SECRET LOVE

SECRET LOVE
Rumah Siapa Mas?


__ADS_3

Pagi itu tidak seperti biasanya Al merengek dan rewel tanpa sebab. Bayi yang baru berusia tujuh bulan tersebut sejak bangun tidur terus merengek bahkan beberapa kali menangis. Sehingga mau tidak mau Bian ikut membantu Kiana untuk menenangkan dan menjaga Al dari pagi sampai siang menjelang.


Sudah berbagai macam cara Bian kerahkan untuk menenangkan Al yang terus rewel hari itu. Entah apa yang salah dengan caranya mengasuh. Seolah setiap yang dia lakukan untuk membuat bayinya tak menangis lagi itu tak ada hasilnya.


Baru saja beberapa menit ia bisa bernapas lega saat bayinya itu sudah bisa berhenti menangis dan sibuk kembali dengan mainan tangannya. Al tiba-tiba kembali merengek membuat Bian dengan cepat meriah bayi gembul itu dalam dekapannya.


"Jagoan bapak kenapa lagi, hem?" tanyanya pada bayi gembul yang sudah merengek lagi dengan mulut kecilnya melengkung menahan tangis.


"Al sakit? Tapi badannya nggak panas. Jadi Al maunya apa?" ucapnya seraya meraih Al untuk ia pangku yang sebelumnya terlentang anteng dengan sebuah mainan di genggaman tangannya.


"Al kenapa sayang..." ucapnya mencium pipi tembem putranya. "Udah nyusu juga kan sama ibu, masa sekarang mau minum lagi?"


Al semakin menangis dalam gendongan Bian. Bayi itu terus merengek bahkan terus mengusak wajahnya pada dada Bian berulang Kali.


"Bapak harus kayak gimana lagi biar kamu nggak nangis, hem?"


"Al jangan nangis dong, sebentar lagi kan mau ketemu sama Mama Papanya ibu. Kakek Neneknya Al, sayang..." ujarnya menimang bayi gembul yang mungkin sedang rewel meski Bian berulang kali menenangkannya.


"Nangis lagi ya, Mas?" tanya Kiana yang baru saja datang setelah pergi sebentar menyiapkan botol ASI untuk Al. Bian langsung saja mengatupkan mulutnya saat mendapati istrinya telah kembali.


"Tadinya anteng, tapi tiba-tiba nangis gitu aja. Mas bingung Al maunya apa, jadi serba salah juga ini sayang..." keluhnya yang sudah hampir menyerah menenangkan bayi yang masih merengek tanpa sebab itu. "Apa Al mengantuk ya? Makanya dia rewel kayak gini." terkanya seraya membenarkan posisi bayi tersebut karena terus bergerak setelah tahu akan kehadiran ibunya.


"Baru aja bangun kok Mas, masa udah ngantuk lagi aja." Kiana ikut menyongsong bayinya dari tangan Bian untuk ia bawa dalam dekapannya. "Kasian anak ibu..." serunya mengusap anak keringat di rambut kepala bayinya.


"Atau dia pengen minum lagi?" ucapnya menatap iris bening si kecil yang sudah berembun.


"Terakhir Al minum malah dimuntahin, masih kenyang kayaknya." Kiana menepuk-nepuk paha Al agar tenang tak menangis lagi.


"Hari ini lagi rewel, tahu banget bapaknya lagi di rumah nggak kemana-mana. Kamu ini Nak, udah bikin bapak was-was karena khawatirin kamu." tukasnya dengan senyuman getir melihat Al yang sudah mulai tenang dan kini menatapnya seolah mengerti apa yang dikatakan olehnya.


"Kamu ngerjain bapak ya?" selorohnya pada bayi tersebut membuat si kecil merangsek menyembunyikan wajahnya pada dada ibunya.


"Hari ini jadi keluar, Mas?"


"Iya, kamu siap-siap gih. Sebentar lagi kita berangkat."


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Kiana yang sudah penasaran kemana ia akan di bawa oleh suaminya. Semalam sebelum tidur, Bian terus berbicara bahwa besok pagi ia akan mengajaknya pergi.


"Ada. Suatu tempat." balas Bian yang masih merahasiakan tujuannya membawa istri dan anaknya pergi.


"Iya, kemana? Aku bingung Mas mau ajak aku sama Al kemana sebenarnya. Aku bisa siapin kebutuhan Al dengan baik kalau Mas kasih tahu tujuan kita."


"Aku mau me time sama anak istriku. Habisin waktu sama kalian karena akhir-akhir ini aku suka pulang malam karena kerjaan. Kebersamaan Mas sama kalian jadi berkurang." ungkapnya.


Kiana tak mendebat lagi. Ia hanya mengangguk kecil. Dengan segera ia pun menyiapkan segala kebutuhan anaknya untuk selama mereka berada di luar rumah.

__ADS_1


Awalnya Kiana tak mau lagi bertanya pada suaminya meski rasa penasaran menggelayutinya. Kenapa pula suaminya itu harus main rahasia-rahasiaan segala. Kalaupun ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat, tentu ia pasti akan senang-senang saja. Apalagi mereka jarang sekali pergi keluar membawa Albio yang baru tumbuh kembang seusianya saat ini.


Sesekali mereka hanya pergi berdua, itu pun karena adanya agenda Kiana yang harus check-up pada dokter obgyn. Setelahnya Bian akan membawanya berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menikmati waktu berdua. Katanya Bian biar mereka bisa sekalian pacaran. Karena mereka belum sempat pacaran. Kiana suka sih menikmati kebersamaan mereka jadinya dia tahu rasanya pacaran itu seperti apa. Tetapi perasaannya selalu saja khawatir pada bayi yang dia tinggalkan di rumah bersama Oma Opanya.


Tapi kali ini ia benar-benar merasa dongkol. Terbukti di sepanjang perjalanan Kiana hanya diam saja menghiraukan suaminya, namun sesekali bersuara menanggapi celotehan Albio yang tak lagi rewel. Mungkin dengan diamnya seperti itu suaminya akan lebih peka untuk memberitahu kemana tujuan mereka.


Dahi gadis itu menaut saat Bian membawanya ke sebuah outlet pakaian dan kebutuhan bayi. Saat memasuki tempat tersebut, Bian menyuruhnya untuk memilih pakaian dan barang-barang kebutuhan untuk bayi mereka. Kiana sempat heran dengan tingkah suaminya, ingin bertanya tapi ia urungkan. Sedangkan pria itu mengambil alih bayinya yang kembali ceria mungkin karena merasa senang berada di tempat yang banyak orangnya. Bian memangkunya kemudian mengekori Kiana yang mulai berjalan untuk melihat-lihat barang-barang yang mencuri perhatiannya disepanjang rak display memanjang.


"Senang?" tanya Bian saat mereka sedang berada disebuah tempat makan yang mengusung tema keluarga. Pria itu masih betah memangku bayinya yang mulai aktif. Meski harus berulang kali membenarkan letak bayinya yang sedari tadi terus bergerak dan berceloteh.


Kiana mengangguk dengan senyuman. Tidak dapat dipungkiri hari ini ia merasa begitu senang. Bisa bersama dengan suami dan anak menikmati waktu kebersamaan mereka. Kiana tak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya, kini maupun dulu sebelum ia menyadari akan kehadiran Al di dalam perutnya.


"Makasih Mas," ucap Kiana yang tak bisa menyembunyikan binar kebahagiaannya.


"Untuk istri dan anakku, apapun akan Mas berikan selama itu mampu. Kamu suka sayang?" tanya Bian merujuk pada sebuah cincin yang terpasang sempurna di jari istrinya. Kiana lagi-lagi mengangguk dengan senyuman manisnya yang mana membuat Bian semakin gelisah tak menentu.


"Cantik," agung Kiana pada cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Iya, istriku memang cantik, masih muda, baik hati, dan yang paling penting sudah berhasil membuat pria ini jatuh hati padanya." mesemnya begitu bangga pada pencapaiannya.


"Cincinnya, Mas..." cicitnya meluruskan.


"Oh... memang. Apalagi yang memakainya itu seorang gadis cantik. Semakin terlihat cantik. Tapi sayangnya sekarang udah nggak gadis lagi, hihi..." Bian terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


Kiana hanya memutar matanya malas. "Siapa coba yang sudah membuatnya nggak gadis lagi?" sewot Kiana dengan bibir manyunnya.


Dan kemungkinan yang paling besar adalah mungkin saat ini nggak akan pernah ada Albio diantara kita. Tetapi berkat semua itu, aku sangat-sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kita, sayang. Kamu memang ditakdirkan buat aku. Meskipun cara untuk kita bersama itu salah. Tapi rasa suka itu hadir terlebih dulu sebelum kita... Ya... kamu tahu sendiri bukan." ungkapnya panjang lebar yang diakhiri dengan menatap Al yang berada di pangkuannya. Masih tak menyangka hingga sampai saat ini buah dari kebejatannya malam itu menghasilkan seorang makhluk kecil yang tampan, lucu, nan menggemaskan. Bian merasa begitu sangat bangga pada dirinya sendiri atas kerja kerasnya semalaman itu.


"Mas suka?" tanya Kiana memastikan.


"Iya, aku yang lebih dulu suka sama kamu. Lebih tepatnya penasaran banget waktu itu." balas Bian apa adanya.


"Penasaran gimana?" tanya Kiana lagi yang mana membuatnya semakin penasaran dengan pengakuan Bian yang baru saja dia dengar saat itu.


"Ya penasaran aja. Aku tuh udah dibuat nggak percaya diri tahu nggak sama kamu. Tiap malam mau tidur kepikiran terus sama kamu sampai-sampai susah banget buat tidur. Kamu sombong, nggak pernah dan mau ngelirik aku sama sekali. Masa iya waktu itu aku udah bela-belain cari perhatian walaupun harga diri aku jatuh demi kamu ngelirik aku. Padahal diluar sana banyak tuh cewek-cewek tanpa aku kasih kode langsung nempel aja. Tapi kamu, nggak peka." Bian menghela napas kecil, setelah mengeluarkan unek-unek hatinya pria itu malah manyun seperti anak kecil yang ingin mengalahkan kelucuan Albio.


"Cari perhatian kok kayak orang lagi ngajakin ribut. Marah-marah terus nggak jelas. Sampai pernah kamu bentak aku bahkan bilang aku bodoh dan tolol. Iya, aku memang perempuan bodoh kalau memang suka sama Mas saat itu. Seorang pembantu mana kalau sampai menaruh hati sama anak majikannya, memang aku si perempuan tolol itu. Kita itu bagai bumi dan langit Mas, kamu seorang pangeran dan aku cuma seorang Upik abu yang nggak jelas asal-usulnya. Kalau inget itu aku masih sakit hati. Kamu selalu cari-cari masalah sama aku. Perempuan mana yang bakalan tahu dan peka kalau kamu lagi cari perhatian tapi marah dan jutek kayak gitu. Bukannya suka tapi yang ada orang malah benci, Mas. Nyebelin banget. Ngeri, takut aku cuma liat kamu seujung kuku aja." ungkap Kiana yang merasa dongkol pada pria arogan dan menyebalkan yang kini menjadi suaminya itu.


"Iya, aku salah... maafin aku sayang. Tapi demi apapun, kamu tahu? Sejak pandangan pertama, aku tuh udah tertarik sama kamu. Sampai debar dada ini buat aku susah tidur."


"Gombal!"


"Beneran, percaya sama Mas-mu ini..." Bian meraih tangan Kiana kemudian ia kecup.


"Percaya, aku lebih percaya kalau kamu itu dulu malah benci sama aku."

__ADS_1


"Nggak gitu sayang... Mas lakuin itu semua karena bingung harus dengan cara apa bisa deketin kamu. Mas gengsi karena selama ini cuman perempuan yang duluan deketin Mas, bukan sebaliknya. Makanya itu jadi kamuflase Mas buat cari perhatian kamu. Kamu mau bukti apa Mas bakalan tunjukin, kalau Mas itu suka sama kamu sejak dulu. Mas bisa teriak saat ini juga untuk ngasih tau semua orang yang ada di sini, kalau Mas sayang dan cinta sama ibunya Al." Bian sepertinya bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan. Pria itu sudah berdiri untuk melakukannya saat itu juga.


"Jangan aneh-aneh Mas!" Kiana mencoba mencegah aksi nekat suaminya. Malu rasanya kalau Bian sampai melakukannya di depan banyak orang.


"Tapi kamu harus percaya, sayang."


"Tapi nggak gini juga Mas, malu..."


"Malu nggak apa, yang terpenting kamu percaya kalau Mas-mu ini nggak pernah berbohong."


"Iya, tapi nggak usah seperti ini." ucap Kiana sembari melihat keadaan sekitar yang memang sangat ramai. Suaminya ini memang nekat. Entah kenekatan yang ke berapa kalinya lagi akan Kiana saksikan dari pria itu untuk dirinya setelah selama ini. Termasuk saat memperjuangkan dirinya dan juga Al.


"Iya-iya, aku percaya sama Mas..." akhirnya Kiana pun mengalah. Sudahlah, melawan Bian yang notabennya adalah seorang yang keras kepala tidak akan mudah. Lihatlah, bahkan sekarang suaminya itu tersenyum bahagia penuh dengan kemenangan. Sangat menyebalkan sekali bukan. Rasa-rasanya ingin Kiana menjitak kepalanya. Tapi mana berani dia. Dia tidak mau menjadi seorang istri yang tidak hormat pada suaminya apalagi sampai durhaka. Jauh-jauh sana!


Saat ini mereka kembali berada di dalam mobil. Cukup memakan waktu yang lama Bian memacu kendaraannya membelah jalanan ibu kota. Belum lagi kemacetan jalanan yang seakan tak ada ujungnya. Kiana sendiri sudah merasa lelah. Belum lagi pinggangnya sedikit terasa sakit, ditambah dengan memangku beban tubuh bayinya yang gembul. Disepanjang perjalanan Al justru tertidur. Nampaknya bayi gembul itu kelelahan setelah beraktifitas seharian.


Entah akan kemana lagi pria itu membawa mereka. Kiana pikir setelah puas berbelanja dan juga makan-makan mereka akan kembali pulang ke rumah secepatnya. Tapi nyatanya tidak. Penasaran sudah pasti. Kiana benar-benar hanya ingin segera sampai ke tempat tujuan suaminya itu.


"Sabar ya sayang," ucap Bian di balik kemudinya. "Dia nyenyak banget tidurnya."


Kiana mengikuti arah pandangan suaminya pada wajah mungil baby Al. Memang benar, bayinya tertidur sangat pulas. Terlihat nyaman, tidak terganggu sama sekalipun dengan hingar bingar keramaian di sepanjang perjalanan. Kiana mengusap pelan seluruh wajah tampan putra kecilnya itu. Dikecupnya pipi chubby kemerahan Al yang begitu menggemaskan. Kiana begitu sangat mensyukuri akan hadirnya Albio dalam hidupnya.


"Kita mau kemana lagi Mas?" tanya Kiana yang pada akhirnya tak tahan untuk bertanya.


"Sebentar lagi kita sampai," jawab Bian yang tidak mewakili rasa penasaran yang ada di benak kepala Kiana. Gadis itu hanya menghela napas. Apa harus ada rahasia lagi?


Dapat Kiana lihat Bian membawa laju kendaraan mereka memasuki sebuah perumahan elit yang di dalamnya berjejer rumah-rumah mewah. Dapat Kiana pastikan jika ini bukan salah satu jalan perumahan meraka. Memang sama persis dengan perumahan dimana rumah mertuanya itu berada. Tapi ini tetap jelas berbeda karena walau bagaimana pun Kiana sudah hapal betul dengan lingkungan rumah mertuanya.


Mereka tiba di depan sebuah rumah besar mewah. Tampak seorang penjaga keamanan dengan ramah membukakan pintu gerbang. Dahi Kiana mengkerut, untuk apa pula suaminya membawanya ke sini.


"Mas, rumah siapa ini?" tanya Kiana pelan hampir berbisik saat Bian mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Diperhatikannya rumah yang begitu besar dengan cat putih sebagai lapisan dindingnya yang menambah kesan mewah. Bian hanya tersenyum, kemudian mengambil alih Al yang sudah bangun begitu mereka sampai.


"Al sama bapak ya? Jagoan bapak nggak boleh rewel hari ini." ucapnya penuh makna pada si kecil. Bayi itu nampak senang menyongsong sang ayah yang membawanya ke dalam dekapannya. "Ayo kita masuk sayang," ajaknya pada Kiana sembari menggandeng tangannya.


"Tapi ini rumah siapa Mas? Rumah temennya Mas?" Kiana sungguh dibuat penasaran oleh suaminya itu. Ragu untuk mengikuti langkah kaki suaminya. Kiana masih kepikiran saat terakhir kali Bian mengajaknya makan malam pada waktu itu. Setelah malam itu suaminya nampak berbeda. Sering terlihat gelisah dan kebanyakan melamun. Dan hari ini Kiana dapat melihat air muka suaminya seperti itu lagi. Sebenarnya apa yang dikhawatirkan oleh lelakinya itu.


Bian menggeleng pelan masih dengan senyumannya. Membuat Kiana semakin bingung dibuatnya.


"Bukan? Lalu ini rumah siapa, Mas? Kenapa kita kesini?" tanya Kiana dengan perasaan was-was. "Kalau ini bukan rumah temennya Mas, apa kita nggak sopan masuk ke dalam begitu aja? Yang punya rumah nanti marahin kita, Mas."


"Kamu jangan khawatir, sekarang kita masuk dulu, nanti kamu akan tahu sendiri kita sedang berkunjung ke rumah siapa." balas Bian.


Kiana tak lagi bertanya. Percuma saja suaminya itu tak akan mau langsung menjawab. Hari ini entah kenapa seolah suaminya itu penuh dengan kerahasiaan. Apalagi dapat Kiana rasakan tautan tangan suaminya semakin erat seolah mencengkram jemari tangannya.


Tak lama kemudian dapat Kiana lihat seseorang membukakan daun pintu untuk mereka. Nampaklah seorang wanita paruh baya yang sepertinya asisten rumah tangga rumah tersebut.

__ADS_1


"Mas Bian, mari masuk. Mas Aaric sudah menunggu di dalam." ucap ART tersebut dengan ramah yang rupanya masih mengenali rupa Bian. Pria itu hanya mengangguk pelan, seraya kemudian membawa Kiana untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Aaric?" tanya Kiana serupa menggumam mengingat nama yang sepertinya pernah ia dengar.


__ADS_2