
Tanpa Aelx sangka - sangka tangannya malah di gigit dengan sangat kuat oleh Bela yang sontak membuat Alex langsung menjerit sambil menarik tangannya kembali.
"Apa yang kamu lakukan!" Ucap Alex dengan suara meninggi.
Bella hanya berlari untuk mencari perlindungan di belakang seseorang yang kekuatannya jauh lebih besar lagi ketimbang Alex.
"Oma..." Panggil Alex kepada Omanya.
"Apa yang kamu lakukan dengan Bella? Kenapa kamu ingin mengusirnya dari sini?" Tanya Omanya lalu berjalan mendekati cucu kesayangannya itu.
'Kenapa Oma berada disini?' Pikir Alex.
"Oma tidak tau apa yang telah dia lakukan kepada Alex. Alex sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi dengan dia." Tegas Alex sambil menatap tajam dan menunjuk Bella.
"Apapun itu Oma sudah tidak ingin mendengarkannya lagi. Oma sangat menyukai Bella, Oma berharap kamu bisa memberikan kesempatan kepada Bella lagi." Tegas Omanya sambil menatap Alex dengan serius.
"Tidak akan pernah lagi! Aku bahkan sudah lama melupakannya." Balas Alex.
Omanya menghela nafas dengan kasar, "Kalau begitu berarti sudah tidak ada masalah lagi kan kalau Bella tinggal disini dan bekerja sebagai pembantu yang akan menyiapkan semua kebutuhan kamu?" Ujar Omanya.
"Apa? Alex tidak mau ada dia disini!" Tegas Alex kembali.
"Katakan kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah lama melupakan Bella?" Balas Omanya yang langsung membuat Cucunya itu langsung terdiam.
'Sial! Kenapa Oma jadi membalikkan kata - kataku sendiri sih?' Batin Alex.
Alex tanpa henti terus saja menatap Bella yang kini tersenyum menatapnya. 'Aku akan membuat kamu tidak betah berada disini!' Tekat Alex didalam hatinya.
"Baiklah kalau itu mau Oma! Tapi ingat satu hal....aku sendiri yang akan memastikan kalau dia tidak akan bertahan lama tinggal disini." Setelah mengatakan hal itu Alex berjalan pergi meninggalkan Omanya dan juga Bella.
Setelah kepergian Alex, Bella memeluk Omanya yang memang sangat disayanginya itu. Omanya lah yang selalu membelanya selama ini ya walaupun saat ini dia sudah tidak bersama - sama dengan Alex lagi. Akan tetapi Omanya Alex selalu menyayangi Bella seperti Cucu kandungnya sendiri. Bahkan sangking sayangnya sampai - sampai Alex merasa sangat cemburu dengan keberadaan Bella dulu saat masih menjadi kekasihnya.
BRUAK!
Alex membanting pintu kamarnya dengan kesal bercampur dengan perasaan emosinya. "Kenapa sih? Kenapa dia harus datang dan menganggu kehidupanku lagi? Arrrrrgggh! Sialan...!" Gerutu Alex meluapkan semua kekesalan yang ada didalam hatinya saat ini.
Alex melonggarkan sedikit dasi yang sejak tadi masih melekat dikemeja kerjanya itu, hari ini adalah hari yang paling dibenci oleh Alex karena pada saat yang bersamaan dua orang yang sangat dibencinya muncul kembali.
"Lihat saja nanti apa yang aku lakukan!" Ujar Alex dengan tekatnya yang begitu kuat dengan dendam yang membara. Kini Alex sudah mengepalkan kedua tangannya sendiri.
*******
Dikediaman Al,
Kini Alvin dan Mikha sudah berada didalam kamar, keduanya baru saja sampai dirumah, Mikha memutuskan untuk segera mandi karena merasa seluruh tubuhnya sudah lengket. Selama Mikha berada didalam kamar mandi, Alvin selalu saja memikirkan sebuah cara untuk mengatakan hal yang saat ini sedang menganggu pikirannya.
'Bagaimana aku harus memulainya ya? Semoga saja Mikha tidak salah paham dengan maksud baikku kepada Alan.' Batin Alvin.
CEKLEK
Setelah mendengarkan pintu kamar mandi sudah terbuka, Alvin berjalan mendekati Mikha, "Hmmm...wanginya Istriku ini." Puji Alvin sambil memeluk Mikha dari belakang.
"Dasar....pasti ada sesuatu kenapa kamu tiba - tiba muji aku begini? iya kan? Udah deh bilang aja Vin...aku itu udah kenal kamu banget tau gak." Balas Mikha.
Alvin malah cengengesan saja, "Kamu memang luar biasa sayang..."
"Tuh kan benar...ada apa?" Tanya Mikha dengan penasaran sambil membalikkan tubuhnya untuk menatap Alvin.
"Tapi janji kamu tidak akan marah sama aku setelah aku mengatakan hal ini kepada kamu ya?" Ujar Alvin malah semakin membuat Mikha curiga dan semakin tidak sabaran untuk mendengarkan apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Suaminya itu.
"Apa dulu....jangan bilang kalau kamu selingkuh lagi?" Balas Mikha dengan asal saja.
Alvin langsung mencubit pipi kanan dan pipi kiri milik Istrinya itu sampai membuat Mikha meringis kesakitan, "Awww.....kamu apaan sih! Kenapa malah mencubit pipi aku! Kamu tau kan kalau ini sakit?" Ujar Mikha sambil memegangi pipinya.
"Habisnya aku gemes sama kamu...lagian kenapa bisa kamu berpikiran kalau aku selingkuh sih? Aku kan sudah pernah bilang sama kamu kalau aku tidak akan pernah mengulangi kebodohan aku lagi seperti kemarin." Ujar Alvin.
"Iya aku kan hanya asal menebak saja Vin. Sebenarnya apa sih yang ingin kamu katakan?" Tanya Mikha lagi sambil memandang Alvin dengan selidik.
"Hmmm...begini sayang, kemarin Alan nelepon aku kemudian Alan mengajak aku untuk bertemu. Dia minta bantuan sama aku untuk membantu dia mencari tahu keberadaan Clara. Sejak kejadian malam itu, ternyata Clara kabur entah kemana. Alan sudah berusaha mencari keberadaan Clara, akan tetapi dia masih belum bisa menemukan dimana keberadaan Clara...." Ujar Alvin panjang lebar.
__ADS_1
"Jadi kamu mau membantu mencari keberadaa Clara?" Tanya Mikha.
Alvin mengangguk dengan cepat, "Iya sayang...lagian Alan sudah membantu aku untuk bisa terus sama - sama dengan kamu! Aku hanya ingin membalas kebaikannya saja. Bagaimana? Apa kamu mengizinkan aku untuk membantu Alan?" Ujar Alvin sambil menggenggam jemari tangan Istrinya sambil menatap Mikha dengan serius.
"Kamu kira aku wanita jahat ya Vin? Tentu saja aku mengizinkan kamu untuk membantu Alan! Lagian Alan juga udah baik banget sama kita." Balas Mikha sambil tersenyum.
"Beneran sayang?" Alvin sangat antusias mendengarkan jawaban dari Mikha barusan.
Mikha mengangguk sambil tersenyum.
"Thankyou sayang! Kamu memang wanita terbaik untuk aku." Alvin memeluk Sang Istri dengan sangat eratnya sampai - sampai membuat Mikha sulit untuk bernafas.
"Vin...gak begini juga kali, aku sesak nih. Mendingan kamu mandi sana." Ujar Mikha sambil berusaha untuk melepaskan pelukkan dari Suaminya itu. Akan tetapi Alvin sepertinya semakin sengaja untuk mempererat pelukkannya.
"Alvin!" Rengek Mikha dengan manja.
"Habisnya kamu wangi banget sayang....salah sendiri kenapa kamu sudah mandi sendirian tanpa mengajak aku?" Balas Alvin.
"Ih kamu apaan sih, mandi sana!" Mikha masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari Sang Suami.
"Gak aku gak mau..." Alvin terus menciumi leher Mikha sampai membuat Mikha merasakan sensasi yang lain.
"Ehm...geli Vin..." Ucap Mikha sambil berusaha untuk terlepas dari Suami mesumnya itu.
"Kamu bilang apa? Aku tidak bisa mendengarkan kamu?" Alvin malah semakin sengaja untuk menggoda Sang Istri.
"Lepas Vin...aku mohon ya sayang..." Mikha terus memohon kepada Alvin.
"Apa yang kamu bilang? Bisa diulangi sekali lagi tapi dengan suara yang menggoda?" Bisik Alvin membuat Mikha semakin kesal.
"Yang benar saja! Gak aku gak....ehmmm...." Alvin berhasil membuat Mikha kembali untuk mendesah lagi dan lagi. Tubuh Mikha semakin bergetar hebat.
"Sayangg....aku mohon lepasin aku ya..." Ucap Mikha akhirnya dengan suara yang menggoda.
Secara perlahan Alvin melepaskan Istrinya, "Tunggu aku ya sayang..." Bisik Alvin lalu pergi begitu saja meninggalkan Mikha seorang diri. Sedangkan Mikha masih berdiri ditempat dan hanya bisa melongo saja.
Seketika wajah Mikha memanas, dia sebenarnya bukan wanita yang sangat ketagihan akan ****, hanya saja Alvin bisa membuatnya menjadi seseorang yang sangat kecanduan dengan hubungan suami istri.
Lima belas menit kemudian Alvin sudah keluar dari kamar mandi, dia mencari keberadaan Istrinya dan tidak berhasil untuk menemukan keberadaan Mikha. 'Oh jadi kamu tidak patuh ya sayang? Baik aku akan segera menemukan kamu....' Ujar Alvin sambil tersenyum misterius.
Sebenarnya entah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Alvin, setelah selesai mengenakan pakaiannya lengkap Alvin mulai keluar untuk mencari keberadaan Sang Istri. Alvin benar - benar tidak bisa menemukan keberadaan Mikha.
Alvin semakin merasa frustasi karena Mikha pergi tanpa membawa ponselnya sama sekali, "Dimana kamu Mikha? Kenapa kamu pergi?" Ujar Alvin.
Satu rumah tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Mikha. Alvin semakin merasa frustasi karena tidak bisa menemukan keberadaan Mikha. Dia terus saja mencarinya, Alvin meminta bantuan kepada semua orang yang berada dirumah untuk mencari keberadaan Sang Istri.
"Kenapa Mikha bisa pergi? Kamu dan dia sedang ribut ya?" Tanya Ara yang mulai mencurigai Adik iparnya itu.
"Gak Kak! Malah kami berdua saat ini sedang baik - baik saja. Aku juga tidak tau kenapa Mikha pergi." Ujar Alvin.
"Lalu kenapa Mikha pergi kalau memang kamu dan dia baik - baik saja?" Tanya Ara lagi yang masih belum bisa mempercayai ucapan dari Alvin barusan.
"Alvin juga gak tau Kak....Sebentar...." Alvin mulai mengetahui dimana Mikha bersembunyi darinya.
"Semuanya berhenti mencari Mikha...." Teriak Alvin sontak membuat satu rumah tidak mengerti.
"Aku sudah mengetahui dimana keberadaan Mikha." Ujar Alvin lagi sembari tersenyum menyeringai.
"Kamu apa - apaa sih Vin? Kakak masih belum bisa mengerti dengan kamu...emangnya Mikha dimana?" Tanya Al yang sedari tadi juga membantu Adiknya itu untuk mencari tau keberadaan Mikha.
"Maafkan aku Kak..." Setelah mengatakan hal itu lalu Alvin pergi meninggalkan semua orang yang berada disana. Alvin berjalan menuju belakang rumah mereka, lalu Alvin membuka pintu ruangan tempat dia pernah memberikan kejutan kepada Sang Istri. Alvin sangat yakin kalau Mikha saat ini berada didalam sana. Entah hal apa yang membuatnya begitu yakin dengan keberadaan Istrinya itu.
Begitu Alvin membuka pintu, Alvin langsung bisa melihat Mikha yang kini tertidur dengan lelapnya disofa yang berada diruangan tersebut. Alvin berjalan untuk mendekati Istrinya itu, "Feeling aku benar kan kalau kamu berada disini?' Batin Alvin sambil membelai lembut wajah Sang Istri.
Mikha tidak terbangun sama sekali sangking terlelapnya.
Alvin mengecup kening Mikha sangat lama lalu kemudian mengendong tubuh Istrinya itu. Alvin membawa Mikha untuk masuk lagi kedalam rumah. Alvin melewati Al dan Ara yang saat ini sedang bermesraan diruang santai.
"Dimana kamu menemukan Mikha Vin?" Tanya Ara saat melihat Alvin.
__ADS_1
Alvin hanya memberikan kode saja sambil menutup mulutnya dengan menggunakan jari telunjuknya saja. Ara yang mengerti akhirnya hanya tersenyum saja tanpa mengajukan pertanyaan lagi. Alvin berjalan menuju lantai atas dengan perlahan - lahan.
Sesampainya dikamar, Alvin langsung membaringkan tubuh Mikha dikasur empuk milik mereka, "Mimpi indah sayang...kenapa kamu jahat banget sih ninggalin aku tidur duluan? Aku tau kamu pasti sengaja ingin menghukum aku ya karena aku tadi menggoda kamu terus?" Ujar Alvin sambil membelai lembut wajah Mikha.
Setelahnya Alvin menyelimuti tubuh Mikha lalu Alvin berbaring tepat disebelah Sang Istri.
*********
Keesokan harinya setelah mengantarkan Mikha pergi bekerja, Alvin sudah memulai melakukan pencarian untuk Clara. Alvin mencari tau kesemua orang yang pernah berhubungn dengan Clara.
Alvin benar - benar tidak putus asa sama sekali dalam melakukan penyelidikannya itu. Dia masih berusaha keras untuk dapat menemukan keberadaan Clara. Dia merasa sangat berhutang budi dengan apa yang pernah Alan lakukan untuk dirinya dan Mikha.
Alvin terus berpikir siapa yang bisa untuk dihubunginya yang mengetahui tentang keluarga Clara. Dia diam beberapa saat sambil memejamkan kedua matanya. 'Bosnya Clara dulu pasti mempunyai data pribadi tentang Clara!' Alvin bangkit dari duduknya lalu bergegas untuk pergi menemui mantan atasannya Clara itu.
Alvin mengetahui dirinya harus pergi kemana untuk itu, Alvin melajukan mobilnya menuju ke bar tempat Clara bekerja. Sesampainya disana Alvin berjalan untuk menjumpai salah satu anak buah Bosnya Clara.
"Bisa aku bertemu dengan Bosmu?" Ujar Alvin mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Maaf tidak bisa." Tolak Anak buah Bosnya Clara itu dengan tegas.
Alvin mengerti dirinya harus bagaimana, Lalu Alvin memberikan amplop yang sudah Alvin persiapkan untuk melancarkan rencananya itu. "Ayolah....hanya sebentar saja, Aku harap kamu bisa untuk mengaturnya." Bujuk Alvin lagi sambil memasukkan amplopnya kedalam saku celananya.
"Baik...tapi aku tidak menjadikan apa - apa bila dia menolak untuk bertemu." Balas Anak buahnya.
"Aku tidak akan terburu - buru. Bahkan aku bersedia untuk menunggunya sampai urusannya selesai." Jawab Alvin.
"Sebentar..."
Alvin memutuskan untuk duduk dikursi yang ada disana. 'Semoga saja aku bisa menemukan petunjuk.' Alvin terus berharap didalam hatinya.
Beberapa saat kemudian Anak buah Bosnya Clara itu sudah datang kembali, "Silahkan masuk! Sesuai dengan kesepatakan kita tadi, hanya sebentar saja." Kemudian Anak buah Bosnya Clara itu menunjukkan jalan lalu membukakan pintu untuk Alvin.
Alvin masuk kedalam dengan tenang dan tidak memiliki rasa takut sama sekali,
"Jadi apa yang membawa kamu ingin menemui saya?" Tanya bosnya Clara sambil melipatkan tangannya.
"Saya membutuhkan data pribadi tentang mantan karyawan kamu yang bernama Clara Asyifa. Apa kamu bersedia memberikannya?" Balas Alvin tanpa kenal takut.
"Clara? Oh ternyata kamu membutuhkan informasi tentang wanita itu....katakan kenapa kamu pikir kalau saya bersedia memberikannya?" Tanya Bosnya Clara lagi.
Alvin tersenyum, "Katakan...berapa uang yang kamu inginkan? Saya bisa memberikannya." Balas Alvin.
Seketika Bosnya Clara itu tertawa sambil bertepuk tangan, "Saya salut dengan keberanian kamu Anak muda! Tapi sayangnya saya tidak membutuhkan uang kamu." Ujarnya.
Alvin sama sekali tidak mengerti, 'Maksudnya? Kamu membutuhkan hal lain?" Ujar Alvin sambil mengerlitkan alisnya.
"Kamu cukup pintar...." Balasnya.
"Katakan..." Ujar Alvin dengan tidak sabaran.
"Bawakan wanita yang bernama Tia itu kemari...dia telah menipu saya dengan membawa lari Clara! Kalau kamu bisa membawa dia, saya janji akan menepati janji saya untuk memberikan semua informasi yang kamu butuhkan. Apa kamu bisa melakukannya?" Tantang Mantan Bosnya Clara itu.
'Tapi bagaimana mungkin aku bisa membawa Tia kesini? Dia pasti akan menolaknya!' Pikir Alvin beberapa saat.
"Gimana? Kamu bisa melakukannya atau tidak?" Tanyanya lagi karena Alvin tak kunjung memberikan jawaban pastinya.
"Okee..." Jawab Alvin dengan tidak yakin.
"Baik kita sudah sepakat...senang sekali bisa bekerja sama dengan anak muda seperti kamu!" Ujar mantan Bosnya Clara itu sambil mengulurkan tangannya.
Alvin membalas uluran tangannya. 'Apa yang aku katakan barusan? Tapi ini untuk Alan....aku sudah berjanji akan membantunya.' Batin Alvin akhirnya.
******
Akankah Alvin berhasil untuk membawa Tia lalu berhasil untuk menemukan keberadaan dari Clara?
Akankah Tia bisa menanggung semua perbuatan buruknya dan menerima karmanya?
Tunggu kejutannya ya!
__ADS_1
Happy reading guys!