SECRET LOVE

SECRET LOVE
Asyilla Audreyca Halim


__ADS_3

Bian pada akhirnya dapat bernafas dengan lega setelah sebelumnya berhasil menenangkan Al, di saat bayi gembul itu rewel akibat melihat ibunya yang terus menerus menangis di dalam pelukan Bu Sofia dan Pak Halim.


Bian sengaja memberi ruang kepada Kiana dan kedua orang tuanya untuk melepas rindu diantara mereka. Meski ia sendiri kesusahan karena Al yang terus menerus menangis ingin menghambur pada pelukan ibunya.


Tak habis akal, Bian membawa Al keluar rumah menuju taman belakang yang di penuhi dengan tanaman hijau dan bunga-bunga yang bermekaran. Disana ia menghibur Al yang sepertinya sudah mengerti dengan keberadaan ibunya. Bayi gembul itu terus berceloteh memanggil ibunya sampai pada akhirnya tertidur dalam gendongannya karena kelelahan.


Saat Bian tengah menimang putra kecilnya yang baru saja terlelap, ia dikejutkan dengan kedatangan Aaric yang tiba-tiba saja ada di sampingnya.


"Dia tertidur?" tanya Aaric dengan suara datar menatap wajah tampan keponakan laki-lakinya itu.


Bian menoleh pada Aaric yang tak lepas memandangi Al yang sedang tidur terlelap.


"Ya, baru saja dia tertidur setelah menangis." jawab Bian dengan canggung. Bian mengusap dahi putranya yang berkeringat dengan hati-hati. Takutnya ia bisa membangunkannya kembali. Soalnya cukup kerepotan saat ia menenangkan Al yang menangis mungkin karena merasa lapar dan haus. Tapi mau bagaimana lagi. Ia sebagai seorang suami dan ayah harus sigap disetiap waktu dikala anak-anaknya membutuhkannya.


"Dia sangat mirip sekali denganmu," ujar Aaric begitu saja. Tanpa ia sadari sebuah senyuman tertarik di sudut bibirnya meskipun terlihat kecil. Entah mengapa ia merasa mengagumi sosok makhluk kecil yang kini ada dalam gendongan temannya itu. Wajar saja bukan, Al adalah keponakannya. Anak dari adiknya yang baru saja berkumpul kembali dengan keluarganya.


"Hem, semua orang bilang seperti itu." balas Bian seraya menatap wajah putranya. "Tetapi ada bagian dari dirinya yang menurun dari ibunya. Dan itu yang membuatku semakin kagum dan bangga bisa memilikinya." lanjutnya dengan seutas senyum yang mengembang di bibir.


"Asyilla," ucap Aaric memutus pandangan matanya dari sosok bayi mungil yang menggemaskan menurutnya. "Terima kasih karena sudah membawa dia pulang ke rumah untuk bertemu dengan keluarganya."


Bian pun tersenyum, "Sudah menjadi kewajibanku sebagai suaminya untuk mempertemukannya dengan kebahagiaan dari harapan yang dia impikan selama ini."


"Ya, itu seharusnya sudah menjadi tanggung jawabmu." ledek Aaric diiringi dengan tatapan sinis.


"Tentu, karena aku ingin yang terbaik untuknya, demi kebahagiaannya. Dan aku nggak punya kuasa menahannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah terpisah sangat lama." ucap Bian dengan lapang.


"Meski harus melewati drama yang menguras emosi. CK!" Aaric berdecak kesal.


"Jangan dibahas..." elak Bian membuang pandangannya dari Aaric yang terus menatapnya sinis.


"Mungkin tanpa tes itu, kamu akan tetap menjadi orang yang bebal untuk di kasih tahu!"


"Sudah, aku mengakui salah..." Bian merasa malu saat ia begitu keras kepala saat Aaric memberitahu tentang istrinya. Wajar saja, seorang suami mana yang suka melihat saat ada pria lain merongrong istrinya dengan bualan yang tak masuk akal. Sedikit banyak Bian cemburu. Belum lagi merasa dilema akhir-akhir ini.


"Bagaimana tidak membuat orang emosi setelah berulang kali menjelaskan tetap kukuh nggak percaya, meskipun dengan bukti yang ada tetap batu dan keras kepala!" Aaric sampai berdecih segala.


"Hey... wajar sekali kalau aku bersikap seperti itu. Bayangkan saja, tiba-tiba ada pria asing yang mengaku-ngaku sebagai kakak laki-laki dari istriku. Lelucon seperti apa itu. Walau aku tahu Kiana hidup sebatang kara tanpa keluarga selama ini, tidak mudah membuatku percaya dengan omong kosong yang saat itu kamu ucapkan. Yang ada ingin sekali waktu itu aku memukulmu kalau tidak mengingat siapa kamu, Ar..." ingat Bian saat merasa kesal dan marah pada Aaric yang merecokinya setiap saat kala meyakinkannya tentang jati diri Kiana.


"Sudahlah... memang sejak dulu kamu itu tipe orang yang nggak mau kalau ada orang lain yang lebih hebat darimu. Kamu akan merasa iri dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkannya." sindir Aaric membuat Bian membulatkan bola matanya.


"Jangan memulai lagi..." peringat Bian yang sudah malas arah pembicaraan mereka.


"Aku tanya, siapa yang memulai lebih dulu, hah?! Aku atau kamu, Bi?" tantangnya pada mantan teman lamanya itu.


"Aku udah berulang kali meminta maaf, semuanya cuma salah paham."


"Nggak akan ada kata salah paham, kalau kamu memang berniat melakukannya." telaknya yang mana membuat Bian menghela napas kasar.


"Bukan seperti itu. Bagaimana aku bisa jelasin kalau kamu aja nggak kasih aku kesempatan buat menjelaskan kesalah pahaman itu." tutur Bian yang mulai terpancing emosi.


"Sampai kapanpun, semuanya akan tetap dalam kesalah pahaman kalau kamu tetap bersikap batu seperti ini, Ar..." lanjutnya lagi.


"Karena nggak ada yang harus gua dengar dari penjelasan Lo, Bian. Semuanya basi! Lo cuma membela diri setelah semua kebusukan Lo itu terbongkar. Gua sampai sekarang masih nggak nyangka bisa berteman dengan orang macam Lo!"


"Ar..." desis Bian.


Aaric mengangkat satu tangannya ke udara tanda ia tak mau lagi mendengar kata apapun yang keluar dari mulut Bian.


"Cukup. Bokap cariin Lo, sebaiknya Lo temui Papa sekarang." ucap Aaric melengos memberi tahu Bian.


Bian menghela napasnya pelan. Ia sungguh tak tahu lagi harus berkata apa untuk meyakinkan Aaric tentang masa lalu mereka. Langkah kakinya mengayun tergerak untuk membawanya masuk ke dalam rumah. Menghampiri Kiana yang masih bergelung rindu dalam pelukan kedua orang tuanya. Tapi satu kalimat yang keluar dari mulut Aaric menahannya untuk meneruskan langkah kakinya.


"Satu lagi. Lo perlu ingat, nggak usah berharap gua bakalan bersikap baik selayaknya kita sebuah keluarga. Meskipun Lo tahu sendiri, Kiana adalah adik gua. Dan gua nggak bakalan bisa bersikap layaknya seorang kakak ipar yang baik pada adik iparnya. Ingat itu!" peringat Aaric sebelum ia mendahului langkah Bian untuk masuk ke dalam rumah menemui kedua orang tuanya dan juga Asyilla-adik kecilnya.

__ADS_1


***


Air mata seolah tak pernah mengering, buliran air bening tersebut nampak masih setia menemani suasana haru biru antara Kiana, Bu Sofia dan juga Pak Halim. Mereka masih larut dalam kesedihan yang mendalam setelah pada akhirnya bertemu sejak rentang waktu yang begitu sangat lama.


Kiana yang masih belum percaya dengan semuanya hanya bisa menangis tersedu-sedu tanpa suara. Ini seperti sebuah mimpi. Ia tak pernah membayangkan sama sekali peristiwa hari ini akan terjadi padanya. Bertemu dengan kedua orang tuanya.


Apa ini kenyataan?


Rasanya Kiana ingin berteriak. Melepaskan segala sesak di dalam dada. Memang ini yang dia impikan sejak dulu. Bertemu dengan orang yang telah sudi menghadirkannya ke dunia ini.


Tapi, kenapa rasanya sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Sampai hal tersebut membuatnya tak percaya jika kedua sosok yang ada dihadapan matanya itu adalah kedua orang tuanya.


Kiana menyandarkan tubuhnya pada Bu Sofia sembari memeluk erat sosok yang dia yakini sebagai ibunya. Tak ada percakapan diantara mereka. Hanya suara isak tangis yang meramaikan suasana hening tersebut. Pak Halim yang berada di samping anak dan istrinya itu ikut membelai rambut kepala Kiana yang sesekali ia kecup bukti nyata dari kasih sayang pada putrinya.


"Jangan bersedih, kamu nggak akan pernah merasa sendiri lagi. Ada Mama, Papa, dan kak Aaric di sini sekarang. Kami akan selalu ada untukmu..." ucap Bu Sofia sembari membelai wajah Kiana yang basah karena air mata.


"Maafin Mama..." dua kata yang sukses membuat Kiana semakin tergugu dalam tangisnya. Apa maksud dari kata Maafnya? Apa kata maaf itu bentuk penyesalan karena telah menelantarkannya selama ini? Entahlah, pikiran-pikiran buruk tentang kedua orang tuanya berkecamuk di dalam kepala. Hingga membuat ia menjadi seperti ini dalam mengarungi hidup yang begitu menyiksa jiwa dan raganya.


"Maafin Mama... Maafin Mama yang sudah membuat kamu menderita selama ini. Maafin Mama yang sudah membuat kamu merasa kesepian sepanjang hari tanpa kami. Maafin Mama, sayang..."


"Mama menunggu hari dimana saat-saat seperti ini akan datang. Menunggu kepulangan anak Mama sepanjang hari, agar dapat Mama peluk, cium, dan labuhkan berjuta rasa kerinduan yang Mama pendam untukmu, Syilla." Bu Sofia menumpahkan segala kerinduan yang bersarang di hatinya.


Percaya ataupun tidak, kebahagiaan dan kesedihan di dalam kehidupan ini pastinya akan silih berganti. Setiap hari kita akan bisa bertemu dengan orang-orang baru, dan berpisah dengan orang lama.


Setiap ada pertemuan pastinya ada perpisahan. Begitu pula disaat ada perpisahan, percayalah pasti suatu saat pasti adanya pertemuan. Sedih memang jika bicara tentang 'perpisahan'. Apalagi jika harus terpisah dari orang-orang yang disayang. Terutama seorang anak.


Perpisahaan memang tak akan pernah mudah karena sifat dasar manusia ingin memiliki bukan melepaskan. Perpisahaan itu ada, agar kita bisa menghargai sebuah pertemuan.


Tapi yang di hadapi Bu Sofia dan keluarga atas kehilangan Asyilla tentu berbeda. Perpisahan mereka di dasari oleh unsur kesengajaan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Bukan semata takdir tuhan yang memang harus kembali padanya. Itu yang membuat Bu Sofia menyesali atas apa yang sudah terjadi. Sakit atas kehilangan seorang anak membuatnya belajar arti hidup tentang apa yang kita miliki belum tentu akan kekal. Rasa cintanya yang mendalam pada sang putri mungkin membuat marah sang pencipta karena telah mencintai secara berlebih. Dan itu tentu tidak baik.


Coba belajarlah kepada senja, karena dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat


indah sebagian hanya sementara, karena tak ada yang abadi. Senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari.


Setiap detik dan menit Bu Sofia selalu berdoa untuk belajar cara mengikhlaskan. Setelah berbagai cara mereka lakukan untuk menemukan Asyilla, namun tetap saja tak ada hasil yang memuaskan. Asyilla-nya hilang entah dimana keberadaanya.


"Tuhan, jangan ajarkan aku takut kehilangan. Ajarkan aku untuk bisa dengan ikhlas melepas tanpa penyesalan." bait doa-doa yang ia panjatkan dengan berlapang dada, berdamai dengan takdir yang mungkin tak menakdirkan dirinya untuk hidup bersama putrinya.


"Bahkan jika kita tidak bisa bersama pada akhirnya, Mama senang kamu telah menjadi bagian dari hidup Mama. Karena sesungguhnya berpisah itu tidak sepenuhnya berpisah, hanya jarak yang membentang memisahkan kita." kalimat Bu Sofia yang menjadi pelipur lara untuk menguatkan dirinya sendiri di saat keterpurukannya waktu itu.


Itulah yang di rasakan oleh Bu Sofia yang terpisah jauh oleh jarak dan waktu dengan putrinya-Asyilla. Tetapi kini, tuhan begitu bermurah hati. Mengabulkan setiap rapalan doa-doa yang dia sematkan diantara sujudnya. Keajaiban itu datang pada hari ini. Di pangkuannya kini, dengan perasaan haru dan bahagia ia dapat kembali memeluk erat putrinya yang telah kembali pulang.


Jalinan emosi antara ibu dan anak sangatlah luar biasa. Lihatlah semua anak dapat mengenali, bahkan memiliki ikatan batin yang sangat luar biasa dengan ibunya. Ikatan batin antara ibu dan anak memang sangat kuat dan tiada batasnya. Meski berulang kali Kiana menepis perasaan itu. Tetap saja, Kiana terlanjur nyaman dan meyakini jika sosok ibu yang ada di hadapannya kini adalah benar sosok seorang ibu yang ia dambakan selama ini.


"K-kenapa... s-seperti ini?" ucap Kiana terbata dengan sesenggukan.


"Percayalah Nak, ini semua garisan yang sudah dikehendaki oleh Sang Maha Pencipta." balas Pak Halim mengusap lengan putrinya untuk memberikan kekuatan.


"Kenapa kalian tega melakukan ini padaku?"


"Tidak ada yang tega, kami begitu sangat menyayangimu, kami sangat mencintaimu, sayang..." ucap Bu Sofia dengan sepenuh hati. "Seorang ibu akan berjuang membahagiakan anak-anaknya, sekalipun dia harus mengorbankan kebahagiaannya."


"Kalian membiarkanku hidup sendirian di dunia ini. Kenapa?" Kiana tidak dapat lagi memendam perasaan sakit di dalam hatinya. Jika memang ia memiliki sebuah keluarga yang utuh, lalu kenapa ia bisa seperti ini?


"Apa aku seorang anak yang tidak diinginkan? Apa aku seorang anak hasil dari kesalahan sehingga kalian tega menelantarkanku begitu saja?" sakit, sangat sakit saat Kiana mengucapkan itu semua. Dia hanya ingin tahu motif apa yang membuat kedua orang tuanya itu tega kepadanya. Ia memiliki seorang kakak yang hidup dengan baik-baik saja. Tetapi dirinya mengapa begitu menyedihkan?


"Sayang... jangan berbicara seperti itu. Kamu adalah buah cinta Mama dan Papa. Mana mungkin tega kami berbuat seperti itu." Bu Sofia mengeratkan pelukannya pada Kiana. Sakit hatinya saat mendengar ungkapan hati Kiana.


"Sayang, cinta Mama padamu lebih kuat dari besi, dan kasih sayang Mama padamu lebih lembut dari pada bulu. Cinta Mama padamu bisa membentang di dunia ini berkali-kali lipat. Bahkan ketika dunia tidak berpihak padamu, cinta Mama padamu akan tetap terbentang luas." ungkap Bu Sofia.


"Sejak kamu lahir ke dunia ini, Mama merasa bahwa kamu seperti matahari yang menyinari seisi bumi. Seperti sebuah pelita yang akan menerangi setiap langkah kami. Kehadiran kamu adalah sebuah anugrah yang tidak ternilai."


"Terpisahnya kita dengan jarak waktu yang membentang begitu sangat lama bukan sebuah kesengajaan. Meski kami belajar untuk ikhlas, tetap saja perasaan rindu itu terus menggebu di dalam hati."

__ADS_1


"Dulu, saat kamu berusia 1 tahun lebih, musibah datang menghampiri keluarga kita. Kami dipaksa terpisah dengan putri kecil kami ini. Mereka membawamu pergi tanpa kembali yang meninggalkan sebuah penyesalan dan kesakitan yang luar biasa kami rasakan bertahun-tahun lamanya. Kami sangat terpukul. Kehilangan kamu adalah menjadi sebuah bencana yang tak akan pernah kami lupakan. Peristiwa hari itu bahkan meninggalkan trauma yang mendalam untuk kami, terutama kakakmu Aaric. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan kamu selama ini."


Kiana mendengar dengan jelas kalimat demi kalimat yang diungkapkan oleh Bu Sofia atas tragedi yang menimpa keluarga mereka sehingga menyebabkan mereka terpisah.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan selama ini tidaklah benar. Kamu adalah putri kami. Putri yang kami cintai segenap jiwa dan raga kami. Putri kecil kami yang dulu hilang dan kini telah kembali pulang."


"Mama meminta maaf karena kejadian ini membuat hidup kamu menderita. Tetapi Mama janji, setelah ini Mama akan memberikan kebahagiaan yang selama ini terlewat untuk kamu dapatkan. Mama mohon, percaya sama Mama sayang..."


Bu Sofia merangkum wajah Kiana yang terlihat sendu menatap dirinya penuh dengan pengharapan.


"Asyilla Audreyca Halim, itu nama indah yang kami sematkan untuk putri kecil kami yang kini tumbuh menjadi seorang gadis cantik." senyum indah terlukis di wajah Bu Sofia.


Kiana tak dapat lagi berkata-kata, ia terus menangis menyesali atas apa yang dia pikirkan selama ini tentang kedua orang tuanya.


"Allah tidak menjanjikan bahwa kehidupan kita akan selalu mudah. Tapi Allah menjanjikan, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Memang kamu tidak seberuntung orang lain. Tapi orang lain belum tentu sekuat kamu, sayang..." kata-kata Bu Sofia bagai cambuk bagi Kiana. Kalimat itu sama persis pernah dia ucapkan pada Al dimasa-masa sulit mereka.


"Jika kamu bersedih, ingatlah dua hal ini, ada Allah yang senantiasa disisimu dan ada keluarga tempatmu kembali. Mama dan Papa selalu menanti kembali kepulanganmu. Karena kami adalah tempat untukmu pulang dalam keadaan senang, sedih, sehat, maupun sakit."


"Dunia selalu memberi banyak ujian, tapi do'a-do'a dari Mama dan Papa akan selalu menguatkan kamu."


"M-Mama..." ucap Kiana akhirnya yang teredam oleh isak tangisnya.


"Iya sayang..." balas haru Bu Sofia, yang pada akhirnya sematan panggilan Mama untuk dirinya kini dapat dia dengar dari putrinya.


"Mama..." suara Kiana tercekat, rasanya sulit sekali untuk ia berucap mengungkapkan isi hatinya.


"Maafin Mama sayang..."


Kiana menggeleng lemah. Ia menatap sang ibunda dengan perasaan haru dan juga penyesalan yang mendalam.


"Mama sayang kamu..."


"Maafin aku..." ucap Kiana menyesal.


"Putri kecilku, jangan bersedih meski tadi Papa memeluk kamu sejenak saja, karena yang perlu kamu tahu, hati seorang ayah akan selalu memeluk putrinya selamanya." ujar Pak Halim menatap sendu putrinya yang di balas sebuah senyuman kecil oleh Kiana.


"Papa..."


"Iya, ini Papa Nak..."


Orangtua adalah anugerah terbesar bagi semua anak di dunia. Ada ibu dan ayah yang selalu setia bersamamu. Kasih sayang ibu terlihat jelas dan sering ia ungkapkan. Namun berbeda dengan ayah. Sosok pria yang mungkin jarang bicara membahas kasih sayang. Pria yang jarang mengutarakan cintanya kepada sang anak secara langsung. Tapi hatinya lembut dan penuh dengan kasih. Itu yang ditunjukkan Pak Halim saat ini.


Ayah jugalah orang yang akan maju pertama kali ketika kamu dilukai orang lain. Dia tak akan mampu melihat air matamu itu menetes. Meski matanya tak pernah menangis, tapi hatinya akan hancur jika kamu terluka. Ayah adalah orang yang percaya akan kemampuanmu. Orang yang pertama kali yakin bahwa kamu pasti bisa.


Pak Halim menyeka air mata yang terus lolos di wajah putrinya. Ia merasakan sakit sama seperti istrinya.


"Percayalah Nak, seorang Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya yang tak akan mengkhianati apalagi menyakiti anaknya. Cinta Papa selalu membentang luas untuk kamu, Nak. Kamu adalah putri kebanggan Papa, putri yang selalu Papa sayangi. Mulai saat ini, Papa akan selalu ada untuk menjaga dan melindungimu." ungkap Pak Halim sepenuh hati. Ia mengecup kening Kiana dengan sangat dalam dan lama.


"Asyilla Audreyca Halim, putri kecil tersayangku..."


Sepasang mata tengah memperhatikan kesenduan yang terjadi diantara mereka. Tak terasa ia kembali menyeka air matanya. Sejurus kemudian ia menghampiri mereka dengan senyum kebahagiaan.


"Maafin Kakak dek..." ucap Aaric yang ikut memeluk Kiana seperti halnya kedua orang tuanya. "Maaf..." ucapnya lagi dengan suara bergetar. Aaric ikut tergugu menangisi Kiana atas penyesalannya selama ini.


"Maafin Kakak..." ucapnya lagi menyesal.


"Kak..." ucap Kiana kembali luruh tangisnya. Mereka berpelukan layaknya sebuah keluarga yang baru saja kembali mendapatkan secercah kebahagiaan.


Namun, seseorang disana tak kalah ikut memperhatikan apa yang tengah terjadi. Bian ikut menitikkan air matanya melihat kebahagiaan telah nampak menghampiri istrinya. Ia merasa bahagia saat melihat Kiana kembali menemukan kebahagiaannya bersama keluarganya.


"Kamu lebih pantas mendapatkannya Kiana-ku, sayang..." lirih Bian sembari menatap wajah lelap putra kecilnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2