SECRET LOVE

SECRET LOVE
Nasib Seorang Jomblo


__ADS_3

Suara melengking Al yang menangis karena tidak mau ditidurkan membuat seisi rumah keluarga Halim ikut panik, satu persatu bergiliran mencoba untuk menenangkan bayi tersebut. Sejak tadi bayi itu sedang anteng-antengnya bermain dengan kakeknya. Belum ada tidur dari siang, yang ada malah terlihat segar meski waktu sudah menunjukan hampir pukul 8 malam.


Bian, bapak dari bayi itu baru saja pulang dan berada di kamar sedang membersihkan badannya. Kepulangan bapak satu anak tersebut beriringan dengan kepulangan Aaric. Mereka baru saja selesai melakukan pertemuan dari siang sampai petang di tempat dan acara yang sama. Perjalanan pulang menyita waktu mereka untuk sampai ke rumah sebelum malam tiba.


Dan hal itu membuat Bian mengumpat kesal berulang kali karena sudah tak tahan melepas rindu bertemu dengan anak dan istrinya. Baru juga ditinggal setengah hari, tapi Bian sudah seperti anak ayam yang jauh dari induknya.


Begitu pun dengan Aaric. Pria yang masih betah melajang tersebut cukup gelisah di sepanjang perjalanan karena tak sabar ingin segera sampai ke rumah. Keadaan rumah sangat berbeda berkat kehadiran adik dan keponakannya yang membuat suasana menjadi kian hangat. Sudah lama Aaric tak pernah mendapati suasana tersebut setelah terakhir kali kejadian naas di masa lalu.


"Al kenapa?" tanya Bian yang baru turun dengan tampilan segar sehabis mandi. Pria tersebut memakai kaos putih polos dengan celana Chinos pendek berwarna abu tua dan sandal rumahan yang berharga fantastis. tentunya itu semua lagi dan lagi milik Kakak ipar sekaligus mantan sahabatnya, Aaric Leonathan Halim.


"Nangis, nggak mau diambil padahal dari siang belum ada tidur." Kiana menepuk-nepuk paha Al yang masih menangis seperti tak rela karena acara mainnya diganggu begitu saja.


"Sini, Mas yang pangku." pinta Bian mengulurkan kedua tangannya. Bayi tersebut seolah tahu keberadaan ayahnya, Al dengan secepat kilat sudah berpindah tangan ke gendongan bapaknya.


"Jagoannya Bapak kenapa nangis? Al masih mau main ya sama Akung? Kasihan anak bapak nangis kejer kayak gini..." ucap Bian menenangkan anaknya. Bian mengusap lembut punggung Al yang bergetar karena tangisnya.


"Udah ya nak... nanti capek. Ini kan udah sama bapak, besok boleh main lagi sama akung. Sekarang Al tidur gendong sama bapak, oke?"


"Mas nggak apa-apa pegang Al dulu?"


"Iya, sayang. Biar sama Mas aja. Ini juga udah mulai berhenti nangisnya." jawab Bian seraya menatap wajah Al yang basah dan ikut menatapnya balik.


"Aku mau bantu Mama dan Si mbak siapin makan malam. Al sama bapak dulu ya... ibu sebentar kok gak lama."


"Iya, Bu..." jawab Bian yang menirukan suara anak kecil seolah-olah Al yang berbicara pada ibunya.


"Anak ibu pintar..." Kiana mengusap rambut kepala bayinya.


"Jangan dilupain ini anak pintar dan ganteng bapak juga, Bu..."


"Iya-iya..." sahut Kiana serta merta menjawil pipi suaminya saking kelewat gemas.


Bian hanya meringis dengan wajah dihiasi sebuah senyuman saat melihat Kiana mulai berjalan menjauh darinya.


"Ibu mu itu Nak, kamu sayang nggak sama ibu? Al harus sayang sama ibu."


"Kamu harus tahu, bapak sangat-sangat sayang ibu kamu. Sama seperti bapak menyayangi kamu. Sayang bapak untuk Albio seluas jagat raya ini. Pokoknya nggak bakalan terhitung banyaknya." ucap Bian pada bayinya yang mana Al mulai tertawa-tawa kecil memperhatikan mulut bapaknya yang sedang komat-kamit.


"Bapak kangen loh sama Al, kamu ada kangen gak sama bapak?"


Pukul 21.30 acara makan malam telah selesai setengah jam yang lalu. Seluruh penghuni rumah telah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Nampak semua orang merasa lelah dengan kegiatannya seharian penuh.


Tak terkecuali Al yang masih anteng tengah bermain duduk di atas perut Bian yang terlentang di atas karpet beludru halus.


Bayi itu terlihat masih segar. Belum ada tanda-tanda mengantuk sama sekali. Malah Al semakin rajin berceloteh seolah sedang mengobrol dengan bapaknya. Bian tidak dapat menghindari semburan air liur yang kini terkena wajahnya.


Pria itu ikut tertawa melihat kelakuan menggemaskan anaknya. Kehangatan seperti inilah yang membuat dia semakin bahagia. Karena berkat kehadiran anak dan istrinya semangat dalam hidupnya seolah kembali bergairah.


Sejalan dengan hal itu, sekilas ia mengingat apa yang terjadi padanya dulu. Kalau saja pada saat itu ia tidak menemukan Kiana, entah seperti apa jadinya kehidupannya sekarang.


Mungkin, ia akan semakin terpuruk dengan sejuta penyesalan yang membenak di dalam dirinya. Kesendirian mungkin akan menyelimuti hari-harinya sampai ia tua nanti. Membayangkan hal itu membuat Bian bergidik ngeri.


Setelah lelah bekerja seharian diluar sana, tapi melihat keadaan anak dan istrinya baik-baik saja di rumah sudah membuatnya menghela napas dengan lega.


Apalagi saat melihat tumbuh kembang sang buah hati yang setiap hari semakin memperlihatkan perkembangannya. Saat ini saja, Bian begitu senang dan antusias melihat kemahiran Al yang sudah sangat lancar merangkak ke sana kemari dengan lincahnya. Bahkan Al sudah bisa berdiri dan belajar melangkah dengan berpegangan pada benda di dekatnya. Semua itu membuat Bian dan Kiana juga takjub dengan putra mereka.


Dulu Albio yang malang, kini terlihat sehat dan bugar dengan tubuh yang gempal berisi menandakan jika bayi tersebut sangat sehat. Bian tidak mau lagi melihat anaknya sakit seperti saat dulu. Melihat itu semua membuat dirinya serasa tersayat hatinya.


Penyesalan demi penyesalan tersebut ia gantikan dengan mencurahkan segala apapun yang dia miliki untuk anak istrinya. Lihat saja saat ini Albio tidak hanya menggemaskan, tetapi bayi tersebut memiliki paras yang rupawan. Bayi paling tampan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Bukan karena Al itu semata-mata adalah anaknya, tetapi semua orang berkata sama. Bisa dipastikan jika besar nanti Albio akan semakin mirip dengannya.


"Al belum ngantuk nak? ini sudah malam, bayi seperti kamu seharusnya sudah tidur." ucap Bian seraya menciumi seluruh wajah anaknya yang mana membuat Al kembali tertawa.

__ADS_1


"Mas ngantuk?" tanya Kiana yang kini menatap suaminya.


"Belum, kalau kamu ngantuk biar Al sama Mas aja. Kasihan istriku setiap hari merawat dan menjaga anakku." jawab Bian dengan mengulas senyum.


"Belum kok. Itu kan memang tugas seorang ibu." ucap Kiana menyahuti perkataan suaminya. Ia menumpuk pakaian Al dan Bian yang baru saja ia rapihkan setelah seorang asisten rumah tangga sore tadi menyerahkan padanya.


"Hari ini nggak ada rewel, cuma nggak seperti biasanya susah sekali diajak tidur." tutur Kiana bercerita tentang apa saja yang dilalui mereka seharian ini.


"Mungkin karena bayi ini sedang bahagia, sama seperti ibunya."


Kiana menoleh kemudian balik bertanya, "Bahagia?"


"Iya, sayang. Kamu sedang bahagia karena telah bertemu dengan keluargamu. Albio pun pasti merasakan hal yang sama, dia pasti senang karena bertemu dengan akung dan utinya. Iya kan, nak?"


Kiana nampak tersenyum saat mendengar penuturan suaminya. Perlahan ia mendekati dua lelaki kesayangan miliknya itu. Dalam sekejap saja Kiana tanpa malu-malu lagi melabuhkan satu ciuman di pipi suaminya.


Bian sedikit terhenyak. Ia menoleh pada Kiana yang tersenyum padanya.


"Makasih Mas..."


"Makasih untuk apa?" tanya Bian terheran-heran dengan perlakuan manis istrinya yang tiba-tiba. Sedikit aneh, tapi dalam hatinya ia sangat begitu senang bukan kepalang. Ia duduk untuk mengamati istrinya lebih lekat.


"Makasih atas semuanya, karena Mas aku saat ini berada dekat dengan keluargaku. Walau sesaat aku sempat tidak percaya, ternyata semua ini memang bukan sebuah mimpi." ungkap Kiana yang semakin mendekatkan dirinya pada Bian. Kedua tangannya menangkup wajah suaminya dengan kedua tatapan mereka yang saling menaut.


Entah siapa yang memulai, kini keduanya tengah hanyut dalam ciuman yang mempertemukan bibir mereka. Suara decapan terdengar jelas seiring dengan semakin intensnya ciuman mereka yang semakin dalam.


AL yang berada diantara himpitan kedua orang tuanya hanya bergerak-gerak minta untuk dilepaskan. Bayi itu kini merangkak ke sana kemari tanpa disadari oleh Kiana dan Bian yang sedang hanyut dalam buaian kemesraan yang mereka ciptakan.


Hingga sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu tak ayal membuat sepasang suami isteri tersebut menyudahi kegiatan mereka. AL yang mendengar suara ketukan pintu bergegas merangkak dengan cepat dan berdiri dibelakang pintu dan memukul-mukul daun pintu kamar tersebut hingga berbunyi.


Cukup lama pintu tidak terbuka, dan terdengar suara teriakan bayi dan pukulan kecil di luar kamar, seseorang yang berada di balik pintu tersebut membuka pintu kamar dengan perlahan karena khawatir dengan suara bayi yang ia dengar dari dalam.


Sampai pada akhirnya pintu sedikit terbuka menampakkan seorang bayi yang sedang berdiri di pinggir bibir pintu tengah tersenyum.


"Kenapa kamu ada di depan pintu? Kamu belum tidur? Kemana bapak ibu kamu, hem?" tanyanya pada bayi kecil tersebut yang mana hanya dijawab dengan tawa kecil dan celotehan yang Aaric sama sekali tidak mengerti.


Penasaran, akhirnya ia melongokkan kepalanya ke dalam kamar meski hal tersebut kurang sopan meskipun itu adalah kamar adiknya sendiri.


Mata Aaric membelalak. Cukup terkejut dengan apa yang di lihat oleh kedua bola matanya. Di dalam sana ia melihat sepasang suami isteri yang hanyut tengah melakukan adegan yang tidak patut dilihat oleh anak kecil, ya tidak bisa dipungkiri dirinya juga sih sebenarnya.


Perlahan ia menutup kembali pintu kamar dan membawa AL pergi dari sana. Tidak lucu kalau ia ketahuan sudah memergoki kedua orang tua bayi itu tengah bermesraan. Niat hati ingin memberikan sesuatu pada adiknya, entah kesialan atau memang dia merasa insecure pada dirinya sendiri, ia malah mendapati tontonan yang tidak disangka-sangka olehnya.


Sungguh apes. Nasib menjadi seorang jomblo pikirnya. Ia lantas membawa keponakannya itu masuk ke dalam kamarnya. Biarkan saja kedua orang tua bayi tersebut menyelesaikan kegiatan mereka sampai diantara mereka sadar bahwa anak mereka tidak ada. Aaric mengulas senyum seringai jahilnya. Ia membayangkan bagaimana melihat wajah kekhwatiran Kiana dan Bian. Biarkanlah saja pikirnya sekali lagi.


Sedangkan yang masih berada di dalam kamar. Kiana sedikit mendorong dada Bian saat ia merasa kehabisan napas. Tautan kedua bibir mereka terlepas. Hingga terdengar suara napas yang terengah-engah seperti habis lari maraton diantara mereka.


Kiana melihat bibir Bian yang merah dan basah akibat pagutan darinya. Sedikit meringis saat Bian mengusap bibirnya yang juga sama-sama basah akibat cairan saliva yang saling bertukar, sampai ia sendiri merasakan kebas di bibirnya.


"Selalu manis," ucap Bian dengan mesranya yang membuat Kiana tersipu malu.


Saat-saat keduanya masih hanyut dalam buaian asmara, mata Kiana membelalak saat menyadari seharusnya diantara mereka ada Albio. Tapi, kenapa suara bayi itu tidak terdengar.


Masih belum tersadar.


Disaat Bian menarik tengkuk Kiana untuk kembali memagut bibir ranum istrinya yang menggoda, ia cukup terkejut dengan pekikan istrinya.


"Mas!"


"Astaga, sayang! Kamu buat aku kaget. Ada apa?" tanya Bian dengan wajah kebingungan. Padahal kan dia masih ingin mencium lama-lama istrinya sebelum nanti bayi mereka...


Mata Bian membola. Ia mulai merasakan panic attack setelah melihat istrinya tiba-tiba berdiri dan tak sengaja meninju pipi kirinya dengan lutut kaki.

__ADS_1


"Sayang!" pekiknya saat menyadari jika AL tidak ada di pangkuannya. Rasa sakit di pipinya tidak artinya saat ia menyadari AL tidak ada di kamarnya.


"AL nggak ada Mas!" Kiana pun tidak kalah panik dari Bian. Malah wanita itu lebih panik dengan terus menerus mencari anaknya.


"Beneran nggak ada Mas, AL kemana?"


"Aduh... Kok gak ada sih. Perasaan masih aku pangku tadi." paniknya mencari-cari bayi mereka ke setiap sudut yang ada di kamar mereka.


"AL nggak ada Mas!" raung Kiana yang mulai tak bisa menahan kepanikannya. "Nggak mungkin tiba-tiba hilang begitu aja!"


"Iya sayang, kita cari ya. Mungkin AL lagi ngumpet minta dicariin ini..." ucap Bian dengan asal membuat Kiana misuh-misuh.


"Bercanda aja, anaknya hilang ini! Ini juga gara-gara Mas yang mulai tadi!"


"Kok jadi aku yang di salahin?" Bian terperangah menatap istrinya yang terlihat marah dan itu sangat menyeramkan.


Tak berani membela diri lagi, Bian tahan segala untaian kalimat yang ingin dia keluarkan untuk pembelaan dirinya.


'Kamu kemana sih AL? Masa tiba-tiba hilang?' Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya-iya... Aku yang salah. Aku yang duluan minta di cium sampai-sampai keenakan dan lupa sama anaknya." lebih baik ia mengalah saja dari pada harus membuat istrinya kesal dan mengancam kesejahteraan hidupnya. Khususnya saat di malam hari saat bayi mereka sudah tertidur lelap.


"Nggak mungkin kan AL keluar buka pintu sendiri terus--" kalimat Bian menggantung. Tanpa berpikir lama, ia berlari cepat menyusul istrinya membuka pintu dan mencari keberadaan AL diluar.


"Aku cari di bawah sayang," ucap Bian seraya menuruni tangga.


Kiana tak tinggal diam. Dia akan mencoba mencari ke salah satu kamar yang ada di lantai atas tak jauh dari kamarnya. Ya, kamar milik kakaknya. Tapi ia ragu mana mungkin Al ada di dalam sana. Saat menimbang-nimbang, ia berpikir apa harus dia bertanya pada Kakaknya?


Di saat kedua orang tua muda itu sedang panik di luar sana, Aaric justru sedang mengumpat kecil di dalam hatinya.


"Apa mereka tidak sadar kalau anak mereka tidak ada?" gumam Aaric sembari menatap bayi yang sedang duduk memainkan ponsel di atas kasur miliknya.


"Apa mereka belum selesai?" tanyanya lagi pada diri sendiri. "Ish... Kenapa aku jadi memikirkan mereka? Ada-ada saja!" Aaric berdesis sebal saat mengingat apa yang baru saja ia lihat.


"Apa mereka selalu seperti itu boy?" kini AL yang menjadi objek untuk ia tanyai.


"Boleh-boleh saja, tetapi harus lihat-lihat kondisi. Orang tuamu malah keasyikan berduaan seperti itu sedangkan anaknya dibiarkan begitu saja. Kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana?" cicit pria itu pada AL yang hanya menyimak dengan mata membulat tak lepas dari wajah pamannya.


"Kamu ngerti apa yang om katakan?" yang ditanya malah tertawa kecil sambil kedua tangannya mengetuk-ngetuk ponsel ke permukaan kasur.


"Sepertinya kamu mengerti. Baiklah, mulai sekarang bagaimana kalau kamu panggil Om dengan panggilan Daddy? Bagaimana, keren tidak? Pasti keren dong. Jadi--"


Belum sempat Aaric menyelesaikan kalimatnya ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.


"Sepertinya itu kedua orang tuamu. Akhirnya mereka selesai juga dan menyadari kalau kamu tidak ada." ucap Aaric sembari menghela napasnya.


"Tunggu sebentar ya, Om-- Daddy bukakan pintu dulu."


Pada saat Aaric membuka pintu, ia mendapati Kiana dengan wajah panik yang tak pernah ia bayangkan.


"Adek?"


"Kak, maaf aku ganggu malam-malam begini. Tapi--"


"Ada apa? Kamu kenapa? Wajah kamu kenapa pucat seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" berondongan pertanyaan Aaric lontarkan tanpa merasa bersalah.


"I-iya, Kak. AL-- apa Kakak melihat AL? AL nggak ada di kamar. Makanya aku cari ke sini." ucap Kiana dengan ragu-ragu. Entah apa yang dipikirkan oleh kakaknya itu ia tidak peduli, yang terpenting ia harus menemukan anaknya.


"AL?" tanya balik Aaric dengan raut wajah santainya.


"Iya Kak,"

__ADS_1


Tak mengatakan apapun lagi, Aaric malah membukakan pintu lebar-lebar seraya ia menoleh ke belakang untuk memperlihatkan keberadaan AL di sana.


"Ya ampun, AL!" pekik Kiana dengan mata membola.


__ADS_2