
Hari ini mood Mikha sedang bagus - bagusnya, sepanjang hari terlihat sangat jelas bahwa dirinya begitu semangat dan terus saja mengembangkan senyuman diwajahnya. Walaupun hari ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, Mikha bahkan sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Benar saja hari ini terasa begitu cepat berlalu.
Karena Mikha begitu cepat menyelesaikan pekerjaannya, dirinya jadi bisa pulang lebih awal lagi hari ini. Mikha ingin secepat mungkin sampai kerumah. Hari ini karena pulangnya cepat, Mikha memutuskan untuk naik bus saja agar tidak merepotkan Pak Wira.
Sesampainya dirumah, Mikha dengan ramahnya langsung saja menghampiri Ara yang saat ini sedang menonton TV. Mikha yang sudah melihat Ara dari kejauhan malah sengaja untuk menjahili Kakaknya itu, benar saja rencana Mikha berhasil.
"Kakak..." Ucap Mikha sambil memeluk Ara dari belakang.
Ara yang saat ini sedang serius menonton dibuat benar - benar terkejut, "Mikha kamu jahil banget sih!"
"Habisnya Kak Ara hari ini serius sekali sih nontonnya sampai - sampai tidak menyadari kalau Mikha sudah kembali." Ucap Mikha sembari melepaskan pelukannya dari Ara.
"Sorry deh...soalnya lagi seru tau filmnya, eh malah tiba - tiba ada yang ngagetin dari belakang, gimana Kakak tidak terkejut sih." Ucap Ara sambil berusaha untuk menetralkan dirinya yang sebenarnya masih kaget.
"Tumben banget Kakak nonton?" Tanya Mikha sambil menggerlitkan alisnya.
"Habisnya Kakak bosan Mik....Kakak kangen sama Al, sedang ap aya dia sekarang?" Ucap Ara sembari mengingat Sang Suami.
"Ciee ada yang lagi kangen nih...."
"Emangnya kamu gak kangen apa sama Alvin?" Tanya Ara penuh selidik.
"Kayaknya enggak deh Kak..." Jawab Mikha sekedarnya saja, Mikha berusaha untuk menutupi perasaanya yang sebenarnya. Padahal jelas - jelas jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam dirinya kangen dengan Alvin yang biasanya selalu saja menggodanya, menjailinya, menggombalinya, membuat dirinya kesal, ketawa, marah, benci. Akan tetapi dirinya sangat malu untuk mengakuinya secara terang - terangan kepada orang lain, ya walaupun kepada Ara sekalipun.
"Masaa sih?" Tanya Ara lagi masih dengan tatapan tidak percayanya.
"Iya Kak...lagian Alvin kan ngeselin tau Kak. Malah Mikha senang kalau tidak adanya Alvin disini."
"Oh iya?"
"Iya Kak..." Jawab Mikha dengan sangat mantap.
"Vin kamu dengar sendiri kan kalau Istri tercinta kamu ini sama sekali tidak kangen sama kamu..." Ucap Ara sambil mengarahkan ponselnya lalu menyalahkan speaker di ponselnya itu.
"KAKAK!" Teriak Mikha sambil berusaha untuk meraih ponselnya Ara.
"Jail banget deh Kak...matiin dong Kak..."
"Gak mau...ambil aja kalau bisa..." Balas Ara.
Mikha terus saja berusaha untuk meraih ponsel Ara tapi tak kunjung bisa digapainya.
"Kak Ara....ih kok jadi ikutan jail kayak Alvin sih." Gerutu Mikha dengan kesal.
"Oh jadi kamu gak kangen ya sama aku Mik? Hmm..."
"Iya emangnya kenapa?" Balas Mikha dengan ketus.
"Bisa ya kamu bertahan untuk tidak menghubungi suami kamu ini...aku kira kamu bakalan nyariin aku dan melupakan taruhan kita itu...ternyata aku salah, bahkan kamu senang bila aku sedang jauh seperti ini." Ujar Alvin sambil meluapkan kekesalannya.
"Gak seperti itu Vin...kamu salah paham..."
"Ya udah deh Mik, kamu lanjutin aja dulu kesibukan kamu, aku janji deh selama berada disini aku tidak akan menganggu kamu dulu. Kalau begitu selamat malam."
Setelah itu Alvin langsung mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja.
"Sepertinya Alvin benar - benar sedang marah itu Mik, sebaiknya kamu jelasin sama dia ya! Kakak tadi maksudnya hanya bercanda saja...sorry ya Mik, Kakak benar - benar tidak tau kalau akhirinya akan menjadi seperti ini." Ucap Ara yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
Wajah Mikha yang tadinya ceria sudah berubah seketika menjadi tidak bersemangat dan juga sedih.
"Ya tidak apa kok Kak, kalau begitu Mikha naik keatas dulu ya Kak..ntar Mikha mau nelepon Alvin untuk jelasin semuanya." Ucap Mikha lalu pergi berjalan meninggalkan Ara yang masih merasa bersalah.
"Kenapa aku tadi pake acara untuk menghubungi Alvin sih? Kan mereka berdua jadi berantam seperti ini...." Ucap Ara lagi yang merasa tidak enak sama sekali.
Kemudian Ara memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya juga, dia benar - benar merasa tidak enak dengan Mikha, tapi dia juga tidak tau akan berbuat apa. Akhirnya Ara hanya bisa untuk membaringkan tubuhnya saja diatas kasur empuknya itu.
Tiba - tiba saja ponselnya berdering lagi, dengan tidak bersemangat dan tanpa melihat nama dari si penelepon Ara menjawab panggilang teleponnya itu. "Halo..."
"Halo Kak...Jadi tadi gimana reaksi Mikha karena tau aku marah?"
"Kamu masih bertanya gimana rekasi dia? Jangan bilang sama Kakak kalau kamu sedang menjaili Mikha ya Vin?"
Alvin hanya cengengesan saja.
"Kamu nih benar - benar kelewatan ya Vin, Kakak kira kamu ini benar - benar sangat marah dengan Mikha, eh gak taunya kamu hanya mau isengin dia aja! Puas deh kamu melihat Kakak yang jadi merasa bersalah seperti ini ya!" Omel Ara terus menerus.
"Maaf deh Kak, sumpah Alvin tidak bermaksud membawa - bawa Kakak. Habisnya Alvin kesal melihat Mikha yang tidak peka - peka dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu, jadi ya udah sekalian aja Alvin isengin, Alvin ingin melihat reaksi dari Mikha Kak. Jadi reaksi Mikha gimana Kak?"
"Ya tapi gak harus bawa - bawa Kakak juga kali Vin, benar - benar kebangetan sih kamu ini."
"Sorry deh Kak...jangan marah ya Kakak iparku yang paling cantik."
"Udah deh gak usah sok baik seperti itu Vin...Kakak masih kesal tau sama kamu."
"Iya iya Alvin tau kok Kak....jadi tadi Mikha bilang apa sama Kak Ara?"
"Mikha yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi sedih lah karena ulah kamu....!"
"Oh iya? Bagus dong, berarti Alvin berhasil deh Kak...duh bahagianya."
"Bisa - bisanya ya kamu bahagia diatas penderitaan orang lain!"
"Heheh, bukan begitu Kak...lalu dia ada bilang apa lagi sama Kak Ara?"
"Ih kamu kepo banget sih? Kalau kangen sana langsung telepon aja Mikha, lagian Kakak gak jadi jadi perantara seperti ini deh."
"Kan ceritanya Alvin lagi pura - pura marah sama diai? Masa Alvin juga yang harus menghubungi dia? Gengsi dong Kak...!"
"Ya udah kalau begitu terserah kamu aja deh, Kakak capek mau istirahat. Bye Alvin."
"Tapi Kak..."
"Haloo Kak Ara...!"
"Halo...!"
Lalu kemudian Alvin melihat ponselnya, panggilannya sudah diakhiri begitu saja oleh Kakak iparnya itu.
Baru saja Alvin meletakkan polsenya diatas kasur, tiba - tiba saja ada panggilan masuk dari Mikha.
"Tuh kan benar akhirnya kamu yang nelepon aku duluan...aku biarin aja deh dulu..biar kamu tau rasanya gimana kalau dicuekin." Ujar Alvin dengan sangat senangnya.
Mikha terus saja menghubungi Alvin terus menerus, Mikha tidak pantang menyerah untuk menghubungi Alvin sampai akhirnya panggilan teleponnya mendapatkan respon dari Alvin.
"Ayo Vin diangkat telepon aku..." Ucap Mikha terus menerus, lalu setelah itu panggilannya tidak jawab lagi, Mikha masih saja berusaha untuk terus menghubungi Suaminya yang dianggapnya seperti Anak - anak itu.
Mikha sambil mondar mandir karena merasa sangat gelisah.
"Coba sekali lagi deh...ayo Vin kali ini kalau kamu gak angkat juga aku gak akan menghubungi kamu lagi!" Ujar Mikha lalu setelah mendengarkan bunyi nada ketiga kalinya, akhirnya panggilan dari Mikha dijawab juga oleh Alvin.
"Vin...akhirnya kamu angkat juga panggilan dari aku..."
__ADS_1
"Katakan ada apa?"
"Kamu marah ya? Sorry deh Vin, aku gak bermaksud seperti itu lho padahal, udah ya jangan marah lagi."
"Udah selesai?"
"Vin...ih kamu beneran marah ya? Ayo dong Vin jangan seperti ini..." Mikha terus saja berusaha untuk membujuk Alvin.
"Udah itu aja?"
"Maksud kamu?" Tanya Mikha.
"Kalau kamu udah selesai ngomong, biar aku matiin."
"Bentar...bentar...duh buru - buru banget sih kamu."
'Apa yang Alvin inginkan sebenarnya? Aku kan udah minta maaf ya?' Pikir Mikha yang tidak mengerti.
"Vin...jangan marah lagi ya sayang, aku tadi tidak bermaksud seperti itu tadi. Pleaseeee....!" Ucap Mikha sembari memohon.
Alvin sebenarnya sudah berusaha untuk menahan tawanya.
"Tuh kan kamu masih diam...ayo dong Vin..."
"Hmmm..."
"Kok cuma hmmm doang?"
"Udah deh mendingan aku tutup aja!"
"Tunggu...tunggu..."
"Apalagi?!"
Mikha berusaha untuk menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum mengatakannya, "Aku kangen kamu...aku ingin kamu cepat pulang! Ya walaupun kamu sering jail, nyebelin, godain aku, tapi sebenarnya sejak kamu pergi aku jadi kecarian kamu...." Ujar Mikha akhirnya.
"Nah gitu dong ngaku! Kalau begini daritadi kan aku tidak perlu berakting pura - pura marah segala sama kamu."
"Jadi kamu sengaja mancing aku ya?"
"Iya...gimana?"
"ALVINNN...KAMU ITU YA BENAR - BENAR NYEBELIN BANGET! AKU BENCI KAMUUUUU...SANGAT BENCI!" Teriak Mikha dari telepon.
"Iya sayang aku tau kok." Ucap Alvin sambil tertawa lepas.
"Kamu masih berani - beraninya tertawa seperti itu ya! Aku saat ini sedang serius!" Omel Mikha.
"Iya aku tau kok...kamu kangen aku yaa? Berarti aku menang taruhan kita dong. Asik!"
"Gak aku gak kangen sama kamu! kamu nyebelin!"
"Oh iya? Trus siapa tadi yang jujur mengatakan kalau kangen sama aku? Kangen juga gapapa kok sayang....aku juga kangen sama kamu, ingat taruhan kita ya! Aku menang lho!"
'Aku bahkan bisa - bisanya melupakan taruhannya! Astaga Mikha...' Mikha terus menerus merutuki dirinya sendiri.
"Kok kamu diam? Kamu masih ingat kan sayang?"
"Hmm...kamu mau apa hadiah taruhannya?"
"Aku cuma mau kamu kok!"
"Maksudnya gimana Vin? Aku gak ngerti nih."
Seketika pipi Mikha sudah sangat merona, sayangnya Alvin sedang tidak berada didekat Mikha saat ini jadi tidak dapat menyaksikan secara langsung pipi Mikha yang sedang merona saat ini.
"Bolehkan?" Tanya Alvin lagi.
"Aku masih tidak mengerti maksud kamu....hoam, Vin aku udah ngantuk nih. Kalau begitu aku tidur duluan ya..." Elak Mikha.
"Mikha aku tau kamu saat ini sedang mengalihkan pembicaraan..." Ucap Alvin seolah bisa menebak dengan mudahnya.
"Ih aku beneran ngantuk Vin...masak kamu gak percaya sih."
"Mana coba aku ingin melihat wajah kamu..."
"Jangan Vin...."
"Kenapa tidak boleh? Mikha...please, aku cuma mau lihat bentaran aja deh."
"Ya udah deh.." Lalu akhirnya Mikha mengubah panggilannya dengan panggilan video.
"Kok kamu cantik banget sih sayang...aduh aku jadi semakin tidak sabaran untuk bisa kembali secepatnya....kamu jangan nakal - nakal ya selama disana."
"Gombal! Pasti lagi ada maunya ini kan?"
"Ya sayang...padahal aku jujur lho!"
"Oh iya?"
"Iya...sepertinya kamu sengaja untuk menggoda aku terus menerus ya !"
"Siapa yang lagi menggoda kamu sih Vin? Itu mah pikiran kotor kamu aja kali."
Seketika Alvin tertawa lepas, "Tapi beneran Mik...aku kangen banget sama kamu! Tunggu aku pulang ya sayang dan jangan nakal - nakal."
"Iya bawel!"
"Kalau begitu aku apa sudah boleh tidur? Beneran Vin aku benar - benar sudah sangat mengantuk."
"Ya udah deh...tapi aku temenin kamu seperti kemarin ya sayang."
Terserah kamu aja ya Vin..."
Kemudian Alvin menatap wajah Sang Istri yang sangat dirindukannya itu dan Alvin hanya bisa untuk memandanginya dari kejauhann saja.
Sampai pada akhirnya Mikha tertidur dengan sangat lelapnya. Alvin yang saat ini sedang mengelus ponselnya sendiri dari kejauhan yang saat ini sedang jauh dengan Mikha, Alvin bahkan sempai membelai wajah Mikha dari kejauhan.
'Aku semakin tidak sabaran agar bisa cepat kembali Mik...tunggu aku ya sayang...' Batin Alvin.
Lalu Alvin memejamkan kedua matanya juga karena sudah mulai mengantuk.
*******
"Aku tidak bisa tinggal diam begini terus! Kenapa nomor Alvin sama sekali tidak bisa dihubungi?" Ucap Clara sambil mondar mandi tidak jelas diapartemennya. Clara merasa Alvin saat ini sengaja untuk menghindar dari dirinya, Clara mulai merasa sangat panik dan mulai gelisah sekaligus tidak tenang.
Pagi ini Clara sudah menyusunin semua pakaian didalam koper karena hari ini Clara berencana untuk menyusul Alvin. Clara sudah tidak bisa lagi untuk menunggu Alvin, Menurutnya kalau semakin lama dibiarkan seperti ini bisa jadi Alvin malah lepas dari genggamannya.
"Akhirnya semua selesai, nanti siang aku sudah tinggal berangkat aja." Ujarnya.
Kemudian Clara memutuskan untuk memasak untuk dirinya karena perutnya saat ini sudah merasa sangat lapar. Clara membelai perutnya pelan, "Sabar ya sayang....ini Mama mau masak dulu..." Ujarnya sembari tersemyum.
__ADS_1
Clara membuka kulkasnya yang sangat penuh karena perbuatan dari Alan, Alan benar - benar memberikan semua bahan segar untuk Clara. Clara mengambil beberapa bahan untuk dimasak.
Setelah selesai masak, Clara langsung menghidangkan semuanya diatas meja makannya, dirinya benar - benar sudah tidak sabar untuk memakan masakannya sendiri yang menggugah selera tentunya. Apalagi perutnya yang saat ini sudah keroncongan. Dengan penuh semangat Clara langsung mengambil piring lalu mengambil nasi yang bisa dibilang banyak.
Dan pada saat Clara ingin mengambil lauknya, bell apartemennya terus saja berbunyi awalnya Clara berusaha untuk mencuekinya, tapi lama kelamaan bell nya terus saja berbunyi sampai membuatnya merasa sangat terganggu.
"Siapa sih?" Gerutunya dengan kesal sambil bangkit dari duduknya saat ini.
Clara langsung membukakan pintu apartemennya, dengan bersikap dingin Clara menyambut tamu yang sama sekali tidak diharapkannya itu.
"Kok langsung cemberut sih?" Tanya Alan yang saat ini sedang berdiri didepan pintu apartemennya sambil membawakan Mikha bunga mawar merah yang merupakan bunga kesukaan dari Clara.
"Ini untuk wanita tercantikku..." Ucap Alan sambil memberikan bunga mawar yang saat ini sedang dipegangnya itu.
"Sorry Lan...aku sudah tidak menyukainya lagi." Tolak Clara.
Raut wajah Alan seketika langsung berubah menjadi murung, "Oke Cla aku mengerti, bau apa ini? sepertinya sangat lezat." Ujar Alan lalu langsung saja menyerobos masuk kedalam apartemen Clara.
"Alan mendingan kamu pergi deh..." Bahkan Alan sama sekali sudah tidak menghiraukan ucapan dari Clara.
"Ini kan makanan kesukaan aku! Aku boleh ya makan masakan kamu..." Kemudian tanpa menunggu persetujuan dari Clara lagi, Alan langsung saja mengambilnya sendiri.
"Alan kamu ini apa - apaan sih! Siapa juga yang mengizinkan kamu untuk makan masakan aku!" Omel Clara.
"Aku sangat lapar Cla, tega banget sih sama pacar sendiri."
"Pacar? Maksud kamu mantan pacar kan?" Tegas Clara.
"Aku bahkan tidak setuju untuk putus sama kamu, lalu bagaimana sekarang aku sudah menjadi mantan pacar kamu?" Ujar Alan sambil terus melahap makanannya dengan sangat rakus.
Clara hanya menatap tajam saja kearah Alan tanpa ingin mengatakan apapun lagi.
Akhirnya Clara memutuskan untuk makan saja karena perutnya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Clara makan dengan lumayan banyak, terlihat sekali kalau dirinya saat ini sedang kelaparan. Alan yang melihat Clara hanya bisa tersenyum sendiri menatap mantan kekasihnya itu makan dengan sangat belepotan.
"Tuh kan berantakan begini..." Ucap Alan sambil mengelap sisa makanan yang ada diujung bibir Clara.
Kegiatan spontan Alan itu membuat Clara langsung menatap tajam kearahnya, akan tetapi Alan bahkan sudah tidak memperdulikannya lagi.
"Jangan tatap aku seperti itu...aku tau kok kalau kamu kangen sama aku." Ujar Alan seakan bisa membaca isi pikiran Clara.
"Ti-tidak..." Ucap Clara lalu menepis tangan Alan.
"Kamu tidak berubah ya masih aja seperti anak kecil, ini masih berantakan." Ujar Alan lalu membersihkan kembali sisa makanan Clara.
Clara hanya menatap Alan saja dengan tatapan yang sukar untuk diartikan.
"Aku bilang jangan tatap aku seperti itu Clara..." Ujar Alan sambil menatap Clara.
"Si-siapa yang sedang menatap kamu! Dasar ge'er." Ucap Clara dengan gugup. Kemudian Clara membereskan piring bekas mereka makan tadi.
Alan yang melihat sikap Clara yang salah tingkah hanya bisa untuk menahan tawanya saja, selagi Clara membereskan makanan mereka berdua, Alan memutuskan untuk melihat - lihat apartemen Clara.
Alan melihat foto - foto Clara, bahkan ada beberapa foto yang memang Alal langsung yang mempotretnya. "Ternyata kamu masih menyimpan foto in iCla." Ujarnya senang.
"Mendingan kamu pulang sekarang..." Usir Clara sambil mendorong tubuh Alan.
Alan masih berusaha untuk bertahan agar tidak diusir secepat itu, Alan selalu saja bisa untuk mencari alasan agar bisa bertahan disana.
"Perut aku sakit, aku kekamar mandi dulu ya." Ujar Alan lalu pergi meninggalkan Clara yang masih begong sendiri melihat kelakuan Alan.
"ALAN....!" Teriak Clara.
Alan sudah berlari kekamar mandi dengan cepatnya.
"Dasar Alan kamu itu nyebelin banget sih!" Gerutu Clara dengan kesalnya lalu Clara memutuskan untuk duduk disofa lalu menyenderkan kepalanya yang terasa sedikit pusing.
'Kenapa pusing sekali sih?' Batin Clara.
Kemudian Clara memejamkan matanya sebentar untuk meredakan rasa pusingnya yang dirasakannya itu. Bahkan Clara sampai - sampai tidak menyadari kalau Alan saat ini sudah duduk disampingnya dengan jarak begitu dekatnya dengan wajah Clara.
Tanpa sadar Clara merasakan kalau bibirnya seperti dicium oleh seseorang, seketika Clara langsung membuka kedua matanya lalu dengan spontan Clara langsung mendorong tubuh Alan.
"Apa yang sedang kamu lakukan!" Ucap Clara dengan sangat murkanya.
"Bukannya kamu sedang tertidur Cla? Aku hanya ingin mencium kamu saja." Ucap Alan dengan jujur.
"Oh jadi kamu mau mengambil kesempatan ketika aku tertidur? Brengsek banget kamu Alan! Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini...!" Ucap Clara dengan nada yang semakin meninggi.
"Gak aku gak akan kemana - mana!" Tegas Alan.
"Kalau begitu aku saja yang pergi, terserah kamu kalau kamu mau disini aku sudah tidak perduli lagi." Ujar Clara lalu melangkah pergi meninggalkan Alan.
"CLARA...!" Panggil Alan sambil mengejar Clara.
Kemudian Alan sudah berhasil untuk menahan Clara, Alan memeluk tubuh Clara dari belakang.
"Lepasin aku!" Ucap Clara sembari memberontak.
"I love you Cla..."
Seketika tubuh Clara tidak mengeluarkan respon sama sekali, dengan langkah cepat Alan langsung membalikkan tubuh Clara.
"I love you Clara..." Alan mengulangi ucapannya lagi.
"Lepasin! Sudah berapa kali aku bilang sama kamu kalau aku sudah tidak mencintai kamu lagi Lan." Ujar Clara sambil menepis kedua tangan Alan.
"Aku tau kamu berbohong Cla...mau sampai kapan kamu terus saja membohongi diri kamu sendiri seperti ini? Please tinggalkan Alvin lalu kembali lagi denganku." Ucap Alan sambil menggenggam erat jemari Clara.
"Aku benar - benar tidak bisa Lan!" Ujar Clara lagi lalu segera melepaskan genggaman tangan Alan dan berbalik.
"Apa sesulit itu menerima aku lagi Cla?"
"Iya, karena aku sudah tidak mencintai kamu lagi." Kemudian Clara melangkah pergi meninggalkan Alan.
"Kamu mau pergi kemana? Menyusul Alvin?" Ucap Alan dengan seketika menghentikan langkah Clara.
"Iya, syukurnya kamu sudah tau sendiri tanpa harus aku bilang."
"CLARA!" Panggil Alan.
"Kenapa kamu terus saja ingin merebut kebahagian orang lain! Aku akan mencari tau siapa sebenarnya Ayah dari Anak yang kamu kandung itu! Kalau sampai itu benar Anakku, aku akan bilang tentang keberadaan ini kepada Alvin!" Ancam Alan lalu segera pergi meninggalkan Clara.
"ALANNN...KAMU TIDAK AKAN BISA MELAKUKANNYA!" Teriak Clara.
Alan sudah tidak mendengarnya Clara lagi, Alan malah semakin mempercepat langkahnya. Saat ini Alan benar - benar sangat marah sekali dengan Clara, karena menurutnya Clara terlalu menyedihkan.
"Lihat saja secepatnya aku akan membongkar kebenarannya!" Tegas Alan lalu masuk kedalam lift yang saat ini sudah terbuka.
*******
Dududu...Alan benar benar tidak main - main dengan ucapannya, lalu gimana dengan Clara?
__ADS_1
Penasaran?
Happy Reading Guys!