SECRET LOVE

SECRET LOVE
Kakak dan Adik Ipar


__ADS_3

Pagi ini, Bian hanya menatap setumpuk pakaian yang disiapkan oleh Kiana untuknya. Setelah selesai mandi, biasanya ia akan langsung berpakaian. Tapi kali ini, Bian hanya diam mematung menatap berkali-kali pada pakaian yang tertumpuk di atas tempat tidur tersebut.


Pria itu menghela napas panjang. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan matanya untuk mencari keberadaan istrinya yang belum kembali setelah beberapa waktu yang lalu pamit untuk pergi ke luar kamar sebelum ia beranjak untuk mandi.


Al masih tertidur. Sempat bangun sebentar pada saat Kiana berusaha membangunkannya juga. Tapi bayi itu kembali tertidur setelah Kiana mengeloninya. Bian tersenyum tipis melihat betapa nyamannya bayi itu tidur dengan selimut yang membungkus sampai perutnya.


Suara pintu kamar terdengar terbuka. Menampakkan Kiana yang tengah membawa secangkir teh panas yang masih mengepul mengeluarkan asap.


"Mas belum berpakaian juga?" tanya Kiana saat melihat Bian hanya berdiam diri masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. "Aku kira udah selesai sejak tadi," lanjutnya lagi, berjalan melewati Bian untuk menaruh cangkir di atas nakas.


"Ini?" tunjuknya pada setumpuk pakaian tadi yang hanya ia perhatikan tanpa ada niatan untuk memakainya.


"Iya," Kiana sedikit mengernyit. "Kenapa belum dipakai? Apa tidak cukup? Kalau tidak cukup, aku bilang sama Mama dulu buat cari pakaian yang lebih longgar," Kiana hendak beranjak pergi namun berhasil Bian tahan.


"Nggak, nggak usah sayang..."


"Lho, tapi kan--"


"Kayaknya muat, bisa aku pakai."


"Lalu kenapa belum Mas pakai?" tanya Kiana lagi.


"Itu..." Bian nampak berpikir. Ia bingung harus berkata apa untuk menjelaskannya pada Kiana. "Kayaknya Mas pakai baju yang kemarin aja ya, sayang."


Dahi Kiana nampak mengkerut, menatap air muka aneh suaminya.


"Baju punya Mas?" Kiana tanya sekenanya. "Baju punya Mas baru aja aku cuci, kotor. Masa mau di pakai lagi sebelum di cuci dulu. Lagian bukannya hari ini harus ke kantor? Jadi harus pakai pakaian rapi dan bersih. Itu punya Kak Aaric. Masih baru belum pernah di di pakai kata Mama."


Kiana mendekat pada Bian. Ia mengusap pipi Bian yang terlihat agak murung di pagi itu.


"Kenapa? Nggak suka dengan bajunya? Atau..."


"Mas nggak enak aja sama Kakak kamu," kilahnya saat melihat Kiana menyadari kerisauannya.


Bukan karena apa, ia merasa tidak enak hati harus kembali memakai pakaian milik Aaric meski itu baru sekali pun. Apalagi mengingat bagaimana hubungan pertemanan diantara mereka sudah sangat merenggang. Rasa gengsi dan malu Bian rasakan. Meski pun kini Aaric notabennya adalah Kakak iparnya, tapi Bian merasa hal itu tidak berlaku bagi dirinya terutama Aaric saat ini.


"Jadi dari tadi khawatir ini?" Kiana tersenyum simpul. "Kak Aaric nggak ada bilang apa-apa, malahan dia sendiri yang pilihin baju itu karena dia tahu hari ini Mas bakalan ngantor. Jadi, Mas nggak perlu khawatir dan nggak enak sama Kak Aaric. Bukannya kalian itu berteman? Wajar bukan seorang teman meminjami bajunya? Apalagi sekarang dia itu Kakak iparnya Mas, keluarga Mas sendiri."


Kiana membantu Bian untuk berpakaian setelah cukup sekian lama pria itu malah diam, dan itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya melihat suaminya belum berpakaian seperti itu.


Kiana meneguk salivanya sesaat, saat kulitnya menyentuh permukaan bahu lebar suaminya. Masih belum terbiasa saat tangannya harus lebih dulu menyentuh bagian tubuh Bian. Kiana merasa meremang, dan kini debaran dadanya bertambah dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.


"Berangkat jam berapa?" cicit Kiana mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri.


"Seperti biasa," jawab Bian yang tengah menikmati pelayanan Kiana di pagi itu. Sentuhan lembut tangan Kiana di tubuhnya membuat Bian tersenyum tipis melihat wajah istrinya yang kini bersemu merah.


Acara sarapan di pagi itu cukup terasa menyenangkan. Betapa tidak, keluarga yang tengah berbahagia itu sedang menyambut kepulangan dari seorang putri mahkota di rumah tersebut. Apalagi pagi itu suasana semakin ramai dengan gelak tawa dari para penghuni karena tingkah Al, bayi yang semakin tak bisa diam dan banyak berceloteh dengan sangat menggemaskan.


"Mas berangkat ya, sayang..." Bian merengkuh pinggang Kiana sebelum memasuki mobilnya.


Kiana cukup terperanjat, mereka berada di luar, apalagi di depan sana ada Kakak laki-lakinya yang sama akan pergi bekerja tengah menggendong Al yang diiringi oleh ibu mereka di belakangnya.


"Rasanya malas sekali harus pergi sampai berjauhan dengan kalian," cicit Bian dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Nanti juga kan pulang, Mas." Kiana tak dapat lagi menahan tawanya melihat kelakuan manja dari suaminya itu. Ia merapihkan kemeja Bian dengan mengelus permukaan dadanya.


"Ayo berangkat, nanti terlambat. Pasti Pak Dimas sudah menunggu."


"Malas sayang..." rengeknya seperti anak kecil mengalahkan anaknya yang masih bayi.


"Ayo... kalau Mas nggak pergi bekerja, lalu siapa yang akan ngasih aku uang belanja dan jajannya Al? Sekarang kebutuhan salonku memerlukan uang yang nggak sedikit." ucap Kiana sekenanya, ibu muda itu terkekeh saat mengatakan hal tersebut. Bian semakin mengerucutkan bibirnya saja.


"Kamu ini," sekali lagi Bian memeluk Kiana sebelum ia benar-benar pergi dengan malas-malasan. "Jaga anakku ya, Bu..." satu kecupan ia labuhkan di bibir manis milik Kiana yang selalu membuatnya menjadi candu.


Kiana tersipu, terlebih melihat ibunya sedang berjalan menghampirinya dengan Al yang kini berada di gendongannya.

__ADS_1


Bu Sofia hanya tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya. Ia sedikit banyak seperti melihat bayangan dirinya bersama sang suami saat awal-awal pernikahan mereka saat muda dulu.


"Mama..."


"Mama nggak lihat kok," ucap Bu Sofia menahan senyumnya.


Kiana semakin tersipu, pandangannya sekilas melihat mobil yang dikendarai oleh Bian telah menghilang.


"Kak Aaric udah berangkat juga?"


"Baru saja, Al sampai nggak mau lepas seperti mau ikut pergi dengan om nya." Bu Sofia menciumi pipi tembam merah seperti bakpau milik Al yang sangat menggemaskan.


"Sini Ma, Al sama Kiana aja. Mama pasti pegel dari tadi pangku Al terus."


"Nggak apa-apa, Mama malahan seneng cucu Mama ini nggak rewel." Bu Sofia sangat senang saat menimang Al yang sangat anteng di pangkuannya.


Kiana tersenyum haru saat melihat kedekatan Al dan juga ibunya. Al begitu dilimpahi dengan kelembutan, ibunya memperlakukannya penuh dengan kasih sayang. Tidak hanya dengan ibunya, ayahnya pun berlaku hal yang sama. Mereka sangat menyayangi Al tanpa cela.


Sejenak ia bercermin pada dirinya sendiri. Apakah dulu jika ia tak terpisah dari kedua orang tuanya, ia akan mendapatkan kasih sayang yang sama seperti itu?


Membayangkannya saja Kiana terenyuh. Kiana terharu. Kedua orang tuanya begitu hangat. Penuh limpahan kasih sayang. Terlebih pada mereka yang baru saja masuk ke dalam keluarga tersebut. Tapi kedua orang tuanya menyambut mereka dengan perasaan suka cita dan penuh linangan air mata. Kebahagiaan nampak jelas tersirat di mata mereka.


Kiana sangat beruntung akhirnya memiliki sebuah keluarga yang menyayanginya. Terlebih kedatangannya memang telah lama dinantikan oleh mereka. Untaian doa-doanya selama ini telah terkabul. Dan itu berkat Bian, suaminya, sebagai perantara yang mempertemukan kembali mereka sebagai sebuah keluarga.


Setetes air mata tak terasa keluar begitu saja di pelupuk matanya.


"Ki, kamu kenapa sayang? Kenapa menangis?" tanya Bu Sofia saat melihat putrinya itu meneteskan air mata.


Kiana menggeleng dengan senyuman.


"Aku nggak apa-apa, Ma..."


"Ada masalah? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Bu Sofia lagi. Ia memberikan Al pada suaminya. Pak Halim ikut memandang wajah putrinya pagi itu.


"Makasih Ma... Makasih udah menerima aku dalam keluarga ini." ucap Kiana membuat Bu Sofia memeluk Kiana.


"Makasih sudah memberikan kasih sayang pada Al,"


"Jangan berkata seperti itu, kalian adalah harta benda berharga kami. Sepatutnya yang harus kami jaga dengan limpahan penuh kasih sayang. Mama sangat bersyukur kamu telah kembali pada pelukan kami. Maafkan Mama dan Papa yang lalai saat menjaga kamu."


Mata Kiana serasa memanas saat mendengar penuturan ibunya. Tidak dapat lagi menahan rasa haru dan sedih dalam dirinya, Kiana tak kuasa kembali meneteskan air matanya.


"Ma..." ucapnya lirih dengan suara bergetar.


"Iya sayang?"


"Kiana sayang sama, Mama." ungkapnya jauh dari dalam lubuk hati. Ya, Kiana begitu sangat menyayangi ibunya meski takdir baru mempertemukan mereka. Entahlah, ada suatu perasaan yang tidak dapat Kiana jelaskan betapa ia sangat menyayangi ibunya setelah mengetahui kebenaran jati dirinya.


"Mama juga sayang sama kamu, Putri kecil Mama." Bu Sofia mengeratkan pelukannya seolah tak akan pernah cukup dan merasa puas.


"Kiana juga sayang sama, Papa..."


"Dan rasa sayang Papa lebih besar dari apapun untuk kamu..." senyum terulas di wajah Pak Halim yang melihat sisi kerapuhan dari diri putrinya.


***


Bian baru saja memasuki ruangan kerjanya setelah sebelumnya Dimas si asisten yang handal dan dapat diandalkannya itu membukakan pintu untuknya dengan mendekap beberapa berkas penting dalam tangannya.


Bian menyipit curiga pada asisten yang kadang menyebalkan itu. Terlihat dari senyum seringai dari Dimas yang membuatnya jengkel.


"Apa kamu senyum-senyum?" ketus Bian yang semakin badmood saja.


"Ah Pak Bian, memangnya kalau orang senyum itu ada larangannya ya?" ucap Dimas dengan wajah tanpa dosa.


"Ya karena senyum kamu itu sangat mencurigakan!" dengusnya, kesal Bian dibuatnya. Pria itu berjalan mengitari meja seraya duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Penuh curiga apa? Perasaan saya biasa aja." elak Dimas yang memang sedang menahan senyumnya khawatir kalau Bosnya itu tengah memergokinya.


"Nggak usah membela diri! Saya tahu kamu lagi ngetawain saya kan?" tatapnya dengan penuh selidik.


Dimas membola, ternyata bosnya itu peka juga. Ia menelan ludahnya seraya meringis berpura-pura sibuk membetulkan tumpukan map di tangannya.


"Nggak kok Pak... mungkin perasaan bapak aja kali, mana ada saya berani ngetawain bapak. Saya ingin berumur panjang bekerja di sini. Sejak tadi aja saya sibuk megangin berkas ini." tunjuknya pada tumpukan map yang ia taruh di atas meja.


Bian kembali mendengus kesal.


"Jadi kamu bilang saya nggak sibuk gitu? dua hari saya nggak masuk terus kamu ngerasa terbebani sama semua pekerjaan ini? Kamu aja yang sibuk?"


Mata si asisten itu kembali terbelalak. Benar ya atasannya itu memilki pemikiran yang diluar nalar. Aneh. Tapi ada benarnya juga sih. Beberapa hari ini dia sangat di sibukkan dengan pekerjaan yang bertambah dua kali lipat. Mau tidak mau dia harus mengambil jatah lembur sampai malam selama dua hari ini.


Dimas melengos, ia ikut duduk di kursi berhadapan dengan Bian yang tersekat oleh meja kerja besar atasannya.


"Aman Pak, Aman. Bapak nggak perlu khawatir, semua pekerjaan bisa di handle selama bapak menyelesaikan urusan kemarin." Dimas berusaha kembali mengambil hati atasannya sebelum Bian kembali ngomel-ngomel. Setelah mempunyai anak, Bian semakin bawel dan cerewet dalam hal apapun.


Bian terlihat manggut-manggut, sesekali ia fokus memeriksa berkas-berkas yang akan dia pakai siang ini. Ia tak terlalu menghiraukan Dimas yang sejak tadi terus mengoceh tak jelas.


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya?" gumam Bian tanpa menoleh sedikit pun.


"Berhasil nggak Pak?" tanya lagi Dimas yang penasaran.


"Apa sih?" ketus Bian yang merasa terganggu oleh Dimas.


"Jadi?"


Bian menarik diri dari tumpukan berkasnya. Ia menghela napas menatap tajam asistennya tersebut.


"Kamu nggak lihat hari ini saya pakai baju seperti apa?"


"Pantesan, kok agak beda. Nggak seperti Pak Bian yang saya lihat setiap hari." ungkap Dimas sembari kembali memperhatikan tampilan atasannya.


Bian berdecak, "Kamu bilang saya jelek?"


"Itu sih cuma bapak aja yang terlalu negative thinking. Saya mana ada ngomong begitu." Belanya dengan mengulas senyum smirk yang mencurigakan.


"Jangan macem-macem kamu, ini punya ipar saya. Cuma pinjem sehari doang nanti juga dibalikin lagi."


"Oh... sekarang udah punya kakak ipar ya..." Dimas tak tahan untuk tertawa kecil. Dan itu justru membuat Bian semakin berang. "Sekarang panggil Kakak dong Pak?" Dimas kembali tertawa saat mengingat bagaimana hubungan atasannya itu dengan Aaric kolega mereka sekaligus mantan sahabat atasannya itu.


"Diem lu!" Bian melempar pulpen ke arah Dimas yang dapat dihindarinya begitu saja.


"Ya kan memang begitu Pak, saya nggak salah ngomong kan?"


"Tapi nggak perlu juga lu ngetawain gua, Dimas!" ucap Bian musuh-misuh. Hilang sudah wibawa dirinya sebagai seorang bos besar perusahaan yang ia bangun meski selalu saja runtuh saat di depan Dimas yang selalu berlaga menyebalkan.


"Maaf Pak... saya bukan maksud ngetawain. Tapi saya ikut seneng aja. Akhirnya Bu Kiana ketemu juga sama keluarganya. Tapi nggak nyangka juga ternyata Bu Kiana anak yang hilang dari keluarga Halim. Dan yang membuat saya nggak menyangka ternyata Pak Aaric adalah Kakak dari Bu Kiana. Yang artinya--"


"Dia kakak ipar gua. Udah, puas lu sekarang?"


Dimas cuma meringis. Ia membuang muka dan berpura-pura merapihkan meja kerja Bian.


"Ya sekali lagi selamat Pak, keluarga Bapak semakin besar. Dan juga kerajaan bisnis bapak semakin besar dan kuat karena bertambahnya anggota keluarga."


Bian mencebik. Sesaat ia berpikir apa yang dikatakan oleh Dimas ada benarnya juga. Dengan masuknya ia kedalam keluarga Halim sebagai seorang menantu, tanpa ia sadari bisnis diantara kedua perusahaan keluarganya dan juga ayah mertuanya akan semakin kuat dan disegani oleh para kolega dan relasinya. Bian tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Dengan mempertemukan istrinya pada keluarganya saja cukup membuatnya bahagia karena istrinya pun tengah berbahagia.


"Siang ini kita meeting diluar?" tanya Bian disela kesibukannya.


"Iya Pak, dengan Pak Aaric." Dimas mengatupkan mulutnya setelah mengatakan itu. Ia melirik sekilas raut wajah Bian apa ada keanehan di sana.


"Oh... sama Kakak ipar ya? Baru aja tadi pagi saya satu meja dengannya buat sarapan sama-sama. Siang ini ketemu lagi ya?"

__ADS_1


Bian terlihat cuek dan santai sekali saat ini. Sesaat kemudian apa yang diucapkan oleh Bian membuat Dimas kembali membulatkan matanya.


"Ya udah gak apa-apa. Kalau gitu saya harus siap-siap ini buat terlihat berkesan sebagai adik ipar yang bisa dibanggakan." ucapnya dengan santai tanpa ragu.


__ADS_2