SECRET LOVE

SECRET LOVE
Putri Yang Kembali Pulang


__ADS_3

"Ini Mama, Nak..." tiba-tiba saja Bu Sofia meraih tubuh Kiana yang tengah linglung kemudian ia peluk seerat mungkin untuk menyalurkan rasa rindu pada putri kecilnya itu.


Kiana mematung. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat wanita yang tengah menangis tersedu-sedu tersebut semakin mempererat pelukannya. Hanya suara isak tangis yang terdengar lirih tepat di dekat telinganya. Pandangan matanya nanar lurus ke depan dengan buliran air mata yang entah kenapa lolos begitu saja saat ia merasakan dekapan hangat di tubuhnya.


Tangannya menggantung di sisi tubuhnya. Tak membalas pelukan hangat dari wanita yang tiba-tiba saja memeluknya. Kepalanya terus berpikir dalam-dalam atas situasi yang tengah terjadi pada saat itu.


Perasaan apa ini? Kenapa ia bisa merasakan sesuatu hal yang aneh saat wanita itu memeluknya? Terasa ada getaran-getaran kecil yang menjalar di setiap aliran darah di nadinya. Perasaan itu seolah menggelitiknya. Membangkitkan sesuatu hal yang ada di sudut hatinya hingga merekah sampai ke saraf otaknya. Yang jelas, perasaan yang Kiana rasakan saat ini sangat begitu jelas berbeda. Ia belum pernah merasakan perasaan aneh tersebut sebelumnya. Hanya saja perasaan ini begitu sama persis dengan saat ia memeluk dan mendekap hangat putra kecilnya.


"Anakku..." ucap Bu Sofia dengan suara bergetar terdengar lirihnya. Hingga ia dengan tanpa canggungnya menciumi wajah Kiana dengan begitu intens. Ia sudah tidak dapat menahan lagi rasa rindu yang mencuat di dalam hatinya.


Semua orang yang ada di sana hanya mampu terdiam melihat pemandangan haru dimana pertemuan antara seorang ibu dengan anaknya. Pak Halim tak dapat lagi menahan laju derai air matanya, pria itu tergugu di balik rangkulan lengan putranya-Aaric, yang terlihat juga tengah sama-sama menangis.


Bian, pria itu tak luput menitikkan air matanya kala melihat pemandangan haru di depan matanya. Meski tengah sibuk menenangkan putra kecilnya yang terus menggeliat akibat melihat sang ibu yang tengah menangis, ia dengan cekatan dapat mengatasinya. Bukan karena apa ia bisa merasa haru. Karena sebagai seorang pria yang sudah memiliki anak, ia dapat merasakan bagaimana tersiksanya jiwa dan raga menjadi seorang orang tua ketika berpisah dengan anak-anaknya. Bian dapat bercermin dari pengalaman yang lalu pada apa yang terjadi pada dirinya. Terpisah dengan Kiana dan Albio berbulan lamanya saja sudah membuatnya hampir gila. Apalagi harus sampai berpisah sampai berpuluh tahun lamanya. Bian bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan hal itu akan terjadi lagi padanya.


Kiana hanya diam menerima setiap perlakuan orang asing yang baru saja ia temui itu dengan tanpa canggung menyentuh tubuhnya. Memperlakukannya bak seseorang yang sangat berharga telah kembali pada pangkuannya. Ingin rasanya ia melepas pelukan tersebut namun tak sampai hati. Tidak tega rasanya meruntuhkan rasa haru dan bahagia yang dirasakan oleh wanita paruh baya yang mendekapnya itu.


"Maaf..." ucap Kiana di sela isak tangis yang sama sekali tak bersuara.


"Kenapa anda menangis?" Kiana seolah tersadar akan apa yang terjadi. Dia ingin sekali terlepas dari jeratan pelukan Bu Sofia, karena sedikit banyak ia merasa risih dan tak nyaman.


"Asyilla... ini Mama sayang... ini Mama..." balas Bu Sofia sedikit merenggangkan pelukannya. Membingkai wajah Kiana dengan kedua tangannya. Menatap sendu wajah Kiana yang benar begitu menurun padanya.


"Maaf Bu, sepertinya anda salah orang. Saya bukan Asyilla, saya Kiana." ucap Kiana yang tak habis pikir kenapa ada orang yang menganggapnya orang lain.


"Nggak, kamu anak Mama yang sudah kembali pulang. Mama yakin kamu adalah Asyilla anak Mama..." keukeuh Bu Sofia.


"Tapi Maaf Bu, saya bukan Asyilla anak ibu, nama saya Kiana." ucap Kiana sekali lagi mencoba menjelaskan siapa dirinya yang dianggap seseorang yang bernama Asyilla. Dia tidak mau kesalah pahaman ini terus berlanjut.


"Mama yakin kamu Asyilla, putri kecil Mama yang telah lama hilang dan saat ini sudah kembali pulang ke pelukan kami..."


Kiana menggeleng cepat. Dengan sekuat tenaga ia melepas belitan tangan Bu Sofia yang seolah tak ingin melepaskannya. Kiana beralih pada Bian yang juga tengah menatapnya dengan wajah sendu penuh dengan arti.


"Ibu salah, saya Kiana bukan Asyilla!" sentak Kiana dengan tegas membuat Bu Sofia menjengit karena terkejut.


"Dek!" pekik Aaric melihat keterkejutan ibunya. "Kamu nggak boleh gitu sama Mama,"


Kiana pun menoleh pada Aaric dan Pak Halim yang seketika menghampiri Bu Sofia yang semakin tergugu akan penolakan darinya. Dapat ia lihat, kedua pasang mata pria itu sama-sama basah. Ada apa dengan mereka? Apa yang mereka tangisi darinya?


"Kasihan Mama dek, jangan begini. Mama rindu dengan kamu, kami semua merindukan kamu Asyilla..." ucap Aaric menghiba.


Kiana menggelengkan kembali kepalanya tak mengerti. Omong kosong apa yang sedang mereka bicarakan. Kiana tak habis pikir, dia datang bersama anak dan suaminya ke rumah itu hanya untuk menyaksikan kesalah pahaman yang melibatkan dirinya.


"Putriku Pa... itu putri kita Pa..." lirih Bu Sofia meronta pada suaminya. "Itu putri Mama Pa..." derai air mata Bu Sofia semakin basah mengucur dari pelupuk matanya. Ia bersandar pada tubuh suaminya untuk menahan rasa perih yang menyayat hati.

__ADS_1


"Papa mohon Ar, terangkan semuanya segera. Papa nggak tega melihat Mamamu menahan sakit saat melihat putrinya sendiri di depan mata tapi tidak bisa tergapai." ucap Pak Halim sembari memegangi istrinya.


Aaric mengangguk menyeka air matanya, segera ia berlari meninggalkan mereka untuk mengambil sesuatu sesuai permintaan Papanya.


"Mas..." panggil Kiana pada Bian. "Apa maksud dari semua ini? Kenapa mereka memanggilku dengan nama lain?"


"Kia..." Bian tak dapat berkata-kata lagi untuk menjawab pertanyaan istrinya.


"Katakan pada mereka kalau aku adalah Kiana, bukan Asyilla yang seperti mereka maksud! Ayo katakan Mas, katakan sama mereka!"


"Sayang... kamu tenang ya, Mas harap kamu bisa bersabar sebentar lagi."


"Kamu kenapa sih Mas? Apa yang sudah kamu sembunyiin dari aku? Aku mau pulang sekarang juga!" pinta Kiana memaksa. Bian menggelengkan kepalanya. Sesekali ia mengayun putra kecilnya yang sudah menangis sejak tadi.


"Kenapa? Kalau kamu nggak mau pulang, aku bisa pulang sendiri!" ucap Kiana berusaha mengambil Al dari pangkuan Bian.


"Sayang..." Bian menahan pergerakan tangan Kiana.


"Mas!" pekik Kiana tak terima.


"Dengerin Mas dulu," tahan Bian ketika Kiana memaksa mengambil Al darinya.


"Nggak perlu, aku mau pulang!" kukuh Kiana yang tak habis pikir pada suaminya. Dari semua yang terjadi pada hari itu, segalanya membuat Kiana bingung tak mengerti dengan keadaan. Dia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.


Kiana ikut menoleh pada Aaric yang datang membawa sesuatu lekas menghampirinya.


"Kamu harus mengetahui semuanya hari ini." ucap Aaric menyerahkan sesuatu pada Kiana.


"Apa lagi..." gumam Kiana. Hatinya begitu lelah dengan peristiwa tak terduga hari ini. Dia justru memelas menatap Bian.


"Lihatlah, dan kamu akan mengetahuinya."


Kiana yang lelah hati tak banyak bicara lagi. Ia menuruti titah pria itu untuk melihat sesuatu yang di berikan kepadanya.


Dahi Kiana seketika mengerut. Mata indahnya membelalak. Ia mengatupkan mulutnya tak menyangka saat melihat gambaran dirinya pada sebuah photo miliknya yang diambil beberapa tahun yang lalu.


"Ini--" suara Kiana tercekat. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Kenapa bisa ada di sini? Bukankah..."


"Ya, aku yang mengambilnya." seru Aaric.


"B-bagaimana... bisa?" Kiana mendongak untuk melihat wajah Aaric yang begitu dekat dengannya.


"Lihatlah ini..." Bian memberikan sesuatu yang lainnya lagi pada Kiana yang mana mampu membuat Kiana mematung untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Kiana memperhatikan sebuah gelang mungil miliknya yang sengaja ia simpan di panti saat meninggalkan tempat tersebut. Kini benda kenangan miliknya sejak bayi itu berada di sini.


"Bagaimana bisa kamu mengambil semua milikku ini?" tanya Kiana menuntut ingin segera mendengar penjelasan dari pria itu dengan tatapan mata yang menyipit. Lancang sekali pikirnya.


"Sengaja aku mengambilnya, karena semua itu adalah milik adikku Asyilla." balas Aaric dengan tatapan penuh arti pada Kiana.


Kiana menggeleng. "Tidak, semua barang itu milikku!"


"Ya, semua itu milikmu, milik adikku yang telah lama hilang sejak ia masih bayi. Hingga membuat kami terpisah dengannya selama bertahun-tabun lamanya. Tapi saat ini dia telah kembali pulang. Pulang pada pangkuan kedua orang tuanya."


Aaric menghela nafasnya dalam-dalam, sejurus kemudian kembali membuka mulutnya untuk bersuara.


"Selama ini kami menunggunya. Berharap setiap detik, menit, jam, hari demi hari bahkan sampai bulan demi bulan berganti dengan tahun untuk menunggu kepulangannya. Meski Tuhan sampai memisahkan kami dengan bentang jarak dan waktu yang begitu sangat lama. Akan tetapi kami selalu berusaha mencarinya. Tak mengenal kata menyerah, karena kami yakin Asyilla masih membersamai kami di dunia ini. Walau hati dan pikiran ini sudah merasa lelah, tetapi seketika keajaiban datang berkat Tuhan yang maha mengatur kehidupan. Doa-doa yang kami panjatkan setiap saat untuknya kini terjawab berkat kemurahan-Nya dengan kepulangan kamu, dek..." ungkap Aaric dengan emosional.


Kiana menggeleng dengan cepat. Kalimat yang diucapkan oleh Aaric padanya bagai godam besar yang menghantam dadanya. Sesak dia rasa. Begitu sakit dan nyeri menusuk hati. Ia tak percaya dengan kata demi kata yang di lontarkan oleh Aaric yang membuatnya menangis menitikkan air mata.


Apakah banar dengan apa yang dikatakan oleh pria itu?


Dengan cepat Kiana menghapus tetesan Air mata yang semakin tak tahu malu mengalir dari pelupuk matanya.


"Dan satu lagi," Aaric kembali memberikan sebuah surat yang ia genggam dengan buliran anak keringat di telapak tangannya.


"Mungkin kamu merasa ini hanyalah sebuah omong kosong belaka. Tapi Kakak yakin dengan bukti kuat ini akan merubah semua keraguanmu tentang siapa jati diri kamu sebenarnya."


Kiana menelaah bait demi bait kalimat yang berhasil mengacaukan pikirannya. Perlahan ia membuka lipatan kertas yang berisi kalimat demi kalimat yang ia sendiri tidak tahu apa itu artinya. Sesaat manik matanya tertuju pada sebuah tulisan yang mencetak namanya dengan jelas menyatakan bahwa, tertulis jika ia adalah putri kandung dari Ganantra Halim dan Sofia mulawardi Halim.


Tangannya mendadak bergetar hebat. Seketika Kiana kembali menangis tergugu mendapati kenyataan bahwa ia adalah betul seorang anak dari kedua pasang suami istri yang ada di hadapannya kini.


"Bagaimana bisa..." ucapnya dengan suara bergetar.


"Semua ini kebenaran yang harus kamu terima, karena kamu adalah Asyilla, kamu adalah adikku Kiana." ungkap Aaric dengan mata berembun.


"Mereka adalah Mama Papa kita. Kita sebuah keluarga. Dan kamu adalah bagian dari keluarga kami yang hilang itu. Kami semua selalu menunggu kamu pulang, dek..."


Tubuh Kiana meluruh. Ia terduduk di sofa, merasai saat ini raganya melayang mengudara. Kepalanya serasa pusing tak tertahan. Belum lagi, perasaan sesak hingga ia sulit sekali bernapas akibat ulu hatinya yang terasa sakit akibat tekanan emosionalnya. Ia hanya bisa menangis dengan seluruh tubuhnya yang bergetar dengan hebat. Bian berusaha mencoba menahan raga Kiana dengan kesusahannya yang sedang memangku Albio, begitu pun dengan Aaric yang sigap membantunya.


"Asyilla..." Bu Sofia kembali mencoba mendekat pada Kiana. Menghambur pada putrinya yang terlihat lemah untuk ia bawa dalam dekapannya. Matanya semakin basah, buliran air bening itu jatuh tepat di atas surai hitam indah milik Kiana.


"Sayang... ini Mama Nak..." ucap Bu Sofia merengkuh raga lemah yang tengah tergugu akibat ketidak berdayaannya.


Tak kalah, Pak Halim pun ikut membersamai istrinya untuk memeluk putri kecilnya yang sudah lama tak bersua. Dengan lembut, Pak Halim mengusap pucuk kepala putrinya. Sejurus kemudian mencium pelipis Kiana bersamaan dengan lelehan air bening yang mengalir di pipinya.


"Putriku..." sendunya.

__ADS_1


***


__ADS_2