
Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa perjalanan biduk rumah tangga Bian dan Kiana yang bisa dibilang masih seumur jagung itu semakin terlihat harmonis saja.
Bian yang setiap hari selalu mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata cinta pada Kiana nyatanya semakin tak terbendung lagi. Perasaan sayangnya itu semakin hari semakin bertambah besar. Maka ia tunjukkan dengan perlakuan manis dan romantis sampai ke hal-hal terkecil sekalipun.
Bian merasa justru hal itu membuatnya merasakan hubungan diantara mereka semakin lama terasa lebih dalam dan intim. Mengingat usia istrinya yang jauh di bawahnya, serta bagaimana caranya mereka bersama mengharuskan dirinya untuk melakukan hal tersebut. Bian benar telah jatuh hati pada sosok Kiana yang sederhana. Seorang gadis manis nan cantik yang mampu mengalihkan dunianya. Dapat ia pastikan jika Kiana merupakan pelabuhan terakhirnya untuk mengarungi lautan dalam bahtera cinta mereka.
Kiana yang awal-awal memulai untuk memutuskan hidup bersama dengan seorang pria yang dulu berstatus sebagai anak majikannya justru merasa canggung. Bagaimana tidak, seorang pria arogan, pemarah, bahkan pria tersebut adalah orang yang pernah membuatnya terluka bahkan kemungkinan besar sangat membencinya. Kini menjelma menjadi seseorang yang begitu berbeda.
Kiana tidak bisa menyangkal pada perasaannya. Dulu, meski ia sangat tidak menyukai sosok pria tersebut, tetapi ia seakan terhipnotis oleh pesona dari pria tampan nan arogan itu dalam diamnya.
Bukan, bukan Kiana menyukai atau memiliki perasaan pada anak majikannya. Dia hanya sebatas kagum. Kagum karena baru pertama kali ia melihat seorang pria tampan seperti Bian. Dia tahu diri akan siapa dirinya. Dirinya dan pria itu bagai bumi dan langit. Tak pantas Kiana memilki perasaan semacam itu. Tapi takdir berkata lain dan saat ini pria tersebut telah menjadi miliknya. Suami dan ayah dari anaknya. Bian seorang pria arogan dan menyebalkan menjelma menjadi seorang suami dan ayah yang idaman.
Tetapi kini, kecanggungan itu perlahan memudar. Awalnya Kiana yang malu-malu bahkan tak berani untuk sekedar bertanya lebih dulu, canggung saat pria itu terus menempelinya, dan salah tingkah turut ia rasakan saat Bian menatapnya. Setiap kali pria itu memandanginya, dapat Kiana lihat ada ketulusan di binar matanya. Di dalam iris indah itu pula Kiana dapat merasakan hantaran cinta yang Bian tujukan hanya untuknya. Debaran di dadanya cukup jelas membuktikan jika ia telah jatuh hati pada suaminya itu.
Lalu, kapan Kiana mulai mencintai sosok seorang Bian?
Entahlah, yang pasti ia dapat merasakan getaran itu saat Bian dengan tanpa ragu mengucapkan kalimat sakral atas namanya yang saat itu juga mengubah seluruh kehidupannya. Kiana telah jatuh hati pada sosok itu. Sosok pria yang telah menyakitinya, tetapi kini telah mampu membuatnya merasakan kebahagiaan dengan cinta dan kasih sayang. Pria itu mampu membuatnya percaya untuk berlabuh di dermaga cintanya dan menggenggam erat untuk mengarungi lautan dalam bahtera yang diciptakan Bian untuknya.
Albio, bayi itu tumbuh dengan begitu sehatnya. Tidak lagi merasakan kesakitan seperti dulu sebelum bertemu dengan ayahnya. Bayi itu tumbuh dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang yang mencintainya. Wajahnya yang semakin hari terlihat semakin mirip dengan Bian. Bayi itu seolah menunjukkan siapa jati dirinya. Pipi merah berisi begitu terlihat lucu dan menggemaskan. Bayi gembul itu kini tengah memamerkan keahlian barunya. Sepasang tangan dan kakinya begitu lihai menahan bobot tubuhnya untuk merangkak kesana kemari dengan cerianya.
Kiana tengah mengawasi dan memperhatikan Al yang sedang bermain dengan mainannya yang banyak. Di sampingnya telah siaga seorang wanita muda yang dipekerjakan oleh Bian untuk menjaga dan membantu Kiana dalam mengurus anak mereka.
Awalnya Kiana menolak. Dia berpikir tidak perlu seorang baby sitter untuk anaknya. Kiana yakin kalau ia bisa mengurus Al oleh tangannya sendiri. Tapi Bian seorang lah Bian. Keras kepalanya pria itu tidak bisa terbantahkan. Pria itu tidak mau melihat istrinya kelelahan karena harus mengurus buah hati mereka seorang diri siang dan malam. Bian tidak mau Kiana kesusahan selama ia tidak ada di sisinya untuk membantu mengurus Al. Walau bagaimana pun Bian menginginkan yang terbaik untuk istrinya. Dia mau Kiana memiliki waktu untuk memanjakan dirinya sendiri dari rutinitas mengurus suami dan anak. Dia ingin melihat Kiana terlihat bahagia yang telah sudi hidup membersamainya.
Tatapan iris indah itu sesekali melirik pada layar ponsel yang tengah menyala karena beberapa kali ia usap. Sebuah benda pipih mewah keluaran teranyar ia dapatkan sebagai hadiah dari Bian yang ia sendiri tidak tahu dalam rangka apa suaminya itu memberikannya. Kiana terus teringat pada ucapan nyeleneh Bian waktu itu.
"Istriku itu cantik, pintar masak, pintar mengurus anak dan suaminya. Tapi sayang aku nggak bisa ngekepin kamu setiap saat. Aku suka kangen kamu tahu. Kamu butuh ini biar bisa aku hubungi setiap saat." seloroh Bian suatu malam saat memberikan kejutan sebelum mereka tertidur.
"Mas nggak perlu repot-repot beliin aku seperti ini. Pasti mahal kan?"
"Buat istri dan anak-anakku apapun pasti Mas berikan."
"Tapi Mas, aku nggak bisa pakainya. Aku belum pernah punya hp sebelumya, apalagi sebagus ini." cicit Kiana apa adanya. Meringis saat melihat benda pipih mengkilap tersebut.
"Tapi pernah lihat dan pegang hp kan?" balas Bian. Kiana pun mengangguk pelan.
"Sama aja kok cara pakainya, Mas bakalan ajarin kamu. Kamu pinter, pasti cepet belajarnya. Nanti kamu bisa simpen photo Al yang lucu-lucu sebanyak yang kamu mau di sini." tunjuknya pada benda pipih yang ada dalam genggaman tangan Kiana.
Mengingat hal itu Kiana jadi senyum-senyum sendiri. Benar kata suaminya, ia itu tipe orang yang cepat belajar. Terbukti hanya beberapa hari Bian mengajarinya, Kiana tampak mahir seolah ia sudah seperti biasa menggunakan benda tersebut. Padahal awalnya ia berpikir kalau ia tidak membutuhkan benda tersebut. Tetapi kini ia tahu alasan kenapa suaminya itu memberikan benda itu padanya.
Sudah pukul 7 malam, tidak seperti biasanya Bian pulang terlambat tanpa mengabarinya. Mungkin saja pekerjaan hari ini banyak dan memerlukan suaminya lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kiana mencoba untuk berpikir positif. Meski sisi lain dihatinya merasakan kecemasan yang tidak berarti akibat mencemaskan suaminya. Baru saja Kiana hendak menanyakan kabar suaminya melalui ponsel, pria itu terlihat berjalan memasuki ruangan dimana ia dan Al berada menungguinya setelah mengucapkan salam.
Mendengar suara yang sudah familiar di telinganya, Al yang sudah bisa duduk tegak tengah memainkan mainan dengan cepat merangkak menghampiri Bian yang sudah merentangkan tangannya dari kejauhan. Sontak bayi lucu itu dengan gerakan cepatnya menghampiri sang ayah yang tengah tersenyum manis padanya.
"Kangen banget sama si gembul ini..." ucap Bian seraya menciumi Al yang terkikik geli karena ulahnya. Tak mau kalah, bayi itu ikut menciumi pipi Bian dengan air liur yang membasahi wajahnya.
"Kangen ibunya juga pastinya," ujarnya setelah mendekat pada Kiana kemudian membubuhkan satu ciuman di kening istrinya. Tidak hanya kening, Bian mencuri satu kecupan di bibir istrinya.
"Tumben Mas pulang malem?" tanya Kiana yang menerima sodoran paper bag kecil yang Bian berikan padanya.
"Iya, ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Kenapa? Kamu kangen ya sama, Mas?" ucapnya menggoda sang istri dengan mengerlingkan satu matanya.
Kiana memutar matanya malas. "Bukan gitu, baru aja aku mau kabarin Mas buat ingetin jangan sampai lupa makan." elaknya. Padahal memang ia merasa kangen juga sih. Tapi rasa gengsi lebih besar dari pada niat hati mengutarakan perasaannya. Malu. Satu kata yang dia pikirkan karena belum terbiasa mengungkapkan kata-kata rindu pada suaminya.
"Ah, iya juga gak apa-apa kok." sahut Bian tertawa kecil melihat Kiana mencebikkan bibirnya. "Aku belum ada makan lho,"
"Ya sudah, Mas mau makan dulu atau..."
"Kita ke atas, aku mau mandi dulu. Badan rasanya lengket seharian kena keringet. Ini juga kayaknya butuh amunisi ibunya dari tadi ngecapin baju bapaknya sampai basah gitu." ujarnya lagi melihat Al yang tengah sibuk memainkan kemejanya dengan mulut mungilnya.
__ADS_1
Keluarga kecil itu berjalan menuju lantai atas dimana kamar mereka berada setelah sebelumnya Kiana memerintahkan baby sitter bayinya itu untuk beristirahat.
Beberapa menit berlalu Bian keluar dari pintu kamar mandi dengan wajah yang segar. Handuk yang melilit di pinggangnya tersampir cukup baik untuk menutupi bagian tubuh bawahnya. Tetesan air mengalir di bagian tubuh atasnya yang bidang menambah kesan seksi pria yang kini sudah berbuntut satu ini. Melihat pemandangan tersebut tanpa sadar Kiana sekilas meneguk salivanya.
"Udah tidur ya?" tanyanya ikut duduk di tepi ranjang saat melihat anaknya yang tengah menyusu dengan mata terpejam dan mulut sedikit terbuka.
"Baru aja tapi belum pules kayaknya." Kiana merebahkan Al yang sudah tertidur di atas kasur. Ibu muda itu berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian suaminya.
"Padahal aku masih kangen tapi udah tidur aja. Kamu pasti capek ya Nak?" Bian mengusap lembut kepala Al yang kini ditumbuhi rambut hitam legam sama sepertinya.
"Yang ini kan?" tanyanya menunjuk pada sebuah kaos lengan pendek berwarna abu dan celana pendek rumahan beserta pakaian dalam suaminya tanpa ragu.
Bian tersenyum geli saat melihat Kiana mengacungkan pakaian dalam miliknya dengan begitu santainya.
"Senyum-senyum?" curiga Kiana pada suaminya.
"Nggak," Bian menggeleng. Tak ayal ia pun meraih pakaian dari istrinya. "Udah nggak malu-malu sekarang." kekehnya seraya beranjak dari duduknya.
"Apanya?"
"Ini, udah terbiasa kayaknya." ujar Bian menunjuk pada sebuah benda keramat miliknya. Bian menahan senyum saat terus menerus menggoda Kiana.
"Ya udah biasa, setiap hari aku yang cuci." ucapnya polos.
Dengan santainya Bian melepas lilitan handuk dan memakai pakaian dalamnya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Kiana. Tatapan manik gadis itu pun tak lepas memperhatikan apa yang sedang Bian lakukan di depannya.
"Kenapa? Kangen ya?" Bian semakin menggoda Kiana saat melihat sepasang mata indah itu tak berkedip saat melihat bagian bawah tubuhnya yang kini sudah terbungkus oleh kain segitiga pengaman.
Kiana mengalihkan pandangannya malu saat ketahuan oleh suaminya. Buru-buru ia melangkah pergi keluar kamar untuk menyiapkan makan untuk suaminya. Bian hanya tertawa kecil melihat kelakuan menggemaskan istrinya.
Beberapa saat kemudian Kiana telah kembali dengan sebuah nampan berisi makan malam untuk suaminya. Dilihatnya Bian yang tengah duduk berselonjor kaki di samping Al yang tengah tertidur sembari melamun tak jelas. Dapat Kiana lihat wajah suaminya yang mengerung seperti sedang memikirkan sesuatu.
Cukup terkejut Bukan dengan kehadiran istrinya. "Kok dibawa kesini, sayang?" tanya Bian ikut beranjak mengekori Kiana dan ikut duduk di sampingnya di sebuah sofa.
"Sengaja biar Mas cepat makan. Kalau ke bawah lagi kasihan Al baru tidur harus ditinggal." jawab Kiana seraya memperhatikan Bian yang tengah lahap makan dengan menu yang ia sukai malam itu. Kiana tersenyum kecil saat menemani makan suaminya malam itu.
"Rumah rasanya sepi banget," celetuk Bian saat setelah menyelesaikan makannya.
"Ya ini karena sudah malam," balas Kiana menimpali Bian.
"Iya, ini udah malam." ucapnya mengulang kalimat istrinya. "Mama Papa masih lama pulangnya, Fira udah balik lagi aja ke Belanda. Kasihan anakku nggak ada temen selain Ibunya, Mbok sama Mbak pengasuhnya." seloroh Bian.
"Aku pindahin ke boxnya ya," Bian dengan perlahan mengangkat tubuh putranya agar tak membuat pria kecil itu terbangun. Setelah memastikan Al tidur dengan nyaman, ia ikut bergabung naik ke atas ranjang untuk bergelung dalam selimut yang sama dengan Kiana.
"Tapi untungnya Al nggak rewel setiap hari, Mas. Aku kebantu banget sama Mbaknya untuk menjaga Al. Kalau lagi bosen, aku bisa bantu-bantu Mbok masak sama Mbak Irna di dapur." keluh Kiana pada Bian.
"Iya, gak apa-apa. Tapi inget jangan sampai kecapean." peringat Bian. "Sini, mas peluk." ia meraih Kiana untuk lebih dekat dan masuk ke dalam pelukannya.
"Mas..." Kiana memanggil suaminya.
"Apa sayang?" balas Bian seraya mengecup singkat bibir Kiana yang ada di bawah dagunya.
"Aku perhatiin akhir-akhir ini Mas sering melamun. Ada sesuatu yang dipikirkan?"
"Melamun?" tanya balik Bian.
"He'em, apa ada masalah yang serius?" tanyanya lagi pada Bian. "Aku ngerasa Mas Bian seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Apa itu tentang pekerjaan? Terlebih setelah terakhir kali kita pulang dari resto malam itu aku perhatiin Mas Bian malah sering melamun." ungkapnya dengan hati-hati.
Bian menghela napasnya dalam-dalam. Ia merenggangkan pelukannya untuk melihat wajah cantik istrinya. Ia berikan senyuman termanis penuh dengan binar cinta. Dikecupnya bibir ranum yang selalu menggoda imannya itu. Feeling seorang istri memang begitu kuat, seolah seperti seorang cenayang hebat tahu apa yang sedang dirasakan oleh para suaminya.
__ADS_1
Apa Kiana merasakan kegundahan yang akhir-akhir ini ia rasakan? Apa begitu terlihat kentara dari raut wajahnya?
Sekali lagi Bian kecup bibir Kiana yang begitu manis dan menggairahkan itu lebih lama dan dalam lagi. Perasaan rindu selalu ia rasakan saat tak berada di dekat Kiana. Andai saja malam ini istrinya itu sedang tak berhalangan, sudah dipastikan dia akan membawa Kiana pada surga dunia yang memabukkan.
Bian melepas pagutan bibirnya saat menyadari napas mereka telah habis. Ibu jarinya terangkat untuk mengusap lembut permukaan benda kenyal tersebut yang basah karenanya.
Ditatapnya Kiana dengan lekat-lekat. Tak bisa dipungkiri jika wajah istrinya sangat persis menuruni seseorang yang ia kenali dengan baik. Setelah sekian lama ia mencoba berusaha untuk meyakini sampai mencari tahu kebenaran tersebut sehingga membuatnya merasakan kegusaran.
Tapi, lagi dan lagi kenyataan harus membuatnya harus menerima dengan lapang dada. Ia takut jika kenyataan ini akan membuat ia akan terpisah jauh dengan Kiana. Ia tidak mau itu terjadi lagi. Kiana adalah hidupnya, separuh nyawanya, miliknya seutuhnya. Tak boleh ada satu orang pun yang bisa mengambil Kiana darinya. Bian begitu menyayangi bahkan mencintai gadis itu sedalam hatinya.
Apakah dengan kejujuran yang akan ia katakan akan membuat Kiana bahagia?
Kelebatan kalimat demi kalimat terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ketika sore tadi dengan sengaja Aaric menemuinya di kantor. Pria itu kembali menagih janjinya yang beberapa hari lalu terpaksa Bian ucapkan.
Saat itu, Bian memegangi selembar surat dan membacanya dengan teliti dari beberapa kalimat yang ia cukup pahami. Seketika hatinya mencelos. Antara senang atau sedih dalam waktu bersamaan turut ia rasakan. Entahlah, ini semua seperti mimpi. Ia benar-benar takut jika Kiana akan pergi meninggalkannya.
"Gue nggak pernah salah." ucap Aaric melihat air muka Bian yang nampak tak terkejut setelah membaca sebuah surat dengan amplop putih bertuliskan nama rumah sakit.
"Gue nggak bohong kan?" ujarnya lagi.
Bian meletakkan selembar surat tersebut di atas meja. Ia menatap Aaric dengan penuh kemelut di kepalanya.
"Bagaimana bisa..." lirihnya seakan tak percaya. Setelah pertemuan mereka pada malam itu, dengan gencarnya Aaric selalu berusaha menemuinya. Pria itu seolah menerornya dengan kebohongan demi kebohongan tentang hubungan Aaric dengan Kiana-istrinya.
Awalnya Bian tak percaya begitu saja. Dia pikir Aaric gila. Mengatakan jika istrinya memiliki hubungan yang sangat begitu dalam dengannya. Tentu Bian marah, tak terima karena telah membawa-bawa nama istrinya demi melampiaskan dendam pria itu padanya. Bahkan hampir saja mereka adu jotos karena Aaric sangat mengganggunya saat itu. Pria itu keukeuh bahkan tak ada bosannya menemui Bian di mana pun berada.
Meyakinkan jika apa yang dikatakannya itu adalah kebenaran.
"Itulah kenyataannya. Lo nggak bisa mengelak lagi. Berulang kali Lo menyangkal pun takdir berkata lain."
"Tapi..." Bian menelan salivanya susah payah.
"Sekarang Lo percaya sama gue? Gue nggak pernah mengada-ngada siapa sebenarnya Kiana. Gue cari dia bertahun-tahun dan sekarang dia ada di hadapan gue. Kiana adalah Asyilla. Adik gue yang telah lama menghilang!" ungkap Aaric penuh emosional. Bahkan matanya ikut berkaca-kaca, mukanya memerah manahan tangis, karena pada akhirnya kini ia bisa bertemu dengan adiknya.
"Lo nggak bisa menghindar begitu aja dengan janji yang udah Lo ucapin, Bi. Gue rasa Lo nggak pernah lupa atau mendadak amnesia. Secepatnya, gue pengen Lo bawa Kiana pulang ke rumah orang tua gue!"
Bian menghela napasnya berulang kali. Mengingat pertemuannya hari ini dengan Aaric membuatnya susah tidur. Matanya sulit terpejam meski rasa kantuk sudah menderanya sejak tadi. Diliriknya Kiana yang tengah memejamkan mata tetapi tangannya bermain-main mengusap dada bidangnya. Bian menangkap jemari putih itu lalu mengecupnya dengan lembut.
"Belum tidur?" tanyanya saat Kiana mendongak menatap Bian dari bawah dagunya.
Kiana menggeleng, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Bian. Menyembunyikan wajahnya yang cukup kecewa pada sikap Bian yang enggan membagi masalah dengannya.
"Kalau Mas belum sepenuhnya untuk percaya sama aku buat berbagi setiap masalah yang kamu miliki, aku gak apa-apa. Aku nggak tahu seberapa berat masalah yang sedang Mas hadapi. Tapi aku minta, Mas jangan terlalu terus memikirkannya. Aku nggak mau melihat Mas sakit. Di sini ada anak dan istri kamu yang menggantungkan hidup di pundak kamu." tutur Kiana mengeluarkan unek-unek isi hatinya yang ia tahan sampai berhari-hari.
Bian tersenyum miris kala menyadari jika istrinya itu mungkin menahan perasaan ingin tahu tentang apa yang sedang dia pikirkan. Selama itu pula, Kiana begitu sabar tak merecoki untuk terus bertanya. Mungkin ini adalah saatnya ia menceritakan kegundahan yang selama ini ia rasakan tentang istrinya.
"Sayang, hal apa yang kiranya membuat kamu akan merasa sangat bahagia?" tanya Bian penuh arti.
Kiana menatap Bian dengan kerungan di dahinya. "Tentunya Mas tahu, kehadiran kamu dan Al dalam hidupku sangatlah berarti. Hanya kalian dan keluarga ini yang aku miliki. Itu semua sumber kebahagiaanku." jawab Kiana tanpa ragu. "Kenapa Mas tiba-tiba nanya begitu?" selidiknya.
Bian menghela napasnya panjang. "Kamu janji, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah tinggalin aku lagi Kia. Aku nggak akan pernah sanggup. Aku mungkin akan gila jika itu terjadi lagi."
"Mana mungkin aku akan tinggalkan orang yang aku cintai tanpa sebab. Dulu mungkin aku nekat pergi Karena sebuah alasan. Dan itu menyakiti kita berdua terutama Al. Tapi sekarang, alasan apa yang membuat aku tega untuk meninggalkan kamu, Mas?" Kiana mengusap pipi, hidung, bibir, dan dagu Bian dengan lembut sampai pria itu memejamkan matanya.
"Besok," ucap Bian tetiba.
"Ada apa dengan besok?"
"Aku berharap kamu bisa merasakan kebahagian yang selama ini kamu cari, sayang..." ungkap Bian seraya merengkuh tubuh Kiana dengan begitu erat.
__ADS_1