
"Semenjak kamu terus saja mengingat tentang tubuhku ini." Alvin mengambil majalah yang dibaca oleh Mikha lalu memegang erat kursi hingga dirinya sekarang berhadapan dengan Mikha.
"Aku tadi hanya...hanya..." Mikha mulai salah tingkah karena Alvin terus saja mengawasi pergerakannya. Rasanya Mikha seolah tercekik saat ini karena Alvin tidak membiarkannya kabur walaupun hanya sesaat saja.
"Ssttt..." Alvin dengan sengaja menutup mulut Mikha dengan tangannya.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun juga sayang....aku tau kok apa yang ingin kamu katakan." Ujar Alvin.
Mikha hanya menelan salivanya sambil terus menatap wajah tampan Alvin.
"Yang ingin aku tanya kenapa kamu kabur dari kamar?" Ujar Alvin sembari membelai wajah Mikha dan menatapnya terus secara intens sampai Mikha tidak bisa berkutik lagi.
"Hmm...itu karena...aku ingin menghirup udara segar disini Vin." Ujar Mikha dengan gugup dan mencari alasan karena menutupi perasaan malunya.
"Jadi kamu sudah menemukannya disini?" Tanya Alvin lagi.
"Udah kok....kamu bisa minggir tidak dari hadapan aku Vin? Jujur kamu sangat menganggu pemandangan aku pada saat ini." Ujar Mikha lagi.
"Oh iya? Bukannya kamu malah menyukainya?" Ujar Alvin.
Mikha hanya terdiam saja tanpa mengatakan apapun, lagi lagi Mikha kembali untuk menelan salivanya.
"Sayang kenapa kamu sangat gugup saat ini?" Goda Alvin lagi.
"Si-siapa yang gugup sih Vin. Udah ah aku mau masuk, terserah kamu kalau kamu masih ingin berada disini ya." Mikha bangkit dari duduknya lalu dengan cepat pergi meninggalkan Alvin.
Sedangkan Alvin yang menatap kepergian Mikha saja sambil tersenyum penuh maksud tersembunyi. 'Kamu benar benar menggemaskan sekali Mikha...membuat aku ingin terus menggoda kamu!' Batin Alvin.
Alvin mengejar Mikha, Mikha memutuskan untuk turun kebawah karena tidak ingin terlihat begitu salah tingkah dihadapan Alvin pada saat ini. Di ruang santai Mikha melihat Al dan Ara sedang bersiap - siap seperti ingin pergi. Mikha memutuskan untuk menghampiri keduanya.
"Kak Al dan Kak Ara mau kemana?" Tanya MIkha.
"Mau dinner Mik...sorry ya karena gak ngajak bareng kamu sama Alvin, Al ingin Kakak memiliki waktu sendiri. Lain waktu kita dinner bareng ya." Jawab Ara sembari tersenyum.
"Sayang...tolong bantu aku dong." Pinta Al dengan manja.
Alvin yang baru turun juga ikutan menanyakan hal yang sama dengan Mikha barusan, "Lho Kak Al dan Kak Ara mau pergi kemana? Tumben udah rapi banget nih?" Tanya Alvin sambil menggerlitkan alisnya.
"Mau pergi Vin...gunakan waktu ini berduaan dengan Mikha ya...." Ujar Al dengan jail.
Mikha merasa sangat malu dihadapan kedua Kakaknya itu, Mikha hanya menunduk sambil sesekali merapikan rambutnya.
"Wah Mik kita bisa berduaan nih..." Alvin memeluk pinggang Mikha.
Mikha hanya menatap tajam kearah Alvin sambil memukulnya, "Gak usah malu gitu ah." Ujar Alvin yang bisa menebak ekspresi Mikha barusan.
Al dan Ara saling melemparkan senyuman melihat tingkah lucu Alvin dan Mikha.
"Ya udah kalau begitu Kakak pergi dulu ya...." Pamit Al dan Ara.
"Iya Kak...selamat bersenang - senang ya!" Ujar Alvin dengan sangat bersemangat sambil melambai - lambaikan tangannya.
Setelah kepergian Kakaknya itu, Alvin menatap Mikha. "Kamu dengar kan sayang apa yang dibilang sama Kak Al tadi? Ini waktunya untuk ktia berdua untuk kembali berduaan tanpa ada yang menganggu." Bisik Alvin.
Mikha lagi lagi memukul tangan Alvin, "Dasar mesum! Itu sih emang kemauan kamu."
"Oh iya apa kamu yakin ini hanya kemauan aku aja?" Ujar Alvin sambil menatap nakal Mikha.
"Jauh - jauh deh kamu Vin, aku laper mau makan." Ujar Mikha lalu mendorong tubuh Alvin dan berjalan pergi meninggalkan Alvin lagi.
"Sayang....kenapa kamu pemalu banget sih?" Teriak Alvin lalu menyusul Mikha.
******
Didalam perjalanan Al dan Ara senyum - senyum sendiri mengingat tentang Alvin dan Mikha yang menurut keduanya bersikap seperti orang yang sedang kasmaran.
"Sayang..aku senang sekali melihat Alvin dan Mikha sudah benar - benar menyadari perasaan mereka masing - masing." Ucap Ara.
"Iya sayang...aku juga! Aku tidak menyangka bila pada akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta seperti itu. Sama seperti kita dulu ya." Ucap Al sambil mengecup jemari Ara.
Ara hanya tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu, perlakuan romantis dari Suaminya yang sudah sangat lama dirindukannya. Bukannya Al berubah, hanya saja dirinya memang benar- benar sangat sibuk belakangan ini untuk berduaan dengan Ara saja Al harus benar - benar membagi waktunya dengan baik.
"Kamu ingin membawa aku kemana sih sayang? Kenapa kita berdua menggunakan pakaian formal seperti ini?" Ujar Ara yang sedari tadi sangat penasaran tentang tujuan mereka.
"Itu rahasia sayang...." Ucap Al yang sama sekali tidak ingin mengatakannya kepada Ara.
"Ya udah deh aku ikutin kamu aja...."
"Nah gitu dong nurut sayang..." Ujar Al sembari membelai kepala Ara.
Ara hanya tersenyum sangat manis saja kepada Al. Lalu Ara hanya diam saja sambil menikmati perjalananya dengan Al, Ara menatap jalanan lalu dirinya seakan teringat sesuatu tentang sosok seorang wanita yang tiba - tiba saja datang menghampirinya pagi ini.
'Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia mengaku - ngaku kalau dia sedang mengandung Anaknya Alvin? Apa benar Alvin telah mengkhianati Mikha? Aku harus berbicara kepada Alvin tentang hal ini, aku tidak ingin kebahagiaan Mikha hancur karena mengetahui hal yang belum tau kebenarannya ini. Apalagi kalau Al sampai tau hal ini, Al pasti akan sangat marah besar kepada Alvin. Aku tidak akan membiarkan Al mengetahuinya. Ada apa ini sebenarnya?' Batin Ara yang terus saja berpikir sangat keras.
"Sayang..." Panggil Al.
"Hei sayang...kamu sedang mikirin apa? Aku panggilin dari tadi kok kamu tidak mendengarkannya sih?" Tanya Al sambil menguncangkan tubuh Ara hingga membuat Ara menyadarinya.
"Hah? Sorry sayang...kamu bilang apa?" Ucap Ara yang baru tersadar kembali dari lamunannya.
"Kamu lagi mikirin apa? Tidak seperti biasanya lho kamu bersikap seperti ini?" Tanya Al lagi yang mulai curiga dengan tingkah Ara yang menurutnya sangat aneh.
"Aku gak lagi mikirin apa - apa kok sayang....Aku hanya merasa sangat lapar aja sekarang...apa kita masih lama lagi nyampe ditempat tujuannya sayang?" Ujar Ara dengan merengek manja dengan suaminya itu.
"Oh seperti itu, aku kira kamu lagi memikirkan hal yang sangat berat. Ingat ya aku gak mau kamu stres karena itu sangat berpeengaruh untuk pertumbuhan Anak kita sayang." Ucap Al sambil mengelus perus Ara yang sudah mulai kelihatan.
"Iya sayang...aku tidak akan stres kok! Kamu kok tidak menjawab pertanyaan aku sih, aku kan nanya sama kamu, masih lama lagi kita sampai?"
"Hmm...sebentar lagi kok sayang...kamu sabar ya."
"Aku sih sabar sayang...tapi sepertinya Anak kita deh yang sudah merasa lapar jam segini." Ujar Ara sambil membelai perutnya dengan kasih sayang.
"Sabar ya sayangnya Papa! Sebentar lagi kita sampai kok sayang...." Al juga mengelus perut Ara.
"Iya Papa..." Jawab Ara lalu keduanya kembali tersenyum.
"Sayang aku semakin tidak sabar lho untuk melihat Anak kita...hmmm...kira - kira nanti Anak kita akan mirip siapa ya? Kamu apa aku?" Ujar Al dengan sangat bersemangat.
"Aku juga sayang....harusnya sih mirip aku aja deh kalau mirip kamu ntar serius terus hidupnya." Sindir Ara.
"Oh kamu lagi menyindir aku nih?"
"Hmm...emangnya aku ada bilang seperti itu? Kamunya aja kali yang merasa sayang." Ujar Ara.
"Uh dasar! MIrip kamu juga gapapa, kalau anak kita cewek pasti akan cantik seperti kamu, kalau cowok pasti akan tampan seperti Papanya."
__ADS_1
"Oh iya? Kata siapa kamu tampan? Kepede'an banget sih?"
"Kata aku sendiri deh, iya deh gak ada yang muji kalau aku tampan."
"Aku hanya bercanda kok sayang...aduh kamu kok langsung baperan ya?" Ujar Ara sambil tertawa lepas.
"Bahagia banget sayang ketawanya..."
"Iya emang...aku bahagia karena akhirnya kamu mempunyai waktu untuk kita berdua. Udah sangat lama sekali kita tidak keluar bareng seperti ini sayang." Ujar Ara.
"Iya sayang terakhir kali pas waktu bulan madu Alvin dan Mikha ya kan? Sorry ya sayang akunya sibuk terus."
"Aku ngerti kok sayang..."
"Dan akhirnya kita sampai juga sayang...aku tutup mata kamu dengan menggunakan penutup mata ini ya sayang." Ujar Al sambil mengambil penutup mata yang telah dipersiapkannya.
"Kenapa pake acara ditutup segala sih mata aku?" Tanya Ara.
"Karena ini kejutan sayang...please..." Mohon Al kepada Ara.
"Hmmm...baiklah."
Al langsung saja memasangkan penutup mata untuk Ara, "Tunggu sebentar...ini berapa?"
"Mana aku tau sayang..."
"Tebak saja sayang..."
"Hmmm...2 mungkin?"
"Oke oke sepertinya kamu benar - benar sudah tidak bisa melihat apapun juga.
"Tunggu ya sayang..." Al membuka pintu mobilnya lalu berlari kearah Ara untuk membukakan pintu mobilnya dan menuntun Ara untuk keluar dari dalam mobil.
"Aduh sayang kenapa harus pake acara ditutup - tutup seperti ini sih mata aku?"
"Karena ini kejutan sayang..." Al terus saja membantu memegangi Ara untuk berjalan hingga keduanya telah memasuki tempat yang telah dipersiapkan oleh Al untuk diberikan kepada Ara.
"Apa masih jauh lagi sayang? Kaki aku rasanya udah pegal." Rengek Ara dengan manja.
"Sebentar lagi sampai kok sayang, kamu sabar ya." Dengan sabar Al terus saja membantu Ara untuk ketempat tujuan.
"Nah sudah sampai...hitungan ketiga kamu buka mata kamu ya sayang."
"Satu...dua...ti...tiga...! Buka mata kamu sayang."
"Ini apa sayang? Kita dimana sih ini sebenarnya?" Ara masih belum bisa menebak Al membawanya kemana dan apa tujuannya membawanya kesini.
"Ini perusahaan untuk kamu...selama ini aku sibuk untuk mempersiapkan ini untuk kamu sayang! Maaf ya karena kamu merasa aku telah berubah, aku tidak pernah berubah sama sekali Ra! Aku ingin kamu mengejar impian kamu juga ya walaupun ini bukan untuk sekarang juga." Ujar Al panjang lebar.
"Kamu pasti lagi bercanda kan sayang?" Tanya Ara lagi masih dengan tidak percaya.
Al mengeleng dengan cepat, "Aku serius sayang! Ini untuk kamu... Aku ingin kedepannya perusahaan kamu semaju dengan perusahaan aku juga! Aku ingin kamu menjadi pesain untuk aku." Ujar Al lagi.
Airmata Ara mengalir dengan derasnya, "Aku sangat bahagia sayang...aku kira aku tidak akan pernah lagi melanjutkan cita citaku...kamu benar - benar membuat aku bisa mencapainya sayang. Terimakasih sayang." Ujar Ara lalu memeluk Al dengan sangat erat.
"Sama - sama sayang, aku hanya ingin kamu bahagia saja. Apapun akan aku lakukan kalau itu demi kebahagiaan kamu." Ujar Al sembari mengusap punggung Ara.
"Aku sangat bahagia sayang...terimakasih Al kamu merupakan sumber kebahagiaan aku." Ujar Ara.
Al melepaskan pelukan Ara sebentar, "So, kamu jangan nangis lagi ya...kejutan lainnya masih menanti kamu didalam sana sayang." Ujar Al sembari menghapus airmata dari wajah cantik Istrinya itu.
Sesampainya didalam sana, Al memberikan sebuah kode dengan bertepuk tangan, seketika lampu menyala. Ara yang masih syok dengan kejutannya hanya bisa terdiam sambil menutup mulutnya saja. Lagi lagi dirinya dibuat meleleh dengan kejutan romantis dari Suami tercintanya itu.
"Al...kamu...!" Ujar Ara yang tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kata - katanya kembali.
"Gimana sayang? Kamu suka?" Tanya Al sambil memeluk pinggang Ara lagi. Ara tentu saja langsung mengangguk dengan penuh semangat.
"Aku suka...bahkan sangat menyukainya. Kapan kamu mempersiapkan ini semua?" Tanya Ara yang masih takjub dengan yang ada dihadapannya saat ini.
Al menghias gedung kantor ini menjadi gedung yang sangat cantik dengan semua perpaduan warna kesukaan Ara, lalu tidak lupa Al memberikan sentuhan sedikit setiap dekor ruangannya khususnya untuk ruangan pribadi untuk Sang Istri agar Ara tidak merasa jenuh seharian dikantor. Dan yang lebih spesial lagi Al merias tangga berukuran gede disana dengan karpet merah dan kanan kiri tangganya Al sengaja memberikan lilin.
"Ayo ikut aku sayang...kejutan utamanya ada diatas sana..." Al membawa Ara berjalan menuju lantai atas. Ara hanya mengikuti langkah demi langkah sang Suaminya dan tanpa henti - hentinya dirinya sangat takjub.
"Silahkan masuk sayang..." Ujar Al menyuruh Ara untuk masuk kedalam.
Tanpa keraguan Ara membuka pintu ruangan dan lagi lagi Ara sangat takjub. Sesampainya didalam sana sudah tersedia khusus untuk orang dinner romantis dengan intrumen disetiap ruangannya untuk menyambut Ara dan Al masuk kedalam.
Dengan tema semua serba putih dan menggunakan mawar putih yang dibiarkan berserakan dilantai untuk membuat tempat ini menjadi romantis lagi, lilin lilin kecil disetiap penjuru ruangan.
"Aku tau kalau kamu tidak ingin ada orang lain di dinner kita kali ini, aku sengaja mempersiapkan ini semua sebelum aku kembali sayang. Aku harap kamu suka ya?" Bisik Al yang tiba - tiba saja sudah memeluk Ara dari belakang.
"Aku benar - benar sangat menyukainya sayang...thanks ya!" Ucap Ara sambil membelai wajah suaminya itu.
"Kita makan sekarang ya..."
"Iya sayang..."
Al menarik tangan Ara untuk mengikutinya, lalu Al menarikkan kursi untuk Ara, "Silhakan Tuan Putri..." Ucap Al.
"Terimakasih Tuan..." Balas Ara.
Keduanya punĀ menikmati hidangan yang sudah tersedia disana, Al sengaja menyiapkan begitu banyak menu yang tersaji diatas meja mereka, karena dia tau kalau Ara memiliki nafsu makan yang besar semenjak dirinya hamil. Al ingin membuat Ara sangat kenyang dan menghabiskan semuanya.
"Kamu sudah kenyang sayang? Kalau belum aku bisa mempersiapkan hidangan penutupnya." Tanya Al.
Sejujurnya Ara sudah sangat kenyang, akan tetapi dia penasaran dengan hidangan penutup seperti yang dikatakan oleh Al barusan. Ara akhirnya menggelengkan kepalanya saja.
Al kemudian memerintahkan seseorang untuk masuk kedalam dan membawa hidangan penutupnya masuk kedalam, "Apa ini semua sayang?" Tanya Ara dengan tidak mengerti.
"Ini semua untuk kamu sayang..."
Al memberikan cincin beserta kalung berlian untuk istirnya itu.
"Aku benar - benat meleleh dengan perlakuan manis kamu ini sayang."
"Aku harap ini sesuai dengan selera kamu ya..." Al berjalan kerah Ara untuk membantu Ara memakai cincin dan kalung berlian yang diberikan Al kepada Ara.
"Kamu happy?"
"Tentu sayang! Thanks ya!" Ujar Ara lalu mengecup bibir Al sekilas.
"iya sayang karena tugas aku adalah untuk membahagiakan kamu dan juga Anak kita kelak." Ujar Al.
Setelah acara dinner mereka berjalan dengan lancar, keduanya menghabiskan waktu disini tanpa ingin diganggu oleh orang lain. Dan sedangkan ditempat lain, Alvin dan Mikha yang kini sudah berada dikamar, Mikha masih berusaha unutk menghindar dari Alvin dengan cara membuka laptopnya lalu melanjutkan pekerjaannya disana.
__ADS_1
Alvin terus saja melihat jam, 'Mau berapa lama lagi Mikha melakukan itu?' Pikir Alvin.
Kemudian Alvin yang merasa tidak tahan lagi akhirnya menghampiri Mikha, "Pekerjaan kamu masih banyak sayang?"
Mikha mengangguk, "Kalau kamu ingin istirahat ya udah duluan aja deh Vin."
"Gak deh aku nungguin pekerjaan kamu selesai saja ya."
"Tapi Vin...sepertinya pekerjaan aku masih banyak lagi deh, kasihan kamunya ntar nungguin aku kelamaan." Ujar Mikha sambil menatap Alvin.
"Kalau begitu kamu jangan membuat aku terlalu lama untuk menunggu kamu." Bisk Alvin.
'Duh si Alvin sepertinya tau deh kalau saat ini aku sengaja mencari - cari kesibukan sendiri.' Batin Mikha.
Mikha hanya memberikan sebuah senyuman yang dipaksakan saja untuk Alvin lalu kembali menatap laptopnya kembali.
"Mik..."
"Hmmm..."
"Kamu tidak sedang mencari - cari alasan untuk menghindari aku kan?" Tanya Alvin lalu dengan sengaja malah menutup laptop Mikha.
"Ih kamu apa - apaan sih Vin! Sini dong kembalikan laptop aku..." Ucap Mikha dengan kesal.
"Gak akan...dikamar itu bukan tempatnya kerja!"
"Mau kamu apa sih Vin?"
Alvin langsung tersenyum menyeringai menatap Mikha dengan intens, Mikha yang menyadari tatapan dari suaminya itu dengan refleks langsung menutup dirinya kedua tangannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Ujar Alvin lagi membuat Mikha semakin salah tingkah.
Alvin menarik tubuh Mikha sampai keduanya tidak memiliki jarak lagi, "Aku ingin bisa sedekat ini dengan kamu...aku tau kalau kamu sedang berusaha untuk menghindari aku. Aku tidak tau kenapa kamu melakukannya hanya saja aku tidak bisa menjauh dari kamu." Bisik Alvin.
"Aku malu Vin...."
"Apa? Kenapa?"
"Iya aku juga tidak tau kenapa....aku malu aja karena aku masih belum terbiasa dengan semua ini. Aku tau apa yang kamu inginkan saat ini tapi aku caranya untuk membuat kamu terpikat olehku. Jadinya aku berusaha untuk menghindar dari kamu." Ujar Mikha dengan jujur dengan hanya melihat kebawah saja.
Alvin memengang dagu Mikha, "Aku senang karena kamu jujur...aku tidak perlu kamu pikat Mik, karena dengan sendirinya aku memang sudah terpikat dengan pesona kamu....kamu tidak perlu terlalu berusaha untuk menyenangkan aku. Karena aku sendiri yang akan menyenangkan kamu dan akan membuat kamu mulai terbiasa dengan semua ini." Ucap Alvin lalu tanpa sadar Mikha sudah tidak menggunaka piyama tidurnya lagi karena sejak tadi Alvin telah melucuti pakaian tidur Mikha.
"Aku sayang kamu Vin..." Lalu Mikha memberanikan diri untuk mencium Alvin duluan sambil melingkarkan kedua tangannya ditengkuk leher Alvin.
Alvin yang awalnya terkejut dengan serangan mendadak dari Mikha hanya bisa menikmati setiap permainan yang Mikha berikan untuknya.
Lalu setelah beberapa saat mereka berciuman, Mikha melepaskannya begitu saja padahal Alvin masih ingin melakukannya. "Kenapa berhenti?" Tanya Alvin dengan wajah tidak puasnya.
"Karena aku hanya menggoda kamu saja..." Bisk Mikha.
"Oh ya? Kalau begitu sekarang giliranku yang akan menggoda kamu baby!" Alvin langsung menarik Mikha lagi lalu memberikan ciumannya diseluruh bagian yang disukainya. Mikha hanya menikmatinya tanpa protes. Alvin benar - benar sangat kecanduann dengan sentuhan dari Mikha.
Mereka benar - benar telah melakukannya beberapa kali sampai keduanya lelah dan akhirnya memutuskan untuk istirahat.
"CUP"
"Thanks sayang...." Ucap Alvin memberikan kecupannya lagi.
Mikha hanya tersenyum.
Entah mengapa setiap selesai melakukannya, Mikha merasa sangat malu menatap waja suaminya, Mikha memutuskan untuk membelakangi tubuh Alvin. Mikha bisa merasakan bahwa afa tangan kekar yang memeluknya dari belakang.
"Aku tau kamu malu sekarang...." Tebak Alvin seakan bisa membaca pikiran Mikha.
"Enggak kok..." Jawab Mikha terbata.
"Iya aku percaya kok....good nite baby."
"Good nite!"
Setelah itu keduanya memutuskan untuk tidur karena besoknya mereka berdua telah kembali untuk bekerja.
*******
Keesokan harinya....
Mikha baru saja selesai mandi, Mikha menjadi sering mencuci rambutnya karena Alvin. Alvin terus saja tidak puas - puasnya untuk melakukannya dengan Mikha.
"Vin ayo dong bangun..." Ujar Mikha yang sudah berusaha untuk membangunkan suaminya itu.
"Hmm..."
Alvin malah dengan sengaja menunjukkan pipinya, "Kamu mau apa?" Tanya Mikha yang memang tidak mengerti dengan kode yang diberikan oleh Alvin barusan.
"Dasar gak peka...morning kiss aku mana?" Ucap Alvin.
"Ih kamu apaan sih...udah cepat buruan kamu bangun lalu mandi." Ucap Mikha lalu pergi meninggalkan Alvin.
"Iya iya..." Akhirnya dengan masih ngantuk Alvin berjalan menuju kamar mandi.
"Aku tunggu kamu dibawah ya...kamu mau aku buatin sarapan apa?" Tanya Mikha.
"Apa aja asalkan kamu yang masak aku pasti akan makan."
"Oke baiklah kalau begitu, aku kebawah ya."
"Iya sayang..."
Mikha berjalan menuju lantai satu, dengan penuh semangat Mikha memasak nasi goreng spesial untuk Alvin.
"Semoga kamu suka ya Vin..." Ucap Mikha.
"Wangi sekali masakannya kamu Mik? Duh yang pengantin baru nih sepertinya sedang kasmaran ya?" Goda Ara.
"Ih Ara bisa aja, jangan gitu dong Kak..kan Mikha jadi malu." Ujar Mikha dengan wajah memerah.
"Kenapa harus malu sih?"
"Udah ah kak kita ganti topik aja ya. Kemarin itu Kak tanya Alvin sama aku emangnya Kak Ara mau bilang apa ya?" Tanya Mikha yang masih penasaran.
'Apa yang harus aku katakan? Aku sendiri bahkan belum mengkonfirmasikan tentang hal ini dengan Alvin? Aku tidak akan mungkin mengatakannya kepada Mikha, aku benar - benar tidak ingin merusak perasaan bahagianya.' Batin Ara.
*******
Jeng jeng jeng! Tunggu saja kejutannya ya !
__ADS_1
Jangan baper ya sama Alvin dan Mikha? Heheh
Happy reading guys!