SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 162


__ADS_3

Clara hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa Cla? Kenapa kamu masih mencintai Alan?" Desak Tia sambil mengocangkan kedua bahu Clara.


"Aku tidak mencintainya lagi Kak! Tapi aku sangat mengenal Alan bukannya seorang pemabuk seperti itu, Kak Tia pasti salah orang." Balas Clara ketus.


Tia hanya tersenyum mengejek saja sambil menatap wajah Clara dengan sangat tajam, "Oh iya? Jadi kenapa kamu masih membelanya?" Tanya Tia lagi.


"Aku bukan membelanya Kak...aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja." Balas Clara masih tidak rela bila Tia terus menerus menfitnah mantan kekasihnya itu, karena setau Clara, Alan bukan pria seperti itu. Tapi Clara tidak mengerahui kalau Alan depresi dan frustasi seperti itu karena dirinya.


"Oh iya? Bela saja dia terus Cla...kamu tau apa tentang dia sekarang? Dengar baik - baik ya Cla, semua orang itu bisa berubah, termasuk Alan." Bisik Tia lalu berjalan mengelilingi Clara.


'Tapi aku yakin kalau itu bukan Alan...' Batin Clara.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak Cla...yang pasti saat ini pasti orangtua Alan sangat malu akibat video Anaknya yang menyebar luas didunia maya, surat kabar dan juga media elektronik." Balas Tia lalu duduk diatas sofa.


"Kalau pun Alan sekarang adalah seorang pemabuk, aku juga sudah tidak perduli lagi sama dia Kak! Yang aku inginkan saat ini hanya bisa bersama dengan Alvin." Ucap Clara untuk menyakinkan Clara, sejujurnya Clara membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan hal itu. Dia semakin lama semakin menyakiti dan menyiksa dirinya sendiri demi tujuannya.


Tia tersenyum sumringah mendengar ucapan dari Clara barusan.


"Jadi Kak Tia tidak perlu lagi repot - repot melaporkan segala sesuatu tentang Alan...karena aku sudah tidak ingin lagi mendengarnya." Balas Clara yang kini sudah duduk disamping Tia.


"Oke kalau itu mau kamu...tapi kalau sampai Kakak tau kamu masih berhubungan dengan Alan, Kakak tidak akan segan - segan untuk menghancurkan kehidupan pria itu. Kamu mengerti!" Balas Tia dengan menekankan setiap kalimat yang sudah diucapkannya itu.


"Kak Tia tenang saja.....aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Alan." Ujar Clara dengan penuh keyakinan.


"Oh iya hubungan kamu gimana dengan Alvin? Masih belum ada perkembangan? Kamu tau kan Cla kalau kita tidak mempunyai waktu banyak lagi?" Ujar Tia sambil menatap wajah Clara lekat - lekat.


"Alvin masih butuh waktu Kak....Clara takut kalau semakin Clara desak Alvin malah semakin tidak ingin bertanggung jawab. Apalagi Alvin sepertinya menginginkan kalau Clara untuk test DNA sekali lagi." Ujar Clara.


"Gak ada waktu lagi Cla...kamu harus terus mendesak Alvin! Kamu mau rencana kita gagal? Dan tidak akan ada test DNA lagi!" Balas Tia.


Clara masih tidak percaya mendengarkan kalau Tia saat ini sedang membentak - bentak dirinya. Clara hanya menganga tidak percaya saja menatap Tia.


"Sorry Cla...Kakak tidak bermaksud unutk membentak kamu...tapi Kakak harap kamu mengerti dengan ucapan Kakak barusan, ini semua demi kebaikan kamu dan Anak kamu ini." Ujar Tia yang sudah mulai melembut sambil mengelus perutnya Clara.


Clara merasa semakin lama semakin tertekan karena Tia terus saja mendesak dirinya, sedangkan dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan Alvin. Dia sendiri ragu kalau Alvin masih mau berhubungan lagi dengan dirinya atau tidak, apalagi sejak kejadian terakhir di apartemennya ini.


"Cla...kamu percaya sama Kakak kan? Kakak tidak ada maksud lain kok, Kamu tau sendiri kan kalau Kakak sangat sayang dan mengkhawatirkan kamu...ini semua demi kamu, demi masa depan Anak kamu juga." Ujar Tia lagi.


"Iya Kak...Clara tau kok..." Ujar Clara.


"Sepertinya kamu sudah mengerti maksud Kakak kan Cla....Oke kalau begitu lusa kita pergi ke pesta seseorang ya...Kakak ingin kamu memberikan pukulan keras kepada Alvin berserta keluarga besarnya disana." Ujar Tia sambil tersenyum licik.


"Pukulan keras? Maksud Kak Tia?" Tanya Clara lagi yang memang tidak mengetahui mkasud perkataan Tia barusan. Kemudian Tia mendekat lalu membisikkan sesuatu ditelingan Clara, sedangkan Clara hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja sambil mendengarkan ucapan Tia barusan.


Tia menjauh sedikit untuk memberikan jarak kepada keduanya, "Kamu mengerti kan Cla? Oke kalau begitu besok Kakak akan mengirimkan gaun yang paling cantik untuk kamu pakai beserta penata rias kamu...kamu hanya perlu mengikuti rencana yang sudah Kakak susun dengan rapi saja." Ujar Tia.


"Iya Kak...Clara mengerti kok." Balas Clara sembari tersenyum.


"Oke sayang...kalau begitu Kakak harus kembali sekarang! Sampai bertemu lucu Clara..." Ujar Tia sembari memberikan pelukan hangat kepada Adik sepupunya itu.


Clara membalas pelukkan dari Tia, Clara sangat mempercayai Tia melebihi dari siapapun juga. Clara bahkan tidak menyadari kalau dirinya saat ini sedang dimanfaatkan demi tujuan balas dendam Tia.


"Kamu memang Adik Kakak yang paling mengerti Cla..." Ujar Tia sambil mengelus - ngelus punggung Clara.


Didalam hati Tia, dirinya sudah sangat muak melakukan hal ini, dia hanya ingin agar Clara mempercepat langkahnya agar tujuan balas dendamnya terpenuhi. Tidak ada yang bisa mengerti dirinya saat ini, obsesinya akan cinta Al membuatnya berubah menjadi seseorang wanita yang tidak mempunyai perasaan.


'Clara....kamu itu terlalu naif sayang...Kakak baik sama kamu pasti ada maunya...hanya saja kamu terlalu lambat dalam melakukan hal ini. Tapi lusa, semuanya akan berpihak kepada kita....usaha kamu tidak akan menjadi sia - sia. Eh tidak maksud aku usahaku tidak akan menjadi sia - sia.' Batin Tia sembari melepaskan pelukannya dari Clara.


"Kamu jaga diri baik - baik ya Cla..." Kemudian Tia beranjak berdiri dari duduknya, Clara ingin mengikutinya akan tetapi Tia malah melarangnya.


"Tidak perlu Cla....kamu tidak perlu mengantar Kakak...." Ujar Tia untuk menahan Clara agar tidak usah mengantar dirinya.


"Baiklah Kak...Kak Tia hati hati ya!" Ujar Clara sambil melambaikan tangannya.


"Iya sayang..." Balas Tia sambil tersenyum lalu membalikkan badannya untuk berjalan pergi dari apartemen Clara.


Tia benar - benar sangat berambisi penuh dalam melakukan aksi balas dendamnya, dia bukan hanya ingin memiliki Al, melainkan ingin menghancurkan keluarga Al, terutama untuk Adik Al yang bernama Alvin. Dirinya ingin membuat Alvin benar - benar merasakan kesakitan yang sungguh luar biasa dengan begitu Al pasti juga merasakan hal yang sama.


*******


Selama beberapa hari ini Mikha terus saja berpikir keras untuk masalah yang dihadapinya dengan Suaminya Alvin, jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam dirinya ingin sekali memaafkan Alvin, hanya saja rasa sakit hatinya masih menahannya untuk melakukan hal itu.


Siang ini seperti biasanya Mikha tengah disibukan dengan berbagai kerjaannya yang harus diselesaikannya, Mikha terus saja mnenyibukkan dirinya untuk melupakan masalah yang sedang dihadapinya.


Tellepon diruangannya berbunyi dengan sangat nyaringnya, Mikha dengan segera menjawab telepon kantornya itu.


"Halo..."


"Mikha tolong keruangan saya sekarang, oh iya jangan lupa bawa juga rangkaian acara yang sudah kamu persiapkan untuk pesta saya."


"Baik Pak..."


Mikha mengambil satu berkas yang berisikan ide - ide yang dipikirkannya dalam pesta bosnya itu, Mikha memegang berkas itu lalu merapikan dirinya, setelah itu Mikha sudah bersiap menuju ruangan kantor Bosnya tentu saja dengan perasaan was - was.


Sesampainya didepan kantor Alex, Mikha menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan untuk menghilangkan rasa gugupnya saat ini.


"TOKTOKTOK!"


Mendengarkan suara pintu telah diketuk dari luar, diwajah Alex sudah membentuk sebuah senyuman.


"Masuk!" Perintah Alex.


"Permisi Pak, ini berkas yang Pak Alex minta..." Mikha langsung menyerahkan berkas yang ingin dilihat oleh Bosnya itu.

__ADS_1


"Silahkan duduk..."


Alex mempelajari berkas yang diberkan kepadanya, Mikha terus saja merasa gelisah yang teramat menyelimuti hatinya.


"Gimana Pak?" Tanya Mikha memberanikan dirinya.


"Bagus...sesuai dengan apa yang saya minta....tapi masih ada yang perlu ditambahi lagi. Saya mau di pesta yang saya buat ini ada acara berdansa. Kenapa kamu malah melewatkan hal itu Mik?" Ujar Alex sambil menutup berkas yang ada ditangannya itu.


"Maaf Pak...saya kira Pak Alex tidak..."


"Tidak menginginkannya maksud kamu?" Alex seolah bisa membaca apa yang ada didalam pikiran Mikha pada saat ini.


"Maaf Pak..."


Alex malah tertawa lepas, "Tidak apa Mikha...saya memang pria yang sangat kaku ya menurut kamu...tapi saya juga menginginkan tamu - tamu saya yang hadir disana untuk rileks dan menikmati pesta yang saya buat." Ujar Alex.


"Iya kalau begitu nanti saya akan mengaturnya dan menambahkannya lagi ya Pak..."


"Oke...gimana dengan undangan? Semuanya udah pada beres kan? Saya tidak menginginkan kalau ada yang protes bila tidak mendapatkannya ya."


"Iya Pak sudah beres kok, sekretaris Pak Alex sudah mengatur tentang urusan undangan." Jawab Mikha.


"Oke baiklah kalau begitu...oh iya saya perhatian belakangan ini kamu sering lembur? Kenapa kamu malah memilih untuk lembur ketimbang pulang? Biar saya tebak, pasti kamu sedang bertengkar ya dengan Suami kamu?" Ujar Alex dengan penasaran.


"Saya hanya menginginkan pekerjaan saya cepat selesai Pak..." Jawab Mikha cepat.


Mikha tidak ingin memperlihatkan dirinya saat ini sedang merasa rapuh,


"Oh begitu...saya kira kamu mempunyai masalah keluarga, maafkan saya ya." Ujar Alex.


"Iya Pak tidak apa - apa."


"Oke kalau begitu kamu sudah boleh keluar...." Ujar Alex.


"Baik Pak..." Ujar Mikha yang kini sudah memegang berkasnya lagi.


Setelah kepergian Mikha, Alex menyuruh sekretarisnya untuk masuk kedalam ruangannya.


"Hari ini kamu secara langsung harus memberikan undangan kepada keluarga William dan pastikan kalau mereka akan habir di pesta saya." Pinta Alex.


"Baik Pak..." Setelah itu Sekretaris Alex keluar dari ruangan Alex.


'Sepertinya akan sangat menarik bila mereka semua bisa datang dipesta yang saya buat....' Batin Alex sambil memejamkan kedua matanya, enatah apa yang sedang dipikirkannya untuk saat ini.


Sedangkan di perusahaan Al sendiri, Alvin yang sedari tadi terus saja marah kepada bawahannya, Alvin tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia terus menerus merasa sangat emosi, bahkan bawahannya hanya melakukan sebuah kesalahan kecil saja Alvin sudah marah besar.


"Kalau tidak becus bekerja mendingan pulang aja sana! Disini hanya untk orang - orang yang mau bekerja dengan fokus dan serius." Ucap Alvin lalu membanting pintu ruangannya dan kembali masuk kedalam ruangannya.


Alvin memukul meja kerjanya dengan keras sampai menimbulkan bunyi yang sangat keras seperti pecahan kaca. Kini tangan Alvin sudah berdarah, darah segar terus saja mengalir keluar dari tangannya itu.


'Mikha....aku tidak bisa terus menerus seperti ini....aku sangat merindukan kamu sayang!' Batin Alvin lirih dengan wajah sendunya.


"Ada apa! Kenapa kalian terus saja mengganggu saya!" Ucap Alvin dengan suaranya sudah mulai meninggi.


"Hmmm...begini Pak...ada tamu yang ingin bertemu langsung dengan Pak Alvin. Dia terus saja mendesak untuk bisa bertemu dengan Pak Alvin." Jawab Karyawannya dengan takut - takut.


"Kamu bodoh ya? Apa susuhnya bilang kalau saya saat ini sedang tidak bisa diganggu atau saya sedang tidak berada ditempat! Saat ini saya sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun juga!" Tegas Alvin.


"Ba-baik Pak..."


"Keluar sekarang juga!" Alvin mengusir karyawannya dari ruangannya.


"Maaf sepertinya Pak Alvin sedang tidak bisa diganggu...kalau boleh tau Kakak darimana ya? Nanti saya akan sampaikan. Atau barangkali ada titipan?"


"Hmmm...gimana ya saya sebenarnya disuruh langsung menyampaikan undangan ini...saya disuruh memastikan agar Pak Alvin bisa datang keacara pesta atasan saya. Tapi saya mengerti kok, kalau begitu saya titip sama kamu ya! Tapi tolong sampaikan ya....sekali lagi terimakasih, mohon maaf karena saya telah merepotkan kamu." Setelah memberikan undangan itu, sekretarisnya Alex pergi dari perusahaan itu menuju ke kediaman keluarga besar william sesuai dengan perintah atasannya itu.


Pintu ruangan Alvin kembali mendapatkan ketukan, "TOKTOKTOK!"


"Masuk!"


"Ada apa lagi?" ketus Alvin.


"Begini Pak...ini ada titipan undangan dari Perusahaan Ctra Delf...."


'Itu bukannya perusahaan tempatnya Mikha bekerja ya?' Pikir Alvin.


"Berikan pada saya..." Pinta Alvin.


"Ini Pak..."


"Dan kamu nunggu apa lagi? Cepat keluar!" Pinta Alvin.


"Ba-baik Pak, kalau begitu saya permisi sekarang ya." Kemudian karyawan Alvin langsung keluar dengan sangat cepat.


Alvin dengan cepat membuka undangannya itu, "Jadi atasan Mikha yang baru membuat sebuah pesta....tapi kenapa Mikha bahkan tidak mengatakan apapun? Aku pasti akan datang kesana..." Ujar Alvin sambil tersenyum sumringah.


******


Alan baru saja menginjakkan kakinya kembali ketika mendapatkan kabar kalau Mamanya sakit, tadinya Alan malas untuk pulang kerumah apalagi semenjak kejadian Clara. Tapi sebagai Anak yang baik, Alan membuang semua rasa sakit hatinya itu untuk sementara waktu. Dia benar - benar sangat mengkhawatirkan keadaan Mamanya yang kini terbaring lemah tak berdaya.


Alan masuk kedalam rumahnya, baru saja dirinya masuk kedalam Papanya langsung saja memarahi dirinya karena dianggap sudah menjadi Anak yang durhaka kepada orangtua,


"Kenapa kamu baru datang sekarang? Kamu puas melihat kondisi Mamamu terbaring lemah seperti ini? Dasar anak durhaka...hanya karena seorang wanita kamu berubah sekali Alan! Papa bahkan sudah tidak mengenali kamu lagi." Ujar Papanya.


"Tapi kan Alan udah pulang Pa, nanti lagi marahnya ya, Alan ingin melihat keadaan Mama dulu." Setelah mengatakan itu, Alan langsung berjalan pergi meninggalkan Papanya yang masih marah - marah.

__ADS_1


Alan mempercepat langkahnya hingga kini dirinya sudah berada didalam kamar Mamanya, Alan berjalan mendekati Mamanya, Alan memeang tangan Mamanya, "Ma sadar Ma...ini Alan! Maafin Alan ya Ma...." Ujar Alan sambil menciumi tangan Mamanya itu.


"Mamamu baru saja meminum obatnya lalu tertidur....sebaiknya kamu jangan membangunkan Mamamu dulu." Ucap Papanya sambil menepuk bahu Alan.


"Mama sakit apa Pa?" Tanya Alan.


"Kita bicara diluar saja...Papa tidak ingin Mama kamu merasa terganggu." Bisik Papanya lalu berjalan keluar diikuti oleh Alan.


"Mama sakit apa Pa?" Tanya Alan yang sangat penasaran.


Papanya membalikkan badannya lalu menatap Anaknya itu, "Mama kamu stres memikirkan kamu...jadinya gula Mama kamu naik. Kamu puas Lan?" Jawab Papanya ketus.


Wajah Alan semakin sedih, "Karena aku Pa?"


"Iya...kamu telah mencoreng nama baik keluarga! Sejak kapan kamu suka mabuk - mabukkan seperti itu? Sejak Kapan Lan? Apa Papa dan Mama selama ini kurang baik mendidik kamu? Apa ini semua karena wanita yang bernama Clara itu? Katakan Lan!" Desak Papa Alan.


"Bukan Pa..bukan karena dia..." Ucap Alan sambil menggeleng lemah.


"Jadi kenapa kamu sampai berubah seperti ini Lan?" Tanya Papanya lagi.


"Ini karena Papa dan Mama! Papa dan Mama sadar gak sih selama ini bersikap gimana sama Alan? Ini semua karena Papa dan Mama, Alan bahkan tidak bisa mengatur kehidupan Alan sendiri berdasarkan kemauan Alan, Alan menjadi dokter juga karena keinginan Papa dan Mama kan? Pernah gak sekali saja Papa dan Mama bertanya apa maunya Alan? Gak pernah kan Pa?" Alan menjelaskan panjang lebar.


Papanya hanya menatap Alan dengan tatapan tajam, "Tidak ada orangtua yang ingin menyesatkan Anaknya, Papa dan Mama melakukan itu hanya untuk membuat kamu sukses Lan! Lihat...kamu adalah dokter lulusan terbaik dan termuda...itu semua berkat dukungan Papa dan Mama kan? Tapi sejak kamu mengenal wanita itu...kamu jadi pembangkang dan susah untuk diatur." Jelas Papanya.


"Alan tidak pernah berubah Pa...kalau saja sikap Papa dan Mama tidak kelewatan batas sama Clara...Alan tidak mungkin kabur dari rumah! Papa dan Mama kenapa tidak bisa merasakan ketulusan Clara? Clara itu wanita yang sangat lembut dan baik Pa. Bukan karena dia bekerja di sebuah Bar jadinya Papa dan Mama bisa seenaknya mencap Clara sebagai *******...dia berbeda dari wanita lain." Tegas Alan lagi.


"Kamu masih membela dia? Oh atau jangan - jangan kamu selama ini tinggal bersama dengan wanita murahan itu?" Papa Alan semakin emosi saja karena Alan terus saja membela Clara.


"Karena memang Clara tidak bersalah...Alan yang tergila - gila sama dia Pa! Bahkan Clara sudah berkali - kali minta putus sama Alan. Kalau Papa ingin menyalahkan salahkan saja Alan!" Tegas Alan lagi.


"Kamu...benar - benar sudah tidak waras ya Lan!" Ujar Papanya dengan tatapan tajamnya.


"Iya Pa...ini semua berkat Papa dan Mama! Hidup Alan benar - benar sudah hancur....bahkan Clara saja sudah tidak menginginkan Alan lagi. Bukannya itu keinginan Papa dan Mama?" Ujar Alan.


"Alan...Alan.."


Ketika mendengar kalau Mamanya memanggil dirinya, Alan berjalan masuk kedalam kamar Mamanya lagi.


"Ya Ma...Alan disini..." Ujar Alan sambil memegangi tangan Mamanya.


"Kamu datang sayang....Mama minta maaf sama kamu ya...." Ujar Mamanya sambil menangis.


"Minta maaf kenapa Ma? Udah mendingan Mama istirahat dulu ya...nanti kita bicara lagi setelah keadaan Mama jauh lebih baik."


Mamanya menggeleng pelan, "Tidak sayang...Mama tidak ingin kamu pergi lagi. Kamu janji ya jangan kabur - kaburan lagi?"


"Maaf Ma...untuk sekarang Alan belum bisa kembali...tapi selama Mama sakit, Alan akan merawat Mama..." Ujar Alan.


"Tapi Lan..."


"Udah Mama jangan banyak bicara dulu ya...Mama istirahat saja dulu, nanti kita bicara setelah keadaan Mama jauh lebih baik lagi." Ujar Alan.


"Alan janji tidak akan kemana - mana sampai Mama sembuh." Ujar Alan lagi seolah bisa merasakan ke khawatiran Mamanya.


"Iya sayang...tapi kamu temani sampai Mama kembali tertidur ya.." Mama Alan terus saja memegangi tangan Anaknya itu agar Alan tidak pergi kemana - mana.


Alan dengan sedih memandangi wajah Mamanya, sebenarnya Alan juga tidak tega melihat Mamanya seperti ini, tapi Alan juga belum bisa melupakan ketika Mamanya mengatakan kata - kata kasar bahkan menampar dan menjabak Clara. Alan benar - benar belum bisa memaafkan perbuatan Mamanya pada saat itu.


'Alan bukan Anak yang baik Ma...Maafin Alan yang sudah membuat keadaan Mama sampai berbaring lemah tak berdaya seperti ini.' Batin Alan dengan pedih.


******


Malam harinya...


Al dan Ara saat ini sedang duduk disofa yang berada didalam kamar keduanya, Ara dengan manjanya tidur dilengan kekar milik Suaminya itu sambil mengelus - elus dada Al membuat Al merasakan geli. Tapi Ara memang sangat suka sekali melakukannya terutama semenjak dirinya hamil. Dia suka sekali menempel sambil meraba - raba dada Al membuat sekujur tubuh Al merinding karena geli.


"Sayang...."


"Hmm..."


"Nanti kalau Anak kita lahir, trus aku berubah menjadi gendut kamu pasti tidak akan pergi kan?" Tanya Ara yang merasa sangat takut. Pasalnya selama ini dirinya selalu membanggakan dirinya selalu cantik, langsing dan memikat membuat kaum adam yang melihatnya sangat terpesona dengan kecantikan dan bentuk tubuhnya yang aduhai itu.


"Kenapa kamu tiba - tiba nanya seperti ini?" Ujar Al sambil menatap Sang Istri.


"Aku takut saja...soalnya kan banyak banget wanita yang lebih cantik, langsing dan seksi diluaran sana yang tentunya mau sama kamu...aku takut kamu merasa kalau aku tidak menarik lagi." Ujar Ara dengan jujur dengan ketakutan yang ada didalam dirinya yang sangat luar biasa.


"Itu tidak akan pernah terjadi Ra....biarpun nantinya tubuh kamu sudah tidak langsing dan seksi lagi...aku tidak akan pernah berpaling dari kamu. Lagiankan aku yang membuat bentuk tubuh kamu berubah. Jadi kamu jangan khawatir yang tidak jelas seperti ini ya sayang..." Al berusaha untuk membuat Ara merasa yakin.


"Iya sayang... maafin aku ya!" Ucap Ara sambil tersenyum.


"Oh iya sayang aku hampir melupakannya, kita mendapatkan undangan pesta besok malam, kamu tau siapa yang mengundang kita?"


"Emangnya siapa?" Tanya Ara.


"Alex dari perusahaan Ctra Delf, iya dari tempat Mikha bekerja....Menurut kamu kita pergi atau tidak?" Tanya Al.


"Hmmm...boleh juga sayang...sekalian kita membuat Mikha dan Alvin berbaikan ya... sepertinya mereka sudah beberapa hari ini diam - diaman deh. Aku tidak suka melihatnya." Jawab Ara.


"Baiklah sayang...kita akan membuat mereka tidak akan melupakan malam itu..." Ujar Al dengan jailnya.


Ara hanya tersenyum, 'Semoga saja dengan adanya pesta ini mereka berdua tidak diam - diaman lagi dan kalau bisa berbaikan.' Harap Ara.


******


Tunggu kejutannya ya di pestanya Alex!

__ADS_1


Hayo siapa yang sudah tidak sabar lagi? Tahan...tahan...hehe


Happy reading guys!


__ADS_2