SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 167


__ADS_3

Sesampainya Mikha dirumah, rumah kelihatannya sangat sepi tidak seperti biasanya yang akan selalu ada suara TV atau gak suara Kakak iparnya Ara. Dengan langkah yang penuh keraguan Mikha masuk kerumah lalu menyelusuri setiap sudut rumah, akan tetapi dia tidak menemukan siapapun juga disana.


Mikha tampak ragu melanjutkan perjalanannya lagi, 'Dimana semua orang?' Pikir Mikha.


Bahkan sampai pembantu dirumah ini pun tidak ada yang kelihatan satu pun, Mikha mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres disini. 'Aku harus tetap tenang....' Pikirnya lalu kembali untuk melanjutkan perjalanannya kembali.


Mikha mulai naik kelantai 2, disana dia juga mengamati kesekitar penjuru rumah, akan tetapi dia masih tidak menemukan siapapun juga. "Kemana sih semua orang?" Ucap Mikha yang mulai merasa gelisah. Dia mulai berpikiran yang tidak - tidak.


Begitu mendengarkan suara petir yang keras, Mikha yang kaget langsung menutup telinganya.


DEPP!


Seketika lampu mati membuat Mikha semakin resah dan gelisah, dia mulai menenangkan dirinya sendiri lalu mengambil ponselnya yang berada didalam tasnya. Dengan susah payah Mikha mulai meraba keberadaan ponselnya hingga akhirnya dirinya menemukannya, Mikha segera menghidupkan senter yang berada di ponselnya lalu kembali melanjutkan perjalanannnya untuk masuk kedalam kamarnya.


'Tenang Mik tenang....kamu gak boleh kelihatan ketakutan seperti ini.' Batin Mikha.


Setelah itu Mikha mulai memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamarnya, dirinya juga tidak menemukan sosok Alvin berada disana. Mikha mulai merasa panik. Dia langsung mengkunci kamarnya lalu duduk ditepi ranjangnya.


"Kemana sih semua orang? Apa mereka semua bekerjasama untuk ngerjain aku ya? Tapi itu tidak mungkin...Kak Ara tidak mungkin ikutan dalam hal ini." Ujar Mikha.


Lalu Mikha memutuskan untuk menghubugi Ara, akan tetapi sebelum dirinya menghubungi Ara, ternyata Ara sudah mengirimkan dia pesan.


"Kak Ara!"


Mikha langsung membacanya, "Ternyata Kak Ara pergi menginap dikediaman orang tuanya." Ujarnya.


"Lalu kemana semua orang yang ada dirumah? Apa mereka semua sudah tidur? Tapi mana mungkin secepat itu kan?" Kepanikan Mikha bertambah semakin besar.


Mikha mulai berjalan mondar mandir tidak jelas, "Apa perasaan gelisahku ini tidak beralasan?" Ujar Mikha lagi.


"Tenang Mikha tenang! Mendingan sekarang aku mandi dulu...baru setelahnya memeriksanya lagi." Pikiran inilah yang akhirnya bisa membuat Mikha sedikit tenang.


Mikha menuju kekamar mandinya, dia memutuskan untuk membasahi rambutnya yang tadi memang sudah terkena sedikit air hujan karena dirinya lari menuju ke taksi. Mikha mandi dengan tenang, dirinya benar - benar tidak ingin berpikiran lain lagi.


Sekitar 15 menitan dikamar mandi akhirnya Mikha selesai juga. Mikha yang kini sudah mengenakan piyama mandinya dan menggulung rambutnya dengan handuk hingga menjulang keatas lalu berjalan menuju ruangan gantinya. Mikha memilih piyama tidurnya yang menjadi favorite nya lalu setelah itu segera mengenakannya.


Mikha seperti mendengarkan seperti ada bunyi - bunyi dari bawah, "Suara apa itu? Bukannya tadi tidak ada siapa - siapa dibawah sana? Apa itu Alvin?" Pikirnya.


Dengan takut - takut Mikha ingin mengeceknya kebawah. Ini Mikha sudah memegang sapu untuk perlidungan dirinya, Mikha berjalan dengan menggunakan ponselnya. "Semoga saja bukan orang jahat atau pencuri." Harapnya.


Sesampainya dibawah Mikha tidak menemukan siapa - siapa sampai membuat dirinya bingung sendiri. "Lalu suara apa tadi yang aku dengar?" Ucap Mikha sambil memperhatikan kearah sekitarnya. Tapi lagi - lagi dia tidak menemukan siapapun disana.


"Halo....siapa disana? Apakah ada orang disini?" Teriak Mikha sambil memeriksa setiap sudut ruangannya. Mikha menemukan cahaya dari arah kolam renang, "Kenapa disana terang?"


Mikha mulai berjalan keluar untuk memeriksanya, Mikha mengikuti lampu - lampu kecil yang berada di rerumputan itu. Mikha berjalan terus dengan hati yang masih bingung sendiri. 'Siapa yang bikin ini semua? Lalu dimana semua orang yang ada dirumah?' Pikirnya lagi.


Kini Mikha sudah sampai pada lampu yang terakhir, disana dirinya menemukan sebuah petunjuk lainnya, Mikha mulai berjalan lagi untuk mengikutinya tentunya dengan menggunakan payung. Petunjuk itu berhenti di depan pintu yang belum pernah untuk dimasukinya sama sekali.


Dengan ragu Mikha untuk membuka pintu itu, Mikha mulai menelan salivanya sendiri, 'Apa yang aku lakukan sekarang? Bodohnya aku mengikuti semua arahan ini.' Mikha memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah lagi. Akan tetapi begitu Mikha ingin berjalan dia mendengar seperti ada suara benda yang terjatuh didalam sana.


Langkah kaki Mikha langsung terhenti seketika. Dia mulai masuk memberanikan dirinya untuk membuka pintu itu, begitu Mikha membuka pintunya, betapa terkejutnya Mikha yang menemukan Alvin berada disana.


"Alvin! Kamu...." Ucapan Mikha mulai terhenti ketika mengamati keseluruh ruangan.


"Kamu yang melakukan ini semua?" Tanya Mikha yang masih belum percaya.


Alvin mengangguk mantap, "Iya sayang...gimana kamu suka?" Jawab Alvin.


Mata Mikha mulai berkaca - kaca, ini kali pertama untuknya Alvin melakukan hal romantis seperti ini. Alvin mendekor seluruh ruangan ini dengan lampu - lampu kecil lalu ditengahnya ada riasan bungan yang berbentuk hati besar dengan disekelilingnya diberikan riasan lilin kecil.


Disana juga tersedia makan malam romantis untuk mereka berdua dengan riasan lilin lilin. Tidak lupa Alvin menuliskan "SORRY MIKHA!"


"Kapan kamu merencanakan ini semua?" Tanya Mikha.


"Sayang...tadi aku merencanakan ini dengan persiapan yang seadanya karena Kak Ara mengabari aku dengan mendadak." Jawab Alvin sembari tersenyum sambil pikiran mulai menerawang.


Ara menghubungi dirinya ketika Ara dan Al berada didalam perjalanan menuju rumah orangtuanya Ara,


"Vin..."


"Ya Kak!"


"Kakak dan Al hari ini dan selama beberapa hari kedepan akan menginap dirumah orangtua Kakak."


"Oh iya udah Kak."


"Kamu masih tidak mengerti? Kakak bilang Kakak pergi menginap lho! Itu artinya ini adalah kesempatan yang bagus untuk kamu memperbaiki hubungan kamu dengan Mikha! Lakukan sebaik - baiknya ya, Kakak ingin kalian berdua segera berbaikan."


"Wah...wah! Terimakasih banyak ya Kakak iparku! Bahkan aku tidak ada kepikiran hal yang lainnya lho!"


"Itu karena kamu terlalu cuek! Uh dasar! Kasih tau Kakak kabar baik ya."


"Heheh, Siap Kak! Kalau bisa Kakak dan Kak Al lamaa ya disana."


"Uh dasar! Kenapa kamu mau berduaan terus dengan Mikha?"


"Iya Kakak kok tau sih? Aduh jadi makin sayang."


"Udah deh gak usah manis - manis begitu! Jangan sia - siakan momment ini ya."


"Pastinya Kak! Bye."


Setelah itu Alvin mulai memesan bunga - bunga untuk dibuat sebagai hiasan, dia juga menghubungi pihak dekorasi untuk menghias tempat yang akan dijadikan tempat berserajah untuk dirinya meminta maaf kepada Mikha, hanya saja karena hujan datang, rencananya sedikit gagal. Tapinya Alvin berencana ingin memberikan kejutan dipinggir tepi kolam renang hanya saja gagal berantakan lalu Mikha sudah kembali dengan cepatnya sehingga Alvin sendiri lah yang memindahkan semuanya didalam ruangan secepat mungkin.


Kalau soal bunyi - bunyian tadi itu memang benar karena Alvin masuk kedalam rumah untuk mencari sesuatu yang dibutuhkannya, hanya saja tanpa disengaja benda itu jatuh sehingga menimbulkan bunyi lalu setelahnya Alvin langsung berlari keluar dan kembali lagi masuk diruangan tersembunyi itu.


Jadi deh Alvin yang mengerjakannya semuanya sendirian dengan penuh perjuangan sampai pakaian yang dikenakannya kini sudah basah. untungnya Alvin selalu membawa kaos didalam tas kerjanya sehingga dengan mudahnya dia mengganti pakaiannya itu.


Kalau soal semua pembantu, Alvin yang menyuruh mereka semua untuk masuk kedalam kamar mereka masing - masing, awalnya mereka semua menolak karena takut kena marah sama Al, Akan tetapi Alvin dengan sabarnya memberitahukan kalau itu adalah perintah dari Kakaknya.


Makanya waktu Mikha masuk kedalam rumah, semua orang sudah tidak ada disana dan tentu saja itu yang membuat dirinya kebingungan.


"Mau sampai kapan kamu hanya berdiri disana?" Tanya Alvin yang kini mulai berjalan kearah Istrinya itu.


Sontak membuat Mikha terkejut, "Alvin! Kamu ngagetin aku tau gak!" Ujar Mikha sambil memukul bahu Alvin.


"Hmmm...sepertinya kamu udah gak marah lagi nih sama aku?" Bisik Alvin.


"Aduh perut aku sangat lapar!" Ujar Mikha sambil memegangi perutnya lalu berjalan meninggalkan Alvin yang kini hanya tersenyum jail menatap istrinya itu.


"Katanya mau makan? Lalu kenapa kamu masih berdiri disana?" Ujar Mikha lalu duduk dikursi yang sudah dipersiapkan untuk dirinya.

__ADS_1


"Aku datang!" Ujar Alvin lalu duduk dihadapan Mikha.


Mereka berdua menyantap hidangan yang sudah tersedia diatas meja, Mikha yang memang sudah kelaparan hanya memikirkan untuk mengisi perutnya saja sampai dirinya merasa benar - benar kenyang. Alvin hanya senyum - senyum sendiri saja sambil memperhatikan Istrinya itu.


"Sumpah aku kenyang banget Vin!" Mikha memengangi perutnya yang merasa sudah kekenyangan.


Alvin lagi - lagi hanya tertawa geli saja.


"Kamu kok ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?" Tanya Mikha dengan sewot karena tidak suka melihat Alvin tertawa.


"Iya ada!"


"Apa yang lucu?"


"Kamu!" Ujar Alvin lalu berjalan mendekati Mikha, Alvin sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mengelap sisa makanan yang berada diujung bibir Mikha.


Mikha hanya terdiam sambil menatap Alvin terus menerus, seketika detak jantung Mikha sudah mulai berdetak tidak karuan.


"Kamu makan seperti anak kecil begini sih sayang..." Ucapan Alvin inilah yang membuat Mikha membelalakkan kedua matanya.


"Apa kamu bilang? Udah deh...lagian aku bisa membersihkannya sendiri kok." Ujar Mikha dengan wajah yang sudah memerah.


Alvin tersenyum lalu kembali lagi ketempat duduknya.


'Aduh Mikha...kamu buat malu aja sih? Bisa - bisanya kamu langsung terpesona begitu menatap Alvin! Ingat kamu harus jutek sama dia.' Batin Mikha.


"Mik..." Panggil Alvin.


"Ya?"


"Maafin aku ya karena udah bohongin kamu karena masalah Clara itu. Sumpah aku tidak ada bermaksud seperti itu! Beneran deh." Ujar Alvin dengan wajah penuh penyesalan.


'Aku sebenarnya sudah tidak marah lagi Vin, apalagi setelah melihat apa yang kamu lakukan sekarang? Wanita mana coba yang tidak akan suka dengan perlakuakn romantis seperti ini? Tapi aku masih harus memberikan kamu pelajaran yang sangat berharga!' Batin Mikha.


"Gimana Mikh?" Tanya Alvin lagi yang sedari tadi sedang menunggu jawaban dari Istrinya itu.


"Hmmm...gimana ya? Jadi kamu buat begini itu hanya untuk menyogok aku ya supaya aku tidak marah lagi sama kamu?" Tebak Mikha.


"Bukan...duh gimana ya? Ini hanya simbol saja sih...aku memang ingin makan romantis sama kamu! Kan kata kamu aku memang bukan pria romantis, nah aku jadi usaha deh buat beginian untuk kamu." Ujar Alvin mencari - cari alasan.


'Dasar alasan! Vin...Vin kamu kira aku dengan mudahnya akan percaya?' Pikir Mikha.


"Oh iya? Lalu kenapa baru sekarang setelah aku marah kamu baru melakukan hal ini?" Tanya Mikha lagi dengan tatapan penuh selidiknya.


"Itu karena...karena aku baru mempunyai kesempatan Mik!" Ujar Alvin dengan cepat.


'Apa sih yang aku bilangin? Semoga saja Mikha tidak curiga.' Batin Alvin.


 "Oh iya?"


"Iya kamu harus percaya ya sayang...Gimana kamu suka gak dengan apa yang aku ini semua?" Ujar Alvin lagi.


"Hmmm...sedikit lah!"


"Apa hanya sedikit saja? Kamu yang benar saja dong Mik...aku kan sudah bersusah payah melakukan ini semua?" Cetus Alvin yang merasa tidak terima dengan jawaban dari Mikha barusan.


"Lah kenapa kamu malah jadi marah? Aku kan jujur sih."


'Sabar Vin...kamu harus sabar! Kalau tidak semua yang kamu rencanakan akan hancur berantakan.' Batin Alvin berusaha untuk menahan dirinya.


"Hmmm...gimana ya? Maafin gak ya? Kalau boleh jujur sih aku masih kecewa sama kamu.....tapi mengingat usaha kamu malam ini aku pertimbangkan deh untuk memaafkan kamu dan memberikan kamu kesempatan sekali lagi." Ujar Mikha.


"Serius sayang?"


"Iya serius! Atau kamu mau tidak aku maafkan ya?"


"Tidak! Tidak!" Ujar Alvin lalu dengan cepat langsung memeluk Mikha dengan sangat eratnya.


"Terimakasih ya sayang! Aku janji tidak akan pernah membohongi kamu lagi." Ujar Alvin sambil mencium bahu Mikha yang terbuka.


"Iya iya...aku percaya sama kamu! Jadi kamu bisa lepasin pelukan kamu gak sekarang? Aku merasa sesak nih karena kamu terlalu kencang memeluk aku." Ujar Mikha.


Dengan cepat Alvin langsung segera melepaskannya, "Sorry...sorry!"


"Tidak masalah."


"Sekarang aku minta kamu tutup mata ya..." Pinta Alvin.


"Untuk apa?" Tanya Mikha sambil menggerlitkan alisnya.


"Udah tutup aja aku janji tidak akan macam - macam kok....tapi bila kamu menginginkannya aku bersedia kok sayang!"


"Ih kamu apaan sih!"


"Percaya sama aku...tutup matanya ya."


Mikha melihat kalau tidak ada tanda - tanda kebohongan yang terpancar dimata Alvin. Dengan perlahan Mikha mulai memejamkan kedua matanya.


Alvin mulai memasangkan kalung yang berinisial A yang artinya Alvin. Dia ingin semua orang tau kalau Mikha adalah miliknya dan tidak ada satu orangpun yang bisa mengambil Mikha dari dirinya. Tidak juga untuk Bosnya Mikha yang bernama Alex itu.


Mikha mulai bisa menebak apa yang dilakukan oleh Alvin.


"Sekarang buka mata kamu..."


Mikha mulai membuka matanya lalu melihat kalung pemberinan Alvin yang kini sudah dipasangkan Alvin dileher Istrinya itu.


Mikha tersenyum bahagia, "Thanks ya Vin!" Ujar Mikha yang mulai merasa luluh.


"Sama - sama sayang! Kamu suka?" Tanya Alvin.


Oh iya bagaimana kamu bisa melihatnya ya kalau seperti ini....sebentar sayang." Alvin mulai mengambil ponselnya lalu menyalahkan kamera ponselnya.


"Ini sayang...gimana kamu suka?" Tanya Alvin lagi.


Mikha tersenyum sambil mengangguk cepat, "Tapi kenapa A? Kenapa bukan M?" Tanya Mikha.


"Kamu tidak lupa kan kalau kamu sudah memiliki pasangan yang bernama Alvin? Aku hanya ingin memberitahukan kesemua orang kamu itu adalah milik aku seorang bukan yang lainnya." Tegas Alvin lagi.


"Yaaaa jadinya aku sudah tidak bisa kecentilan lagi dong dengan pria lain? Hmmm..." Ujar Mikha sontak membuat Alvin membelalakkan kedua matanya menatap Istrinya dengan tatapan tajamnya.


"Maksud kamu apa?" Tanya Alvin..

__ADS_1


Mikha malah tertawa lepas melihat reaksi dari suaminya itu,


"Kok kamu malah ketawa sih?" Tanya Alvin lagi yang masih belum mendapatkan jawaban apapun dari Mikha.


"Aku hanya bercanda sayang! Lucu juga ya melihat kamu menanggapinya seserius itu." Balas Mikha lalu kembali tertawa.


"Dasar nakal!" Ujar Alvin sambil mengelitiki istrinya itu.


"Aaaaa....ampun sayang! Maa...maafin aku!" Balas Mikha lagi sambil memohon ampun kepada suaminya.


"Ini hukuman untuk kamu karena kamu terus menerus membuat aku cemburu buta dengan Bos kamu itu tanpa bisa melakukan apapun! Apa kamu puas membuat aku seperti itu sayang?" Ujar Alvin.


"Dasar pendendam! Mana aku tau kalau kamu sedang cemburu. Lain kali kalau sedang cemburu bilang dong biar akunya ngerti lalu aku pasti akan membuat kamu jauh lebih cemburu lagi." Balas Mikha.


"Mikha! Kamu sengaja ya sayang....aku tidak akan memberikan ampun untuk kamu lain kali! Awas aja kalau kamu sampai berani melakukannya!" Ancam Alvin.


"Dasar posesif!" Ujar Mikha cepat.


"Biarin! Hmmm...malam ini aku tidak akan melepaskan kamu sayang!" Bisik Alvin yang tentu saja membuat Mikha bergidik ngeri.


"Oh iya? Coba saja kalau bisa?" Ujar Mikha lalu berlari keluar dengan cepat. Bahkan Mikha sudah tidak perduli lagi dengan hujan. Dirinya terus saja berlari sampai masuk kedalam rumah lalu dengan cepat berlari naik keatas untuk segera masuk kedalam kamar mereka dan menguncinya, akan tetapi Mikha tidak mengetahui kalau Alvin sudah berada dihadapannya.


"BRUKK!"


Tanpa sengaja Mikha yang sedang berlari malah menabrak Alvin yang kini sudah berada dihadapannya. Alvin langsung menangkap Mikha dengan cepat lalu tanpa aba - aba langsung menggendong tubuh Istrinya itu.


"Alvin...bagaimana bisa kamu disini?" Mikha masih belum mempercayainya kalau Alvin saat ini sudah berada dihadapannya.


"Tentu saja bisa sayang...! Kamu lupa ini rumahnya siapa? Aku tau semuanya tentang rumah ini jauh sebelum kamu masuk disini." Balas Alvin.


Alvin membawa masuk Mikha kedalam kamar, sesampainya disana Alvin dengan perlahan langsung membaringkan tubuh Istrinya.


"Kamu udah siap untuk menerima hukuman kamu selama ini sayang?" Bisik Alvin.


Mikha menggigit bibir bawahnya tanpa mengatakan apapun juga.


"Sepertinya kamu sudah siap sayang!" Ucap Alvin sambil tersenyum menyeringai.


Mikha merasa salah tingkah sampai dirinya kini sudah tidak berani lagi menatap Alvin. Alvin yang melihatnya semakin bersemangat. Dengan perlahan Alvin menyentuh dagu Mikha untuk mengarahkannya supaya menatap kearahnya lagi.


"Jangan gugup dan salah tingkah begini dong sayang....kamu makin menggodaku saja." Ucap Alvin lalu secara perlahan dirinya mencium bibir Mikha.


Mikha hanya memejamkan kedua matanya untuk menikmati ciuman hangat yang diberikan oleh Suaminya. Rangkaian demi rangkaian penyatuan diri mereka berdua terus saja dilakukan keduanya sampai kerinduan keduanya terbalaskan. Selama ini Alvin sudah berusaha untuk menahan dirinya melihat Istrinya disampingnya dan tidak bisa melakukan apapun juga karena sangat menyesal dengan kesalahan yang dilakukannya.


Kini dirinya seakan tidak ingin berhenti lagi, dia terus saja melakukannya sampai dirinya merasa kelelahan. Sedangkan Mikha hanya pasrah saja walaupun dia juga terus menggoda suaminya agar suaminya tidak berhenti melakukannya.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, itu artinya mereka berdua sudah bercinta selama beberapa waktu yang cukup lama sampai keduanya benar - benar lelah dan kini sudah terbaring tak berdaya.


Keduanya saling mengatur nafas masing - masing. "I love you sayang!" Ucap Alvin sambil mengecup kening Mikha.


"I love you too suamiku." Balas Mikha sambil tersenyum.


Mereka berdua tidur dengan berpelukan tanpa ingin terlepas satu sama lain.


******


Alan yang kini sudah berada didalam kamarnya kembali untuk mencoba untuk menghubungi Clara lagi. Akan tetapi hasilnya malah sama. Ponsel Clara sama sekali tidak bisa dihubungi membuat Alan semakin merasa gelisah.


"Kenapa sih ponsel kamu mati terus Cla? Pasti kamu sengaja ya melakukannya? Tapi kamu perlu tau Cla kalau aku tidak akan pernah menyerah sampai kamu menjawab panggilan dari aku." Alan semakin bertekat kuat untuk membuat Clara kembali lagi kepada dirinya.


Dia memutuskan kalau sampai besok Clara masih tidak bisa dihubungi juga, Alan memutuskan untuk menyamperin Clara diapartemennya. Kemudian setelah merasa cukup lelah hari ini, Alan entah sejak kapan sudah mulai terlelap.


Keesokan harinya...


Setelah Alan terbangun dari tidurnya, Alan langsung mencari keberadaan ponselnya lalu dia mencoba kembali untuk menghubungi Clara walaupun sebenarnya dirinya masih belum sadar sepenuhnya. Akan tetapi karena rasa khawatirnya sangat berlebihan kepada mantan kekasihnya itu membuat dirinya ingin mengetahui kabar Clara dan juga Anak yang ada didalam kandungan Clara.


Sambungan teleponnya masih sama dirinya masih tidak bisa untuk menghubungi Clara. Dirinya mulai merasa gelisah, Alan bangkit dari tidurnya lalu segera mandi untuk bersiap - siap pergi. Tapi sebelum pergi, Alan memutuskan untuk menemui Mamanya dulu agar Mamanya tidak merasa sangat khawatir kepadanya.


Kini Alan sudah berada disamping Mamanya, Alan memegang tangan Mamanya sambil memanggil Mamanya, secara perlahan Mamanya mulai membuka matanya.


"Alan..."


"Ma...Alan izin keluar sebentar ya! Ada yang perlu Alan lakuakn dirumah sakit....Alan janji kok kalau hanya sebentar saja Ma." Alan terus memohon kepada Mamanya supaya mengizinkannya keluar.


"Tapi Lan..."


"Ma please..." Alan terus memohon membuat Mamanya semakin merasa tidak tega kepada dirinya.


"Baiklah Mama izinkan kamu keluar....tapi janji ya setelah urusan kamu selesai, segera pulang ya sayang!" Pinta Mamanya.


"Pasti Ma!" Ujar Alan lalu mencium tangan Mamanya lalu segera pergi dengan cepat.


Alan mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat agar dirinya bisa secepat mungkin untuk sampai di apartemen Clara. Sesampainya disana Alan tanpa sengaja malah ketemu dengan Tia.


"Mana Clara? Kamu sembunyikan dimana Clara?" Tanya Tia sambil menarik pakaian Alan dengan kasar.


Alan sendiri tidak mengerti maksud ucapan dari Tia barusan. "Bukannya Clara ada di apartemennya?" Ujar Alan.


"Oh iya? Coba periksa sekarang!" Pinta Tia.


Alan yang memang mengetahui password masuk apartemen Clara langsung memasukkan passowrdnya dan apartemen Clara kini sudah terbuka. Alan dan Tia masuk kedalam.


"Cla...ini aku! Kamu dimana?" Alan terus saja memanggil - manggil Clara.


"Mungkin dia didalam kamarnya...." Ujar Alan masih berusaha untuk tenang.


"Coba cek tunggu apalagi?" Ujar Tia.


Alan membuka pintu kamar Clara yang tidak terkunci sama sekali. Kemudian dirinya masuk kedalam lalu memeriksa semua penjuru ruangan, akan tetapi Alan tidak menemukan keberadaan Clara.


"Cla...Clara kamu dimana?" Ucap Alan dengan frustasi sambil menarik rambutnya.


"Hmmm....sepertinya Clara kabur! Ini semua karena kamu Alan. Kenapa sih kamu muncul lagi didalam kehidupannya Clara dan mengacaukan segalanya?" Ujar Tia menyalahkan Alan. Setelah berkata demikian Tia keluar dari apartemennya Clara.


Sedangkan Alan masih terduduk lesu tak bersemangat diatas ranjang milik Clara, "Kamu dimana Cla? Kenapa kamu pergi lagi? Sekarang kemana lagi aku harus mencari kamu?" Ujar Alan dengan sangat frustasi.


*******


Hmmm...kira - kira Clara kemana ya? ada yang tau?


Bagi yang ingin memberikan tips berupa point bisa diberikan seiklas kalian ya! Kalau tidak juga tidak apa - apa.

__ADS_1


Terimakasih semuanya...!


Happy reading guys!


__ADS_2