SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 152


__ADS_3

Setelah kepergian Bella dari ruangan Alex, Alex langsung menatap Mikha. "Mikha...!" Panggil Alex yang melihat Mikha seperti sedang melamun.


"Mikha...!" Panggil Alex lagi.


"Hah? I-iya Pak..."


"Kamu melamun ya? Sedari tadi saya manggilin kamu..." Tegur Alex sambil mengawasi Mikha.


"Maaf Pak.."


"Soal tadi saya minta maaf ya sama kamu..." Ujar Alex yang merasa tidak enak hati dengan Mikha.


"Bukan salah Bapak kok, salah saya sendiri yang tadi langsung nyelonong masuk saja kedalam ruangan Bapak. Maafkan saya ya Pak jadi menganggu." Ujar Mikha.


'Sepertinya dia jadi salah paham dengan keadaan tadi.' Batin Alex.


"Semua yang kamu lihat tadi salah, itu tadi mantan..."


"Pak Alex gak perlu untuk menjelaskan sama saya kok, bagi saya itu adalah masalah pribadi Pak Alex saja dan tidak ada hubungannya dengan saya." Mikha langsung dengan cepat untuk memotong ucapan Alex.


"Tapi..."


"Hmm...baiklah kalau begitu menurut kamu." Ujar Alex akhirnya sambil menghela nafas dengan berat.


"Kalau begitu saya permisi ya Pak..." Ucap Mikha lalu beranjak dari duduknya.


Alex hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah menatap kepergian Mikha, Alex yang sudah mengepalkan kedua tangannya akhirnya memukul mejanya dengan keras.


'Sialan...!' Batinnya dengan sangat emosi.


"Bella tau darimana aku sudah kembali? Apa jangan - jangan Bella tau dari Daniel? Tapi bukannya aku sudah lama tidak berkomunikasi lagi dengan Daniel sejak kejadian itu? Aaaarrgggh!" Alex terus saja berpikir dengan keras.


Mikha yang berjalan terus sambil tidak berkonsentrasi dengan apa yang baru terjadi didalam hanya bisa melamun saja sambil memikirkan apa yang sedang terjadi. Sesampainya Mikha diruangannya dirinya langsung duduk lalu segera meneguk habis minuman saat ini.


'Bodohnya aku kenapa aku tidak mengetok pintu terlebih dahulu? Aku jadi menganggu Pak Alex dengan wanitanya didalam...' Mikha terus saja merutuki kebodohannya itu.


Tanpa sadar Mikha memukul mukul kepalanya dengan wajah penuh perasaan bersalah. Kemudian Mikha mendengarkan kalau ponselnya kini berdering dengan sangat nyaringnya.


'Siapa sih lagi?' Batinnya dengan kesal.


Tanpa melihat nama dari si penelepon Mikha segera menjawab panggilannya.


"Halo...ini siapa?" Ucapnya dengan nada bete.


"Akulah siapa lagi? Kamu lagi kenapa? Cerita sama aku..."


"Oh kamu Vin...gak kok aku lagi gak apa - apa. InI karena lagi banyak kerjaan aja jadinya begini deh."


"Oh begitu...hari ini kamu sudah tidak lembur lagi kan?" Tanya Alvin.


"Kenapa?"


"Gak aku hanya ingin tau saja Mik, emangnya gak boleh ya kalau aku nanya?"


"Boleh kok...hmm, sepertinya aku gak lembur deh hari ini."


"Ya udah ntar langsung pulang ya jangan keluyuran lagi. Ingat ya langsung pulang!" Alvin terus saja mengingatkan Mikha.


"Iya bawel...lagian kenapa sih kalau aku gak langsung pulang?"


"Iya gak apa - apa sih hanya saja aku mau kamu itu langsung pulang aja....apa susahnya sih kalau kamu nurutin aku? Sekali - sekali kamu harus mendengarkan ucapan dari Suami tercinta kamu ini dong."


Mikha tersenyum mendengarkan Alvin berbicara manis seperti ini, suasana hati Mikha sudah berubah jauh lebih baik lagi semenjak Alvin meneleponnya.


"Iya deh iya...aku dengerin kok. Ya udah kalau begitu aku lanjut kerja lagi ya. Bye Suami..."


"Nah begitu dong! I love you Istri."


"Love you too..."


Setelah itu Mikha langsung mengakhiri panggilannya dari Alvin, Mikha masih tidak habis pikir kalau Alvin yang tadinya cuek dan tidak perduli sama sekali dengan dirinya kini berubah menjadi sosok yang dramatis dan manis seperti ini. Senyuman diwajah Mikha terus saja mengembang karena ulah Alvin.


Mikha kembali melanjutkan pekerjaannya seperti sedia kala, Pikiran Mikha sudah kembali jernih lagi. Dia terus saja fokus untuk mengerjakan pekerjaannya dengan sangat serius.


Mikha bahkan tidak menyadari kalau saat ini sudah jam 7 malam. Mikha merentangkan kedua tangannya untuk merilekskan otot - ototnya yang mulai tegang karena dirinya.


"Akhirnya selesai juga!" Kemudian Mikha menatap jam tangannya.


"Aku harus pulang sekarang..." Ujarnya lalu segera membereskan barang - barangnya kedalam tas lalu segera beranjak dari duduknya. Mikha berjalan sedikit cepat untuk cepat keluar dari kantor.


Kini Mikha sudah berada didepan perusahaan tempat dia bekerja, suansanya sudah sangat sepi. "Ya hujan...kok bisa sih?" Gerutunya dengan kesal.


"Mikha...!" Panggil Alex dari belakang Mikha.


Mikha langsung menoleh kearah belakang, "Ya Pak..." Jawab Mikha.


"Kamu mau pulang ya? Gimana kalau bareng sama saya saja?" Alex menawarkan diri untuk mengantar Mikha pulang.


"Hmm...gak usah Pak...saya bisa naik taksi kok." Tolak Mikha secara halus.


"Udahlah Mik bareng saya saja lagian hujan begini kamu yakin mau naik taksi?"Alex terus saja memaksa Mikha untuk ikut bersama dengannya.


"Gak apa - apa Pak, lagian juga saya juga biasa kok naik taksi." Ujar Mikha sambil tersenyum.


"Kamu yakin?" Tanya Alex sekali lagi.


Mikha mengangguk dengan mantap, "Iya Pak, Pak Alex pulang duluan saja." Jawab Mikha.


"Bisa tidak kalau diluar jam kantor kamu tidak usah memanggil saya dengan sebutan Bapak! Saya serasa sudah tua." Protes Alex membuat Mikha tertawa.


"Apa yang lucu? Kenapa kamu malah ketawa? Jangan bilang kalau kamu sedang mentertawakan saya ya." Alex merasa kesal karena ditertawakan oleh Mikha.


"Gak ada kok Pak...tapi maaf saya merasa sangat canggung untuk memanggil nama Bapak dengan sebutan Alex saja." Ujar Mikha dengan jujur.


"Kamu bisa membiasakannya mulai dari sekarang! Ini merupakan perintah!" Alex menekankan setiap kalimat yang diucapkannya.


"Hmmm...baiklah Pak...maksud saya Alex." Ucap Mikha lalu meralatnya dengan cepat.


Tiba - tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti dihadapan dirinya dengan Bosnya itu, Mobil itu langsung menyalahkan klaksonnya secara terus menerus.


"Siapa sih?" Mikha mulai melihat siapa yang telah mengganggu dirinya saat ini.


Samar - samar ditengah hujan deras saat ini Mikha melihat mobil yang berada dihadapannya, lalu pintu mobilnya terbuka ada seorang pria yang turun dengan menggunakan payung dan berjalan kearahnya.


"Alvin..." Ucap Mikha dengan begitu terkejut.


"Iya sayang...ayo kita pulang, maaf ya aku telat jemputnya." Ujar Alvin sambil merangkul Mikha.


"I-iya gak apa - apa kok Vin. Oh iya ini kenalin Bos baru aku yang kemarin aku bilang sama kamu..." Ujar Mikha dambil memperkenalkan Alvin dengan Bos barunya itu.


"Alvin..."


'Ternyata ini suaminya Mikha...sepertinya wajahnya tidak asing...' Batin Alex.


"Alex..!"


"Kalau begitu aku pulang duluan ya Pak Alex..." Ujar Mikha lalu mengikuti Alvin.


Alvin membukakan pintu mobilnya untuk Mikha lalu segera berlari untuk masuk kedalam mobil juga. Alvin mengemudikan mobilnya dengan lumayan ngebut ditengah hujan seperti ini.

__ADS_1


'Alvin pasti salah paham deh...terlihat sekali wajahnya sangat marah. Bagaimana aku akan menjelaskannya?' Mikha terus saja berpikir keras sampai - sampai tidak mengetahu kalau Alvin terus saja mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.


"Enak ya tadi tertawa - tawa seperti itu dengan Bos baru kamu? Ada yang ingin kamu jelaskan?" Tanya Alvin untuk membuka obrolan dengan Mikha.


'Tuh kan benar....tunggu dulu, tapi Alvin kok gak kasih tau aku kalau dirinya pulang hari ini? Bukannya yang seharusnya marah itu aku ya bukan dia?' Pikir Mikha.


"Jawab aku Mik, kenapa kamu diam saja!" Ucap Alvin dengan nada yang sedikit keras.


"Tadi itu bukan apa - apa kok Vin...udah deh kamu gak usah cemburu seperti itu."


"Enak ya kamu cuma ngomong begitu saja? Aku kan sudah bilang sama kamu jangan dekat - dekat dengan pria lain? Tapi kenapa kamu tidak mendengarkan ucapan aku sih?" Ujar Alvin dengan menatap tajam kearah Mikha.


"Iya aku dengerin kamu kok Vin...kamu juga salah kok, kenapa kamu pulang kok gak kasih tau aku?" Tanya Mikha.


"Aku sengaja gak bilang sama kamu karena aku ingin memberikan kejuta untuk kamu...tapi apa? Aku malah terkejut dengan apa yang tadi aku lihat. Sepertinya kamu sangat akrab ya dengan Bos baru kamu tadi." Alvin terus saja cemburu.


"Please Vin, dia itu hanya bos aku! Lagian dia juga tau kok kalau aku sudah menikah! Udah dong please berhenti marahnya. Aku udah capek malah kamu marah - marah begini terus."


"Oke aku akan diam...!" Ujar Alvin lalu semakin mengebut mengemudikan mobilnya.


"Please dong Vin kamu jangan ngebut - ngebutan seperti ini, kamu tau kan kalau diluar sana lagi hujan deras!" Mikha terus saja berteriak sedangkan Alvin sudah tidak mendengarkan ucapan Mikha lagi. Alvin terus saja keras kepala, emosi dan hanya ingin mengikuti keinginannya saja.


"Vin...bukannya ini bukan perjalanan pulang ya? Kita mau kemana? Vin...jawab aku dong! Aku lagi ngomong sana kamu ini..." Ucap Mikha terus menerus sampai akhirnya Alvin menghentikan mobilnya.


"Turun..." Pinta Alvin.


"Tapi ini dimana? Kenapa kamu membawa aku kesini?" Tanya Mikha yang masih tidak mengetahui kemana Alvin membawa dirinya.


"Aku bilang turun Mikha..." Ujar Alvin lagi tanpa ingin menjelaskan.


Mikha menghela nafasnya dengan kasar baru akhirnya dirinya memutuskan untuk turun lalu setelahnya disusul oleh Alvin juga.


Alvin menarik tangan Mikha untuk mengikutinya berjalan tanpa mengatakan apapun juga. "Sakit Vin...lepasin tangan aku!" Ucap Mikha terus menerus tanpa diperdulikan oleh Alvin.


"Ini rumah siapa?" Tanya Mikha yang masih belum mengetahuinya.


Alvin membuka pintu lalu menarik Mikha untuk mengikutinya masuk kedalam.


"Kamu bawa aku kemana sih?" Tanya Mikha lagi dengan kesal.


Alvin lalu melepaskan genggamannya dari tangan Mikha, Alvin berjalan untuk meyalahkan lampu.


"Vin...ini semua....kamu yang buat?" Ucap Mikha setelah menatap kesekeliling rumah.


Alvin mengangguk dengan cepat, "Tadi siang sebenarnya aku sudah kembali lalu aku berencana untuk memberikan kamu kejutan kalau aku sudah kembali, tapi apa? Aku malah melihat kamu tersenyum dan bercanda dengan pria lain! Aku dengan sangat perjuangan minta pulang duluan sama Kak pagi ini, sedangkan Kak Al sendiri pulang besok, tapi aku malah sangat kecewa melihat kamu Mikha...Ini semua sudah tidak ada artinya lagi sekarang." Ujar Alvin lalu berjalan pergi meninggalkan Mikha.


Mikha masih berdiri ditempatnya dengan mematung, airmatanya mengalir dengan sangat deras. Mikha benar - benar sangat merasa bersalah dengan Alvin. 'Maafin aku Vin...maaf...!; Batinnya dengan lirih.


Mikha mulai berjalan untuk mengelilingi keseluruh penjuru rumah pada saat ini, "Aku gak tau kalau kamu seromantis ini...aku benar - benar merasa bersalah sama kamu Vin..." Ujar Mikha lagi yang kini sudah berada ditepi kolam renang dan melihat hiasan - hiasan lilin kecil yang membentuk "I LOVE YOU MIKHA"


"Kamu emang paling bisa buat aku semakin merasa bersalah seperti ini Vin..." Akhirnya Mikha memutuskan untuk masuk kedalam dan mencari keberadaan Alvin lagi.


"Vin...Alvin...kamu dimana?" Mikha terus saja berteriak memanggil - manggil nama Alvin sedari tadi.


"Vin..."


"Alvin dimana sih?" Akhirnya Mikha memutuskan untuk menghubungi Alvin dengan menggunakan ponselnya.


"Sepertinya itu suara ponsel Alvin..." Mikha terus saja mengikuti sumber suara ponsel Alvin itu.


"Ponselnya berhenti didalam sana...apa Alvin ada didalam ya?" Dengan ragu Mikha membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu.


"Vin..." Panggil Mikha.


Alvin masih tetap diam saja.


"Alvin...kamu disini..." Ujar Mikha sambil berjalan mendekati Alvin.


"Lihat aku...aku minta maaf ya, aku kan gak ada hubungan apa - apa dengan Pak Alex...udah dong, katanya kamu kangen sama aku?" Bujuk Mikha sambil mengarahkan wajah Alvin untuk menatap kearahnya.


"Tapi aku tidak suka melihat kamu tersenyum kepadanya." Tegas Alvin.


Mikha tersenyum mendengarkan ucapan Alvin barusan, "Kamu beneran cemburu?" Tanya Mikha.


Alvin mengalihkan wajahnya dari Mikha, "Gak...!" Jawabnya ketus.


"Lihat aku...bilang kalau kamu tidak cemburu..." Mikha kembali mengarahkan wajah Alvin untuk menatap kepadanya.


"Aku tidak cemburu...!"


"Oh iya? Lalu kenapa kamu marah melihat aku tersenyum kepadanya?" Tanya Mikha lagi sambil terus memegangi wajah Alvin.


"Karena...karena senyuman kamu terlalu cantik untuk dia lihat, aku tidak suka."


"Itu artinya kamu sedang cemburu...aku suka kamu cemburu seperti ini..." Ucap Mikha lalu mengecup pipi Mikha.


"Aku benar - benar minta maaf. Oke?" Ucap Mikha lagi.


"Kamu sedang membujuk aku ya? Oke aku mau baikan sama kamu dengan syarat..."


Mikha mengerutkan dahinya, "Syarat apa?"


"Cium aku!"


"Bukannya tadi udah?"


Alvin menggeleng dengan cepat, itu tidak masuk hitungan."


"Kamu mulai serakah ya! Oke baiklah."


Mikha mulai mendekatkan dirinya dengan Alvin, detak jantungnya berdetak dengan tidak beraturan lagi sama halnya dengan detak jantung Alvin pada saat ini. Ketika Mikha ingin mencium pipi Alvin, Alvin dengan sengaja langsung mengalihkan wajahnya dan tentu saja Mikha menjadi mencium bibir Alvin.


CUP


Ketika Mikha tersadar, Mikha langsung menjauhkan dirinya dan langsung memukul Alvin. "ALVIN! IH DASAR KAMU ITU YA!" Teriak Mikha.


"Aw...sakit tau, aku itu pulang untuk disayang bukannya disiksa seperti ini. Kamu itu jahat banget sih!" Protes Alvin sambil memegangi tangannya.


"Biarin...!" Ucp Mikha sambil menjulurkan lidahnya.


Alvin malah semakin geram sampai - sampai memeluk Mikha dan membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali, Mikha terus saja memberontak akan tetapi tenaga yang dimilikinya tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh Alvin.


"Lepasin..." Ujar Mikha.


"Kalau aku gak mau?" Balas Alvin.


"Lepasin gak! Kalau gak aku..."


"Kalau tidak apa? Kamu mau apa?" Tanya Alvin.


"Dasar nyebelin!"


"Aku kangen banget sama kamu Mik...boleh aku ambil hadiahku saat ini?" Tanya Alvin.


Mikha hanya terdiam saja didalam bekapan Alvin saat ini.


Alvin kembali mengulangi perkataannya lagi, "Boleh gak Mik? Aku tidak akan memaksa kamu kalau kamu masih belum siap untuk itu." Ujar Alvin.


Mikha menatap mata Alvin tidak ada kebohongan disana, Alvin benar - benar serius dengan ucapannya barusan. Mikha mengangguk.

__ADS_1


"Itu artinya?"


"Hmm...boleh kok." Jawab Mikha.


Ketika Alvin ingin mencium bibir Mikha, Mikha terlihat begitu tegang bahkan sangat tegang, akhirnya Mikha memutuskan untuk memejamkan kedua matanya. Dan ketika Alvin sudah semakin dekat Mikha membuka matanya dan dengan refleks menutup bibirnya.


"Aku mau kekamar mandi dulu boleh gak?" Tanya Mikha.


"Kenapa disaat - saat seperti in isih Mik? Hmm..ya udah deh." Jawab Alvin dengan kesal.


"Tunggu sebentar ya..." Ujar Mikha.


"Iya jangan terlalu lama membuat aku menunggu disini ya sayang..." Ucap Alvin sambil bermain mata.


"Tidak akan..." Ucap Mikha lalu segera menutup pintu kamar mandinya dengan cepat.


Mikha langsung memegangi dadanya yang kini berdetak semakin cepat saja, 'Alvin benar - benar berhasil membuat aku seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?' Batin Mikha.


"Tenang Mik...kamu harus setenang mungkin dihadapan Alvin, ini kan bukan kali pertamanya buat aku dan dia!" Ucap Mikha berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Setelah itu Mikha memutuskan untuk mencuci mukanya agar terlihat segar. tidak lupa Mikha mengeluarkan handbody dan parfumnya. Dengan cepat Mikha menggunakan semuanya. Kemudian Mikha menatap diirnya didepan cermin. "Kenapa berantakan begini sih rambut aku!" Mikha memutuskan untuk merapikan rambutnya agar terlihat rapi.


Sebelum memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya itu, Mikha menarik nafasnya dengan perlahan lalu menghembuskannya.


"Oke aku bisa..."


Alvin mengetuk pintu kamar mandi, "Mik, aku lupa bilang...didalam sana aku udah nyiapin pakaian tidur kamu. Aku mau kamu pakai ya." Teriak Alvin.


"Dimana?" Jawab Mikha.


"Buka aja ada didalam lemari didalam kok." Balas Alvin.


"Oke..."


"Ngapain sih Alvin pake acara nyuruh ganti baju segala?" Gerutu Mikha dengan kesal, lalu ketika membuka lemarinya betapa kagetnya Mikha melihat piyama tidur seksi yang telah dipersiapkan oleh Alvin.


"Kamu cari mati ya Vin!" Teriak Mikha.


Alvin malah tertawa diluar kamar mandi. "Aku mau kamu pakai itu dan segera keluar. Aku menunggu kamu sayang!"


"Apes banget aku rasanya..."


Mikha mulai membuka kancing kemejanya lalu segera mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Alvin untuknya. Mikha menatap dirinya didepan cermin. Untungnya piyama yang dikasih oleh Alvin ada lapisannya untuk menutupi dirinya. Mikha langsung mengikatkan lapisannya dibagian perutnya.


Dengan perlahan Mikha mulai membuka pintunya, Mikha melihat kalau saat ini Alvin sudah menunggunya sambil duduk ditepi ranjang dengan hanya menggunakan handuk piyama.


Mikha mulai menelan salivanya sendiri, "Sini duduk." Pinta Alvin.


Mikha berjalan lalu duduk disebelah Alvin. "Gak usah tegang sayang..." Bisik Alvin.


Pipi Mikha seketika sudah merona. "Vin...aku...aku takut." Ucap Mikha.


Alvin tersenyum lalu mengarahkan wajah Mikha untuk menatap kearahnya. "Takut apa?"


"Ini...ini kali pertama buat aku..." Ucap Mikha dengan gugup.


"Bukannya kita pernah melakukannya? Sudah 2 kali! Apa kamu benar - benar melupakannya?" Tanya Alvin.


Mikha menggeleng pelan, "Kali ini beda...waktu itu aku mabuk, jadi aku...aku..."


"Sstt.." Alvin membungkam mulut Mikha dengan tangannya.


"Aku mengerti Mik..."


"Aku tau kok kalau saat ini kamu sangat gugup aku juga bisa merasakannya....kalau kamu masih belum yakin dan percaya sama aku, aku bisa kok untuk bersabar lagi." Ujar Alvin sambil menatap wajah Mikha.


"Aku siap kok Vin..." Ujar Mikha.


"Kamu serius?" Tanya Alvin lagi.


"Iya aku serius..." Kemudian Mikha memejamkan kedua matanya.


Alvin semakin memperdekat posisi mereka sampai tidak memiliki jarak untuk keduanya. Perlahan Mikha mulai membuka matanya kembali. "Kok kamu hanya menatap aku aja?" Tanya Mikha yang melihat Alvin hanya menatap wajahnya.


"Kamu percaya aku kan? Aku mau apapun yang terjadi nanti kamu akan selalu percaya sama aku." Ujar Alvin.


Mikha hanya mengangguk mantap sambil menelan salivanya sendiri.


Kemudian Alvin langsung saja menyambar bibir Mikha, Alvin melakukannya benar - benar sangat perlahan sehingga membuat Mikha bisa menikmatinya, ciuman Alvin berubah menjadi lebih agresif lagi dari sebelumnya kali ini Alvin menuntut Mikha untuk membalasnya.


Mikha secara perlahan mulai membalas ciuman yang diberikan oleh Suaminya itu. Dengan refleks Mikha langsung melingkarkan kedua tangannya diatas leher Alvin sambil sesekali meremas pelan rambut Alvin. Alvin begitu menikmati perlakuan dari Mikha.


Alvin semakin mempererat lagi pelukannya sampai mereka sudah tidak mempunyai jarak sama sekali, kemudian ciuman Alvin berpindah kearah leher Mikha dan memberikan Mikha sensasi yang berbeda. Mikha sempat merasa kegelian dengan perlakuan Alvin barusan tapi ada sensasi lain yang begitu disukainya.


Tubuh Mikha seakan menginginkan lebih dan lebih, Alvin memberikan tanda - tanda kepemilikannya dileher Mikha dengan sangat sengaja. Ini kali pertama Mikha mendapatkan kissmark hingga tubuhnya rasanya menggejalat hebat tak henti - hentinya Mikha meremas rambut Alvin.


Tangan Alvin yang lain berhasil untuk membuka ikatan piyama tidur milik Mikha, saat ini Alvin sudah dapat melihat keseksian pakaian tidur milik Sang Istri.


Alvin sempat menghentikan perbuatannya sebentar lalu menatap Mikha dengan sangat intens, "Kamu cantik..." Pujinya.


"Kamu memuji aku disaat seperti ini? Hmm...."


Alvin malah tersenyum saja, "Aku serius mengatakannya." Bisiknya.


"Aku juga serius bilang kalau kamu sangat ahli dalam hal itu..." Balasnya.


Alvin kembali mencium bibir Mikha dengan sangat rakusnya, lidahnya terus saja bermain didalam mulut Mikha sampai - sampai Mikha kehabisan nafas. Mikha sempat mendorong tubuh Alvin sebentar.


"Kamu mau bunuh aku?" Cetusnya.


Alvin malah tersenyum menyeringai puas menatap wajah Sang Istri.


"Gak kok...aku hanya terlalu bergairah saja sayang....maafin aku ya."


Dan ketika Alvin menarik kembali tubuh Mikha, dan Alvin terus saja menatap Mikha dengan sangat intensnya membuat Mikha semakin salah tingkah.


"Kenapa lagi?" Tanya Mikha yang merasa begitu risih dengan tatapan Alvin.


"Kamu begitu hot sayang." Ucap Alvin dengan jujur.


Alvin kembali menghujani bagian leher Mikha dengan lidahnya, lalu entah mengapa perut Mikha bunyi. Dengan sangat refleks Mikha langsung memegangi perutnya.


"Kamu lapar?" Tanya Alvin.


Mikha mengangguk pelan dengan wajah cemberut, "Aku kan emang belum makan.


"SHIT!"


"Kenapa disaat - saat seperti ini sih?" Gerutunya dengan kesal.


*******


Tada ini dia kejutannya...pada suka gak? Duh kasian banget deh Alvin...


Gimana ya kira - kira kelanjutannya?


Hmm...gimana dengan Alex yang merasa sangat tidak menyukai Alvin karena tepat dihadapannya merangkul dan membawa pergi Mikha? Apa yang akan dilakukan oleh Alex?


Penasaran?

__ADS_1


Happy Reading Guys!


__ADS_2