SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 145


__ADS_3

Mikha seketika sadar dan mulai memberontak kepada Alvin, "Dasar mesum!" Ucap Mikha sambil berusaha untuk terlepas dari pelukan Alvin.


"Mesum? Emangnya gue ngapain?" Tanya Alvin sambil terus mempererat pelukannya.


"Lepasin gue! Lo itu udah terlalu banyak minum ya Vin sampai seperti ini?" Ucap Mikha sambil terus berusaha untuk terlepas dari Alvin.


"Okee...okee! Lo boleh bilang gue pria brengsek! Tapi please jangan bilang gue mesum dong. Siapa yang banyak minum? Ini buktinya gue masih sadar lho Mik." Ucap Alvin.


"Ya kalau lo sadar buruan lepasin gue." Cetus Mikha.


"Kalau gue gak mau lo mau apa?" Ucap Alvin sambil membelai wajah Mikha.


Seketika debaran jantung Mikha semakin tidak beraturan saja, Kedua pipinya sudah sangat merah.


"Lo mau a-apa sih Vin...." Tanya Mikha dengan sangat gugup.


"Gue cinta sama lo Mik, gue sebenarnya udah berusaha untuk menolak perasaan gue sama lo! Tapi semakin gue berusaha semakin gue menjadi gila atas perasaan gue ini....gue juga tidak tau mulai sejak kapan gue mulai suka sama lo, tapi gue benar - benar mencintai lo Mik....." Ujar Alvin secara terang - terangan.


'APA ALVIN SUKA SAMA GUE? APA INI BENARAN ATAU CUMA MIMPI?' Batin Mikha.


"Lo kok diam aja Mik? Gue tau didalam hati lo, pasti lo sedang ngeledek gue ya? Tapi gue benaran serius sama lo Mik." Ucap Alvin sambil terus menatap Mikha dengan tatapan sangat seriusnya.


Mikha hanya tersenyum saja menatap Alvin, "Lo ini bodoh atau emang **** sih Vin....lo sendiri juga udah tau gimana perasaan gue sama lo kan? Mau berapa lama begonya? Lo itu tidak peka sama sekali tau gak." Omel Mikha.


"Oh gitu jadi lo ngatain suami sendiri seperti itu? Hemm..." Ucap Alvin sambil menggelitikkin tubuh Mikha.


"Duh ampunnn Vin...sumpah geli banget gue benar - benar gak tahan. Maafin gue yaa....ah....ah...Alvin..." Teriak Mikha sambil berusaha menahan rasa gelinya itu.


"Biarin aja...lagian salah sendiri ngatain Suaminya seperti itu." Alvin malah semakin menjadi - jadi tanpa memberikan ampun kepada Mikha.


"Sumpah Vin gue benar - benar gak tahan geli...udah dong..." Ucap Mikha masih terus meminta ampun kepada Alvin.


"Gue akan lepasin lo kalau lo bilang sama gue mulai sejak kapan lo tau kalau gue ini Badboy?" Tanya Alvin dengan sangat penasaran.


"Iya....gue akan bilang sama lo, tapi lo lepasin gue dulu ya." Jawab Mikha.


"Beneran? Janji?" Ujar Alvin.


"Iya gue janji..."


Kemudian Alvin melepaskan Mikha, Mikha mulai mengatur nafasnya dengan baik, "Lo itu jahat banget sih sama Istri sendiri. Huft." Gerutu Mikha.


"Oh jadi lo Istri gue? Gue baru tau nih." Goda Alvin.


Pipi Mikha semakin bersemu merah, "Tuh kan  emang dasar lo gak bisa dibaikin ya." Ucap Mikha.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi lo, sejak kapan lo tau kalau gue ini Badboy?" Alvin kembali mengulangi perkataannya lagi.


"Hmmm...sejak kapan ya?" Kemudian Mikha mulai menerawang ingatannya kembali.


"Oh iya gue ingat...lo ingat kan hari terakhir kita bulang madu kemarin itu?" Tanya Mikha.


"Iya ingat..."


"Nah disitu gue mulai penasaran dengan teman chattingan gue selama ini, gue mulai memperhatikan sikap lo setiap kali gue lagi membalas chat untuk teman chat itu, lambat laun gue semakin penasaran dan semakin curiga sama lo Vin...Aduh gue juga kurang tau dimana tepatnya, tapi gue tau kalau orang itu lo. Jujur ini ya sebenarnya gue udah pengen bilang sama lo kalau yang selama ini chattingan sama lo itu gue...tapi entah mengapa gue lagi mencari momment yang pas aja. Dan secara tidak disangka - sangka lo malah curhat lagi sama gue kalau lo itu sebenarnya suka sama Istri lo. Hmmm...jujur gue mulai salah tingkah setelah mengetahui semua itu...." Ujar Mikha dengan jujur.


"Oh pantesan sikap lo aneh banget akhir - akhir ini, lo seperti menjaga jarak atau lagi menghindari gue gitu. Curang banget sih lo Mik, lo tau perasaan gue dengan cara seperti itu." Ucap Alvin yang tidak terima.


"Lagian salah lo sendiri dong Vin....gue sangat penasaran, kenapa lo sebegitu percayanya dengan Cinta? Padahal kan kita baru sebentar chattingannya?" Tanya Mikha dengan sangat penasaran.


"Ah gue gak mau jawab lagi...." Ucap Alvin.


"Alvin...ih dasar ngeselin banget sih lo!" Ujar Mikha.


"Aaaa ampun Mik, lo boleh tapi kenapa gilaran gue jadi gak boleh begini sih? Dasar egois emang lo mau menang sendiri ya." Ujar Alvin.


"Bilang gak...bilang gak!" Ancam Mikha.


Alvin malah terus saja menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Sorry...gue gak mau bilang!"


Mikha hanya semakin kesal, Mikha terus saja menyiksa Alvin supaya memberitahukannya tentang hal itu. Tapi Alvin semakin menutup rapat bibirnya untuk tidak mengatakan apapun juga.


"Udah ah gue udah capek! Pokoknya lo hutang penjelasan sama gue! Lagian gue gak percaya sama ucapan pria yang sedang mabuk seperti lo." Ucap Mikha akhirnya lalu segera menjauh dari Alvin.


"Jadi gitu nih ceritanya sama Suami? Hmm...gue hanya minum sedikit saja kok Mik, tadi gak enak nolaknya karena perayaan pulangnya teman gue ke Indo." Ujar Alvin.


"Oh iya siapa yang bakalan percaya? Mendingan lo pergi mandi sana Vin." Ucap Mikha.


Kemudian Alvin berjalan mendekati Mikha, Alvin memegang dagu Mikha, "Oke Istri, kalau begitu tunggu gue sebentar ya." Alvin berbisik kepada Mikha.


Setelah menggoda Mikha, Alvin masuk kedalam kamar mandi dengan cepat meninggalkan Mikha yang masih terpaku ditempat duduknya saat ini.


Dan setelah kepergiaan Alvin, Mikha baru tersadar, "Gue kenapa? Kok tadi gue nurut aja sih sama perkataan Alvin? Gak...gak gue gak boleh begini." Ucap Mikha yang mulai merasa sangat panas.


Selagi Alvin mandi, Mikha berencana untuk kabur dari dalam kamar, 'Gue harus cepat kabur dari sini....' Pikirnya.


Dan Mikha baru saja berhasil kabur dari Alvin, akan tetapi ponselnya tertinggal disana. Mikha ingin segera mengambilnya karena Mikha saat ini sedang menunggu - nunggu email masuk dari kantor.


'Akhirnya gue berhasil kabur juga! Sekarang gue harus menuntaskan pekerjaan gue dulu baru setelahnya gue bisa beristirahat.' Pikirnya.


Kemudian Mikha mencari keberadaan ponselnya dipiyama tidurnya, 'Duh mati gue...kenapa ponsel gue gak ada ya? Pasti ketinggalan didalam kamar deh, gue harus segera mengambilnya sebelum Alvin keluar dari kamar mandi.' Batinnya.


Lalu dengan perlahan Mikha mulai mengintip kedalam kamar, 'Sepertinya Alvin belum keluar dari kamar mandi. Gue harus bergerak cepat nih.' Ucapnya dalam hati.


Kemudian dengan langkah perlahan Mikha mulai masuk lagi kedalam kamarnya, lalu dengan cepat dia mulai mencari keberadaan ponselnya. Dan ketika melihatnya, Mikha langsung mengambilnya.


'Akhirnya ketemu juga!' Pikirnya.


Tanpa Mikha sadari sedari tadi Alvin sedang mengintip Mikha dan mengawasi pergerakan Mikha dari kejauhan.


"Kok kamu kabur?" Bisik Alvin sambil memeluk Mikha dari belakang.


Sekujur tubuh Mikha beku seketika juga. 'Mati gue....kenapa bisa ketangkap basah begini sih? Malu banget tau gak sih rasanya.' Batinnya.


"Aku tanya kok kamu kabur?" Alvin mengulangi pertanyaannya lagi.


"Hah? Siapa yang kabur sih Vin, itu, anu, itu tadi gue haus jadinya gue minum dulu kebawah." Ucap Mikha mencari - cari alasan.


"Oh begitu ya...."


"Iya Vin, lagian aku mau ngapain kabur dari kamu?" Ucap Mikha lagi untuk meyakinkan Alvin.


'Gue lagi bilang apa sih? Sepertinya Alvin sengaja deh mau jailin gue?' Batin Mikha.


"Kok jadi salah tinggah begitu sih?" Tanya Alvin lagi.


Mikha mulai kehabisan kata - kata, "Si-siapa yang salah tingkah sih? Gue biasa aja kok." Ucap Mika sambil berjalan mundur.


Alvin terus saja menggoda Mikha, Alvin melangkah maju terus menerus, "Oh iya? Jadi kalau tidak salah tingkah kenapa lo mundur Mik?" Tanya Alvin lagi.


"Hah? Iya juga ya..." Ucap Mikha sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Wajah kamu kok memerah seperti itu sih Mik?" Desak Alvin terus menerus.


"Si-siapa yang memeraj si Vin....Oh itu sepertinya karena disini terasa sangat panas kali ya. Apa kamu tidak kepanasan?" Tanya Mikha sambil mengipas - ngipasin dirinya sendiri.

__ADS_1


Alvin hanya tersenyum geli aja melihat tingkah imut Mikha ini.


"Kamu lagi sakit ya Mik?" Ucap Alvin sambil memegang kening Mikha.


"Enggak kok aku baik - baik aja." Jawab Mikha dengan polosnya.


"Jadi kenapa kamu merasa kepansan? Kamu tidak lupa kan kalau dikamar kita ini menggukana AC?" Tanya Alvin.


'Aduh Mikha...lo itu polos atau **** banget sih? Bisa - bisanya ya lo seenaknya aja menjawab ucapan Alvin yang lo sendiri tau pasti itu jebakan.' Batin Mikha.


"Apaan sih lo Vin." Ucap Mikha sambil melepaskan tangan Alvin dengan kasar.


 "Kamu lucu juga ya kalau lagi malu - malu seperti ini?" Ucap Alvin.


"Udah deh Vin...jangan terus godain gue!" Ujar Mikha kemudian Mikha menatap Alvin yang sudah mulai melepaskan handuknya.


Seketika Mikha menutup kedua matanya sambil menjerit, "AAAA...LO GILA YA VIN!" Teriak Mikha dan membalikkan tubuhnya.


Alvin berjalan mendekati Mikha lagi, "Kenapa ditutup wajahnya? Bukannya kamu udah melihat semuanya ya?" Goda Alvin terus menerus.


"Vin...stop godain gue!" Teriak Mikha dengan sangat histeris.


Seketika tawa Alvin pecah juga, Alvin lalu membalikkan tubuh Mikha dengan paksa, Alvin kembali memegang dagu Mikha, "Aku tidak akan pernah melakukannya jika kamu tidak menginginkannya kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir begini ya....Aku juga tidak akan pernah memaksa kamu, aku akan menunggu sampai kamu benar - benar siap Mik." Ucap Alvin akhirnya.


Ternyata dibalik handuk yang dikenakan Alvin tadi, Alvin sudah mengenakan piyama tidurnya, Alvin hanya ingin melihat reaksi Mikha saja dan sesuai dengan dugaannya, Mikha benar - benar salah tingkah dan merasa sangat malu.


Setelah mengatakan itu Alvin berjalan naik keatas tempat tidur mereka, Alvin membaringkan tubuhnya dengan cepat. "Udah sebaiknya kamu istirahat sekarang...aku janji gak akan macam - macam kok. Aku akan menepati janji aku sama kamu, kali ini kamu bisa pegang kata - kata aku." Ujar Alvin.


Mikha masih terpaku ditempatnya berdiri tadi, 'Alvin...awas ya lo, ada saatnya nanti akan gue balas lo!' Batin Mikha.


Kemudian Mikha pun naik keatas tempat tidur mereka juga, tapi untuk berjaga - jaga Mikha meletakkan guling diantara mereka berdua. Lalu Mikha menatap ponselnya sebentar untuk mengerjakan pekerjaannya, kemudian setelah selesai Mikha meletakkan ponselnya.


Mikha lalu mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur mereka.


Diam - diam Mikha tersenyum mengingat kejadian tadi, 'Kok gue jadi senyum - senyum gak jelas begini sih? Udah ah mendingan gue tidur aja.' Pikirnya.


Lalu akhirnya Mikha mulai memejamkan kedua matanya sampai akhirnya dirinya benar - benar terlelap.


*****


"Apa gak bisa ditunda sayang perginya?" Tanya Ara yang saat ini sedang melihat Sang Suami sedang merapikan pakaiannya.


"Tidak sayang..." Jawab Al.


"Hmm...kali ini saja sayang...apa tidak bisa diwakilkan saja?" Bujuk Ara lagi.


Al kemudian menatap Sang Istri, "Sayang...kalau kali ini bisa diwakilkan aku sudah berinisiatif untuk menyuruh orang lain saja yang menggantikanku...tapi kali ini aku benar - benar harus pergi." Ujar Al sambil membelai wajah Ara.


Ara hanya cemberut saja tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Al lagi, "Ya udah kalau begitu." Ucap Ara akhirnya dengan terpaksa.


"Nah begitu dong sayang....aku kan jadi tidak berat untuk meninggalkan kamu disini." Ujar Al.


Ara hanya tersenyum terpaksa saja.


"Ya udah sini biar aku bantu kamu packingnya." Ucap Ara lalu memilih - milih pakaian mana yang harus dibawa oleh Sang Suami. Al hanya menatap Ara saja dengan tatapan tidak rela ingin meninggalkan Sang Istri.


'Kalau saja kamu tau sayang....jujur aku juga berat untuk meninggalkan kamu selama seminggu kedepan.' Batin Al.


"Sayang...kamu harus membawa pakaian hangat  dan vitamin ya, aku gak mau kalau kamu sampai sakit selama disana. Ntar aku letakkan di tas kamu ya, ingat ya sayang setelah sampai sana kamu harus segera menghubungi aku!" Ujar Ara.


"Iya sayang iya...."


"Dan ingat satu lagi, jangan nakal selama disana! Kamu tau kan kalau mata aku ini ada dimana - mana!" Ancam Ara.


"SAYANG...!" Ucap Ara dengan suara meninggi.


"Iya sayang...aku hanya bercanda saja kok, habisnya kamu malam ini bawel amat sih. Aku hanya seminggu aja kok saja perginya sayang...." Ujar Al.


"Iya karena kamu gak jadi aku ya Al, seminggu itu waktu yang sangat lama sekali sayang...." Ujar Ara.


"Iya aku tau kok sayang! Aku juga bakalan sangat merindukan kamu..." Ucap Al sambil memeluk Sang Istri.


"Hmmm...sayang gimana aku bisa rela tau gak kalau kamu pergi..." Ujar Ara sambil merengek sama Sang Suami.


"Ya jangan sedih begini dong sayang... Udah ya, aku juga bakalan pulang kok sayang setelah urusan aku selesai disana." Ucap Al untuk meyakinkan Ara.


"Iya aku percaya kok sayang....aku akan menunggu kamu kembali ya." Ucap Ara sambil mempererat pelukannya.


Al hanya mengelus punggung Ara saja, setelah selesai packing nya, Al dan Ara menghabiskan waktu bersama malam ini yang begitu singkatnya itu.


*******


Keesokan harinya....


Alvin telah sibuk sendiri sedari tadi untuk merapikan pakaiannya juga. Alvin terus saja mondar mandir tidak jelas sedari tadi sampai pada akhirnya membangunkan Mikha.


"Berisik banget sih..." Omel Mikha.


"Maaf Mik, udah mendingan kamu lanjut tidur lagi ya." Ujar Alvin.


"Gimana gue mau lanjut tidur lagi kalau lo nya berisik banget begini?" Gerutu Mikha.


"Aku lagi packing nih, tadi malam aku tidak sempat packing. Aku baru ingat kalau hari ini aku akan pergi bersama dengan Kak Al." Ucap Alvin tanpa menghentikan kegiatannya.


"APA! LO MAU PERGI KEMANA? KENAPA BARU BILANG SEKARANG? LO PERGI BERAPA LAMA?" Tanya Mikha sambil terduduk diatas tempat tidurnya itu.


"Kenapa? Kamu tidak rela kalau aku pergi ya? Hmm...?" Ucap Alvin.


"Bukan begitu...gue malah senang banget lah kalau lo pergi, jadinya gue bisa bebas deh." Ujar Mikha.


"Apa? Kamu kira kamu bisa bebas ya kalau aku pergi? Ingat ya Mik kamu jangan macam - macam!" Ancam Alvin.


"Lho kenapa Vin? Duh sini sini biar gur bantuin lo Packing nya." Ucap Mikha dengan sangat bersemangat.


"Dasar aneh! Eh dimana - mana tuh ya kalau Suaminya pergi seharusnya Istrinya akan sedih, nah ini kamu malah seperti ini." Omel Alvin.


"Bodo amat! yang jelas gue happy tuh lo gak disini, jadinya gak ada yang jail lagi. Ya bisa dibilang gue bisa tenang untuk sementara waktu deh." Ujar Mikha lagi sambil menyusun pakaian Alvin.


"Benar - benar ya kamu Mik! Mimpi apa aku punya Istri seperti kamu ini!" Ucap Alvin sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Mimpi indah dong...udah ah Vin, lo mau bawa yang mana ini pakaian dalamnya?" Tanya Mikha sambil memegangn beberapa.


Alvin malah tersenyum jail, "menurut kamu yang mana yang bagus?" Alvin malah bertanya balik kepada Mikha.


Seketika Mikha menyadarinya, "Dasar mesum! Ya udah lo pilih sendiri aja deh." Ucap Mikha lalu segera pergi.


Alvin hanya tertawa lepas saja setelah kepergian Mikha itu. "Ya kenapa malu - malu begitu Mik?" Goda Alvin.


Mikha sudah tidak menggubris ucapan Alvin barusan, Mikha kembali lagi untuk naik keatas tempat tidurnya itu sambil memutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya itu.


"Gemas banget sih kamu Mik! Hmm..tapi sayangnya aku harus pergi selama seminggu, kamu tunggu aku ya selama aku pergi." Ucap Alvin kepada dirinya sendiri.


Dibalik selimut, Mikha yang sudah merona hanya mampu untuk menyembunyikan wajahnya saja saat ini, pasalnya wajahnya tidak bisa berbohong kalau dirinya sebenarnya merasa sangat malu. 'Bisa - bisanya ya gue dengan polosnya bertanya seperti itu? Mikha...Mikha! Dasar begoo!' Mikha terus saja merutuki dirinya sendiri didalam selimut.


Setelah selesai packing pakaiannya, Alvin meletakkan kopernya tepat didekat pintu kamarnya. Lalu Alvin mendekat kearah Mikha, "Hei...aku tau kamu saat ino sedang malu, udah ah aku juga gapapa kok! Kalau malu - malu begitu kamu itu gemesin banget ya." Bisik Alvin.

__ADS_1


Mikha hanya masih berpura - pura tertidur saja, sampai pada akhirnya Alvin pergi masuk kekamar mandi. Setelah mendengarkan pintu kamar mandi tertutup, Mikha membuka selimut yang telah menutupi dirinya itu.


Mikha sudah dapat menarik nafasnya dengan lega, 'Huft, akhirnya Alvin pergi juga! Ngeselin dasar sih lo Vin.' Batin Mikha dengan kesal.


Setelah selesai mandi, Alvin berjalan keluar lalu kemudian kembali untuk menjaili Mikha lagi.


"Cup..."


Alvin mencium kening Mikha, Mikha yang sudah kembali tertidur menjadi gelisah kembali. Karena Mikha belum bangun juga akhirnya Alvin mencium pipi Mikha secara bergantian, akan tetapi Mikha masih tidak ingin membuka matanya juga.


Lalu ketika Alvin ingin mencium bibir Mikha, secara spontan Mikha menutup bibirnya dengan kedua tangannya, Mikha membuka kedua matanya, "Lo mau apa!"


"Mau cium..." Jawab Alvin jujur.


"Siapa yang ngizinin?" Ucap Mikha.


"Oh belum ya...ya padahal aku udah mau pergi lho ini." Ujar Alvin dengan wajah sedih.


"Ya terus kenapa kalau lo udah mau pergi?" Tanya Mikha.


"Ya setidaknya kasih kesan manis gitu supaya akunya kangen sama kamu." Jawab Alvin.


"Hmm...jadi Alvin mau dibuat terkesan ya? Beneran mau?" Tanya Mikha lagi.


"Iya..mau mau!" Jawab Alvin dengan cepat.


"Sini sini dekat....." Ujar Mikha.


Tanpa menunggu lagi Alvin langsung mendekat kepada Mikha.


Tanpa disangka - sangka Alvin malah dikerjain oleh Mikha, "Iya dekat tapi kamu sambil tutup mata ya.." Pinta Mikha.


"Oke deh...aku mah nurut aja kalau soal beginian."


"Siap...hitungan ketiga kamu langsung cium ya, satu...dua....ti...ga!"


Kemudian Mikha tertawa dengan sangat puasnya, "Nah itu ciuman dari gue! Gimana Vin? Lo pasti terkesan kan?" Tanya Mikha sambil terus tertawa.


Alvin lalu menatap tajam kearah Mikha, "Oh kamu lagi jailin aku ya? Dasar nakal, aku akan balas kamu..." Jawab Alvin.


"Ampunnn..."


"Kali ini aku gak akan kasih ampun untuk kamu, Alvin terus saja menggelitikin Mikha sampai - sampai Mikha sudah tidak kuasa untuk menahan gelinya itu.


"Vin...ampunnn..."


Akhirnya Alvin melepaskan Mikha juga, nafas keduanya kian memburu satu sama lain, Alvin masih menahan kedua tangan Mikha tepat diatas kepala Mikha sendiri.


Kedua saling menatap satu sama lain dengan tatapan dalam dan penuh cinta, Akhirnya Alvin mendekat dan semakin mendekat terus kepada Mikha sampai akhirnya bibir Alvin sudah berada tepat dibibirnya Mikha yang hangat dan lembut, Alvin mengecup secara perlahan, lalu mengemutnya seperti permen. Alvin melakukannya secara perlahan, kali ini Mikha tidak memberontak seperti biasanya, keduanya sama - sama saling menikmati ciuman hangat mereka.


Sampai pada akhirnya Alvin mulai melepaskan ciumannya, "I love you Mikha..."


"Love you too, Vin." Jawab Mikha sembari tersenyum.


Lalu ketika Alvin ingin melanjutkan ciumannya lagi, tiba - tiba saja pintu kamarnya diketuk secara berulang - ulang.


'Siapa sih ganggu aja!' Gerutu Alvin dengan kesal.


"Buka gih pintunya." Ucap Mikha.


"Biarin ajalah ntar juga capek sendiri...kan kegiatan kita belum selesai." Jawab Alvin.


Lalu ketika Alvin ingin mencium Mikha lagi, ketukan pintunya semakin kuat saja.


"Vin...ini Kakak!"


"Kak Al!" Ucap Alvin dan Mikha secara bersamaan.


"Buka sana Vin..."


Dengan tidak bersemangat Alvin berjalan untuk membukakan pintu kamarny itu, "Ya Kak ada apa?" Tanya Alvin.


"Sebentar lagi kita berangkat ya, kamu udah selesai kan?" Jawab Al.


"Iya udah Kak...!"


"Kenapa gak bersemangat seperti itu sih? Udah ah cepatan turun, Kakak tunggu dibawah." Pinta Al lalu pergi dari sana.


"Ya udah lo turun gih!"


"Gak mau lanjutin kegiatan kita tadi?" Tanya Alvin.


"Gak! Udah sanaaa Vin...." Jawab Mikha.


"Ya Mik padahal masih nanggung tau...kita lanjut ya?" Pinta Alvin.


"Idih apaan sih lo Vin...dasar mesum!"


"Bisa gak panggilnya Aku kamu aja jangan gue lo lagi!" Ketus Alvin.


"Hehe, maaf deh, habisnya gue belum...maaf maksudnya aku belum terbiasa." Ucap Mikha sambil cengengesan.


"Iya makanya dibiasain deh! Oke, ingat pesan aku ya! Kamu jangan nakal selama aku pergi! Atau gak aku bisa pulang untuk melihat apa yang kamu lakukan lho!" Ancam Alvin.


"Ya sayangnya aku gak bisa janji deh Vin kalau soal yang ini...." Mikha malah sengaja menjaili Alvin.


"Awas aja kalau kamu berani! Aku akan...."


"Kamu akan apa?" Tantang Mikha.


"Kamu jangan nantangin aku ya Mik, kamu kira aku gak berani apa pulang lalu membawa kamu pergi!" Ucap Alvin.


"Huh takut!"


"Mikha...kamu jangan uji kesabaran aku terus ya!" Ucal Alvin yang sudah mulai terpancing.


"Aku suka lagi menguji kesabaran kamu Vin....! Ya udah kalau gitu aku tunggu kamu balik ya! Perginya kalau bisa yang lamaan ya!" Ucap Mikha lagi.


"Wah...wah...! Sebegitu happy nya ya kamu aku pergi?"


"Iya emang...happy banget rasanya!" Balas Mikha.


Alvin hanya menatap tajam Mikha saja dengan tatapan yang tidak rela bila dirinya harus pergi, andai saja masih bisa dibatalkan, pasti Alvin akan membuat seribu alasan untuk membatalkannya.


*********


Hayooo siapa yang kemarin sudah menebak ceritanya? Hmm..


sama gak sama yang kalian pikirkan?


Apa yang bakalan terjadi selanjutnya? Apa selama kepergian Al dan Alvin, kehidupan Ara dan Mikha akan tenang?


Kira - kira siapa merindukan siapa nih? Heheh


Happy Reading Guys!

__ADS_1


__ADS_2