
"Gua pengen tahu lebih tentang istri Lo," ujar Aaric dengan kata-kata penuh dengan penekanan, seketika memecah keheningan yang beberapa saat ada diantara mereka. Sontak saja hal tersebut membuat Bian terperanjak atas kalimat pria itu.
Kalimat itu terus berputar-putar di kepalanya sampai ia benar-benar menyadarinya. Bian memicingkan kedua matanya sampai sepasang alis hitam tebal miliknya itu saling bersinggungan.
Apa maksud dari perkataan Aaric barusan? Apa dia tidak salah dengar?
Pada saat itu juga Bola mata Bian membola. Apa-apaan sih si Aaric ini, bercandanya kali ini nggak lucu, sudah sangat kelewatan. Buat apa dia mau tahu tentang istrinya.
Dengan mata memerah dan raut wajah yang menahan amarah, Bian bangkit dari duduknya seraya menunjuk pria itu.
"Maksud Lo apa, hah!" sentaknya dengan merapatkan giginya. Dia tidak suka kalau istrinya menjadi bahan lelucon pria itu. Sama saja harga diri istrinya seolah dilecehkan oleh pria itu dengan ungkapannya tersebut. Terlebih tatapan Aaric saat melihat Kiana dengan begitu jelas dapat ia lihat jika temannya itu menyimpan ketertarikan.
Pria itu diam-diam selalu mencuri pandang ke arah istrinya. Bian sadari, tetapi dia tak mau membuat acara makan malam bersama koleganya itu berantakan dengan sikap yang mungkin seperti kekanakannya. Dia tahan sebisa mungkin, karena dia tidak suka jika istrinya menjadi objek pandangan dari pria lain.
Cih! Bian berdecih.
Oh.... Jadi sepertinya temannya itu sedang menjalankan misi balas dendamnya. Baik kita lihat, apa yang diinginkan oleh pria itu. Tetapi dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia akan membuat Aaric menyesal sebab telah mengungkapkan keinginannya yang konyol itu.
"Santai bro... santai. Sepertinya gue nggak perlu mengulanginya lagi, kalau gue pengen tahu lebih tentang is-tri Lo."
"Lo udah keterlaluan, Ar..." geram Bian menahan amarah, kedua tangannya ikut mengepal erat.
"Lo bisa duduk, nggak perlu tunjuk-tunjuk gue kayak gitu. Minuman Lo masih banyak," ujarnya santi tanpa ada beban. "Gue harap Lo bisa denger baik-baik kalau gue tertarik sama istri Lo." ucapnya lagi dengan senyum smirk.
"A****g! Sialan Lo Ar!" Bian hampir saja menarik kerah kemeja pria itu untuk memberikan bogem mentahnya, tapi ia seolah kembali tersadar dengan keadaan dimana dirinya berada.
"Brengsek!" umpatnya dengan kata kasar, tak menghiraukan seorang bartender yang sejak tadi memperhatikan perseteruan mereka.
"Mulut kasar Lo emang nggak pernah berubah sejak dulu." Aaric menghela napas. Kemudian mengangkat sebelah tangannya pada bartender tersebut untuk meyakinkan jika semua baik-baik saja.
Tanpa menunggu lama lagi, Aaric meraih ponselnya setelah beberapa saat menggulir layarnya. Kemudian ia menggeser benda pipih tersebut pada Bian yang memperlihatkan potret seseorang.
"Maksud Lo apa lagi!" ucap Bian dengan nada tinggi. Ia tak habis jika pria yang telah menjadi temannya itu ternyata secara terang-terangan mengungkapkan rasa ketertarikan pada istrinya.
"Gua tahu udah ngelakuin kesalahan yang udah buat Lo marah bahkan benci sama gua Ar, tapi berulang kali gua bilang itu bukan karena gua. Semuanya salah paham. Tapi liat apa yang Lo lakuin saat ini buat gua semakin yakin kalau Lo itu cowok brengsek!" ucapnya lagi. Sungguh sangat tidak tahu malu sekali pikirnya. Bisa-bisanya ia mengaku menyukai istrinya. Bian benar-benar geram dan ingin sekali menghabisi pria dihadapannya itu.
"Gua gak peduli sebanyak apa Lo bicara, gua gak peduli!" balas Aaric tenang.
"Lo bisa lihat sendiri," tanggapnya lagi. Aaric dengan santainya melipat kedua tangannya di dada. Satu kakinya kini menumpu di atas pahanya.
Bian berdecak kesal campur emosi, tak ayal ia pun meraih benda tersebut dengan terpaksa.
"Apa lagi ini! Gua nggak akan tinggal diam kalau Lo sampai berbuat macam-macam sama istri gua, camkan itu!" ujarnya lagi dengan emosi yang semakin membumbung tinggi. Sepertinya pria itu ingin menunjukan sesuatu yang sengaja akan membuatnya marah. Tak ingin berlama-lama, Bian pun dengan segera melihatnya.
"Bagaimana, apa Lo udah lihat? Sama bukan?" tanya balik Aaric pada Bian dengan senyum yang mengembang.
"Gue udah bilang berulang kali, kalau gue tertarik sama istri Lo." pancingnya lagi yang mana membuat air muka Bian semakin memerah.
__ADS_1
"Kurang ajar..." ucapnya hampir menggumam dengan gigi yang saling merapat kuat. Bian menatap Aaric dengan mata yang memerah dan menyalang seolah menguliti pria yang ada dihadapannya itu.
Aaric memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Bian, kemudian membisikkan sesuatu pada telinganya yang mana hal tersebut membuat Bian kembali membulatkan matanya tak percaya. Pria itu mematung. Antara percaya dan tidak percaya atas apa yang dia dengar baru saja dari mulut Aaric.
*
*
*
Disepanjang jalan pulang Bian terlihat lebih banyak diam dibandingkan saat mereka terakhir berada di resto. Pria itu fokus mengemudikan laju kendaraannya, menatap lurus jalanan yang mereka lalui di depan sana. Meski genggaman tangannya terus menaut disela jari jemari Kiana, tampak raut wajahnya seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat.
"Mas..." panggil Kiana saat menyadari perubahan suaminya. Bian yang dia kenal sebagai pria yang ceriwis, selalu banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya kini hanya terlihat banyak diam tak banyak berkata. Sesekali Kiana bertanya dan pria itu hanya menanggapinya dengan senyuman atau membalas dengan kata 'Iya' saja. Semua itu membuatnya merasa aneh.
"Mas..." panggil Kiana kembali yang tak mendapat respon dari suaminya.
"Iya?" Bian menoleh pada Kiana yang mana saat ini gadis itu memutar tubuhnya menyamping pada Bian.
"Mas kenapa?"
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri.
"Ada yang dipikirkan?"
Bian menggeleng pelan, pandangan matanya kembali pada jalanan yang mereka lalui.
"Apa terjadi sesuatu? Apa-- A-apa itu karena aku?" Kiana menggigit bibirnya, khawatir jika sudah terjadi sesuatu pada suaminya. Dan yang ia takutkan hal itu terjadi karena dirinya. Kiana takut kalau acara malam ini yang sudah mereka lalui bersama mengundang hal yang mungkin membuat suaminya malu karena akan kehadiran dirinya.
"Maaf..." cicit Kiana dengan suara lirihnya.
"Kenapa meminta maaf?" Bian sungguh merasa bingung dengan sikap yang tiba-tiba dari Kiana tersebut.
"Mas Bian pasti malu karena sudah membawaku pergi ke tempat itu..." ucapnya lagi.
Bian menghela napasnya, ingin rasanya tertawa tapi takut istrinya itu marah dan tersinggung. Kiana begitu menggemaskan pikirnya. Sejurus kemudian ia membawa genggaman tangan mereka yang saling menaut ke arah wajahnya untuk mengecup punggung tangan istrinya.
"Hey cantik, ini istrinya siapa sih gemesin banget, Hem? Jangan memikirkan yang tidak-tidak, semuanya baik-baik saja. Aku cuma ingin cepat pulang, udah kangen banget ini sama Al." kilahnya menenangkan hati Kiana dengan kekehan yang terasa hambar.
Kiana mengatupkan mulutnya, tak lagi menimpali ucapan suaminya. Ia kembali pada posisi duduk semulanya. Meski tetap tenang, tapi ia merasa jika Bian menyembunyikan sesuatu yang membuat pria itu kepikiran.
Malam semakin sunyi, kedua insan muda itu baru saja memasuki kamar setelah mengetahui kalau bayi mereka tengah tertidur lelap dikamar kedua orang tuanya. Melihat Al yang begitu nyenyak tidur diapit oleh Oma Opa-nya, membuat Kiana ataupun Bian tak tega mengambilnya untuk mereka bawa dari sana.
Saat ini Kiana tengah bersandar pada head board ranjang sembari memperhatikan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah menghampirinya. Wajah Kiana bersemu merah kala melihat penampakan suaminya yang tengah Shirtless menampilkan dada bidang dipenuhi dengan otot, yang mana membuatnya berulang kali membasahi bibirnya.
"Capek ya?" tanya Bian, ia ikut duduk diujung kasur dengan tangannya yang tak tinggal diam mengurut kaki Kiana dengan lembut, sampai sang empunya terkikik karena saking gelinya.
Kiana menggeleng, ia masih menatap lekat suaminya. Mencari sesuatu dari iris yang selalu sukses membuatnya berdebar itu. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya? Tapi, apa yang membuat Bian enggan untuk berbagi dengannya?
__ADS_1
Jelas-jelas dapat Kiana rasakan jika perubahan raut muka Bian begitu kentara dari biasanya. Hal itu membuat Kiana merasa ada yang berbeda dari suaminya.
"Kenapa? Kamu kepikiran apa sayang?" tanyanya lagi yang kini sudah beralih mengusap pipi Kiana.
"Mas-mu ini ganteng ya?" ucapnya dengan cengiran yang membuat Kiana mencebikkan bibirnya. Pria itu terkekeh melihat tingkah menggemakan gadisnya itu.
"Khawatir sama Al? Dia pasti baik-baik saja. Sejujurnya aku pun merasa khawatir kalau-kalau nanti dia bangun dan menangis di malam hari mencari ibu sama bapaknya. Tapi nggak tega juga sampai membangunkan Al, apalagi Mama sama Papa yang terlihat begitu senang ada cucu mereka di sana."
"Aku nggak apa-apa Mas, aku nggak masalah kalau malam ini Al tidur di kamar Mama." tutur Kiana yang menggeser letak duduknya untuk memberi ruang pada Bian agar dapat berbaring di sebelahnya.
"Pakai baju dulu, nanti masuk angin." suruh Kiana pada suaminya yang hanya dibalas dengan senyuman.
"Nggak perlu pakai baju, karena sekarang pun Mas-mu ini akan segera mendapatkan kehangatan..." selorohnya mengedipkan sebelah matanya dengan tatapan genit. Ia merapatkan dirinya pada Kiana sehingga apa yang ia harapkan untuk mendapatkan kehangatan terwujud.
"Mulai genit," ujar Kiana menyipitkan matanya.
Bian menghiraukan istrinya yang protes tentang dirinya yang dinilai sebagai suami yang genit.
"Kamu yakin? Kalau nggak, aku minta sama Mama biar Al tidur di kamar kita aja."
"Jangan Mas... biarin Al tidur malam ini sama mereka. Kalau nangis, pasti Mama juga bisa nenangin."
"Ya sudah, kalau begitu kamu juga tidur. Sudah malam. Sini, Mas peluk..." pinta Bian merentangkan sebelah tangannya agar Kiana dapat masuk ke dalam pelukannya. Bian memeluk tubuh kekasih hatinya itu dengan segenap perasaan yang mendalam. Jemari tangannya mengusap lembut surai hitam sang pemilik hatinya, yang kemudian berulang kali mengecup pucuk kepala istrinya. Tangannya berpindah untuk mengelus punggung istrinya dengan perlahan agar segera terbuai ke alam mimpinya.
"Tidur, jangan memikirkan apapun. Kalau bayi kita menangis, Mas-mu ini yang akan sigap menjadi seorang suami dan ayah yang bisa diandalkan." ucapnya. Bian merasakan dengkuran halus istrinya. Sudah ia kira kalau istrinya itu memang sudah lelah dan mengantuk. Bagaimana tidak, seharian mengurus anak dan melayani suami saat pulang dari bekerja membuat ibu muda tersebut pasti kelelahan.
Mungkin Bian akan mempertimbangkan untuk mempekerjakan seorang baby sitter membantu mengurus anak mereka. Dia tidak mau sampai melihat Kiana kelelahan apalagi stress yang setiap hari harus melakukan kegiatan yang sama. Dan tentang ide ibunya mungkin akan kembali ia pikirkan demi kebaikan istrinya.
Istrinya memang luar biasa. Diusianya yang masih muda, Kiana dapat berperan dengan baik sebagai seorang istri dan ibu. Bahkan Bian baru menyadari jika ia memiliki rentang usia yang cukup jauh dengan istrinya yang berjarak 7 tahun. Istrinya memang seorang gadis manis belia yang telah membuatnya jatuh hati. Kiana seolah menjelma menjadi seorang wanita dewasa dengan keadaan yang memaksanya dan itu karena dirinya.
Suatu anugrah yang tak terkira baginya. Ia begitu sangat bersyukur bisa memiliki Kiana dalam hidupnya. Entah kapan ia mulai menyadari betapa berartinya gadis itu bagi dirinya. Bahkan ia jauh lama menyadari jika telah memilki perasaan sayang yang tumbuh berubah menjadi perasaan ingin memiliki seutuhnya. Hingga ia sampai dengan sadar begitu menggebunya menyatakan cinta pada gadis yang sudah ia sakiti itu.
Padahal dulu ia begitu meremehkan sosok Kiana. Mencaci makinya itu sudah biasa. Seolah hal tersebut adalah suatu bentuk pelampiasan marah pada ayahnya sehingga dengan sengaja mencari-cari kesalahan dari Kiana waktu itu. Namun sosok gadis tersebut entah mengapa telah sukses membuatnya memikirkannya siang dan malam. Sehingga sosok gadis yang diam-diam dia perhatikan itu mampu membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesonanya.
Bian semakin merengkuh tubuh gadis yang telah membuatnya jatuh hati. Seorang gadis yang telah memberinya kehidupan yang lebih berwarna, dengan jalinan ikatan yang sakral, mengucap janji setia seumur hidup dengan hadirnya seorang anak diantara mereka.
Bian tidak bisa membayangkan jika bukan Kiana yang mendampingi hidupnya. Akan bagaimana jadinya kehidupannya saat ini?
Bian menggeleng untuk membuang semua kengerian tersebut. Kiana adalah miliknya. Istrinya, ibu dari anaknya dan calon anak-anak lainnya suatu saat hari nanti. Tidak ada satu pun orang yang dapat memisahkan mereka, bahkan membawanya pergi dari dekapannya. Bahkan saat-saat mereka terpisah jauh membuat kesakitan yang begitu mendalam baginya yang telah kehilangan orang yang dicintainya. Sekuat tenaga ia akan melindungi keluarga kecilnya.
"Selamat tidur sayang, mimpi yang indah. Aku selalu berdoa, berharap jika kita akan selalu bersama selamanya. Aku akan akan berusaha memberikan kebahagiaan untuk keluarga kita." ujarnya berbisik pada Kiana yang sudah memejamkan matanya.
"Jangan tinggalin aku lagi Kia, aku nggak akan sanggup. Mungkin aku nggak akan sekuat hari kemarin saat kamu jauh meninggalkan aku. Kamu tahu? kehadiran kamu dalam hidupku membuatku lebih kuat untuk menjalani hidup ini. Aku nggak bisa tanpa kamu, dan aku sangat membutuhkan cintamu dalam hidupku. Kamu adalah separuh nafasku." ucapnya sembari mengecup lembut pucuk kepala Kiana.
"Apa dengan bertemu dengan orang-orang yang kamu harapkan selama ini akan semakin melengkapi kebahagiaanmu? Jika apa yang dikatakannya tentang kamu semua itu adalah kebenaran, apa kamu tidak akan meninggalkanku lagi setelah mendapatkannya?" bisiknya mengungkapkan isi hati yang membuatnya gelisah dan diterpa kebimbangan. Bian serba salah.
"Oh Kiana... kamu sudah membuatku jatuh sedalam-dalamnya pada cintamu..." ucapnya lagi semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"I Love U..."