
Tetesan air mata berjatuhan tanpa henti dari pelupuk mata seorang wanita yang begitu merindukan sosok putri kecilnya yang telah terpisah begitu lama. Ia mendekap sebuah gelang tangan milik putrinya sembari menatap potret seorang gadis belia cantik yang tengah tersenyum manis.
Kerinduannya semakin terasa nyata saat mengetahui putrinya kini masih hidup, namun jauh berdampingan dengannya. Perasaan rindu yang dia tahan selama berpuluh tahun kini serasa menguap hanya dengan mengetahui bahwa putri kecilnya itu masih hidup.
Sungguh ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putrinya. Berbagai macam perasaan tercampur aduk menggelayuti hatinya. Rasa-rasanya ia ingin memeluk dan mendekap putrinya. Hati seorang ibu mana yang tidak bisa memendam rasa kerinduan terhadap anak-anaknya, terlebih sudah lama tak pernah lagi bersua.
"Makan yuk Ma, Mama kan belum makan dari sejak malam." ucap Aaric kembali menemui Mamanya yang sejak dari pagi tak pernah meninggalkan kamar yang dikhususkan untuk anak perempuannya.
Bu Sofia mendongak, melihat wajah tampan putranya yang kini ikut duduk di sampingnya. Wanita paruh baya itu menggeleng pelan. Ia kembali menatap sebuah photo milik putrinya. Kerinduannya terasa nyata meluas bak samudera di hatinya.
"Mama makan ya, atau mau Aaric yang suapin?" tawar Aaric yang berharap Mamanya segera makan.
"Nggak Ar, Mama nggak mau makan." tolak Bu Sofia yang terlihat lesu tidak bersemangat.
"Ma... Mama harus makan. Aku nggak mau lihat Mama sakit lagi." peringat Aaric yang mengkhawatirkan Mamanya, sebab sejak kemarin Bu Sofia seolah tak berselera hanya untuk sekedar makan.
"Mama mau nunggu Asyilla pulang..." ungkap Bu Sofia lirih.
Aaric menghela napasnya dalam-dalam. Memang salah dirinya juga yang sudah terlebih dahulu memberitahu kebenaran tentang kalau adiknya itu masih hidup. Aaric terlalu bahagia saat itu. Jadinya Mamanya terus berharap untuk segera bertemu dengan anak perempuannya yang telah lama menghilang. Hingga sampai dimana Mamanya setiap hari meminta untuk dipertemukan dengan Asyilla kecilnya. Tapi Aaric selalu bisa beralasan kalau Asyilla belum bisa ditemui. Karena Aaric butuh kepastian agar Asyilla mau menemuinya dan tidak akan ada kesalah pahaman. Dia butuh bukti yang kuat agar bisa menyatakan kalau gadis itu adalah benar Asyilla-adiknya.
Mendengar cerita dari Mamanya beberapa waktu yang lalu, dimana ketika pada suatu malam Mamanya kembali memimpikan putri kecilnya yang hilang meninggalkan dirinya. Rasa ketakutannya akan kembali kehilangan putrinya terus menghantui. Maka dari itu Bu Sofia lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di kamar milik putrinya. Berharap jika Asyilla kecilnya akan segera pulang hingga ia dapat memeluk dan menciumnya untuk melepas rasa dahaga dari kerinduannya yang amat terdalam.
"Mama sabar ya, adek pasti pulang. Aaric janji akan membawa adek pulang secepatnya buat menemui Mama dan Papa."
"Mama kangen sekali dengan Asyilla..."
"Aaric yakin adek juga pasti kangen Mama dan Papanya."
"Kapan Mama bisa bertemu dengan Asyilla Ar, Mama sudah tidak bisa menahan perasaan rindu Mama padanya. Kamu janji akan bawa Mama menemui Asyilla, tapi kapan?" Bu Sofia menangis sendu. Tangisan seorang ibu yang ingin segera bertemu dengan anaknya begitu terdengar lirih dan menyayat hati. Aaric tidak dapat menahan lagi buliran air matanya. Ia segera memeluk Mamanya dengan tangis yang kembali pecah setelah sekian lama ia tidak pernah merasakannya lagi.
"Maafin Aaric, Ma..." ungkap bukti penyesalan pria itu.
"Aaric juga kangen sama adek, Aaric juga mau segera bertemu dengan adek, Ma. Tapi kita harus bersabar. Itu nggak mudah buat Aaric untuk meyakinkan membawa adek pulang ke rumah. Adek sudah memiliki kehidupannya, dia sudah berkeluarga, memiliki seorang suami dan seorang bayi, cucunya Mamah." terang Aaric sembari menghapus air mata yang mengalir di wajah senjanya.
"Mama cuma ingin segera bertemu dengan Asyilla, Ar..."
"Kalau begitu, Mama makan dulu ya? Setelah itu Aaric janji akan membawa adek pulang. Mama harus terlihat kuat dan tidak boleh sedih. Karena adek selama ini sudah hidup susah. Dia membutuhkan sebuah keluarga yang bahagia. Mama harus sehat, kalau Mama sakit adek nanti bakalan sedih." bujuk Aaric. Terlihat ada binar kebahagiaan di mata Bu Sofia setelah anaknya itu berjanji akan segera membawa pulang putri kecilnya.
"Kamu janji akan membawa Mama untuk menemui Asyilla sekarang juga?" tanyanya memastikan.
"Iya, Ma. Aaric akan bawa pulang adek. Mama makan, aku suapin ya?" tawar Aaric. Bu Sofia menggeleng lemah. Membuat raut wajah Aaric semakin memelas.
"Mama makan sendiri aja, Mama mau cepet-cepet ketemu sama Asyilla." ucapnya yang mana membuat Aaric yang tadinya menunduk kini mendongakkan wajahnya dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya.
****
"Silahkan diminum tehnya Mas, Mbak." ucap seorang asisten rumah tangga lainnya yang membawakan minuman untuk Bian dan Kiana yang sudah duduk di ruang tamu bersama putra kecil mereka.
"Terima kasih," balas Bian.
"Mas..." panggil Kiana setelah kepergian asisten rumah tangga tersebut.
"Ada apa sayang?" ucap Bian sembari menyeruput teh hangat yang baru saja di suguhkan di atas meja. Jujur saja, saat ini dirinya begitu gugup. Sejak memasuki rumah tersebut, dadanya terus berdebar dengan begitu kencangnya. Keringat panas dingin sudah membasahi seluruh permukaan kulitnya, kentara sekali terlihat di pelipisnya. Tangannya pun yang sedang memegang cangkir berisi teh hangat bergetar saking gugupnya.
"Apa akan lama?" tanya Kiana. Sungguh, ia merasa kurang betah jika harus berlama-lama di rumah orang. Karena ia sendiri sejak dulu tidak terbiasa dan tidak pernah sama sekali untuk bertamu ke rumah orang atau sekedar berkunjung. Apalagi sejak tadi perasaannya merasa tidak enak. Sepanjang duduk menunggu sang tuan rumah datang, Kiana begitu sangat gelisah.
"Gugup ya?"
Kiana menggeleng pelan. Ia kembali menatap ke sekeliling ruangan yang ada. Dilihatnya ada sebuah lukisan yang begitu indah terpasang sempurna di dinding. Satu lagi yang menjadi perhatian gadis itu, sebuah photo keluarga dimana di dalamnya terdapat potret seorang wanita yang sangat cantik di usianya, serta dua orang laki-laki berbeda usia namun memilki garis wajah yang sangat sama. Dahi Kiana kembali mengerut saat mendapati sebuah boneka Teddy Bear yang diletakkan duduk di sebuah kursi tepat di tengah-tengah mereka.
Kenapa harus sebuah boneka mengambil bagian untuk ukuran sebuah photo keluarga?
__ADS_1
Ah... mungkin boneka itu memiliki kenangan tersendiri bagi keluarga tersebut.
Kiana baru tersadar, sepertinya dia mengenali pria yang lebih muda di dalam photo tersebut. Saat mengingat-ingat, ternyata ingatannya sangat bagus. Pria itu adalah salah satu rekan bisnis suaminya yang pernah ia temui saat makan malam waktu itu. Dan juga Kiana baru teringat setelah sekian lamanya, entah kenapa saat pertama kali melihat pria itu ia seperti pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dan benar saja, ternyata pria itu adalah seorang pria sama yang tak sengaja pernah Kiana temui di salah satu gerai mini market di perumahan tempatnya bekerja dulu.
Tak menyangka, saat ini ia berada di rumah pria yang sudah membayar barang belanjaannya saat itu yang juga ternyata pemilik rumah yang ia kunjungi. Apa pria itu akan mengingatnya? Kalau iya, Kiana akan merasa malu sekali. Tapi kalau pun mengingat, kenapa saat makan malam waktu itu pria tesebut tak menegurnya. Tapi untuk apa juga pria sesibuk dan sekaya itu mengingat dirinya yang saat itu hanyalah seorang pembantu kumal.
"Ganteng ya?" tiba-tiba Bian menyeletuk saat mengetahui istrinya tengah memperhatikan seorang pria. Cemburu sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Kecemburuannya saat ini tidak beralasan kuat agar bisa merajuk pada istrinya.
"Hah?" Kiana cukup terkejut dengan suara Bian yang terdengar tiba-tiba.
"Pria yang tampan, bukan?"
"Iya, memang tampan. Tapi tampan itu relatif Mas. Aku lebih suka melihat ketampanan wajah milik suamiku saja." ujar Kiana dengan sejuta kepolosannya.
"Serius? Apa perkataanmu itu bisa Mas pegang sayang? Jadi... Apa Mas-mu ini jauh lebih tampan dari dia?" Bian menunjuk dengan ujung dagunya.
"Dia siapa?" Kiana bingung tak mengerti.
"Dia! Pria itu namanya Aaric," ketus Bian dengan wajah cemberutnya.
"Oh... temennya Mas itu, kan? Iya memang tampan seperti pemain film, Mas. Memangnya kenapa?" tanya Kiana pura-pura tak mengerti. Di ingin melihat bagaimana reaksi Bian. Padahal dia sendiri pun tengah menahan tawa. Bisa dipastikan kalau suaminya itu sedang kesal.
"Sudahlah," putus pria itu kesal setengah mati.
"Ehem!" dehaman dari seseorang membuat keduanya terdiam. Nama yang baru saja mereka bicarakan kini orangnya sedang berada di depan mata mereka. Bian semakin sebal saja saat melihat Aaric yang seolah sedang memperhatikan istrinya dari atas kepala hingga ujung kaki. Namun ada yang beda dari tatapan pria itu. Bukan sebuah tatapan mendamba. Tetapi Bian dapat melihat tatapan pria itu seolah menyiratkan sebuah kerinduan yang mendalam.
"Ar, apa sebaiknya--"
"Bukankah ini sudah waktunya?" tanya balik Aaric tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Kiana. Kini Aaric dapat melihat secara langsung oleh kedua matanya sosok seorang gadis yang sangat dia percaya disinyalir adalah adiknya yang telah lama menghilang.
Yang dipandangi oleh seorang pria yang bukan suaminya justru merasa risih dan sedikit takut. Kiana membalas tatapan dari pria itu yang tak pernah teralih darinya. Sedikit penasaran mengapa pria itu menatapnya seperti itu. Apa ada yang salah dengan dirinya. Tetapi Kiana dapat merasakan tatapan pria itu berbeda. Dari sorot manik mata pria itu seperti tengah menyampaikan sesuatu padanya. Kiana meraih lengan Bian untuk ia dekap sekedar menetralkan rasa ketakutannya.
"Apa kamu sudah mengatakannya? Apa dia tahu?"
Bian menggeleng pelan, "Belum."
Aaric tersenyum sinis kala mendengar jawaban dari Bian. "Sudah kuduga," balasnya seraya menghela napas sebanyak-banyaknya.
"Apa dia..." tunjuknya pada Al yang menempel pada pangkuan Bian. Bayi itu mengerjap-ngerjap memperhatikan orang baru yang ada di depannya.
"Ya, namanya Albio. Nama yang indah pemberian dari istriku." balas Bian yang menoleh sekilas pada Kiana dengan sebuah senyuman tipis.
"Keponakan laki-lakiku..." lirih Aaric dengan mata yang mulai berembun.
"Mas..." panggil Kiana yang semakin bingung dengan pembicaraan kedua pria itu. Apa maksudnya coba? Kenapa teman suaminya itu menyebut Al sebagai keponakannya? Apa pria yang bernama Aaric itu merupakan salah satu bagian dari keluarga suaminya?
"Mama dan Papa sudah menunggu," ucap Aaric, tapi ia berbicara malah tertuju pada Kiana. Gadis itu mengerungkan dahinya. Ia menoleh pada Bian yang malah ikut menganggukkan kepalanya untuk mengikuti langkah Aaric yang lebih dulu berjalan meninggalkan mereka.
****
"Ma, Mama tenang dulu. Biarkan Aaric berbicara dengan mereka. Mama di sini aja ya sama Papa. Kita tunggu sampai Aaric membawa Asyilla pada kita." ucap Pak Halim menenangkan istrinya.
"Tapi Mama mau ketemu sama Asyilla, Pa..."
"Iya, tapi sabar. Asyilla pasti terkejut kalau tiba-tiba Mama datang dan mengaku-mengaku sebagai Mamanya."
"Tapi Mama rindu Pa..."
"Papa tahu Mama sangat rindu. Itu juga yang Papa rasakan selama ini. Papa mohon agar Mama bisa bersabar sebentar lagi. Mama nggak mau kan kalau Asyilla memilih pergi dibandingkan untuk bertemu dengan kita? Ingat Ma, Aaric pernah bilang kalau kemungkinan besar Bian belum memberitahu siapa jati diri istrinya yang ternyata adalah Asyilla anak kita." jelas Pak Halim terus berusaha menenangkan istrinya yang keukeuh ingin melangkahkan kakinya dimana anak-anaknya berada.
Suara derap langkah saling berirama mendekati sepasang suami istri yang tengah saling menguatkan itu. Mata Bu Sofia seketika melebar kala melihat pemandangan sesosok gadis yang sangat ia nantikan keberadaannya selama ini.
__ADS_1
"Asyilla..." lirih Bu Sofia dengan suara bergetar kala melihat penampakan putri kecilnya yang kini sudah menjelma menjadi seorang gadis cantik berjalan beriringan dengan Bian dan juga seorang bayi kecil dalam dekapan pria itu.
"Ma..." panggil Aaric pada Mamanya yang dengan sekuat tenaga melangkah mendekati dirinya. Meski tubuhnya lemah dan terasa lemas, ia tetap memaksakan diri karena pada akhirnya ia dapat melihat wajah putri kecilnya yang selama ini ia lihat hanya dalam sebuah photo.
Aaric meraih raga ibunya yang hampir saja terhuyung karena terburu-buru ingin meraih Kiana untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Namun gadis itu dengan cepat menghindar karena merasa bingung dan aneh dengan sikap seorang wanita paruh baya yang baru ia temui itu.
"Sabar Ma..." ucap Pak Halim yang setia merangkul bahu istrinya. Menahan bobot tubuh Bu Sofia yang hampir saja terjatuh.
"Mama nggak boleh begini, pelan-pelan Ma. Nanti jatuh." peringat Aaric ikut menasehati Mamanya.
"Asyilla..." panggil Bu Sofia kembali dengan suara bergetar menahan tangis yang terdengar begitu menyayat hati. Kini dihadapannya sudah berdiri putri kecilnya yang selama ini dia tunggu kepulangannya. Ada, begitu dekat dengan dirinya namun belum dapat dia rengkuh untuk memeluknya. Sakit tentu saja. Walau bagaimana pun ia ingin segera melepaskan rasa kerinduan yang sudah menggunung di dalam dirinya.
"Asyilla... anak Ma-mama..." ucap Bu Sofia lirih masih dengan suara bergetarnya.
Kiana sempat memaku disaat wanita yang dia duga sebagai ibu dari pria bernama Aaric itu menatapnya dengan tatapan penuh arti. Kedua netranya seolah tak lepas menatap lamat-lamat dirinya tanpa teralih sekalipun. Apalagi dengan jelas dia mendengar wanita itu memanggilnya dengan nama Asyilla? Siapa itu Asyilla? Kenapa wanita itu memanggilnya dengan nama Asyilla? Apa tidak salah wanita itu memanggilnya?
Kiana mengedarkan pandangan matanya untuk mencari sosok yang bernama Asyilla yang disinyalir sebagai nama anaknya. Tapi ia sama sekali tak melihat siapapun lagi selain mereka yang berada di ruangan itu. Kiana akhirnya menatap suaminya yang ternyata tengah menatapnya juga. Manik mata mereka saling bersitubruk. Sorot matanya seolah mengisyaratkan tengah berbicara menanyakan tentang apa yang sedang terjadi.
Bian yang juga tengah menatap Kiana hanya mampu tersenyum kemudian mengusap lembut pipi Kiana. Pri itu hanya menganggukkan kepalanya membuat kening Kiana kembali mengerut.
"Mama dan Papa kangen sama kamu, dek..." ucap Aaric di sela keheningan yang hanya terdengar suara Isak dari Bu Sofia. "Kakak juga kangen sama kamu..." imbuh Aaric lagi dengan mata yang sudah mengembun.
Kiana menoleh pada pria yang baru saja berbicara padanya. Tentang apa yang diucapkan oleh pria itu membuatnya semakin merasakan kebingungan. Sebenernya apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang ditangisi oleh ibu itu? Dan omong kosong apa lagi yang dikatakan oleh pria yang bernama Aaric itu yang jelas-jelas ditujukan padanya.
"Mama kangen kamu sayang..." lirih Bu Sofia yang berjalan tertatih untuk lebih mendekat pada putrinya yang hanya diam membisu.
"Mas?" Kiana memanggil Bian sembari beringsut dan semakin mengeratkan pelukan di lengan suaminya saat melihat wanita paruh baya itu semakin mendekat seolah ingin meraihnya.
"Mas? Ada apa ini? Apa maksud semuanya? Aku nggak ngerti, aku bingung. Kenapa kita harus ada di sini?" racaunya yang terlihat nyata memperlihatkan ketakutannya.
"Asyilla... ini Mama sayang... Mama kangen sama kamu, Nak..."
"Mas..." Kiana semakin takut saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Bu Sofia. Terlebih wanita itu terus menangis sejak saat pertama kali ia melihat wanita itu berdiri di samping seorang pria yang mungkin adalah suaminya.
"Nggak apa-apa sayang," Bian mencoba menenangkan Kiana.
"Mas, apa maksud semuanya. Kenapa ibu itu panggil aku dengan nama lain yang dianggap anaknya?"
"Sayang..."
"Kita pulang ya Mas..." pinta Kiana memelas. Wajahnya terlihat pucat karena menahan rasa takutnya.
"Nggak sekarang, kita belum bisa pulang. Maafin Mas sayang," ucap Bian menyesal.
"Kenapa? Kenapa kita nggak bisa pulang sekarang?"
"Karena--" Bian bingung harus menjawab apa. Ia merasa kelu sekali untuk memberitahu tentang kebenaran jati diri dari istrinya.
"Karena apa Mas?" desak Kiana yang kesal karena suaminya itu susah sekali untuk berbicara.
"Karena kamu harus mendengar tentang semua kebenaran tentang siapa jati diri kamu sebenarnya." bukan Bian yang berbicara, tapi ternyata Aaric yang ikut menyela.
"Jati diriku?" gumam Kiana kebingungan.
"Ya, jati diri kamu Kiana. Kamu tahu? Kamu adalah Asyilla. Kamu adikku. Adik kecilku yang telah lama hilang dan kini telah kembali pulang." ungkap Aaric yang sudah tak bisa menahan untuk mengungkap semuanya. Setetes air bening tanpa permisi jatuh dipelupuk matanya.
Kiana terdiam membisu. Menelaah setiap kalimat yang ia dengar dengan jelas dari mulut seorang pria yang mengaku sebagai kakaknya. Apa yang pria itu bilang? Dia adalah Asyilla. Sebuah nama yang baru ia dengar dan terus di sebut oleh seorang wanita yang menangisinya.
"A-syilla..." ucap ulang Kiana dengan lirih. Dadanya begitu terasa sesak. Kepalanya pun ikut terasa pening saat mencerna berulang kalimat Aaric.
"A-aku, aku..." Kiana tak mampu lagi meneruskan kalimatnya. Suaranya seolah tercekat. Terkejut sudah pasti. Tetapi Kiana tak percaya begitu saja. Ia kembali menatap wajah suaminya yang menyiratkan kekhawatiran. Apa ini hanya sebuah lelucon belaka?
__ADS_1
"Ini Mama, Nak..." tiba-tiba saja Bu Sofia meraih tubuh Kiana yang tengah linglung kemudian ia peluk seerat mungkin untuk menyalurkan rasa rindu pada putri kecilnya itu.