
"Serius banget si lo...maksud gue Vin..." Ucap Mikha sambil tertawa puas karena sedari tadi sudah berhasil menggoda Alvin.
"Oh daritadi kamu itu godain aku ya? Jadi begitu ya!" Ucap Alvin dengan wajah tidak terimanya.
"Iya habisnya melihat ekspresi kamu seperti itu ternyata lucu juga ya!" Ucap Mikha lagi sembari tertawa.
"Hmmm...begitu ya! Jadi sekarang kamu udah puas?" Tanya Alvin.
Mikha menggeleng dengan sangat cepat,
"Apa kamu masih belum puas juga setelah menjaili aku seperti itu?" Tanya Alvin lagi.
"Aku belum puas melihat ekspresi kamu yang marah seperti itu, jujur aku menyukainya." Jawab Mikha dengna jujur.
"Hmmm...lucu ya? Dasar kamu itu," Lalu dengan sangat gemas Alvin mencubit kedua pipi Mikha.
"Aww sakit! Pipi aku kan tidak bersalah!" Ucap Mikha sambil memegangi pipinya yang sakit.
"Tapi aku gemas sama kamu...jadinya gimana dong?"
"Ih ngeselin banget deh kamu! Mendingan kamu cepat pergi aja deh sana....sebelum Kak Al kesini lagi." Ucap Mikha sambil mendorong Alvin.
"Oh jadi gitu kamu tidak berkeingan untuk mengantarkan Suami tercinta kamu ini Hemm?" Tanya Alvin.
"Oh jadi Suami aku ini mau diantar ya? Bilang langsung dong sama Istrinya, soalnya kan Istrinya kurang peka!" Balas Mikha.
"Iya dong...emang kamu tidak pernah peka sih, ya udah yuk buruan." Ucap Alvin sambil mengulurkan tangannya.
"Harus banget ya pegangan tangan?" Ucap Mikha yang merasa malu.
"Iya harus dong! Ayo buruan." Alvin mengulangi ucapannya lagi.
"Oke baiklah." Ucap Mikha sambil meraih tangan Alvin agar mereka berdua berjalan bersama - sama.
Alvin dan Mikha berjalan bersama - sama sampai kebawah, tentu saja membuat Al dan Ara langsung menatap aneh kepada keduanya. Al dan Ara saling memandang satu sama lain.
"Ayo berangkat Kak..." Ucap Alvin.
"Ehem...tumben amat nih jalannya pegangan tangan seperti itu?" Goda Al.
MIikha yang merasa sangat malu dengan segera ingin melepaskan genggaman tangan Alvin akan tetapi Alvin menahan tangan Mikha.
"Vin...lepas." Bisik Mikha.
"Udah kamu tidak perlu merasa malu seperti itu." Balas Alvin.
"Emangnya kenapa Kak? Sebenarnya Mikha tidak rela ini Kak kalau Alvin ikut pergi." Balas Alvin lagi sambil memainkan matanya.
Sontak membuat Mikha langsung melotot kepada Alvin, "Kapan aku bilang begitu? Kamu gak usah ngarang deh Vin." Bisik Mikha lagi.
"Oh iya? Benar begitu Mikha?" Tanya Al lagi.
"Hmm...sebenarnya Mikha rela - rela aja sih Kak kalau Alvin pergi." Jawab Mikha.
"Oh jadi begitu? Tadi dikamar kamu bilang kalau kamu itu gak rela lho Mik. Secepat itu ya kamu berubahnya?" Ucap Alvin.
Mikha semakin menatap tajam kearah Alvin. "Kapan aku bilang? Kamu gak usah ngarang bebas seperti ini dong Vin." Bisik Mikha lagi.
"Jadi ceritanya udah panggil aku kamu ini?" Tanya Ara sambil senyum - senyum sendiri.
"Iya Kak! Aduh Kakak iparku ini peka banget ya, beda banget sama seseorang yang tidak peka sama sekali." Jawab Alvin sambil menatap Mikha.
"Maksud kamu? Sengaja banget deh godain aku terus." Bisik Mikha lagi.
"Kamu merasa ya? Hmm padahal aku tidak menyebutkan kalau orang itu kamu lho!" Balas Alvin.
Oh iya? Emangnya siapa yang tidak peka Vin?" Tanya Ara lagi.
"Ada deh Kak! Yang jelas Kak Ara pasti mengenalnya." Jawab Alvin sambil melirik kearah Mikha saat ini.
"ALVIN!"
"Ya? Kamu manggil aku?"
"Mendingan kamu pergi sekarang juga deh!" Ucap Mikha dengan kesalnya.
"Ayo kita pergi Vin, ini sudah waktunya." Ucap Al yang sudah menatap jam tangannya.
Ara kemudian bangkit dari duduknya, "Sayang kamu hati - hati ya..."
"Iya sayang...kamu jangan nakal ya! Ingat semua pesan yang aku sampaikan sama kamu ya!" Ujar Al.
Ara mengangguk pelan, "Iya sayang."
"Aku pergi sekarang ya Mik, jangan rindukan aku ya! Ingat semua pesan yang aku bilang kemarin!" Tegas Alvin.
"Iya iya bawel!" Jawab Mikha.
"Kalau ada apa - apa kamu...tidak usah menghubungi aku ya!" Ucap Alvin sambil mengedipkan matanya.
"OKE! Tentu saja tidak akan." Balas Mikha.
Setelah Al dan Alvin masuk kedalam mobil yang sama, Ara dan Mikha melambaikan tangan untuk kepergian keduanya. Kemudian mobilnya sudah sangat jauh sampai - sampai sudah tidak terlihat lagi. Keduanya langsung saling memandang satu sama lain.
"Kakak tidak rela banget Mik kalau Al pergi. Bagaimana dengan kamu?" Tanya Ara.
"Hmm...ya Mikha si rela - rela saja ya Kak dengan kepergian Alvin, soalnya Alvin nyebelin banget kak." Jawab Mikha dengan penuh senangat.
"Oh jadi seperti itu ya? Hmm..kamu tidak merasa kalau kamu itu hutang penjelasan sama Kakak?" Ucap Ara lagi.
"Penjelasan apa Kak?" Tanya Mikha pura - pura tidak tau sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Oh iya? Tapi mulai sejak kapan kalian berdua manggil aku kamu? Masih tidak mau mengaku juga sama Kakak?" Pancing Ara terus menerus.
Mikha hanya cengengesan tidak jelas saja, "kelihatan banget ya Kak?" Tanya Mikha lagi dengan wajah yang tersipu malu.
"Iya lah kelihatan banget tau gak! Kakak sangat penasaran apa yang telah terjadi sebenarnya?" Desak Ara terus menerus sampai pada akhirnya Mikha mau untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Hmm...jadi begini Kak, sebenarnya Alvin dan Mikha udah jujur dengan perasaan kita berdua masing - masing Kak." Jawab Mikha masih dengan malu - malu.
"Oh iya? Tuh kan benar dugaan Kakak, pasti ada yang terjadi kepada kamu dan Alvin. Selamat ya Mik, akhirnya kamu mau jujur juga dengan perasaan kamu sendiri, Kakak ikut senang mendengarnya." Ucap Ara sambil memeluk Mikha.
"Iya Kak! Awalnya Mikha juga menolak perasaan ini, tapi lama kelamaan perasaan Mikha semakin besar saja kepada Alvin.
"Kakak ikut senang mendengarnya Mik, semoga kamu dan Alvin bahagia terus ya!" Ujar Ara lagi.
"Iya Kak pasti! Thanks ya Kak Ara, ini semua juga terjadi berkat dukungan Kak Ara juga. Kalau tidak mana mungkin Mikha seberani ini Kak." Ujar Mikha jujur.
"Iya Mik...kakak hanya ingin melihat kamu dan Alvin selalu berbahagia saja!" Ucap Ara sambil melepaskan pelukannya.
"Iya Kak, Mikha tau kok." Ujar Mikha.
Kemudian keduanya masuk kedalam rumah juga, "Kak Mikha kekamar dulu ya." Ujar Mikha.
"Iya Mik..."
__ADS_1
Kemudian Mikha naik keatas untuk menuju kekamarnya.
Setelah kepergian Mikha, Ara hanya duduk santai aja untuk mulai merilekskan dirinya sendiri ditepi kolam renang. Akhir - akhir ini Ara sering melakukannya untuk membuang pikiran negatifnya itu. Ara berusaha untuk mengrileks kan dirinya sendiri.
Ara mulai menarik nafas lalu kemudian secara perlahan mulai menghebuskannya kembali, Ara terus saja melakukannya untuk mengatur pernapasannya dengan baik. Tanpa terasa Ara telah menghabiskan waktunya selama setengah jam saja hanya untuk melakukan hal ini.
Setelah merasa lebih rileks lagi, Ara mulai membuka kedua matanya. Kemudian Ara memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya kembali dan Ara sudah melihat kalau Mikha baru saja turun dari lantai 2 dengan sangat terburu - buru.
"Buru - buru amat Mik? Kan masih jam segini?" Tanya Ara dengan sangat penasaran.
"Iya Kak takutnya nanti macet dijalan, kan biasanya Alvin yang anterin Mikha jadinya gak perlu terburu - buru seperti ini." Ujar Mikha.
"Oh jadi ada yang lagi kehilangan Alvin nih?" Goda Ara.
"Aduh Kak...bukan begitu maksud Mikha...maksud Mikha itu...."
"Iya iya Kakak mengerti kok Mik. Tapi setidaknya kamu harus sarapan dulu dong!" Ajak Ara sambil merangkul Mikha untuk mengikutinya keruang makan.
"Tapi Kak...."
"Ssstt...sebentar aja kok Mik. Ayolah Mikha lagian Kakak gak mau lho kalau sarapan seorang diri aja." Bujuk Ara sambil memohon kepada Mikha.
"Hmmm...ya udah deh Kak." Ucap Mikha akhirnya sejutu dengan permintaan Ara.
"Nah gitu dong!" Ujar Ara dengan sangat bersemangat.
Mikha hanya tersenyum saja menatap Ara, dengan buru - buru Mikha mengoleskan roti tawarnya dengan selai coklat. Ya Mikha memutuskan hanya akan sarapan roti dan minum susu putih saja.
Baru saja Mikha mengoleskan rotinya itu, ponsel Mikha bergetar, Mikha sempat melihatnya sekilas. Kemudian setelah selesai mengoleskan rotinya itu, Mikha memutuskan untuk membuka ponselnya terlebih dahulu. Ternyata yang menghubungi Mikha itu adalah Alvin dengan segera Mikha langsung membuka dan membaca pesannya itu.
ALVIN
Baru aja berpisah sama kamu...tapi kok aku udah kangen ya? Hmm..kamu harus tanggung jawab nih!
Mikha hanya senyum - senyum sendiri saja setelah melihat pesan dari Alvin itu.
MIKHA
Oh iya? Masa sih? Aku aja biasa aja tuh! :p
ALVIN
Ya kamunya sih emang gak peka sama sekali! Payah nih mau romantis romantisan tapi pasangannya datar aja!
MIKHA
Jadi kamu mau berubah pikiran nih? Masih bisa lho!
ALVIN
Ya pengennya sih begitu ya...tapi sayangnya hati aku udah dikunci sama kamu jadinya gimana dong? :*
Mikha terus saja membalas pesan dari Alvin sampai membuatnya melupakan sarapannya yang berada dihadapannya saat ini. Ara yang sedari tadi sibuk terus melahap makanannya akhirnya menyadari sikap Mikha juga, Ara melihat kalau Mikha sedari tadi senyum - senyum sendiri saja sambil chattingan.
"Ehemmm..."
Sampai Mikha tidak menyadari kalau Ara sudah berdehem untuk dirinya saat ini, Mikha asik sendiri dengan dunianya.
"Ehemm...emang beda ya kalau ada yang sedang jatuh cinta! Serasa dunia hanya milik berdua nih." Goda Ara.
"Hah? Bu-bukan begitu kok Kak..." Ucap Mikha dengan gugup.
"Kelihatan banget tau gak Mik....kamu gak lupa kan kalau kamu mau pergi kekantor cepat? Apa jangan - jangan kamu sudah melupakannya juga ya?" Goda Ara.
"Ya udah Mikha jalan sekarang ya Kak, aduh udah jam segini lagi." Ucap Mikha sambil membawa roti coklatnya dan dengan cepat meminum susu putihnya itu.
"Pelan - pelan Mik..." Ucap Ara.
"Gak ada waktu lagi kak...kalau begitu Mikha pergi sekarang ya Kak." Setelah pamit dengan Ara Mikha dengan cepat sudah berlari keluar.
Ara hanya geli sendiri melihat tingkah Mikha yang saat ini sedang kasmaran. "Ada - ada aja sih...emang benar ya kalau orang sedang jatuh cinta itu pasti melupakan segalanya?" Ucap Ara sambil mengeleng - gelengkan kepalanya.
*******
Pagi ini Vio sudah berdandan dengan sangat cantik karena hari ini dirinya akan segera bertemu dengan Rey. Vio tidak ingin membuang - buang waktu lagi, dia segera beegegas pergi ke tempat Rey saat ini yang bisa dibilang lumayan jauh dari kediamannya.
Selama didalam perjalanan Vio terlihat sangat bahagia, terlihat jelas dengan senyumannya yang terus saja mengembang dari bibir merahnya itu. Bahkan Dewi yang sempat melirik sekilas saja sudah tau kalau Vio sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan kekasih hatinya itu.
Dewi hanya bisa menghela nafas dengan beratnya, Dia masih tidak habis pikir kalau Vio tergila - gila dengan seorang Rey yang bahkan tidak mencintainya sama sekali.
'Semoga setelah ini kamu akan bahagia Vi, Kakak akan mendukung apapun yang terbaik untuk kamu!' Ucap Dewi didalam hatinya.
"Duh kenapa macet sih jam segini? Masih jauh lagi gak sih kesana? Tau kalau bakalan macet begini kita berangkatnya subuh tadi." Gerutu Vio dengan kesal.
"Kamu yang sabar dong Vi...Kakak yakin kalau Rey juga tidak akan bisa kemana - mana! Kamu terlalu khawatir berlebihan banget deh." Omel Dewi.
"Gimana aku bisa sabar Kak? Kita sudah terjebak macet selama setengah jam...dan sekarang Kakak menyuruh aku untuk sabar dan tenang? Bagaimana aku bisa Kak? Kakak juga tau kan kalau Rey itu orangnya nekatan!" Ujar Vio tidak henti - hentinya.
"Iya Kakak tau...tapi kamu terlalu panik dan terlalu banyak berpikir Vi. Udah ya kita juga sebentar lagi sudah keluar dari kemacetan nih. Mendingan kamu duduk diam dan tenang dulu dari pada kamu terus marah - marah begini." Ucap Dewi untuk menenangkan Vio.
"Oke baiklah Kak, semoga Kakak benar ya kalau Rey tidak akan kemana - mana." Ucap Vio akhirnya.
"Iya Vi..."
Akhirnya selama didalam perjalanan Vio duduk dengan tenang tanpa mengomel sama sekali, dia hanya memandang ponselnya lalu membuka gelerinya yang ternyata disana banyak sekali foto - foto Rey yang diambil secara diam - diam oleh Vio.
Kemudian Vio mengelus foto Rey itu, 'Sebentar lagi kita akan segera bertemu sayang! Aku semakin tidak sabar untuk ketemu sama kamu.' Batin Vio sembari tersenyum.
"Vi..." Panggil Dewi.
"Hmmm..."
"Kakak boleh bertanya?" Tanya Dewi sambil memperhatikan wajah Vio saat ini.
"Ya ampun Kak tinggal nanya aja kali..."
"Apa yang bakalan kamu lakukan setelah bertemu kembali dengan Rey?" Tanya Dewi.
"Hmmm...yang pertama kali tentunya aku akan memeluk Rey dengan erat untuk melepaskan rindu aku selama ini." Ucap Vio dengan sangat jujur.
"Lalu setelahnya?"
"Aku akan mengajak Rey untuk pergi bersama denganku! Dan kami berdua akan memulai hubungan dari awal lagi yang akan membuat kami bahagia bersama - sama." Ujar Vio dengan sangat bersemangat.
"Lalu kalau Rey tetap menolak kamu? Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dewi lagi.
"Kak....kenapa sih Kakak bertanya seperti itu? Aku yakin kok kalau Rey mau kembali lagi kepadaku lalu bertanggung jawab dengan kehamilanku ini."
"Tapi Vi...
"Udah ya Kak, Vio capek Vio tidak ingin mendengarkannya lagi."
"Baiklah Vi..." Ucap Dewi akhirnya sambil menghela nafas dengan sangat berat.
Vio memalingkan wajahnya kearah luar agar tidak menatap Dewi lagi yang saat ini sedang duduk disebelahnya.
__ADS_1
'Maaf Vi, sebenarnya Kakak tidak bermaksud untuk membuat kamu marah seperti ini, tapi Kakak juga tidak ingin melihat kamu terlalu berharap dengan Rey. Semoga kamu mengerti ya.' Batin Dewi.
Lalu selama didalam perjalanan suasananya semakin hening saja, baik Vio maupun Dewi merasa sangat canggung satu sama lain.
"Maaf Kak...tadi Vio tidak bermaksud seperti itu." Ucap Vio membuka obrolan.
"Iya Vi...Kakak mengerti kok dengan maksud kamu. Seharusnya yang harus meminta maaf itu Kakak Vi, maafin Kakak ya sampai membuat kamu marah seperti itu." Ujar Dewi.
"Iya Kak...sekarang kita baikan ya Kak!" Ucap Vio lalu memeluk Dewi.
"Iya Vi..." Ucap Dewi sambil menepuk - nepuk punggung Vio.
"Lihat didepan sana Vi...akhirnya kita telah sampai." Ujar Dewi lagi.
Kemudian Vio melepaskan pelukannya dari Dewi, "Iya Kakak benar! Aduh Vio semakin tidak sabar ini Kak untuk ketemu Rey." Ucap Vio dengan sangat antusiasnya.
Setelah mobilnya dihentikan tepat setelah mobilnya memasuki halaman luas itu, tanpa ingin menunggu lagi Mikha segera turun dari mobil dengan cepatnya.
Vio setengah berlari menuju depan pintu lalu dengan tidak sabarannya Vio terus saja menekan tombol bell rumah itu sedari tadi sampai pada akhirnya Anak buah Al membukakan pintu untuk dirinya.
Setelah pintu terbuka, Vio langsung menatap kedalam rumah, "Dimana Rey?" Tanyanya.
"Silahkan masuk terlebih dahulu..." Ucap Anak buah Al itu.
Dan dengan segera Mikha masuk kedalam rumah itu sambil terus celingak celinguk untuk mencari keberadaan Rey dan diikuti oleh Dewi.
"Dimana Rey?" Tanya Vio dengan tidak sabaran.
"Ada..."
"Aku disini...kenapa kamu mencariku Vi?" Ucap Rey sambil berjalan menghampiri Vio.
"REY!" Teriak Vio sambil berlari untuk memeluk kekasihnya yang sudah sangat lama dirindukannya itu.
"BUKKK!"
"Lepasin Vi..."
"Gak aku gak mau...kamu pikir sudah berapa lama aku merindukan kamu seperti orang gila seperti ini?"
"Iya lepasin dulu baru kita bicara." Ucap Rey pada akhirnya.
"Beneran? Kamu janji ya jangan pergi lagi?"
Rey hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Vio barusan.
"Rey...aku lagi bicara sama kamu!" Desak Vio lagi.
"Aku bilang lepasin dulu baru kita bicara." Ujar Rey kembali.
"Oke..oke!"
Akhirnya Vio menuruti ucapan Rey juga, lalu mereka berdua duduk di sofa. "Sebaiknya kalian semua keluar dulu. Aku hanya ingin berbicara berdua saja dengan Vio." Ujar Rey.
"Baiklah.."
"Vi kalau ada apa - apa Kakak ada didepan ya..." Ucap Dewi sebelum akhirnya pergi keluar juga.
Vio hanya mengangguk saja.
"Mereka semua sudah pergi Rey...katakan apa yang ingin kamu sampaikan." Desak Vio.
"Hmm....kenapa kamu masih ingin bersama dengan pria brengsek seperti aku ini Vi? Padahal kamu tau kan jelas - jelas banyak diluaran sana laki - laki yang meginginkan kamu?" Tanya Rey.
"Karena yang aku cinta hanya kamu seorang Rey! Aku tau kalau aku hanya menipu diriku sendiri dan terus saja memaksa kamu untuk terus bersama denganku, tapi aku tulus sama kamu Rey! Kita berdua itu sama Rey." Jawab Vio.
"Apa kamu yakin bisa membuat aku untuk jatuh cinta sama kamu Vi? Padahal kamu tau dengan jelas kalau hati aku itu hanya untuk Ara seorang, kenapa kamu terus memaksa aku untuk terus bersama dengan kamu? Apa itu tidak menyakiti kamu?" Tanya Rey lagi.
"Aku yakin kalau aku bisa membuat kamu untuk mencintaiku juga. Aku hanya harus bersabar untuk itu Rey....aku mau kok menunggu kamu Rey, asalkan kamu mau memberikan aku sebuah kesempatan untuk itu. Aku bahkan tidak merasakan sakit sama sekali, Rey kamu mau kan untuk memberikan kesempatan untuk kita bersama?" Ucap Vio sambil memegang kedua bahu Rey.
"Lalu bagaimana kalau aku pada akhirnya tetap tidak mencintai kamu juga?" Tanya Rey lagi.
"Aku tidak akan memaksa kamu....aku janji bila saatnya tiba aku akan melepaskan kamu." Jawab Vio dengan sangat meyakinkan.
"Kamu serius Vi?" Tanya Rey lagi yang merasa ragu.
Vio mengangguk dengan sangat mantap, "Aku hanya ingin melihat kamu bahagia Rey, itu udah jauh lebih cukup. Dan aku tidak menginginkan Anak kita berdua lahir tanpa mempunyai Papa. Aku ingin memberikan kebahagiaan untuk Anak kita." Ucap Vio sambil mengelus perutnya.
Rey menatap perut Vio yang semakin hari semakin membesar saja, setelah berpikir beberapa saat, Rey memutuskan untuk membuat keputusan.
"Baiklah aku akan mencoba sebaik - baiknya untuk kita Vi." Ujar Rey pada akhirnya.
"Kamu serius Rey?" Tanya Vio dengan tidak percayanya.
"Iya aku serius, aku juga tidak menginginkan Anak kita lahir dan besar tanpa Orangtua yang lengkap, tapi untuk soal cinta aku masih belum bisa...."
"Ssstt...iya aku gapapa kok Rey, asalkan kamu ada terus bersama dengan aku itu udah lebih dari cukup untuk aku." Ucap Vio lalu kembali memeluk Rey.
Kali ini Rey membalas pelukan dari Vio, Vio hanya tersenyum penuh dengan perasaan bahagianya saat ini.
"Terimakasih Rey..."
Setelahnya Vio dan Rey keluar dari rumah sambil Vio terus menyenderkan kepalanya dibahu Rey.
"Aku dan Rey akan segera berangkat ketempat yang telah disepakati, tolong beritahukan hal ini kepada Bos kalian." Ujar Vio.
Sedangkan Dewi masih belum bisa untuk mempercayai hal yang dilihatnya saat ini, 'Ini beneran? Rey beneran mau kembali lagi sama Vio? Aku masih belum bisa mempercayainya seratus persen.' Batin Dewi yang merasa curiga.
Setelah itu Anak buah Al segera menghubungi Bos mereka yang baru saja tiba dihotel, Ponsel Al berdering, tidak perlu menunggu waktu yang sangat lama, akhirnya Al menjawab panggilannya itu.
"Halo...gimana semuanya?"
"Bos...mereka berdua akan segera berangkat ke tempat yang telah disepakati.
"Kerja bagus! Ikuti mereka sampai ke tempat tujuan lalu laporkan setelah kalian semua sampai disana."
"Siap laksanakan Bos!"
Setelah panggilannya berakhir, akhirnya Al bisa bernafas dengan sangat lega, perasaannya perlahan mulai membaik. 'Akhirnya tidak akan ada lagi penganggu kita berdua Ra! Aku harap semoga ini semua selesai, kita akan bahagia tanpa adanya orang yang ingin menghancurkan hubungan kita lagi.' Batin Al.
"Kalau begitu kita sudah bisa berangkat sekarang." Ujar Anak buahnya Al itu.
Rey kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Vio, "Silahkan masuk Vi..." Pintanya sambil tersenyum.
"Dengan senang hati sayang..." Ujar Vio.
Setelah itu Rey segera menutup pintu mobilnya, tanpa disadari oleh Rey, Dewi mendekat kearahnya. "Saya harap kamu tidak sedang melakukan pertunjukan! Saya harap kamu tulus kepada Vio, dia benar benar sangat mencintai kamu." Bisik Dewi lalu akhirnya masuk kedalam mobil.
********
Kalau menurut kalian semua Rey benar - benar tulus gak sih sama Vio? Hmm..semoga aja ya!
Aduh ada yang saling kangen sama pasangannya nih? Hmmm, benar juga ya kalau ada yang bilang kalau jauh kangen kalau dekat ribut! Heheh...
Happy Reading Guys!
__ADS_1