
Bian dan Kiana hanya mampu memperhatikan interaksi yang dilakukan oleh kedua orang tuanya bersama putra kecil mereka yang terlihat begitu sangat menyenangkan. Perasan haru kembali menyeruak di dalam hati mereka kala betapa bahagianya melihat kedua orang tuanya itu sangat menyayangi Al. Bahkan Bian sendiri sempat mendengus kesal dengan kelakuan ayah dan ibunya itu.
"Apa mereka tidak bosan? Lihatlah sayang, sejak tadi mereka tak memberikan sedikitpun kesempatan untuk kita memegang Al. Mereka bahkan sangat mendominasi Al seharian ini." ujar Bian menatap tak percaya pada kedua orang tuanya.
Bian berdecak dengan wajah masamnya. "Padahal Mas sangat rindu sekali dengan Al, tapi apa boleh buat seharian ini Mas nggak ada pegang Al sama sekali." ucapnya meluapkan kekesalannya.
"Mungkin Mama dan Papa Mas sangat rindu pada Al," balas Kiana sembari tetap memperhatikan aktivitas di depannya itu.
"Iya, tapi nggak begini juga. Apa kamu nggak lihat Al yang sempat menangis mungkin merasa bosan karena terlalu lama bersama mereka? Apa lebih baik Mas ambil saja Al sekarang juga?" selorohnya membuat Kiana menoleh pada suaminya itu.
"Aku pikir nggak perlu Mas, biarkan saja Al bersama Oma dan Opanya dulu. Lagi pula Al sempat menangis tapi Mama bisa langsung mengatasinya."
"Tapi kasihan Al yang butuh kamu juga, Ki." protesnya tak terima.
"Aku nggak apa-apa. Al juga baik-baik saja kok. Melihat Mama dan Papa senang karena Al, itu juga membuat aku tenang." jawab Kiana menengahi.
Bian menghela napasnya dalam-dalam. Dan pada akhirnya untuk hari ini dia harus rela mengalah dari kedua orang tuanya. Padahal dia sendiri ingin sekali memeluk dan menciumi putranya itu. Hah! Bian benar-benar rindu mendekap putranya.
"Sepertinya Al akan menjadi pusat perhatian baru bagi orang-orang rumah. Bahkan dengan raganya yang mungil dan menggemaskannya itu, dia mampu berhasil mengambil hati Mama dan Papa dalam sekejap mata. Sama sepertinya halnya dengan Mas yang saat pertama kali melihat Al, Mas langsung merasa jatuh cinta dan memiliki keterikatan yang tidak bisa dijelaskan oleh Mas sendiri padanya." ungkap Bian saat mengingat masa-masa untuk pertama kalinya bertemu dengan putranya yang lama ia cari keberadaanya.
"Karena Mas adalah ayahnya," ujar Kiana hampir seperti menggumam, namun tak luput kalimat itu masih terdengar oleh Bian.
"Kamu benar sayang, ikatan seorang anak pada ayahnya sangatlah kuat. Dan itu yang Mas rasakan saat untuk pertama kalinya bertemu dengan Al tanpa Mas duga-duga setelah lamanya Mas mencari keberadaan kalian. Dan mungkin itu juga yang dirasakan oleh Mama dan Papa, mereka merasakan ikatan batin yang sangat kuat pada cucunya sampai memiliki kedekatan seperti saat ini. Mas menjadi sanksi, apa benar selama ini Mas itu adalah anaknya mereka? Melihat mereka yang begitu menyayangi Al setulus hati melebihi pada Mas sebagai anaknya. Seolah-seolah saat ini Al yang seperti menjadi anak mereka, bukannya Mas." ucapnya dengan wajah yang menekuk karena semakin kesal pada kedua orang tuanya.
"Mas cemburu?" tanya Kiana tetiba.
"Cemburu? Pada siapa?" tanya Bian balik pada istrinya itu.
"Albio,"
Bian terkekeh mendengar kalimat Kiana yang membuatnya tak tahan menahan tawa seraya mencubit pelan kedua pipi istrinya yang sangat menggemaskan baginya.
"Yang benar saja, kenapa pula Mas harus cemburu pada Al, hem? Kamu itu gemesin banget sih sayang..." ucapnya tanpa melepas jemarinya pada kedua pipi Kiana.
Oh Ya Tuhan... Kenapa istrinya yang polos dan cantik ini begitu sangat menggemaskan sekali? Ingin rasanya Bian mengurung dirinya bersama Kiana seharian untuk memakan habis gadis yang telah menjadi pendamping hidupnya itu. Bian sungguh tak tahan hanya dengan melihat wajah Kiana yang cantik alami membuatnya kembali merasakan aliran darahnya yang semakin berdesir hebat dengan degupan di dadanya yang terus bertalu-talu.
"Ya aku kira kalau Mas--"
"Albio anaknya Mas, anak kita sayang. Nggak ada alasan buat Mas cemburu sama anak sendiri. Malah yang ada Mas merasa sangat bersyukur akhirnya Al mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang menyayanginya, terutama dari Mama dan Papa. Kita sudah melewati masa-masa sulit yang sangat begitu menguras banyak air mata. Dan sekarang ini adalah saatnya kita untuk membuka lembaran baru dalam hidup kita untuk menuju gerbang kebahagiaan untuk selamanya. Mas, kamu, Al, serta anak-anak kita lainnya nanti." ungkap Bian seraya menggenggam tangan Kiana dengan perasaan penuh cinta setulus hati. Bian kembali memperhatikan aktivitas yang masih berlangsung diantara kedua orang tuanya bersama Al.
Kiana menoleh pada Bian hingga secara tak sadar ia terus menatap lekat untuk memperhatikan wajah tampan pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Diperhatikannya setiap garis bibir merah menggoda suaminya yang terus bergerak-gerak terbuka untuk berbicara.
Benar apa yang dikatakan oleh suaminya, saat ini adalah saatnya mereka untuk merasakan arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Setelah perjuangan yang dilalui oleh mereka dengan kesedihan yang menyiksa hati dan juga perasaan, membuat Kiana sadar jika apa yang dia butuhkan saat ini adalah sosok keluarga yang mampu merangkul dan menyayanginya dengan menerima dirinya apa adanya. Dia sangat beruntung memiliki sosok suami yang hebat dan tampan seperti Bian yang tak pernah berani ia idam-idamkan sebelumnya. Terlebih sosok keluarga yang baik hati seperti Bu Ajeng dan Pak Hardi yang baik hati dan begitu bijaksana.
__ADS_1
Merasa diperhatikan, Bian menoleh pada istrinya yang berada tepat disampingnya hingga tatapan mata mereka saling beradu dan mengunci satu sama lain. Bian pun tersenyum saat mendapati Kiana yang masih tak menyadari jika ia balik memperhatikannya.
"Suka?" ucap Bian sembari menatap wajah cantik istrinya yang polos. "Apa sebegitu menyenangkannya memperhatikan wajah Mas mu ini, hem?" godanya yang mana tak luput membuat Kiana tersadar juga dari lamunannya.
"Sayangku ini sepertinya sangat menyukai memperhatikan Masnya secara diam-diam," ucapnya lagi seraya mencolek hidung Kiana sampai gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali hingga tersadar dari lamunannya.
"Mas," pekik Kiana yang terkejut dengan gerakan tangan Bian pada hidungnya.
"Udah?"
"A-apa?" tanya balik Kiana.
"Liatin Mas, udah? Suka?" godanya lagi dengan senyuman yang tertahan.
"M-maksud Mas apa?" Kiana dibuat kikuk oleh suaminya sendiri. Pasalnya ia sangat malu karena ketahuan diam-diam memperhatikan wajah tampan suaminya tanpa berkedip sekalipun.
"Apa wajah Mas mu ini sudah berhasil membuat perasaan yang ada di sana berdebar-debar lagi, hem?"
"A-aku nggak liatin Mas kok, itu mungkin cuma perasaan Mas aja. Mas terlalu percaya diri sekali," elaknya seraya memalingkan wajah yang tersipu malu sampai ia merasa salah tingkah dibuatnya.
"Benarkah? Padahal Mas sudah senang sekali lho saat tahu kamu terus perhatiin Mas kayak tadi. Tapi ternyata..." ucap sendu Bian dengan wajah sedih yang dibuat-buatnya. "Mas tahu kalau sampai saat ini kamu belum sayang sama Mas, dan Mas merasa kamu pasti masih merasa dendam kan sama semua yang udah Mas lakuin sama kamu? Mas nggak apa-apa kok, karena yang terpenting kamu dan Al saat ini selalu ada di samping Mas aja udah seneng." lanjutnya lagi.
"Bukan begitu Mas, aku--"
"Mas ngerti kok, kalau Mas mu ini masih banyak sekali kekurangan. Mas sadar kalau Mas bukanlah seorang suami dan laki-laki yang sempurna seperti idamanmu."
Seketika mata Kiana membulat penuh kala merasakan pipinya yang menghangat dan basah karena Bian yang tiba-tiba menciumnya.
"Mas!" pekiknya dengan suara yang cukup keras.
Bian terkekeh tak dapat menahan tawanya saat melihat wajah khawatir Kiana yang terlihat begitu sangat menggemaskan.
"Kamu beneran gemesin banget tahu gak sayang," ucapnya sembari memainkan kedua pipi milik istrinya. "Mas jadi nggak tahan pengen kurung kamu seharian di kamar." selorohnya tak kira-kira berkata seperti itu di dekat kedua orang tuanya. Dan lagi Bian secara tiba-tiba mendaratkan satu kecupan di bibir ranum milik istrinya yang kenyal dan hangat begitu sangat menggoda imannya. Lumayan, sekali mendayung bisa mencicil asupan nutrisinya.
"Mas!"
"Apa sayang? Mau lagi, hem? Iya mau Mas kiss lagi yang banyak?" goda Bian tak tanggung-tanggung.
Kiana menggelengkan kepalanya seraya menutup mulutnya agar tak menjadi sasaran dari keusilan suaminya.
"Ada Mama Papa, malu nanti mereka lihat."
"Memangnya kenapa? Kita udah halal ini buat ngapain juga, sayang. Apalagi harus sampai ngerasa malu karena mereka nggak akan liat dan denger kita," ujar Bian dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Kata siapa kami nggak akan bisa lihat dan dengar, hah?!" suara Bu Ajeng menginterupsi.
"Mama?" sontak membuat Bian membulatkan matanya saat mendapati ibunya yang tiba-tiba ada di dekatnya.
"Kamu nakal banget ya Bi, awas aja kalau kamu macem-macemin Kiana!"
"Apaan sih Ma, Kiana kan istrinya Bian. Jadi Bian bebas dong mau ngelakuin apapun sama Kiana."
"Tapi nggak di sini juga Bi, kamu nggak lihat apa di sini masih ada Mama Papa? Kamu nggak malu apa sama Al, sama matahari, terus sama benda-benda yang ada di sini?"
Bian mendengus kasar. Apa hubungannya? Pasrah saja lah kalau semua sudah berhubungan dengan Mamanya dia akan kalah.
"Nih, Mama kasih Al kamu biar bisa ngurusin anak bukan bisanya cuma modusin Kiana aja. Biar kamu merasa bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu untuk mengurus anak-anaknya."
"Dari tadi juga Al kan Mama yang pegang terus," gumamnya pelan lebih menggerutu. Tak ayal juga ia menerima sodoran putra kecilnya itu yang terlihat lelah karena habis bermain dengan Oma dan Opanya.
"Mama mau pulang dulu. Ingat ya Bi, pokoknya Mama nggak mau tahu kalau kalian harus tinggal di rumah titik."
"Iya-iya, Bian denger kok," ucapnya dengan bibir yang mencebik.
"Albio cucu Oma yang paling ganteng, Oma Opa pulang dulu ya. Al baik-baik di sini, jaga ayahmu agar tidak menggangu ibumu terus. Oma akan menunggu kepulangan kamu ke rumah kita." ucapnya sebelum pergi seraya menciumi kembali wajah cucunya itu.
Bian berdecak pelan, baru saja ia akan penjajakan memulai hubungan yang baik bersama istrinya, kini ibunya malah menjadi tembok penghalang tak kasat mata bagi dirinya. Sebenarnya apa sih yang direncanakan oleh ibunya itu? Bahaya kalau begini terus.
"Kamu banyak-banyak sabar ya Bi, perjuanganmu baru saja dimulai. Di depan sana akan banyak sekali halang rintang yang harus kalian lalui bersama. Papa hanya bisa berdoa dan memberi nasihat serta semangat untuk kamu." ucap Pak Hardi pada Bian.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Bian menatap Al yang berada dalam pangkuannya yang terlihat terus menguap sejak tadi tanda putra kecilnya itu memang tengah kelelahan.
"Al sepertinya mengantuk, sayang."
"Iya Mas, kalau begitu aku siapkan susu dulu buat Al sebentar." ucap Kiana yang hendak berlalu menuju tempat penyimpanan kebutuhan Al.
"Sayang!" panggil Bian membuat Kiana terhenti dari langkahnya. Kiana pun menoleh pada Bian dengan raut wajah seolah tengah bertanya 'ada apa, Mas?'
"Sepertinya Mas juga membutuhkan asupan nutrisi yang sama seperti Albio," ujarnya dengan cengiran khasnya.
Kiana mengerungkan dahinya sesaat, "Mas mau susu juga?" tanya Kiana memastikan apa mau suaminya itu.
Bian mengangguk dengan cepat seraya ia beranjak untuk menghampiri Kiana. "Mau-mau! Mas mau banget sayang," ucapnya dengan mata yang berbinar.
"Ya udah, nanti aku siapin dulu ya biar Mas gampang minumnya. Soalnya kalau di
sini ribet Mas, "
__ADS_1
"Iya sayang Mas tunggu susu nikmat hangatnya!" serunya dengan senyum yang mengembang. "Asik... minum susu lagi!" cekikiknya. "Maaf ya Nak, kali ini bapak pinjem dulu susu punyanya Al. Sebagai sesama pria pemilik wanita yang kita cintai, kita harus rela berbagi." ucapnya pada sang putra yang tengah tersenyum kecil padanya.
*****