SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 160


__ADS_3

Lamunan Mikha dengan segera buyar ketika telepon diruangannya berbunyi, Mikha langsung menjawab teleponnya itu.


"Halo..."


"Tolong keruangan saya sekarang..."


"Baik Pak..."


Setelah itu Mikha menutup teleponnya lalu beranjak dari ruangannya menuju ke ruangan bosnya. 'Ada apa lagi ini? Apa aku telah membuat suatu kesalahan?' Pikir Mikha.


Begitu sampai didepan pintu ruangan Bosnya Mikha langsung saja mengetok pintu ruangan Bosnya itu,


"TOKTOKTOK!"


"Masuk!"


Setelah mendengarkan perintah dari Bosnya dengan segera Mikha langsung masuk kedalam ruangan Alex, Mikha berjalan mendekati bosnya.


"Pak Alex sedang mencari saya?" Tanya Mikha dengan sopan.


"Silakan duduk Mikha...." Pinta Alex sambil mengarahkan tangannya untuk mempersilahkan Mikha duduk.


Mikha saat ini sudah duduk dihadapan Alex, "Ada apa ya Pak?" Tanya Mikha lagi.


"Gimana persiapan untuk pesta yang akan diadakan sabtu ini? Kenapa kamu belum ada melaporkan apapun juga?" Ujar Alex sambil menatap Mikha dengan sangat serius.


'Pesta? Aduh bisa - bisanya aku melupakan hal itu.....oh Tuhan Mikha...Mikha apa sih yang sedang kamu pikirkan?' Batin Mikha.


"Bagaimana Mikha? Sudah sejauh mana persiapannya? Saya ingin mengetahuinya?" Alex mengulangi perkataannya lagi.


"Hmmm....begini Pak Alex, sebelumnya saya minta maaf....persiapannya masih belum selesai, saya usahakan paling lambat besok saya sudah menyelsaikannya. Tolong berikan saya waktu ya Pak..." Ujar Mikha.


"Oke...tolong jangan kecewakan saya ya Mik...!" Tegas Alex lagi.


"I-iya Pak..."


"Kamu sudah bisa pergi sekarang...." Pinta Alex.


"Baik Pak permisi ya...." Setelah mengatakan itu MIkha segera bangkit dan beranjak berdiri.


"Satu hal lagi Mik..."


Mikha kembali untuk melihat bosnya itu, "Saya tidak ingin  mood buruk kamu menganggu pekerjaan kamu ya! Saya paling tidak suka dengan seseorang yang tidak profesional sama sekali." Tegas Alex lagi, Mikha yang mendengarkannya merasa telah ditampar secara tidak langsung dengan ucapan Alex barusan.


"Baik Pak..." Mikha segera keluar dari ruangan bosnnya itu.


'Kok Pak Alex tau ya kalau moodku sedang tidak bagus? Apa terlalu ketara ya diwajahku?' Pikir Mikha.


Dengan cepat kini Mikha sudah berada didalam ruangannya lagi, Mikha segera melanjutkan pekerjaannya lagi, Mikha sibuk menghubungi pihak dekor, mencari hotel bintang lima, memilihkan setelan yang akan dikenakan oleh bosnya itu


Mikha sibuk terus dengan pekerjaannya pada saat ini sampai membuat dirinya melupakan tentang yang berkaitan dengan Alvin.


******


Saat ini Ara sedang menunggu dijemput oleh Suami tercintanya itu, Ara sudah tidak sabaran sekali untuk mengetahui hasil USG Anaknya itu. Ara sudah sangat gelisah sendiri.


"Kenapa Al masih belum datang juga ya? Mana sudah jam segini lagi?" Gerutu Ara dengan sangat kesalnya.


Ara akhirnya menghubungi Suaminya itu, akan tetapn Al belum menjawab panggilannya, "Ayo dong dijawab panggilan aku..." Ujar Ara sembari berjalan mondar mandir.


Akan tetapi Suamimya tak kunjung untuk menjawab panggilannya itu membuat Ara berpikiran yang tidak - tidak, "Aduh sayang....jangan buat aku cemas seperti ini dong..."


TINTIN...TINTINNN...!


"Itu bukannya suara klakson mobilnya Al ya?" Dengan segera Ara langsung berjalan keluar, ternyata benar kalau itu memang suara mobil suaminya. Ara langsung masuk kedalam.


"Sorry ya sayang...kamu udah lama nunggu ya?" Ucap Al dengan wajah penuh penyesalan.


"Kamu sih gak ontime banget! Tumben banget tau gak, oh iya ponsel kamu dimana? Aku capek lho hubungi kamu tapi tidak ada direspon sama sekali." Omel Ara dengan kesalnya.


"Ponsel aku...astaga mungkin ketinggalan dikantor sayang...kamu tau gak kalau aku tadi buru - buru....sorry ya, jangan cemberut begitu dong wajahnya sayang..." Al berusaha untuk meminta maaf kepada Istrinya.


"Hmm..."


"Tuh kan kamu benaran marah banget nih? Dengerin aku sayang...tadi itu ada klein aku, makanya aku telat jemput kamu....please maafin aku ya..." Al terus saja memohon agar mendapatkan maaf dari Sang Istri.


"Iya...tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya sayang! Ya setidaknya kamu kan bisa kasih kabar sama aku, jadinya aku tidak khawatir begitu. Kamu tau gak sih Al kalau aku itu sangat antusias untuk mengetahui jenis kelamin dari Anak kita....aku bahkan terus memikirkannya tanpa henti, sedangkan kamu malah sibuk terus dengan pekerjaan kamu! Kalau tadinya kamu bilang kamu gak bisa untuk menemani aku, aku bisa kok pergi sendiri. Kan aku juga gak memaksa kamu untuk ikut bersama dengan aku." Omel Ara panjang lebar.


"Iya sayang aku janji gak akan seperti ini lagi! Aku juga sangat antusias sayang...aku benar - benar tidak sabaran juga untuk mengetahui jenis kelamin Anak kita. So, kita berangkat sekarang ya. Tapi aku minta kamu senyum dulu dong...." Ujar Al sambil berusaha untuk membuat Ara kembali tersenyum kembali.


"Udah kan...bisa kita pergi sekarang?"


"Ih bukan seperti itu sayang....begini kalau senyuman tercantik kamu." Al mengarahkan tangannya untuk membentuk sebuah senyuman diwajah Istrinya itu.


"Kamu apaan sih..."


"Ya udah kita berangkat sekarang ya...." Ujar Al sambil tertawa gemas melihat Ara yang terus saja mengomel.


"Hmmm..." Ujar Ara sambil melipat kedua tangannya.


Kemudian Al mengemudikan mobilnya, Al tidak ingin membuat Ara kembali kesal lagi. Selama didalam perjalanan Al berusaha untuk mencairkan suasana, lambat laun Ara sudah tidak marah lagi kepada suaminya itu. Mereka berdua terus saja mengobrol sampai tidak menyadari kalau sudah sampai ditempat tujuan.


"Sudah sampai Tuan Putri..." Kemudian Al mematikan mesin mobilnya lalu membukakan pintu untuk Ara.


"Hati - hati sayang..." Ujar Al sambil memegangi tangan Ara kini sudah semakin membengkak karena kandungannya semakin membesar saja.


Kemudian Al merangkul istrinya, keduanya masuk kedalam rumah sakit lalu segera menuju ke tempat Dokter Alan, ya seperti biasa kalau Al dan Ara ingin datang kesini, Alan harus mengosongkan jadwalnya, dia tidak boleh untuk menerima tamu lainnya supaya Al dan Ara tidak dibuat menunggu lagi.


Al langsung mengetuk pintu ruangan Alan, "TOKTOKTOK!"


Alan yang sedang menunggu kedatangan Al dan Ara dengan segera langsung membukakan pintu untuk tamunya itu, "Silhakan masuk..." Sambut Alan dengan ramah.


"Gimana nih akhir - akhir ini perasaan Bu Ara?" Tanya Alan sebelum memulai memeriksa Ara.


"Duh sangat deg - deg kan karena tidak sabaran untuk cek kandungan....saya sangat menantikan hari ini banget tau gak Dok!" Ujar Ara dengan sangat bersemangat.


"Oh iya? Wajar sih Bu...semua orangtua pasti sangat penasaran dengan jenis kelamin Anak mereka sendiri, silahkan tiduran disini Bu." Ujar Alan sambil mengarahkan Ara untuk berbaring.


Al pastinya terus saja mendampingi istrinya itu, Al merangkul Ara lalu membantu Ara untuk berbaring.


Alan sudah siap dengan peralatannya untuk memeriksa Ara, "Maaf Bu...ketika Alan mengarahkan alat medisnya kearah perut Ara.


"Iya Dok..."


"Apa yang Bu Ara rasakan belakangan ini?"

__ADS_1


"Hmm...saya merasa kaki saya sering keram Dok, lalu pergerakan baby nya sangat aktif sekali sampai membuat saya suka terbangun dimalam hari." Jawab Aea dengan jujur.


"Itu hal yang wajar Bu...disini kita bisa melihat secara langsung kalau pergerakan baby Bu Ara dan Pak Al memang sangat aktif. Ibu ingin mendengarkan berita baiknya?"


"Oh begitu ya Dok, boleh Dok katakan saja!" Ucap Ara dengan sangat antusias.


"Kabar baiknya adalah Anak yang ada didalam kandungan Bu Ara ini kembar...selamat ya Bu, Pak..." Ujar Alan.


"Apa? Dokter serius?" Tanya Ara dengan wajah yang sudah berkaca - kaca.


"Iya saya serius Bu....saya juga sudah pernah mengatakan ini sebelumnya sama Pak Al, hanya saja saya belum yakin sepenuhnya. Hari ini saya sudah sangat yakin kalau Anak Bu Ara dan Pak Al benar - benar kembar. Selamat ya Pak, Bu! Kalian berdua sangat beruntung!" Ujar Alan lagi.


"Sayang...anak kita..."


"Iya sayang..." Ujar Al sambil membelai rambut istrinya itu.


"Gimana dengan jenis kelaminnya Dok?" Tanya Ara lagi, Ara benar - benar merasa sangat penasaran dengan jenis kelamin Anak kembarnya itu.


"Anak Ibu berjenis kelamin perempuan...." Jawab Dokter Alan.


"Keduanya Dok?" Tanya Ara lagi.


"Iya Bu....keduanya adalah perempuan..."


"Sayang...." Airmata Ara sudah keluar dan membasahi pipinya, dia benar - benar merasa terharu .


Al menghapus airmata yang ada diwajah cantik Istrinya itu. "Anak kita kembar sayang...duh aku semakin penasaran dengan wajah mereka berdua." Ucap Al dengan sangat antusias.


"Sama sayang...aku juga!"


"Sekali lagi saya ucapkan selamat ya Pak, Bu." Ujar Alan.


"Iya Dok...."


"Kalau begitu pemeriksaan hari sudah selesau...." Ujar Alan.


Al membantu Ara untuk bangkit lalu keduanya berjalan kearah kursi yang ada disana. Sedangkan Alan sedang menuliskan sebuah resep vitamin yang bagus untuk Ara.


"Ini saya berikan resep vitaminnya ya Bu, nanti bisa ditebus di apotek." Ujar Alan sembari memberikan resep kepada Ara.


"Iya Dok, terimakasih ya Dok!" Ara menerima resep yang diberikan oleh Alan.


"Iya Bu Ara...satu hal lagi yang harus Bu Ara ingat kalau Anak kembar seperti ini adalah nutrisi untuk keduanya harus seimbang ya." Ujar Dokter Alan lagi.


"Iya Dok! Pastinya saya akan mengingatnya"


"Kalau begitu kami berdua permisi dulu ya Dok...." Pamit Al seraya menjabat tangan Alan.


"Iya Pak Al...."


"Saya juga pamit ya...." Ujar Ara sambil menjabat tangan Alan.


"Iya Bu Ara silhakan...."Balas Alan sembari tersenyum.


Al dan Ara kini sudah keluar dari ruangannya Dokter Alan, keduanya terus saja tersenyum karena merasa sangat bahagia. "Sayang aku benar - benar tidak menyangka kalau Anak kita kembar...duh aku jadi semakin tidak sabaran untuk segera melihat Putri kita ini sayang." Ujar Ara dengan sangat bersemangat.


"Apalagi aku sayang!" Balas Al.


Keduanya akhirnya pergi dari rumah sakit dengan perasaan yang sangat bahagia. Selama didalam perjalanan pulang Ara tidak henti - hentinya terus saja mengelus perutnya sambil mengajak bicara Anaknya itu.


"Iya sayang! Aku benar - benar sudah tidak sabar melihat mereka lahir...." Balas Ara.


"Aku juga sayang..."


"Sayangnya Papa yang akur ya didalam sana...." Ucap Al sambil membelai perutnya Ara lagi.


"Iya Papa..." Ara menjawab Al.


Lalu keduanya saling menatap satu sama lain, merekab berdua sama - sama tersenyum. Al mengantarkan Ara untuk kembali kerumah, ya walaupun sebenarnya Al sendiri masih ingin bersama dengan Istrinya itu.


"Kalau begitu sampai bertemu nanti lagi ya!" Ujar Ara sambil mengecup pipi Suaminya.


"Iya sayang...."


"Al gimana aku bisa pergi kalau kamu pegangi tangan aku terus? Lepas dong sayang..." Ujar Ara.


"Aku gak mau...aku ingin bersama dengan kamu..." Ujar Al dengan manja.


"Sayang...ya udah kalau begitu kamu tidak usah bekerja ya!" Cetus Ara dengan sangat senang mendengarkan ucapan Suaminya barusan.


"Nah itu dia gak bisa sayang..." Ucap Al.


Raut wajah Ara pun seketika berubah, "Ya udah jadi kamunya gimana? Toh kamu juga gak bisa kan?"


"Kamu temenin aku kerja ya..." Rengek Al tidak seperti dirinya yang sebelumnya, Al benar - benar sudah berubah menjadi lebih manja lagi dari yang sebelumnya kepada Ara.


"Kamu serius?" Tanya Ara yang tidak percaya dengan yang dikatakan Suaminya barusan, pasalnya biasanya saja Al tidak pernah mengizinkan dirinya untuk pergi kekantor lagi, ini dia sendirilah yang memintanya. Gimana dirinya tidak senang sekalian tidak percaya.


Al mengangguk dengan mantap, "Kalau ada kamu kan pekerjaan aku jadi cepat selesainya...." Ujar Al lagi.


"Baiklah sayang...dengan senang hati." Ujar Ara dengan sangat antusias.


"Sebentar sayang aku kedalam dulu ya, aku harus mengambil perlengkapan perang aku dulu." Ujar Ara dan dengan cepat sudah turun dari mbil, Al masih tidak mengerti dengan ucapan Ara barusan.


"Perlengkapan perang? Apa sih yang dikatakan oleh Ara barusan?" Ucapnya.


Ara memutuskan untuk membawa bekal makanannya yang sewaktu - waktu dirinya pasti akan terus merasa kelaparan, dia tidak ingin dong bila itu harus terjadi ya walaupun diluar sana dia juga bisa membelinya, akan tetapi kan tetap saja lebih higenis bila kita membawanya dari rumah saja.


Ara menyuruh pembantunya untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat cepat, dia tidak ingin Al menunggunya terlalu lama. Pembantunya sedang mempersiapkan segala kebutuhan dari Sang majikannya itu, Pembantunya sampai kebingungan sendiri karena Ara terus mendesaknya dengan cepat.


"Jangan sampai ada yang terlewatkan ya Bi...saya gak mau lho kelaparan disana..." Pinta Ara.


"Baik Non, sebaiknya Non Ara duduk dulu...Biar bibi juga gak bingung karena Non liatin terus menerus." Balas Bibinya.


"Sorry Bi...habisnya saya sangat antusias sekali karena Al ngajak saya kekantornya. Saya tidak ingin dia menunggu saya terlalu lama." Ujar Ara.


"Iya Non...ini bekal makanannya sebentar lagi selesai kok....semuanya sudah sesuai dengan apa yang Non Ara minta." Ujar Bibinya.


"Ya udah kalau begitu saya tunggu Bibi didepan aja ya! Gak enak sama Al karena sudah terlalu lama." Ujar Ara lalu berjalan keluar dan kembali masuk kedalam mobil suaminya lagi.


"Udah selesai sayang? Aku masih tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan tadi?" Tanya Al.


Ara tertawa melihat suaminya, "Mkasud aku aku ingin membawa makanan sayang...tunggu sebentar ya sayang! Bentar aja kok gak akan lama." Ujar Ara.


"Gimana aku bisa mengerti kalau gak kamu jelaskan? Lagian kamu aneh banget sih sayang, bilangnya perlengkapan perang segala sih. Kalau makanan kan kita bisa beli nanti diluar." Ujar Al.

__ADS_1


"Aku lagi menghindari makanan diluar sayang...aku ingin memberikan asupan terbaik untuk Anak kita...duh kamu gak akan ngerti deh sayang."


Akhirnya pembantu mereka sudah sampai dengan membawakan semua yang diminta oleh majikannya itu.


"Taruh dibekalang aja ya Bi..." Pinta Ara.


"Baik Non..."


"Itu udah semuanya kan Bi, saya gak mau lho kalau ada yang kelewatan..."


"Iya Non udah semuanya kok..."


"Oke Bi...kalau begitu kami pergi ya..." Ujar Ara sambil tersenyum.


Kemudian Al dengan segera melajukan mobilnya untuk meninggalkan kediamannya, Selama didalam perjalanan Ara tidak henti - hentinya terus saja mengunyah, dia bahkan sudah tidak melihat dirinya sendiri yang sudah semakin membengkak. Ara terus saja merasa kelaparan ya mungkin karena Anaknya kembar jadinya Ara terus merasa lapar.


Al yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya saja tanpa mampu mengatakan apapun juga. Al malah senang melihat Ara yang tidak mengeluh terus menerus tentang beran badannya itu.


"Aaaa...." Ara menyuapi suaminya dengan paksa.


Al secara terpaksa harus menuruti Istrinya itu, Al mengunyah makanan yang diberikan oleh Ara.


"Udah sayang...mendingan kamu aja yang makan ya." Ujar Al.


"Gapapa sayang, aku kan bisa nyuapin kamu...udah kamu fokus nyetir aja." Ujar Ara.


'Gimana aku bisa fokus kalau kamu terus saja menyuapiku seperti itu...' Gerutu Al.


"Iya sayang."


Akhirnya mereka berdua sampai juga diperusahaannya Al, Al turun lalu membukakan pintu mobilnya untuk Ara, tidak lupa Al membawa turun juga bekal makanan untuk Istrinya itu. "Ayo sayang..." Al memeluk pinggang Ara sambil berjalan masuk kedalam perusahaan.


Sesampainya didalam mereka secara kebetulan bertemu dengan  Alvin yang baru saja keluar dan terus saja berjalan menunduk dengan muka yang ditekuk, Alvin bahkan tidak menyadari kalau Al dan Ara berada dihadapannya.


"Vin...kamu mau kemana?" Tanya Al.


Alvin menghentikan langkahnya lalu menatap Sang Kakak. "Kak Al, Kak Ara....aku mau makan siang diluar Kak..." Ujar Alvin sambil berjalan mendekati keduanya.


"Ya udah kalau begitu...Kakak dan Ara masuk dulu ya!" Ujar Al.


"Semangat Vin...jangan cemberut terus." Bisik Ara sambil menepuk bahu Alvin.


Lalu Ara berjalan menyusul Suaminya itu kemudian mengandeng tangan Al dengan sangat manjanya.


'Gimana mau semangat coba? Masalahku dengan Mikha aja masih belum selesai juga sampai sekarang! Huft' Batin Alvin lalu melanjutkan perjalanannya kembali.


********


Disaat sedang sendirian, Alan terus saja teringat tentang Clara, akan tetapi Alan tidak ingin menemui Clara dulu untuk sementara waktu, dia memutuskan untuk bersabar dulu sampaj pada akhirnya test DNA itu keluar.


Dia ingin mempersiapkan diri untuk itu, jauh didalam lubuk hati Alan yang paling dalam dia sangat yakin kalau itu adalah Anaknya bersama dengan Clara.


Dia masih tidak habis pikir kenapa Clara malah tidak ingin mengakuinya. Saat ini Alan sedang melihat foto kebersamaan dirinya dengan Clara.


Clara yang sangat manis dan tidak pernah menuntutnya dengan segala keinginannya.


‘Cla kenapa kamu berubah menjadi sosok Clara yang tidak aku kenal seperti ini? Apa kamu terlalu membenci aku dan keluargaku? Jika mungkin maafkan lah keluargaku Cla…’ Batin Alan.


Lamunan Alan buyrlar ketika ruangannya mendapatkan ketukkan.


Dia langsung menyuruh perawatnya untuk membukakan pintu, “Mikha….” Ucap Alan.


“Silahkan duduk…” Pinta Alan.


Mikha langsung duduk, Mikha ingin mendengarkan penjelasan dari Alan tentang yang kemarin dikatakan oleh Alvin, dirinya masih tidak ingin mempercayainya. Diwaktu jam istirahat akhirnya Mikha memutuskan untuk menemui Alan untuk dapat menperjelas semuanya, walaupun setelah itu Mikha masih belum bisa memutuskan untuk bisa menerima dan memaafkan Alvin.


“Apa keperluan apa Mik?” Tanya Alan, ya walaupun Alan tau tujuan Mikha menemui dirinya akan tetapi dirinya tidak ingin membuat kesimpulan terlebih dahulu sebelum Mikha mengatakan tujuannya.


“Sepertinya Dokter Alan sudah mengetahui maksud dan tujuan saya datang kesini…jadi saya langsung to the point aja. Jujur ini terasa seperti mimpi untuk saya Dok, Dokter pasti tau kan gimana rasanya dibohongi oleh seseorang yang Dokter Alan cintai? Saya ingin Dokter Alan menjelaskan tentang hubungan Dokter Alan dengan wanita itu dan bagaimana dia sampai mengaku bahwa diriny telah mengandung Anak dari Suamiku!” Tegas Mikha secara terang – terangan.


“Begini Mikh, kalau soal hubungan saya dengan dia saya bisa menjelaskan tapi kalau itu berkaitan dengan hubungan dia dengan Alvin, terus terang saya tidak mengetahuinya dengan jelas.” Ujar Dokter Alan.


“Oke…saya akan mendengarkan penjelasa Dokter Alan tentang hubungan Dokter dengan dia.”


“Hmmm…” lalu Alan mulai mulai menjelaskannya secara rinci tentang hubungan dirinya dengan Clara, Mikha hanya mendengarkannya dan menyimaknya dengan saksama.


Sesudah mendengarkan penjelasan Alan, Mikha masih berusaha untuk mencernanya dengan baik. "Tapi tetap aja kan Alvin salah...kenapa dia tidak jujur sama aku? Kalau saja dia jujur dari awal mungkin aku tidak akan semarah sekarang Vin...dia nemuin wanita itu dibelakang aku, wanita manapun kalau jadi aku pasti akan merasa sangat kecewa dan tidak dihargain sama sekali." Ujar Mikha masih belum bisa untuk memaafkan kebohongan Alvin.


"Iya Mik...saya tau...saya juga sudah bicara sama Alvin kalau nanti kamu akan semarah ini ketika mengetahui semua, katanya dia merasa bersalah sama kamu karena sudah menyimpan hal ini sendirian, dia tau kok kalau kamu akan marah dan kecewa bahkan sakit hati seperti ini. Tapi saya rasa dia tidak ingin melibatkan kamu dalam masalah ini, dia ingin menyelesaikannya dengan caranya sendiri, tapi Clara terus saja menekan dirinya hingga akhirnya Alvin merasa tidak tenang lalu pada akhirnya dia ingin memberitahukan semuanya kepada kamu, ya walaupun dia tau kalau sudah terlambat." Ujar Alan.


Mikha masih diam saja.


"Bukannya saya ingin membela Alvin ya Mik, tapi saya bisa melihat penyesalan terdalam didalam diri Alvin. Saya tau kalau kamu butuh waktu untuk semua ini, coba kasih Alvin sekali kesempatan lagi Mik....dan kalau masalah Clara kita tinggal menunggu hasil test DNA itu aja. Saya berharap kamu bisa memikirkannya dengan sebaik - baiknya Mik." Ujar Alan lagi seolah bisa menebak dan merasakan apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Mikha.


"Tidak akan semudah itu Dok....saya masih butuh waktu lagi. Masalah ini tidak semudah kelihatannya, saya juga tidak mau kalau keluarga saya dan Alvin mengetahui tentang ini. Lalu bagaimana kalau hasil test DNA itu malah menunjukkan Anak itu adalah Anak Alvin?" Ujar Mikha dengan lemah.


Iya sayang mengeti Mik...kalau itu saya juga tidak tau Mik...saya sendiri masih belum kepikiran sampai sejauh sana. Mungkin saya bisa menikahi Clara kalau dia mau saya akan bertanggung jawab dengan dirinya dan menerima Anak dari orang lain." Ujar Alan tanpa merasakan keberatan sama sekali.


"Saya jadi bertambah penasaran dengan wanita yang bernama Clara itu seperti apa? Pasti dia merupakan wanita yang sangat luar biasa sampai membuat Dokter Alan tergila - gila kepadanya. Dia wanita yang sangat beruntung menurut saya Dok." Balas Mikha memuji Alan.


"Kamu terlalu berlebihan Mikha...saya juga hanya manusia biasanya yang hatinya gampang terluka....hanya saja Clara lebih terluka daripada saya. Dia juga berhak mendapatkan kebahagiaan."


"Iya udah Dok...makasih untuk waktunya, sekarang saya harus balik kekantor karena jam istirahat saya ternyata sudah habis." Ujar Mikha lalu beranjak dari duduknya.


"Sama - sama Mikha...saya harap kamu bisa memberikan kesempatan lagi untuk Alvin! Ya kalau memungkinkan." Ujar Alan sambil tersenyum dan mengantar Mikha keluar dari ruangannya.


Mikha hanya membalasnya dengan senyuman.


Selama didalam perjalanan Mikha terus memikirkan ucapan dan penjelasan Alan tadi, sebenarnya dirinya mulai tersentuh dengan usaha Alvin yang ingin menyesaikan masalah ini, hanya saja hati kecilnya masih menolak untuk memaafkan Alvin. Hal yang paling fatal untuk seorang Mikha adalah sebuah kebohongan, dia tidak suka bila seseorang terdekatnya bila sudah berbohong.


'Maaf Vin...sepertinya aku masih membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan memaafkan kamu....jujur hatiku sangat sakit.' Batin Mikha sambil memegangi dadanya.


******


Semoga saja Mikha memberikan kesempatan untuk Alvin ya? Semua manusia kan pasti pernah berbuat kesalahan...


Kalau kalian jadi Mikha apa yang akan kalian lakukan?


a. tidak akan pernah memaafkan kesalahan Alvin


b masih ingin memikirkannya dulu lalu memberikan kesempatan sekali lagi


c tidak ingin bertemu dengan Alvin dulu agar rasa sakitnya perlahan menghilang


d b dan c

__ADS_1


Happy reading Guys!


__ADS_2