
Ara dan Al tinggal menghitung hari saja untuk segera melihat sikembar, keduanya sudah mempersiapkan untuk perlengkapan bayi kembarnya itu, mulai dari belanja barang - barang yang menggemaskan, pakaian bayi, bahkan kamar untuk si kembar pun sudah dipersiapkan oleh keduanya.
Mereka berdua sudah tidak sabar lagi untuk menanti kelahiran si kembar. Ya keduanya sama - sama sangat antusias. Ara memutuskan untuk melahirkan secara normal. Dia ingin menjadi seorang ibu seutuhnya untuk kedua Anaknya itu.
Walaupun sering kali Ara membaca berita, bahkan mendengar secara langsung bahwa kelahiran Anak kembar itu tidak main - main. Tapi Ara tetap saja bersikeras untuk melahirkan secara normal. Al sebagai Suaminya hanya akan mendukung semua keputusan Ara, asalkan tidak berbahaya untuk Istri dan Anak yang ada didalam kandungan Ara saja.
Al sudah mengatakan secara tegas kepada Sang Istri kalau disaat - saat darurat nanti Anak mereka tidak mau keluar, Al lebih menyuruh Ara untuk melakukan operasi karena tidak ingin melihat Istrinya tersiksa demi melahirkan Anak untuknya.
Selama beberapa hari ini tubuh Ara sudah semakin terasa sesak, dia selalu saja merasa kepanasan. Hampir setiap malam Ara tidak bisa tidur dibuatnya. Al selalu saja menemani Istrinya didalam hari akan tetapi ada kalanya juga Ara tidak ingin membangunkan Suaminya karena merasa sangat kasihan.
Gerakan kedua Anak kembar mereka semakin aktif saja, itu yang membuat Ara ketika tertidur langsung terbangun juga ketika mendapatkan tendangan aktif dari Anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, Ara merasakan sakit yang luar biasa, dia sudah berusaha bertahan akan tetapi dirinya sudah tak bisa lagi. Akhirnya dengan terpaksa Ara membangunkan Suaminya.
"Al!" Panggil Ara.
Al masih tertidur sangat pulas, kini wajah Ara sudah dipenuhi dengan keringat, wajahnya semakin terlihat pucat.
"Al bangun! Aku sudah tidak tahan lagi...!" Teriak Ara sambil menguncangkan tubuh Suaminya.
Al langsung terbangun lalu menatap Ara yang sudah dipenuhi dengan keringat, "Kamu tidak apa - apa sayang? Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang." Ujar Al yang terlihat sangat panik.
Al bantu memapah Istrinya untuk berjalan, sejak Ara hamil besar, Al dan Ara memutuskan untuk tidur dikamar bawah agar Ara tidak kesulitan. Ara sudah memanggil supirnya untuk siaga diluar. Supirnya sudah berada diluar dan sudah menyalahkan mobilnya.
"Tahan sebentar lagi ya sayang" Ujar Al yang terlihat sangat panik.
Al membantu Ara untuk masuk kedalam mobil, lalu dia juga masuk dan selalu saja menggenggam jemari Sang Istri yang sudah tidak bisa tenang lagi.
"Jalankan mobilnya!" Pinta Al.
Supirnya Al langsung menuruti perintah dari majikannya, dengan cepat supirnya melajukan mobilnya, kebetulan sekali jam segini dijalanan sangat sepi. Jadi tidak membutuhkan waktu lama lagi untuk sampai kerumah sakit dengan cepatnya.
Sesampainya disana kehadiran Al dan Ara ternyata sudah ditunggu oleh Alan sedari tadi. Alan sudah berada didepan dengan kursi roda untuk membawa Ara masuk dengan cepat.
Ketika melihat mobil Al sudah terbuka, Alan dan Al langsung membantu Ara untuk duduk dikursi roda. Ternyata Ara sudah pecah ketuban. "Sepertinya Ara akan segera melahirkan!" Ujar Alan.
"Ayo cepat bantu pasien masuk kedalam." Pinta Alan kepada perawatnya.
Mereka semua sudah masuk kedalam ruangan, Al diperbolehkan masuk juga oleh Alan untuk memberikan dukungan dan kekuatan untuk Istrinya. Al terus saja menggenggam tangan Ara, dia merasa sangat mengkhawatirkan keadaan Ara.
Ara terus saja histeris dan menangis, Al sampai bingung sendiri karenanya, dia berusaha untuk menenangkan Sang Istri sebisa dirinya.
"Sebentar lagi semuanya akan berlalu sayang! Aku yakin kamu pasti bisa...!" Ujar Al terus menerus.
Keringat Ara sudah membasahi seluruh tubuhnya saat ini,
"Gimana Lan? Apakah Istri saya bisa melahirkan secara normal? Apa tidak beresiko tinggi?" Tanya Al kepada Alan.
"Bisa...Pak Alan harus terus memberikan semangat dan dorongan agar Istri Bapak bisa melaluinya." Jawab Alan.
"Baiklah!" Ujar Al yang kini sudah mengatur pernafasannya.
Alan juga memerintah Ara untuk mengatur pernafasnya, Alan memyuruh Ara untuk menarik nafas lalu menghembuskannya. Ara terus saja melakukannya, tanpa sadar Al juga melakukaknnya.
"Mari kita mulai sekarang!" Ujar Alan lalu sudah berada dihadapan Ara yang sudah berbaring lemah tak berdaya, "Ayo terus Ra....terus! Kamu pasti bisa...sedikit lagi...kepala bayinya sudah hampir keluar...ayo Ra!" Alan terus memotivasi Ara untuk mengeden. Ara berusaha semampunya, tangannya terus saja memegang Al, "Ayo sayang...aku yakin kamu bisa!" Al juga memberikan dukungan terus kepada Istrinya.
Sampai Ara berhasil melakukannya, ketika Alan sudah melihat kepala Anaknya Ara keluar, Alan langsung membantu Ara. Kini sudah terdengar suara tangisan bayi.
Ara tersenyum lalu Alan menyuruh seorang perawat untuk memandikan bayinya sebentar, seketika rasa sakit yang dirasakan oleh Ara tadi hilang seketika. Sekarang sudah tergantikan dengan perasaan bahagianya. Setelah bayi dibersihkan, perawat langsung mengarahkannya kepada Al selaku orangtua, Al tersenyum bahagia dan sangat terharu melihat Anaknya, Ara juga terlihat sangat bahagia.
"Sayangnya Mama!" Ujar Ara sambil mengelus pipi Anak lelakinya.
Dua puluh menit kemudian, perut Ara kembali bereaksi lagi, Dia merasa seperti akan melahirkan lagi. Dengan siaga Al langsung memberikan Anaknya kepada perawat, dia kembali menggenggam jemari Istrinya lagi, Ternyata melahirkan Anak keduanya tidak separah Anak kembar pertamanya tadi, tidak butuh waktu lama kini Anaknya sudah keluar. Dan saat ini Anak kembarnya itu sedang dibersihkan, lalu setelahnya seorang perawat memberikan keduanya. Anak kedua mereka adalah seorang Anak perempuannya itu. Anaknya lelakinya terlihat sangat mirip sekali dengan Ara sementara yang perempuan sangat mirip dengan wajah Papanya. Perpaduan yang sangat sempurna bukan?
__ADS_1
Kini keduanya terlihat sangat bahagia, Ara yang masih tidak berdaya kini sudah tergantikan dengan kehadiran Anak kembarnya.
"Terimakasih sayang!" Al mengecup kening Istrinya dengan sangat lama. Al sendiri sudah menyaksikan tersiksanya Ara melahirkan Anak mereka berdua. Dia tidak akan pernah bisa melupakan hari ini.
Ara hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Kedua Anak Ara kembali diambil dan diletakkan didekat keduanya dengan dua tempat bayi yang memang sudah disediakan disana.
Setelah mendapatkan kabar kalau Ara sudah melahirkan, orangtua Al dan Ara sudah bergegas pergi kerumah sakit untuk melihat cucu mereka. Tidak lupa juga Al sudah memberikan kabar kepada Alvin dan Mikha.
Kini semua keluarga sudah berkumpul, tapi Al tidak mengizinkan siapapun masuk dulu. Dia ingin melihat Istrinya Istirahat sejenak, setengah jam kemudian ketika mendengarkan tangisan bayi, Ara langsung terbangun. Dia langsung memanggil Suaminya, dengan langkah cepat Al langsung masuk kedalam.
Al masih kebingungan untuk menenangkan Anaknya yang terus saja menangis, "Sini sama Oma sayang!" Ujar Mamanya Al lalu mengendong cucu perempuannya. Ketika digendong oleh Omanya Anaknya Al dan Ara seketika menjadi tenang kembali.
"Sayangnya Omaaa...kamu cantik sekali sayang! Wajah kamu sangat mirip dengan wajah Papa kamu!" Ucap Mamanya Al.
Al dan Ara saling menatap satu sama lain, lalu sama - sama tersenyum.
Sedangkan Anak Al dan lelaki sudah dilihat oleh Alvin dan Mikha, Mikha ingin sekali mengendongnya akan tetapi Mikha takut. Akhirnya dia hanya mengelus pipi lalu menciumnya saja, "Kamu tampan sekali sayang! Doakan Onty ya agar segera menyusul." Ujar Mikha.
"Sayang...kamu pasti akan segera hamil kok! Kamu tidak percaya dengan Suami kamu ini?" Ujar Alvin yang membuat seisi kamar tertawa.
"Kamu terlalu berisik Vin! Please hentikan!" Ujar Mikha.
"Sayangnya Oma..." Ujar Mamanya Ara yang kini menggendong Anak mereka yang laki - laki.
"Wah dia sangat mirip sekali dengan dengan Ara ya? Ini wajah kamu versi laki - laki sayang!" Ujar Mamanya yang kini tengah mengendong Cucunya lalu menciuminya.
"Sekali lagi terimakasih sayang!" Ujar Al lagi lagi.
"Iya sayang..." Sudah entah berapa kali Ara terus mendengarkan Al mengatakan terimakasih karena sudah melahirkan kedua Anak mereka.
"Oh iya siapa nama kedua Cucu kami ini? Kalau belum ada biarkan kami memberikan nama mereka ya?" Ujar Mamanya Al.
"Biarkan aku saja dong Jeng!" Ujar Mamanya Al berseikeras.
Suasana berubah menjadi sangat tegang, hingga akhirnya Al berteriak agar kedua Mamanya itu tenang, "Bisa tenang gak sih?"
Kini kedua Mamanya itu sudah diam, "Maafkan aku karena berteriak! Kalau soal nama kami sudah mempersiapkan nama kedua bayi kami." Ujar Al dengan tegas.
"Tapi Al...Mama juga berhak dong memberikan nama untuk Cucu Mama ini? Kamu jangan egois seperti itu dong!" Ujar Mamanya.
"Iya Al..biarkanlah Mamamu memberikan nama juga."
"Iya Al, Mama juga sudah mempersiapkan nama yang bagus juga untuk si kembar." Ujar Mamanya Ara.
Kini Al dan Ara saling menatap satu sama lain, "Hmm...sepertinya tidak bisa Ma, maafkan Al dan Ara." Ujar Al lagi.
kedua Mamanya itu langsung cemberut dan merajuk, keduanya secara kompak langsung keluar dari ruangan Ara.
"Lihat itu...sudahlah Al, Ra..turuti saja permintaan Mama kalian!" Ujar Papanya Al menegaskan.
Al seakan meminta persetujuan dari Ara, "Iya sudah sayang tidak apa - apa." Ujar Ara sambil tersenyum.
Kini Al berjalan keluar untuk membujuk kedua Mamanya itu untuk masuk kedalam. keduanya bersikeras tidak mau karena sudah terlanjur kecewa dengan ucapan Al tadi. Hanya saja Al berusaha untuk menyakinkan keduanya hingga kedua Mamanya itu kembali tersenyum dan mengikuti Al masuk kedalam ruangan rawat Ara.
"Ehem...begini Ma, Maafkan Al yang tadi sudah berkata sedikit keras yang sudah menyinggung perasaan Mama. Al sudah memikirkannya, nama depan tetap sepenuhnya milik Al dan Ara, sedangkan nama belakangnya terserah Mama ingin memberikannya apa. Gimana?" Ujar Al.
"Baiklah tidak masalah." Ucap keduanya secara serentak.
"Al dan Ara memberikan nama anak laki - laki kami Alan sedangkan nama Anak perempuan kami Alana." Ujar Al.
__ADS_1
"Wah namanya seperti nama dokter Alan yang tampan. Cocok sekali!" Puji Mikha lalu seketika langsung menutup mulutnya. Kini Alvin sudah menatap Mikha dengan sangat tajam.
"Apa yang kamu bilang tadi sayang? Seperti siapa? Apa dia lebih tampan dari aku? Huh!" Omel Alvin.
Mikha hanya bisa tersenyum sambil tetap menutup mulutnya. "Tidak kok sayang...kamu salah paham, kalau dibandingkan dengan Dokter Alan ya jelas lebih tampanan kamu lah kemana - mana." Ujar Mikha walaupun didalam hati Mikha mengatakan jelas lebih tampanan Dokter Alan kemana - mana lah.
"Oh iya? Itu sudah pasti tidak diragukan lagi!" Ujar Alvin dengan percaya dirinya.
"Nama yang indah, lalu bagaimana dengan ini Alan Aushaf William." Ujar Mamanya Al.
"Nama yang bagus Ma! Kalau boleh tau apa arti Aushaf?" Tanya Ara yang sangat penasaran.
"Seorang yang mempunyai sifat - sifat baik. Semoga Anak kalian berdua selalu bersikap baik ya kepada kedua orangtuanya." Jawab Mamanya Al.
"Arti yang bagus Ma! Aminnn semoga saja ya Ma." Ujar Ara.
"Berarti giliran Mama dong ya yang akan memberikan nama Anak perempuan kalian?"
Al dan Ara mengangguk secara bersamaan, "Iya Ma! Silahkan!" Ujar keduanya.
"Alana Sashi William, bagaimana menurut kalian?"
"Bagus Ma! Apa arti nama Sashi itu sendiri?" Tanya Al.
"Bulan bagi kedua orangtuanya." Ujar Mamanya Ara dengan sangat antusias.
"Wah nama yang indah...terimakasih Ma." Ujar Al dan Ara secara bersamaan.
Kini sudah tidak ada keributan lagi diantara keduanya. Keduanya terus saja menatap kedua Cucu mereka tanpa henti - hentinya, keduanya memang sudah lama ingin segera memiliki seorang Cucu dari Al dan Ara.
Al memeluk Istrinya, perasaan bahagia yang terus mereka rasakan tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
*****
Selama didalam perjalanan pulang, Mikha terus saja murung dia ingin segera hamil dan memiliki seorang Anak yang lucu dan menggemaskan seperti Alan dan Alana.
Alvin yang sedaritadi memperhatikan sikap Istrinya merasa seperti Mikha tengah memikirkan sesuatu hal, terbukti memang Mikha bahkan tidak menghiraukan apa yang telah Alvin ucapan.
"Sayang!" Panggil Alvin.
Mikha masih melamun tidak mendengarkannya sama sekali.
"Mikha! kamu sedang mikirin apaan sih? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus lho sayang! Aku jadi merasa diabaikan." Ujar Alvin lalu cemberut.
Mikha hanya terkekeh mendengarkan ucapan Suaminya berusan, "Apaan sih! Aku hanya membayangkan kalau nanti aku hamil dan melahirkan, perasaan kamu masih sama apa gak ya sama aku?" Ujar Mikha sambil senyum jail kepada Suaminya.
"Kamu meragukan aku sayang? Biarpun nantinya tubuh kamu sudah tidak kurus lagi, aku pasti akan tetap menicintai kamu kok!" Ujar Alvin.
"Oh iya? Kita lihat saja nanti ya Vin!" Balas Mikha.
Mikha mengelus perutnya, 'Semoga saja perut aku ada isinya...' Batin Mikha yang sangat berharap.
Sebenarnya Mikha sudah telat datang bulan hanya saja dia belum mau melakukan test lagi. Dia takut karena terlalu berharap lalu dirinya akan kembali merasakan kecewa. Dia tidak memberitahukan hal ini kepada Alvin. Dia masih ragu untuk itu. Nanti ketika dirinya sudah yakin baru dia akan melakukan test. Semoga saja hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan Mikha.
'Kalau emang benar aku hamil lalu aku kok tidak merasakan mual - mual seperti kebanyakn wanita hamil ya? Mungkin saja aku hanya telat datang bulan. Lagian mana mungkin aku hamil...' Batin Mikha yang mengingat dia baru melakukannya selama setiap hari dengan Alvin tapi tidak menunjukkan reaksi apapun.
******
Doakan ya guys agar Mikha segera hamil juga! Heheh...
**Selamat untuk kelahiran anak kembarnya Al dan Ara, Alan dan Alana tanpa mereka sadari nama kedua Anaknya berawalan dengan hurup A juga sama dengan nama mereka! **
__ADS_1
Happy reading guys!