
Anak buah Al terus saja mengawasi gerak gerik dari Rey, Rey yang saat ini sedang menikmati alkoholnya itu tidak menyadari kalau ada yang sedang mengawasi pergerakannya sedari tadi. Rey hanya terus meneguk Alkoholnya itu sambil terus menatap ponselnya.
"Kenapa kamu tidak membalas pesan dariku Ra? Kenapa? Sebegitu cepatnya kah kamu sudah melupakan aku?" Teriak Rey yang sudah mulai mabuk.
"Apa kurangnya aku daru Suami kamu itu! Apa karena dia lebih kaya dari aku makanya kamu secepat itu berpaling dari aku! Brengsek!" Teriak Rey sambil melemparkan botol alkohonya yang telah habis.
Botol yang dilempar oleh Rey itu sudah pecah tidak beraturan lagi di lantai. Rey mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya saat ini sambil memegangi kepalanya yang sudah sangat beratnya. Rey berencana untuk pergi ke kamar karena merasa sudah sangat pusing.
Rey berjalan dengan sempoyongan sampai pada akhirnya Rey berhasil masuk kedalam kamar, didalam kamar Rey langsung saja membaringkan tubuhnya.
"Ara....kenapa kamu tidak pernah ingin tau lagi tentang aku? Aku masih dan akan selalu ada disini untuk kamu, kenapa kamu tidak berpisah saja dengan suami kamu Ra! Kenapa?! Aku sangat membenci kamu Ra....sangat benci! Dan....dan aku juga sangat membenci diriku sendiri yang dengan bodohnya masuk kedalam jebakan Vio." Ucap Rey kepada dirinya sendiri hingga pada akhirnya dirinya tertidur dengan lelapnya.
Dan ketika Rey sudah tertidur dengan lelapnya, diam - diam anak buah Al masuk kedalam Villa itu dengan pergerakan yang sangat cepat. Salah satu dari mereka menghubungi Al untuk meyampaikan informasi.
Al yang saat ini masih berada dikantor mendengarkan ponselnya berdering. Al dengan segera langsung menjawab panggilan teleponnya itu. "Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan cara untuk membawa dia?"
"Begini bos, sejak tadi Rey terus saja minum sampai dirinya benar - benar mabuk. Kini dia sudah tertidur dengan lelapnya. Rencananya kami akan membawanya dalam keadaan yang sedang tidak sadar ini bos."
"Bagus! Itu merupakan ide yang bagus, lakukan dengan baik tanpa membuat kesalahan ya. Saya tunggu kabar baiknya secepatnya."
"Siap laksanakan Bos."
Setelah itu Anak buah Al langsung saja membawa Rey dan memasukkan Rey didalam mobil. Kemudian menjalankan mobilnya dengan sangat cepat untuk meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Al yang masih berada didalam ruangannya segera pergi dari sana untuk menyusul Anak buahnya itu ditempat yang telah mereka sepakati bersama. Al benar - benar pergi seorang diri saja kesana, selama didalam perjalanan Al selalu saja berpikir dengan keras, 'Apa yang sebenarnya aku lakukan ini? Hmm...' Batin Al.
Seketika lamunannya buyar karena telah mendapatkan telepon, Al segera mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang telah mengubunginya pada saat ini.
"Vio..!"
Kemudian Al segera menjawab panggilan telepon dari vio itu.
"Ada apa Vi?"
"Apa Rey benar - benar sudah berada disana? Apa aku bisa pergi kesana juga?"
"Jangan...jangan sekarang Vi! Sebaiknya kamu sabar ya, besok kamu bisa kesana. Malam ini sebaiknya kamu istirahat saja. Tapi ingat perjanjian kita, begitu kamu bersama dengan Rey, kamu dan dia harus pergi keluar negeri dan jangan pernah berpikir untuk kembali lagi kesini. Mengerti!"
"Oke aku akan bersabar untuk besok. Aku janji akan mengabulkan permintaan dari Pak Al, asalkan Rey mau bertanggung jawab dan pergi persamaku."
"Itu sudah pasti Vi......!"
"Oke aku percaya dengan apa yang Pak Al katakan."
Kemudian Al segera mengakhiri panggilan teleponnya. Al sudah mulai dekat dengan tempat tujuan yang akan ditujunya itu, tanpa ingin berlama - lama lagi Al langsung saja mengebut untuk secepatnya sampai disana. Al membawa Rey disalah satu rumahnya yang berada tidak jauh dari pusat kota Jakarta.
Sesampainya disana Al langsung turun, Al sudah melihat kalau Anak buahnya sudah tiba disana.
"Dimana dia?" Tanya Al yang semakin tidak sabaran.
"Ada didalam Bos." Jawab Anak buahnya sambil menunjukkan jalannya.
Begitu Al melihat Rey, Emosi Al semakin menjadi - jadi, "Segera bangunkan dia!" Perintah Al.
"Baik bos!"
Kemudian Anak buah Al menyiram Rey dengan air dingin sampai membuat Rey tersadar dari tidurnya.
Rey yang masih samar - samar melihat kearah sekelilingnya hanya memegangi kepalanya yang masih terasa berat itu.
"Paksa dia minum ramuan untuk menghilangkan mabuk itu." Pinta Al.
Kemudian Anak buah Al memaksa Rey untuk mau meminum ramuan itu, ya walaupun tidak mudah tapi mereka terus menerus untuk memaksa Rey sampai pada akhirnya Rey tidak berdaya lagi untuk menolak.
"Siapa kalian! Apa mau kalian semua?" Teriak Rey.
Kemudian Al berjalan mendekati Rey sampai - sampai mereka berdua sudah tidak memiliki jarak lagi. Al memegang dagu Rey dengan paksa.
"Kamu liha bisa untuk melihat saya baik - baik!"
Seketika tatapan Rey menajam menatap Al, "KAMU...!"
"Iya saya suami dari Ara!"
Rey tersenyum mengejek, "Suami? Beraninya kamu menyebut diri kamu itu suami dari pacarku!"
"Iya saya memang suami dari mantan pacar anda! Tolong anda cepat sadar ya, Istri saya adalah mantan pacar anda yang sudah lama pergi meninggalkan anda!" Tegas Al yang sudah mulai terpancing dengan ucapan Rey.
"Dengar ya Pak Al...Selamanya Ara itu hanya milikku seorang! Kamu itu tidak lebih dan tidak bukan hanya sampah yang kalau Ara merasa bosan akan ditinggalkan. Dulu juga Ara pernah mencintaiku...tapi lihat sekarang! Setelah dia berhasil menemukan pria yang lebih kaya lagi, dia pergi meninggalkanku seorang diri. Jadi sebaiknya anda tidak perlu merasa bangga pada diri anda sendiri." Balas Rey.
Al malah tertawa geli mendengarkan ucapan Rey barusan,
"Kenapa anda tertawa? Seharusnya anda merasa marah dengan semua yang telah aku katakan!" Tegas Rey kembali.
"Saya hanya merasa kasian dan merasa lucu aja dengan anda yang tidak bisa menerima kenyataan kalau Ara sudah tidak mencintai anda lagi dan lebih memilih pergi bersama dengan saya. Tanpa saya kamu juga bukan siapa - siapa Rey!" Ucap Al.
"Kasihan? Anda pikir anda itu siapa?" Teriak Rey dengan sangat emosinya.
"Dengar baik - baik Rey, Ara itu adalah masalalu kamu, sekarang Ara adalah Istri dari saya dan sebentar lagi kami berdua akan menjadi orangtua. Sebaiknya kamu kembali kepada Vio yang saat ini sedang membutuhkan kamu." Tegas Al.
"APA! ARA HAMIL? TIDAK .....TIDAK! ITU TIDAK MUNGIN!" Teriak Rey dengan sangat histeris.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, kami berdua benar- benar merasa sangat bahagia saat ini. Saya juga berharap kamu juga bisa menerimanya dan saya akan memberikan kesempatan untuk kamu supaya kembali kepada Vio." Ujar Al.
"Tidak...sampai kapanpun aku tidak akan mau kembali kepada Vio! Aku tidak mencintainya...kenapa aku harus bertanggung jawab dengan Anak yang ada didalam kandungannya itu! Yang aku cintai hanya Ara seorang." Tegas Rey kembali.
"Apa setelah mendengarkan video ini kamu masih akan bersikeras untuk itu? Silahkan kalau begitu." Ucap Al sambil berjalan dan menyalahakn TV untuk memutarkan video yang sudah direkam oleh Ara.
Begitu melihat TV dinyalahkan Rey langsung berteriak, "ARAAA...!"
"Kamu tonton sampai selesai ya." Ucap Al.
__ADS_1
"Hai Rey...ini aku. Kamu apa kabar? Aku harap dimana pun kamu berada kamu baik - baik saja ya. Maaf karena aku kamu jadi begini Rey, aku benar - benar sudah sangat bahagia dengan keluargaku sekarang! Kamu bahkan sudah tidak memiliki tempat lagi didalam hatiku, aku berharap kamu bahagis juga ya, aku minta sama kamu, kamu harus bertanggung jawab dengan Vio! Aku tidak mau kamu lari dari tanggung jawab kamu Rey...Karena Anak yang ada didalam kandungan Vio itu tidak bersalah sama sekali. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan jatuh cinta sama Vio, dia benar - benar wanita yang sangat baik Rey. Kamu mau kan janji akan hal itu sama aku? Dan satu lagi aku mempunyai kabar baik untuk kamu...aku akan menjadi seorang Ibu! Iya Rey seperti pemikiran kamu...aku hamil dan aku sangat bahagia! Aku berharap kamu bisa bahagia juga ya?"
Kemudian Al segera mematikan rekaman video itu dengan cepat.
"ARA...." Teriak Rey lagi.
"Bagaimana Rey? Ara juga sangat berharap kamu bahagia dengan Vio! Saya harap kamu dapat memikirkan hal ini dengan cara baik - baik ya!" Ucap Al lalu berjalan pergi.
Rey hanya terdiam lemas sambil berlinang airmata karena sudah mengetahui kenyataan yang sangat menyakitkan untuknya itu.
Lalu kemudian Al menghentikan langkah kakinya lalu kembali untuk membalikkan tubuhnya lagi.
"Satu hal lagi Rey....Saya dan Ara benar - benar saling mencintai satu sama lain." Ucap Al lalu segera keluar dari rumahnya itu.
Rey malah semakin merasa terpuruk karena merasa sudah merusak kebahagiaan dari wanita yang sangat dicintainya itu. 'Apa aku benar - benar pria yang sangat jahat ya Ra? Tapi kenapa kamu malah memilih pria itu daripada aku Ra?' Pikirnya.
********
Sesampainya dirumah Al langsung mencari keberadaan sang Istri lalu segera memeluknya dengan sangat eratnya, "Sayang...ada apa?" Tanya Ara yang merasa ada yang tidak beres dengan Suaminya itu.
Al menggeleng, "Aku hanya kangen sama kamu sayang." Jawab Al.
"Al kamu bohong! Tadi kan kita baru saja bertemu? Katakan ada apa?" Tanya Ara yang kemudian melepaskan pelukannya dari Sang Suami.
"Katakan ada apa?" Tanya Ara kembali.
"Aku...aku sudah berhasil membawa Rey kesana." Jawab Al.
"Lalu kenapa kamu menjadi seperti ini sayang? Kan itu merupakan kabar baik." Ucap Ara yang semakin tidak mengerti.
"Apa aku terlalu kejam ya sayang karena dulu telah merampas kamu dari tangan Rey?" Tanya Al dengan wajah sedihnya.
"Sayang kamu bicara apa sih? Siapa yang merampas siapa? Emangnya aku ini barang apa?" Ucap Ara yang merasa tidak terima.
'Apa sih yang sebenarnya terjadi disana? Apa yang Rey katakan kepada Al sampai membuat Al berpikir seperti ini?' Pikir Ara.
Akan tetapi karena melihat Al diam saja akhirnya Ara kembali bertanya lagi, "Sayang...apapun yang kamu dengar hari ini itu tidak benar. Aku yang benar - benar memilih bersama dengan kamu atas dasar kemauanku sendiri tanpa ada seorang pun yang memaksaku." Ujar Ara.
"Iya aku tau kok sayang." Ucap Al lalu kembali lagi memeluk Ara dengan sangat eratnya.
"Aku gak suka ya sayang mendengar kamu berkata seperti itu lagi." Ucap Ara sambil mempererat pelukannya.
"Iya sayang aku minta maaf ya, aku janji tidak akan pernah mengatakan hal itu lagi." Ucap Al.
Secara perlahan Ara mulai melepaskan pelukannya dari Sang Suami. "Nah sekarang mendingan kamu mandi dulu ya baru setelah itu kita makan malam bersama." Ucap Ara sambil mengelus lembut pipi Al.
"Baiklah sayang...." Ucap Al akhirnya sambil tersenyum.
Kemudian Al pergi meninggalkan Ara lalu segera pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Begitu pintu tertutup Ara masih mematung saja ditempatnya berdiri tadi sambil seperti memikirkan sesuatu.
'Apa yang sedang kamu rasakan sekarang Al? Kenapa kamu sampai berpikiran seperti itu? Ini adalah kesalahan dulu yang tidak akan pernah bisa hilang.' Batin Ara sambil memegangi dadanya.
Kemudian Ara memutuskan untuk keluar dari kamarnya dengan memikirannya itu, Sampai - sampai Ara tidak menyadari kalau Mikha memanggil dirinya.
"Hah? Sejak kapan kamu berdiri disini Mik?" Ara malah bertanya balik.
"Astaga Kak...sampai - sampai kak Ara tidak menyadari kehadirian Mikha ya..."
"Maad Mik, kamu baru kembali? Kenapa begitu larut?" Tanya Ara yang melihat Mikha masih mengenakan kemejanya itu.
"Iya Kak hari ini Mikha diberikan pekerjaan sangat banyak, mau tidak mau Mikha harus menyelesaikannya. Bahkan Mikha sama sekali tidak melihat jam lagi. Ya jadinya begini deh." Gerutu Mikha.
"Duh kasihannya kamu...ya udah mendingan kamu pergi mandi deh lalu makan ya." Ucap Ara dengan perhatian.
Mikha mengangguk dengan sangat cepat, "Oke deh Kak...kalau begitu Mikha masuk kekamar dulu ya." Ucap Mikha.
"Iya sayang...."
Setelah itu Ara berjalan kebawah untuk mempersiapkan makan malam buat Al.
Tidak berapa lama kemudian Al sudah turun kebawah, "Hmm...sepertinya lezat sekali ini." Ucap Al.
"Iya sayang...kamu makan yang banyak ya." Ucap Ara.
Al langsung duduk dikursinya dan langsung menikmati hidangan yang sudah tersaji diatas meja dengan penuh semangat.
"Pelan...pelan makannya sayang." Ucap Ara yang merasa lucu dengan suaminya itu.
"Iya sayang..." Jawab Al sambil cengengesan.
"Duh pasangan ini mesra terus deh! Alvin jadi iri." Goda Alvin yang baru saja kembali.
"Kamu habis darimana si Vin? Kenapa kamu belakangan ini pulangnya larut terus?" Tanya Al.
"Biasa Kak, kayak gak pernah muda aja. Alvin kumpul dengan teman - teman Alvin dong."
"Tapi kamu tidak bisa begitu terus ya Vin. Ingat ya kalau kamu itu sudah menikah." Cetus Al.
"Sayang...udah deh mendingan kamu habisin dulu makannya ya. Vin mendingan kamu naik keatas sana." Ujar Ara.
"Oke deh Kak, kalau begitu Alvin naik dulu ya." Ucap Alvin lalu dengan cepat sudah menghilang dari sana.
"Kamu jangan belain dia terus deh sayang, dia itu pria yang sudah menikah. Aku tidak suka melihat dia pulang larut terus menerus. Setidaknya dia harus menemani Istrinya bukan terus berkeliaran seperti itu." Ujar Al yang masih kesal dengan Alvin.
"Aku bukan belain Alvin sayang, tapi kamu jangan menegur Alvin dengan cara seperti itu. Karena semakin kamu tegur keras begini Alvin malah semakin berbuat sesukanya. Kamu harus mendekatinya saja sayang dan berbicara secara baik - baik. Aku tidak ingin Alvin menjadi tersinggung dengan sikap keras kamu ini." Ujar Ara dengan bijak.
"Hmmm...aku tidak menyangka loh kalau kamu sebijak ini. Terimakasih ya sayang karena sudah mengingatkan ku." Ucap Al.
"Iya sayang." Ucap Ara sembari tersenyum.
Sesampainya Alvin dikamar, Alvin melihat Mikha yang baru saja selesai mandi dan sedang duduk untuk mengeringkan rambutnya. Alvin berjalan mendekati Mikha.
__ADS_1
"Lo gak salah keramas jam segini Mik? Ini kan udah malam." Tanya Alvin.
"Lo habis minum ya Vin? Kok mulut lo bau alkohol sih?" Ucap Mikha sambil mendekati Alvin.
"Gak...gak kok siapa yang habis minum, jangan ngaco deh." Ucap Alvin yang menjauh dari Mikha.
"Iya pasti lo habis minum kan? Emang dasar ya lo itu gak pernah berubah!" Teriak Mikha yang sudah tidak dihiraukan lagi oleh Alvin.
"Sebenarnya Alvin ada masalah apa sih? Kok kayaknya dia stress banget sih?" Ucap Mikha kepada dirinya sendiri.
Selesai untuk mengeringkan rambutnya, Mikha sengaja berdiri didepan pintu kamar mandi untuk menunggu Alvin keluar.
Begitu pintunya terbukan, betapa kagetnya Alvin melihat Mikha yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh selidik.
"Astaga Mik, minggir deh gue mau lewat! Lo ngapain sih berdiri didepan pintu begini?" Ucap Alvin yang sangat terkejut melihat Mikha.
"Lo kenapa ya? Kalau lo ada masalah mendingan lo ceritain deh ke gue!" Tanya Mikha.
"Gue benaran gak ngerti deh sama lo! Gue gak ada masalah apa - apa Mik, ya udah lo bisa minggir sekarang gak gue mau lewat?" ucap Alvin masih berusaha sabar.
"Gak! Lo pasti bohong Vin. Gue tau lo itu lagi ada masalah."
"Lo masih tetap gak mau minggir ya?"
Mikha menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Minggir...please Mik minggir...."
"Gak gue gak mau! Lo kenapa sih Vin keras kepala banget? Gue bukannya gak memperhatikan sikap lo ya Vin akhir - akhir ini, tapi gue hanya memilih untuk diam saja." Ujar Mikha masih berkeras.
"Minggir..."
"Gue bilang enggak ya enggak!" Ucap Mikha dengan suara mulai meninggi.
"Oke kalau itu mau lo."
Kemudian dengan sigap Alvin mendorong tubuh Mikha lalu akhirnya menangkapnya dengan cepat agar Mikha tidak terjatuh. Mikha yang masih terkejut hanya bisa memegang Alvin dengan begitu eratnya.
"Jangan bilang gue gak memberikan peringatan sama lo ya!" Ujar Alvin sambil terus menatap Mikha yang masih memejamkan kedua matanya.
Secara perlahan Mikha mulai membuka matanya, "Lo jahat Vin....di mata lo gue ini apa sih sebenarnya?" Ucap Mikha sambil menitikkan airmatanya.
"Kok lo jadi nangis begini sih?" Ujar Alvin.
"Apa bagi lo gue ini bukan siapa - siapa ya sampai - sampai gue gak boleh tau apa yang sedang terjadi sama lo? Jawab Vin jangan diam aja! Salah gue dimana?" Mikha terus menerus mendesak Alvin.
"Please jangan nangis lagi Mik." Alvin mengusap airmata Mikha dengan perlahan.
Lalu ketika Alvin ingin membenarkan posisi mereka, Mikha menarik Alvin lalu kemudian memeluknya dengan erat sampai - sampai membuat Alvin begitu terkejut dengan perlakukan spontan dari Mikha itu.
"Mik...hei lo kenapa sih?" Tanya Alvin sambil berusaha melepaskan pelukan Mikha.
Mikha malah semakin sengaja memeluk tubuh Alvin dengan sangat erat. "Sebentar aja Vin...." Ucap Mikha akhirnya.
Alvin hanya mengikuti permintaan dari Mikha saja, 'Jujur Mik gue juga ingin begini sama lo tapi gue belum bisa sebelum ini semua berakhir karena gue tidak ingin membuat lo kecewa sama gue.' Batin Alvin.
Lalu Alvin melepaskan pelukkannya dari Mikha, "Gue gak ngerti sama lo Mik....apa salah gue sampai lo bilang gue ini jahat? Hmm...apa karena gue gak jemput lo ya? Kenapa? Lo berharap gue jemput ya?" Goda Alvin sembari mengenakan piyama tidurnya.
Mikha mengeleng dengan pelan,
"Lalu apa?" Tanya Alvin lagi.
"Bagi lo gue ini siapa sih sebenarnya? Apa gue sebegitu tidak berartinya ya untuk lo?" Tanya Mikha sambil duduk diatas tepi tempat tidur mereka.
Alvin sempat menghentikan kegiatannya sejenak lalu sibuk kembali tanpa mengatakan apapun juga.
"Oke gue sadar kalau kita berdua menikah karena terpaksa bukan atas dasar cinta, tapi lo tidak perlu bersikap sedingin ini dong sama gue? Gue salah apa? Kadang gue berusaha untuk meyakinkan diri gue sendiri kalau lo itu pria baik, tapi setiap kali gue yakin, lo malah selalu menampilkan kesan lo itu pria brengsek! Gue gak ngerti apa mau lo sebenarnya." Ujar Mikha lagi.
"Lo lagi kenapa sih Mik? Gue semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan lo barusan." Ujar Alvin berusaha untuk berakting sebaik mungkin.
Mikha hanya tertawa saja melihat sikap Alvin yang acuh tidak acuh seperti itu, "Gue mau tau sampai kapan lo akan berakting seperti ini?" Tanya Mikha.
"Siapa yang lagi berakting sih Mik? Gue itu benar - benar tidak mengerti dengan maksud lo! Udah ah gue capek, gue malas debat terus sama lo." Ucap Alvin lalu segera berjalan ingin keluar kamar.
"Gue lebih kenal lo kalau lo jadi Badboy gue, bukan jadi Alvin yang bersikap seenaknya seperti ini. Kadang lo careee banget sama gue, kadang lo itu dingin banget gue gak ngerti sama permainan yang sedang lo mainkan sekarang Vin!" Tegas Mikha akhirnya.
Langkah Alvin terhenti, Alvin lalu berjalan kembali kearah Mikha, "Badboy? Sejak kapan lo tau nama itu? Sebentar...sebentar! Lo tau darimana soal ini?" Tanya Alvin.
"Kenapa lo sekaget itu Vin? Kenapa lo pasti gak bakalan nyangka kalau gue ini Cinta kan? Kenapa Vin? Lo itu emang pria terbrengsek yang pernah gue kenal! Lo itu buat gue senyaman hingga akhirnya gue jatuh cinta sama lo, sekarang lo hancurin hati gue dengan seketika juga! Lo benar seharusnya gue dari awal gak pernah untuk jatuh cinta sama lo." Ucap Mikha lalu ingin segera berlari keluar kamar.
'Apa! Jadi Mikha yang selama ini chattingan sama gue? Mikha jatuh cinta sama gue? APa gue gak salah mendengar ini?' Batin Alvin.
Alvin menahan tangan Mikha, "Tunggu..."
"Apaan lagi sih Vin....gue benci sama lo! Sekarang terserah lo mau berbuat apa karena gue tidak akan ingin tau urusan lo lagi. Sekarang lo bisa lepasin gue?" Ucap Mikha.
"Jadi lo tau apa yang ada didalam hati gue Mik?"
Gak! Sekarang gue udah gak mau tau lagi dengan apa yang ada didalam hati lo." Ucap Mikha dengan ketus.
Seketika Alvin langsung menarik tangan Mikha dengan begitu kuatnya sampai membuat tubuh Mikha terjatuh diatas tubuh Alvin.
Selama beberapa saat, mereka hanya saling menatap satu sama lain. 'Lo jahat banget Vin....' Batin Mikha.
'Kalo lo begini terus gue mana bisa tahan lagi Mik, kenapa lo cantik banget sih malam ini?' Batin Alvin.
*******
Nah nah nah...teng ting teng....
Akankah mereka berdua .......... satu sama lain?
__ADS_1
Nantikan saja ya, jangan lupa dong untuk like dan comment nya!
Happy Reading Guys!