
Keesokan harinya...
Sebenarnya Alvin malas sekali untuk beranjak dari kasur empuknya ini, akan tetapi Mikha terus memaksa agar Alvin untuk bangun. Alvin sempat merasa kesal karena Sang Istri.
"Kamu mau bangun apa gak Vin? Ingat lho hari ini kamu tuh harus bekerja." Ujar Mikha sambil merias dirinya sendiri didepan cermin.
"Hmm...iya sayang...sebentar lagi ya."
"Alvin...!" Panggil Mikha lagi.
"Iya...iya aku bangun sekarang..." Ujar Alvin lalu segera turun dari kasurnya dengan wajah yang tidak bersemangat sama sekali.
"Cepetan mandi...ntar aku telat lho sayang." Pinta Mikha sambil membantu Suaminya untuk bergerak cepat menuju kamar mandi.
"Iya iya..." Jawab Alvin.
"Kalau begitu aku tunggu kamu dibawah ya...kamu mau sarapan apa Vin? Biar aku siapin?" Teriak Mikha dari luar kamar mandi.
"Apa aja deh sayang yang penting kamu buatinnya dengan penuh cinta." Balas Alvin.
"Dasar kamu tuh ya..." Ujar Mikha sambil tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Suaminya itu.
Mikha memutuskan untuk masakin Alvin nasi goreng. Mikha melakukannya dengan penuh semangat sambil sesekali tersenyum membayangkan wajah Suaminya yang mesum itu. Itu adalah sebutan Mikha untuk Alvin sekarang, karena Alvin selalu saja berbuat hal mesum kepadanya yang membuat Mikha bahkan tidak bisa mengatakan apa - apa lagi selain menerimanya saja.
"Non Mikha..." Panggil pembantunya sontak membuat Mikha menoleh.
"Itu masakannya hampir saja gosong..." Pembantunya memberitahukan kepada Mikha yang terlihat sedari tadi melamun saja.
"Apa!" Sontak membuat Mikha kebingungan lalu segera mematikan kompornya.
"Makasih ya Bi..." Ujar Mikha dengan cepat.
"Iya Non...kalau masak jangan melamun lagi ya Non." Goda pembantunya sambil tersenyum.
"Ih si Bibi...iya deh iya lain kali saya janji kalau saya tidak akan melamun lagi. Setelah mengatakan hal itu Mikha langsung menuju ruang makan. Pembantunya lah yang meletakkan nasi goreng yang dimasaknya tadi ke piringnya masing - masing.
"Hmmm...sepertinya wangi sekali masakan Istriku ini." Ujar Alvin yang baru saja turun lalu memeluk Mikha dari belakang.
"Iya dong sayang...ya udah kamu duduk." Pinta Mikha sambil melepaskan pelukan dari Suaminya itu.
"Baiklah sayang." Ujar Alvin yang menurut.
Setelah nasi goreng masakan Mikha sudah dihidangkan diatas meja makan, keduanya langsung menyatapnya secara bersamaan.
"Gimana Vin?" Tanya Mikha dengan sangat penasaran dengan komentar yang akan diberikan Alvin kepada masakannya pagi ini.
"Ini masaknya penuh cinta gak?" Alvin malah menggoda Mikha.
"Vin...please dong, aku serius nih." Rengek Mikha dengan manjanya.
"Ini enak banget sayang...hanya saja sedikit keasinan. Biar aku tebak tadi selama memasak kamu pasti ngelamunin aku terus kan?" Alvin lagi lagi malah menggoda Istrinya membuat wajah Mikha sudah memerah dengan sempurna.
"Oh iya? Hmmm...sorry deh. Lain kali tidak akan seperti itu lagi kok Vin. Ih kamu jangan terus menggoda aku terus dong." Rengek Mikha sambil cemberut.
"Tapi ini beneran enak lho sayang nasi gorengnya. Aku suka kok...mana mungkin aku bisa untuk berhenti menggoda kamu." Balas Alvin.
"Ya udah terimakasih atas pujiannya, kalau begitu kamu harus menghabiskan nasi gorengnya ya! Awas aja bila tidak habis." Ancam Mikha sambil menatap tajam Suaminya.
"Iya iya bawel...pasti dong akan aku habisin." Ujar Alvin lalu melanjutkan makannya kembali.
Setelah selesai sarapan, Alvin dan Mikha berjalan keluar rumah bersama - sama. Alvin sebenarnya sangat berat untuk pergi bekerja. Akan tetapi Mikha memaksa dirinya untuk pergi juga membuat Alvin sangat frustasi akan berpisah dengan Istirnya itu.
Selama didalam perjalanan Alvin terus saja menggenggam jemarinya Mikha padahal saat ini dirinya sedang menyetir. Dia benar - benar tidak ingin melewatkan setiap waktu yang mereka habiskan bersama.
"Sayang...."
"Hmm..." Jawab Mikha sambil menatap Alvin.
"Nanti dikantor kamu jangan nakal ya...jangan terlalu dengat dengan bos kamu itu ya! jujur aku tidak menyukainya." Ujar Alvin secara terang - terangannya membuat Mikha menahan tawanya saja.
"Iya iya! Lagian yang seharusnya curiga itu aku tau Vin. Kamu jangan nakal lagi ya sayang..." Ucap Mikha dengan penuh penekanan sambil mengelus pipi Suaminya.
Alvin sempat melihat Mikha sekilas, "Iya sayang...aku tidak akan pernah lagi untuk mengulangi kebodohan aku yang kemarin...makanya kamu jaga aku baik - baik dong." Balas Alvin.
"Iya aku akan menjaga Suami mesumku ini dengan sebaik mungkin.....Vin...aku turun disini saja ya..." Pinta Mikha yang sudha melihat didepan sana perusahaan tempat dirinya bekerja.
"Lho kenapa sayang? Aku antar kamu sampai kedepan saja." Ujar Alvin yang tidak ingin menuruti permintaan dari Istrinya itu.
Mikha menghela nafas dengan berat, "Ya udah deh sayang...." Ucap Mikha akhirnya.
"Vin...gimana aku bisa turun kalau kamu pegangin terus tangan aku seperti ini?" Ujar Mikha sambil menunjuk kearah tangannya dan Alvin.
"Hmmm....aku kok gak rela ya mau berpisah sama kamu? Berat banget tau gak Mik....kamu gak kasihan sama aku? Mendingan kamu gak usah kerja aja ya sayang..." Alvin terus memohon kepada Mikha dengan wajah memelasnya.
"Gak bisa dong sayang...nanti malam kan kita ketemu lagi? Udah ya biarkan aku turun." Mikha masih berusaha untuk meyakinkan Suaminya.
"Hmm...baiklah." Ucap Alvin pada akhirnya, sebelum melepaskan genggaman tangannya dari Mikha, Alvin mengecup tangan Mikha dulu.
"Ingat pesan aku tadi ya...jangan nakal dan jangan dekat" dengan bos kamu itu." Ucap Alvin lagi dengan penuh penekanan.
"Iya sayang." Mikha memberikan kecupan tepat di pipi Alvin lalu segera turun dengan cepat keluar dari mobil Suaminya itu.
Setelah melihat Mikha masuk kedalam perusahaan, Alvin menancapkan gasnya untuk pergi dari sana dengan cepat untuk menuju ke kantornya. Selama dikantor Alvin terus saja menatap jam tangannya tanpa henti, hari ini terasa waktu begitu lama dari biasanya. Alvin ingin cepat - cepat bisa pulang agar bisa menghabiskan waktu lagi besama dengan Mikha.
"Kenapa sih hari ini terasa sangat lama sekali?" Gerutu Alvin dengan kesal.
Sedari tadi Alvin seperti seseorang yang sedang tidak memiliki sebuah pekerjaan saja, dia tidak henti - hentinya terus saja menatap ponselnya untuk menunggu pesan balasan yang dikirimkannya sedaritadi ke ponsel Sang Istri.
Namun Mikha tak kunjung untuk membalas pesan dari Alvin membuat Alvin semakin gelisah saja.
Alvin sedari tadi mondar mandir tidak jelas diruangannya, pikiran terus saja tertuju kepada Sang Istri yang tidak diketahui kabarnya sama sekali.
'Apa aku harus menghubunginya saja?' Pikir Alvin.
'Tidak - tidak! Aku tidak bisa melakukannya. bisa -bsa Mikha nanti marah lagi sama aku. Kenapa sih hari ini terasa sangat lama?' Pikirnya lalu duduk kembali dikursinya.
Tiba - tiba ponsel Alvin berbunyi pada saat dirinya sangat mengharapkan kalau yang menghubunginya itu adalah Istirnya. Dengan penuh semangat Alvin langsung melihat ponselnya, wajahnya kembali merasa kecewa karena yang menghubungi dirinya bukan Sang Istri melainkan Alan.
'Mau apa Alan menghubungiku?' Pikir Alvin sebelum pada akhirnya Alvin memutuskan untuk menjawab panggilan dari Alan.
"Halo Lan..."
"Sekarang? Hmm...oke baiklah aku kesana sekarang ya."
"Oke sampai bertemu disana."
Setelahnya Alvin mengambil setelan jasnya lalu segera keluar dari ruangannya dan meninggalkan kantor dengan sangat cepat. Alvin memikirkan kenapa Alan mengajaknya untuk ketemu. Sepanjang diperjalanan Alvin selalu saja berpikir keras akan tetapi dirinya tidak menemukan jawaban sama sekali.
Sesampainya di cafe yang dituju oleh Alvin, dirinya langsung masuk dan celingak celinguk untuk mencari keberadaan Alan. Alvin belum bisa menemukan keberadaan Alan sampai Alan yang melihat Alvin dari kejauhan kembali untuk menghubungi Alvin kembali.
__ADS_1
Begitu melihat panggilan telepon dari Alan, dengan cepat Alvin langsung menjawabnya, "Dimana kamu Lan? Aku udah sampai disini nih."
Alan mengarahkan Alvin untuk berjalan, Alvin pun mengikuti arahan dari Alan hingga akhirnya Alvin dapat melihat dimana Alan berada.
"Hai Lan...apa kabar?" Tanya Alvin lalu duduk dikursi yang ada dihadapan Alan.
"Ya begini lah Vin seperti yang kamu lihat." Jawab Alan sambil menyeruput minumannya.
Alvin dapat melihat kegelisahan dan beban pikiran Alan, "Ada apa nih? Kenapa tiba - tiba kamu ngajak aku untuk bertemu?" Tanya Alvin langsung to the point.
"Clara kabur...aku gak tau lagi mesti mencarinya kemana..." Ujar Alan dengan wajah sedih.
"Kok bisa?" Ujar Alvin dengan ekspresi kagetnya.
"Aku juga gak tau Vin...aku kira dia tidak akan kabur lagi. Tapi ternyata dia malah memilih untuk pergi lagi dari aku. Aku benar - benar sangat frustasi Vin." Balas Alan dengan wajah yang kelihatan sangat stres.
"Oke...aku akan membantu kamu untuk mencari dimana keberadaan Clara! Kamu tenang aja ya! Kita pasti bisa untuk menemukan dimana Clara...!" Ujar Alvin sambil menepuk bahu Alan.
"Iya Vin...thanks ya! Jujur aku gak tau lagi mesti cerita ini sama siapa. Aku sangat stres belakangan ini Vin. Clara juga mematikan ponselnya agar tidak bisa aku hubungi sama sekali." Ujar Alan lagi.
."Kamu tenang saja ya! Kita pasti berhasil kok untuk menemukan keberadaan Clara. Lalu apa yang akan kamu lakukan ketika kita sudah berhasil menemukan keberadaan Clara?" Ujar Alvin kembali memberikan semangar kepada Alan.
"Thanks ya Vin! Hmm..pastinya aku akan langsung menikahi Clara dan bertanggung jawab dengan Anak yang ada didalam kandungan Clara." Balas Alan dengan sangat serius.
"Apa ortu kamu bakalan setuju Lan? Bukannya kalian berpisah itu karena hubungan kamu dan Clara tidak disetujui ya?" Tanya Alvin lagi.
"Mau gak mau Papa dan Mama aku pasti setuju Vin." Balas Alan sambil mengingat yang dikatakan Papa dan Mamanya pagi ini kepada dirinya.
Flashback on
Alan yang masih berada didalam kamarnya mendapatkan ketukan pintu, dengan malas Alan bangkit lalu membukakan pintu kamarnya.
"Papa!"
"Papa sama Mama mau berbicara sama kamu...Papa tunggu kamu dikamar Mama ya."
"Baik Pa!"
Alan memutuskan untuk pergi mandi dulu baru setelahnya dia memutuskan untuk pergi kekamar Papa dan Mamanya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Alan berjalan kekamar orangtuanya itu. Sesampainya disana Alan langsung duduk dikursi yang berada di samping kasur Mamanya.
"Ada apa Ma? Ada yang mau Mama bicarakan sama Alan?" Tanya Alan sambil memegangi tangan Mamanya.
"Apa benar Clara sedang mengandung Anak kamu Lan?" Tanya Mamanya dengan mata yang sudah mulai berkaca - kaca.
Alan mengangguk dengan cepatnya.
"Kenapa kamu bodoh sekali sih Lan? Kenapa kamu membuat Papa dan Mama malu?" Ujar Mamanya dengan lemah.
"Maafin Alan Ma...Alan sangat mencintai Clara Ma, Alan tidak ingin kehilangan Clara makanya Alan dan Clara sampai melakukan hubungan sejauh itu." Ujar Alan menjelaskan kepada Mamanya.
"Tapi kenapa Lan?" Mamanya mulai terisak.
"Maafin Alan Ma! Maafin Alan..." Alan hanya merasa perasaan bersalah saja kepada Mamanya.
"Mama jangan menangis lagi ya? Boleh Alan mengajukan satu permintaan Ma?" Ujar Alan sambil menghapus airmata yang keluar dan membasahi pipi Mamanya.
"Apa..." Tanya Mamanya sambil terus terisak.
"Alan boleh menikahi Clara Ma? Walau bagaimanapun Anak yang dikandung Clara itu tidak bersalah sama sekali..." Alan memohon kepada Mamanya.
Mamanya malah semakin histeris karena Alan langsung mengatakannya, "Ma...please...Clara wanita yang baik Ma! Alan benar - benar sangat mencintai Clara. Izinkan Alan dan Clara bersama - sama." Alan terus memohon kepada Mamanya.
"Kamu jangan terus mendesak Mama kamu seperti itu Lan!" Ujar Papanya karena merasa kasihan Istrinya terus didesak oleh Sang Anak.
"Papa dan Mama mengizinkan kamu untuk menikahi wanita itu...semoga dia memang wanita baik yang kamu bicarakan itu." Ujar Papanya.
"Beneran Pa, Ma?" Alan menatap Papa dan Mamanya secara bergantian.
Papa dan Mamanya hanya mengangguk pasrah, "Dengan syarat dia jangan membuat malu keluarga kita diluaran sana! Papa tidak ingin nama baik keluarga kita hancur karena dia. Apa kamu mengerti!" Ucap Papanya dengan penuh penekanan.
Alan mengangguk mantap, "Iya Pa, mengerti. Alan jamin kalau itu tidak akan pernah terjadi." Balas Alan sambil tersenyum.
"Terimakasih Pa, Ma!" Ujar Alan sambil mengecup tangan Mamanya berkali - kali sangking senangnya.
"Iya Lan...Papa dan Mama hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu...kalau memang dia adalah wanita yang terbaik untuk kamu...Papa dan Mama akan mencoba untuk menerimanya." Ujar Papanya.
"Iya Pa, Ma. Alan janji tidak akan mengecewakan Papa dan Mama. Kalau begitu Alan bisa mencari dimana Clara sekarang?" Tanya Alan dengan sangat bersemangat.
Papa dan Mamanya mengangguk secara bersamaan, "Pergilah Lan!" Ucap Papanya.
"Alan pasti akan segera kembali lagi Pa, Ma!" Teriak Alan sambil berlari keluar untuk pergi dari kediaman orangtuanya. Alan benar - benar merasa sangat bahagia karena pada akhirnya Papa dan Mamanya bisa menerima Clara sebagai menantunya.
'Dimana kamu Cla....Papa dan Mama sudah menerima kamu sebagai menantunya! Please Cla....ayo dong kamu muncul dihadapan aku!' Batin Alan sambil mengemudikan mobilnya.
Alan benar - benar mencari keberadaan Clara disetiap penjuru tempat yang biasa didatangani oleh Clara biasanya. Akan tetapi dia tidak berhasil untuk menemukan keberadaan Clara. Alan menarik rambutnya kebelakang sangking frustasinya, "Dimana sih kamu Cla! Kenapa cepat sekali kamu kaburnya?"
"Aku harus mencari keberadaan kamu dimana lagi?" Ujar Alan lalu berjalan dengan lesu menuju mobilnya kembali. Tiba - tiba saja Alan kepikiran untuk menghubungi Alvin.
'Mungkin saja Alvin mengetahui dimana keberadaan Clara? Atau dia bisa membantu aku untuk menemukan keberadaan Clara." Setelah memikirkan hal itu, Alan dengan segera langsung menghubungi Alvin untuk mengajak Alvin bertemu.
Flashback off
"Oke kalau begitu...aku akan menghubungi teman - teman Clara yang biasa bersama dengan Clara...aku yakin kita pasti akan segera bisa menemukan keberadaan Clara secepatnya Lan! Kamu harus optimis ya." Alvin terus saja memberikan semangat kepada Alan.
"Iya Vin! Aku rasa juga begitu...Clara pasti tidak akan bisa kabur jauh - jauh karena aku sudah memeriksa semuanya, dia bahkan tidak keluar kota sama sekali. Itu artinya Clara masih berada dikota ini." Ujar Alan.
"Hmm...bagaimana kalau kita pancing Clara untuk keluar?" Tiba - tiba saja Alvin memikirkan sebuah ide.
"Bagaimana caranya?" Tanya Alan.
Kemudian Alvin membisikkan rencananya kepada Alan sedangkan Alan hanya mengangguk - anggukkan kepalanya saja tanda dirinya mengerti.
"Baiklah Vin...kita lakukan sesuai dengan rencana kamu!" Balas Alan dengan sangat bersemangat.
"Ini pasti akan berhasil Lan! Aku jamin." Balas Alvin sambil tersenyum penuh misteri.
"Oke Lan sepertinya aku harus kembali ke kantor sekarang! Ntar kalau aku udah ada info tentang Clara baru kita menjalankan rencana kita ini ya." Ujar Alvin lalu berdiri dari duduknya.
"Oke Vin, thanks ya Vin!" Balas Alan.
"Iya sama - sama Lan...bukannya kamu juga untuk banyak membantuku dalam membongkar semuanya?" Balas Alvin lalu berjalan pergi meninggalkan Alan.
Alvin kembali lagi memeriksa ponselnya, Akan tetapi Mikha masih juga tidak memiliki kabar sama sekali. "Kamu benar - benar kelewatan ya Mik! Awas aja kamu nanti dirumah!" Ucap Alvin dengan kesalnya.
Alvin tidak ingin memeriksa ponselnya lagi, Alvin merasa seperti seseorang yang sedang dicuekin oleh Istrinya sendiri. Biasanya dia yang bersikap seenaknya seperti itu ke wanita manapun yang dia inginkan, akan tetapi sekarang Alvin sendirilah yang mengalami dan merasakannya.
Alvin memutuskan untuk kembali lagi menuju kantornya. Alvin benar - benar sangat konsisten dengan perkataan tadi. Dia sama sekali tidak memeriksa ponselnya lagi. Ternyata benar kalau Mikha menghubungi Alvin akan tetapi Alvin sudah tidak melihatnya lagi.
‘Emangnya enak aku cuekin balik?’ Ucap Alvin didalam hatinya sambil tersenyum puas.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Mikha saat ini sedang mencoba unntuk menghubungi Sang Suami yang Mikha tau pasti Alvin pasti saat ini sedang kesal kepada dirinya.
‘Kemana saja sih kamu Vin? Maafin aku ya sayang...tapi tiba – tiba saja aku harus menghadiri meeting penting.’ Batin Mikha.
Kemudian karena tidak mendapatkan respon dari Alvin, akhirnya Mikha memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Disaat Mikha sedang sibuk- sibuknya malah telepon kantornya berbunyi. Mikha sgera mengangkat teleponnya.
“Halo...”
“Datang keruangan saya sekarang.”
“Baik Pak.”
‘Sekarang ada apalagi ini?’ Batin Mikha lalu berjalan menuju ke ruangan Bosnya itu.
Sekarang Mikha sudah berdiri tepat didepan ruangan Bosnya. Tanpa menunggu lagi Mikha langsung mengetuk pintu ruangan Bosnya iru.
Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, Mikha langsung bergegas untuk masuk kedalam ruangan Bosnya itu.
“Silahkan duduk!” Pinta Alex sambil menatap Mikha.
“Ada apa ya Pak?” Tanya Mikha.
“Saya minta kamu pelajari berkas ini ya....lalu setelahnya cepat berikan kabar kepada saya.” Ujat Alex sambil memberikan map berisikan berkas.
“Baik Pak...! Apa ada yang lainnya lagi Pak?” Tanya Mikha untuk memastikannya kembali.
“Tidak ada...” Balas Alex.
“Baik kalau begitu saya permisi sekarang ya Pak.” Ujar Mikha lalu beranjak pergi dari ruangan Bosnya itu.
Sekembalinya Mikha keruangannya, Mikha sempat melihat ponselnya sebentar. Tapu karena tidak adanya pesan atau telepon yang masuk, Mikha kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
Mikha memeriksa berkas yang diberikan Alex kepadanya dengam sangat teliti.
Mikha tidak mengetahui kalau dirinya terus saja diperhatikan diam – diam dari CCTV kantor yang ada diruangan Bosnya itu.
Tanpa terasa hari sudah malam, kali ini Mikha masih berada dikantornya. Pesan yang dia dikirimkan kepada Alvin sampai sekarang masih belum mendapatkan balasan juga.
Mikha bangkit dari duduknya sambil merentangkan kedua tangannya lalu setelahnya Mikha membereskan berkasnya dan merapikan mejanya baru setelahnya Mikha beranjak keluar dari ruangannya menuju ke luar kantor.
Mikha kembali memeriksa ponselnya kembali, ternyata masih tidak ada balasan sama sekali dari Suaminya itu. Mikha menghela nafas dengan kasar.
Mikha memutuskan untuk memesan taksi online, baru saja Mikha merencanakan niatnya itu, tiba – tiba saja didepannya sudah ada mobil berhenti.
Kemudian kaca mobil itu terbuka sehingga Mikha bisa melihat siapa sosok yang berada didalam sana.
“Alvin!”
“Masuk...!” Pinta Alvin.
“Gak usah...” Balas Mikha.
“Aku bilang masuk Mikha...” Alvin kembali mengulangi perkataannya lagi.
“Aku gak mau!” Balas Mikha lagi masih berkeras.
Kemudian Alvin turun lalu mengendong Mikha untuk masuk kedalam mobilnya. Tentu saja membuat Mikha terkejut melihat tindakan spontan dari Suaminya itu.
“Alvin...lepasin..! Kamu apaan sih.” Mikha malah memukul – mukuli dada Suaminya itu.
“Kamu bisa diam gak sih...” Balas Alvin sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Mikha.
“Gak! Aku gak mau pulang bareng kamu....”
CUP
Seketika Mikha terdiam.
“Kalau kamu tidak biaa diam aku akan mencium kamu lagi dan lagi.” Ancam Alvin lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju kearah pintu satunya lagi.
Detak jantung Mikha dibuat Alvin menjadi tidak beraturan lagi. Mikha sudah tidak mengatakan apapun lagi. Seperti seseorang yang sangat patuh Mikha hanya diam saja selama didalam perjalanan.
‘Sial....kenapa selalu saja seperti ini.’ Batin Mikha sambil memegangi dadanya.
“Kamu sibuk banget hari ini ya Mik sampai – sampai kamu tidak bisa memberikan kabar lagi kepada aku?” Tanya Alvin untuk membuka percakapan.
“Sorry...tadi pagi tiba – tiba saja kami meeting Vin, aku tidak melakukan secara sengaja kok beneran.” Ucap Mikha dengan suara manjanya.
“Hmm..oke kali ini aku maafin kamu.” Balas Alvin.
“Thanks ya sayang. Berarti kamu udah gak marah lagi kan sama aku?” Balas Mikha dengan wajah cerianya.
“Siapa bilang?” Balas Alvin.
“Jadi kamu masih marah nih? Ayolah Vin...” Rengek Mikha.
‘Gimana aku bisa marah kalau melihat kamu semenggemaskan begini?’ Batin Alvin.
“Itu semua tergantung sikap kamu malam ini.” Ujar Alvin sambil menatap tubuh Sang Istri dengan begitu intensnya.
Mikha mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Suaminya itu. “Ehem...aku tau, aku akan masakin kamu makanan yang enak deh malam ini.” Balas Mikha masih berpura – pura tidak mengerti maksud perkataan Suaminya itu.
“Maksud aku bukan itu sayang...” Protes Alvin.
“Lalu?” Tanya Mikha.
“Berhenti berpura – pura tidak mengerti dong sayang.” Ujar Alvin yang mengetahui kalau Mikha hanya berpura – pura bodoh saja.
Sontak membuat Mikha menatap Alvin denga tatapan tidak percayanya.
“Aku memang tidak mengerti kok...Vin kamu itu ya kalau bicara yang jelas dong.”
Seketika Alvin menepikan mobilnya lalu menatap Mikha lagi. “Hei apa yang kami lakukan?” Balas Mikha.
Alvin mendekatkan wajahnya, Mikha langsung saja mundur sampai ke pojok mobilnya.
“Kamu mau apa?” Ujar Mikha lagi.
“Kamu benar – benar masih tidak mengerti juga sayang...”
“Iya..iya aku ngerti kok! Ya udah kamu lanjut menyetir lagi ya?” Ujar Mikha yang kini sudah sangat gugup.
Alvin tersenyum menyeringai dengan nakalnya. “Kita lanjut perjalanannya lagi ya. Kamu tidak perlu merasa segugup itu sayang.” Goda Alvin.
******
Jangan pada baper yak? Heheh
__ADS_1
tunggu kejutannya di episode selanjutnya ya!
Happy reading guys!