SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 153


__ADS_3

"Aku makan dulu ya Vin...." Ucap Mikha dengan wajah dibuat sangat manis.


"Jangan menatap aku dengan wajah sok manis seperti itu...kenapa sih Mik disaat - saat seperti ini? Hmm...gimana kalau kita menyelesaikannya terlebih dulu baru habis itu kita makan." Ucap Alvin memberikan sebuah penawaran.


Mikha menggeleng dengan cepat, "Gak bisa Vin...kamu gak mau kan ntar aku pingsan?" Ujar Mikha.


Alvin masih berkeras untuk tidak menuruti keinginan Mikha karena dirinya saat ini sudah sangat bergairah, apalagi Mikha sudah membangunkan dedeknya lalu setelah membangunkannya malah tidak ingin bertanggung jawab. "Tapi Mik..."


"Ayolah Vin...aku janji deh gak akan lama ntar setelah itu terserah kamu mau berbuat apa aja aku tidak akan protes." Bujuk Mikha dengan melingkarkan kedua tangannya ditengkuk  leher milik Alvin.


Setelah berpikir sebentar akhirnya Alvin menyerah juga, Alvin menuruti keinginan dari Mikha. Alvin menangguk pelan seperti tidak rela.


"Nah gitu dong....thanks yaa Suamiku sayang." Ucap Mikha sembari mengecup pipi Alvin yang sontak saja membuat dirinya tersenyum menyeringai.


"Oh kamu mulai nakal ya sayang..." Goda Alvin.


"Gapapa dong...kan aku nakalnya hanya sama kamu doang." Ujar Mikha lalu berlari keluar untuk meninggalkan Alvin.


"Mikha...tunggu! Awas ya kamu!" Ujar Alvin sembari mengejar Mikha.


Kini keduanya sudah berada diruang makan, Mikha begitu lemas ketika mengetahui bahwa tidak ada makanan sama sekali disana. "Vin...kok gak ada makanan?" Tanya Mikha dengan tidak bersemangat.


"Emangnya kapan aku bilang ada?" Balas Alvin yang tentu saja langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mikha.


"Jadi gimana dong ini sekarang? Emangnya kita sebenarnya lagi berada dimana sih?" Ucap Mikha lagi dengan nada kesal.


"Pesan online ajalah...ribet amat." jawab Alvin sekenanya aja.


"Oh iya kamu benar juga..." Mikha lalu mengotak atik ponselnya...


"Kenapa disini tidak ada signal sama sekali sih?" Gerutu Mikha dengan sangat kesal sambil terus mencari - cari signal.


"Emang disini susah signal! Apalagi saat ini sedang hujan deras." Ujar Alvin tanpa perasaan bersalah.


"Astaga Vin...kenapa kamu baru mengatakannya sekarang sih? Lalu gimana nih sekarang?" Ujar Mikha sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.


"Tunggu sebentar..." Lalu Alvin berjalan meninggalkan Mikha, Alvin membuka kulkas dan lemari - lemari yang berada didapurnya.


"Mikha..."


"Ya..."


"Sini deh...ini ada mie instan." Teriak Alvin dengan sangat bersemangat.


"Oh iya?" Dengan langkah cepat Mikha langsung menghampiri Alvin.


"Kita masak ini aja ya Vin..."


"Iya...ya udah kalau begitu aku tunggu didepan ya." Ujar Alvin lalu pergi keruang santai, kemudian Alvin yang merasa bosan langsung saja menyalahkan TV. Alvin menonton acara yang ada disana sambil tertawa - tawa sendirian.


Tidak perlu waktu lama, Mikha sudah selesai memasak mie instannya dengan bahan yang seadanya saja.


"Vin...kita makan dulu yuk..." Ajak Mikha.


"Makannya disini aja Mik..."Teriak Alvin yang enggan untuk berpindah tempat.


"Ya udah deh aku bawa kesana ya..." Kemudian Mikha meletakkan mie instannya diatas meja.


"Ayo dong Vin kita makan dulu..."


"Iya iya..." Alvin menuruti keinginan Mikha,


"Mie instan buatan kamu enak banget ya...thanks ya sayang." Puji Alvin sambil membelai rambut Mikha.


"Lebay deh! Ini hanya mie instan saja. Jangan bilang sama aku kalau kamu tidak pernah mencicipi mie instan?" Tebak Mikha.


"Iya...ini kali pertamanya aku makan. Ternyata enak juga."


"WHAT! Serius kamu?" Mikha sangat kaget mendengarkan ucapan Alvin barusan.


"Iya serius. Ini kan makanan tidak sehat, aku tidak pernah tertarik untuk mencicipinya. Ternyata rasanya lumayan juga apalagi disaat hujan seperti ini." Ujar Alvin dengan jujur.


"Ya udah habisin ya!"


Alvin mengangguk dengan mantap, dengan waktu yang sebentar saja mie instan buatan Mikha sudah habis ludes. Alvin yang masih kelaparan akhirnya meminta mie instan Mikha dan mengambilnya dengan paksa.


"Ini buat aku ya...aku kurang nih. Kamu kok masaknya cuma sedikit banget sih." Ujar Alvin sambil menarik paksa mie instan milik Mikha dari tangannya.


"Ih Alvin...kan aku masih lapar! Tega banget sih kamu..."


"Ini buat aku...kalau kamu masih kurang ya kamu tinggal masak lagi." Ujar Alvin lalu melahap mie instan milik Mikha.


"Dasar! Seharusnya yang bilang begitu aku dong!"


Ucapan Mikha sudah tidak diperdulikan lagi oleh Alvin, "Wah kenyang banget Besok - besok masakin aku mie instan lagi ya sayang."


"Gak mau!" Ketus Mikha.


"Ya ngambek..jangan ngambek dong ntar cantiknya hilang lho!" Rayu Alvin.


"Biarin!"


Kemudian Mikha mengambil mangkuk Alvin dan dirinya lalu berjalan menuju dapur untuk mencuci peralatan dapur yang kotor. Alvin mengikuti langkah Mikha.


"Beneran nih masih kesal sama aku?"


"Hmmm..."


"Ayo dong Mik jangan seperti itu...kita kekamar ya sekarang..." Bujuk Alvin.


Mikha hanya diam saja tanpa mengatakan apa - apa lagi. Mikha hanya fokus dengan peralatan dapur yang sedang dicucinya.


"Mikha....ayo dong..." Ucap Alvin lagi.


Mikha seolah tidak memperdulikan Alvin yang saat ini sedang berbicara kepadanya. Bagaimana Mikha tidak kesal, dirinya sangat lapar dan baru saja makan sedikit lalu kemudian Alvin sudah menghabiskan makanannya begitu saja tanpa perasaan bersalah sama sekali.


'Tega banget sih kamu Vin!' Batin Mikha.


"Mikha sayang..." Panggil Alvin.


'Aku harus gimana ya agar Mikha mau memaafkan aku? Ternyata wanita kalau lagi ngambek seperti ini bikin pusing ya?' Batinnya.


Tiba - tiba saja Mikha merasa kalau ada tangan kekar yang sudah memeluknya erat dari belakang, Mikha seketika menghentikan kegiatannya.


"lepasin...kamu gak lihat aku lagi ngapain!" Ketus Mikha.


"Tapi kamu janji ya gak akan kesal lagi?" Pinta Alvin.


Mikha hanya diam saja, "Tuh kan kamu gak mau janji...ya udah kalau begitu aku tidak akan melepaskan kamu." Ucap Alvin yang semakin mempererat pelukannya.


"ALVIN!" Ucap Mikha dengan suara meninggi.


"Hmm..."


"Kamu itu ngeselin banget tau gak!" Ujar Mikha.


Alvin langsung membalikkan paksa tubuh Mikha, mata Mikha terlihat berair karena dirinya. "Aku minta maaf..." Ucap Alvin yang merasa bersalah.


"Hmm..."


"Hei...sayang...jangan nangis dong ntar cantiknya luntur tau." Goda Alvin sambil menghapus airmata Mikha yang sedang mengalir.


"Habisnya kamu ngeselin..." Ujar Mikha dengan manja sambil memukul - mukul dada Alvin.

__ADS_1


"Iya iya aku tau kok..kamu boleh kok pukul aku sepuasnya..." Dibilang seperti itu malah Mikha semakin histeris menangisnya membuat Alvin jadi kebingungan sendiri dengan sikap Mikha.


"Kok kamu makin nangis sih? Aku salah bicara lagi ya?" Ujar Alvin sembari memberikan pelukan hangat untuk Istri tercintanya itu.


"Cupcupcup!" Ucap Alvin sambil menepuk - nepuk punggung Mikha.


"Ih aku bukan anak kecil!" Ucap Mikha sambil melepaskan pelukan Alvin dengan kesal.


"Iya iya aku tau kok...makanya kamu jangan sedih lagi ya?" Ujar Alvin dengan sabar.


"Hmm..."


Alvin tersenyum melihat Mikha,


"Kamu kok senyum - senyum? Kamu sedang mengejek aku ya?" Ujar Mikha semakin kesal.


"Gak sayang...kamu itu ternyata gemesin banget ya...kalau dilihat awal - awal sok sok tegar dan mandiri eh gak taunya didalamnya manja seperti ini. Tapi gapapa kok, aku suka!" Ujar Alvin sembari mendekati Mikha.


"Jangan dekat - dekat..."


Seolah Alvin tidak menghiraukan ucapan Mikha barusan dengan langkah cepat Alvin langsung mengangkat tubuh Mikha dan meletakkannya diatas meja.


"Apa yang kamu lakukan!" Protes Mikha.


"Sssttt...." Alvin menutup mulut Mikha agar Mikha tidak mengomel lagi.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain, tatapan yang penuh arti, "Dengerin aku ya Mik...sepertinya hari ini kamu sudah terlalu banyak bicara deh, aku suka melihat kamu kesal, marah, cemburu tapi aku gak suka melihat kamu menangis seperti ini karena airmata kamu ini terlalu berharga." Ujar Alvin sambil membelai lembut  wajah Mikha.


Mikha terus menatap manik Alvin, tidak ada tanda - tanda kebohongan disana. Alvin benar - benar membuat detak jantung Mikha berdebar.


"Aku kangen banget sama kamu....aku gak tau gimana perasaan kamu pada saat ini, tapi satu yang pasti aku akan membuat kamu menjadi satu  - satunya didalam hidupku dan aku akan membahagiakan kamu. Apa kamu masih ragu denganku?" Alvin terus saja menatap serius Mikha.


Mikha hanya mampu menggelengkan kepalanya saja.


"Artinya apa?" Tanya Alvin.


"Hmm...udah deh Vin aku malu tau, sumpah ya kamu sangat berhasil banget membuat aku berdebar." Ujar Mikha yang sudah merona.


Alvin tersenyum senang melihat reaksi malu - malu dari Mikha, "Kamu percaya aku kan?" Tanya Alvin lagi.


Mikha mengangguk dengan mantap.


"So?"


Alvin mengarahkan kedua tangan Mikha untuk melingkarkan dengan sempurna dilehernya, Mikha hanya mengikutinya saja tanpa menolak sama sekali. Mikha benar - benar sangat terpesona dengan Alvin saat ini.


"Mik...kamu gugup?"


Mikha mengangguk dengan ekspresi salah tingkahnya yang semakin membuat Alvin sangat bergairah.


"Kamu tidak perlu merasa gugup seperti ini kok...santai saja ya...." Ucap Alvin untuk menenangkan kegelisahan hati Mikha.


Mikha menghela nafas dengan berat, lalu kemudian mengangguk dengan yakin sambil tersenyum menatap Alvin.


Mata Alvin sedari tadi sudah menatap bibir seksi nan merona milik Mikha, Alvin semakin mendekat dan mendekat lagi dengan Mikha sampai keduanya sudah tidak memiliki jarak sama sekali. Dengan perlahan Alvin mulai mencium bibir Mikha lalu melumatnya, Mikha hanya memejamkan kedua matanya saja untuk mengikuti permainan Alvin.


Alvin mengangkat tubuh Mikha tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka berdua, Alvin terus saja mencium bibir Mikha yang awalnya perlahan lambat laun semakin bergairah, dan Mikha pun semakin mempererat pegangannya kepada Alvin. Mereka berdua benar - benar dimabuk asmara.


Sesampainya dikamar, Alvin langsung membaringkan tubuh Mikha, kemudian melepaskan ciumannya dan menatap Mikha sambil tersenyum, "I love you!"


Mikha hanya tersenyum sambil membalas ucapan Alvin, "I love you...." Belum sempat Mikha melanjutkan ucapannya Alvin langsung saja mencium kembali bibirnya dengan cepat sampai membuat Mikha tidak bisa menolak lagi. Mikha hanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Alvin, tentunya sentuhan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, kenikmatan yang teramat membuat kedua sejolinya ini enggan untuk menghentikan kegiatan panas mereka.


Alvin benar - benar menyerang Mikha terus menerus sampai dirinya puas, keduanya bahkan sudah beberapa kali melakukan pelepasan. Tapi sepertinya keduanya enggan untuk menghentikan kegiatan mereka.


Alvin benar - benar tahan melakukannya selama berjam - jam lamanya, tubuh Mikha sebenarnya sudah sangat kelelahan tapi dia tidak bisa menolak pesona yang diberikan oleh Alvin. Alvin benar - benar mampu untuk menghipnotisnya seketika.


Sekarang sudah pukul 3 pagi, akhirnya keduanya berhenti juga, Alvin mengecup kening Mikha lalu berbaring tepat disebelah Mikha. Keduanya saling mengatur nafas mereka, keringat keduanya terus saja bercucuran.


"Kamu yang terbaik sayang...aku menyukainya." Puji Alvin.


"Kamu malu? Bahkan aku sudah melihat setiap inci tubuh kamu." Bisik Alvin.


"Alvin...!" Teriak Mikha.


Alvin menarik selimut yang menutupi wajah malu - malu Mikha.  "Wajah kamu merona sayang..." Ucap Alvin sambil membelai wajah Mikha.


Mikha hanya tersenyum sambil memeluk Alvin. "Good nite Baby!" Ucap Alvin lagi.


"Good nite!" Kemudian keduanya sudah memejamkan mata mereka masing - masing. Malam panjang dan panas mereka berdua akhirnya berakhir juga, tapi hujan diluar sana tak kunjung berhenti.


*******


Keesokan harinya...


Ponsel Mikha berbunyi, dengan mata yang masih terpejam Mikha meraba - raba untuk mencari keberadaan ponselnya dimana. Setelah berhasil menemukannya Mikha segera mematikan bunyi Alarm nya yang sangat bising sehingga menganggu dirinya yang masih sangat lelah dan mengantuk. Mikha kembali untuk tertidur sambil memeluk Alvin.


Hingga ponselnya kembali berdering lagi, Mikha yang merasa sangat terusik akhirnya menatap layar diponselnya.


'Kak Ara!' Ucap Mikha sambil membulatkan kedua matanya.


Mikha menjawab panggilan telepon dari Ara, "Pagi pengantin baru...gimana tadi malam?" Goda Ara yang tentu saja langsung membuat pipi Mikha kembali memanas.


"Kak Ara! Jadi Kakak tau ya?"


"Iya...kan Alvin cerita semua rencananya sama Kakak....! Duh iri banget deh. Biar Kakak tebak ya, pasti saat ini kamu dan Alvin saling berpelukan?" Goda Ara lagi.


"Kak...jangan buat Mikha makin malu dong..."


Ara tertawa dari seberang sana, "Alvin masih tidur Mik?"


"Iya Kak...Kakak ada perlu biar Mikha bangunin Alvin?"


"Gak usah deh, ntar aja dirumah. Oh iya selamat bersenang - senang ya untuk kamu dan Alvin! Happy for you!"


"Iya Kak thanks ya..."


"Siapa sayang...?" Tanya Alvin dengan mata masih terpejam.


"Udah dulu ya Kak...sampai ketemu dirumah." Ucap Mikha dengan cepat lalu segera mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kamu udah bangun daritadi?" Tanya Alvin lagi.


"Gak kok baru aja ketika mendengar ponsel aku berdering." Ujar Mikha dengan jujur.


"Oh begitu..." Alvin kembali memeluk tubuh Mikha seakan tidak ingin berpisah dengan Mikha.


"Vin...bangun dong! Aku mau mandi dan harus pergi kerja." Rengek Mikha.


"Gak usah kerja deh hari ini sayang...aku masih kangen sama kamu." Pinta Alvin.


"Gak bisa dong Vin, aku kan harus profesional juga! Ayo dong kamu bangun." Rengek Mikha terus menerus sambil berusaha untuk melepaskan diri dari Alvin.


"Gak akan..." Jawab Alvin.


Kemudian Alvin langsung memberikan morning kiss kepada Istrinya yang menurutnya sangat cerewer itu. Mikha terdiam beberapa saat.


"Ih Alvin...ayo dong bangun..." Ucap Mikha sambil memukul - mukul lengan Alvin.


"Aku masih mengantuk sayang..."


"Oke...kalau begitu lepasin aku, aku mau mandi Vin..." Pinta Mikha.


"Ah kamu, aku masih ingin seperti ini dengan kamu Mikha...kamu tau tidak berapa lama aku harus menahan rasa kangen aku sama kamu? Ayolah untuk kali ini saja kamu permisi tidak masuk bekerja ya?" Alvin menatap Mikha sambil terus memohon.

__ADS_1


"Tapi Vin..."


"Gak ada tapi - tapian, seharusnya kamu itu harus nurut dong apa kata suami kamu ini."


"Dasar mau menang sendiri!"


"Oke baiklah aku akan izin gak masuk bekerja." Ucap Mikha akhirnya ya walaupun dia sebenarnya benar - benar merasa tidak enak hati, ya walau bagaimanapun dirinya baru saja bekerja dan sekarang harus minta izin dengan alasan konyol karena suaminya kangen dengan dirinya? Tapi tidak mungkin Mikha mengatakan yang sebenarnya kan? Mikha meminta izin sakit agar tidak mendapatkan banyak pertanyaan dari kantornya lagi.


"Sudah puas? Kalau begitu bisa kamu melepaskan aku sekarang?" Ujar Mikha.


"Belum..." Ucap Alvin lalu menindih Mikha.


"Alvin..apa yang ingin kamu lakukan lagi?" Ujar Mikha.


Alvin hanya tersenyum menyeringai saja lalu memegang erat kedua tangan Mikha diatas kepala Mikha. "Ehmmm...aaa...hentikan Vin..." Teriak Mikha sambil terus mendesah tanpa henti.


Alvin tidak mendengarkan ucapan Mikha, Alvin malah semakin bernafsu ketika mendengarkan suara desahan demi desahan yang keluar dari bibir Mikha. Alvin benar - benar terbuai olehnya. Dan akhirnya Mikha sudah tak kuasa lagi menahan diri, Mikha hanya pasrah dan menikmati permainan yang diberikan kembali oleh suaminya. Karena Mikha sangat meyakini kalau menolak permintaan suami tentang berhubungan itu tidak boleh. Istri harus melayani keinginan dari Suaminya, kapanpun Suaminya menginginkannya.


CUP


Alvin kembali mendaratkan kecupan dikening Mikha, "I love you!" Ucapnya lagi.


Mikha terbuai selama beberapa saat dengan pesonanya Alvin, "KAMU!" Ucap Mikha.


"Ya sayang..."


"Apa kamu masih menginginkannya? AKu bersedia kok..." Goda Alvin yang tentu saja langsung membuat pipi Mikha kembali memanas.


"Dasar mesum!" Celetuknya.


Sedangkan Alvin hanya tersenyum nakal saja melihat tingkah istrinya itu. Dan ketika Mikha ingin bangkit dari tidurnya, didaerah sensitifnya terasa begitu ngilu dan perih. "Aww..." Ucapnya.


"Kamu kenapa Mik? Tanya Alvin dan langsung saja duduk sambil memegangi Mikha.


"Sakit..." Ucapnya manja.


Seakan bisa mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh Mikha, Alvin tak henti hentinya meminta maaf.


"Ya udah kamu istirahat saja dulu ya sampai keadaan kamu membaik, aku pergi membeli sarapan untuk kita ya." Ujar Alvin yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Mikha yang kini sudah tidak berdaya.


Alvin langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu setelah itu dia pergi keluar untuk mencari sarapan karena kini perutnya sudah terasa lapar dan keroncongan. Setelah kepergian Alvin, Mikha mulai berusaha untuk merangkak sambil terus memegangi sesuatu untuk bisa membuat dirinya mampu untuk berdiri.


Mikha memutuskan untuk membersihkan dirinya juga, betapa kagetnya Mikha ketika melihat dirinya dari pantulan cermin yang berada didalam kamar mandinya, Seluruh tubuh Mikha ditandai dengan kissmark yang diberikan oleh suaminya itu.


"ALVIN!" Teriaknya.


"Bagaimana caranya agar tanda merah - merah ini menghilang?" Ujarnya sambil memegangi dan seketika ingatan tentang malam panas itu kembali masuk kedalam kepalanya.


Senyuman diwajah cantik Mikha tanpa henti - hentinya terus saja mengembang. Pipinya kembali terasa begitu memanas.


"Apa yang sebenarnya sedang aku pikirkan? Dasar pikiran kotor! Pergi menjauh dariku." Ucapnya dengan kesal.


Mikha memutuskan untuk berendam selama beberapa waktu sebelum Alvin kembali, Mikha masih tidak menyangka kalau dirinya dan Alvin telah melangkah begitu jauh. Tapi dirinya benar - benar mencintai sosok Alvin. Apalagi Alvin memperlakukan Mikha seolah - olah dianya dewinya.


Setelah selesai berendam, Mikha membersihkan dirinya dengan menggunakan shower yang dibiarkan untuk membasahi dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Dan setelah merasa cukup, Mikha mengenakan piyama mandinya lalu berjalan merangkak keluar. Daerah sensitifnya benar - benar terasa begitu nyeri, sakit dan sukar untuk dijelaskan.


Kini Mikha sedang memandangi luar halaman rumahnya, 'Ini rumah siapa sih? Kok indah banget?' Mikha terus saja keluar dari kamar dengan tidak menggunakan sendal, Mikha menuju kearah kolam renang dimana tempat lilin - lilin yang tadi malam dilihatnya.


Senyuman Mikha terus saja mengembang dari wajah cantiknya itu. Tanpa sadar ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. "Alvin!"


"Ya sayang...kamu ngapain berdiri disini sambil senyum - senyum sendirian? Hayo pasti kamu lagi mikirin hal yang kotor ya?" Goda Alvin.


"Gak! Aku kan gak seperti kamu..."Balas MIkha sambil melepaskan pelukan Alvin.


"Oh iya?"


"Iya Tuan Alvin! Dimana sarapanku?" Balas Mikha.


"Ada disini sayang...!" Goda Alvin.


"Alvin!" Ucap Mikha.


"Ya udah yuk kita masuk sayang," Ajak Alvin sambil mengenggam jemari Mikha untuk mengikutinya kembali masuk kedalam rumah. Didalam rumah Alvin yang sudah membuka bungkusan mie gorengnya itu akhirnya menyuruh Mikha untuk menghabiskannya.


"Selamat makan...!" Ucap Mikha dengan sangat antusias.


Alvin dan Mikha menikmati sarapan mereka, seusai makan keduanya memutuskan untuk menonton TV sambil terus bermesra - mesraan dan saling tidak ingin berpisah walaupun sesaat saja. Mikha dengan manjanya menyederkan kepalanya dibahunya Alvin.


"Kamu masih ingat betapa lucunya kita dulu?" Tanya Alvin.


"Tentu saja aku mengingatnya! Lucu ya kalau ingat betapa bencinya kita satu samal lain?" Ujar Mikha.


"Iya sayang...kalau saja kita cepat menyadari perasaan kita satu sama lain pasti tidak akan seperti ini." Ujar Mikha sambil menerawang dan menngingat kejadian yang terlalu banyak sekali yang sudah keduanya lalui.


"Kamu tau gak Mik kalau kamu dulu itu menyebalkan sekali?" Ujar Alvin tiba - tiba.


"Oh iya? Lalu kenapa kamu menyukaiku?" Balas Mikha.


"Aku juga tidak mengetahuinya kenapa aku bisa menyukai wanita menyebalkan seperti kamu." Ujar Alvin secara jujur.


"Oh begituu....!"


"Tapi itu kan dulu sayang...lagian kalau tidak ada masalalu kita tidak akan mungkin bisa bersatu seperti ini."


"Iya kamu benar...kamu juga dulu nyebelin banget! Aku benar - benar membenci kamu yang bertingkah seperti playboy!" Ujar Mikha.


"Kamu tidak suka? Kenapa?" Tanya Alvin.


"Aku tidak suka melihat seorang pria yang suka mempermainkan hati wanita. Itu yang membuat aku muak setiap kali melihat kamu Vin."


"Waduh...jujur banget kamu sayang.." Ujar Alvin sambil mencubit gemas pipi Mikha.


"Ih sakit tau!"


"Oh iya gimana itu kamu? Apa masih sakit? Sorry ya!" Ujar Alvin penuh penyesalan.


"Ehemmm..." Mikha berdehem aja tanpa ingin menjelaskan secara rinci tentang rasa sakit yang dirasakannya.


Kemudian Mikha seolah teringat sesuatu, "Vin...tadi Kak Ara nelepon terus dia nyariin kamu...sepertinya ada hal yang sangat penting." Ujar Mikha.


"Oh iya? Ya udah ntar setelah kita pulang baru aku tanyain deh sama Kak Ara."


"Mik..."


"Hmmm..."


"Kamu percaya sama aku kan?" Tanya Alvin.


"Iya percaya kok. emangnya kenapa Vin?" Tanya Mikha sambil memandang wajah Alvin.


"Kedepannya apapun yang terjadi kamu harus percaya sama aku ya? Aku tidak akan pernah mau menyakiti kamu! Kamu bisa berjanji kan sama aku?"


"Iya iya aku janji kok kalau aku akan selalu percaya sama suamiku ini."


"Thanks!"


'Maaf Mik...aku belum bisa bilang tentang Clara sama kamu saat ini...karena hari ini hari bahagia kita berdua, tapi kamu tenang saja aku akan secepatnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya ingin kamu percaya sama aku aja itu udah lebih dari cukup kok.' Batin Alvin lirih.


*******


Sebentar lagi akan kembali ke kenyataan ya pemirsah! Heheh


Semua semua kebusukan Clara cepat terungkap!

__ADS_1


Happy reading guys!


__ADS_2