SECRET LOVE

SECRET LOVE
Kembali Pulang


__ADS_3

Bian meringis saat melihat cara berjalan Kiana yang tentu terlihat seperti sedang menahan rasa sakit dan tak nyaman pada bagian tubuhnya. Bukan karen apa, itu pun terjadi karena hasil dari perbuatannya disisa malam terakhir saat memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami untuk memberi nafkah batin, melepaskan rasa rindu terhadap istrinya itu yang tertahan sekian lamanya.


Ya, pada akhirnya Bian dapat melepas kerinduannya pada Kiana setelah memastikan bayi mereka tertidur dalam lelapnya. Perasaan menggebu membuat Bian tak dapat lagi menahan gairah yang ada dalam dirinya. Ia terus berpacu bersama Kiana untuk mencapai kenikmatan yang membawa mereka ke atas Nirwana. Namun kini ia merasa bersalah ketika melihat istrinya yang terlihat seperti menahan rasa sakit setelah pertempuran yang mereka habiskan di sepanjang malam berakhir.


"Sayang," panggil Bian saat memperhatikan ruang gerak Kiana yang kaku dan terlihat begitu tak nyaman.


Kiana pun menoleh sesaat pada suaminya yang tengah duduk bersama Al yang berada di dalam pangkuan pria itu. Sedangkan ia sibuk mengemas pakaian miliknya dan juga Al ke dalam sebuah tas besar.


"Yakin kamu nggak apa-apa?" cicit Bian dengan nada penuh kekhawatirannya. "Apa masih terasa sakit?" tanyanya lagi memastikan tanpa merasa malu sedikitpun.


Kiana menggeleng pelan, "Aku baik-baik aja, Mas jangan terlalu khawatir." balas Kiana dengan senyum tipisnya.


"Tapi Mas sangat khawatir kalau kamu kenapa-kenapa, Kia."


"Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja, dan Mas nggak perlu cemas seperti itu." keukeuh Kiana pada suaminya. Demi menghargai dan menghormati suaminya, terlebih tak mau sampai menyinggungnya, ia nekad saja berbohong tentang keadaannya yang memang merasa kurang baik akibat kegiatan panas yang kembali mereka lakukan membuatnya sedikit merasakan seluruh tubuhnya sakit, terutama di bagian pusat tubuhnya yang memang terasa perih.


"Yakin?"


Kiana mengangguk seraya memalingkan wajahnya karena tersipu malu mendengar pertanyaan suaminya. Walau bagaimana pun juga ia merasa kurang nyaman karena belum terbiasa membicarakan hal intim seperti itu meski Bian adalah suaminya.


Bian yang melihat wajah tersipu istrinya merasa gemas sampai ia memamerkan senyum tipisnya.


Ya, dia begitu merasa bahagia karena Kiana kini telah benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. Walau rasa bersalah tetap bersarang di dalam dirinya kala melihat kesakitan istrinya itu, tapi Bian tak menyesal karena ia yakin jika saat ini dirinya dan juga Kiana telah terikat bukan hanya sebagai sepasang suami istri, tapi mereka juga telah terikat jiwa dan raganya dalam sebuah perasaan yang terpupuk subur bersemi di dalam hati mereka.


"Mas," panggil Kiana yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Entah mengapa saat ini ia merasa canggung ketika berhadapan dengan Bian setelah mereka benar-benar bersatu. Apa mungkin itu cuma sekedar perasaan berlebihnya saja? Ah... Kenapa pula saat ini ia kembali merasakan debaran di dadanya? Debaran yang sama persis saat untuk pertama kalinya Bian menunjukkan perhatian untuknya. Apa ini karena pria itu?


"Ya sayang?"


"Mas, harus ya kalau aku dan Al ikut pulang juga ke rumah Mama dan Papa?" cicit Kiana dengan raut wajahnya yang lucu. Hal itu justru membuat Bian terkekeh dengan kepolosan sang istri.


"Tentu dong sayang, kamu kan istrinya Mas, dan Al adalah anak kita. Sebagai sebuah keluarga, dalam keadaan senang maupun susah, dimana pun kita berada ya kita harus selalu bersama." ujarnya.


Bian pun menarik senyumnya saat melihat Kiana hanya diam memperhatikannya. "Ada apa?" tanya Bian dengan mimik muka serius.


"Nggak. Nggak ada apa-apa, Kok." elak Kiana membalas dengan senyuman manisnya.


"Apa kamu merasa keberatan kalau kita tinggal di rumah besar bersama Mama dan Papa, sayang?"


Mendengar hal itu dari mulut suaminya, Kiana dengan cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Bukan bermaksud hati untuk seperti itu, tapi dia hanya merasa tingkat kepercayaan dirinya begitu sangatlah rendah saat ini. Apa pantas jika dirinya berada di sana bersanding bersama Bian menjadi pendamping hidup pria itu? Terlebih menjadi menantu dari sebuah keluarga yang terpandang dan juga terhormat dari keluarga Adijaya?


"Bukan begitu Mas, aku sama sekali nggak mempermasalahkan tentang itu. Apalagi nanti aku bakalan ketemu sama orang-orang di rumah, terutama aku kangen banget sama Si Mbok. Tapi..." kalimatnya menggantung seraya ia menerawang jauh ke depan memikirkan banyak hal yang membuatnya merasakan keresahan melanda hatinya.


"Tapi kenapa?" wajah Bian mencelong menatap istrinya dengan lekat.


"Apa aku pantas, Mas?" suara lembut nan lirih itu kembali terdengar setelah beberapa saat tenggelam dalam keheningan.


"Mas nggak ngerti kamu bicara apa, sayang?"


Kiana terdiam dalam geraknya, ia menghela napas sebelum kembali bersuara.


"Menjadi bagian dari keluarga Mas, apa aku pantas? Sejujurnya saat ini saja aku masih tidak percaya bisa berada di samping, Mas. Aku merasa ini seperti sebuah mimpi." akhirnya Kiana dapat mengeluarkan rasa kebimbangan dalam hatinya selama ini.


"Ki, Mas sangat bersungguh-sungguh akan keputusan yang Mas teguhkan dan sama sekali nggak akan pernah Mas sesali sampai kapan pun juga. Karena Mas sangat mencintai kalian. Kamu sangat pantas untuk berada di samping Mas, dan menjadi bagian dari keluarga Adijaya. Karena cuma Mas yang boleh mengucapkan kalau kamu itu pantas atau tidaknya untuk Mas. Dan terbukti kamu memang yang terbaik untuk Mas. Karena kamu adalah Kiana Putri, istri dari seorang Abian Kharis Putra Adijaya, dan seorang ibu dari anak-anaknya Mas, Albio Abizar Kharis Adijaya. Kamu sangat pantas dan sangat-sangat berarti untuk Mas, sayang."


Kiana mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu. Mendengar suaminya berkata-kata, entah mengapa perasaan hangat tetiba menyeruak di dalam relung hatinya. Pria yang kini telah menjadi suaminya itu telah membuatnya merasa tersentuh, dan kini ia merasa yakin jika ia memang ditakdirkan untuk berada di samping pria itu.


"Apa kamu sudah siap untuk pulang ke rumah?" tanya Bian setelah memastikan Kiana telah selesai berkemas.


"Iya, Mas." balas Kiana.

__ADS_1


"Kalau begitu kita berangkat sekarang? Lihatlah, sepertinya Al sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang-orang rumah yang sedang menunggu kedatangannya." Ujar Bian, lantas membuat Kiana menganggukkan kepalanya.


***


Setelah cukup lama berkendara membelah jalanan ibu kota, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Dimas pun sampai di pelataran rumah besar seiring dengan suara deru mesin kendaraan tersebut yang mulai senyap.


Bian menuntun Kiana untuk keluar dari mobil, dimana sang istri yang terlihat cukup kesusahan karena disepanjang perjalanan entah kenapa Al tidak biasanya terus merengek dan tak mau lepas dari ibunya.


"Akhirnya cucu Oma pulang juga," ucap Bu Ajeng yang tersenyum merekah menyambut kedatangan anak, menantu, dan cucu kesayangan satu-satunya itu. Wanita paruh baya itu menghambur menghampiri Kiana yang tengah menggendong Al dengan kain jariknya.


Kiana tersenyum saat mendapatkan sambutan hangat dari ibu mertuanya terlebih saat merasakan pelukan erat darinya.


"Selamat datang kembali ya, Ki. Akhirnya kamu pulang juga membawa serta Al, cucu kesayangannya Mama." ujar Bu Ajeng yang masih memeluk erat Kiana seraya mengusap lembut punggung gadis itu.


"I-iya, makasih Ma." balas Kiana yang terlihat gugup dan merasa aneh dengan situasi anyar seperti ini.


"Walah... Lihat siapa ini? Tampan sekali cucunya Oma." Bu Ajeng beralih pada Al. "Oma kangen banget sama Al. Sini-sini, Oma yang gendong Al sekarang." ia mengulurkan kedua tangannya bersiap untuk meraih Al untuk ia bawa ke dalam dekapannya.


Al yang masih terlihat rewel justru enggan menyambut uluran tangan dari Bu Ajeng. Bayi itu malah memperlihatkan wajah sedihnya seraya menyembunyikan diri menenggelamkan wajahnya ke dada sang ibunda.


"Lho, kok Al nggak mau sayang? Al nggak kangen sama Oma ya?" ujarnya sedih saat keinginannya tak sesuai harapan untuk segera meraih cucunya dalam pelukannya.


"Al sejak tadi rewel Ma,"


"Kenapa, Ki? Al sakit?" ucap Bu Ajeng yang cemas dan langsung memeriksa keadaan cucunya dengan menyimpan punggung tangannya di kening Al. "Tapi kok ya nggak panas?" ucapnya lagi setelah memastikan.


"Mungkin lagi rewel saja, tapi sebelumnya Al baik-baik kok, Ma." balas Kiana yang melihat bayinya mendusel-duselkan hidung pada dadanya.


"Ya mungkin juga Al merasa sedang tidak nyaman. Sudah diperiksa diapersnya?"


Kiana menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu coba nanti diperiksa."


"Jadi cuma cucunya aja yang dikangenin? Anaknya nggak nih?" tutur Bian yang kini ikut bergabung dengan kedua wanita yang sangat ia cintai itu.


"Hmmm... Mulai deh," Bu Ajeng mendengus pelan.


"Lagian Mama pilih kasih, mentang-mentang sekarang udah ada Al terus anaknya dilupain?" Bian mencebikkan bibirnya. Bu Ajeng hanya memutar mata kepalanya dengan malas mendengar ocehan anaknya yang kembali mulai menyebalkan.


"Iya, Mama sekarang lebih sayang Al dibanding kamu yang nakalnya nggak ketulungan!" selorohnya seraya merangkul bahu Kiana untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


"Lho, Mama mau bawa kemana anak istrinya Bian, Ma?" protes Bian pada ibunya.


"Mau Mama culik mereka biar kamu nggak bisa jahatin mereka lagi!" ujarnya. "Ayo Ki, kita masuk ke dalam. Kasihan Al pasti udah lelah. Kita tinggalin aja bapaknya di sini biar dia yang bawa barang bawaan kalian." ucap Bu Ajeng seraya pergi meninggalkan Bian begitu saja.


Bian membulatkan matanya saat melihat punggung kepergian ibu beserta anak dan istrinya. Benar apa kata pepatah, kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah berkurang pada anak lelakinya. Tetapi lambat laun perasaan itu akan terbagi seiring jika anak tersebut sudah memiliki seorang anak dan istri. Dan kini Bian merasakan itu semua. Bukan berarti dia iri dan cemburu karena sang ibu kini lebih memperhatikan anak dan istrinya. Tetapi Bian justru sangat bersyukur bahwa ibunya dapat membuka tangan, menerima dengan baik kehadiran Kiana dan Al dalam hidupnya.


"Pak, kok malah senyum-senyum?" tanya Dimas yang hendak berpamitan pada atasannya itu, tapi malah mendapati Bian yang terus tersenyum kecil.


"Hah? Kamu bilang apa, Dim?" tanya Bian dengan wajah cengonya.


Dimas menggeleng pelan, "Nggak, saya cuma mau pamit sama Pak Bian."


"Oh..." Bian menanggapi Dimas dengan santai. "Ya sudah, apalagi?" ucapnya melihat si asisten masih belum beranjak dari tempatnya.


Dimas berdecak pelan, "Bapak ikut saya ke kantor?"


"Ngapain?" balas Bian dengan dahi mengkerut.

__ADS_1


"Kerja Pak. Masa saya ajak bapak ke kantor cuma mau karokean." kepala pria jangkung itu menggeleng-geleng keheranan. Terkadang mempunyai bos seperti Bian sering membuatnya harus banyak-banyak mengelus dada. Ya contohnya disaat seperti ini. Sabar Dimas.


"Nggak, saya di rumah aja hari ini."


"Ya sudah kalau begitu, saya pamit sekarang juga." ucap Dimas berlalu setelah memberi salam dan hormat pada atasannya itu.


"Dim!" panggil Bian pada Dimas yang hendak masuk ke dalam mobil.


Dimas terhenti sejenak dari geraknya. Pria itu menghela napas sebelum kemudian membalikkan tubuhnya.


"Ya Pak?"


"Saya ingin berbicara serius dengan kamu tapi tidak sekarang. Apa nanti malam kamu bisa kembali ke sini untuk membicarakan hal itu?"


"Baik Pak, kalau tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya pamit."


"Ya," balas Bian menganggukkan kepalanya seraya menatap kepergian asistennya itu.


***


"Hihihi... Lucu banget sih kamu, ya ampun aku jadi gemes gini kan jadinya." ucap Fira saat menggoda Al dengan menciumi pipi lembut bayi itu.


"Udah Ra, nanti Al nangis lagi ini," peringat Bu Ajeng pada anak gadisnya yang terus menerus menciumi Al tanpa henti.


"Tapi kan lucu banget, Ma. Liat deh, ganteng banget sih ponakannya aku ini..." Fira kembali menciumi wajah Al yang menurutnya sangat menggemaskan sampai-sampai bayi itu kembali merengek di dalam pangkuan ibunya.


"Iya, tapi kasihan Al. Lihat keponakan kamu mukanya udah merah kayak gini."


Fira hanya mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan ibunya yang terus memperingatinya agar tak terus menerus menggoda Al.


"Aku kan cuma gemes, Ma." ujarnya menggumam dengan suara melemah. Tatapan matanya masih mengarah pada Al yang saat ini tangan mungilnya terus meraih-raih wajah Kiana.


Kiana yang melihat itu semua hanya tersenyum saat menyadari jika keberadaan bayinya di rumah itu menjadi pusat perhatian semua orang. Terutama Fira, sang adik ipar yang begitu senang dengan kehadiran Al di tengah-tengah keluarga mereka.


"Lho, kok masih di sini sayang?" tanya Bian saat melihat sang istri masih berada di ruang tengah, berkumpul bersama kedua orang tua dan juga adiknya.


Kiana menoleh pada sang suami yang datang menghampiri. Ia mengulas senyum saat Bian kini duduk tepat di sampingnya.


"Mas pikir kamu udah ada di kamar atas," ucapnya lagi pada Kiana seraya menatap Al yang mulai gelisah di dalam pangkuan istrinya.


"Kamu nggak ngantor, Bi?" bukan Kiana, tapi malah ayahnya yang menyahutinya saat ini.


"Nggak Pa, hari ini Bian pengen di rumah dulu bareng Kiana dan juga Al."


"Udah Papa duga itu." balas Pak Hardi terkekeh kecil.


Bian kembali mengalihkan perhatiannya pada anak dan istrinya. Terlihat olehnya sendiri Kiana begitu kesusahan dengan keadaan Al yang merengek sejak tadi.


"Coba Mas yang gendong, Ki." pinta Bian mengulurkan tangan untuk meraih Al. "Anak bapak kenapa ini, hem?" ucap Bian saat berhasil membawa sang putra yang saat ini menangis dalam dekapannya.


"Al udah minum kan sayang?"


"Udah Mas, minumnya udah habis tapi masih tetep rewel terus."


"Bawa masuk anak dan istri kamu ke dalam, Bi. Mungkin Al merasa lelah dan dia butuh istirahat." cicit Pak Hardi.


"Iya Bi, jangan lupa periksa diapersnya juga. Mungkin Al gelisah merasa nggak nyaman karena diapersnya penuh." sahut Bu Ajeng.


Bian menganggukkan kepalanya seraya mengusap-ngusap punggung putranya agar tenang.

__ADS_1


"Ayo sayang kita bawa Al ke kamar kita," ajak Bian pada Kiana yang dibalas dengan anggukkannya. Bian meraih tangan Kiana untuk membawa istrinya itu. Menuntunnya dengan langkah yang saling beriringan, memasuki sebuah ruangan yang dimana telah menjadi saksi awal mula bersatunya dua insan dalam balutan kabut gairah yang bermuara.


*****


__ADS_2