
"Berarti lo gak marah beneran kan?" Tanya Mikha.
"Kata siapa? Ini aku lagi marah kok.....kamu bukan lo."
"Heheh, maaf deh aku masih belum terbiasa."
"Iya makanya harus dibiasakan dong agar terbiasa."
"Iya iya bawel banget sih."
"Hari ini kamu benar - benar sesibuk itu ya sampai - sampai tidak bisa melihat hp?"
"Iya begitulah Vin, karena katanya besok akan ada Bos baru dikantor jadinya semuanya tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya."
"Oh begitu....tapikan seharusnya kamu boleh dong sesekali cek hp kamu! Kamu tau gak kalau aku hari ini kesal sekali dengan kamu!"
"Oh iya? Masa sih?"
"Iya....kamu itu bisa ya gak ada kabar satu harian, siapa coba yang gak kesal! Oke hari ini aku maafin kamu...pasti besok - besok kamu akan mengulangi hal yang sama lagi kan?"
"Sorry deh....duh jangan begitu dong, aku jadi merasa tidak enak nih."
"Perhatian dikit dong sama Suaminya."
"Oh jadi seorang Alvin masih ingin diperhatikan ya?"
"Iya aku kan pria normal kali Mik, Istri aku gak peka banget sih."
"Ya udah sorry sorry..."
"Hmmm....sebaiknya kamu ganti pakaian kamu deh Mik."
"Lah emangnya kenapa? Bukannya biasanya aku pakai begini juga tidak masalah ya?"
"Iya tapi kan akunya lag jauh."
"Tunggu...tunggu aku gak ngerti nih maksud kamu apa."
"Itu piyama terlalu terbuka! Aku hanya bisa melihat dari kejauhan aja nih, kan biasanya aku melihat langsung."
Mikha langsung melotot melihat Alvin lalu mengarahkan kameranya kearah lainnya.
"Mik...kamu malu ya?"
"Gak kok..."
"Mana sini aku mau lihat wajah kamu."
"Gak perlu deh Vin...aku udah ngantuk nih Vin...kalau begitu aku istirahat duluan ya."
"Mik..."
"Hmm...aku beneran udah ngantuk nih."
"Kalau kamu malu bilang aja gapapa kok, lucu tau."
'Alvin sepertinya puas sekali ya menggoda aku sedari tadi! Ih kesal banget deh!' Gerutu Mikha dalam hati.
"Mik..."
"Hmm...apaan sih Vin..."
"Ih kok gitu sih sama Suaminya? Aku beneran mau lihat kamu nih. Arahin dong kameranya ke wajah kamu lagi."
"Gak mau ah..."
"Aku bilang arahin!"
Kemudian Mikha berinisiatif untuk menutup dirinya dengan menggunakan selimut tebal.
"Udah puas! Lagian aku bilang kan aku udah ngantuk Vin, hari ini aku benar - benar capek tau."
Alvin terkekeh melihat wajah kesal Mikha, "Iya iya aku tau kok...ya udah kamu istirahat ya, jangan lupa mimpiin aku ya Mik!"
"Iya kalau bisa ya...good nite Vin..."
"Tuh kan baru dibilangin udah gak perhatian lagi sama Suaminya."
"Kamu juga tidur ya Vin...mimpi indah!"
"Maksa banget sih bilangnya kayak gak iklas gitu deh."
"Duh kamu maunya aku gimana sih? Aku emang wanita yang gak bisa romantis - romantis gitu sama pasangannya."
"Makanya belajar dong Mik...ya setidaknya kamu harus lebih perhatian sama aku."
"Iya iya bawel banget sih."
"Ya udah kamu tidur ya...good nite Istri!"
"Good nite Suami!"
Kemudian keduanya mengakhiri video call nya.
Mikha senyum - senyum sendiri karena masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini, 'Alvin lucu juga ya...ternyata dia bisa seperhatian itu juga sama aku.' Pikirnya.
Kemudian Mikha memasukkan wajahnya didalam selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Sedangkan ditempat lain, Alvin juga senyum - senyum sendiri. 'Gimana aku bisa jauh begini Mik? Kamu tau gak wajah kamu itu terlalu lugu...duh aku semakin tidak sabar untuk cepat kembali kerumah.' Batin Alvin.
*******
Keesokan harinya...
Clara benar - benar merasa gusar sendiri karena Alvin sudah tidak bisa untuk dihubungi kembali, akhirnya Clara berinisiatif untuk ke kantor Alvin pagi ini. Saat ini Clara sedang merias dirinya untuk terlihat cantik, tetapi sebenarnya tanpa menggunakan riasan wajah saja pun Clara sudah sangat memikat, akan tetapi dia tidak percaya diri untuk itu.
'Aku akan memberikan kejutan sama kamu Vin! Berani - beraninya ya kamu nyuekin aku seperti ini.' Batin Clara.
Kemudian Clara masuk kedalam mobilnya dan mengendarainya dengan sangat cepat agar dapat sesegera mungkin sampai ke kantornya Alvin. Karena jarak kantornya Alvin dari Apartemennya tidak terlalu jauh, tidak butuh waktu lama Clara sudah sampai disana.
Clara langsung memarkirkan mobilnya lalu segera turun, tidak lupa dia mengenakan kacamata hitamnya. Sesampainya diloby, Clara langsung menuju pusat informasi.
"Permisi..." Ucapnya dengan centilnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu..."
"Saya mau nanya apa Pak Alvin sudah datang?"
"Maaf anda siapa ya?"
"Oh saya temannya, begini karena ponselnya tidak bisa dihubungi akhirnya saya memutuskan untuk langsung ke kantornya saja. Gimana? Apa Pak Alvin sudah datang?"
"Mohon maaf ya Mbak...hari ini Pak Alvin tidak masuk ke Kantor."
"Kenapa?"
"Karena Pak Alvin sedang melakukan perjalanan bisnis bersama dengan Pak Al."
"Berapa lama?"
'Brengsek! Kenapa Alvin tidak kasih tau aku sama sekali!' Batin Clara.
"Sekitar seminggu Mbak."
"Kalau saya boleh tau Pak Alvin pergi kemana ya?"
"Bandung Mbak..."
"Boleh saya tau Pak Alvin menginap dimana?"
"Aduh kalau tentang hal itu saya kurang tau Mbak...mohon maaf ya. Apa masih ada yang lagi yang bisa saya bantu?"
"Gak ada, terimakasih ya." Ucap Clara lalu dengan wajah murung dia berjalan keluar dari sana. Baru saja Clara ingin pergi, tanpa sengaja dia malah menabrak seseorang.
"BRUKK!"
"Sorry...saya tidak sengaja..." Ucapnya.
"Clara...!"
__ADS_1
"Kamu....kenapa kamu berada disini?" Tanya Clara kepada Alan.
'Apa jangan - jangan Alan ingin membongkar semuanya kepada Alvin? Ini tidak boleh sampai terjadi.' Pikir Clara.
"Itu bukan urusan kamu Cla, karena kamu bukan siapa - siapa lagi." Ucap Alan lalu melepaskan tangannya dari Calra.
'Sebegitu cepatnya kah kamu melupakan aku?' Batinnya lirih.
Dan pada saat Alan ingin pergi, Clara langsung berkata, "Tunggu..."
"Ada apa lagi?" Tanya Alan tanpa menatap wajah Clara sama sekali.
"Boleh aku bicara sama kamu sebentar?" Tanya Clara.
"Mau bicara apa lagi?" Jawab Alan.
"Please Lan...oke ini adalah permintaan aku yang terakhir, anggap aja hari ini adalah hari terakhir kita ketemu dan bicara." Ucap Clara.
"Oke...kalau begitu kamu ikut aku."
Kemudian Alan membawa jalan untuk keluar dari kantor Alvin lalu segera masuk kedalam mobilnya.
"Masuk! Kenapa kamu malah berdiri diluar saja?" Tegas Alan.
"Iya...iya..."
Setelah Clara masuk kedalam mobil, Alan langsung menjalankan mobilnya dengan cepat sampai membuat Clara kaget setengah mati, Clara bahkan sudah berteriak berkali - kali akan tetapi tidak direspon oleh Alan sama sekali.
"Alan stop! Kamu gila ya..." Teriak Clara tanpa henti.
"Alan...."
"Alan...Aaaaaaaa......."
Ternyata Alan membawa Clara sangat jauh, Alan membawa Clara tepat ditepi pantai kemudian Alan segera menghentikan mobilnya.
"Kenapa kamu bawa aku kesini? Aku bilang kan aku hanya perlu bicara sama kamu!" Tegas Clara dengan kesalnya.
"Emangnya kenapa?" Alan malah bertanya balik kepada Clara.
Kemudian Clara hanya bisa menatap tajam Alan, 'Kenapa sih dengan Alan?' Batin Clara.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Alan tanpa ingin menatap wajah Clara.
"Apa yang kamu lakukan di kantornya Alvin?"
Alan tersenyum mendengarkan pertanyaan Clara barusan.
"Jawab aku Lan...kenapa kamu hanya tersenyum saja!"
"Kenapa?"
"Apapun yang aku lakukan itu tidak ada urusannya lagi dengan kamu Cla..."
"Ada....!"
"Apa? Bukannya aku ini bukan siapa - siapa lagi untuk kamu? Kenapa kamu begitu ingin tau dengan apa yang aku lakukan? Atau jangan - jangan kamu sebenarnya takut kalau aku akan mengatakan sesuatu kepada dia?" Tebak Alan.
"Aku...aku gak mengerti maksud kamu?"
"Clara...Clara, kita bersama itu sudah sangat lama, aku bisa menebak dengan mudahnya apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Kamu masih saja berpikir bisa mengendalikan aku? Kali ini kenapa aku harus mendengarkan kamu?" Ucap Alan.
"Oke aku langsung to the poin aja...aku tidak ingin kamu menganggu urusan aku lagi Lan. Jauhi Alvin, aku tidak ingin membuat dia salah paham karena kamu!" Ujar Clara.
"Apa aku sedang mengusik kamu sekarang Cla? Aku bahkan tidak melakukan apa -apa, kenapa kamu harus merasa setakut ini kalau tidak ada hal yang kamu sembunyikan?" Ujar Alan.
"Aku memang tidak menyembunyikan apa - apa kok! Intinya aku tidak ingin melihat kamu bertemu atau kekantornya Alvin lagi." Tegas Clara.
"Kenapa aku tidak boleh kesana?" Tanya Alan lagi.
"Itu karena...." Kata - kata Clara terhenti.
"Kenapa? kenapa sekarang kamu malah diam?" Desak Alan.
"Itu bukan urusan kamu Lan, aku hanya ingin bilang kalau kamu harus menjauh dari hubungan aku dan Alvin."
"Gimana kalau aku tidak mau mendengarkan kamu?" Ujar Alan.
"Aku kenapa? Kamu itu yang kenapa Cla! Apa hebatnya dia sampai kamu seperti ini!"
"Alan..stop! Kita sudah pernah membahas tentang hal ini. Bukannya katanya kamu mau pergi dari hidup aku ya? Lalu sekarang apa yang ingin kamu lakukan? Kamu benar - benar tidak menepati janji kamu Lan."
"Apa yang aku lakukan Cla? Aku bahkan tidak melakukan apa - apa! Aku jadi sangat penasaran, sebenarnya yang ada didalam kandungan kamu itu Anak siapa?" Ujar Alan dengan kesalnya.
"Aku kan sudah mengatakannya berkali - kali kalau ini Anaknya Alvin!" Tegas Clara.
"Oh ya? Kamu berani gak untuk melakukan tes?" Tantang Alan.
Clara hanya terdiam saja.
"Kenapa? Kamu tidak berani ya? Kalau itu memang Anaknya Alvin, kenapa kamu tidak berani melakukan tes? Buktikan sama aku Cla....setelahnya aku janji aku akan benar - benar pergi dari hidup kamu." Tegas Alan.
"Kenapa aku harus membuktikannya sama kamu Lan? Aku bahkan tidak perlu membuktikan apapun juga sama kamu! Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang pasti Anak ini bukan Anak kamu!" Tegas Clara.
"Aneh....kok kamu berkata seakan - akan itu memang Anak aku ya!" Ucap Alan sambil tersenyum sinis.
"Aku mau pulang sekarang....!" Ucap Clara.
"Silahkan...apa aku terlihat menghalangi jalan kamu?" Cetus Alan.
Clara malah semakin murka melihat Alan, "Gimana caranya aku pulang? Kan kamu yang bawa aku sampai sejauh ini!" Tegas Clara.
"Kamu lupa ya? Kan kamu yang ingin berbicara sama aku?" Balas Alan.
"Oke...!" Ucap Clara lalu ketika Clara ingin membuka pintu mobil, Alan dengan sengaja malah mengunci pintunya.
"Gimana aku bisa keluar kalau kamu kunci begini?" Ucap Clara.
Alan malah tidak menggubris ucapan Clara sama sekali, akan malah sengaja untuk tidur sambil melipat tangannya.
"Alan aku tau ya kamu dengar ucapan aku! Buka pintunya." Ucap Clara dengan kesalnya.
"Alan..." Panggil Clara terus menerus tanpa direspon oleh Alan.
Alan malah semakin sengaja untuk terus cuek,
"ALANN....!" Ucap Clara sambil berteriak.
"Oke kalau itu mau kamu..." Ujar Clara, lalu Clara berniat ingin membuka sendiri dengan cara mendekati Alan, tangan Clara berusaha untuk mencapai pintu mobil yang ada didekat Alan. Akan tetapi usaha Clara sia - sia karena Alan langsung membuka matanya dan malah menarik tangan Clara sampai tubuh Clara terdorong kearah Alan.
"Lepasin...apa yang sedang kamu lakukan!" Teriak Clara.
"Tidak...aku tidak akan melepaskan kamu Cla, buktikan sama aku tentang Anak yang ada didalam kandungan kamu itu. Baru setelah itu aku akan melepaskan kamu." Ancam Alan.
Clara malah semakin menatap tajam kearah Alan, "Gak akan! Aku gak mau membuktikan apa - apa sama kamu!" Tegas Clara.
"Oh iya? Aku akan buat sampai kamu mengatakan setuju...." Ujar Alan lagi.
"Kamu kenapa sih Lan terus maksa aku? Kalau kamu mau pergi ya pergi aja! Aku juga tidak menghalang - halangi kamu kan? Kenapa kamu malah ingin menghalangi kebahagiaan aku! Kamu egois." Tegas Clara kembali.
"Aku egois? Bukannya kamu yang egois Cla? Iya memang sebelumnya aku mengatakan akan pergi dan tidak akan mengganggu kehidupan kamu lagi, tapi sekarang aku berubah pikiran. Ternyata aku tidak bisa pergi dari kamu Cla. Bilang sama aku kalau Anak yang ada didalam kandungan kamu itu adalah Anak kita Cla? Aku akan bertanggung jawab!" Ujar Alan.
Clara malah tertawa,
"Kamu kenapa kok malah tertawa? Jangan bilang tebakan aku benar?" Ujar Alan lagi.
"Kamu lucu Lan...harus berapa kali aku harus bilang sama kamu kalau ini Anaknya Alvin!"
"Dan harus berapa kali aku bilang sama kamu Cla, kalau aku tidak percaya akan hal itu!" Ujar Alan.
"Terserah kamu aja....aku tidak akan memaksa kamu untuk mempercayainya."
Alan malah semakin kesal, Alan malah sengaja semakin mempererat pelukannya kepada Clara sampai membuat Clara tidak bisa untuk berkutik lagi.
"Lepas Lan!"
"Kamu jangan macam - macam ya!"
"Menurut kamu akan melakukan apa saat ini?" Tanya Alan.
__ADS_1
Clara tidak menjawab sama sekali, Alan malah semakin dekat dan semakin dekat lagi sampai mereka berdua tidak memiliki jarak lagi. Dengan segera Clara langsung segera menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya.
"Apa yang sedang kamu harapkan Cla? Kamu tidak berpikiran kalau saat ini aku akan mencium kamu kan?" Tebak Alan.
"Gak...siapa yang sedang berpikiran se-seperti itu." Ucap Clara dengan gugup.
"Lalu kenapa kamu menutup mulut kamu kalau kamu tidak berpikiran seperti itu? Hmm...sepertinya tebakan aku benar kan?" Ujar Alan lagi.
"Harus berapa kali aku bilang kalau aku...." Belum sempat Clara melanjutkan ucapannya lagi, Alan sudah mencium Clara.
Clara yang terkejut dengan perlakuan spontan dari Alan hanya bisa mematung saja, sampai pada akhirnya Clara memberontak juga.
"Lepasin aku...dasar brengsek." Ujar Clara lalu segera menampar Alan.
Alan terdiam mematung sambil memegangi pipinya. "Terimakasih, kalau begitu aku akan mengantar kamu sekarang."
Clara langsung menatap kearah lain sambil diam - diam dirinya menangis. 'Kenapa kamu harus sampai sejauh ini sih Lan? Aku tidak ingin melibatkan kamu....' Batin Clara lirih.
Alan sempat melirik sekilas, akan tetapi Alan tidak bertanya dan melakukan apa - apa lagi. Keadaan mereka berdua malah semakin canggung satu sama lainnya. Sampai pada akhirnya Alan mengantarkan Clara kembali ke apartemennya. Clara turun tanpa mengatakan apapun juga. Begitu pula dengan Alan yang langsung pergi setelah mengantar Clara.
Clara memutuskan untuk mengambil mobilnya nanti saja karena keadaan dirinya saat ini benar - benar dalam keadaan yang tidak baik. Clara hanya ingin berdiam diri saja di Apatemennya sampai hatinya membaik.
Sesampainya di Apartemen Clara, dirinya yang sedari tadi berusaha untuk terlihat tegar didepan Alan akhirnya sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya. Clara terus saja menangis sejadi - jadinya sampai hatinya benar - benar
membaik kembali.
Setelah hampir beberapa jam menangis, perasaan Clara sudah mulai membaik, akan tetapi dikarenakan Clara tidak ada makan sedari tadi, kepalanya saat ini benar - benar terasa sangat pusing. Kemudian Clara memutuskan untuk beristirahat selama beberapa waktu, sejenak dirinya melupakan tentang Alvin yang tidak ada disini.
*********
"BRUKK!"
Tanpa disengaja Mikha menabrak seseorang yang saat ini sedang berjalan dihadapannya, baik Mikha maupun orang itu jatuh bersama - sama dan saling menimpa. Dengan cepat Mikha langsung bangkit, "Sorry...sorry...saya tidak sengaja." Ucapnya.
"Tidak apa - apa kok, lagian saya juga bersalah karena tidak melihat jalan."
"Terimakasih ya, kalau begitu saya permisi ya." Ucap Mikha.
"Ya silahkan....!"
Kemudian Mikha pergi meninggalkan seorang pria itu dengan langkah yang memang sedang terburu - buru.
"Anda baik - baik saja Tuan?" Tanya pengawalnya.
"Iya saya baik - baik saja, siapa dia?" Tanyanya.
"Maksud Tuan? Wanita tadi?"
"Jangan sampai saya mengulangi pertanyaan saya lagi." Ujarnya ketus.
"Dia merupakan Anak baru diperusahaan kita Tuan, apa Tuan ingin mengetahui informasi tentang dirinya?"
"Oh iya? Menarik juga, letakkan berkas dia dimeja saya." Ujarnya lalu masuk kedalam perusahaannya. Dia adalah seorang Bos baru dikantornya Mikha saat ini yang baru saja kembali dari luar negeri, dia bernama Alex Akhtar seorang pria yang tegas, berparas tampan, dingin, bijaksana, pintar dan sangat kaya. Hanya saja hidupnya selalu kesepian karena kemanapun dia pergi dia harus menggunakan pengawal pribadi, sebenarnya itu bukan keinginannya sendiri, akan tetapi dia tidak bisa untuk memberontaknya. Maka dari itu dia hanya menjalankan kehidupannya saja, karena sedari dia kecil orangtuanya mendidiknya sangat keras, terlihat dengan sikapnya yang sangat dingin itu.
Mendengar pintu ruangannya diketuk, Alex langsung menyuruh Pengawalnya itu masuk.
"Ini berkas yang Tuan minta."
"Oke kalau begitu kamu sudah bisa keluar."
Kemudian Alex melihat biodata dari Mikha, 'Oh ternyata dia masih baru bekerja disini, Apa! Ternyata dia sudah menikah? Hmm...sangat menarik!' Batin Alex.
Kemudian Alex langsung menutup biodata Mikha. Entah hal apa yang membuat Alex tertarik kepada Mikha, hanya Alex sajalah yang mengetahuinya.
"TOKTOTK!"
Pintu ruangannya kembali mendapatkan sebuah ketukan, Alex langsung saja mempersilahkan masuk.
"Ada apa lagi?" Tanyanya ketus.
"Begini Tuan, saya sudah mengumpulkan semua karyawan untuk dapat berkumpul."
"Kerja bagus! Oke kalau begitu saya akan keluar sekarang." Ucapnya lalu segera keluar dengan menggunakan setelan jasnya yang terlihat sangat pas sekali ditubuhnya.
"Perhatian semuanya, perkenalkan ini adalah Bos baru kita,"
'Apa! Apa aku tidak salah melihatnya? Bukannya dia tadi pria yang tanpa sengaja aku tabrak ya? Jadi ternyata dia Bos barunya.' Batin Mikha.
"Halo semuanya....saya Alex, saya masih baru banget berada di Indo, semoga kedepannya kita semua bisa bekerja sama dengan baik ya!" Ujar Alex.
Tiba - tiba saja ponsel Mikha berdering dengan sangat nyaringnya. 'Aduh mati aku! Kenapa aku bisa lupa sih untuk matiin suaranya?' Pikirnya.
Semua orang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, "Sorry...sorry!" Ucap Mikha lalu segera mematikan ponselnya dengan sangat panik.
"Yang disana...silahkan kesini." Pinta Alex.
'Aduh mati aku!' Batin Mikha terus menerus merutuki dirinya sendiri.
Mikha pun akhirnya berjalan dengan pasrah untuk mendekat kepada Bos barunya itu,
"Kalau begitu sekian aja perkenalan singkat dari saya, saya berharap kalian semua tidak mengecewakan saya! Dan sekarang semuanya sudah bisa kembali bekerja." Ujar Alex.
Lalu semua karyawannya pun bubar sambil terus bisik - bisik.
Kemudian Alex menatap Mikha, "Dan kamu ikut saya keruangan saya." Tegas Alex.
"Baik Pak!" Ucap Mikha dengan pasrah.
'Ini semua gara - gara Alvin! Awas aja kamu Vin....' Gerutu Mikha didalam hatinya.
"Silahkan duduk..." Ucap Alex sambil mempersilahkan Mikha untuk duduk.
"Iya Pak, soal yang tadi saya minta maaf ya Pak karena sudah tidak sengaja untuk menabrak Bapak." Ucap
Mikha dengan gugup.
"Soal yang tadi kamu nabrak saya ya? Bahkan saya sudah tidak mengingatnya lagi." Ucap Alex.
"Thanks ya Pak, kalau begitu saya mau minta maaf karena ponsel saya berdering tadi. Saya benar - benar lupa
Pak. Maafkan saya ya Pak." Ujar Mikha.
"Jadi kamu mikir saya manggil kamu karena ponsel kamu berbunyi tadi? Sepertinya kamu salah paham ya?"
"Jadi maksud Bapak..."
"Tujuan saya manggil kamu karena katanya kamu ini masih baru ya disini, saya hanya ingin menyuruh kamu untuk mempelajari berkas ini. Kabari saya secepatnya kalau kamu sudah menyelesaikannya ya." ujar Alex sambil memberikan sebuah berkas.
'Duh sumpah aku benar - benar merasa semalu ini...' Batin Mikha.
"Maaf ya Pak, saya jadi..."
"Iya tidak apa kok, ya udah kalau begitu kamu sudah boleh pergi sekarang."
"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu ya. Saya akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan tepat waktu." Ujar Mikha lalu berjalan pergi.
"Tunggu..."
Mikha kembali untuk menoleh lagi, "Ya Pak..."
"Kalau bisa hari ini berkas yang saya kasih itu sudah harus selesai ya, soalnya saya ingin mempelajarinya
kembali." Ujar Alex.
'Apa harus hari ini juga? Astaga....bakalan lembur lagi deh ini.' Pikir Mikha yang belum apa - apa sudah tidak bersemangat.
"Bisa kan?" Ujar Alex lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Mikha.
"Hah? I-iya bisa kok Pak, Permisi ya Pak." Ujar Mikha lalu dengan langkah buru - buru pergi meninggalkan Alex.
Sedangkan Alex hanya tersenyum penuh misteri saja menatap Mikha, 'Wanita yang menarik, tapi aku masih tidak habis pikir kalau dia sudah menikah padahal usianya masih terlalu muda.' Pikir Alex.
********
Dududu....gimana episode hari ini?
sepertinya banyak sekali yang menyukai Alvin dan Mikha ya! Heheh
Oke deh kedepannya Thor akan lebih membahas mereka dulu ya...
__ADS_1
Penasaran? Makanya jangan lupa like, comment dong!
**Happy Reading Guys! **