
Suara ketukan pintu di depan sana berhasil membuat Kiana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap membuka mata sampai mendapati pemandangan indah dimana kedua laki-laki tampan berbeda generasi yang bagaikan pinang dibelah dua itu nampak tertidur pulas di sampingnya.
Tak puas sekali saja memandangi keindahan itu, Kiana terus menatap dua wajah tampan kesayangannya bergantian.
Kembali ia mendengar suara ketukan yang membuatnya untuk cepat-cepat mengumpulkan kesadaran diri. Dengan segera Kiana turun dari pembaringan melangkahkan kaki untuk membukakan pintu melihat siapakah gerangan yang berada dibalik sana.
"Ya, tunggu sebentar," Kiana berseru menghampiri daun pintu seraya merapihkan penampilannya saat itu. "Mama?" ucap Kiana sedikit terkejut, ternyata ibu mertuanya lah yang sejak tadi mengetuk daun pintu kamar Bian.
"Ki, Mama nggak ganggu kalian kan?" ujar Bu Ajeng memamerkan senyuman menggodanya.
"Eh? Ng... nggak kok Ma," jawab Kiana sedikit kikuk.
"Syukurlah kalau Mama nggak ganggu kalian. Soalnya sejak tadi Mama Papa tunggu kalian di meja makan tapi nggak ada kelihatan."
"Meja makan?" tanya Kiana dengan sedikit mengerutkan dahinya.
"Iya, ini waktunya makan malam. Apalagi kalian belum ada makan sejak tadi siang. Ayo, kita makan dulu sama-sama. Mbok dan Mbak Rini sudah siapin makanannya di meja."
"I-iya, Ma." Kiana merasa sungkan dan malu pada ibu mertuanya itu. Bagaimana tidak, baru hari pertama ia kembali pulang sebagai seorang menantu dari istri tuan muda rumah itu, tetapi ia sudah seperti mencerminkan seorang menantu yang tidak dapat berperan di rumah itu.
"Al mana, Ki? Mama kangen sama cucu Mama itu. Boleh Mama gendong bawa dia ke bawah?"
"Al masih tidur, Ma."
"Oalah, ternyata." ucapnya dengan kekehan kecil. Bu Ajeng melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan cucunya di dalam sana. "Bapaknya juga masih tidur, Ki?" tanyanya lagi saat melihat Bian yang ternyata tengah bergelung nyaman memejamkan mata di pembaringan memeluk anaknya.
"I-iya, Ma." balas Kiana meringis mendapat pertanyaan tersebut. Ia ikut menoleh ke arah anak dan suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Ya sudah, Mama tunggu di meja makan." ucap wanita paruh baya itu dan melenggang pergi. Namun baru saja beberapa langkah meninggalkan Kiana yang masih berada di pintu, ia sempat menoleh ke arah menantunya itu.
"Oh iya Ki, kamu harus banyak bersabar ya mulai sekarang saat membangunkan Bian." ucapnya sekali lagi sebelum beranjak pergi dengan sebuah senyuman.
Kiana hanya mampu membalasnya dengan senyuman sembari meringis. Ia menghela napasnya sesaat setelah kembali menutup pintu kamar dan menghampiri anak dan suaminya.
"Pak," panggil Kiana membangunkan Bian yang terlihat masih nyaman dalam lelapnya.
Kiana menghela napas pelan saat mengingat apa yang baru saja ibu mertuanya itu bilang tentang suaminya.
"Mas, bangun dulu, ini udah malam." Kiana menggoyangkan bahu Bian dengan pelan berharap suaminya itu akan segera bangun tanpa ada drama seperti apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya.
"Emmm..." Bian menggeliat saat merasakan sentuhan di bahunya. Perlahan ia pun membuka matanya dengan agak sedikit menyipit. Cahaya lampu kamar yang silau mengaburkan pandangannya, akan tetapi ia dapat melihat samar-samar wajah cantik istrinya.
"Bangun,"
Bian hanya tersenyum saat menatap wajah Kiana yang tengah menyuruhnya untuk bangun tapi terdengar begitu sensual di telinganya.
"Aku ketiduran," ucap Bian dengan cengiran manisnya yang khas, belum lagi ditambah muka bantal dan suara seraknya yang terlihat begitu sangat lucu.
Kiana merapatkan bibirnya menahan senyum.
"Mama barusan kesini," Kiana bersuara untuk memberitahukan.
"Mama?" tanya ulang Bian dengan dahi mengkerut. "Habis ngapain Mama ke sini?"
"Mama bilang makan malam udah siap. Mas udah ditunggu di bawah buat ikut makan."
"Oh..." pria itu hanya membulatkan bibirnya santai seraya bangkit dari tempatnya. "Ya udah, kita siap-siap sekarang. Ini anaknya nggak dibangunin dulu?" ujarnya mengusap lembut pipi bayi kecilnya.
"Mungkin sebentar lagi Al bangun. Lebih baik Mas cepetan siap-siap, nggak enak kalau Mama sampai naik lagi ke sini buat ngasih tahu."
"Iya-iya, sayang..." Bian berjalan mengitari tempat tidur kemudian mendekati Kiana yang hendak meraih Al, nampaknya bayi tersebut mulai bangun dan menggeliat dari tidurnya.
__ADS_1
Cup.
Satu kecupan Bian daratkan di pipi mulus Kiana secara tiba-tiba yang mana sang empunya hanya mampu membulatkan matanya. Wajahnya seketika memanas, merah merona sudah pasti akibat ulah jahil suaminya itu.
"Mas!" pekik Kiana dengan suara tertahan.
Bian tertawa kecil mendengar Kiana yang protes atas tingkahnya.
"Kecupan sayang setelah bangun tidur itu wajib mulai dari sekarang," ucapnya seraya berjalan masuk ke kamar mandi dengan kekehan kecil karena berhasil membuat istrinya tersipu malu.
*
*
*
Kiana dan Bian menghampiri meja makan dengan langkah kaki yang beriringan. Sepertinya sepasang suami istri itu nampak ingin memamerkan kemesraan mereka dihadapan banyak mata. Lebih tepatnya sih Bian, Kiana cuma hanya bisa menunduk menuruti perkataan suaminya itu.
"Pokoknya kita haru kayak gini terus, nggak boleh tuh yang namanya seorang suami biarin istrinya jalan tertinggal di belakang." ujar Bian saat kedua insan yang dimabuk cinta itu keluar dari kamarnya.
"Ada Mama dan Papa, Mbak Fira juga, Mas." balas Kiana.
"Ya nggak apa-apa mereka lihat kita kayak gini, kan udah halal. Bebas dong Mas mau ngapain istrinya juga."
"Tapi aku malu,"
"Nanti juga terbiasa. Mendingan kita turun, udah lapar kan?" tanya Bian seraya menarik Kiana untuk berjalan beriringan.
Terlihat jelas di sepanjang melangkah tak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya pada Kiana saat menuruni tangga dengan sebelah tangan yang sibuk memangku Al yang mulai aktif tak bisa diam.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap Fira yang berada duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya. "Laper tahu nggak," kicaunya lagi yang mana gadis itu malah sudah makan duluan sejak tadi.
Bian sepintas mencibir menatap adiknya itu yang memperlihatkan wajah cemberutnya dengan senyum yang seolah meledek.
"Baru bangun banget loh ini aku Oma." Bian menirukan suara anak kecil untuk menjawab kalimat ibunya yang terlihat sedih.
"Padahal Mama pengen banget gendong Al dari tadi," ungkapnya dengan wajah sedihnya. "Al beneran nggak mau sama Oma nih?" ucapnya lagi pada bayi itu yang semakin menyembunyikan wajahnya. Akhirnya wanita paruh baya itu pasrah dengan keinginannya untuk menggendong cucu tampannya itu.
"Lho, kamu mau kemana, sayang?" tanya Bian saat melihat Kiana melengos pergi begitu saja.
"Ke belakang, Pak." jawab Kiana pelan.
"Mau ngapain? Sini duduk bareng aku,"
"Bantu Mbok, kasian pasti repot sendirian."
"Nggak usah nanti aja, sekarang kita makan dulu." Bian menarik kursi untuk istrinya duduk. "Lagian kamu belum ada makan dari siang. Mau makan sama apa?" tawar Bian yang terlihat siap untuk menuang berbagai jenis masakan yang terlihat menggugah selera.
"Biar Al sama saya aja, Bapak bisa langsung makan." ungkap Kiana ingin meraih bayinya.
"Nggak usah, kamu duduk, makan dulu sekarang. Lagian kenapa sekarang jadi panggil Bapak lagi sih? Kemarin-kemarin udah panggil Mas," sungut Bian merajuk dihadapan kedua orang tuanya.
Kiana meringis saat mendapati Bu Ajeng dan Pak Hardi saling bertukar pandang menyaksikan tingkah anak lelakinya itu. Safira hanya terkekeh disela-sela aktifitas makan malamnya.
Kiana sungguh malu saat itu juga, ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah bersemu merah.
"Sebaiknya kita makan sama-sama, nggak baik menunda makan terlalu lama." sahut Pak Hardi yang tak tahan menahan senyumannya.
"Ayo duduk Ki, benar apa kata suami kamu. Makan dulu," ajak Bu Ajeng.
"Ayo sayang," Bian meraih tangan Kiana dan membawanya untuk duduk disampingnya.
__ADS_1
"Aku udahan deh, Al sama aku aja ya Kak?" sahut Fira yang sudah menyelesaikan makannya.
"Udah selesai? Itu belum habis, Ra." sahut Bu Ajeng.
"Udah kenyang Mama, aku kan lagi diet." tuturnya.
"Mana ada diet tapi makannya banyak." jengah Bian menyindir adiknya.
"Udah deh Kakak nggak usah nyinyirin aku, sini Al sama aku aja. Boleh kan Kak Kia?" ucapnya dengan lembut dengan sorot mata yang berbinar.
"Eh?" Kiana bengong dibuatnya. Merasa aneh dan tak enak hati karena kini adik suaminya itu telah merubah panggilan nama untuknya.
"Ayo ganteng, sama aunty dulu oke. Duh... anak siapa ini kok ganteng banget sih? Anak siapa coba?" gemas Fira yang kini berhasil membawa Al untuk ia ajak bermain.
"Ya anak Bapaknya lah, kamu nggak lihat Al mirip banget sama Kakak?"
"Sensitive banget Papa kamu Al, udah kayak cewek baru dapet tamu bulanan aja." timpal gadis itu memberenggut.
"Bapak! Al panggilnya Bapak! Jangan macem-macem kamu ngajarin anak Kakak panggil Bapaknya aneh-aneh!" ucap Bian tak terima.
"Dih, malah ngambek." cibir Fira pada kakaknya. "Udah yuk ah ganteng, kita main aja." dengusnya seraya pergi meninggalkan meja makan.
Terdengar pria itu mendenguskan nafasnya dengan kasar.
"Biar saya aja, Pak." ucap Kiana yang melihat Bian terus melayaninya.
"Nggak apa, Mas juga kan pengen manjain kamu, Kia." balas Bian yang tak terlalu menghiraukan. Tapi dalam sekejap mata Kiana sudah mengambil alih apa yang sedang pria itu lakukan untuknya. Bian hanya bisa menghela napas dan menyunggingkan senyuman berartinya.
"Kamu yakin?" tanya Pak Hardi.
"Apa?" Bian menoleh pada ayahnya.
"Al panggil kamu Bapak?"
"Memangnya kenapa, Pa? Ada yang salah?" ujar Bian menatap wajah senja ayahnya yang masih terlihat sangat bugar.
"Ya nggak ada juga. Banyak orang tua muda diluaran sana yang menyematkan nama panggilan kekinian untuk anak-anaknya. Tapi kamu Bi,"
"Bian kenapa emang?" pria itu nampak mengerungkan dahinya seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Unik," timpal Pak Hardi dengan kekehan tawa kecil yang diikuti oleh istrinya.
Bian yang mendengar hal tersebut memasang wajah masam seketika.
"Panggilan Bapak nggak kalah keren juga kok dibanding yang lain. Bian suka kalau Al dan anak-anak Bian nantinya panggilnya Bapak."
"Iya-iya, Papa kan nggak bilang jelek atau nggak boleh, Bi. Yang terpenting selama itu masih terdengar sopan dan menghargai anak kepada kita sebagai orang tuanya, ya kenapa tidak. Papa cuma nggak habis pikir aja,"
"Tentang?"
"Papamu ini kira kamu bakalan suka dipanggil Daddy, iya kan Pa?" sahut Bu Ajeng ikut menimpali. Pak Hardi menganggukkan kepalanya.
"Hah? Daddy" Bian membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka. Tampak Bian seperti tengah berpikir serius. "Nggak ah, Bian tetep suka dipanggil Bapak aja, iya kan Bu?" tanyanya yang beralih pada Kiana yang tengah makan dalam keheningan sembari memperhatikan. Tentu saja gadis itu kini gelagapan dibuatnya.
"Kamu pernah bilang kalau Mas mu ini paling suka dipanggil Bapak? Iya kan?" Bian sengaja menggoda Kiana yang semakin tersipu malu dibuatnya.
"Pak--" ucap Kiana yang tercekat. Semakin dibuat kikuk saja Kiana dihadapan kedua mertuanya. Kenapa sih suaminya itu senang membuatnya tersipu malu? Kalau bisa, ingin rasanya Kiana melarikan diri dari hadapan mereka.
"Anakmu Pa, gayanya sekarang dipanggil Mas." kekeh Bu Ajeng.
Bian cuma nyengir saja dengan ketampanannya yang sama sekali tidak berkurang, saat melihat senyuman dari orang-orang terkasihnya yang penuh memenuhi ruangan.
__ADS_1
Satu tangannya yang berada di bawah meja, ikut bereaksi untuk mengelus dan memijat pelan permukaan paha istrinya yang mana membuat sang empunya terkejut.