
"Laper Ma..." ujar Fira setelah mereka keluar dari toko perhiasan dan berjalan saling beriringan.
"Ya makan," jawab ibunya.
"Kalau gitu aku pengen makan di resto Jepang, ya?" pintanya dengan wajah yang imut.
"Iya,"
"Yes!" ungkapnya senang.
Entah kenapa setelah bertemu dengan seseorang yang baru pulang dari Jepang tadi membuat Fira ingin makan makanan khas negeri sakura tersebut. Itu hanya akal-akalannya saja agar dapat bertemu dengan seseorang yang ingin dia temui yang memang bukan temannya.
Bertemu hanya sebentar karena ada sesuatu yang ingin orang itu berikan untuknya. Pergi dengan memakan waktu yang cukup lama sampai ibunya mengomel itu pun gara-gara dia hanya memandangi lama pemberian dari orang itu yang kembali pergi karena ada sesuatu pekerjaan yang sangat penting.
Tidak apalah, yang terpenting dia sudah mengobati rasa kangennya dengan orang tersebut, dan yang paling membuatnya merasa bahagia adalah gift yang ia dapatkan dari orang tersebut serasa menjadikannya seseorang yang paling istimewa.
"Senyum-senyum?"
"Emangnya nggak boleh aku senyum-senyum?" balas gadis itu yang tak berhenti tersenyum karena teringat akan pertemuan singkat tadi.
"Kamu ini ada-ada aja," balas Bu Ajeng geleng kepala.
"Ma, saya izin ke toilet sebentar nggak apa-apa?" ucap Kiana.
"Ya udah, minta temenin Fira. Mama tunggu di resto Jepang itu." tunjuknya pada deretan tempat makan yang saling bersebelahan.
Melihat kepergian anak dan menantunya, Bu Ajeng pun tersenyum cerah. Bagaimana saat melihat keakraban yang terjalin diantara mereka sebagai saudari ipar. Langkah kakinya pun mengayun ke arah tempat tujuannya.
Saat dirinya melintas di sebuah resto yang tengah di laluinya, sekilas ia melihat seseorang yang sangat ia kenali berada di dalamnya. Berbekal dengan rasa penasarannya, akhirnya ia memastikan dengan menghampiri seseorang tersebut.
"Oh, Mbak Sofia?" panggilnya setelah memastikan seseorang tersebut benar ia kenali.
"Mbak Sofia, akhirnya kita bertemu di sini." ucapnya lagi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.
"Ajeng?" balas wanita tersebut sesaat setelah menoleh. Cukup terkejut saat melihat suara yang memanggilnya itu adalah teman lamanya.
"Iya , Mbak. Apa kabar? Lama tidak bertemu."
"Baik-baik. Tidak menyangka kita bisa bertemu di sini." Bu Sofia berdiri lekas memeluk teman lamanya itu. Beberapa saat mereka saling berpelukan melepas rasa rindu setelah lama tak bertemu.
"Aku juga nggak nyangka bisa ketemu sama kamu di sini, Mbak. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu setelah kepindahan kalian."
"Halo, Tante." sapa Aaric saat melihat teman ibunya, sekaligus ibu dari teman masa lalunya itu.
"Hai, Aaric. Tante sampai lupa ada kamu di sini. Apa kabar?" serunya pada pria yang kini ikut berdiri dari duduknya itu.
"Baik, Tante." jawab Aaric seraya mencium punggung tangan wanita tersebut.
"Kemarin kita bertemu saat di rumah sakit, tapi tidak sempat berbincang ya, Ar?"
"Iya, Tante sangat sibuk sekali sepertinya." guyon Aaric membuat Bu Ajeng mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kamu bisa saja." jawabnya dengan tertawa kecil.
"Ayo duduk Jeng, kami sedang makan. Mau pesan sekalian kita makan siang sama-sama?" tawar Bu Sofia.
"Wah, sepertinya sedang ada makan besar ini." ucap Bu Ajeng saat melihat berbagai macam hidangan yang tersaji di atas meja.
"Nggak kok, cuma makan siang biasa saja. Tadi Mas Halim dan Damar juga ada di sini. Tapi mereka baru saja pergi karena ada urusan. Tinggal lah kami berdua sekarang." ungkap Bu Sofia dengan tawanya.
"Pantas saja, pasti seru sekali makan siang bersama keluarga di luar." tukas Bu Ajeng.
"Aaric baru sampai, kami tadi hanya bertiga. Pesan apa, aku panggilkan pelayannya."
"Nggak perlu, Mbak. Aku juga berencana makan siang di resto sebelah bareng anak-anak." tolaknya secara halus.
"Bian dan Fira ada di sini juga?" tanya Bu Sofia, sekilas dia menoleh pada anaknya yang memasang muka datar memperhatikan perbincangan mereka.
"Nggak, Bian kerja. Cuma ada Fira sama istrinya aja." balas Bu Ajeng santai.
"Istri?" tanyanya dengan alis yang saling menaut. "Istri Bian? Bian udah menikah Jeng? Kok aku nggak dengar berita ini. Kapan?"
"Eh, i-iya Mbak. Bian udah nikah. Udah punya anak juga. Bayi laki-laki yang usianya baru 4 bulan. Aku ke sini ditemani si bungsu sama istrinya Bian." tuturnya, merasa salah tingkah saat menjelaskan hal tersebut pada Bu Sofia.
"Wah... Selamat ya, akhirnya Bian sudah mendapatkan pendamping hidupnya. Aku turut bahagia mendengar berita pernikahannya." ucap tulus Bu Sofia pada kabar gembira tersebut.
__ADS_1
"Makasih lho Mbak Sofi atas doanya." Bu Ajeng mengulas senyum meski tak enak hati tak bisa mengundang ke acara pernikahan putra semata wayangnya. Jangankan orang lain, dirinya pun sebagai orang tuanya tak tahu menahu kapan dan dimana anaknya itu menikahi Kiana tanpa sepengetahuannya.
"Anak-anak, mereka dimana? Kok nggak keliatan?"
"Mereka pamit ke toilet tadi, makanya aku mau sekalian nunggu di resto Jepang sebelah. Eh senengnya ketemu sama Mbak Sofi di sini." jelasnya sembari meraih ponsel yang terus berdering di dalam tasnya.
"Nah, baru aja diomongin udah nelpon. Kayaknya mereka udah nungguin di sana. Kalau gitu aku pamit ya Mbak, takut si bungsu cemberut karena nyari ibunya. Maunya sih masih pengen banyak ngobrol sama Mbak Sofi." kekehnya seraya beranjak dari duduknya.
"Oh gitu, ya sudah. Kapan-kapan kita harus ketemuan buat ngobrol banyak." timpal Bu Sofia.
Setelah pamit dan melihat kepergian wanita yang dulu pernah menjadi teman dekat karena suami mereka yang sebagai pengusaha saling bekerja sama itu pergi, Bu Sofia menghela napasnya pelan.
"Aku kira Mama sengaja ketemuan sama Tante Ajeng buat rencana perjodohan konyol itu," kelakar Aaric yang tadinya menatap curiga pada ibunya.
Bu Sofia hanya memicingkan mata ke arah anaknya.
"Makanya jangan negative-thinking dulu, memang kamu mau Mama jodohin sama anak gadis atau menantu Bu Ajeng itu?"
Aaric pun tak luput mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ya nggak lah, kayak yang nggak ada perempuan lain aja. Mama nih ada-ada aja." Aaric bergidik ngeri, membayangkan bagaimana jika apa yang dikatakan oleh ibunya itu benar-benar terjadi. Dia tidak dapat membayangkan jika harus menjadi adik ipar
dari Si Bian itu. Mungkin dapat dipastikan selama umur pernikahannya dia tidak akan bertegur sapa atau bahkan terlihat akrab sama sekali.
"Mama seneng dengar Bian sudah menikah. Ya mesti kaget karena tidak ada pemberitaan santer di luaran sana karena walau bagaimana pun keluarga Adijaya itu sangat dikenal. Kamu tahu ya Bian sudah menikah?" tanyanya pada Aaric yang sibuk memainkan ponsel.
"Nggak," Aaric menggelengkan kepalanya. "Aku juga baru tahu berita ini. Sama kagetnya kayak Mama." balasnya acuh.
"Masa sih? Kamu kan temannya, apalagi perusahaan kalian sedang bekerja sama bukan? Masa kamu tidak tahu menahu soal pernikahan Bian?" desak Bu Sofia.
Aaric hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu dan tidak mau tahu tentang apa yang terjadi pada teman lamanya itu. Dia tidak peduli sama sekali. Makanya dia acuh, tak tertarik dan lebih berpura-pura menyibukkan diri sendiri saat ada pembahasan tentang Bian di meja itu.
"Kamu itu aneh," gumam Bu Sofia pada putranya sendiri. Namun Aaric menghiraukan kalimat tersebut dan malah terkekeh kecil.
"Ar..."
"Iya, Ma?"
"Soal yang kamu ceritakan tadi..." Bu Sofia sengaja menjeda ucapannya yang masih penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh anaknya tadi. "Asyilla..."
"Kita bahas di rumah ya Ma, aku nggak mau sampai hati Mama nangis nanti di lihat banyak orang." ucapnya seraya tersenyum penuh arti pada ibunya.
Sementara itu di rumah besar Adijaya.
"Bian pulang..." ucap pria itu saat memasuki rumah yang setelah sebelumnya sudah mengucapkan salam.
"Lho, kamu udah pulang lagi Bi? Masih siang ini," tukas Pak Hardi pada anaknya yang baru saja pulang.
"Sengaja Bian pulang cepat, udah kangen berat sama si gembul ini." ucapnya pada bayi yang tengah terlentang di atas kasur matras yang sengaja ayahnya letakkan untuk mengajak bermain cucu kesayangannya itu.
Bian dengan tak sabarnya meraih bayi gembul yang tengah tersenyum saat melihat kedatangannya. Bayi tersebut nampaknya sudah mengenal ayahnya sehingga begitu berbinar saat melihat keberadaannya dengan terus bergerak-gerak tak sabar ingin segera berada dalam dekapan ayahnya.
"Percuma kalau begitu berangkat bekerja," cibir Pak Hardi.
"Nggak apa-apa. Papa tenang saja, Bian itu merupakan pimpinan yang menjadi panutan bagi para pegawainya. Maka dari itu Bian harus menjadi contoh yang baik. Semua pekerjaan selalu tepat waktu Bian kerjakan. Cuma hari ini kerinduan Bian pada bayi ganteng ini sudah tidak bisa ditahan, iya kan Nak? Bapak kangen sama kamu..." ujarnya menciumi wajah Al yang terus tertawa karena kegelian karena ulahnya.
"Ibu belum pulang?" tanyanya pada Al, lebih tepat bertanya pada ayahnya.
"Belum, tadi kasih kabar katanya sudah di jalan pulang."
"Kasian anak Bapak ditinggal ibunya sendirian di rumah. Al main sama Opah ya? Al nggak nangis? Al haus?"
"Satu jam yang lalu baru aja selesai minum dari botol yang dipanaskan Irna terlebih dahulu. Tadi sempet nangis, awalnya nggak mau, tapi Papa bujuk lumayan lama akhirnya mau minum juga." jelas Pak Hardi yang ditinggal saat mengasuh cucunya.
"Wah... Hebat anak Bapak. Sekarang Al kan udah biasa minum ASI langsung dari ibunya, makanya nangis. Bayi ini udah tahu kalau minum langsung dari sumbernya itu memang lebih nikmat, Opah bisa lihat kan aku tuh terlihat gembul..." ucapnya menandingi tingkah lucu Al, sebelum kalimat terakhir seperti menirukan suara anak kecil untuk bayinya itu.
"Kamu ini bisa aja," Pak Hardi melengos mendengar ucapan anaknya.
Bian mendengar sahutan ayahnya malah terkekeh pelan. Kini ia sibuk menimang Al yang terlihat diam dengan irisan mata jernihnya yang terus memperhatikan Bian.
"Apa? Kamu kangen sama Bapak ya, hem?" ujarnya seraya menciumi pipi tembem merah Al tanpa henti. Bian sungguh gemas pada bayinya, apalagi pada ibunya saat malam menjelang.
"Papa dengar malam ini kamu ada acara makan malam, Bi?"
"Iya Pa, acara makan kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan proyek yang kita kerjakan bersama. Papa ikut?"
__ADS_1
"Nggak usah, cukup kamu aja yang mewakilkan. Papa di rumah aja bareng Cucu Papa ini sementara Bapak sama Ibunya pergi."
"Nah, bagus itu. Jadi Bian bisa leluasa berduaan sama ibunya tanpa harus khawatir sama bayi lucu ini," selorohnya sambil menatap kembali wajah bayinya yang tertawa seolah dirinya tengah mengajaknya bermain.
Pak Hardi kali ini benar-benar kembali melengos mendengar ucapan anaknya.
"Sepertinya para wanita di rumah ini sudah kembali pulang," ucap Pak Hardi saat mendengar suara langkah kaki yang saling beriringan memasuki ruangan dimana mereka berada.
"Akhirnya... Ibu kamu udah pulang Nak," seru Bian saat melihat kedatangan para wanita termasuk istrinya yang tersenyum manis ke arahnya membuat hati Bian meleleh dan berdegup kencang.
"Pak Bian udah pulang?" tanyanya seraya meraih Al yang mana bayi itu malah merengek saat mengetahui kedatangan ibunya. "Tahu ibu datang ya Nak, Ibu kangen." ucapnya seraya mencium pipi bayinya.
"Sama kangennya. Mas capek baru pulang sayang..." ujar Bian menyimpan kepalanya di bahu Kiana tanpa rasa malu mengumbar kemesraan di depan orang tuanya.
Kiana meringis, merasa risih atas perlakuan suaminya ia pun mengendikkan bahunya.
"Alah, modus itu." cibir ibunya.
"Ish... Mama ini julid sama anak sendiri. Iri itu. Lagian lama banget bawa pergi istri Bian."
"Nggak bakalan mati juga kamu ditinggal beberapa jam sama istri kamu. Baru aja ditinggal sebentar tapi udah uring-uringan nggak jelas gitu."
Bian cemberut mendengar sindiran monohok ibunya.
"Bucin..." gumam Fira mencibir seraya pergi.
"Al ke kamar dulu ya Omah-Opah," ucap Kiana pada kedua mertuanya.
"Iya, mending bawa ke kamar dulu aja. Pasti capek seharian main sama Opahnya. Dikasih minum dulu biar tidurnya nyenyak, kamu juga jangan lupa istirahat, Ki."
"Iya, Ma."
Setelah pamit, sepasang suami istri yang tengah membawa bayi itu memasuki kamar. Bian menutup pintu kamarnya kemudian tidak lupa menguncinya.
"Sekarang anak Mama itu kamu ya bukan lagi aku," ujar Bian seraya mendekati Kiana yang duduk di sisi ranjang hendak memberi ASI untuk Al yang sudah bergerak-gerak tidak sabaran menunggu jatah minumnya.
"Kenapa dikunci?" bukannya menimpali ucapan suaminya yang masih betah cemberut, Kiana malah balik bertanya.
"Biar aman," balas Bian santai seraya ikut duduk di samping Kiana menikmati sebuah pemandangan indah dimana anaknya itu tengah menyusu dengan tenang dan damai dipuncak dada indah ibunya yang mana itu pun tempat kesukaannya saat bermanjaan.
"Biar aman..." lirih Kiana mengulang kembali jawaban suaminya.
"Iya, biar lebih nyaman juga. Anakku sedang menyusu lho, Bu. Dia butuh ketenangan saat menyerap nutrisi yang dia butuhkan dari ibunya, begitu pun sebaliknya." ucapnya seraya lebih mendekatkan lagi dirinya pada anak dan istrinya. Bian merangkul bahu Kiana seakan ia tengah memeluk melingkupi keduanya.
"Anteng banget sih kamu, Nak. Enak ya? Saking enaknya mata kamu sampai merem begitu." ujarnya lagi seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Al dan tepat berada diantara dada Kiana.
"Mas mau apa?"
"Kamu tuh harus konsisten mau panggil suamimu ini apa? Mas atau Bapak?"
"Sebenarnya lebih hangat panggil Bapak, aku suka panggil Bapak karena nanti Albio pun bisa panggil Bapaknya dengan sebutan itu. Tapi kalau Mas..."
"Lebih enak kalau kita lagi berduaan aja, aku suka kalau kamu panggil aku Mas kalau kamu sedang--" Bian menarik turunkan kedua alisnya sembari tersenyum genit penuh arti.
Melihat semua itu Kiana hanya berdecak dan mendelik pada suaminya.
"Ditaruh dulu anaknya, itu udah tidur."
"Baru juga tidur, kasian nanti bangun lagi,"
"Nggak apa-apa, kayaknya udah pulas karena nutrisinya sudah terpenuhi." tukas Bian memaksa malah meraih bayinya yang sudah tertidur itu dengan mulut yang masih menempel pada pucuk dada ibunya dengan perlahan.
"Tidur yang nyenyak ya, Nak. Sekarang giliran Bapak yang gantiin kamu dulu." ucapnya seraya mengusap lembut pipi mulus bayinya.
"Yuk!" ajaknya pada Kiana.
"Kemana?" tanya Kiana yang sedang mengancingkan bajunya.
"Mandi bareng sayang..." balasnya dengan kekehan. "Ini jangan dulu dibenerin," sergahnya menahan pergerakan tangan Kiana dikancing bajunya.
"Ayo, Mas mau kamu yang mandiin kayak kamu yang lagi mandiin Al, sayang..."
"Dimandiin ya..." gumam gadis itu menatap wajah genit suaminya.
"Iya, mumpung si gembul udah tidur, Bapak sama ibunya bebas buat pacaran, hihi..." Bian terkikik geli dengan ucapannya sendiri, kemudian menggandeng Kiana untuk masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1