SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 142


__ADS_3

Alvin sudah turun untuk menghampiri Mikha, Mikha sudah merapikan meja makan untuk mereka berdua. Alvin berjalan mendekati Mikha dengan wajah yang sangat terlihat bahagia.


"Silahkan dimakan...semoga sesuai dengan selera lo ya..." Ucap Mikha.


"Hmmm...dari wanginya si kelihatannya enak ya....tapi tunggu dulu, lo gak menaruh racun kan didalamnya?" Tanya Alvin untuk menggoda Mikha.


Mikha langsung saja menatap Alvin dengan tatapan tajamnya saat ini, "Apa maksud ucapan lo barusan? Kalalu lo gak percaya mendingan lo gak usah menyuruh gue untuk masak dong." Omel Mikha.


"Gue kan hanya bercanda Mik, kenapa lo jadi marah sih? Oke gue tau gue salah...gue udah lapar banget ini...mendingan kita makan sekarang ya." Ucap Alvin.


'Nyebelin banget sih lo Alvin!' Batin Mikha dengan sangat kesal.


Alvin melahap makanan yang telah dimasak oleh Mikha dengan sangat rakusnya sampai dirinya benar - benar begitu kenyang.


"Akhirnya gue kenyang juga...thanks ya atas masakannya." Ucap Alvin.


"Gue heran sama lo Vin sebenarnya masakan gue enak apa gak sih? Lo malah melahap seperti itu saja tanpa memberikan komentar sama sekali. Menurut lo masakan gue itu gimana sih? Sesuai gak sama selera lo yang aneh itu?" Tanya Mikha dengan sangat penasaran.


Alvin tersenyum sendiri mendengar ucapan Mikha barusan,


"Gue lagi bertanya Vin kenapa malah lo tersenyum sih? Dasar gak menghargain kerja keras gue banget sih lo." Gerutu Mikha yang semakin kesal.


"Apa gue masih perlu untuk memberikan komentar lagi Mik? Lo lihat sendiri kan kalau gue melahap makanan yang lo masak dengan rakusnya begitu? Itu artinya apa coba?" Ucap Alvin.


"Itu karena lo kelaparan Alvin....tolong dong lo itu jujur memberikan sebuah penilaian." Mikha terus saja mendesak Alvin untuk berkata jujur tentang beef steak yang dimasaknya itu.


"Oke oke...masakan lo itu enak banget Mik. Lain kali masaknya agak banyakan ya karena porsi makan gue banyak. Puas lo? Udah ah gue mau naik keatas." Ucap Alvin lalu berlalu meninggalkan Mikha begitu saja.


Mendapat pujian dari Alvin seperti itu tentunya Mikha merasa sangat senang dan puas, Mikha terus saja senyum - senyum sendiri. Lalu selang beberapa saat kepergian Alvin, Mikha pun menyusul Alvin naik keatas juga.


Mikha masuk kedalam kamar mereka berdua akan tetapi Mikha tidak menemukan keberadaan Alvin, lalu Mikha memutuskan untuk pergi mandi karena merasa sangat gerah. Mikha memutuskan untuk mencuci rambutnya yang menurutnya sudah sangat lepek itu.


Senyuman diwajah Mikha terus saja mengembang, mungkin bisa dibilang ini adalah hari yang sangat membahagiaan untuk dirinya ya walaupun Alvin belum mengatakan perasaannya secara langsung kepada Mikha. Tapi membayangkannya saja Mikha sudah sangat bahagia. Bahkan Mikha sempat berpikir kalau Alvin tidak akan pernah untuk menyukai dirinya.


Setelah selesai mandi, Mikha segera keluar dari kamar mandi sambil menggulung rambutnya keatas dengan menggunakan handuknya.


Mikha duduk didepan cermin dan tentunya tidak henti - hentinya selalu saja tersenyum sambil melamun. 'Kalau aja Alvin tau kalau gue juga menyukai dirinya dan gue adalah wanita yang bernama Cinta itu, hmm kira - kira gimana ya rekasi Alvin?' Pikir Mikha sambil melamun.


Alvin yang baru saja masuk ke kamar merasa sangat aneh dengan sikap Mikha. 'Mikha kenapa sih? Kok hari ini dia aneh banget?' Batin Alvin.


Alvin lalu menghampiri Mikha dan dengan jailnya Alvin ingin memberikan kejutan kepada Mikha. "DOORRRR!"


"Iya aku juga suka sama kamu..." Ucap Mikha spontan lalu segera menutup mulutnya dengan sangat cepat.


"Lo suka sama gue?" Tanya Alvin.


"Apaan sih lo Vin....yee mengganggu orang aja si lo! Huft." Ucap Mikha dengan kesal dan dengan cepat langsung saja membalikkan tubuhnya.


"Lagian lo aneh banget sih Mik hari ini, lo salah minum obat atau lo lagi sakit sih?" Ucap Alvin sambil memegang kening Mikha.


"Maksud lo apaan?" Ucap Mikha yang merasa tidak terima dengan ucapan Alvin barusan. Mikha langsung saja melepaskan tangan Alvin dari keningnya.


"Oh gue tau...apa lo sedang jatuh cinta ya? Tapi dengan siapa? Bukannya hari ini lo itu hanya interview kerja aja ya?" Tanya Alvin dengan selidik.


Seketika tawa Mikha langsung saja pecah, "Lo itu kalau tidak tau apa - apa jangan sok tau deh. Lagian apapun yang sedang gue pikirkan itu kan tidak ada hubungannya dengan lo. Gue ya jelas happy lah hari ini karena gue baru saja diterima bekerja. Makanya lo mikirnya jangan kejauhan." Ucap Mikha lalu segera mengambil hair dryer nya kemudian segera mengeringkan rambutnya.


'Mikha kenapa sih? Sepertinya ada yang sedang disembunyikannya deh.' Batin Alvin.


'Hampir saja gue ketauan...huft.' Pikir Mikha.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Mikha langsung saja duduk di sofa yang berada dikamar mereka. Tidak seperti biasanya si sikap Mikha seperti ini. Mikha berusaha kerasa untuk menghindari Alvin. Ya setidaknya untuk saat ini.


"Lo kok duduk disana? Lo gak istirahat Mik? Bukannya lo besok udah mulai bekerja ya?" Tanya Alvin.


"Gue masih belum ngantuk Vin, lo tau sendiri kan kalau gue baru saja bangun tadi." Jawab Mikha sambil terus menatap layar diponselnya.


"Oh begitu..."

__ADS_1


Lalu keadaan kembali hening kembali sampai pada akhirnya Alvin yang berinisiatif untuk memulai percakapan duluan.


"Mik..." Panggil Alvin.


"Hmm..."


"Ini ada kasusnya teman gue, dia lagi galau banget karena ada seorang wanita yang sedang mengaku - ngaku kalau dia sedang mengandung Anaknya teman gue ini. Menurut lo ini sebagai temannya gue harus bersikap seperti apa ya? Kalau menurut gue sih teman gue ini gak mungkin untuk menghamili wanita lain disaat dia sudah memiliki pasangan. Gue kasihan sama dia, tapi disatu sisi gue juga tidak bisa berbuat apa - apa." Ujar Alvin.


"Ribet juga ya urusannya teman lo itu. Hmm..kalau gue jadi lo sih gue gak akan ikut campur dengan urusan teman lo itu, biarkan saja dia yang akan menyelesaikan masalahnya itu. Lagian ni ya biarpun lo itu temannya lo juga gak berhak untuk masuk kehubungan mereka." Ucap Mikha dengan bijak.


"Oh begitu ya...."


"Iya.. gue saranin sama lo kalau lo jangan terlibat dengan urusan orang lain. Mendingan lo benerin dulu hidup lo sendiri dari pada sok menjadi pahlawan kesiangan, bukan apa - apa nih Vin...kedepannya lo bisa jadi kena imbasnya." Ujar Mikha.


"Gue gak nyangka kalau lo bisa sebijak ini?" Ucap Alvin.


"Iya dong....Mikha! Tapi sebenarnya gue lebih kasihan lagi dengan pasangan teman lo itu si Vin. Gimana kalau seandainya dia mengetahui hal itu? Gue bisa membayangkan betapa hancur dan sakitnya perasaan dia." Ucap Mikha lagi yang langsung membuat Alvin terdiam seribu bahasa.


'Kalau aja lo tau Mik pasangannya itu lo! Apa lo akan pergi untuk meninggalkan gue?' Pikir Alvin.


"Vin...lo kok jadi bengong begitu sih? Udah deh jangan terlalu memikirkan tentang masalah teman lo itu. Mendingan sekarang lo pergi tidur deh." Ucap Mikha.


"Hah? Siapa yang lagi bengong sih? Sok tau banget si lo Mik. Ya udah kalau begitu gue tidur duluan ya." Ucap Alvin lalu segera berbaring.


'Gimana gue bisa tidur setelah mendengarkan ucapan dari lo itu Mik? Gue harus secepatnya untuk mengetahui kebenarannya karena semakin kesini gue gak ada ngerasain apa - apa kalau Anak yang sedang dikandung Clara itu adalah Anak gue.' Pikir Alvin lalu pada akhirnya dia tertidur dengan lelapnya.


Dan ketika melihat Alvin sudah tertidur dengan lelapnya, akhirnya Mikha berjalan pelan - pelan untuk naik keatar ranjang mereka berdua. Dengan perlahan Mikha membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya.


Mikha sempat untuk memandangi wajah Alvin terlebih dahulu sebelum tidur, 'Mimpi indah ya Vin..gue ini selamanya memandangi wajah lo begini ketika gue tidur.' Batin Mikha lalu akhirnya Mikha memejamkan matanya.


*******


"Kenapa aku ngerasa seperti pernah melihat wajah pria yang berada diapartemen Clara itu ya? Hmm..tapi dimana ya? Sebenarnya siapa pria itu?" Ucap Alan kepada dirinya sendiri.


"Gak..aku gak bisa seperti ini terus menerus, aku akan menyelidiki siapa pria itu sebenarnya. Apa benar Anak yang dikandung oleh Clara itu adalah Anak ada pria itu?" Ujar Alan lalu memutuskan untuk diam - diam memantai siapa yang datang ke apartemen Clara dan mengikuti pria itu.


Selama didalam perjalanan Alan selalu saja memikirkan wajah pria yang pernah lihatnya itu, akan tetapi semakin berusaha dia untuk mengingatnya, semakin dia tidak bisa untuk mengingatnya kembali.


Kemudian Alan mengikutinya keluar dan mengikuti pria itu kemanapun dia pergi. Sedangkan Alvin tidak tau sama sekali kalau dirinya saat ini sedang ada yang mengikuti, Alvin terus saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatannya yang stabil sampai dirinya sampai dikantor.


'Oh ternyata dia bekerja diperusahaan ini....sebentar lagi aku akan segera mendapatkan informasi tentang dirinya.' Pikir Alan.


Setelah Alvin masuk kedalam perusahaan, Alan memarkirkan mobilnya lalu segera masuk juga kedalam perusahaan Alvin.


Baru saja Alan masuk, Alan sudah kehilangan jejak Alvin. dari kejauhan Al yang melihat Alan lalu berjalan mendekati Alan.


"Dokter Alan..." Panggil Al dengan ramah.


"Ya Pak Al...ini perusahaan anda?" Tanya Alan lagi.


"Iya...kalau boleh tau ada keperluan apa ya Dokter Alan sampai kesini? Mari silahkan..." Ucap Al untuk mengikutinya berjalan menuju ruangannya.


"Panggil nama saja Pak...Alan saja sudah cukup." Ucap Alan.


"Oke baiklah Alan...."


Setelah sampai kedalam ruangan Al, Al langsung saja mempersilahkan Alan duduk.


"Mari silahkan Alan..."


"Kalau boleh saya tau apa yang membawa Alan kesini?" Tanya Al dengan sangat penasaran.


'Apa yang harus aku katakan?' Pikirnya.


"Hmm..begini Pak....kemarin sebenarnya pada saat Pak Al dan Istri periksa kandungan, ada hal yang tidak saya sampaikan karena merasa sangat ragu - ragu."


"Oh iya? Katakan saja Alan...."

__ADS_1


"Tapi ini masih belum pasti sih Pak..."


"Tidak apa - apa, katakan saja Alan jangan merasa sungkan ya." Ucap Al dengan ramah.


"Hmm..sebenarnya saya merasa kalau Anak Pak Al dan Istri itu adalah kembar, tapi saya juga masih belum yakin. Bulan depan kalau jadwal pemeriksaan lagi, saya akan memberitahukannya lebih jelas lagi. Tapi saya mohon untuk sementara Pak Al jangan memberitahukan tentang hal ini dulu dengan Istri Bapak. Saya gak mau nantinya Istri Pak Al menjadi kecewa kalau perkiraan saya ini salah." Ujar Alan.


"Apa? Saya sangat senang mendengarnya kalau saja kabar ini benar adanya....Iya saya janji kalau saya tidak akan memberitahukan tentang hal ini dulu kepada Istri saya. Saya menjadi tidak sabar untuk pemeriksaan selanjutnya." Ujar Al dengan sangat bersemangat bercampur bahagia.


"Iya Pak saya juga turut berbahagia untuk Bapak dan Istri Bapak.." Ujar Al.


"Toktoktok!"


"Sebentar ya Alan..."


"Iya Pak jangan sungkan ya...maaf kehadiran saya jadi menganggu kesibukan Pak Al."


"Tidak kok...malah saya senang sekali."


"Masuk..!"


"Kenapa lama sekali sih Kak..." Gerutu Alvin.


"Ada apa sih Vin? Kamu tidak melihat kalau Kakak sedang memiliki tamu pada saat ini." Ujar Al dengan tegas.


"Sorry Kak, Alvin gak tau." Ucap Alvin sambil cengengesan.


'Itu bukannya pria yang aku lihat diapartemen Clara ya?' Pikir Alan.


"Dokter Alan ini kenalin Adik saya satu - satunya.... Alvin ini kenalin ini Dokter Alan yang memeriksa Ara." Ucap Al sambil mengenalkan keduanya.


'Ternyata dia Adiknya Pak Al....Clara kamu memang sungguh luar biasa bisa menaklukkan seorang Alvin.' Pikir Alan.


"Alvin...." Ucap Alvin seraya mengulurkan tangannya dengan tersenyum.


"Alan..." Ucap Alan sambil membalas uluran tangan Alvin.


"Senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan Adiknya Pak Al." Ucap Alan.


"Saya yang sangat senang bisa berkenalan dengan Dokter yang menangani Kak Ara...ternyata Dokternya tampan juga pantas saja Kak Al merasa sangat cemburu bila Kak Ara pergi periksa sendirian." Goda Alvin.


"Alvin...kamu apa - apaan sih." Tegur Al.


"Alvin hanya bercanda kok Kak...Ya udah kalau begitu Alvin tinggal dulu ya." Ucap Alvin lalu segera keluar dari ruangan Kakaknya itu.


"Maafkan ucapan Adik saya ya Alan...dia memang jail banget seperti itu." Ujar Al,


"Iya Pak Al...tidak masalah kok. Apa Adik Pak Al sudah memiliki kekasih? Kalau tidak bisa saya kenalkan dengan teman - teman saya." Tanya Alan.


"Kekasih? Bahkan dia sudah memiliki seorang Istri." Ujar Al.


'Apa! Dia sudah menikah dan memiliki hubungan juga dengan Clara? Ada apa ini sebenarnya? Sepertinya ada hal yang sangat aneh.' Batin Alan.


"Alan...kenapa kok jadi melamun seperti itu sih?" Panggil Al.


"Tidak apa - apa Pak...Kalau begitu saya pergi dulu ya Pak, sekali lagi maaf ya karena telah menganggu waktu Pak Al." Ucap Alan.


"Oke, tidak menganggu sama sekali kok." Ujar Al sambil mengantarkan kepergian dari Alan.


Selama didalam perjalanan, Alan terus saja berpikir keras. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan Clara? Kamu ingin merusak hubungan orang lain? Aku tidak menyangka kamu akan berbuat hal yang serendah ini!" Ucap Alan yang merasa tidak habis pikir dengan Clara.


Setelah ketemu langsung dengan Alvin, Alan baru mengingat kapan dirinya pernah bertemu dengan Alvin. Alan bertemu dengan Alvin dipesta temannya yang merupakan temannya Alvin juga. Dan pada saat itu Alvin didampingi oleh seorang wanita lain yang bahkan tidak dikenal oleh Alan sama sekali.


*******


Semoga semuanya cepat terungkap ya! Itu pasti harapan para reader sekalian kan? Heheh


tenang saja tinggal menunggu hitungan mundur saja semuanya akan segera terungkap kok.

__ADS_1


Jangan lupa like dan comment ya!


Happy Reading Guys!


__ADS_2