
Cukup lama ditinggal pergi oleh Bian beberapa waktu yang lalu membuat Kiana harus semakin ekstra menjaga putranya. Apalagi mengingat mereka yang kini hanya berdua berada di tempat baru membuat Kiana semakin was-was saja untuk meningkatkan kewaspadaan pada lingkungan yang dirasainya masih asing.
Dilihatnya Al yang kini terbaring di ranjang dengan tangan dan kaki yang terus bergerak-gerak. Nampaknya bayi itu begitu betah berada di tempat yang nyaman. Terbukti semenjak kedatangannya ke tempat itu, bayi Al tak pernah sekalipun rewel bahkan menangis sampai berlarut-larut kecuali jika ia sedang merasa lapar ataupun ingin diperhatikan.
"Anak ibu..." panggil Kiana pada Al yang kemudian mendekati bayinya itu. "Al sedang apa? Ibu perhatikan Al selalu tersenyum, Nak?"
"Apa kamu merasa senang tinggal di sini?" tanya Kiana pada Al yang hanya tersenyum dan tak lepas terus memperhatikannya.
"Ya, bersama ayahmu tentunya. Di rumah ini. Apa kamu senang?" ulangnya lagi. Kiana menatap lekat-lekat bayinya itu sembari tersenyum miris disaat melihat begitu kontrasnya antara pakaian lusuh yang dikenakan bayinya dengan kain sprei mewah yang membalut pembaringan empuk dimana putranya itu berada.
Menghela napas sejenak, Kiana tersenyum tipis seraya meraih Al ke dalam pangkuannya. Bayi kecil itu semakin senang kegirangan saja dibuatnya. Setelah baru saja Kiana memandikan raga mungil itu dan membiarkannya bermain sendirian tanpa merasa lelah sekalipun.
"Sepertinya kamu akan betah tinggal di rumah ini, iya kan? Rumah yang sangat bagus, bersih, rapi dan tentunya sangat nyaman sekali. Sangat jauh berbeda dengan rumah kita dulu. Pantas saja sejak kemarin jagoan ibu ini tidak pernah rewel. Ternyata Al suka sekali tinggal di sini apalagi bersama dengan bapak, hem?" ucapnya menggoda Al yang membuat bayi itu tertawa cukup keras.
"Ibu sangat bersyukur karena ayahmu akhirnya menemukan kita. Ibu tidak dapat membayangkan bagaimana jika hal itu tidak terjadi. Melihat kamu akan tumbuh dengan segala keterbatasan dan kekurangan sebab ibu yang tidak mampu." ungkapnya sendu.
"Maafin ibu ya, Nak, ibu belum bisa membahagiakan serta memberikan yang terbaik untuk kamu selain cinta dan kasih sayang yang ibu miliki untuk Al selama ini. Ibu menyayangi kamu, Nak, dengan seluruh genap jiwa dan raga ibu." ucapnya seraya membubuhkan kecupan demi kecupan di wajah Al yang mana membuat bayi itu menggeliat kegelian.
Larut dalam suasana yang sendu, tiba-tiba saja Kiana tersentak dengan suara yang terdengar dari arah depan pintu yang terus berbunyi membuat kebersamaan yang penuh keharuan dengan putranya itu harus terhenti.
"Al dengar? Sepertinya itu bapak, Nak. Akhirnya bapak pulang untuk kembali bermain dengan kamu, sayang." ucapnya seraya bergegas beranjak dari tempatnya untuk segera membukakan pintu yang sedari tadi terus berbunyi.
Sepanjang jalan melangkah untuk sampai di depan pintu, alis kiana bertaut dengan keanehan yang menurutnya tak biasa. Kenapa pula Bian yang notabene adalah pemilik rumah ini harus menunggu orang dalam untuk membukakan pintu untuknya.
"Kenapa ayahmu tidak langsung masuk saja seperti biasanya? Apa dia ingin mengerjai kita?" ucapnya pelan dengan langkah cepat bersamaan dengan Al yang berada dalam pangkuannya.
Kiana cukup terkejut saat membukakan pintu yang ia dapati bukanlah orang yang diharapkannya. Bukan Bian, melainkan Dimas. Asisten suaminya itu tengah berdiri di depan pintu dengan membawa sesuatu di tangannya yang cukup merepotkan pria itu sendiri.
"Pak Dimas?" ucap Kiana dengan suara pelan.
"Kiana," balas pria itu dengan cengiran yang sangat menyebalkan.
"Lho, kok bapak ada di sini? Bukannya Pak Bian tadi pergi untuk menemui Pak Dimas?"
"I-iya, tapi--"
"Tapi kenapa Pak? Terus Pak Bian nya mana? Kenapa Bapak datang sendirian?"
"Anu, i-itu, saya--" Dimas jadi serba salah kan. Bagaimana tidak, pria itu kini berada dalam pilihan yang sulit sehingga membuatnya bingung sendiri. Rasain kamu, Dim! Pusing bukan?
"Ada apa Pak Dimas? Apa sudah terjadi sesuatu sama Pak Bian?" cemas Kiana yang mulai memperlihatkan gestur kekhawatirannya.
"Tidak, hanya saja--" pria itu kembali terdiam. Ia menghela napas sesaat kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Ada yang ingin bertemu dengan kamu," ucap Dimas pada akhirnya.
"Bertemu dengan saya? S-siapa?" tanya Kiana dengan kerutan di dahinya. Kiana menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri samping Dimas tapi tidak ada siapapun. Hingga dua sosok secara tiba-tiba berada di depan matanya membuat Kiana mematung.
"Kami," ucap seseorang yang mana membuat Kiana menoleh pada sumber suara tersebut dengan reflek membulatkan kedua matanya saking terkejutnya.
***
Bian memacu laju kendaraannya dengan cepat seolah berburu dengan waktu. Membelah jalanan ibu kota untuk kembali ke apartemennya dimana di sana terdapat anak dan istrinya yang menurutnya mereka tengah dalam keadaan bahaya.
Sepanjang perjalanan hatinya merasa tak tenang. Sekelebatan bayangan dengan pikiran yang buruk terus berputar-putar di dalam kepalanya. Takut-takut terjadi sesuatu yang tidak ingin ia harapkan terjadi pada kedua belahan hatinya itu.
__ADS_1
Hingga ia sampai di area parkir gedung, tak memperdulikan lagi teriakan orang-orang di sana, serta petugas keamanan yang mencoba menahannya karena sudah parkir sembarangan. Bian tak peduli, dengan setengah berlari ia menerobos masuk begitu saja untuk segera naik ke lantai atas di mana unitnya berada.
Dengan napas yang memburu, kedua tangannya mengepal saat manik matanya mendapati Dimas yang tengah berdiri di depan pintu unit miliknya. Bian berjalan perlahan seraya mengamati apa yang sedang pria itu lakukan yang nampaknya tak sadar akan kehadirannya di sana.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?!" tanya Bian saat sudah berada dekat dengan Dimas yang seketika terkejut pada kehadirannya.
Pria itu menoleh pada sumber suara yang mana membuat kedua matanya membulat.
'Mati gue!' batin Dimas berteriak.
"P-Pak Bian?" ucap Dimas terbata yang seketika menelan ludahnya saat mendapati Bian yang kini ada di hadapan mata.
"Saya tanya, apa yang kamu lakukan di sini, Dimas?" tanya Bian sekali lagi dengan suara datarnya yang mengintimidasi, serta tatapan nyalang yang menghunus tajam bak seperti mata elang.
"Pak, s-saya--" pria itu seolah tak mampu mengeluarkan kalimatnya. Melihat Bian yang menatapnya seperti itu saja sudah membuat nyalinya seketika menciut. Oh, kenapa pula ia bisa mengiyakan kemauan Pak Hardi dan Bu Ajeng kalau ujung-ujungnya seperti ini? Dimas merutuki dirinya sendiri.
"S-saya bisa jelaskan kenapa saya bisa berada di sini, Pak." ucapnya dengan gestur yang terlihat ketakutan.
Masih dengan tatapan tajamnya Bian semakin mendekat pada Dimas. Pria itu sedikit beringsut mundur beberapa langkah sampai punggung badannya menempel pada daun pintu yang berada di belakangnya.
"Jelaskan sekarang juga apa maksud dari semua ini, hem?"
"P-Pak," Dimas tak berkutik kala Bian meremat kerah bajunya dengan kepalan tangan yang semakin erat.
"Kamu tega khianatin saya, Dim? Kenapa kamu berbohong sama saya?"
"Bukan begitu Pak, saya nggak bermaksud buat bohong sama Bapak. Saya--"
"Lalu apa, hem?" ucap Bian dengan kalimat intimidasinya yang membuat Dimas menelan ludahnya berkali-kali. Kali ini dia benar-benar seperti sedang berada di ujung jurang. Sangat menakutkan.
"Dimana mereka?" potong Bian yang tak mau terlalu banyak mendengar alasan pembelaan asistennya itu. Kesabarannya kini sudah berada diambang batas. Jika ingin rasanya ia melayangkan bogem mentahnya pada asisten yang sudah berkhianat padanya. Awas ya kamu Dimas!
"P-Pak, tenang dulu." ucap Dimas menenangkan atasannya itu, berharap jika Bian tak melakukan kekerasan padanya. Kan konyol jika ada berita seorang asisten mati di timpug oleh atasannya. "Ibu dan Bapak sedang berada di dalam, mereka--"
"Apa!" sentak Bian saat mengetahui kedua orang tuanya berada di dalam menemui anak dan istrinya. "Sial! Dim, kenapa kamu biarkan mereka-- Aarrggghh!!! ****!" umpatnya menahan amarah.
"Maafin saya Pak, tapi ibu dan bapak paksa saya untuk membawa mereka ke sini."
Bian menatap nyalang Dimas dengan wajah memerah.
"Saya nggak akan segan-segan buat pecat kamu kalau terjadi sesuatu di dalam sana! Awas kamu!" pekiknya dengan mengumpat kata kasar seraya melepaskan tangannya pada kerah baju milik Dimas dan bergegas masuk ke dalam.
Dimas yang melihat sikap atasannya itu hanya menghela napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara kasar seraya menggelengkan kepalanya dengan banyak mengelus dada.
"Mereka hanya ingin bertemu dengan Kiana dan Al, Pak, tidak lebih. Bahkan tidak ada niatan buruk sekalipun dari Bu Ajeng dan Pak Hardi untuk sampai menyakiti mereka dengan membawa semua ini," monolognya melanjutkan kalimat yang sempat terpotong tadi, pria itu masih berdecak dengan menggelengkan kepalanya seraya menatap pada barang-barang yang ada di kedua belah tangannya.
"Pak Bian, Pak Bian, ngeri juga kalau udah ngamuk kayak gitu." Dimas bergidik ngeri saat memutar ingatan pada apa yang baru saja terjadi padanya.
"Nasibmu Dimas," decaknya.
***
Suara Al yang terdengar begitu dominan diantara keheningan yang tercipta pada ruangan yang mempertemukan Kiana dengan kedua majikannya membuat ia tak dapat berkutik. Ia hanya dapat menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah kedua orang yang sangat ia hormati selama ini.
__ADS_1
Al yang semula berada dalam pelukannya kini beralih tempat pada pelukan wanita senja yang sedari tadi terus mengeluarkan air matanya sejak memeluk bayi mungil itu untuk pertama kalinya.
"Cucu kita Pa," ucap Bu Ajeng dengan suara bergetar di saat menatap wajah tampan bayi yang berada dalam pelukannya. Ia memindai setiap garis wajah Al yang membuatnya semakin terisak dengan ketidak percayaannya saat ini.
"Iya Ma, ini benar-benar cucu kita. Darah daging kita, anaknya Bian. Darah keluarga Adijaya mengalir kuat di dalam tubuhnya." sahut Pak Hardi yang tak kalah haru saat menatap lekat cucu laki-laki pertamanya itu.
"Bian Pa, Bian..." lirih Bu Ajeng dengan lelehan air mata yang terus berjatuhan membasahi baju Al.
"Benar Ma, wajahnya sangat mirip sekali dengan Bian sewaktu dia masih bayi dulu." sahut Pak Hardi lagi seolah tahu isi hati istrinya.
Pria paruh baya itu ikut mengelus wajah Al dengan penuh kelembutan, tak luput ia pun melengkungkan senyuman saat untuk pertama kalinya ia dapat menyentuh cucunya itu. Ia dibuat jatuh cinta saat pertama kali melihat wajah Al ketika Bian membawanya ke rumah. Sama halnya seperti dulu saat ia untuk pertama kalinya melihat Bian terlahir yang mana sukses membuat ia menangis saat memeluknya.
Dan ajaibnya, Al hanya terdiam menatap Bu Ajeng dengan tautan alis kecilnya yang saling bersinggungan. Bahkan tak sekalipun terlihat bayi kecil itu memperlihatkan raut muka sedihnya seperti hendak akan menangis dengan kehadiran orang-orang baru didekatnya. Seolah ia tahu jika orang-orang baru didekatnya itu memiliki hubungan yang begitu dekat dengannya.
"Cucu Oma..." ucap Bu Ajeng akhirnya seraya mengecupi wajah tampan Al yang menggeliat kegelian akibat ulahnya. "Maafin Oma yang baru bertemu dengan kamu," sesalnya dengan tak hentinya mengecupi wajah Al.
"Ma, sudah dulu kasihan cucu kita," intrupsi Pak Hardi.
"Mama hanya ingin melepas rindu dengan cucu Mama sendiri, apa itu salah Pa?" protesnya dengan nada tak suka karena kesenangan yang baru ia mulai terganggu.
"Nggak, Mama nggak salah. Tapi kita harus ingat di sini masih ada Kiana," ujar Pak Hardi pada istrinya.
Bu Ajeng baru teringat jika diantara mereka masih ada Kiana yang tengah duduk bersimpuh di hadapannya. Ia mengalihkan perhatiannya dari Al yang terus bergerak tak nyaman dalam pangkuannya pada sosok Kiana. Si gadis lugu nan baik hati yang kini terlihat begitu menyedihkan.
"Kiana," panggil Bu Ajeng pada gadis itu yang sejak tadi hanya diam menenggelamkan wajahnya.
"Saya tahu kamu pasti terkejut dengan kedatangan kami secara tiba-tiba setelah apa yang sudah terjadi tempo hari. Kamu tahu pasti kenapa saya bisa seperti itu. Dan saya sangat yakin sekarang pun kamu dapat merasakannya bukan?" lanjutnya lagi.
"Bisa kamu duduk di atas? Kami ingin berbicara empat mata denganmu." titah Pak Hardi saat melihat nelangsa seorang gadis rapuh yang duduk bersimpuh dihadapannya yang tentu saja tak diindahkan oleh Kiana. Gadis itu cukup merasa takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi detik itu juga pada nasib dirinya dan juga Al.
"Saya mohon kamu jangan seperti ini, kasihan Al yang melihat ibunya merendahkan diri dihadapan kami. Ayo, saya minta kamu duduk dan mulailah menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi." ucap Pak Hardi dengan kalimat bijaksananya.
Bahu Kiana terlihat semakin bergetar hebat karena tangis yang mulai pecah keluar dari dalam dirinya bentuk dari emosionalnya.
"Maafkan saya Bu..." lirih Kiana dengan suara yang teredam oleh tangisnya.
"Kenapa kamu harus menangis dan meminta maaf pada saya? Saya bilang cukup dan dengarkan saya untuk duduk lalu mulai berbicara." ucap Bu Ajeng dengan tegas.
Kiana menggelengkan kepalanya, dia tetap bersimpuh di kaki Bu Ajeng.
"Ya Tuhan Kiana.... Jangan membuat seolah-seolah saya adalah manusia jahat yang merendahkan orang lain dengan apa yang kamu lakukan seperti ini. Ayo bangun, saya minta kamu bangun kalau kamu tidak ingin membuat saya kembali menangis karena semakin menyesal dengan semua yang telah terjadi pada kalian." ujar Bu Ajeng.
"Saya minta maaf Bu, saya minta maaf karena sudah mengecewakan ibu dan bapak. Saya sudah mencoreng nama baik keluarga ibu karena kebodohan saya. Saya janji akan pergi dan tidak akan menampakkan diri saya lagi sedikitpun dihadapan ibu dan bapak."
"Kamu berbicara apa Kiana? Kamu akan pergi membawa Al dan memisahkan dia dari kami sebagai keluarganya begitu?" ujar Pak Hardi semakin tak mengerti dengan kalimat Kiana.
"Jika itu yang terbaik maka saya akan melakukannya demi Pak Bian dan keluarga. Tapi saya mohon jangan sakiti kami, saya dan Al akan pergi dan tidak akan mengusik kehidupan Pak Bian."
"Bicaramu semakin ngawur saja. Saya minta kamu untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan kami katakan jika tidak ingin melihat kami membawa Al dari kalian." jelas Bu Ajeng yang mana membuat Kiana seketika membelalakkan matanya.
Kiana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tak percaya jika hal yang dia takutkan benar-benar akan terjadi.
"Saya mohon jangan pisahkan saya dan juga Al, Bu. Saya nggak bisa hidup tanpanya. Al adalah harta berharga yang saya miliki satu-satunya di dunia ini. Saya mohon jangan Bu... Saya rela melakukan apapun tetapi jangan ambil Al dari kehidupan saya..." hiba Kiana yang semakin bersimpuh di kaki Bu Ajeng dengan Isak tangis yang terus membanjiri wajahnya.
__ADS_1
"Ma, Pa, apa yang kalian lakukan!" teriak Bian saat melihat apa yang terjadi oleh kedua matanya.
*****