SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 184


__ADS_3

Saat ini Al sedang kesulitan untuk memasangkan dasinya sendiri, Ara yang baru saja masuk kamar langsung saja tersenyum lalu berjalan untuk mendekati Suaminya. "Sini aku bantu...kenapa kamu gak panggil aku saja sih." Ujar Ara lalu dengan cekatan membantu Suaminya itu.


Al tersenyum melihat Sang Istri, "Bagaimana aku bisa merepotkan kamu sayang..." Balas Al sambil mengelus perut buncit Ara yang semakin hari semakin kelihatan membesar.


"Itu kan sudah kewajiban aku sayang...aku masih bisa kok melakukannya. Lain kali kalau kamu ingin mengenakan dasi kamu, kamu bisa memanggil aku saja ya." Ujar Ara.


"Baiklah..." Ucap Al seraya tersenyum.


Ara sempat melirik sekilas lalu kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.


'Apa aku bilang sekarang aja ya?' Pikir Al.


Al terus memandangi wajah Istrinya membuat Ara menjadi salah tingkah sendiri. Ara merasa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Suaminya saat ini. Hanya saja Al masih belum mengutarakan keinginannya.


"Ehemm...sayang aku tau kok kalau saat ini kamu sedang kepikiran sesuatu...katakan saja." Ucap Ara akhirnya lalu menatap Suaminya.


"Kok kamu tau?" Ucap Al sambil menggerlitkan alisnya sebelah.


"Sayang...kita itu sudah lama bersama...aku tau dong dengan ekspresi wajah kamu. Udah katakan saja." Ujar Ara.


Kini Ara sudah menyelesaikan tugasnya untuk membantu Suaminya, Ara memilih untuk duduk ditepi ranjang karena kakinya belakangan ini sering merasakan pegal - pegal. Dia sudah mulai kesulitan untuk berjalan lama - lama.


Al mengikuti Ara lalu duduk tepat disamping Ara, "Aku sudah memikirkan ucapan kamu Ra....kamu yakin memang ingin bertemu dengan Tia?" Tanya Al kali ini dengan wajah yang sangat serius.


Ara menganggukkan kepalanya dengan mantanp, "Yakin sayang...Jadi apa keputusan kamu?" Ujar Ara dengan sangt bersemangat.


Sebelum melanjutkan ucapannya lagi, Al menghela nafasnya dengan berat, "Baiklah aku akan mengatur pertemuan kamu hari ini. Tapi dengan satu syarat...aku juga harus ada diantara kalian berdua, aku tidak ingin melihat kamu terluka." Ujar Al masih dengan raut wajah yang sangat serius.


"Kamu serius? Iya sayang tidak masalah kok!" Ucap Ara dengan sangat bersemangat.


"Aku heran kenapa kamu jadi sangat bersemangat seperti ini sih Ra? Hati kamu ini terbuat dari apa sih? Hari ini kamu akan bertemu dengan musuh kamu sendiri lho!" Ketus Al yang tidak mengerti dengan sikap Sang istri.


"Musuh? Siapa bilang aku memanggap dia seperti musuhku? Apa aku pernah mengatakannya?" Balas Ara lagi.


Al bangkit dari posisi duduknya saat ini, "Baiklah nanti sepulang aku bekerja aku akan membawa dia bersama denganku. Kamu jangan terlalu memaksakan diri ya Ra! Kamu masih boleh kok utnuk merubah keputusan yang kamu buat ini, aku akan memberiakn kamu kesempatan untuk memikirkannya sekali lagi." Ujar Al sambil membelai kepala Ara.


"Aku tidak akan berubah pikiran kok sayang..." Balas Ara sambil memegangi tangan suaminya.


'Aku tidak mengerti kenapa Ara ingin sekali untuk bertemu dengan Tia! Bukannya Ara sendiri sudah mengetahui kalau Tia itu sangat jahat.' Batin Al sambil menghela nafas dengan kasar.


Setelah menyelesaikan percakapannya itu, Keduanya sama - sama berjalan untuk turun kelantai bawah. Mereka berdua menuju ruang makan. Al melihat semua makanan sudah terhidang disana. "Wah...ini semua kamu yang menyiapkannya sayang?" Tanya Al.


"Tidak sayang...kamu tau sendiri kan kalau aku tidak bisa masak, ini semua Bibi yang menyiapkannya. Aku hanya membantu untuk menatanya saja diatas meja." Jawab Ara.


"Aku tau kok...tadi aku hanya ingin menggoda kamu saja! Aku tidak pernah menuntut kamu harus bisa memasak, kamu itu hanya perlu melayaniku saja dengan baik." Bisik Al dengan nada nakalnya.


"Ih kamu...! Udah ah mendingan kamu duduk dan segera makan sarapan kamu." Ujar Ara lalu melepaskan dirinya dari Suaminya.


Sementara Al hanya tersenyum menyeringai saja sambil menuruti ucapan dari Ara. Keduanya sarapan dengan lahapnya sambil sesekali saling menggoda satu sama lain. Rumah yang tadinya terasa sangat bising dipagi hari berubah sedikit lebih sepi karena sudah tidak adanya Alvin dan Mikha. Sejak Al memberikan hadiah sebuah rumah untuk keduanya, mereka berdua lebih sering menghabiskan waktu disana.


Bukan berarti Alvin dan Mikha sudah tidak pernah lagi untuk pergi mengunjungi Kakaknya, mereka mengunjungi kedua Kakaknya ini diwaktu hari minggu. Tapi tetap saja masih ada terasa sangat berbeda, biasanya pagi hari baik Al dan Ara akan mendengarkan ocehan - ocehan Alvin yang Mikha yang terus saja beradu mulut. Kini semuanya sudah sangat berbeda, hal ini tentu saja sangat terasa terutama untuk Ara. Dia merasa sangat merindukan Alvin dan Mikha yang biasanya tanpa satu haripun yang mereka lewatkan untuk selalu berantam.


Setelah selesai sarapan Al segera pamit dengan Sang Istri, Ara selalu saja cemberut setiap kali Al sudah ingin pergi meninggalkannya sendirian. Dia merasa benar - benar sangat kesepian, Al sudah tidak mengizinkan Ara untuk pergi keluar lagi karena takut terjadi apa - apa kepada Sang Istri.


Makanya setiap kali libur, Ara selalu saja mengajak Al untuk pergi keluar. Dan tentunya sebisa mungkin Al mengabulkan setiap keinginan Sang Istri. Karena Al bisa merasakan kebosanan yang melanda Ara bila terus saja berada dirumah.


Jadi setiap kali Al ingin pergi, dia harus bisa membuat perasaan Ara lebih baik agar bisa mengizinkannya untuk pergi ke kantor, kalau tidak Al tau sendiri akibatnya, Ara akan terus cemberut kepada selama seharian penuh.

__ADS_1


"Hati - hati sayang! Ingat pulang lebih awal lagi hari ini ya." Teriak Ara sambil melambaikan tangannya.


"Iya sayang...sampai nanti ya!" Balas Al lau segera untuk melajukan mobilnya dengan cepat kalau tidak bisa gawat karena Ara sering berubah pikiran untuk tidak mengizinkan Al untuk pergi.


Setelah melihat mobil Al yang semakin lama semakin menjauh, Ara memutuskan untuk segera masuk kedalam rumahnya kembali dengan wajah yang sedikit cemberut.


******


Selama pindah kerumah baru, Alvin dan Mikha selalu saja menghabiskan waktu bersama - sama, bahkan keduanya tidak mau kalau pulang bekerja terlalu lama, kecuali bila ada pekerjaan yang mengharuskan keduanya untuk lembur. Itu pun sudah sangat jarang terjadi karena sebisa mungkin Alvin dan Mikha selalu menyelesaiakn pekerjaannya sebelum deadline.


Setiap hari terasa seperti pengantin baru untuk keduanya, keduanya benar - benar saling terbuai satu sama lain. Selama perjalanan kekantor keduanya terus saja saling berpegangan tangan. Seperti seseorang yang tidak ingin berpisah jauh.


"Vin...aku udah sampe lho! Mohon lepaskan tangan kamu ya." Ujar Mikha dengan manja.


"Gimana kalau hari ini kamu bolos saja Mikh...?" Ujar Alvin dengan wajah memohon.


Mikha tersenyum sambil mengangguk - anggukkan kepalanya, "Gimana kamu setuju kan sayang?" Tanya Alvin lagi yang melihat sikap Mikha.


"Bukannya aku sudah sering sekali bolos bekerja karena permintaan kamu ya? Please Vin kali ini aku tidak bisa...kalau aku terus seperti ini lama kelamaan aku akan dipecat!" Jawab Mikha dengan tegas.


Sementara Alvin merasa tidak puas karena Mikha lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan dengan dirinya. Alvin cemberut lalu melepaskan genggaman tangannya dari Mikha.


Mikha menyadari kalau Suaminya saat ini pasti sedang ngambek, tapi bukan Mikha namanya kalau tidak bisa membuat Alvin kembali ceria lagi. Mikha mendaratkan sebuah kecupan dipipi Alvin.


Seketika Alvin langsung menatap Istrinya, "Sampai nanti sayang...udah ah jangan ngambek lagi ya." Ujar Mikha lalu segera turun dari mobil.


Alvin membuka kaca mobilnya lalu berteriak, "Ingat ya pesan aku! Kamu dilarang genit - genit! Bye!" Kemudian Alvin melajukan mobilnya dengan cepat.


Kini semua tatapan tertuju kepada Mikha, Mikha hanya tersenyum sambil berjalan dengan cepat untuk segera masuk kedalam kantor. 'Dasar Anak kecil! Bisa - bisanya dia berteriak seperti itu! Alvin! Kapan sih kamu berubahnya? Pasti kamu sengaja ya ingin mempermalukan aku seperti ini?' Batin Mikha yang merasa sangat malu dengan tingkah konyol dari Suaminya.


Kini Mikha sudah berada didalam ruangannya, Mikha meletakkan tasnya lalu duduk dikursinya, baru saja Mikha ingin bersantai sejenak, ponselnya sudah berdering, Mikha meraih ponselnya lalu melihat nama yang tertera dilayar ponselnya itu, Alvin mengirimkan pesan singkat untuk Sang Istri.


Mikha membuka pesan dari Suaminya yang sangat mengesalkan itu.


MYLOVE


Sayang aku baru saja sampai dikantor nih! Kamu semangat ya kerjanya...baru saja berpisah dari kamu aku sudah kangen kembali...ingat pesan aku tadi ya! Jangan macam - macam..Loveyouu!


Sejujurnya Mikha juga tidak mengetahui sejak kapan nama diponselnya telah berubah menjadi seperti itu, Mikha tau jelas pasti itu adalah perbuatan dari Suaminya. Belakangan Alvin terlihat sangat berlebihan dan sangat posesif bila itu semua menyangkut tentang Istrinya.


Mikha hanya bisa menghela nafas dengan kasar, 'Dasar menyebalkan!' Tapi Mikha juga selalu saja bisa tersenyum sendiri setelah membaca pesan dari Alvin.


Mikha ( yang kini sudah berganti nama diponsel Alvin menjadi Bebee )


Sudah puaskah kamu selalu saja membuat aku merasa malu seperti tadi sayang? Hmm...tapi entah kenapa setiap kali aku ingin marah kepada kamu, aku selalu saja tidak bisa melakukannya! Aku akan membalas kamu nanti! Loveyoutoo pria paling menyebalkan!


Setelah mengirimakn pesan singkat itu, Mikha kembali sibuk dengan pekerjaannya, dia selalu saja serius dalam melakukan pekerjaannya, terlebih lagi agar dirinya tidak lembur. Mikha berusaha  untuk terus melakukan pekerjaannya sebaik mungkin.


Tanpa terasa hari ini berlalu dengan cepatnya, Mikha saat ini sedang merentangkan kedua tangannya untuk merilekskan dirinya. Kemudian Mikha menatap jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 7 malam. Mikha mengambil ponselnya, ternyata disana Alvin sudah mengirimkan pesan kepadanya.


MYLOVE


Aku sudah didepan kantor kamu ya sayang!


Setelah membaca pesan dari Suaminya itu, Mikha segera merapikan berkas - berkas yang ada ditas mejanya, lalu mematikan komputernya, dia juga merapikan tasnya lalu berjalan setengah berlari menuju lift kantornya, setelah pintu liftnya sudah terbuka, dengan cepat Mikha langsung masuk dan menekan tombol liftnya.


Sesampainya diloby Mikha langsung berlari keluar untuk mengampiri Suaminya. Mikha mengetuk kaca mobil, Alvin langsung membuka kacanya, "Kamu udah lama ya sayang? Maaf ya aku baru melihat pesan dari kamu." Ujar Mikha.

__ADS_1


"Tidak masalah sayang...silahkan masuk!" Balas Alvin sembari tersenyum.


Dengan cepat Mikha membuka pintu mobil lalu segera masuk kedalam mobil, Alvin membantu Mikha untuk memasangkan sabuk pengamannya.


"Terimakasih Suamiku!" Ucap Mikha.


"Sama sama sayang! Malam ini kita makan malam diluar ya? Aku sudah membooking tempatnya." Ujar Alvin.


"Baiklah Tuan!" Ujar Mikha sambil tersenyum manis.


Selama didalam perjalanan keduanya terus saja saling melemparkan godaan satu sama lainnya, Mikha kini sudah sangat terbiasa mendengarkan gombalan dari Suaminya yang notabate nya adalah seorang playboy. Emang terasa berbeda ya kalau pasangan kita saat ini merupakan mantan seorang playboy? Tapi tentu saja Mikha tidak ingin terlalu terbawa arus, dia tidak ingin tenggelam dengan kata - kata manis dari Suaminya menurutnya belum dewasa itu, Alvin masih sering bertingkah seperti Anak kecil yang selalu saja mencari perhatian dari istrinya. Mungkin karena Alvin merupakan Anak paling kecil kali ya? Mikha sendiri sudah sangat menakluminya.


Mungkin kalau bukan Mikha yang berjodoh dengan Alvin saat ini, Pasti Alvin belum berubah - berubah juga dengan tingkahnya yang selalu saja mempermainkan perasaan wanita - wanita diluaran sana. Mikha benar - benar bisa merubahnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.


Sesampainya disebuah parkiran, Alvin langsung menghentikan mobilnya, "Disini ya Vin?" Tanya Mikha.


"Iya sayang..."


Lalu ketika Mikha sudah berancang - ancang akan turun dari dalam mobil, Alvin memegangi tangan Mikha. Tentu saja membuat Mikha kebingungan dengan sikap dari Suaminya itu.


"Sebentar sayang!"


"Kenapa lagi Vin?"


Kini Alvin menatap Mikha dengan tatapan yang sangat serius, tidak seperti biasanya. Mikha sendiri juga bisa merasakan kalau saat ini Alvin sedang menatapnya dengan serius. 'Ada apa sih sebenarnya? Apa aku melakukan sebuah kesalahan?' Pikir Mikha.


"Kamu tidak tau kenapa aku membawa kamu kesini? Kamu tidak penasaran dengan alasan aku membawa kesini?" Tanya Alvin sambil memperhatikan Mikha terus menerus.


Mikha hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Kamu benar - benar tidak tau?" Tampak ada perasaan yang sangat kecewa dari sorot mata Alvin.


"Kamu ingat restoran ini? Hmm..baiklah, sepertinya kamu memang tidak mengingatnya lagi. Lupakan saja!" Kemudian Alvin langsung segera turun lalu membukakan pintu untuk Sang Istri.


"Alvin kenapa sih?" Ujar Mikha sebelum turun dari mobil.


'Ayo dong Mikha ingat seuatu...'Batin Mikha.


Alvin sudah berjalan duluan sementara Mikha masih berada didepan mobil sambil berusaha untuk mengingat apa yang sebenarnya makna tersirat dari yang diucapkan oleh Alvin tadi. Alvin berjalan kembali untuk mendekati Sang Istri yang saat ini sedang melamun.


"Sayang ..." Ujar Alvin sambil mengguncangkan bahu Mikha.


"Vin..."


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo...aku sudah sangat lapar nih." Ujar Alvin sambil menarik tangan Mikha untuk mengikutinya.


Sementara Mikha masih bingung sendiri dan hanya berjalan mengikuti Alvin. Kini keduanya sudah berada didalam restoran, Mikha mengamati kearah sekeliling restoran, dia merasa ada yang aneh karena tidak menemukan seoarangpun juga berada disana. Mikha masih bertanya - tanya terus didalam hatinya.


'Apa ini hanya perasaanku saja? Apa benar aku terlalu kege'eran dan terlalu berharap kalau Alvin akan memberikan aku sebuah kejutan?' Pikir Mikha sambil terus memandangi Alvin.


*****


Nah gimana? Kira kira apa yang hal yang dilupakan oleh Mikha? Kenapa dia tidak bisa mengingat tentang restoran ini...lalu apa benar Alvin telah merencanakn sesuatu? Tapi kenapa dia malah bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa - apa? Lalu bagaimana dengan pertemuan Ara dan Tia?


Penasaran? Ayo dong like dan comment sebanyak mungkin!


Happy reading guys!

__ADS_1


__ADS_2