
Alan ketiduran disamping tempat tidur Mamanya, tangannya masih dipegangi oleh Sang Mama sampai membuat Alan tidak bisa pergi. Dering ponselnyalah yang akhirnya menyadarkan Alan dari tidurnya itu. Alan mulai membuka matanya kemudian secara perlahan melepaskan tangannya dari Sang Mama.
Alan berjalan keluar kamar Mamanya lalu menjawab panggilan teleponnya itu,
"Halo..."
"Oke...oke saya segera kesana sekarang juga!"
Ketika Alan ingin melangkahkan kakinya untuk keluar meninggalkan kediaman orangtuanya itu, Papa Alan yang melihat Alan berjalan pergi seperti seseorang yang sedang terburu - buru akhirnya menghentikan langkah sang Anak.
"Alan...mau kemana kamu?" Tanya Papanya sambil berjalan kearah Alan.
Alan menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya, "Alan harus pergi dulu Pa. Nanti Alan pasti bakalan balik kok...Alan harus pergi kerumah sakit sekarang juga." Ujar Alan yang mengatakan yang sebenarnya.
"Lalu gimana nanti kalau Mama kamu terbangun dan melihat kamu tidak ada disampingnya? Pasti Mama kamu akan histeris. Apa yang harus Papa katakan?" Tanya Papanya lagi dengan wajah bingung.
"Papa tenang aja ya...nanti setelah urusan Alan selesai, Alan langsung balik kerumah lagi kok." Alan kembali meyakinkan Papanya.
"Kamu janji ya Lan..." Ucap Papanya yang tidak bisa untuk menghalangi kepergian dari Alan.
Alan mengangguk dengan sangat mantap, "Iya Pa, Alan janji kok. Alan pergi sekarang ya..." Pamit Alan lalu buru - buru pergi dari kediaman orangtuanya.
Alan melajukan mobilnya dengan sangat cepat agar dirinya cepat sampai dirumah sakit. Begitu sampai dirumah sakit, Alan memarkirkan mobilnya lalu berjalan dengan buru - buru masuk kedalam. Sesampainya disana, Alan bergegas menuju kedalam ruangannya, disana sudah diletakkan sebuah amplop hasil dari test DNA. Tanpa menunggu lagi, Alan langsung masuk kedalam ruangannya, Alan langsung memegang amplop itu.
Pada saat ingin membuka amplop itu, perasaan Alan semakin tidak karuan, detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan terasa begitu anehnya, sebelumnya Alan menarik nafasnya dengan perlahan.
'Oke sekarang akhirnya aku bisa mengetahuinya....semoga hasilnya sesuai dengan apa yang aku harapkan.' Batin Alan.
Alan langsung membuka amplop itu dengan sangat berhati - hati, kini Alan memejamkan kedua matanya, lalu secara perlahan Alan mulai mengintip dan memberanikan dirinya untuk melihat hasil test DNA nya yang kini tengah berada didalam genggaman tangannya itu.
Kedua bola mata Alan tidak henti - hentinya melotot melihat nama yang tertera di kertas itu, Alan sudah tidak bisa lagi berkata apa - apa, kakinya terasa sangat lemas, Alan memutuskan untuk duduk sambil terus menatap hasil test DNA nya itu dengan mata yang sudah mulai berbinar - binar akibat masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya itu.
'Dengan ini aku pastikan kamu tidak akan bisa mengelak lagi Cla....!' Batin Alan.
Alan segera menghubungi Alvin untuk memberitahukan hasil test DNA nya sudah keluar. Begitu mendapatkan kabar dari Alan, tentu saja Alvin dengan terburu - buru langsung pergi menuju kerumah sakit. Alvin tidak ingin membuang - buang waktunya lagi.
"TOKTOTKTOK!"
Kini Alvin sudah berada didepan pintu ruangan Alan, dengan segera Alan membukakan pintu ruangannya itu.
"Masuk Vin!" Pinta Alan.
"Gimana hasilnya Lan? Tanya Alvin dengan sangat penasaran.
"Silahkan duduk dulu Vin..." Alan berusaha untuk membuat Alvin sedikit lebih tenang lagi.
"Gimana aku bisa tenang..." Ujar Alvin.
"Ini amplopnya, mendingan kamu buka sendiri saja amplopnya." Alan menyerahkan amplop hasil test DNA nya kepada Alvin.
Dengan segera Alvin langsung membuka amplop yang diberikan Alan kepadanya. Seketika raut wajah Alvin sudah berubah, Alvin menatap Alan. "Ini...ini benar Lan?" Tanya Alvin masih ingin memastikannya sekali lagi.
Alan meganggukan kepalanya dengan penuh keyakinan membuat wajah Alvin seketika tersenyum.
"Aku bilang juga apa Lan, Anak itu bukan Anakku! Biarpun aku mabuk aku masih tidak akan pernah melakukannya bila aku tidak menginginkannya." Ucap Alvin dengan sangat bersemangat.
"Iya tapi aku masih belum habis pikir kalau kamu ada hubungan dengan Clara dibelakangku!" Balas Alan yang sangat cemburu dengan kedekatan Alvin dan Clara tanpa sepengetahuan dirinya.
"Kalau soal itu aku minta maaf deh Lan! Yang penting semuanya udah jelas kan...Anak yang dikandung oleh Clara itu adalah Anak kamu Lan." Ujar Alvin sambil menepuk bahu Alan.
Alan hanya tersenyum penuh kebagahagiaan, dia masih tidak menyangka kalau dia akan segera menjadi seorang Papa dengan usia yang semuda ini.
"Kamu harus jelasin tentang ini sama Mikha segera Vin, sebelum Mikha semakin salah paham lagi dengan kamu!" Balas Alan.
Alvin masih terlihat ragu - ragu, pasalnya Mikha marah bukan hanya soal ini saja, karena dari awal Alvin tidak pernah berkata jujur kepadanya. Bahkan sekarang Mikha memang sudah meragukan Alvin. Raut wajah Alvin murung seketika.
"Kenapa lagi Vin? Bukankah semua masalah sudah selesai sekarang? Kenapa kamu malah murung lagi?" Tanya Alan yang masih tidak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan oleh Alvin barusan.
Alvin menghela nafasnya dengan berat, "Masalahnya tidak sesederhana itu Lan! Dari awal aku udah tidak jujur sama Mikha...itu adalah hal yang paling dibenci oleh Mikha. Karena dari awal Mikha sudah mengatakan sama aku kalau dia paling tidak suka bila dibohongi dan aku telah melakukan hal yang paling dibenci oleh Mikha." Jelas Alvin dengan wajah yang tidak bersemangat lagi.
"Aku yakin dan percaya kalau Mikha akan memberikan kamu kesempatan Vin. Kamu tinggal tunjukkin aja keseriusan kamu Vin. Aku yakin Mikha akan melihat ketulusan yang kamu tunjukkan kepadanya." Ujar Alan sambil menepuk nepuk bahu Alvin.
"Hmmm...begitu ya Lan, ya udah deh ntar aku coba dulu! Semoga saja Mikha bisa memberikan aku kesempatan ya." Ujar Alvin
"Lo sendiri gimana dengan Clara?" Tanya Alvin.
"Gimana apanya? Maksud kamu Vin?" Ujar Alan dengan menggerlitkan alisnya.
"Iya gimana kelanjutan hubungan kamu sama dia?" Tanya Alvin lagi yang membuat Alan hanya diam. Jujur Alan sendiri masih tidak tau gimana kejelasan hubungan dirinya dengan Clara, sejujurnya dia ingin sekali untuk kembali lagi kepada Clara apalagi saat ini dirinya telah mengetahui kalau Clara sedang mengandung Anaknya. Alan hanya melamun saja sambil berpikir keras.
"Aku yakin kamu mampu untuk meyakinkan Clara kembali, aku juga yakin kalau sebenarnya jauh didalam hati Clara masih ada kamu Lan! Aku harap kalian segera berbaikan dan menikah." Alvin mendoakan yang terbaik untuk Alan.
"Hmm...kalau itu memang harapan dan keinginan aku Vin....tapi sepertinya tidak akan semudah itu." Balas Alan sambil tersenyum.
"Pasti akan ada jalannya Lan! Kamu lihat kan gimana masalah aku dengan Mikha sekarang? Sangat tidak mudah, tapi ada jalan untuk menyelesaikannya. Begitu juga dengan masalah kamu Lan!" Alvin terus meyakinkan Alan untuk membuat Alan kembali bersemangat dan berjuang untuk meraih kebahagiaannya sendiri.
"Thanks ya Vin! Aku janji aku akan berjuang kembali untuk Clara dan Anak kami berdua." Balas Alan.
"Kalau begitu hasil test ini aku bawa ya...aku ingin menunjukkannya secara langsung kepada Mikha!" Ujar Alvin sambil memegang kertas hasil pemeriksaannya.
"Silahkan! Oh iya semoga kamu dan Mikha cepat berbaikan ya dan cepat nyusul juga mempunyai Anak!" Balas Alan.
"Tenang saja Bro! Itu sudah pasti. Ya udah kalau begitu aku pulang dulu ya..." Ujar Alvin dengan sangat bersemangat.
"Iya Vin...sukses bujuknya ya!"
Setelah itu Alvin bergegas untuk kembali kerumah, dia sudah meminta izin dari kantor untuk pulang jauh lebih awal lagi karena dia ingin menyambut Mikha kembali kerumah. Entah apa yang sedang dipersiapkan oleh Alvin untuk melancarkan dirinya meminta maaf kepada Mikha.
Alvin terus saja melihat kearah jarum jam yang berada dikamarnya, dia terus saja gelisah karena Mikha tak kunjung kembali. Alvin melupakan kalau hari ini ada pesta yang diadakan oleh Bosnya Mikha. Dalam hati Alvin selalu bertanya - tanya kenapa Mikha belum kembali juga. Dirinya ingin sekali untuk melepon atau sekedar mengirimkan pesan kepada Istrinya itu, hanya saja dia tau pasti kalau Mikha tidak akan membalas pesan dan menjawab teleponnya. Akhirnya Alvin hanya pasrah sambil tidur - tiduran didalam kamarnya.
__ADS_1
'Kenapa sih kamu belum kembali Mik? Kenapa kamu terus menghindar dari aku? Jujur aku sangat tersiksa melihat kamu menjauh seperti ini.' Ucap Alvin didalam hatinya.
"Vin...Alvin...."
Alvin mendengarkan kalau namanya saat ini sedang dipanggil dari luar, Alvin beranjak dari tidurnya lalu berjalan malas untuk membukakan pintu kamarnya. Alvin menatap Kakak iparnya saat ini sedang berdiri didepan pintu kamarnya dengan menggunakan gaun berwarna merah yang menyala dan dengan riasan wajah yang terlihat begitu elegan dan anggun.
Alvin menggerlitkan alisnya, "Kak Ara? Kakak mau kemana?" Tanya Alvin.
"Kamu kok belum siap - siap sih Vin? Mendingan kamu bersiap sekarang sebelum Al kembali." Ara malah tidak menggubris pertanyaan Alvin barusan.
"Iya tapi kita mau kemana Kak?" Alvin mengulangi pertanyaannya kembali.
Ara beranggapan kalau Alvin sengaja untuk melupakannya karena dia tidak ingin bertemu dengan Mikha dipesta bosnya Mikha tersebut. Ara lalu menunjukkan undangan yang sedang dipegangnya itu.
"Kesini..." Jawab Ara singkat.
"Jadi Kak Ara dan Kak Al diundang juga? Astaga Kak, pantesan saja Mikha masih belum kembali juga dari kantornya." Alvin seketika menyadarinya.
"Ya udah sana cepat siap - siap! Kakak tunggu kamu dibawah ya, ingat cepat ya sebelum Kakak kamu kembali." Balas Ara sambil mendorong tubuh Alvin kembali masuk kedalam kamar.
Kemudian Ara pergi kebawah untuk meninggalkan kamar Alvin. "Kalau tidak dipaksa seperti itu pasti Alvin tidak akan mau pergi!" Gerutu Ara dengan kesal. Padahal Ara tidak mengerahuinya walaupun tidak dipaksa olehnya Alvin tetap akan pergi kesana untuk menemui Mikha.
Alvin mandi dengan cepat lalu keluar kamar mandinya, dia memilih setelan kemejanya dengan bingung. Entah hal apa yang sedang membuat dirinya bingung, padahal biasanya Alvin tidak seribet ini untuk soal pakaian yang dikenakannya. Hanya saja malam ini dia bingung sendiri. Alvin sudah membuat seisi pakaiannya yang berada didalam lemarinya berantakan.
"Aduh aku harus pakai yang mana ya?" Alvin terus menerus menatap dirinya didepan cermin besarnya itu.
"Kenapa jadi aku sih yang ribet sendiri?" Ucapnya lalu Alvin mengambil secara asal pakaiannya.
Pada saat Alvin sedang mengenakan pakaiannya, dia mendengarkan seperti pintu kamarnya sedang dibuka oleh seseorang, Alvin berjalan untuk melihatnya sambil mengancing pakaiannya.
Betapa terkejutnya Mikha menatap Alvin berada didalam kamanr juga, Mikha mengira kalau Alvin masih belum kembali. Kalau saja salah satu sesuatu yang sangat penting ketinggalan dikamarnya, dirinya pasti tidak akan kembali kerumah.
"Mikha..." Alvin berjalan mendekati Mikha.
Mikha mundur, "Jangan mendekat..." Ketus Mikha.
"Aku hanya ingin berbicara sama kamu sekarang Mik, please kasih aku waktu untuk menjelaskan semuanya." Dengan wajah memelas Alvin memohon kepada Mikha.
"Jangan sekarang...aku benar - benar tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasan kamu untuk saat ini Vin. Aku harap kamu mengerti ya." Ujar Mikha lalu dengan buru - buru mengambil barangnya yang tertinggal lalu pergi meninggalkan Alvin sendirian.
Sesampainya dibawah Ara langsung menghampiri Mikha, "Gak mau pergi bareng aja Mik? Kakak, Al dan Alvin juga mau kesana lho." Ara berusaha untuk membujuk Mikha.
"Tidak Kak...Mikha harus mengatur dan melihat semuanya dulu disana, Mikha adalah orang yang bertanggung jawab penuh dengan pesta ini Kak. Mikha duluan ya Kak. Mikha benar - benar sudah terlambat sekarang." Pamit Mikha sambil cipika cipiki dengan Kakak iparnya itu.
"Baiklah sayang...kalau begitu sampai bertemu dipesta ya!"
"Iya Mikha tunggu Kak Ara dan yang lainnya datang ya.." Mikha berjalan cepat untuk meninggalkan rumah.
Mikha kembali menaiki taksi yang memang sengaja untuk disuruh dirinya untuk menunggu dirinya. Mikha sempat menatap sebentar kebelakang.
"Jalan Pak!" Pintanya.
Lamunannya buyar seketika ketika dirinya mendapatkan panggilan teleponnya dari Bosnya, dengan segera Mikha langsung menjawab panggilan teleponnya.
"Ya Pak..."
"Kamu dimana Mik?"
"Saya sedang berada didalam perjalanan menuju kesana Pak...sebentar lagi juga saya sudah sampai."
"Oh ya udah kalau begitu....sampai bertemu disana ya."
"Baik Pak."
Setelah itu Mikha kembali untuk meletakkan ponselnya didalam tasnya.
Mikha sempat menatap dirinya didepan cermin kecil Miliknya, Mikha menggunakan lipstik berwarna bibir, dengan riasan yang dibuatnya senatural mungkin. Karena memang pada saat ini dirinya sedang tidak ingin berdandan sebenarnya, hanya saja itu tidak mungkin dilakukannya mengingat dirinya akan berada disebuah pesta.
Akhirnya Mikha sampai juga ditempat tujuannya, Setelah memberikan uang taksi Mikha turun dari taksi itu lalu dengan langkah yang sangat sulit karena saat ini dirinya sedang menggunakan gaun yang menjulang kebawah dengan belahan yang sangat terbatas untuk dirinya.
Iya Mikha tampil dengan elegan, dengan menggunakan gaun putih bergliter - gliter disetiap bagiannya, gaun yang sangat simple nan elegan ini yang membentuk seluruh lengkuk tubuh Mikha dengan sempunya.
Tidak lupa Mikha juga mengenakan anting - anting panjang bernuansa permata - mata kecil, dengan rambut yang sengaja untuk digerai olehnya. Tampilan sederhana Mikha mampu membuat semua mata tertuju kepadanya.
Entah mengapa kalau dirinya sudah berdandan, Mikha terlihat begitu memikat, Alvin juga telah menyadarinya sekarang kalau ternyata Sang Istri begitu cantik.
Mikha melangkah masuk kedalam gedung, Mikha memeriksa setiap bagian agar tidak ada kesalahan selama acara pesta berlangsung mulai dari hidangan yang tersaji, musik, penyanyi yang sengaja diundang, bahkan dekorasi disetiap penjuru. Setelah selesai memeriksa segalanya Mikha sudah bisa bernafas lega.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, itu artinya acara akan segera dimulai, tamu - tamu undangan satu persatu mulai datang kesini. Mikha menyambut tamu - tamu bosnya itu dengan ramah. Bahkan salah satu tamu undangannya ada dua orang wanita yang tidak kalah cantiknya dengan dirinya, saat ini sedang bersalaman dengan dirinya, Mikha merasa seperti pernah melihat keduanya, akan tetapi Mikha melupakan waktu dan tempatnya.
"Kamu lihat saingan kamu Cla....bagaimana? Kamu siap untuk melakukan pertunjukkan malam ini?" Bisik Tia.
Clara hanya mengangguk sambil tersenyum menatap Kakaknya itu.
"Bagus..kita harus menikmati pesta malam ini ya!" Balas Tia sembari tersenyum licik.
Dari kejauhan Alvin sudah melihat Mikha yang saat ini sedang tersenyum menatap semua tamu - tamu undangan, 'Andai kamu juga bisa tersenyum begitu kepadaku Mik...' Batin Alvin yang diam - diam merindukan senyuman manis dari Istrinya itu.
Al dan Ara jalan berdampingan sedangkan Alvin berjalan sendirian tepat dibelakang Kakaknya dengan terus menatap kearah Mikha.
"Mikha..." Panggil Ara sambil memeluk Adiknya itu.
"Kak Ara...." Balas Mikha. Kini tanpa disengaja Mikha melihat kearah Alvin, tatapan keduanya bertemu. Dengan cepat Mikha langsung memalingkan wajahnya. Tentu saja Alvin menyadari sikap dari Istrinya itu.
"Masuk gih Kak...nikmati pestanya ya...Kak Al juga ya! Selamat bersenang - senang." Ujar Mikha.
"Iya sayang pasti...kalau begitu sampai bertemu didalam ya!" Bisik Ara.
Sekarang giliran Alvin yang ingin menjabat tangan Mikha, Mikha seolah menghindar dari Alvin, "Semoga kamu suka sama pestanya. Silahkan masuk!" Ucap Mikha tanpa menatap Alvin.
__ADS_1
"Baiklah...setelah pesta ini selesai aku ingin membicarakan hal yang sangat serius sama kamu!" Bisik Alvin lalu melangkah masuk kedalam.
Didalam sudah sangat ramai, Mikha tidak menyangka kalau hampir semua tamu undangan yang diundang akan datang.
"Mikha..." Panggil Papa dan Mama Alvin.
"Papa...Mama!" Sapa Mikha sambil menyalami kedua mertunya itu.
"Iya sayang....kami juga datang."
"Kalau begitu selamat menikmati pestanya ya Pa, Ma!" Ujar Mikha.
"Iya Mik...sampai bertemu didalam ya!" Balas Mama mertuanya itu.
Mikha hanya menganggukka kepalanya saja. 'Kenapa keluarga besar William semuanya diundang ya? Kenapa aku tidak mengetahui tentang hal ini?" Batin Mikha.
Setelahnya Mikha masuk kedalam, Mikha duduk dikursi paling sudut agar Alvin tidak menemukan keberadaannya, hanya saja ketika acara pestanya telah dimulai, Bosnya datang dengan lampu yang sengaja dibuat untuk dapat menyorot penuh Bosnya itu.
"Halo semuanya...saya Alex bos baru di Ctra Delf, saya sengaja membuat pesta ini untuk lebih memperdekat lagi dengan kalian semuanya... semoga kalian semuanya menikmati pesta ini ya!" Setelah itu semua orang memberikan tepuk tangan yang sangat meriah utnk dirinya.
"Once again....happy party all!" Seru Alex kembali sebelum akhirnya dirinya turun dari panggung.
Semua tamu undangan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah lagi untuk dirinya. Alex menyalami beberapa tamu lalu duduk dan mengobrol dengan mereka.
"Vin...Bos barunya Mikha ternyata masih muda dan tampan ya! Awas lho hati - hati ntar istri kamu suka lagi dengan dia." Goda Ara.
Wajah Alvin langsung menatap Kakak iparnya itu dengan tajam.
"Kakak serius lho! Oh iya gimana sekarang hubungan kamu dengan Mikha? Masih belum baikan?" Tanya Ara yang masih bisa melihat kegalauan Alvin.
Alvin hanya mengangguk pelan.
"Kamu yang sabar ya! Kakak tau kamu akan terus berusaha dan berjuang kok untun kamu dan Mikha! Tetap semangat ya!" Ara menyemangati Adik iparnya itu.
"Thanks ya Kak! Alvin permisi ke toilet dulu ya." Ujar Alvin lalu berjalan menuju ke toilet.
Sesampainya didalam toilet, Alvin langsung membasuh wajahnya dengan air. Lalu Alvin menatap dirinya sendiri didepan cermin. 'Aku harus menjelaskan semuanya sama Mikha...harus! Semoga Mikha mau mendengarkan penjelasanku.' Batin Alvin.
Diam - diam Alvin merasa sangat ternganggu dengan tatapan Bosnya Mikha itu kepada Istrinya. Jujur dirinya benar - benar merasa sangat cemburu melihat Mikha tersenyum kepada Bosnya itu. Sedangkan dirinya hanya bisa melihat Mikha dari kejauhan saja. Alvin sudah tidak sanggup lagi melihat istrinya begitu ramah dan baik kepada pria lain.
Dan ketika Alvin ingin keluar dari toilet, Alvin melihat ada seorang wanita yang berdiri disana. Alvin mempertajam penglihatannya, dirinya benar - benar tidak salah untuk mengenali seseorang. 'Itu kan Clara! Tapi mau apa dia berada di pesta ini? Aku yakin pasti ada sesuatu yang sedang direncakan oleh Clara.' Pikir Alvin.
Alvin kembali masuk kedalam toilet lalu Alvin menghubungi seseorang melalui sambungan teleponnya. Setelah itu Alvin keluar dan berusaha cuek lalu mengabaikan Clara. Alvin hanya melewati Clara saja, Clara merasa sangat tidak terima karena Alvin mengabaikannya. Clara menahan tangan Alvin.
"Vin..." Panggil Clara.
"Lepas!" Ketus Alvin.
Clara tidak mendengarkan ucapan Alvin barusan, Clara masih saja berkeras untuk memegang tangan Alvin. Kemudian Alvin menatap Clara sebentar dengan tatapan tajamnya, "Aku bilang lepas! Jangan sampai aku mengulangi perkataan aku lagi..." Ancam Alvin.
Clara bergidik ngeri melihat tatapan tajam dari Alvin barusan, seketika Clara langsung melepaskan tangan Alvin. Kemudian Alvin kembali untuk melanjutkan perjalannya lagi tanpa menatap kebelakang.
Tatapan Clara semakin tajam, Clara bahkan telah mengumpati Alvin didalam hatinya. 'Dasar brengsek! Awas aja ya kamu Vin....! Aku akan membalas kamu! Tunggu saja!' Setelah mengumpati Alvin, Clara memutuskan untuk kembali lagi ke dalam gedung.
"Vin cepatan kesini..." Ara menarik tangan Alvin dan membawanya tepat dihadapan dengan Mikha. Keduanya sama - sama terkejut.
"Ini juga sebagian dari usaha lho Vin! Kamu gak mau kan membiarkan Mikha berdansa dengan pria lain?" Bisik Ara.
Alvin bahkan tidak memikirkan hal ini. Ara dan Al meninggakan keduanya. Alvin dan Mikha masih bersikap kaku satu sama lain.
"Aku pergi..." Kemudian ketika Mikha hendak pergi, Alvin menahan tangan Mikha sontak membuat Mikha menatap dirinya dengan tatapan yang tidak mengerti.
"Izinkan aku untuk berdansa dengan kamu ya?" Pinta Alvin.
"Aku sedang tidak mood untuk berdansa..." Balas Mikha.
"Please Mik, aku janji tidak akan membahas apapun pada saat ini, aku harap kamu juga bisa melupakan masalah kita walaupun hanya sesaat saja." Bujuk Alvin lagi.
'Kenapa sih dengan Alvin?' Batin Mikha.
"Aku bilang...." Seketika kata - kata Mikha terhenti, dirinya melihat mertuanya sedang melihat kearahnya dan juga Alvin pada saat ini.
"Baiklah hanya berdansa saja! Tidak berbicara tidak saling menatap." Ujar Mikha akhirnya.
"Oke aku setuju....!" Hati Alvin bersorak senang karena Mikha masih mau untuk berdansa dengannya, ya walaupun Alvin juga mengetahui kalau Mikha hanya melakukannya dengan terpaksa saja.
Alvin mulai mendekatkan dirinya dengan Mikha, sebelah tangan kanan Alvin meraih tangan Mikha lalu meletakkannya di atas tengkuk lehernya, sedangkan tangan kiri Alvin sudah mendarat dipinggang ramping milik Istrinya itu.
Detak jantung keduanya berdebar tidak beraturan, Mikha konsisten dengan sikap acuh tak acuhnya. Mikha tidak ingin menatap Alvin sama sekali. Kalau Mikha melakukannya saat ini dia tau pasti bahwan hatinya akan luluh dengan seketika karena memandangi wajah Alvin.
Alvin tanpa henti - hentinya memandangi wajah Mikha, Mikha merasa sangat risih dengan hal itu. "Aku kan udah bilang jangan tatap aku!" Ucap Mikha dengan pelan tapi dengan penuh penekanan.
"Sorry...gimana aku bisa berhenti menatap kamu...kamu sangat cantik malam ini." Puji Alvin.
Sontak membuat Mikha menatap tajam suaminya itu. Dia tau kalau kata - kata Alvin memang tidak bisa dipercaya, akan tetapi Mikha masih saja dengan polosnya percaya dengan yang Alvin katakan.
"Stop....atau aku pergi...!" Ancam Mikha.
Alvin hanya tersenyum geli mendengarkan ancaman yang terasa bukan seperti ancaman untuknya melainkan seperti kata - kata manja dari Istrinya.
Dari kejauhan ada tatapan yang tidak suka melihat Alvin dan Mikha, tatapan tajam yang seolah ingin sekali memisahkan kedua sejoli ini.
*******
**Udah siap dengan kejutannya? **
Ayo siapa yang udah tidak sabar lagi? Hmm...
Happy reading guys!
__ADS_1