggak bisa bayangin dulu kamu saat masih bayi merasakan sakit karena luka ini." Bian merangsek dari tempatnya, secepat kilat ia meraih tubuh Kiana untuk ia bawa ke dalam pelukannya.
"Maafin aku," cicit Bian. Pria itu mengecup pucuk kepala Kiana seraya menghirup dalam-dalam aroma yang memabukkan baginya itu.
"Aku nggak apa-apa, jangan meminta maaf. Ini bukan karena, Mas."
"Tapi karena aku mengingatkan kamu akan luka lama, maaf sayang..." Bian semakin mengeratkan pelukannya. Begitu pun dengan Kiana yang membalas pelukan suaminya tak kalah eratnya.
Lama mereka dalam posisi saling berpelukan, saling menghujani dengan kecupan-kecupan mesra dan memabukkan.
Awalnya Kiana begitu bingung dan malu apa yang dilakukan oleh Bian pada tubuhnya. Seiring dengan intensnya suaminya itu terus mencumbuinya. Namun tanpa ragu lagi, Kiana mulai mengikuti apa yang seperti tengah Bian tunjukkan padanya. Seolah pria itu sedang mempersilahkan dirinya untuk memiliki seluruh tubuh pria itu.
Hingga terdengar ketukan yang seketika membuyarkan kemesraan diantara mereka. Tak berlama-lama, Bian segera membenahi penampilannya yang acak-acakan untuk segera membukakan pintu.
"Al nangis, Bi." ucap Bu Ajeng yang berada di balik pintu tengah menggendong cucunya.
__ADS_1
"Anak Bapak nangis? Ya ampun... kasihan anak Bapak di jahatin Omanya." ujar Bian seraya mengambil alih bayi itu.
"Sembarangan kalau ngomong!" seru Bu Ajeng tak terima. "Al kayaknya haus makanya ngerengek terus dari tadi, padahal Mama masih kangen sama cucu ganteng Mama ini."
"Bosen kali Al deket-deket terus Omanya, iya kan Nak?" ucap Bian asal dengan kekehan kecil yang mana membuat ibunya mendelik kesal.
"Kiana mana?" tanya Bu Ajeng yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ibunya Al ada kok," jawab Bian dengan perasaan gelisah tentunya.
"Udah tidur?" sorot mata ibunya seperti mencari keberadaan istrinya di dalam sana.
Bian menoleh ke belakang sesaat dimana ia meninggalkan Kiana yang masih terbaring di ranjang akibat ulahnya barusan. Untung saja tempat tidurnya itu tak terlihat secara langsung dari bibir pintu karena tersekat oleh dinding yang menghalanginya. Sehingga ibunya tidak akan tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar tersebut sebelum kedatangannya.
"Belum, lagi di kamar mandi barusan. Ya udah, Bian kasih Al sama ibunya dulu." ucapnya lagi setengah mengusir ibunya dari sana. Lagi-lagi Bu Ajeng mendelik melihat kelakuan anaknya itu.
Setelah kepergian ibunya, Bian menghampiri Kiana yang kini sudah duduk di atas ranjang sembari membenahi pakaiannya akibat ulah suaminya itu.
"Ini ibu Nak," kedatangan Bian disambut dengan wajah berbinar Kiana kemudian meraih bayinya itu ke dalam pelukannya. Gadis itu nampak kembali selsai merapihkan pakaiannya.
"Anak ibu," Kiana mengusap kening bayinya yang menampakkan anak keringat membasahi permukaan kulitnya.
"Al haus kayaknya, sebentar aku ambilin dulu minumnya." Bian beranjak untuk mengambil botol minum milik bayinya kemudian menyerahkannya pada Kiana.
Bian memandangi anak istrinya dalam satu bingkai yang membuat hatinya serasa damai malam itu. Melihat kegembulan bayinya dalam menyesap nutrisinya, Bian terlihat tanpa henti terus tersenyum merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
"Eh, sebentar-sebentar." ucap Bian membuat Kiana menoleh padanya.
"Ada apa?"
"Kok ada yang aneh ya."
"Apanya yang aneh?" Kiana ikut mengerutkan dahinya mendengar perkataan suaminya itu.
"Sebentar Ki, aku harus memastikan itu dengan pasti." terangnya seraya lebih mendekat pada Kiana.
Bian memperhatikan dengan wajah serius dimana wajahnya begitu dekat dengan dada istrinya yang hampir mengalahkan kedekatan bayinya dari dekapan istrinya.
"Bapak mau ngapain sebenarnya," potong Kiana menjauhkan dirinya dari wajah Bian yang nyaris menyentuh dadanya.
"Sebentar Bu, aku masih penasaran sama ini." tunjuknya dengan kedua matanya yang bersorot serius pada dua buah gundukan kembar yang lucu dan menggemaskan baginya. Bahkan terlihat seksi ketika sedang terbuka menampakkan keberadaannya, itu selalu membuat Bian gila.
"Apa sih? Bapak aneh-aneh aja." Kiana mencoba untuk beringsut.
"Sayang, baju kamu kayaknya basah ini." tutur Bian setelah memastikan. "Apa aku tadi terlalu bersemangat ya sampai-sampai baju kamu basah kayak gini?" tanyanya dengan wajah yang mendongak menatap istrinya.
"Basah? Kok bisa?"
"Ini," tunjuk Bian pada kain yang membungkus dada istrinya yang kini semakin terlihat basah dan membuat cetakan ujung dada istrinya itu semakin terlihat dengan jelas.
Bian meneguk salivanya saat melihat itu semua. Ia semakin gelisah saja dibuatnya.
"Ya ampun Pak, iya ini basah. Kok bisa? Padahal aku belum ada ke kamar mandi sejak tadi." jelas Kiana seraya memeriksa bagian tubuhnya itu yang terlihat basah dipermukaan pakaiannya.
"Periksa dulu, aku takut kenapa-kenapa itu." perintah Bian. "Sini, Al sama aku dulu."
Kiana menyerahkan bayinya kepada suaminya yang sesaat kemudian mulai memeriksakan keadaannya. Ia pun tak kalah khawatir takut-takut tengah terjadi sesuatu padanya.
"Ki, kok--" perkataan Bian terhenti saat melihat dua benda kembar yang sangat luar biasa milik istrinya itu kembali terpampang nyata di depan matanya, jejak-jejak merah yang terlihat jelas di permukaan kulitnya membuat Bian semakin menelan salivanya dengan kasar. Kedua ujung benda mengagumkan itu tengah mengeluarkan cairan putih yang cukup deras menetes pada ujung ******-nya.
Kiana tak kalah terkejut dengan apa yang terjadi pada tubuhnya itu. Pandangan mata mereka saling beradu. Hingga rengekan dari putra kecil mereka membuat pandangan keduanya harus cepat-cepat terputus.
__ADS_1