
Setelah acara makan malam bersama keluarga baru, Kiana dan Bian membawa Al ke dalam kamar yang terletak di lantai atas. Sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk Kiana sejak keluarganya pindah ke rumah tersebut berpuluh tahun yang lalu.
Sejak tadi entah kenapa bayi Al terus mengembangkan senyumannya. Mungkin bayi yang hampir genap berusia 8 bulan tersebut merasa senang berada di tengah-tengah keluarga baru dari ibunya apalagi sudah bertemu dengan kakek, nenek, dan pamannya.
Bian mendudukkan bayinya di atas tempat tidur, kemudian pria itu meraih benda pipih yang sedari tadi terus berdering membuat Al tertawa-tawa gemas dengan suara dering ponsel milik ayahnya.
"Sayang, Mas jawab telpon dulu. Titip anakmu ini yang sejak tadi nggak bisa diam." Bian mencolek bahu Kiana saat istrinya itu sedang meletakkan tas kecil yang berisi kebutuhan bayinya.
Kiana pun menoleh pada suaminya, "Titip-titip, memangnya anakku barang!" omel Kiana dengan menggumam, tidak terima saat anaknya di samakan dengan barang.
Bian cuma nyengir aja, ia terkekeh pelan sejurus kemudian mencium sekilas pipi Kiana yang sedang cemberut. Kemudian keluar menuju balkon yang terdapat di kamar itu.
Kiana menghampiri bayinya yang sudah tak bisa diam. Bayi gembul itu sedang aktif-aktifnya. Akhir-akhir ini suka sekali menggerakkan badannya. Bisa dilihat saat ini ia merangkak kesana-kemari di atas tempat tidur.
Khawatir bayinya terjatuh, dengan cepat ia meraih Al yang hampir saja sampai di sisi kiri tempat tidur.
"Anak ibu mau kemana?" ucapnya meraih Al dan kembali meletakkannya di tengah tempat tidur.
Bayi tersebut malah kembali tertawa terbahak-bahak. Menatap ibunya dengan wajah berbinar. Tak lama kemudian Al kembali bergerak menghindari tangkapan tangan ibunya.
Gemas dengan tingkah bayinya, Kiana menciumi wajah Al sampai bayi tersebut kegelian. Puas menciumi wajah putra kecilnya, Kiana menggantikan baju Al setelah sebelumnya ia lap basah kemudian membalurkan minyak telon ke seluruh tubuhnya yang menguarkan harum khas bayi. Tidak lupa Kiana mengusapkan bedak ke tubuh dan wajah bayinya sampai Al terlihat putih seperti moci yang menggemaskan.
"Wah... anak siapa ini udah ganteng?" ucap Bian yang baru saja kembali dari menerima telpon. "Mmm... wangi..." Bian turut memberikan ciuman di wajah bersih Al yang tengah menempel di dada Kiana menyedot sumber kehidupannya.
Bayi itu melenguh. Mengibas-ngibaskan tangan kecilnya pada wajah Bian. Merasa terganggu dengan kehadiran ayahnya.
"Al lagi minum," ucap Kiana.
"Iya, Mas tahu. Cuma gemes aja." balasnya singkat. Memang Bian selalu gemas dengan semua tingkah lucu dari putranya yang semakin hari semakin pintar saja.
Al merengek hampir menangis karena ulah Bian. Bayi itu merasa kalau ayahnya sudah mengganggunya. Mulutnya terbuka, melepas puncak dada ibunya kemudian menatap ayahnya dengan lengkungan di kedua sudut bibirnya.
"Mas..." peringat Kiana pada suaminya. Bian hanya nyengir. Merasa puas karena sudah menjahili anaknya sendiri.
"Lucu sayang..." balasnya kembali dengan wajah tanpa dosa. Melihat bayinya menangis, Bian berusaha untuk menenangkannya dengan berceloteh panjang lebar membuat bayi tampan itu kembali tertawa.
"Pelan-pelan Nak," ucap Kiana memperhatikan Al yang kembali minum terburu-buru.
"Kamu jangan khawatir, bapak nggak bakalan minta sekarang. Tapi kalau kamu udah tidur gantian bapak. Ibu milik bapak kalau malam." seloroh Bian yang mana membuat Al kembali menoleh padanya, menatap ayahnya dengan kerungan di dahi. Mata jernih sedikit sipit itu menatap tajam Bian tanpa melepaskan puncak dada ibunya di mulutnya yang penuh.
"Bapak bercanda..." Bian meringis, menjawil pipi tembam anaknya. Al cuma melengos, sejurus kemudian kembali sibuk dengan dunianya.
Bian geleng-geleng kepala melihat sikap bayi kecilnya tersebut. Sedikit banyak ia seperti berkaca pada dirinya sendiri.
"Posesif..." gumamnya pelan tanpa mengalihkan perhatiannya pada Al yang kembali menyedot sumber kehidupannya.
"Sama persis seperti bapaknya." telak Kiana cepat menyela kalimat suaminya yang mana Bian langsung mengatupkan mulutnya.
Bian merangsek menempeli Kiana. Disandarkan dagunya di bahu istrinya, sesekali menghirup aroma wangi yang memabukkan dari tubuhnya.
Kiana mengendikkan bahunya, membuat Bian menatap Kiana dengan wajah cemberut.
"Mandi sana, nanti keburu malam. Nggak baik buat kesehatan, nanti sakit." titah gadis itu sembari menimang Al yang mulai memejamkan matanya.
"Mandi bareng..." ucap Bian manja. Lebih tepatnya merengek. Pria itu masih menempeli Kiana seperti seorang anak kecil yang tak mau jauh dari ibunya.
"Udah besar, kenapa harus di mandikan?"
"Aku juga kepengen seperti bayi ini, Bu..." ujarnya lagi.
__ADS_1
"Al masih bayi, lagi pula anaknya belum ada nyenyak tidur." mata gadis itu menoleh sekilas pada Bian yang masih cemberut memanyunkan bibirnya.
"Mas bersih-bersih dulu. Mama tadi udah siapin baju ganti buat Mas pakai." ujar Kiana yang kembali menyusui bayinya. Terdengar deru suara napas bayinya yang terengah-engah akibat menyusu dengan kuat dengan mata terpejam.
"Baju ganti?" kepala Bian sedikit mendongak.
"Iya, baju ganti buat Mas. Punya Kak Aaric. Kata Mama ukurannya pasti sama." ujar Kiana sembari memperhatikan Bian lamat-lamat.
"Aaric?" tanya Bian dengan dahi mengkerung.
"Kenapa?" Kiana terheran menatap suaminya.
Bian menggelengkan kepalanya. Dirinya yang semula merasa lesu dan kurang bersemangat karena ajakan mandi bersamanya itu di tolak, kini semakin lemas dengan menghela napasnya dalam-dalam.
"Mas kenapa?" Kiana merasa aneh dengan tingkah suaminya.
"Nggak, nggak kenapa-napa. Ya sudah, Mas bersih-bersih dulu." Bian beranjak dari tempatnya kemudian menghambur masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah ditekuk.
Kiana tak terlalu menghiraukan dengan apa yang terjadi pada suaminya. Perubahan air muka memang terlihat kentara. Tapi saat ini ia lebih fokus pada bayinya yang matanya sudah terpejam, tetapi belum juga kunjung tertidur. Mulutnya masih nyaman mengulum puncak dadanya seolah tengah memainkannya.
Tak sampai 10 menit Bian berada di kamar mandi, pria itu sudah kembali menghampiri Kiana yang terlihat berbaring sedang mengeloni bayi mereka.
Mata mereka saling beradu pandang. Bian meneguk salivanya beberapa kali saat pandangan matanya turun sedikit ke bawah mengarah pada dua benda yang selalu dipujanya menyembul keluar salah satunya.
Lumayan terasa dingin setelah mandi di malam hari, Bian segera memakai pakaian milik iparnya tersebut tepat di hadapan Kiana tanpa rasa canggung ataupun malu sedikitpun.
Dengan sedikit senyuman jahil dan tatapan genitnya, Bian meloloskan handuk yang melingkar di pinggangnya begitu saja hingga terlihatlah apa yang semestinya dapat Kiana lihat.
Wajah Kiana bersemu merah, sekilas dia mengalihkan pandangannya. Tetapi tak lama perhatiannya kembali pada pemandangan yang entah kenapa membuatnya merasa ingin terus memperhatikan apa yang sedang di lakukan oleh suaminya.
Selesai memakai pakaiannya, Bian benar-benar menghampiri Kiana. Ia duduk di sisi ranjang sembari memperhatikan putra kecilnya yang sudah tertidur pulas melepas sumber kehidupannya.
"Mama?"
"Iya, seperti biasa yang dicari ya Al. Bukan anaknya lagi sekarang." Bian mencebik saat mendapati ibunya kini lebih perhatian pada cucunya ketimbang dirinya sendiri sebagai anaknya.
"Mungkin Mama rindu sama Al," balas Kiana. Ia mengusap bayinya pelan-pelan agar tak terbangun lagi. Sesaat ia menepuk-nepuk paha Al yang kembali menggeliat setelah berada di permukaan kasur.
Tak habis pikir Kiana pada pria yang kini menjadi suaminya itu. Terkadang ia selalu merasa lucu dengan sikap kekanakan suaminya yang seperti anak kecil. Kadang kala Bian selalu menunjukkan rasa cemburu pada anaknya sendiri.
Biasa diperhatikan oleh orang-orang terdekatnya, Bian merasa sedikit terabaikan oleh kedua orang tuanya. Terlebih saat ini setelah adanya Albio. Termasuk Kiana-istrinya. Apalagi jika Al sudah mendominasi. Bian cuma gigit jari. Pria itu hanya bisa memonopoli istrinya ketika bayi mereka benar-benar sudah tidur.
Tapi, Bian begitu sangat bersyukur. Kedua orang tua dan orang-orang di dekatnya dapat menerima kehadiran istri dan anaknya. Melihat putra kecilnya yang mendapatkan curahan kasih sayang yang begitu melimpah sudah membuatnya merasa bahagia.
"Mereka akan pulang besok," ujar Bian seraya menoleh sekilas pada bayi gembul yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.
"Mama Papa?" tanya Kiana.
Bian hanya mengangguk. Dia bergerak mendekati Kiana yang akan mengancingkan kancing bajunya sehabis menyusui. Tangannya dengan cepat menahan pergerakan istrinya tanpa melepas pandangan sedikitpun dari benda kesukaannya.
"Katanya udah kangen dengan cucunya." ucapnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jadi, besok kita pulang?" manik mata Kiana mengikuti arah tangan suaminya yang kini sudah berada di area vitalnya.
Bian menggeleng pelan. Tatapan matanya semakin enggan beranjak dari area tersebut.
"Jangan dulu..." tahan Bian.
"Jangan pulang? Tapi kata Mas Mama dan Papa akan pulang besok?"
__ADS_1
"Maksud aku, ini jangan dulu di tutup." Bian kembali membuka kancing baju Kiana yang baru terpasang dua biji. Dengan senyuman nakalnya ia mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Kiana yang begitu sangat menggoda. Sangat hangat dirasanya. Benda kenyal itu semakin menjadi candu baginya.
Cukup lama larut dalam ciuman, melihat napas Kiana yang hampir habis Bian menarik diri untuk melepas ciumannya. Ia usap dengan lembut bibir basah kemerahan Kiana akibat perbuatannya itu dengan ibu jari.
"Seharian ini belum ada aku cium kamu." ungkap Bian dengan tatapan sendu seraya menanggalkan semua kancing baju milik istrinya, sehingga menampakkan pemandangan yang seharian ini ia rindukan.
"Aku kangen banget sama ini..." Bian membenamkan wajahnya di antara kedua benda milik Kiana, mengecup, menyesap, memainkannya bergantian dengan lidah hingga menyeruput pucuk benda tersebut. Malam ini ia menggantikan tugas putra kecilnya itu dengan sedikit terburu-buru.
Suara seruputan lidah dan mulut dari suaminya membuat Kiana merasakan kegelian. Perasaan nikmat luar biasa yang tidak dapat ia ucapkan dengan kata-kata sampai dirinya memejamkan kedua mata. Seolah terbang ke atas Nirwana.
Wajah Kiana tertunduk melihat apa yang dilakukan suaminya. Kedua tangannya dengan reflek ikut meremas, mengacak-ngacak rambut kepala Bian. Suara yang tiba-tiba keluar dari mulutnya membuat Bian mendongak menatap kedua iris mata Kiana yang sudah terlihat sayu.
"Jangan berisik, sayang. Anakku baru saja tidur." peringat Bian sembari terkekeh pelan. Sekali lagi, Bian meninggalkan kepemilikannya di sana sebelum menyudahi aksinya malam itu.
Kiana hanya mencebik. Memperhatikan Bian yang masih terkekeh seraya pria itu membantu mengancingkan kancing bajunya.
"Malam ini cukup segini dulu aja. Aku gak bakalan lebih buat ngapa-ngapain kamu..." seru Bian ikut berbaring di samping Kiana, memeluk dengan erat raga yang kini menjadi miliknya itu.
Dia cukup sadar kalau saat ini mereka berada di rumah mertuanya. Malam pertama menginap sebagai seorang menantu dari keluarga Halim yang terpandang. Sangat konyol pikirnya kalau melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami istri. Bian malu pastinya.
"Belum apa-apa tapi ibunya Al udah berisik, aku khawatir anakku kebangun karena suara ibunya. "
"Karena ulah bapaknya juga..." timpal Kiana berbaring memunggungi Bian yang menempel seperti anak koala.
"Aku nggak tahu kamar ini kadap suara atau nggaknya. Kalau di rumah pasti aman nanti sampai ibunya teriak-teriak juga." kekehnya lagi.
"Apaan sih Mas Bian..." Kiana memutar matanya malas mendengar obrolan absurd dari suaminya.
"Kamu bahagia?" tanya Bian berbisik di telinga Kiana.
Yang ditanya mengangguk pelan. Kiana menggenggam telapak tangan hangat Bian yang berada melingkar di perutnya.
Kiana tersenyum kecil.
"Sangat..." hanya suara kecil yang keluar dari mulutnya, tetapi cukup jelas terdengar oleh Bian. "Aku nggak pernah menyangka semua ini bakalan terjadi. Aku nggak pernah berharap lebih. Bahkan, sampai memimpikannya saja pun aku nggak berani." lirih Kiana dengan suara nyaris tenggelam.
Rasa sakit yang ia rasakan selama ini, kini berubah dalam sekejap mata. Hidup sebatang kara tanpa tahu kedua orang tua kandung yang telah melahirkannya ke dunia ini membuat hidupnya penuh dengan perjuangan dan derai air mata.
Tapi Tuhan memiliki rencananya tersendiri. Tuhan begitu sayang padanya sehingga cobaan demi cobaan hidup yang ia alami kini berbuah manis dengan hadirnya orang-orang yang menyayanginya. Terutama kehadiran kedua orang tua dan kakak laki-laki yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya telah tampak ada di depan mata.
"Aku ngerasa seperti mimpi, kalau bangun aku takut semua akan hilang dan memang tidak pernah terjadi..."
"Tetapi semua benar-benar terjadi, ini semua bukan mimpi." Bian meraih Kiana kemudian membalikkan tubuhnya agar menghadap padanya.
Jari-jari tangan Bian merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah Kiana dengan sebaris senyuman.
"Makasih Mas..." cicit Kiana memperhatikan pahatan sempurna wajah suaminya. "Kamu udah membawa aku kembali ke keluargaku,"
Bian menggeleng, ia mengecup dahi Kiana lama. "Semua aku lakukan demi kebahagiaan istriku. Seorang wanita cantik yang telah sudi mengandung dan melahirkan anakku. Apapun akan aku lakukan demi membahagiakannya, meskipun dengan taruhan nyawa sekali pun."
Iris mata Kiana berkaca-kaca mendengar penuturan isi hati yang terdalam dari suaminya. Sepasang tangannya menangkup wajah Bian, membingkainya sedikit lama. Lalu perlahan ia mengecup bibir suaminya yang menguarkan harum mint seperti biasanya.
"Aku cinta Mas Bian..." ucapnya lirih.
"Dan aku yang lebih dulu mencintai kamu, Kia..."
Sepasang kekasih halal itu saling berpelukan untuk menghantarkan rasa cinta dari diri masing-masing kala malam semakin menyapa. Meluapkan kerinduan yang dirasa tidak pernah ada habisnya sepanjang waktu.
Sekali lagi, Bian mengecup kening Kiana sebagai pangantar tidur di malam yang semakin sunyi menampakkan sang rembulan.
__ADS_1