SECRET LOVE

SECRET LOVE
Sangat Berharga


__ADS_3

Sang Surya telah menampakkan sinar hangatnya di pagi itu. Menembus melalui dinding kaca yang menjadi sekat pembatas pada ruangan yang ada. Nampak Bian tengah asik bercengkrama bersama putra kecilnya di atas sofa ruang tamu. Sedangkan di sisi lain, Kiana, gadis itu sibuk dengan pekerjaan paginya yang tengah mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.


"Kenapa kamu senyumin Bapak seperti itu, hem?" tanya Bian pada Al yang terlihat sedang tersenyum padanya. Bayi kecil itu nampak mendengarkan dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Bian. Apalagi saat melihat gerak mulut ayahnya itu yang terus bersuara semakin membuatnya senang dan tersenyum, bahkan tak ayal bayi itu tertawa kecil karena tingkah ayahnya.


"Ada apa? Apa Bapak terlihat lucu sehingga kamu terus tersenyum seperti itu?" ucapnya seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Al yang sejurus kemudian bayi kecil itu melayangkan tinjuan kecilnya pada wajah Bian.


"Auch! Al nakal ya pukul-pukul Bapak?" pura-puranya meringis pada bayi kecil itu yang mengundang gelak tawa khas bayi dari putranya. "Al udah berani ya pukul Bapak?" gemasnya Bian pada putranya itu.


"Ach! Al benar-benar nakal ya? Bapak sakit Nak... Jangan pukul Bapak lagi ya? Al nggak sayang Bapak, hem?" tawa kecil bayi itu kembali terlihat kala Bian semakin intens menggodanya.


"Awas ya, Bapak akan kasih hukuman buat Al karena udah nakal sama Bapak!" ujarnya dengan menghadiahi kecupan yang bertubi-tubi di wajah putranya. Bian begitu sangat gemas pada kembaran kecilnya itu.


"Mas," panggil Kiana menghampiri anak dan suaminya yang tengah asik bermain dengan dunianya mereka.


Bian pun tertarik untuk segera menoleh pada suara yang memangil namanya itu yang mana selalu saja sukses membuat hatinya berbunga-bunga.


"Ya, sayang?"


"Sarapannya sudah siap, Masnya makan dulu. Sini Al sama aku aja," pintanya merentangkan kedua tangannya untuk meraih Al.


Bukannya memberikan Al kepada Kiana, Bian malah justru bangkit dari tempatnya kemudian menghampiri istrinya itu.


"Nggak usah, Al biar sama Mas aja. Kamu pasti capek udah siapin sarapan untuk kita." kelakarnya sembari merangkul Kiana. "Ayo-ayo, kita makan sekarang juga. Kamu pasti udah lapar bukan?" ucap Bian yang menggiring Kiana untuk segera duduk di kursi meja makan.


Kiana yang melihat kerepotan Bian cukup menghela napasnya pelan, pria itu begitu terlihat kesusahan saat menyuapkan makanan dengan sebelah tangannya menggendong Al.


"Al biar aku saja pegang, Mas makan dulu yang benar."


"Nggak perlu, Mas bisa kok." keukeuh pria itu.


Kiana cukup merasa jengah dengan sikap keras kepala pria itu. Lihat saja, bagaimana pria itu begitu kerepotannya saat mengurusi dirinya sendiri sekaligus putra kecilnya dalam waktu bersamaan.


Kiana tak tahan melihat itu semua. Tanpa tedeng aling-aling, ia menarik piring sarapan milik Bian yang membuat pria itu terdiam dengan sepasang matanya yang membulat.


"Mas pegang Al saja yang benar, biar aku yang suapin Mas agar makannya cepat selesai." ucap Kiana menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Bian.


Meski dalam sesaat sempat terpaku, pada akhirnya Bian pun membuka mulutnya dengan perasaan yang berbunga. Ini dia yang Bian mau. Mendapat perhatian dari istrinya serasa ia merasa begitu disayangi dan diperhatikan oleh Kiana.


"Makasih sayang," ungkap Bian. Tak luput ia pun terus menatap wajah cantik Kiana dengan senyuman merekah yang tersungging di bibirnya.


"Jangan senyum-senyum, ini makanannya dihabiskan dulu. Kasihan Al sejak tadi memperhatikan Mas dengan serius."


"Oh iya?" ucapnya tak percaya, kemudian ia beralih menatap putranya yang terlihat terdiam. dan memang benar sih apa yang dikatakan oleh Kiana tentang putranya itu yang tengah memperhatikannya.


"Hey Boy, kamu jangan cemburu ya karena ibu menyuapi bapak. Sekarang jatah Bapak dulu yang mendapat kasih sayang dan perhatian dari Ibu. Makannya Al harus cepat besar, agar bisa merasakan suapan ibu itu sangat nikmat sekali, oke?" ucapnya pada bayi kecilnya.


Al hanya tertawa kecil saat sang ayah tengah berbicara padanya seolah tengah mengajaknya bermain. Kiana yang melihat itu semua hanya mampu menggelengkan kepala dengan senyum tipisnya seraya kembali menyuapkan makanan ke mulut suaminya.

__ADS_1


"Oh ya sayang, setelah ini Mas izin pergi sebentar keluar boleh? Ada sesuatu hal yang harus Mas selesaikan secepatnya tentang masalah pekerjaan. Sebetulnya Mas merasa sangat malas sekali, tapi apa boleh buat, Dimas saja sejak tadi terus menerus meneror Mas seperti tidak ada capeknya." tutur Bian pada Kiana dengan wajah malasnya.


"Mas pergi saja kalau begitu, apalagi ini tentang pekerjaan yang sangat penting. Kasihan Pak Dimas kalau harus menunggu lama." balas Kiana.


"Kamu nggak apa-apa kan kalau Mas tinggal sendirian?"


"Aku nggak apa-apa,"


"Yakin?"


"Iya, aku dan Al bakalan baik-baik aja, Mas jangan khawatir."


"Sebenarnya Mas berpikir akan membawa kamu dan Al pergi bersama. Tapi--"


"Mas, aku nggak apa-apa." sela Kiana sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya. "Kalau begitu aku siapkan baju untuk Mas ya sekarang agar tidak telat. Aku izin ya untuk membuka lemari pakaian milik Mas,"


"Sepertinya nggak perlu, sayang. Sebenarnya Mas belum sempat menyimpan baju-baju kerja di sini. Cuma hanya ada pakaian rumah aja kebanyakannya. Rencananya dari sini Mas akan pulang ke rumah untuk membawa beberapa pakaian."


Kiana hanya menganggukkan kepalanya. Ia dengan cekatan merapihkan meja makan, yang setelah itu menerima Al dalam pangkuannya.


"Bapak pergi dulu ya, Nak. Kamu jangan nakal, jaga ibu untuk bapak. Bapak akan segera pulang untuk kembali bermain lagi dengan kamu. Doakan bapak ya, bapak sayang kamu." ucapnya seraya mengecup wajah putranya.


"Mas pergi dulu sebentar ya sayang," ucapnya lagi kembali mengalihkan perhatiannya pada Kiana seraya membubuhkan satu kecupan di kening Kiana dengan lama dan begitu dalam penuh perasaan.


***


Bian cukup tergesa-gesa saat memasuki rumah setelah sebelumnya mengabaikan sapaan Pak Joko yang menyapanya saat membantu membukakan gerbang untuknya.


"Lho, kakak pulang?" tanya Fira dengan mata membulat saat mendapati Bian yang tiba-tiba sudah berada di dalam rumah. Gadis itu menghampiri Bian yang hendak naik menuju lantai atas. "Kapan?" tanya gadis itu lagi.


"Baru," jawab Bian pendek. Kedua matanya celingukan mencari sesuatu memindai keseluruh penjuru ruangan. Sudah pasti ia mencari keberadaan kedua orang tuanya, berharap jika kepulangannya saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil hati kedua orang tuanya untuk dapat menerima keberadaan anak dan istrinya.


"Oh..." Fira manggut-manggut. "Kiana sama Al, mana?" tanyanya mencari-mencari keberadaan mereka.


"Di rumah," balas Bian yang membuat adiknya itu mengerutkan dahi. Bian yang memperhatikannya tak luput menghela napasnya pelan, "Di apartemen." jelasnya.


"Apartemen? Jadi Kakak tinggalin mereka berdua gitu?" ucapnya tak menyangka.


"Iya,"


"Ya Tuhan, Kak!" pekik Fira membekap mulutnya sendiri.


"Apa sih Ra?" malas Bian yang aneh melihat tingkah adiknya. Lebay! Pria itu berdecak cukup nyaring.


"Kakak tuh tega banget ya ninggalin Kiana dan juga Al sendirian di sana! Kalau terjadi sesuatu sama mereka gimana?" protes Fira pada Bian yang tak terima.


"Kamu kenapa sih, Ra? Udah deh, nggak usah ngajak ribut pagi-pagi kayak gini." malas Bian meladeni adiknya.

__ADS_1


"Siapa juga yang nyari ribut, aku tuh cuma nanya sekaligus kaget aja tahu! Kak Bian jahat banget tinggalin mereka, bener apa kata Papa kalau Kak Bian itu nggak bisa bertanggung jawab apalagi dipercaya."


"Eh-eh, mau kemana?" tahan Bian menahan lengan adiknya yang hendak beranjak pergi. "Maksud kamu apa ngomong kayak gitu? Sekarang kamu sekongkol sama Papa?" tanya balik Bian.


"Lepas ih! Aku mau cari Kiana!"


"Ngapain cari Kiana?" tanya Bian dengan dahi yang semakin mengkerut dalam.


"Pikir aja sendiri! Aku gak nyangka Kakak tega menelantarkan mereka lagi. Kalau Kakak nggak bisa merawat dan melindungi mereka, terus buat apa drama yang udah Kak Bian buat kemarin sampai nangis-nangis tapi ujung-ujungnya bakalan nyakitin hati mereka lagi. Awas!"


"Ngaco! Omongin kamu itu makin ngawur tahu nggak, Ra!" ucap Bian yang mulai jengah pada adiknya. "Mana ada Kakak berbuat kayak gitu sama mereka."


"Ih... Kak Bian yang ngaco! Lepasin, awas minggir! Aku mau susul Mama sama Papa aja!" gadis itu meronta untuk melepaskan cekalan tangannya dari Kakaknya sendiri.


"Kamu mau apa nyusulin Mama, Papa? Memang mereka pergi kemana?"


"Pergi cari seseorang yang berharga untuk didapatkan kembali." balas Fira menatap tajam Kakaknya. "Kak Bian awas ih!" sentaknya namun tak ayal berhasil membuat Bian melepaskan tangannya.


"Berharga?" ucap Bian dengan kerungan di dahinya. "Maksud kamu apa?"


"Mencari seseorang yang udah Kak Bian biarin gitu aja keberadaannya. Mama Papa cari mereka Kak. Mama Papa bakalan nemuin Kiana dan juga Al." ungkap Fira yang membuat Bian membelalakkan matanya seraya melepas cekalan tangannya.


"Kiana..." gumam Bian dengan pandangan yang lurus ke depan. "K-kapan mereka pergi, Ra?"


"Belum lama dari kedatangan Kakak," ujar Fira yang merasa aneh dengan perubahan raut wajah Kakaknya yang tiba-tiba terdiam. "Kakak,


baik-baik aja kan? Kak, apa udah terjadi sesuatu? Jangan bilang kalau--"


"Kakak harus cepat pulang menemui mereka, Kakak nggak mau Mama sama Papa melakukan sesuatu yang bisa membuat Kakak kehilangan mereka lagi Ra,"


"Kak, ada apa sih? Aku tuh makin bingung tahu gak. Ya nggak mungkinlah Mama Papa berbuat jahat seperti itu sama mereka. Apalagi ada Kak Dimas yang--"


"Dimas?"


"I-iya, Kak Dimas yang antar Mama Papa buat ketemu kalian..."


Bian terlihat mengepalkan tangannya, terlihat dadanya ikut mengembang dan mengempis akibat napas yang memburu. Tanpa mengatakan apapun lagi, Bian pergi begitu saja meninggalkan adiknya yang melongo mematung di tempatnya.


"Kak, Kak Bian!" panggil Syafira yang tak membuat pria itu berhenti ataupun sekedar menoleh padanya. "Tunggu... Aku ikut!"


*****


Halo-halo semuanya!


Apa kabarnya? Semoga kakak-kakak dalam keadaan sehat semua ya. Mohon maaf nih othor baru bisa Up setelah absen beberapa hari. Bukan karena apa, tapi memang sengaja kok, upss! 🤭


Bercanda ya Kak, tapi othor memang lagi sibuk sedang menjalankan MABIM di kampus nih di sela kegiatan rutin. Doain ya biar acaranya lancar. Dan mohon maaf kalau beberapa hari ke depan up akan jarang, apalagi nanyain othor terus ya. Tapi diusahakan akan menyempatkan akan menulis dan langsung Up. Jadi yang sabar ya...

__ADS_1


Tetap terus tunggu kelanjutan ceritanya ya,


Peluk cium hangat onlen dari othor 🥰


__ADS_2