SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 159


__ADS_3

Mikha mengulangi perkataannya lagi, "Aku benar - benar masih belum paham dengan apa yang barusan terjadi. Bisa tolong dijelaskan lagi?" Pinta Mikha lagi sambil menatap keduanya dengan waja bingung.


"Begini Sayang...aku tau kamu pasti sangat terkejut mendengarkan pengakuan aku barusan. maafin aku ya karena udah gak jujur sama kamu belakangan ini. Aku tau kamu pasti kecewa banget sama aku sekarang."


Mikha melepaskan tangan Alvin, "Vin...jangan sentuh aku...katakan dengan jelas agar aku dapat mengerti dengan ucapan kamu yang sangat mengejutkan aku ini." Ujar Mikha.


"Hmmm...begini Mik, kamu tau kan kalau aku dulu itu pria yang sangat brengsek! Aku bisa tidur dengan semua wanita yang aku inginkan termasuk Clara. Iya memang benar aku pernah berhubungan dengan Clara tapi jauh sebelum aku mengenal kamu. Tapi pada saat kita akan menikah, aku terlalu banyak minum sampai aku mabuk. Aku bahkan tidak sadar lagi dengan apa yang sudah terjadi. Tapi kamu harus percaya sama aku kalau aku tidak melakukan sama Clara pada malam itu." Ujar Alvin sambil memegang kedua bahu Mikha.


Mikha melepaskan tangan Alvin dengan kasar, "Dan sekarang kenapa kamu baru mengatakannya? Setelah semua yang telah terjadi, ini terlalu semua terlalu mendadak. Aku masih belum bisa berpikiran dengan jernih untuk saat ini. Aku mohon kamu jangan paksa aku dulu." Ujar Mikha sambil menangis.


"Alvin benar Mik, belum tentu kalau itu Anaknya Alvin. Saya juga tidak tau kalau dulu Clara juga berhubungan dengan Alvin sampai sejauh itu. Karena pada saat itu saya hanya tergila - gila dengan cinta yang diberikan oleh Clara." Alan berusaha membantu menjelasakan kepada Mikha.


"Tapi tetap saja salah kamu salah Vin...kenapa kamu tidak jujur saja sama aku dari awal? Semuanya tidak akan seperti ini kan? Aku sangat kecewa sama kamu Vin. Hati aku begitu sakit mendengarkan semua ini, tolong beri aku waktu untuk menenangkan pikiran aku dulu. Aku harap kamu tidak menghubungi dan menganggu aku dulu untuk sementara waktu. Sekarang aku harus segera balik kekantor." Mikha beranjak dari duduknya.


Alvin menahan tangan Istrinya itu yang kini masih menangis akibat perbuatannya, "Maaf Mik, kalau bisa aku mohon kamu maafkan aku...aku juga sampai sekarang masih menyelidikinya. Aku antar kamu ya." Ujar Alvin.


"Sorry Vin...aku bisa balik sendiri." Dengan paksa Mikha melepaskan tangannya dari Alvin lalu berjalan setengah berlari sambil terus menangis. Hati Mikha benar - benar hancur untuk saat ini.


Alvin hanya terpaku dan terlihat begitu sedih, "Aku mengerti perasaan kamu Vin...dalam minggu ini kita akan mengetahui hasil tes DNA nya." Ujar Alan.


"Tapi bagaimana bisa?" Tanya Alvin lagi.


"Ketika kamu pergi kemarin malam, aku masuk keapartemnnya Clara. Aku membawa Clara kerumah sakit dan aku jugalah yang merawat Clara. Aku tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan, aku mengambil stemple darah untuk tes DNA, tapi ternyata prosesnya tidak mudah karena Anaknya masih berada didalam kandungan Clara." Ujar Alan menjelaskan.


"Tolong lakuan apapun yang kamu bisa Lan...aku ingin semua ini cepat berlalu, aku tidak ingin membuka Mikha kecewa dan sakit hati berlarut - larut seperti itu kepadaku." Ucap Alvin dengan lirih.


"Aku akan berusaha secepatnya ya Vin...." Ujar Alan.


"Terimakasih Lan...kalau begitu aku permisi sekarang ya! kalau kamu sudah mengetahui hasilnya, aku ingin kamu memberitahukannya dengan segera kepadaku ya!" Setelah mengatakan itu, Alvin beranjak berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan Alan dengan tidak bersemangat.


Alvin terus saja berjalan menunduk, 'Aku benar - benar minta maaf sama kamu Mik! Aku tau walaupun aku jujur kamu juga akan marah sama aku...tapi aku tidak ingin kamu mengetahuinya dari mulut orang lain." Batin Alvin.


*******


Selama didalam perjalanan menuju kekantornya, Mikha terus saja menangis hatinya benar - benar sakit mendapatkan kejutan yang sangat tidak dinginkannya itu, ternyata perasaannya tidak enaknya benar - benar terjadi juga. Mikha sangat membenci dirinya yang sangat mencintai pria seperti Alvin.


Mikha merasa kalau dirinya lah yang terlalu memaksakan diri untuk terus bersama dengan Alvin padahal dirinya sudah tau dengan jelas kalau Alvin pria yang seperti itu. Hanya saja cinta yang dimilikinya dapat membuatnya buta. Dia benar - benar sangat terpikat oleh pesona yang diberikan oleh Alvin kepada dirinya.


Mikha terus saja melamun sambil menangis sampai dirinya tidak menyadari kalau dia sudah sampai didepan kantornya, kalau supir taksi tidak menyenggol lengannya dirinya masih sibuk sendiri dengan lamunannya.


"Neng udah sampai..."


"Baik Pak..ini.." Mikha memberikan uang taksi lalu menghela nafasnya dengan panjang. Mikha menghapus sisa - sisa airmatanya.


Mikha masuk kembali kedalam kantor lalu berjalan menuju ruangannya dengan langkah pelan. Bahkan Mikha tidak tau kalau dirinya saat ini sedang diperhatikan secara diam - diam dari kamera CCTV.


"Kenapa ekspresi kamu seperti itu Mik?" Alex masih bertanya - tanya kepada dirinya sendiri.


Alex terus saja menatap Mikha dari layar CCTV nya yang tersambung di laptopnya itu, suara ketukan pintulah yang akhirnya dapat menyadarkan dirinya.


"TOKTOKTOK!"


"Masuk!" Perintah Alex.


"Bos..."


"Katakan apa yang sedang terjadi dengan Mikha?" Tanya Alex langsung to the point.


"Sebelumnya saya ingin memberikan berkas ini Bos..." Ujar Anak buahnya itu.


Alex mengambil berkas yang diberikan oleh Anak buahnya itu, Alex membaca dan mengetahui semua asal usul Mikha dan keluarganya, begitu juga dengan Suaminya Mikha. Alex menutup berkas itu lalu meletakkan dengan kasar.


"Katakan sekarang!"


"Begini Bos...ternyata suaminya Mikha itu memiliki hubungan dengan seorang wanita yang bernama Clara, hari ini Mikha sudah mengetahui segalanya. Dirinya pasti saat ini sangat kecewa dan sedih. Alvin itu dulunya seorang playboy yang sangat brengsek! Hanya saja ada satu kejadian dimana dirinya bersama dengan Mikha lalu keduanya kepergok oleh Kakaknya Alvin. Alvin dipaksa untuk menikahi Mikha. Tapi masalahnya sepertinya Mikha sudah menaruh perasaannya kepada Alvin." Ujar Anak buah Alex.


Alex masih memejamkan kedua matanya sambil mengepalkan kedua tangannya.


'Jadi seperti itu ceritanya...Alvin dari keluarga William yang terhormat....pastilah keluarga tidak ingin mendapatkan malu atas perbuatan dari putra kedua mereka, sehingga mereka mengatur pernikahan dengan wanita sebaik Mikha. Pantas saja aku merasa kalau Mikha itu masih terlalu muda udah menikah. Hmm...menarik sekali! Ini kesempatanku untuk mengoyahkan Mikha supaya meninggalkan suaminya itu.' Batin Alex sambil tersenyum misterius.


"Kamu sudah boleh pergi sekarang!" Perintah Alex.


"Baik Bos!"


Kemudian Anak buah Alex sudah keluar dari ruangannya. Pandangan Alex kembali lagi kepada layar laptopnya itu. Alex melihat sesekali Mikha menyeka airmatanya.


'Aku tidak rela melihat kamu menangis hanya karena seorang pria brengsek seperti itu Mikha....kamu itu terlalu baik untuk dia!' Batin Alex yang kini sudah mengepalkan kedua tangannya.


Sepanjang hari Mikha bekerja dengan tidak konsentrasi sama sekali, dia terus saja melamun. Waktu terasa sangat cepat, Mikha menatap jam tangannya, dia sebenarnya tidak ingin pulang cepat hari ini. Dia ingin menghindari pertemuannnya dengan Alvin dulu. Mikha benar - benar belum siap untuk bertemu dan melihat wajah Alvin.


Akhirnya Mikha memutuskan untuk lembur ya walaupun sebenarnya pekerjaannya tidak terlalu banyak dan sebenarnya bisa untuk dikerjakannya besok, hanya saja dia memaksakan diri untuk menyelesaikannya hari ini. Alex juga memutusakan untuk tidak kembali sebelum Mikha pulang.


Malam semakin larut, dan Mikha masih betah duduk diruangannya sambil terus melakukan pekerjaannya. Mikha kembali melihat jarum jamnya, 'Sepertinya sudah waktunya aku harus kembali sekarang!' Pikirnya.


Mikha mematikan komputernya, lalu merapikan meja kerjanya. Mikha menyusun barangnya kembali kedalam tas lalu Mikha keluar dari ruangannya sambil berjalan lesu dan tdak bersemangat. Mikha terus saja menundukkan kepalanya sampai - sampai dia tidak menyadari kalau Bosnya ada disebelahnya. Mikha masuk kedalam lift masih dengan lamunannya.


Hingga pintu liftnya kembali terbuka, Mikha keluar dengan segera lalu berjalan keluar kantor, langkah demi langkahnya semakin terasa berat. Mikha sudah menghubungi taksi untuk dirinya pulang.


Tapi ketika dia ingin berjalan kearah taksi, Alvin melajukan mobilnya tepat dihadapan Mikha. Mikha hanya terdiam tanpa merespon apapun juga. Alvin membuka kaca mobilnya, "Masuk Mik..."


"Sorry aku bisa pulang sendiri." Tolak Mikha.


Alvin turun dari mobilnya lalu menarik tangan Mikha, "Pulang bareng aku aja ya Mik..." Alvin terus memohon kepada Mikha.

__ADS_1


Mikha sedang tidak ingin menatap wajah Alvin untuk saat ini, "Sepertinya kata - kata aku sewaktu kita dirumah sakit masih sangat jelas ya Vin...aku bilang aku masih butuh waktu untuk sendiri dulu untuk sementara waktu. Aku mohon tolong kamu hargai itu." Ujar Mikha sembari melepaskan tangan Alvin secara paksa.


Mikha berjalan cepat hingga dirinya saat ini sudah berada di dalam taksi pesanannya itu, Mikha diam - diam melihat Alvin dari dalam taksi. Mikha melihat ada perasaan sedih disana, mendadak Mikha menjadi lemah. 'Tolong berikan aku waktu untuk memikirkan ini semua Vin...ini terlalu mendadak untuk aku! Kenapa disaat aku lagi sayang - sayangnya sama kamu dan keadaan kita lagi hangat begini, masalah ini malah muncul. Jujur aku sangat kaget Vin.' Batin Mikha.


Taksinya sudah semakin jauh sampai Alvin sudah tidak terlihat lagi dari taksi yang dipesan Mikha itu. Airmata Mikha kembali mengalir dengan derasnya, sesekali dirinya sempat terisak.


Setelah kepergian Mikha, Alvin masih diam terpaku saja, dia kemudian berjalan pelan menuju mobilnya, Lalu Alvin mengemudikan mobilnya dengan cepat. Alvin ingin menyusul Mikha, syukurnya dirinya masih bisa mengejar taksi yang ditumpangi oleh Mikha.


Setelah kepergian kedua sejoli itu, Alex yang sedari tadi hanya menonton pertunjukkan yang ada dihadapannya itu hanya tersenyum bahagia. 'Sepertinya keadaan mereka benar - benar tidak baik....itu artinya...' Batin Alex yang tidak ingin melanjutkan perkataannya lagi.


*******


Sesampainya dikediaman Al dan Ara, Mikha turun dari taksi lalu dengan langkah berat dirinya masuk kedalam rumah. hari ini begitu sangat melelahkan untuk dirinya. Mikha langsung naik keatas, dia ingin segera mandi untuk dapat menjernihkan pikirannya. Setidaknya untuk malam ini.


Dia tidak ingin berada didalam satu ruangan dengan Alvin, tapi dirinya juga tidak ingin memberitahukan satu rumah kalau pada saat ini dirinya sedang ribut dengan Alvin. Akhirnya mau tidak mau dia hanya berusaha untuk bertahan saja didalam satu ruangan dengan Alvin, ya walaupun pasti akan terasa sangat menyakitkan baginya.


Setelah selesai mandi, Mikha menggunakan piyaman tidurnya lalu dia menatap dirinya didepan cermin. Mikha mengoleskan cream malamnya diwajahnya. Lalu ketika mendengarkan suara pintu terbuka dengan langkah cepat Mikha langsung naik keatas tempat tidur lalu segera menyelimuti dirinya dengan arah yang berlawanan dengan Alvin.


Alvin mengetahui bahwa sebenarnya Mikha belum tertidur, hanya saja dirinya tidak ingin menganggu Mikha dulu seperti permintaan Mikha. Dengan langkah berat Alvin masuk kedalam kamar mandi. Setelah pintu kamar mandinya tertutup, Mikha kembali memperlihatkan wajahnya.


'Kenapa aku yang harus bersembunyi seperti ini? Bukannya aku tidak melakukan sebuah kesalahan apapun juga?' Pikirnya.


Ucapan Alvin kembali lagi terngiang - ngiang ditelinga Mikha, sebenarnya Mikha tidak ingin mengingat ucapan Alvin malam ini. Hanya saja dia tidak bisa melupakan apa yang dikatakan oleh Suaminya itu tadi siang. Akhirnya Mikha memutuskan untuk menutup kedua telinganya lalu berusaha untuk memejamkan kedua matanya agar dapat tertidur.


Akan tetapi semakin dia berusaha semakin tidak bisa, hingga akhirnya dirinya mendengar kembali pintu kamar mandinya terbuka kembali, Dengan segera Mikha kembali memejamkan matanya lagi.


Alvin melihat Mikha yang masih membelakangi dirinya. Alvin mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya lalu segera naik keatas tempat tidur.


"Selamat tidur sayang...mimpi indah ya!" Ujar Alvin dan Alvin sangat yakin kalau Mikha mendengarkan ucapannya barusan hanya saja Mikha tidak memberikan respon apapun juga.


Alvin menghela nafas panjang, lalu Alvin menghadap kearah punggung Mikha, ingin rasanya Alvin untuk menyentuh punggung Istrinya itu. Hanya saja dia merasa ragu - ragu hingga akhirnya dirinya kembali untuk menarik tangannya kembali.


'Andai saja kamu tau Mik, aku juga tidak ingin membuat kamu merasa sakit hati dan kecewa seperti ini kepadaku! Mungkin aku memang bukan pria yang pantas untuk mendapatkan cinta kamu....kamu itu terlalu baik Mik. Kalau mungkin bisa maafkanlah aku...' Batin Alvin lirih.


Hingga akhirnya Alvin tertidur, Mikha yang belum bisa tertidur ingin kekamar mandi hanya saja dirinya memang menunggu setelah Alvin tidur, setelah mengetahui kalau Alvin sudah tidur, Mikha dengan langkah pelan tanpa ingin membangunkan Alvin kembali, Mikha berjalan kearah kamar mandi. Mikha selesai, Mikha kembali naik keatas tempat tidurnya, dirinya sempat menatap wajah Alvin sebentar sebelum pada akhirnya dirinya kembali untuk memunggungi Alvin lagi.


'Kenapa setiap melihat wajah kamu aku menjadi lemah? Jujur aku tidak bisa marah sama kamu Vin...hanya saja untuk kali ini aku tidak bisa.' Batin Mikha.


Hingga pada akhirnya Mikha tertidur juga.


Keesokan harinya....


Mikha yang setengah tersadar dari tidurnya, masih belum menyadari kalau dirinya dan Alvin pada saat ini sedang berpelukan. Mikha hanya merasa tubuhnya tengah dililit oleh sesuatu saja, hingga akhirnya dia membuka kedua matanya yang masih terasa sangat berat.


'Kenapa aku berpelukan dengan Alvin?' Pikir Mikha,


Dengan segera Mikha langsung melepaskan dirinya dari Alvin. Mikha langsung berlari masuk kedalam kamar mandinya dengan secepat mungkin. 'Kenapa bisa aku tidak menyadari kalau aku sedang berpelukan dengan Alvin? Apa jangan - jangan Alvin mencari - cari kesempatan ya?' Pikirnya.


Ara yang saat ini sedang sarapan dengan Al masih saling melemparkan godaan satu sama lainnya, Alvin tiba - tiba saja turun lalu duduk tepat disebelah Al dengan wajah yang sangat kusut.


"Pagi Kak Al dan Kakak ipar." Ujarnya.


"Pagi juga Vin..." Jawab Al dan Ara secara bersamaan.


"Mikha mana? Tumben - tumbenan kamu turunnya tidak bareng sama Mikha?" Tanya Ara dengan selidik.


"Mikha udah tidak ada diatas Kak, malah aku pikir dia sedang sarapan." Jawab Alvin sekenanya saja.


Al dan Ara saling menatap satu sama lain, "Kalian sedang berantam?" Tebak Al.


"Lebih tepatnya Mikha sih Kak yang lagi marah sama aku." Ujar Alvin sambil menyantap sarapannya.


"Lalu kenapa kamu secuek ini? Kenapa kamu tidak berusaha untuk meminta maaf kepada Mikha Vin? Kakak masih tidak habis pikir dengan kamu...bisa - bisanya ya kamu masih bisa makan seperti ini." Omel Al.


Alvin yang memang tidak bernafsu makan sama sekali, malah semakin tidak berselara makan setelah mendengarkan omelan dari Kakaknya itu.


"Ada masalah apa sih Vin? Bukannya kemarin kalian berdua masih baik - baik saja ya?" Tanya Ara.


"Susah untuk dijelaskan Kak...yang pasti Alvin yang bersalah, Mikha tidak salah apapun dalam hal ini. Ya udah kalau begitu Alvin pergi duluan ya Kak." Ujar Alvin yang tidak menghabiskan makanannya.


Setelah kepergian Alvin, Ara dan Al saling menatap satu sama lain. "Ada apa lagi sama mereka berdua ya sayang?" Tanya Al yang memang tidak mengetahui apa - apa.


"Entahlah aku juga tidak tau...' Jawab Ara.


'Apa Alvin sudah bilang yang sebenarnya sama Mikha ya? Kalau bukan karena masalah itu kenapa Alvin menyalahkan dirinya sendiri?' Pikir Ara.


"Sayang..." Panggil Al yang mendapati kalau Sang Istri sedang bengong.


"Hah? I-iya sayang..."


"Kamu kok jadi begong seperti itu sih? Udahlah jangan mikirin mereka berdua terus, biarkan mereka yang menyelesaikan masalah mereka." Ujar Al yang bisa menebak ekspresi dari Ara barusan.


"Siapa bilang aku sedang mikirin mereka berdua?" Balas Ara.


"Lalu kamu sedang mikirin apa?" Tanya Al.


Kemudian Ara mengelus perutnya, "Kamu tidak lupa kan sayang kalau hari ini adalah jadwal check up aku ke rumah sakit?" Ujar Ara.


"Oh iya...sorry sayang..." Ujar Al sambil menepuk keningnya.


"Kamu bisa gak nemenin aku? Kalau kamu tidak bisa aku bisa kok pergi sendiri....duh senangnya aku bisa bertemu dengan Dokter Alan yang sangat tampan." Ara sengaja menuji Alan dihadapannya suaminya.


Kini Al sudah menatap Istrinya itu dengan tatapan yang sangat tajam. "Kamu bilang apa? Sangat tampan?" Ujar Al.

__ADS_1


"Iya bukannya memang benar ya kalau Dokter Alan itu tampan? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja sayang." Ara malah sengaja mengulangi perkataannya lagi.


"Iya dia tampan...tapi tidak setampan dan semempesona aku kan sayang?" Ujar Al tidak ingin kalah,


"Hmm...sepertinya Dokter Alan lebih mempesona deh sayang..." Ujar Ara semakin sengaja untuk menjaili suaminya itu.


"Araaa...!"


"Ya sayang...kamu kenapa sih?" Balas Ara masih berpura - pura tidak tau kalau dirinya sudah membuat Suaminya itu cemburu.


"Udah muji - muji pria lain dihadapanku? Apa masih belum puas juga? Hmmm..."


"Sayang jangan bilang kamu sekarang sedang cemburu? Omg...ternyata memang benar!" Ujar Ara sembari tertawa puas.


"Mendingan aku pergi sekarang deh!" Ujar Al yang ngambek dengan Ara.


Ara menahan tangan kekar milik Suaminya itu, "Udah cemburunya? Aku suka kalau kamu cemburuan seperti ini sayang... tapi aku serius ketika mengatakan kalau Dokter Alan itu tampan." Balas Ara yang semakin membuat Al kesal.


"Iya puji aja dia terus! Udah ah aku mau berangkat."


CUP


Dengan langkah cepat Ara memberikan kecupan dipipi Suaminya itu, "Sampai ketemu nanti sayang...kamu jauh lebih tampan dari pria manapun." Bisik Ara.


"Dasar nakal!" Al mengacak - acak rambut Ara.


"Ih sayang...jangan diberantakin dong..ntar aku kan mau ketemu sama Dokter Alan...kamu gimana sih." Omel Ara.


Al malah semakin bersemngat untuk membuat rambut Ara berantakan.


"Sayangnya Papa.. bilangin sama Mama kamu ya jangan ganjen - ganjen...Papa berangkat kerja dulu ya sayang." Ujar Al seraya membelai perut Ara.


"Iya Papa..." Ara mewakili Anak yang ada didalam perutnya itu.


"Sayang aku pergi ya...kamu jangan nakal dirumah ya!" Pamit Al.


"Iya sayang...kamu hati - hati ya, ntar kalau kamu udah sampai kabari aku ya." Ujar Ara sambil mencium tangan suaminya.


Setelah kepergian Al, Ara mulai menghubungi Alvin untuk bertanya secara jelas dengan apa yang terjadi. Alvin langsung menjawab panggilan Kakak iparnya itu. Bahkan Alvin sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Ara.


"Ya Kak...ada apa?"


"Kamu kenapa sama Mikha?"


"Hmmm...Alvin udah bilang yang sebenarnya sama Mikha, terus Mikhanya marah, sakit hati dan kecewa sama Alvin. Dan Mikha minta waktu sama Alvin. Dia ingin menenangkan diri dan pikirannya dulu. Ya udah Alvin tidak ingin menganggu dia dulu."


"Kenapa Vin? Kenapa kamu bilang sama Mikha? Bukannya Kakak meminta kamu untuk menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu?"


"Karena Alvin tidak ingin Mikha mengetahuinya dari orang lain Kak! Alvin takut Mikha akan semakin marah kalau mengetahui ini semua dari mulut orang lain. Alvin menjadi serba salah Kak, disatu sisi Alvin tidak ingin Mikha tau sebelum Alvin menyesalikan masalah ini, disisi lain Alvin tidak ingin Mikha tau dari mulut orang lain. Jadinya Alvin memutuskan untuk berterus terang dengan Mikha."


"Hmmm....jadi sekarang bagaimana? Kamu masih belum tau kalau itu Anak siapa? Kamu harus bertindak cepat Vin sebelum semuanya semakin runyam."


"Iya Kak Alvin tau...minggu ini hasil test DNA nya keluar....Alvin semakin tidak sabar untuk menunggunya. Alvin ingin segera berbaikan dengan Mikha Kak."


"Semoga saja Anak itu bukan Anak kamu!"


"Iya Kak...feeling Alvin sangat kuat sekali kalau itu bukan Anak Alvin."


"Iya semoga saja feeling kamu benar Vin!"


Sejujurnya Alvin tidak takut sama sekali dengan hasil test DNA itu, karena Alvin memang merasa kalau dirinya tidak pernah melakukannya lagi dengan Clara, apalagi dulunya dia melakukannya dan selalu menggunakan pengaman. Dan hanya dengan Mikha saja Alvin tidak menggunakan pengaman karena sudah sangat mabuk dan pada saat itu Mikha sangat mempesona nan memikat dimatanya.


"Kalau begitu Alvin tutup ya Kak...."


"Iya Vin....Kakak berharap masalah kalian berdua cepat berakhir ya."


"Iya Kak..Terimakasih Kakak iparku!"


Setelah itu Alvin mengakhiri panggilan teleponnya.


Sejak kejadian kemarin, Alan belum ada kabar sama sekali. Alvin semakin tidak sabaran untuk mengetahui hasil test itu. Dirinya benar - benar merasa gelisah karena Mikha tidak memperdulikan dia.


"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang sayang? Apa kamu tidak kangen sama aku? Hmm..." Ucap Alvin lirih.


Sedangkan ditempat lain, Mikha seperti mendengarkan sesuatu, Mikha segera tersentak sendiri. Dia merasa seperti seseorng sedang menyebut namanya. Telinganya terasa sangat gatal dan sakit sepergi berdengung.


"Siapa yang sedang membicarakan diiriku? Apa jangan - jangan Alvin?" Pikir Mikha.


"Tidak Mikha untuk saat ini jangan mikirin Alvin dulu..." Ucapnya lagi lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Lain dimulut lain dihati, tentu saja Mikha masih terus memikirkan Alvin, hanya saja dirinya merasa sangat gengsi ditambah lagi hatinya saat ini sedang terluka karena Alvin telah membohongi dirinya.


*******


Tada...gimana episode hari ini?


Semoga kalian suka ya!


Tunggu saja kejutan - kejutan yang lainnya ya...dan semoga kalian suka!


**Dont forget like & comment nya ya! **


Happy reading guys!

__ADS_1


__ADS_2