SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 149


__ADS_3

Mikha terus saja melanjutkan pekerjaannya sampai - sampai dia tidak melihat jam sama sekali sangkin seriusnya, Mikha tidak menyadari kalau hari sudah semakin sore menjelang malam, tubuhnya rasanya begitu lelah karena seharian duduk terus sambil menatap laptop yang ada dihadapannya pada saat ini, karena merasa sangat haus akhirnya Mikha mengambil cangkir yang ada didekatnya sambil terus menatap layar laptopnya.


Begitu Mikha ingin meneguk minumannya, ternyata cangkirnya tersebut sudah kosong dengan berat hati akhirnya Mikha memutuskan untuk mengambil minumannya kembali. Mikha berjalan menuju pantry sesampainya disana Mikha mengisi cangkirnya lagi dengan penuh, lalu Mikha membuka kulkas. Kemudian Mikha mengambil beberap snack dan roti untuk dimakannya menemani dirinya yang saat ini sedang lembur.


Kemudian Mikha berjalan kembali menuju ruangannya, sesampainya disana Mikha yang sedari tadi kesusahan memegang semuanya, langsung saja meletakkan semua makanannya tepat diatas meja kerjanya.


'Sekarang sudah jam berapa sih? Kok udah sepi ya?' Pikirnya lalu menatap jam tangannya.


"Pantesan udah sepi, ternyata sudah jam segini. Astaga, aku harus segera kasih kabar dengan Kak Ara, kalau tidak dia pasti akan sangat khawatir." Ucap Mikha lalu mengambil ponselnya dan dengan segera langsung menghubungi Ara.


Tidak berapa lama kemudian panggilan teleponnya sudah terhubung, "Ya Mik..."


"Kak, Mikha mau ngabari kalau hari ini Mikha lembur lagi deh. Mendingan Kak makan malam duluan aja ya gak usah nunggu Mikha pulang seperti kemarin malam."


"Oh begitu ya Mik....ya udah deh, padahal Kak boring banget tau gak sih dirumah sendirian seperti ini. Ya udah kamu selamat lembut ya dan semoga pekerjaan kamu cepat selesai ya. Kamu jangan lupa kasih kabar juga sama Alvin ya, ntar dia khawatir lho."


"Siap Kak...thanks ya Kak! Iya nih rencananya setelah menghubungi Kakak, Mikha berencana untuk menelepon Alvin kok Kak."


"Iya sama - sama, Alvin pasti disana sangat gelisah itu Mik karena kamu gak ada kabar..."


"Biarin aja Kak, lagian ini semua juga gara -gara dia tau gak Kak..."


"Kok bisaa?"


"Duh Kak panjang banget ceritanya, ntar aja deh baru Mikha ceritain ya setelah sampai dirumah."


"Oke oke! Ya udah ntar mendingan kamu pulangnya dijemput sama Pak Wira aja ya Mik."


"Boleh Kak, ya udah ntar kalau Mikha sudah mau pulang, Mikha langsung hubungi Pak Wira aja ya Kak."


"Baiklah Mik...Kalau begitu sampai ketemu dirumah ya."


"Iya Kak..Bye.."


Setelah itu Mikha mengakhiri panggilannya kepada Ara, Mikha langsung mengubungi Alvin.


"Hallo sayang...tadi telepon aku kok kamu riject? Kenapa?"


"Ih kamu ya Vin...ngeselin banget tau gak, ini semua gara - gara kamu tau gak."


"Lho kok kamu jadi marah - marah begini sama aku? Emangnya aku ada salah apa?"


"Tadi sewaktu kamu nelepon aku, dikantor lagi ada penyambutan Bos baru, eh kamunya malah main telepon - telepon ya terpaksa harus aku riject lah."


Alvin hanya tertawa saja mendengarkan kekesalan Mikha saat ini. "Tuh kan kamu tuh ya...udah ah kalau kamu ketawa terus seperti ini mendingan aku matiin aja nih teleponannya sama kamu." Ancam Mikha.


"Jangan dong sayang, aku hanya lucu aja sambil bayangin wajah kamu yang sedang gugup itu. Pasti kamu sangat menggemaskan ya sayang...duh sayangnya aku lagi tidak ada disana."


"Benar - benar aku matiin ini ya telepon kamu!"


"Iya...iyaa, sorry sayang. Tuh kan udah ngambekan aja nih kamu. Kamu udah sampai rumah kan?"


"Boro - boro sampai rumah, aku aja lagi lembur ini Vin..."


"Kok bisa sih sayang? Kamu kan masih baru bekerja? Baru juga beberapa hari."


"Ini semua gara - gara kamu!"


"Lah apa hubungannya dengan aku coba?"


"Ya adalah, tadi kan ponsel aku berdering dan terdengar sampai ke Bos baru ku, jadinya dia manggil aku kedepan. Sumpah ya Vin, aku tadi malu banget."


"Lah terus kamu kok nyalahin aku? Kan jelas - jelas kamu sendiri yang lupa untuk tidak mengaktifkan nada dering ponsel kamu?"


"Iya sih, tapi kan biasanya gak ada yang nelepon...ini kamu main telepon -telepon aku aja diwaktu yang tidak tepat lagi."


"Oke sorry sayang, aku minta maaf. Udah ya jangan marah - marah terus sama aku, aku sedih tau kamu marah terus begini."


"Iya habisnya kamu nyebelin! Udah dulu ya Vin ada Bos aku nih, ntar kalau aku udah pulang aku telepon kamu lagi ya. Bye!"


"Tunggu Mik...."


"Halo...halo...!"


Kemudian Alvin melihat kalau panggilannya sudah berakhir. "Ya ternyata hubungan LDR ini gak enak ya, sumpah aku rasanya tersiksa sekali...kapan sih urusan disini selesai?" Gerutunya dengan cemberut sambil uring - uringnya diatas tempat tidurnya saat ini.


Sedangkan ditempat lain, Mikha yang saat ini sedang berhadapan dengan Bosnya menjadi salah tingkah sendiri, pasalnya tinggal dirinya saja pekerja yang belum pulang.


"Pak Alex, ada apa ya kemari?" Tanya Mikha yang mulai salah tingkah.


"Kamu masih belum selesai ya?" Ucap Alex.


"Tinggal sedikit lagi kok Pak, ini jaringan situs webnya sedang bermasalah Pak."


"Kalau begitu kamu lanjut besok saja ya, ini sudah malam lho." Ujar Alex.


"Gapapa kok Pak...Lagian naggung Pak kalau ditinggal sekarang." Ujar Mikha masih keras kepala.


"Oke kalau begitu mau kamu...saya tinggal dulu ya." Ujar Alex.


"Iya Pak.." Jawab Mikha.


Setelah kepergiaan Alex, Mikha kembali untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. "Duh ini jaringan kenapa seperti ini terus sih? Kalau begini terus gimana aku bisa pulang?" Gerutu Mikha dengan kesalnya.


"Ayo Mikha semangat!" Ujarnya kepada dirinya sendiri.


Setelah itu Mikha terus saja bersemangat untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya saat ini, Mikha berusaha untuk menggunakan waktunya dengan sebaik - baiknya, Mikha terus saja konsentrasi untuk melanjutkan pekerjaanya saat ini.


Waktu terus berjalan sampai pada akhirnya dia sudah menyelesaikan pekerjaannya saat pukul sudah menunjukkan jam 10 malam. Kemudian Mikha mengangkat kedua tangannya keatas untuk merenggangkan otot - ototnya pada saat ini.


"Akhirnya selesai juga!" Ucapnya dengan sangat senang.


Kemudian Mikha segera menghubungi Pak Wira, tidak berapa lama kemudian Pak Wira sudah menjawab panggilannya.


"Ya Non Mikha..."


"Pak bisa tolong jemput saya gak?"


"Boleh Non...saya memang sedari tadi sedang menunggu telepon dari Non Mikha."


"Oh Kak Ara pasti udah kasih tau ya sama Pak Wira...jalan sekarang ya Pak, kalau begitu saya tunggu Bapak didepan kantor ya."


"Baik Non..."


Kemudian Mikha segera keluar dari ruangannya, Mikha berjalan seorang diri tanpa perasaan takut sama sekali, akhirnya Mikha sudah berada diluar kantor. Mikha berdiri tepat didepan kantornya sambil terus melihat ponselnya.


"TIN...TIN...TINNN..."


Mikha langsung melihat bahwa sekarang sudah terparkir dihadapannya sebuah mobil mewah yang berwarna silver. Mikha berjalan mendekat, kemudian kaca mobilnya terbuka.


"Pak Alex...lho bukannya Bapak tadi sudah pulang ya?" Tanya Mikha dengan sedikit bingung.

__ADS_1


"Ayo masuk biar saya antar kamu...ini sudah terlalu larut lho." Pinta Alex.


"Gak usah Pak, saya dijemput kok. Bapak diluan aja ya." Mikha berusaha untuk menolak Alex dengan cara sehalus mungkin agar Alex tidak merasa sakit hati.


"Dijemput ya...saya kirain kamu tidak ada yang jemput, kalau begitu saya temenin kamu disini sampai yang jemput kamu datang ya." Ucap Alex lalu segera mematikan mesin mobilnnya.


"Tidak usah Pak..." Ujar Mikha yang sudah tidak dihiraukan lagi oleh Alex.


"Maaf Pak saya jadi tidak enak nih sama Pak Alex." Ujar Mikha lagi.


"Gak apa - apa kok Mik, kan saya tidak merasa keberatan." Ujar Alex sembari tersenyum.


"Terimakasih ya Pak..."


"Oh iya bisa tidak kalau tidak usah memanggil saya dengan Pak Alex setelah jam kantor?" Pinta Alex.


"Maksud Bapak gimana ya?" Tanya Mikha bingung.


"Saya merasa kalau saya ini sudah terlalu tua sekali kalau kamu terus menerus memanggil saya dengan sebutan Pak Alex, ya setidaknya pada saat tidak jam kantor seperti ini." Ujar Alex.


"Tapi Pak...saya benar - benar tidak bisa melakukannya, sorry ya Pak saya duluan karena mobil jemputan saya sudah datang." Ujar Mikha dan langsung saja berjalan cepat meninggalkan Alex.


Alex terus saja menatap Mikha sampai masuk kedalam mobilnya, bahkan Alex terus menatap mobilnya sampai tidak kelihatan lagi.


'Kenapa kamu tidak bisa Mikha? Padahal permintaanku tidak terlalu sulit...' Batin Alex.


Kemudian Alex langsung masuk lagi kedalam mobilnya lalu segera melajukan mobilnya untuk kembali kerumahnya.


********


Akhirnya Mikha sampai juga dirumah, Mikha langsung bergegas turun dari mobil lalu segera masuk kedalam rumah. Dia memutuskan untuk makan sedikit saja, karena sedari tadi perutnya telah kosong, takutnya kalu tidak diisi Mikha akan masuk angin. Jadi Mikha memutuskan untuk makan dulu baru setelahnya dia langsung kekamar.


Setelah selesai makan, Mikha langsung naik keatas untuk menuju kamarnya, Mikha bahkan sudah membayangkan akan kasur empuknya itu. Karena merasa sangat gerah akhirnya Mikha memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, Mikha mandi dengan air hangat karena sudah sangat larut.


Seusai mandi, Mikha langsung mengenakan piyama tidurnya, ponselnya sudah berdering dengan sangat nyaring lagi dan kali ini Mikha sudah bisa menebak siapa yang telah menghubunginya pada saat ini.


"Itu pasti kamu kan Vin? Dasar gak sabaran banget sih?" Ucap Mikha sembari tersenyum.


Kemudian setelah melihat nama dari si penelepon Mikha langsung menjawab panggilannya itu.


"Ada yang bisa dibantu?"


"Ada...bisa gak jangan terlalu lama memberikan kabar sama aku?"


Mikha hanya tersenyum saja.


"Biar aku tebak pasti kamu lagi senyum - senyum sendiri kan?" Tebak Alvin.


"Enggak kok...sotoy banget sih Suamiku ini..."


"Oh iya? Coba aku mau lihat, aku udah mengalihkan panggilan teleponnya menjadi video call Mik....mana wajah kamu?"


"Enggak aku gak mau kasih lihat sama kamu."


"Ya Mikha...kamu jangan nyiksa aku speerti ini dong...kamu gak lupa kan kalau kita saat ini sedang berjauhan?" Rengek Alvin.


"Iya...iya, ya udah deh dengan terpaksa aku kasih lihat nih muka aku sama kamu...kasihan ada yang lagi tersiksa."


"Nah gitu dong sayang...duh kamu cantik banget sih? Akunya jadi makin kangen nih."


"Dasar gombal!"


"Lah aku kan muji kok malah dibilang gombal sih? Apa kamu gak kangen ya sama aku?"


"Oh begitu ya!"


Lalu Mikha tertawa lepas melihat ekspresi bete dari Alvin.


"Ketawa aja terus sampai kamu puas!"


"Kalau kamu ngambek begini lucu juga ya Vin...."


"Ih dasar gak peka! Aku begini kan karena kamu bilang kamu gak kangen sama aku, kamu tau gak sih Mik kalau aku disini terus kepikiran kamu? kamu gak tau betapa tersiksanya aku disini..."


"Iya..iya maaf deh, aku hanya bercanda doang kok tadi. Aku malah tidak berpikir kalau kamu akan memiliki ekspresi seperti ini. Oh aku baru tau, dibalik diri kamu yang playboy ternyata kamu itu ngambekan ya orangnya?" Ujae Mikha lalu kembali tertawa.


"Iya terus aja ketawa terus...."


"Ya ada yang baper, iya deh aku gak ngejekin kamu lagi. Oh iya hari ini kamu ngapain aja? Udah makan malam kan?"


Siapa yang gak baper coba diledekin sama Istri sendiri. Hari ini aku kerja terus lah, belum makan."


"Heheh,lah berarti kamu bohong dong? Kenapa kok belum makan?"


"Lah kenapa bohong? Kamu tanya kan aku jawab? Jadi bohongnya dimana sih? Iya belum makan kamu maksudnya."


"Katanya kamu mikirin aku terus? Tapi waktu aku tanya tadi kamu malah jawab kerja terus. Gimana sih? Gak konsisten sekali. Aku bukan sejenis makanan Alvin."


"Oh iya...ya aku kerjanya gak konsentrasi karena mikirin kamu terus...begitu maksud aku. kamu itu sejenis makanan yang sangat enak didunia."


"Yee dasar! Jadi kamu anggap aku makanan nih? Sumpah parah banget." Ujar Mikha.


"Susah emang kalau ngomong sama orang yang tidak peka sama sekali..." Ujar Alvin dengan kesalnya.


"Maksud kamu itu gimana sih?" Tanya Mikha yang memang tidak mengerti.


"Dasar payah! Aku males deh jelasin sama kamu. Biar aja ntar sampai kamu tau sendiri."


"Ya udah...emang aku gak ngerti kok." Ucap Mikha dengan polosnya.


"Kamu itu terlalu lugu, polos atau **** sih?" Tanya Alvin.


"Jadi kamu bilang aku **** nih? Aku tutup nih ya telepon kamu!" Ancam Mikha.


"Jangan ditutup dong...."


"Habisnya kamunya ngeselin banget deh Vin, kamu tau gak sih kalau hari ini aku itu capek banget! Benar - benar capek dan lelah banget deh." Ucap Mikha dengan manja.


"Duh kasihannya Istriku ini, andai saja aku ada disana ya, pasti akan aku pijitin deh kamu."


"Iya tapi sayangnya kamu jauh Vin...kapan sih kamu baliknya?" Tanya Mikha.


"Kenapa emangnya? Udah kangen banget ya?"


"Gak sih, cuma pengen tau aja. Kalau aku sih maunya kamu itu pulangnya lama lagi." Ujar Mikha.


"Dasar jahat! Gak mau banget sih ngaku sama aku kalau kamu itu kangen aku juga makannya pengen cepat - cepat aku pulang."


Pipi Mikha saat ini sudah bersemu merah.


"Gak akan deh...."

__ADS_1


"Oh iya? Ayo kita taruhan.... siapa yang kangen dia akan menghubungi duluan besok."


"Oke! Aku jamin kalau aku akan menang Vin, kan kamu yang ngubungi aku terus?"


"Jangan terlalu pede Nona, kali ini aku sangat bertekat untuk menang, jadi biarpun aku kangen sama kamu sebisa mungkin aku tidak akan menghubungi kamu."


"Oh iya? Oke deal!" Ujar Mikha.


"Kamu kenapa pake piyama seksi begitu terus sih?"


"Iya sengaja karena kamu gak ada disini dan biar kamu lihat juga, aku ingin semakin menyiksa kamu Vin."


"Oh begitu ya? Dasar jahat banget sih kamu!"


"Biarin lah yang penting aku puas."


"Ya udah deh terserah kamu aja...kamu tidur gih udah jam segini, kasihan kamu besok kan mau kerja." Ujar Alvin.


"Iya nih aku udah ngantuk banget, ya udah aku tidur duluan ya Vin...good nite, kamu tidur juga dong biar barengan." Ujar Mikha.


"Eits beneran mau tidur barengan nih?"


"Maksud aku bukan seperti itu, dasar kamu ya kotor terus mikirnya! Udah ah."


"Ya udah aku tungguin kamu sampai tidur ya Mik, baru setelah itu baru aku matikan teleponannya."


"Ya udah terserah kamu aja, aku letak seperti ini aja hpnya ya."


"Iya sayang...good nite, nice dream! Emmuah..."


"Good nite...."


Setelah menyaksikan Mikha tertidur dengan sangat lelapnya, akhirnya Alvin mengakhiri panggilan teleponnya juga. Alvin pun memutuskan untuk beristirahat juga.


*******


"Pagi Mik..." Sapa Ara yang saat ini baru turun dari kamarnya lalu menuju ruang makan dan tanpa sengaja sudah menemukan Mikha yang telah duduk disana juga.


"Pagi juga Kak..." Ujar Mikha yang masih merasa sangat ngantuk.


"Kamu pulang jam berapa tadi malam Mik? Sepertinya Kakak sudah ketiduran deh." Ujar Ara.


"Hmm...jam 10 an gitu deh Kak, tapi setelah itu teleponan sama Alvin sampai lupa waktu...eh gak taunya sudah sampai jam 2 dini hari aja." Ujar Mikha sembari menguap.


Ara hanya tertawa lepas aja mendengarkan ucapan Mikha.


"Emang begitu Mik kalau udah teleponan jadinya lupa waktu, oh iya mengenai yang kamu bilang semalam malam itu, kenapa ya? Kenapa kamu bilang kamu lembur itu karena Alvin?" Tanya Ara yang mulai mengingat soal semalam.


"Oh itu Kak...gimana gak kesal dan malu tau gak kak, karena Alvin nelepon aku, aku jadinya disuruh ngerjain berkas yang lumayan banyak. Alvin menelepon aku pada saat - saat yang tidak tepat Kak." Ujar Mikha menjelaskan dan mengeluarkan unek - uneknya.


"Tapi Kakak masih tidak mengerti kenapa itu berhubungan dengan Alvin?" Tanya Ara lagi sambil mengerutkan keningnya.


"Jadi begini Kak...kan Alvin menghubungi Mikha pada saat perkenalan Bos barunya dikantor Mikha, Mikha lupa untuk tidak mematikan suara panggilan teleponnya. Eh Alvin malah menghubungi Mikha, ya gimana tidak malu karena hal itu Mikha jadi pusat perhatian lalu disuruh kedepan Kak. Duh malu banget rasanya kalau mengingat apa yang sedang terjadi kemarin itu." Uajr Mikha menjelaskan panjang lebar.


"Wah...bisa Kakak bayangkan sih gimana malunya kalau jadi kamu Mik..." Ujar Ara sembari tertawa lepas.


"Udah dong Kak...Happy banget sepertinya melihat Mikha seperti itu." Ujar Mikha dengan muka cemberut.


"Sorry...sorry Mik. Habisnya kamu lucu banget sih. Kakak gak bermaksud untuk ketawain kamu kok."


"Iya Mikha tau kok Kak...sepertinya Miikha harus pergi sekarang ini Kak. Sampai ketemu nanti ya Kak." Ujar Mikha seraya berpamitan kepada Ara, Mikha langsung beranjak pergi.


Selama didalam perjalanan, Mikha selalu saja memeriksa ponselnya, akan tetapi memang tidak ada pesan dari Alvin sama sekali, Mikha sendiri ketika ingin mengirimkan pesan memutuskan untuk menghapuskan kembali kata - kata yang sudah dirangkainya itu.


'Alvin sepertinya benar - benar bertekad ingin menang! Oke sepertinya aku juga gak boleh kalah.' Batin Mikha lalu kembali meletakkan ponselnya kembali kedalam tasnya.


Akhirnya Mikha tiba juga didepan kantornya tempat dia bekerja, Mikha langsung bergegas turun dari mobil. "Terimakasih ya Pak..."


"Iya Non..." Balas Pak Wira lalu segera pergi dari sana dengna cepat.


Mikha langsung masuk kedalam kantornya, kemudian Mikha segera masuk kedalam ruangannya untuk mengecek kembali pekerjaannya tadi malam sebelum pagi ini akan diserahkannya kepada Bosnya itu. Setelah benar - benar begitu yakin, akhirnya Mikha  menyalin filenya itu didalam flashdisk.


Kemudian Mikha merapikan berkas - berkasnya lalu segera membawanya kembali ke ruangan Bosnya, sejujurnya Mikha merasa snagat gugup karena ini kali pertama dirinya begitu yakin dengan ide - idenya sendiri.


Sebelum mengetuk pintu ruangan Bosnya tidak lupa Mikha menarik nafasnya terlebih dahulu baru setelahnya dia menghebuskannya dengan cara perlahan. 'Semangat Mikha...yang terpenting kamu sudah berusaha yang terbaik.' Batinya.


Baru akhirnya dirinya memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan Bosnya itu, "TOKTOKTOK!"


"Masuk!"


Kemudian Mikha masuk kedalam ruangan dari Pak Alex sambil tersenyum gugup.


"Sudah selesai?" Tanya Alex.


"Iya Pak, sudah...ini berkas yang kemarin Bapak kasih sama saya dan didalam flashdisk itu adalah ide - ide yang sudah saya tuangkan ya Pak." Ujar Mikha.


"Baiklah kalau begitu kamu bisa duduk terlebih dahulu selagi sama memeriksa file yang kamu berikan ini." Pinta Alex.


"Baik Pak." Ujar Mikha singkat lalu duduk dikursi yang berada dihadapan Alex.


Alex melihat semuanya dengan sangat teliti sambil mengecek segalanya secara serius.


"Iya benar - benar merupakan ide kamu sendiri?" Tanya Alex lagi untuk memastikannya.


"Iya Pak...kenapa Pak? Tidak bagus ya?" Ucap Mikha yang mulai merasa tidak percaya diri.


Alex mengeleng dengan sangat cepat, "Saya tidak menyangka kalau kamu bisa memikirkan ide sebagus ini! Bahkan saya sendiri tidak berpikiran sampai kesana..." Puji Alex.


"Bapak serius muji ide saya?" Tanya Mikha yang masih tidak percaya.


"Iya Mik, tidak sia - sia saya memberikan berkas ini untuk kamu kerjakan. Saya akan mempelajarinya file yang kamu berikan ini lebih lanjut lagi ya." Ujar Alex.


"Terimakasih Pak...ini adalah kali pertamanya saya bisa untuk menuangkan ide- ide saya sendiri." Ucap Mikha dengan penuh haru.


"Iya sama - sama, sepertinya kemampuan kamu masih harus diasa lagi deh. Kamu ini benar - benar sangat berbakat Mikha..." Puji Alex.


"Bapak jangan terlalu memuji saya seperti itu...Baik Pak saya akan lebih banyak belajar lagi untuk kedepannya." Ujar Mikha.


"Ya udah kamu sudah bisa untuk kembali bekerja lagi ya, saya akan mempelajari file ini dulu."


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu ya." Ujar Mikha lalu meninggalkan ruangan Bosnya itu dengan perasaan yang campur aduk, Mikha merasa sangat senang karena idenya dapat diterima dengan sangat baik, akan tetapi dirinya tidak ingin semudah itu untuk langsung puas karena Mikha masih ingin mengasah kemampuannya dengan cara belajar dan belajar terus.


Setelah pintu ruangan Bosnya itu tertutup, Mikha yang masih terpaku ditempat seakan masih tidak bisa percaya dengan apa yang barusan terjadi. 'Sumpah demi apapun aku sangat senang...aku harus belajar lebih baik lagi kedepannya! Semangat Mikha!' Ucapnya didalam hatinya.


*******


Nah lho jangan pada baper yak dengan Alvin dan Mikha?


Si Bos kok masih penasaran terus ya dengan Mikha? Padahal jelas - jelas dia sudah mengetahui kalau Mikha sudah menikah? Hmm...


Like & Comment!

__ADS_1


Happy Reading Guys!


__ADS_2