
Pagi ini Mikha sedang membantu Suaminya untuk memasang dasi. "Vin...gimana pencarian kamu sudah ada perkembangan gak?" Tanya Mikha seraya dirinya memasangkan dasi Suaminya.
Alvin mengeleng dengan frustasi, "Masih belum sayang..." Ujar Alvin.
"Sabar ya...aku yakin kok kalau kamu dan Dokter Alan pasti akan menemukan keberadaan Clara." Mikha berusha untuk membuat Alvin semangat.
"Iya sayang...itu pasti!" Balas Alvin.
"Nah sudah selesai nih....tampannya Suami mesumku ini!" Goda Mikha sambil melingkarkan kedua tangannya ditengkuk leher Suaminya.
"Ada angin apa nih ya kamu seperti ini? Ayo jujur kesalahan apa yang telah kamu perbuat?" Tanya Alvin yang melihat sikap manja Mikha tidak seperti biasanya.
"Gak ada angin apa - apa sayang...apa salahnya jika aku bersikap manja kepada Suamiku ini? Kamu tidak menyukainya ya?" Ujar Mikha sambil cemberut.
Ketika Mikha ingin menarik tangannlah lagi, tentu saja Alvin menahannya, "Tentu saja suka sayang! Tapi tumben saja.....biasanya juga kamu akan menghindari aku kalau aku berusaha untuk merayu kamu. Tapi aku suka kamu yang agresif seperti ini." Balas Alvin dengan wajah menggodanya.
"Kamu mau cari mati ya Vin?" Ujar Mikha.
"Tuh kan baru juga dipuji udah begini lagi...ayolah sayang, dipagi yang cerah ini kamu tunjukkan sedikit sisi romantis kamu dong." Balas Alvin.
"Pagi - pagi udah mesum aja nih...ayo berangkat sekarang Vin!" Ujar Mikha sambil mencubit gemas hidung mancung Suaminya itu.
"Biarin...kan mesumnya sama kamu aja!"
"Udah ah ayo turun sayang...." Rengak Mikha sambil menarik Alvin.
"Morning kiss aku mana?" Tanya Alvin.
"Dasar!" Kemudian Mikha mencium pipi Suaminya dengan lama lalu melepaskannya secara perlahan.
Kemudian Mikha tertawa lepas menatap wajah Suaminya yang kini sudah ada bekas lipstik Mikha. Alvin bingung kenapa Mikha menertawakan dirinya.
"Kamu kok ketawa?"
"Pipi kamu ada bekas lisptik aku..."
Dengan segera Alvin menatap dirinya didepan cermin, kemudian Alvin mengambil tissue basah untuk menghapus bekas lipstik dari Sang Istri.
Setelah itu keduanya turun sambil Alvin dengan posesifnya memeluk pinggang Mikha membuat Mikha sulit bergerak. Alvin dan Mikha berjalan menuju keruang makan.
"Pagi..." Sapa Alvin dan Mikha secara serentak.
"Duh pasangan ini kompak banget ya!" Puji Ara.
"Iya dong Kak! Btw, kata Mikha Kakak dan Kak Al ingin membuat acara tujuh bulanan untuk si kembar ya?" Tanya Alvin.
"Iya Vin...luangkan waktu kalian berdua minggu ini ya...Kakak dan Al mengadakan acaranya dirumah saja. Palingan hanya akan mengundang orang - orang terdekat dan anak yatim aja untuk acara ini." Jawab Ara menjelaskan.
"Iya pasti dong Kak!"
"Oh iya setelah acara itu Kakak dan Ara akan memberikan kalian berdua kejutan...!" Balas Al yang diam sedari tadi.
"Sayang...kenapa kamu berikan bocorannya sekarang sih?" Gerutu Ara dengan kesal.
"Iya gapapa sayang...biar mereka berdua makin penasaran." Ujar Al.
"Ih apaan kak? Kenapa main rahasia - rahasia begini sih... buat penasaran aja." Ujar Alvin lalu menatap Mikha yang mengangguk.
"Kalau dibilang sekarang udah gak kejutan lagi dong namanya Vin...kalian berdua sabar aja ya! Tunggu saja sampai waktunya tiba." Balas Ara masih penuh teka teki.
"Ya udah terserah Kak Al dan Kak Ara aja deh! Iya kan sayang?" Ujar Alvin sambil mengelus pipi Mikha.
"Iya..." Jawab Mikha.
"Ehemmm...kita bisa melanjutkan sarapan kita lagi kan?" Balas Al yang kesal melihat kemesraan dua sejoli yang sedang kasmaraan ini.
"Iya tentu bisa Kak..." Jawab Alvin.
Kemudian mereka berempat melanjutkan sarapannya lagi sampai selesai.
******
Rencananya hari ini Alvin ingin mengajak Tia untuk bertemu karena dia ingin membahas tentang Clara dengan Tia. Alvin sudah berada ditempat janjian mereka berdua, Alvin saat ini sedang gelisah menunggu Tia datang atau tidak. Alvin sudah memesan 2 kali minumannya tapi Tia belum muncul - muncul juga sampai sekarang.
'Dimana si kamu Tia?' Batin Alvin dengan semakin gelisah.
Kemudian Alvin memutuskan untuk menghubungi Tia kembali, Tia menjawab panggilan Alvin dengan cepat.
"Kamu dimana?"
"Dibelakang kamu..."
Seketika Alvin menoleh kearah belakang, benar saja dirinya menemukan keberadaan Tia disana.
"Aku kirain kamu gak bakalan datang...."
"Sorry Vin...dijalan macet banget. Tumben banget nih kamu ngajak akau ketemuan? Ada apa?" Ujar Tia lalu duduk dihadapan Alvin.
"Pesan aja dulu..."
"Oke...kebetulan emang aku belum makan juga karena buru - buru langsung kesini."
Alvin memanggil pleayan di restoran itu, Tia langsung saja memesan makanannya sebanyak mungkin seperti seseorang yang sudah lama tidak makan.
Alvin hanya melihat pesanan yang Tia pesan saja sudah langsung merasa kenyang.
"Ada apa nih?" Tanya Tia lagi.
"Kamu baik - baik saja kan?" Tanya Alvin yang memperhatikan penmpilan Tia tidak seperti biasanya. Klai ini Tia cuma mengenakan kaos putih dan celana jins saja tidak seperti biasanya yang selalu kelihatan mencolok.
"Lah kok kamu jadi nanyain aku sih? Kan kamu yang ngajak aku ketemuan? Pasti ini berhubungan dengan Clara kan?" Tebak Tia.
Alvin mengangguk cepat, "Kamu benar - benar tidak mengetahui dimana keberadaan Clara sekarang?" Tanya Alvin.
__ADS_1
"Kalau aku tau hidupku tidak akan menjadi sekacau ini Vin..." Jawab Tia asal keluar lalu segera menutup mulutnya dengan cepat.
"Maksud kamu?" Tanya Alvin semakin penasaran.
"Gak...gapapa kok." Jawab Tia dengan cepat.
"Hmm..begitu ya? Apa Clara memang sudah tidak memiliki keluarga lagi? Aku sudah terus saja melakukan pencarian tapi sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan keberadaan Clara...Kenapa dia harus pergi seperti itu sih?" Ujar Alvin yang merasa frustasi.
"Dia takut kali harus berhadapan secara langsung dengan kamu...karena kan kamu sudah mengetahui kalau dia berbohong selama ini." Ujar Tia sambil menatap makanan yang berangsur - angsur datang.
Sejujurnya Tia sudah merasa sangat lapar akan tetapi Alvin terus menerus menanyakan tentang Clara saja kepadanya membuat Tia menjadi tidak konsentrasi lagi.
"Tapi kan kamu salah satu sepupunya? Apa dia tidak mengatakan apapun?" Tanya Alvin lagi.
"Vin...kita makan dulu ya..." Tia langsung memotong ucapan Alvin.
"Sorry...sorry! Ya udah kamu makan aja..." Ujar Alvin mempersilahkan Tia untuk makan.
"Baiklah..." Kemudian Tia langsung melahap makanannya dengan cepat dan rakus, Alvin yang melihat makan Tia saja langsung merasa ada yang aneh. 'Tia tidak seperti biasanya seperti ini...dulu aku mengenalnya tapi dia tidak seperti ini. Kenapa tiba - tiba dia makannya begini? Pasti ada sesuatu yang terjadi kepadanya.' Batin Alvin.
"Vin..." Panggil Tia dan secara seketika langsung membuyarkan yang ada didalam pikiran Alvin saat ini.
"Hah? Iya? Kamu sudah selesai makannya? Gimana kenyang gak?" Tanya Alvin.
"Kenyang banget Vin. Thanks ya! Tadi kamu bilang apa? Aku lagi gak konsentrasi tadi." Ujar Tia dengan jujur.
"Jadi kamu benar - benar tidak mengetahui dimana keberadaan Clara? Aku sangat ingin bertemu dengannya." Ujar Alvin lagi.
"Aku benar - benar sudah tidak bisa menghubunginya sama sekali. Dia bahkan menghilang tanpa jejak seperti itu." Ujar Tia.
'Tia sepertinya tidak berbohong soal tidak tau keberadaan Clara....' Batin Alvin.
"Kalau begitu terimakasih atas wktunya ya...." Ujar Alvin lalu beranjak dari kursinya.
"Vin...apa kabar Kakak kamu?" Tanya Tia.
Alvin langsung kembali lagi duduk, "Maksudnya?"
"Maksud aku kabar Kakak kamu dengan Istrinya gimana sekarang? Kandungan Ara baik - baik saja kan?" Tanya Tia lagi sontak membuat Alvin merasa curiga.
"Mereka berdua baik - baik saja dan sampai sekarang selalu mesra, romantis dan bahagia. Apalagi ditambah sebentar lagi mereka akan memilih Anak. Kenapa kamu tiba- tiba saja penasaran dengan mereka berdua?" Tanya Alvin dengan penasaran.
"Gak...gapapa aku hanya ingin tau saja. Syukurlah kalau Al dan pasangannya bahagia. Kalau begitu aku pergi sekarang ya..." Ujar Tia lalu beranjak pergi meninggalkan Alvin.
Setelah kepergian Tia, ponsel Alvin berdering dengan sangat nyaringnya. Alvin yang sedang melamun karena sedang mencurigainya sesuatu jadinya tersentak kaget akibat deringan dari ponselnya.
'Alan!' Batin Alvin.
Alvin langsung menjawab panggilan telepon dari Alan, "Vin kamu dimana?"
"Aku lagi di restoran...baru saja aku bertemu dengan Tia!"
"Ada hal penting yang aku kasih tau sama kamu....dimana posisi restorannya? Bisa kamu share lock?"
"Oke!"
Kemudian Alvin langsung segera memberitahukan lokasinya kepada Alan. "Ada hal apa yang ingin Alan katakan kepadaku?" Pikir Alvin.
Ternyata lokasi Alvin tidak terlalu jauh dari lokasi Alan saat ini, Alan dengan cepatnya langsung saja menghampiri Alvin. Alan sedikit berlari - lari sampai didepan Alvin.
"Vin..." Panggilnya dengan nafas yang masih terengah - engah.
"Cepat banget kamu sampainya Lan....duduk dulu. Aku pesanin kamu minum ya." Ujar Alvin lalu segera memanggil pelayan direstoran itu dan memesankan minuman untuk Alan.
"Aku minum air mineral aja!" Ujar Alan.
"Oke..air mineralnya satu ya Mbak." Ucap Alvin.
"Baik..."
"Kamu kenapa sih Lan? Ada hal penting apa sampai membuat kamu terburu - buru seperti tadi?" Tanya Alvin.
"Kamu sudah melihat berita hari ini?" Tanya Alan.
"Berita? Berita apa?" Alvin tidak mengerti dengan apa yang ingin dikatakan oleh Alan.
"Tentang Kakak sepupunya Clara..."
"Maksud kamu....Tia?"
Alan mengangguk cepat, "Dia ternyata punya usaha ilegal...saat ini banyak pihak yang merasa dirugikan karena dirinya. Perusahaan yang didirikannya juga sudah bangkrut. Dan hal yang paling bikin aku syok itu adalah ternyata Tia adalah orang yang mempengaruhi Clara untuk mendekati kamu dengan tujuannya sendiri. Aku tidak menyangka kalau sebegitu tega dan jahatnya dia sama Adik sepupunya sendiri." Ujar Alan menjelaskan panjang lebar.
"Apa? Pantesan!" Ujar Alvin.
"Kenapa? Kamu tau sesuatu?" Tanya Alan dengan sangat penasaran.
"Kemarin aku datang ketempat kerja Clara yang lama...aku menjumpai mantan Bosnya Clara...dia bilang dirinya juga ditipu oleh Tia dan saat ini dia sedang ingin menemukan dimana keberadaan Tia, kalau aku bisa memberitahukan dan membawa Tia kepadanya dia berjanji akan memberitahukan semua informasi dan data pribadi milik Clara yang dia ketahui." Alvin menjelaskan panjang lebar.
"Shit! Kenapa tadi kamu tidak menahannya langsung atau bahkan memberitahukan Anak buah mantan Bosnya Clara saja?" Emosi Alan saat ini sudah meluap - luap.
"Karena aku gak percaya kalau dia seperti itu...tadi itu aku hanya ingin mencari tau kebenaran saja makanya aku mengajak Tia bertemu. kamu tenang saja aku akan menghubungi Tia lagi. Mungkin saja dia akan menjawab panggilan teleponku." Alvin berusaha untuk menenangkan Alan.
"Gimana aku bisa tenang sekarang Vin?" Ujar Alan lagi.
"Iya aku tau..."
Panggilan telepon Tia sudah tidak bisa dihubungi lagi.
"Gimana Vin?"
"Sabar ya...aku coba lagi." Alvin kembali menghubungi Tia lagi. Akan tetapi nomor Tia sama sekali tidak aktif lagi.
"Sepertinya dia berusaha kabur dari semua ini....nomornya benar - benar sudah tidak bisa dihubungi lagi." Ucap Alvin akhirnya percaya dengan apa yang Alan katakan dan dengan penjelasan mantan Bosnya Clara itu.
__ADS_1
"Sialan! Kita harus mencarinya...pasti dia masih belum jauh dari sini. Aku ingin bertanya langsung tentang apa yang telah terjadi selama ini." Ketus Alan lalu beranjak dari duduknya.
"Oke...ayo Lan! Sebaiknya kita berpencar saja ya!" Kemudian Alvin memanggil pelayan restoran itu untuk membayar tagihannya. Lalu setelahnya dia pergi dari restoran dengan sangat buru - buru.
"Aku tidak tau kalau kamu sejahat ini Tia? Apa tujuan kamu sebenarnya melakukan semua ini?" Pikir Alvin selama didalam pencariannya mencari Tia.
Alvin sudah melakuakn pencarian sampai dengan malam hari akan tetapi dirinya masih belum menemukan keberadaan dari Tia juga. Alvin menghubungi Alan untuk melanjutkan pencarian Tia besok lagi karena saat ini Alvin sudah sangat lelah.
Panggilan teleponnya sudah terhubung, "Halo Vin..."
"Lan...bisa kita lanjutkan pencarian Tia besok lagi? Hari ini aku benar - benar sudah sangat lelah. Dan kamu juga harus pulang kan untuk melihat Mamamu?"
"Iya Vin sepertinya kamu benar...Tia benar - benar tidak bisa ketemu hari ini percuma saja kalau kita paksakan hari ini."
"Iya udah kalau begitu kita lanjutkan pencariannya besok lagi ya!"
"Iya Vin...thanks ya kamu sudah mau repot - repot membantu aku sampai seperti ini."
"Tidak masalah Lan! Kamu juga telah melakukan hal yang sama bahkan jauh lebih berharga lagi, Ini semua tidak sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan untuk membantuku."
"Kamu terlalu berlebihan Vin...ya udah Byeee.."
Setelah itu keduanya memutuskan untuk kembali kerumah mereka masing - masing.
Alvin begitu sampai dirumah, dia langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya. Mikha yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri Suaminya. "Sayang kamu lelah banget ya? Mau aku pijitin gak?" Ujar Mikha yang merasa sangat kasihan melihat Alvin.
"Boleh kalau kamu tidak keberatan sayang..." Ujar Alvin.
Mikha mulai memijitin Alvin dari belakang punggung Alvin sampai ke kaki, Mikha benar - benar melakukannya dengan sungguh - sungguh sampai membuat Alvin tertidur. Melihat Suaminya sudah tertidur seperti anak kecil, Mikha langsung menggeser dan membenarkan posisi Alvin.
Mikha menarik selimut untuk menyelimuti Suaminya, "Kasihan banget kamu sayang....good nitee!" Ucap Mikha lalu naik keatas kasur mereka juga dan membaringkan tubuhnya tepat disebelah Suaminya.
******
Pagi harinya...
Alvin yang tersentak langsung terbangun karena mendengarkan ponselnya berdering langsung saja menjawab panggilan teleponnya itu tanpa melihat nama yang sedang menghubunginya.
"Halo." Ucap Alvin masih dengan suara beratnya.
"Thanks berkat kamu kami berhasil membawa Tia pergi." Sontak membuat Alvin bangkit dari tidurnya lalu segera melihat nama dari si penelepon.
'Ini kan...'
"Kamu membutuhkan informasi keberadaan Clara bukan? Aku akan mengirimkan alamat lengkapnya sekarang. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya."
"Halo..."
Panggilannya sudah terputus begitu saja.
"Ada apa sayang?" Tanya Mikha yang baru saja terbangun karena mendengarkan suara Alvin yang sangat berisik.
"Aku harus pergi sekarang sayang! Nanti akan aku jelaskan setelah kita bertemu. Maaf hari ini aku tidak bisa mengantar kamu pergi bekerja ya..." Ujar Alvin lalu mencium kening Mikha sekilas lalu segera bersiap - siap.
'Apa yang sedang terjadi sih? Kenapa begitu mendapatkan telepon tadi Alvin langsung buru - buru pergi?' Pikir Mikha yang masih belum mengerti apa yang sedang terjadi kepada Suaminya.
Kini Alvin sudah berada didalam perjalanan, dia sudah menghubungi Alan untuk segera pergi ke alamat yang dia kirimkan sedangkan Alvin menuju ke bar tempat lama Clara bekerja.
Alan tidak tau Alvin tau darimana tentang keberadaannya Clara pada saat ini, akan tetapi dia sangat berterimakasih kepada Alvin. Alan benar - benar sangat ini sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tinggal Clara yang baru. Tidak lupa Alan mampir ke toko bunga untuk membawakan Clara bunga mawar putih segar kesukaan Clara.
Alan sudah tidak sabar lagi untuk bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya yang merupakan ibu dari Anaknya kelak. Alan sudah menghentikan mobilnya tepat didepan rumah yang sederhana dengan pekarangan yang cukup luas untuk ditanamin tanaman.
Alan masuk kedalam, Alan mengetuk pintu rumah itu dengan tidak sabaran. Kebetulan pagi ini Clara sedang sendirian dirumah karena Wina sedang pergi keluar kota karena urusan kantornya. Dengan sangat terpaksa Clara bangkit lalu berjalan untuk membukakan pintu.
'Siapa sih? Apa Wina sudah kembali? Bukannya dia bilang lusa?' Pikir Clara.
"Iya iya sebentar..." Ucap Clara.
Clara membukakan pintu dan betapa kagetnya Clara mendapati bahwa Alan berada diluar.
"Alan! Bagaimana kamu tau aku ada disini?" Ucap Calra dengan sangat syok.
Clara berusaha untuk menutup pintunya kembali, tapi dia telat karena Alan sudah masuk dan memegangi Clara.
"Aku kangen sama kamu Cla..." Alan langsung memeluk tubuh Clara dengan sangat erat sampai membuat Clara hanya berdiri mematung saja tanpa mengeluarkan reaksi apapun.
Dia juga sangat merindukan Alan akan tetapi dia terus saja membohongi dirinya sendiri. Dia tidak ingin terluka lagi bila dia masih bersama dengan Alan. Clara sudah tidak menginginkan hal itu, hal yang paling penting untuk Clara saat ini adalah Anaknya.
Clara terhanyut beberapa saat didalam pelukan Alan. 'Aku juga kangen banget sama kamu Lan!' Batin Clara.
Kemudian Clara mulai tersadar kembali, dirinya langsung melepaskan pelukan dari Alan dengan paksa, "Mau apa kamu kesini?" Ucap Clara dengan ketus.
"Kenapa kamu kabur dari ku Cla? Kenapa? Kamu tau betapa frustasinya aku mencari keberadaan kamu?" Ujar Alan sambil memegangi bahu Clara.
Clara menepisnya dengan kasar, "Kenapa aku harus memberitahukan kamu kalau aku ingin pergi? Bukannya kita juga sudah tidak memiliki sebuah hubungan lagi?" Ujar Clara ketus.
"Hubungan? Kita masih dan akan selalu mempunyai hubungan Cla....aku adalah Papa dari Anak yang kamu kandung!" Ucap Alan dengan penuh penekanan.
Clara berusaha untuk menahan airmatanya agar tidak terjatuh, Clara membalikkan badannya agar tidak dilihat oleh Alan.
"Aku tidak butuh kamu! Ini Anakku dan aku akan membesarkannya seorang diri." Ucap Clara.
BUKK!
Alan langsung memeluk Clara dari belakang. "Itu Anak kita...kita akan merawatnya bersama - sama Cla!"
*******
**Bagaimana kisah mereka selanjutnya? **
Akhirnya pencarian dan perjuangan Alan tidak sia - sia ya? Heheh
Happy reading guys!
__ADS_1