SECRET LOVE

SECRET LOVE
Adik Ipar


__ADS_3

***


Pada saat Aaric membuka pintu, ia mendapati Kiana dengan wajah panik yang tak pernah ia bayangkan.


"Adek?"


"Kak, maaf aku ganggu malam-malam begini. Tapi--"


"Ada apa? Kamu kenapa? Wajah kamu kenapa pucat seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" berondongan pertanyaan Aaric lontarkan tanpa merasa bersalah.


"I-iya, Kak. AL-- apa Kakak melihat AL? AL nggak ada di kamar. Makanya aku cari ke sini." ucap Kiana dengan ragu-ragu. Entah apa yang dipikirkan oleh kakaknya itu ia tidak peduli, yang terpenting ia harus menemukan anaknya.


"AL?" tanya balik Aaric dengan raut wajah santainya.


"Iya Kak," jawab Kiana sambil meringis.


Tak mengatakan apapun lagi, Aaric malah membukakan pintu lebar-lebar seraya ia menoleh ke belakang untuk memperlihatkan keberadaan AL di sana.


"Ya ampun, AL!" pekik Kiana dengan mata membola. "Teryata kamu disini?" Kiana tidak dapat menyembunyikan rasa leganya saat menemukan anaknya yang ternyata ada bersama kakaknya.


"AL sejak tadi ada disini," cicit Aaric dengan cengiran.


"Bagaimana bisa?" Kiana nampak tak percaya.


"Itu..."


"AL sejak tadi berada di dalam kamar bersama kami. Tapi kenapa sekarang ada di kamar kak Aaric?" ungkap Kiana masih tak percaya.


Mendengar pertanyaan dari adiknya, Aaric hanya menggaruk alisnya bingung untuk menjawab.


"Kakak tadi sengaja ke kamar cuma buat ngasih ini," Aaric memberikan sepasang setelan kantor pada Kiana untuk Bian yang tentunya itu adalah gagasan dari ibunya.


"Terus ketemu sama bayi menggemaskan ini," lanjutnya lagi dan menghujani AL dengan ciuman bertubi-tubi.


"Jadi tadi Kak Aaric yang ke kamar. Bukan AL yang buka pintu sendiri?"


Aaric terkekeh mendengar penuturan Kiana. Ia mengusap rambut kepala AL yang saat ini terlihat sudah menguap berkali-kali.


"Iya, mana mungkin juga seorang bayi bisa membuka pintu sendiri tanpa ada yang membukakannya. Ternyata ibu bapaknya sedang sibuk, makanya kakak bawa AL yang juga sepertinya ingin ikut. Bayi ini belum tidur juga meski malam sudah larut."


Kiana meringis mendengar penuturan kakaknya. Apa mungkin kakaknya itu sempat melihat apa yang dilakukannya bersama suaminya? Kiana sungguh sangat malu oleh kelakuannya sendiri. Tapi, ini bukan kesalahannya juga. Ada andil dari suaminya sehingga mereka hanyut dalam lautan asmara tadi.


Sejak kejadian malam itu, jika bertatap muka dengan kakaknya Kiana merasa canggung. Canggung karena rasa malu dengan apa yang sudah dilihat oleh Kakaknya itu pada kegiatan intim bersama suaminya. Ya, walaupun cuma hanya sekedar berciuman saja.


Bukan menghindar, akan tetapi ada perasaan yang kurang enak pada dirinya setiap berpapasan ataupun berbicara dengan Aaric. Tetapi Kiana berpura-pura tidak tahu saja seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi apalagi dilihat oleh kakaknya. Karena Aaric sendiri pun selama ini bersikap santai dan seolah tak pernah melihat seperti apa yang dia pikirkan selama ini.


***


Hari demi hari pun berlalu. Kini keluarga kecil itu pun telah kembali ke rumah besar keluarga Adijaya. Seperti biasa suasana rumah akan selalu ramai karena tingkah bayi kecil yang kini sudah bertumbuh semakin besar seiring dengan berjalannya waktu.


Ruang keluarga yang biasanya selalu rapi kini disulap seperti menjadi sebuah ruangan arena bermain. Siapa lagi jika bukan karena ulah AL yang setiap waktu menambah koleksi permainannya.


Balita tampan menggemaskan yang saat ini berusia genap 2 tahun tersebut baru saja merayakan ulang tahunnya. Bertempat di kediaman Adijaya, acara kecil-kecilan yang diadakan untuk merayakan ulang tahun AL hanya dihadiri oleh keluarga besar dan teman terdekat.


Semuanya saling berbagi kebahagiaan atas bertambahnya usia sang cucu pertama dari kedua keluarga tersebut. Meski acara kecil-kecilan, tetapi suasana rumah tampak semakin ramai.


"Rame ya, Bi." ucap Elang yang sengaja menyempatkan diri untuk menghadiri undangan ulang tahun anak sahabatnya itu. Datang bersama dengan anak dan istrinya, justru kehebohan acara semakin ramai dengan kehadiran anaknya yang kini berusia Empat tahun tersebut tak bisa diam sejak tadi. Berlari kesana kemari seperti seorang tuan rumah yang memiliki acara tersebut.


"Banget, padahal ini acara kecil. Gimana kalau rayain ulang tahun anak gua pake pesta besar." cicit Bian sembari duduk ditemani Elang dan juga Daniel sedang mengawasi anak-anak mereka bermain.

__ADS_1


AL cukup anteng dengan segudang permainan tengah bermain dengan teman barunya yang akhir-akhir ini sering bertemu. Siapa lagi kalau bukan Galang anaknya Elang. Anak yang hyper aktif dan juga bawel dibandingkan AL yang justru semakin besar lebih menunjukkan karakter lain dari dirinya sebagai anak yang pendiam dan menurut.


"Pasti tambah rame, secara Pak Bian ini kan seorang direktur perusahaan Adijaya yang sukses dan banyak koleganya. Apalagi orang-orang mulai tahu kalau Lo itu menantu seorang pebisnis yang sangat sukses keluarga Halim. Iya kan Niel?" Elang menoleh pada Daniel untuk meminta persetujuan yang mana hanya dijawab dengan anggukan oleh pria setengah bule tersebut.


"Ya... Gue nggak bisa memungkiri. Apalagi nyokap sama mertua itu suka banget sama pesta besar. Nggak kebayang gimana nanti acara resepsi nikahan gue Minggu depan akan semeriah apa. Tapi gue udah mulai deg-degan ini..."


"Santai-santai... Semua akan berjalan dengan lancar. Cuma resepsi doang kan? Gak harus ijab kabul lagi?" sahut Elang dengan kekehan mengejek.


"Ya nggaklah! Gua kan udah kawin sama bini gua. Masa harus ijab lagi. Gua udah resmi secara agama dan negara sejak kita nikah dulu." sungut Bian.


"Iya-iya, gue percaya kok. Pak Bian kan jalur daleman dulu. Pake rahasia-rahasiaan lagi. Sumpah, sampai sekarang gue masih nggak nyangka akhirnya lu nikah juga. Udah ada buntutnya, hihi..."


"Hihihi...." Bian meniru kekehan Elang yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Gue kira lu dulu bakalan nikah sama--"


"Udah lu - udah ah. Mulut Lo itu... kalau bini gua denger bisa berabe masa depan gua!"


"Segitu takutnya sama bini..."


Keduanya menatap ke arah yang sama. Dimana AL menghampiri ibunya dan berbisik di telinganya entah mengatakan apa. Melihat itu Bian tersenyum karena tingkah menggemaskan anaknya. Sesaat kemudian keduanya pamit meninggalkan istri Elang yang sebelumnya tengah mengobrol berdua. Tak lama kemudian, Galang si anak yang tak bisa diam menghampiri ibunya juga dengan rengekannya seperti biasa. Elang hanya meringis lalu menoleh pada Bian.


"Bukan takut, tapi gua harus merasa was-was setiap waktu. Kita tahu bagaimana sifat seorang wanita. Suka curigaan. Apalagi belakangan ini bini gua sensitif banget." tutur Bian.


"Jangan-jangan bini Lo lagi hamil Bi?" cicit Elang. Bian begitupun Daniel yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya menoleh padanya dengan karutan di dahi masing-masing.


"Hamil? Nggaklah, ngaco Lo! Ada-ada aja." sergahnya merasa tak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa Kiana hamil. Sedangkan anak pertama mereka saja baru menginjak usia 2 tahun. Bian geleng-geleng kepala.


"Ya... Itu kan cuma perkiraan aja." Elang meringis melihat air muka Bian yang mencebik berubah masam. "Pasti seneng dong sekarang punya kakak ipar? Gimana-gimana, Bi. Lo sekarang panggil dia apa? Kakak dong ya? Kak Aaric, hihi..." Elang kembali terkekeh dengan pemikirannya sendiri.


"Rese Lo!" Sembur Bian menyenggol bahu pria itu.


"Jadi beneran panggil kakak sekarang?"


"Masih dingin aja berarti,"


"Seperti yang Lo lihat sekarang," ujar Bian, kedua mata pria itu melihat ke arah Aaric yang sedang tertawa bersama AL dan juga Galang. Entah apa yang sedang menertawakan apa.


"Hari ini pun nggak ada dia nyapa gue sama sekali. Padahal semua orang di rumah ini nggak ada yang kelewat buat dia jawab setiap ada yang nanya. Kecuali gua! Gue ngerasa kayak nggak di anggap ada." Bian terlihat murung memikirkan bagaimana hubungan ipar dengan Aaric yang sampai sekarang masih begitu-begitu saja.


"Yang sabar ya Bi, lambat laun dia bakal nerima Lo sebagai adik iparnya. Biar bagaimana pun Lo itu suami dari adik kesayangannya. Gue yakin, kebenaran akan terungkap meski lambat laun mata hatinya Aaric bakalan terbuka."


"Semoga aja..." balas Bian yang sudah pasrah.


"Ngomong-ngomong, istri Lo hamilnya udah berapa bulan, Lang? Udah keliatan besar." tanya Daniel tiba-tiba bersuara yang sejak tadi hanya diam dengan kesibukannya.


"Hooh, padahal baru mau jalan 6 bulan. Subur banget anak gue di dalam perut ibunya. Sering banyak makan akhir-akhir ini."


"Syukur deh, sehat-sehat buat bini sama calon anak Lo." sahut Bian yang langsung diaminkan oleh Elang.


"Lo kapan nyusul, Niel? Tinggal Lo doang yang belum sold out. Gue mau otw dua, Bian udah punya satu. Kapan Lo mau punya buntut?" tanya Elang yang memang selalu kepo dimana pun dia berada.


Daniel hanya menoleh dengan wajah datar. Dia hanya menatap kedua wajah sahabatnya itu bergantian. Terlebih dia menatap Bian seolah menyiratkan arti jika dia sedang berbicara sesuatu melalui sorotan matanya.


Bian yang mengerti apa arti dari tatapan Daniel hanya mendengus dengan kasar. Sejurus kemudian dia malah cemberut seperti seorang anak kecil.


"Lo berdua kenapa sih?" celetuk Elang yang melihat gelagat aneh kedua sahabatnya.


Berulang kali Bian menghela napasnya.

__ADS_1


"Lo yakin?" ucap Bian bergumam tanpa menoleh pada kedua pria dewasa yang ada di hadapannya.


"Yakinlah, Bi." jawab Elang penuh keyakinan walau terasa ambigu pertanyaan tersebut baginya.


"Bukan Lo, tapi dia!" sungut Bian menunjuk Daniel dengan dagunya.


"Kirain..." Elang terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ada apaan sih?" bisik Elang seraya mendekatkan wajahnya pada Bian.


"Lo biasa aja nanyanya, nggak usah deket-deket kayak gini, nyuk!" sergah Bian menoyor kepala Elang. Yang membuat ulah hanya terkekeh geli melihat reaksi temannya.


Bian kembali menatap Daniel dengan sorot mata yang tajam. Saat-saat seperti inilah yang dia tunggu untuk menanyai pria setengah bule itu. Selama ini Bian cukup bersabar untuk menunggu kalau Daniel dengan beraninya akan berbicara secara langsung padanya.


"Lo serius? Lo nggak lagi main-main kan? Lo tahu sendiri sedang berhadapan dengan siapa? Dia itu adik kesayangan gue satu-satunya. Kalau dia nangis sedih, gue juga bakalan ikutan sedih. Kalau dia kecewa gue juga bakalan ikut kecewa. Dan Lo tahu pasti akan hal itu. Apalagi gue gak mau ngelihat nyokap gue ikutan sedih karena nangisin anak perempuannya karena seorang laki-laki. Gue gak mau ngelihat air mata nyokap gue keluar karena kekecewaan. Udah, cukup gue aja dulu. Nggak buat sekarang-sekarang atau pun nanti." panjang lebar Bian mengutarakan kekhawatirannya mengenai adiknya.


"Bentar-bentar, maksud Lo apa sih Bi?" Elang menjegal perbincangan kedua sahabatnya.


Daniel yang mendengar itu semua dari seorang kakak sekaligus sahabat yang adiknya dia pacari selama kurang lebih 1 tahun belakangan ini hanya menatap lekat wajah Bian.


Bukan tidak tahu, sebenarnya Bian sudah tahu sejak lama. Tapi dia sengaja menyimpan hal tersebut karena dia ingin tahu dan mendengar pengakuan secara langsung dari mulut Daniel.


"Gue nggak ada maksud nyembuiin semha ini dari Lo. Gue butuh waktu buat--"


"Atau karena memang Lo cuma main-main sama adik gue begitu?"


"Bukan begitu, Lo salah paham..."


Bian berdecak tak terima jika adiknya diperlakukan seperti itu. Meski Daniel adalah sahabatnya, jika dia sudah berbuat sesuatu sampai menyakiti orang-orang yang dia sayangi, Bian tidak akan tinggal diam.


"Sebaik dan seburuk apapun Fira, dia tetap adik perempuan dan satu-satunya gue. Gue salah satu orang di rumah selain bokap yang bertanggung jawab untuk jagain dia. Gue mau yang terbaik buat dia. Terlepas lelaki manapun yang suatu saat nanti akan menjadi pasangan hidupnya, gue akan dukung. Termasuk Lo!"


"Tetapi satu hal yang gue minta, kalau Lo bener-bener serius, please... tolong jaga dia, jangan buat dia nangis karena kecewa, buat dia menangis karena bahagia. Gue selalu percaya sama Lo, Niel."


Daniel mencerna dengan baik setiap kalimat yang dia dengar dari Bian. Bagai tersihir, ia hanya mengangguk samar setelah mendengar serangkai untaian kalimat permintaan dari Bian tersebut. Baru saja dia akan membuka mulutnya untuk berbicara, malah Elang yang tadi sempat melongo tak tahan untuk segera kepo pada apa yang baru saja dia sadari ikut bersuara.


"Maksud kalian-- Niel, Lo? Jadi--" ucap Elang gagap gempita.


"Iya Elang.... Apa yang Lo pikirkan memang benar adanya." sahut Bian geleng-geleng kepala.


"Lo pacaran sama si kurcaci Fira, Bule?"


Daniel menoleh pada Elang dengan tatapan datar. Lagi dan lagi ia mengangguk pelan. Tidak menyangkal lagi karena memang itu apa adanya.


"Sumpah! Serius Lo?" Elang semakin terkejut dan tidak percaya. "Gue masih nggak percaya. Ternyata Lo ada main di belakang selama ini. Dan nggak tangung-tanggung Lo pacaran sama adik sahabat Lo sendiri?"


"Nggak ada salahnya kan?" tanya balik Daniel pada Elang. Elang cuma geleng kepala membenarkan pertanyaan Daniel.


"Lo bakalan jadi adik iparnya Bian? Bener begitu Bi, Daniel bakalan jadi menantu di rumah ini?"


"Tergantung," jawab Bian mengendikkan bahunya.


"Niel?" tanya Elang lagi meminta pembenaran.


Daniel yang melihat wajah keterkejutan sahabatnya hanya mengulas senyum. Tidak mengelak maupun mengiyakan. Dia kembali mengalihkan perhatiannya pada Bian. Mungkin inilah waktunya untuk dirinya meminta izin dengan benar. Walau bagaimana pun, satu tahun belakangan ini ia telah menjalin hubungan dengan Safira. Meski hubungan tersebut diawali dengan niat coba-coba saja, tetapi lama kelamaan ia merasakan perasaan yang lain pada gadis imut dan periang tersebut. Perasaan sayang mulai tumbuh dan bersemi dihatinya untuk gadis tersebut.


"Bi..." ucap Daniel menatap Bian seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Gue udah tahu Lo bakal bilang apa." Bian berdiri dari duduknya kemudian menepuk bahu sahabatnya itu.


"Gue tinggal sebentar, yang dari tadi kita omongin kayaknya udah resah sejak tadi ngeliatin kita. Gue tahu seperti apa perasaan Lo saat ini." Bian menunjuk adiknya yang sedang berada di samping Aaric menemani anak-anak sedang bermain.

__ADS_1


Daniel melihat sang kekasih hati yang juga sedang menatapnya dengan wajah resah menyiratkan 'bagaimana?'


Daniel hanya tersenyum santai seperti tidak ada beban berarti sebelum ia melangkah menghampiri seorang gadis yang sampai saat ini memenuhi pikiran dan ruang hatinya.


__ADS_2