
Saat ini Mikha memutuskan untuk turun kebawah, dia berjalan dengan langkah yang sangat lambat dan berat sekali, Mikha merasa benar - benar sedang tidak berdaya hari ini. Sesampainya Mikha diruang makan dia melihat Alvin saat ini sedang duduk dengan menikmati sarapannya yang sudah tersedia diatas meja yang berada dihadapannya.
"Alvin! Ih kamu kok sarapan duluan sih." Ujar Mikha yang merasa kesal.
Alvin hanya cengengesan tidak jelas, "Sorry sayang...aku daritadi udah nungguin kamu...tapi kamu lama sekali turunnya, jadinya aku memutuskan untuk sarapan duluan." Ujar Alvin sambil melahap makanannya.
"Ih kamu!" Ujar Mikha lalu duduk disamping Alvin.
"Kamu sih Vin....lihat tu istri kamu ngambek." Balas Ara sambil menatap Mikha.
"Aku kan udah minta maaf sih Kak! Lagian aku yakin pasti Mikha tidak akan bisa marah lama - lama denganku...ya kan sayang?" Ujar Alvin lagi sambil membelai rambut Mikha.
Sedangkan Mikha hanya menatap Suaminya itu dengan tatapan tajamnya saja.
"Tuh lihat kan Kak! Mikha udah gak marah lagi kan?" Ujar Alvin lagi lalu dengan cueknya kembali melanjutkan sarapannya.
Ara dan Al hanya menggeleng - gelengkan kepala mereka berdua saja melihat sikap iseng Alvin kepada Mikha yang kelihatan saat ini sedang tidak senang.
"Kamu kenapa Mik? Sepertinya kamu kelihatan lelah banget?" Tanya Ara yang sejak tadi memperhatikan Mikha.
"Mikha gak kenapa - kenapa kok Kak." Jawab Mikha lalu memasukkan makanan dengan cepat ke mulutnya. Sedangkan Alvin hanya menatap Mikha dengan tatapan mesumnya saja.
"Oh begitu ya...berarti hanya perasaan Kakak saja ya." Ujar Ara lagi.
"Oh iya sayang... Kamu udah tau kalau perusahaan Tia sudah bangkrut? Aku melihat beritanya dimana - mana." Tanya Ara kepada Suaminya.
Al yang baru saja meneguk minumannya tentu saja langsung tersedak.
"UHUK! UHUK! UHUK!"
"Sayang kamu gapapa? Pelan - pelan dong." Ujar Ara sambil menepuk - nepuk punggung Suaminya.
Setelah merasa jauh lebih baik, Al baru merespon ucapan Ara tadi.
"Apa yang kamu bilang tadi?"
"Oh itu...aku secara tidak sengaja melihat berita, katanya perusahaan Tia mengalami kebangkrutan ya? Aku yakin kamu pasti sudah mengetahui hal ini kan?" Ujar Ara sambil menatap Al dengan sangat serius.
Suasana diruang makan saat ini berubah menjadi suasana yang sangat tegang, sedangkan Alvin dan Mikha yang saat ini hanya diam saja. Mereka berdua tidak ingin ikut campur dengan masalah Kakak mereka.
"Iya sayang...aku sudah tau, bahkan sebelum perusahaan Tia bangkrut, aku sudah menarik investasiku dari sana." Jelas Al.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah menceritakan tentang ini kepadaku sayang? Apa aku tidak perlu mengetahui tentang hal ini ya?" Ujar Ara yang merasa sedikit kesal kepada Suaminya itu.
"Sayang...bukan begitu, aku hanya tidak ingin membahas tentang dia lagi. Kamu kan tau sendiri betapa licik dan jahatnya dia selama ini. Aku tidak ingin kita ribut hanya karena dia. Makanya aku memilih untuk diam saja tidak mengatakan apa - apa kepada kamu." Ujar Al sambil memegangi bahu Ara.
"Tapi tetap saja kan aku perlu tau juga! Kita kan sudah berjanji dari awal kalau kita akan saling jujur satu sama lain, sekecil dan sebesar apapun itu masalahnya. Bagiku sebenarnya memang masalah Tia itu tidak penting...hanya saja aku ingin kamu berterus terang kepadaku Al. Hanya hal itu yang aku butuhkan." Ketus Ara sambil menepis tangan Suaminya.
Alvin dan Mikha saat ini saling melirik satu sama lain, seolah - olah keduanya saling memberikan kode untuk segera pergi dari situasi tegang yang ada disana. Keduanya saling mengangguk.
"Ehemmm...Maaf nih Kakak Al dan Kak Ara memotong sebentar...Aku dan Mikha berangkat bekerja sekarang ya." Ujar Alvin lalu beranjak dari tempat duduknya diikuti dengan Mikha.
"Tapi sarapan kalian belum habis?" Ujar Ara sambil melihat sekilas sarapan Alvin dan Mikha.
"Itu Kak...Mikha sudah mau terlambat kalau berangkatnya lebih lama lagi. Apalagi Kakak tau sendiri kan kalau jalan di Jakarta akan sangat macet." Ujar Mikha yang memberikan alasannya.
"Baiklah...kalau begitu kalian berdua hati - hati ya." Balas Ara sambil tersenyum.
"Oke baiklah sayang...aku minta maaf ya, aku hanya tidak ingin memberikan beban pikiran kamu lagi. Tia sudah bangkrut karena dia terlalu serakah ingin memiliki semuanya, dia mulai mendirikan bisnis ilegalnya. Kamu tau apa yang Tia lakukan dibelakang kita selama ini? Dia sengaja untuk memanfaatkan Alvin untuk tujuan balas dendam kepada kita." Al berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Istrinya.
Alvin dan Mikha yang masih berada tidak jauh dari mereka berdua masih bisa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua Kakak mereka.
"Apa yang Kak Al katakan?" Bisik Mikha kepada Alvin.
Sementara Alvin hanya terdiam dan tidak merespon pertanyaan Mikha barusan.
"Ayo kita pergi." Alvin berusaha untuk menarik Mikha pergi dari sana.
Tapi Mikha sepertinya menyadari kalau ada yang sedang tidak beres yang bahkan tidak dia ketahui, dia merasa Alvin menyembunyikan sesuatu kepadanya, dengan cepat Mikha menahan tangan Alvin, "Tunggu sebentar...aku masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Kak Al barusan. Apa kamu mengetahui sesuatu tentang hal ini?" Tanya Mikha dengan selidik.
Alvin menghela nafas dengan berat, "Baiklah akan aku jelaskan diperjalanan nanti." Alvin menarik tangan Mikha untuk mengikutinya keluar dari rumah lalu segera masuk kedalam mobil kemudian dengan cepat Alvin memasangkan sabuk pengaman untuk Mikha.
Sementara Mikha masih menatap Alvin dengan tatapan tidak mengertinya.
Sedangkan didalam rumah,
"Apa? Aku masih belum mengerti maksud kamu Al? Bicaralah yang lebih jelas lagi." Desak Ara.
"Tia sengaja menyuruh Clara adik sepupunya yang kita temui kemarin diacara pesta Alex untuk berpura - pura mengandung Anaknya Alvin. Dia ingin keluarga kita mendapatkan malu lalu dia bisa masuk kedalam keluarga kita dan menghancurkannya. Karena Tia tau kalau Alvin adalah adik yang sangat aku sayangi. Dia ingin menghancurkan Alvin agar aku merasa jauh lebih hancur lagi. Aku bahkan tidak menyangka dia bakalan berbuat hal yang sangat jauh seperti itu." Al memberikan penjelasan kepada Ara.
Sementara Ara masih melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja dijelaskan oelh Al barusan, "Aku tidak habis pikir dia seperti itu....dia terlalu terobsesi dengan kamu Al!" Balas Ara.
"Iya aku rasa juga seperti itu...jadinya setelah dia tidak bisa untuk mendapatkan aku, dia malah membalaskan dendamnya seperti itu." Ujar Al.
"Dia benar - benar sudah gila! Aku tidak menyangka kalau dia juga sama dengan Rey..." Ara jadi teringat tentang Rey yang juga berbuat hal - hal jahat demi bisa untuk kembali lagi dengannya.
"Iya sayang...ternyata mereka berdua sama saja."
__ADS_1
"Jadi kamu tau sekarang Tia ada dimana?" Tanya Ara lagi.
"Kenapa kamu ingin tau keberadaan Tia? Bukankah itu hal yang tidak penting untuk sekarang." Ujar Al yang tidak mengerti dengan pertanyaan Ara barusan.
"Aku ingin ketemu dengan dia Al...bisakah kamu membawa dia untuk bertemu denganku?" Ucap Ara.
"Apa? Tidak! Tidak! Bahkan aku tidak mengizinkan kamu untuk bertemu dengan dia. Apa yang sedang kamu pikirkan Ra? Kamu tau kan kalau dia wanita yang benar - benar nekat dan licik, aku tidak ingin terjadi apa - apa dengan kamu dan Anak kita!" Al langsung saja menolak permintaan Sang Istri.
"Aku janji aku akan baik - baik saja sayang. Bahkan kamu juga boleh berada disana untuk melindungiku kalau kamu merasa sangat takut kalau Tia akan melukaiku." Ucap Ara kembali untuk meyakinkan Suaminya.
"Tapi tetap saja Ra...apa sih yang membuat kamu ingin bertemu dengan dia?" Tanya Al lagi, dia benar - benar merasa tidak mengerti dengan permintaan yang terlontar dari Istrinya itu.
"Aku ingin minta maaf dengan dia Al, aku benar - benar tidak ingin memiliki musuh sekarang. Kamu tau kan kalau aku sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu? Aku ingin mengajarkan hal yang baik kelak kepada Anak kita....Aku ingin mereka tumbuh tanpa ada dendam dari orang lain. Ini tidak akan pernah berakhir Al kalau kita juga tidak menyadari kalau kita juga dulu pernah bersalah. Mungkin kamu tidak menyadari kenapa Tia dulu meninggalkan kamu...tapi sepertinya aku mengerti sekarang kenapa dia pergi meninggalkan kamu. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu Al, bahkan aku saja sebagai Istri kamu sering marah karena hal ini, lalu apalagi dengan Tia? Kamu tidak pernah memperhatikannya dulu....tapi disaat kalian dipertemukan lagi, dia merasa sangat cemburu kepadaku karena aku telah merebut kamu dari dia. Mungkin itu yang dia pikirkan tentangku. Aku hanya ingin menghilangkan kebencian dia yang sampai kapanpun akan tetap ada khususnya untukku. Jadi aku mohon kepada kamu izinkan aku untuk bertemu dengan dia ya?" Ujar Ara panjang lebar.
Al semakin merasa bahagia bisa menikahi wanita seperti Ara, Ara benar - benar sudah berubah dari Ara yang pertama kali Al temui dulu. Entah sejak kapan Ara sudah dewasa dan bijak seperti ini.
"Kamu benar - benar yakin ingin bertemu dengan dia sayang?" Tanya Al sekali lagi.
Ara mengangguk dengan cepat, "Yakin sayang." Jawab Ara tanpa ada keraguan sama sekali.
Al kembali menghela nafas dengan berat, "Baiklah aku akan mengatur pertemuannya...tapi sepertinya tidak akan mudah karena saat ini Tia sedang ditahan di suatu tempat." Ujar Al.
"Terimakasih sayang..." Ujar Ara sambil memeluk Suaminya.
"Apa kamu bilang tadi? Dia sedang ditahan disuatu tempat? Dimana?" Tanya Ara.
"Pagi ini kamu sudah terlalu banyak bertanya...aku tidak akan menjawab pertanyaan kamu yang ini." Balas Al lalu bangkit dari duduknya.
Tentu saja Ara mengikuti apa yang Al lakukan, "Ih kamu....!" Ujar Ara dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan Al hanya tersenyum geli saja melihat sikap menggemaskan dari Sang Istri.
*******
Selama didalam perjalanan Mikha terus saja menatap Alvin dengan tatapan penasarannya, Alvin yang menyadari sedang ditatap oleh Mikha akhirnya memutuskan untuk menyerah juga.
"Baiklah aku akan menjawab semua rasa ingin tau kamu..."
Tanpa menunggu lagi Mikha langsung mengajukan pertanyaannya yang sedari tadi tertahan dibibirnya, "Jadi katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Mikha langsung to the point.
"Hmm...kamu mau aku jawab yang jujur?"
Mikha mengangguk dengan cepat, "Ayo dong VIn buruan!" Desak Mikha yang merasa tidak sabaran.
"Baiklah...begini sebenarnya Tia itu adalah dalang dari semua yang terjadi. Ternyata dia yang telah merencanakan untuk menjebak aku dan memanfaatkan Clara untuk membalaskan dendamnya."
"Maksud kamu gimana? Balas dendam? Kepada siapa? Aku semakin tidak mengerti." Balas Mikha dengan wajah bingung.
Mikha sangat terkejut mendengarkan penjelasan yang terlontar dari mulut Alvin, dia benar - benar tidak habis pikir kalau akan kejadiannya seperti ini, Mikha semakin merasa bersalah karena dulu sempat merasa tidak percaya dengan Alvin. Bahkan Mikha sempat berpikir kalau Anak yang ada didalam kandungan Clara itu adalah Anak dari Alvin.
"Apa semua itu benar Vin?" Tanya Mikha lagi.
Alvin mengangguk dengan mantap, "kenapa kamu tidak percaya? Aku juga awalnya seperti itu....tapi setelah aku mendengarkan penjelasan dari Tia langsung, aku jadi percaya kalau Tia benar - benar jahat dan licik. Dan sekarang dia sepertinya sudah kena karmanya sendiri akibat dari perbuatannya." Ujar Alvin.
"Dia benar - benar jahat ya...aku tidak menyangka sama sekali kalau dia adalah dalang dari ini semua. Maksud kamu dia sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya gitu?"
"Iya sayang....dia saat ini sedang ditahan oleh seseorang dan dijadikan budak dan aku rasa orang seperti dia itu memang pantas untuk mendapatkannya." Balas Alvin.
"Ditahan oleh siapa? Emangnya dia sekarang dimana?" Tanya Mikha terus saja mengintrogasi Suaminya.
"Tia ditahan oleh mantan Bosnya ditempat Clara bekerja dulu...disebuah Bar. Keadaannya saat ini sangat buruk! Bahkan aku mengharapkan kalau dia akan mendapatkan karma yang lebih kejam lagi. Aku masih belum terima dengan apa yang telah dia lakukan." Jawab Alvin.
"Kamu tidak boleh seperti itu dong sayang....semuanya kan sudah berlalu, kita lupakan saja ya! Lagian menyimpan dendam itu tidak baik lho." Mikha berusaha menenangkan Suaminya.
"Bagaimana aku tidak membenci dia sayang? Kamu tau kan karena dia...kita berdua hampir saja tidak bersama lagi. Aku bahkan belum bisa melupakan atas apa yang telah dia lakukan." Balas Alvin dengan emosi yang masih memuncak.
"Iya aku tau sayang...mungkin pada saat itu cinta kita sedang mendapatkan ujian. Tapi lihat sekarang kita berdua mampu untuk melewatinya kan? Seharusnya kita malah berterimakasih kepadanya karena berkat dia, cinta kita malah semakin besar satu sama lain." Mikha berkata dengan bijaknya.
"Kamu benar juga sih...tapi tetap saja aku masih belum bisa terima dengan apa yang telah dia lakukan kepada kita!" Ketus Alvin lagi.
"Baiklah...semoga seiring berjalannya waktu kamu bisa melupakan apa yang telah dia lakukan ya. Hmm...sepertinya aku sudah sampai..." Ujar Mikha sambil melihat kearah depan.
Setelah Alvin menghentikan mobilnya, Mikha segera melepaskan sabuk pengamannya, "Sampai ketemu nanti sayang! Kamu jangan nakal ya! Semangat kerjanya." Setelah mengatakan hal itu Mikha segera turun dari mobil Suaminya.
"Mikha!" Teriak Alvin.
Mikha kembali menghampiri Alvin, "Alvin kamu apaan sih? Kenapa teriak - teriak begitu?" Ketus Mikha.
"Sengaja....kamu tidak melupakan sesuatu?" Ujar Alvin sambil memberikan kode dengan jari telunjuknya yang saat ini sedang memegangi pipinya.
Mikha yang mengerti langsung mendekatkan dirinya kepada Suami mesumnya itu, Mikha dengan cepat memberikan kecupan untuk pipinya Alvin.
"Udah ya...kamu hati - hati menyetirnya." Ujar Mikha lalu segera berlari masuk kedalam kantornya.
Lagi - lagi disaat yang tidak tepat seperti ini Alex malah selalu saja menyaksikan kemesraan Mikha dengan Suaminya. Alex benar - benar merasa sangat emosi akan tetapi dia berusaha untuk menutupinya lalu melangkah masuk kedalam kantornya.
Mikha sudah masuk duluan kedalam lift, dengan langkah cepat Alex juga menyusul masuk kedalam lift.
__ADS_1
Mikha sempat melihat Alex sebentar lalu menyapa Alex, Alex hanya tersenyum lalu menatap lurus kedepan.
Tiba - tiba saja Mikha teringat tentang pengakuan Bella kemarin, dia menatap Alex dengan tatapan tidak percayanya, 'Mana mungkin Pak Alex menyukai aku? Bahkan dibandingkan dengan mantan pacarnya saja aku tidak ada apa - apanya. Iya pasti Bella salah!' Batin Mikha.
Mikha masih saja sibuk sendiri dengan pikirannya sampai tidak menyadari kalau dirinya saat ini sedang dipanggil oleh Bosnya itu.
Karena panggilannya tidak direspon oleh Mikha, Akhinrya Alex menatap Mikha yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan kosong.
"Mikha!" Panggil Alex lagi sambil menguncangkan bahu Mikha.
"Hah? Iya Pak..."
"Kamu mikirin apa? Apa kamu tidak dengar kalau dari tadi saya telah manggilin kamu?" Ketus Alex sambil terus memegangi kepalanya yang masih terasa sangat berat.
"Maaf Pak...maafkan saya..." Ujar Mikha.
"Lain kali saya tidak mau kalau kamu seperti ini lagi. Apa kamu mengerti?" Setelah mengatakan hal itu pintu lift sudah terbuka.
"I-iya Pak...saya mengerti." Jawab Mikha dengan gugup.
Alex keluar duluan lalu berjalan menuju keruangannya masih dengan memegangi kepalanya, dirinya sudah tidak sadar tadi malam dia menghabiskan berapa banyak alkohol. Alex sebenarnya sudah lama tidak minum - minuman keras seperti itu, hanya saja terlalu banyak hal membuatnya stress akhir - akhir ini. Alex tidak kuasa lagi lalu dia memilih untuk melampiaskannya dengan minuman kerasnya itu.
Akibatnya saat ini Alex malah merasa kepalanya sangat pusing padahal dirinya sudah meminum obat untuk menghilangkan rasa pusingnya itu. Sepertinya obat yang diminum oleh Alex tidak ampuh sama sekali, buktinya sampai sekarang kepala Alex masih terasa pusing.
Sesampainya didalam ruangannya Alex memilih untuk duduk dikursinya lalu menyenderkan kepalanya sambil mata yang dibiarkan terpejam. Dia memutuskan untuk istirahat sejenak dari semua hal yang menganggu dirinya.
Akan tetapi baru saja istirahat sebentar, ponsel Alex berbunyi awalnya Alex memutuskan untuk mengabaikan panggilannya itu tapi lama kelamaan dirinya merasa sangat terganggu akibat dari deringan ponselnya itu. Akhirnya dengan malas Alex memutuskan untuk menjawab panggilan teleponnya itu.
Alex sempat melihat kearah layar di ponselnya, nomor yang menghubunginya menggunakan nomor baru. Dia segera menjawabnya tanpa pikir panjang lagi, Alex segera menggeser tombol hijau yang ada diponselnya.
"Halo...!"
"Ini dengan Alex? Ini dari pihak rumah sakit Harapan...kami ingin memberitahukan kalau saudara Daniel saat ini baru saja mengalami kecelakaan. Apa Pak Alex bisa segera kesini untuk segera membereskan semua biaya administrasinya?"
"Oke...saya segera kesana sekarang!" Alex langsung pergi dengan cepat untuk segera menuju rumah sakit tempat Adiknya dirawat.
Karena rumah sakit Harapan itu tidak terletak tidak terlalu jauh dari kantornya, dengan cepat Alex sudah berada disana. Alex langsung saja membereskan semua biaya administrasi perawatan untuk Adiknya.
"Aaaaaargh! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Daniel bisa mengalami kecelakaan seperti ini?" Ujar Alex sambil menarik rambutnya kebelakang.
Semarah dan sebenci apapun Alex kepada Daniel, akan tetapi tetapi saja tidak ingin melihat Adiknya seperti ini. Dia ingin membalas dendam kepada Daniel dengn cara terkejam yang akan diingat oleh Daniel seumur hidupnya, akan tetapi belum lagi Alex melaksanakannya Adiknya malah terbaring tak berdaya seperti ini.
Begitu melihat Dokter keluar dari ruangan tempat Daniel di operasi, Alex langsung menghampiri Dokter tersebut, "Bagaimana Adik saya Dok?" Tanya Alex dengan sangat khawatir.
"Kami masih berusaha untuk melakukan yang terbaik Pak...Bapak dan keluarga banyak - banyak berdo'a ya. Keadaan pasien benar - benar sangat krisis hanya keajaibanlah yang bisa membantu untuk saat ini." Ucap Dokternya sambil menepuk - nepuk bahu Alex lalu bsegera berlalu begitu saja.
Setelah mendengarkan penjelasan Dokter tersebut, Alex benar - benar merasa sangat terpukul, seluruh tubuh Alex terasa sangat lemas. Alex terduduk dilantai.
'Kenapa kamu seperti ini? Ini tidak adil...ini benar - benar sangat tidak adil! Bahkan Kakak belum melakukan apa - apa! Kamu harus segera bangun Daniel...Kakak mohon kamu harus segera bangun!' Batin Alex.
Dari kejauhan Alex melihat Omanya dan Bella sedang berjalan dengan cepat untuk menghampirinya, terlihat jelas wajah Omanya yang sangat panik karena baru saja mendapatkan kabar buruk ini.
"Alex...bagaimana kondisi Daniel?" Tanya Omanya.
"Oma...Oma, Daniel sedang sekarat....Apa yang harus Alex lakukan? Katakan Oma apa yang harus Alex lakukan!" Ujar Alex tanpa terasa airmatanya mengalir dengan sendirinya dari sudut matanya.
"Daniel! Daniel..." Omanya terus saja meneriaki nama Daniel dengan sangat histeris.
"Oma...Oma yang sabar ya...kita berdo'a untuk Daniel ya..." Ujar Bella sambil memeluk Omanya Alex yang saat ini sudah sangat histeris.
"Daniel...Bellla...Daniel!"
"Udah Oma..udah...Oma tenang dulu ya...Bella yakin Daniel pasti baik - baik saja kok, Daniel pasti bisa melewati ini semua." Bella terus saja menghibur Omanya.
Saat ini Alex terus saja menatap tajam kepada Bella. Bella tau apa yang saat ini yang sedang dipikirkan oleh Alex. Alex pasti berpikir kalau saat ini Bella hanya sedang berakting pura - pura baik saja agar Omanya semakin percaya dan semakin menyanyangi dirinya. Padahal Bella benar - benar tulus sayang kepada Omanya Alex yang sudah menganggap Bella sebagai Cucunya juga.
"Kita duduk dulu ya Oma...Oma tenang ya.." Ujar Bella sambil merangkul Omanya.
Setelah melihat keadaannya Omanya jauh lebih tenang dan lebih baik dari sebelumnya, Alex menghampiri Omanya dan juga Bella.
"Oma baik - baik saja? "Tanya Alex dengan sangat khawatir.
Omanya mengangguk dengan lemah.
"Oma tenang aja ya...Daniel pasti kuat kok! Alex yakin Daniel akan segera sadar kembali." Ujar Alex sambil memegangi bahu Omanya.
Omanya hanya mengangguk.
"Dan kamu...aku ingin berbicara dengan kamu!" Ketus Alex sambil menatap Bella dengan tatapan yang tidak sukanya.
"Denganku?" Bella menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu! Sekarang ikuti aku." Ketus Alex lagi.
********
Hmmm...bagaimana ya kira - kira keadaan Adiknya Alex? Mampukah dia untuk bertahan disaat keadaan sangat krisis seperti ini? Btw, apa ya kira - kira hal yang ingin dibicarakan oleh Alex kepada Bella?
__ADS_1
Penasaran?
Happy reading guys!