SECRET LOVE

SECRET LOVE
Menerima


__ADS_3

Sepasang suami istri itu saling bertukar pandang kala mendengar ungkapan yang keluar dari mulut Kiana yang mana membuat mereka mengerungkan dahinya.


"Bicaramu semakin ngawur saja. Saya minta kamu untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan kami katakan jika tidak ingin melihat kami membawa Al dari kalian." jelas Bu Ajeng dengan tegas penuh keseriusan yang mana membuat Kiana seketika membelalakkan matanya.


Kiana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tak percaya jika hal yang dia takutkan benar-benar akan terjadi.


"Jangan Bu, saya mohon jangan..." pinta Kiana memohon pada Bu Ajeng.


"Maka dari itu saya minta kamu untuk duduk dan jangan seperti ini."


"Saya mohon jangan pisahkan saya dari Al, Bu. Saya nggak bisa hidup tanpanya. Al adalah harta berharga yang saya miliki satu-satunya di dunia ini. Saya mohon jangan... Saya rela melakukan apapun tetapi jangan ambil Al dari kehidupan saya..." hiba Kiana yang semakin bersimpuh di kaki Bu Ajeng dengan isak tangis yang terus membanjiri wajahnya. Wajah Bu Ajeng meringis menahan rasa pilu melihat apa yang di lakukan oleh Kiana padanya.


Sudah tak tahan menyaksikan itu semua, Bu Ajeng yang hendak meraih bahu Kiana untuk menariknya agar tak lagi bersimpuh di kakinya tiba-tiba saja terkejut saat mendengar suara menggelegar yang memenuhi ruangan.


"Ma, Pa, apa yang kalian lakukan!" teriak Bian saat melihat apa yang terjadi di hadapannya kini oleh kedua matanya sendiri.


Sontak saja membuat semua mata yang ada di ruangan itu menoleh pada sumber suara dimana Bian tengah berdiri dengan wajah memerah padam menahan amarah.


Pria itu pun menghampiri Kiana yang tengah bersimpuh di kaki ibunya dengan isak tangis yang semakin terdengar lirih di telinganya. Hati Bian seakan terasa sakit melihat itu semua. Sejurus kemudian ia meraih raga Kiana agar bangkit dari tempatnya dan ia bawa ke dalam pelukannya.


"Kia..." ucap Bian dengan mata yang berembun yang hampir saja menumpahkan lelehan air beningnya.


"Mas..."


"Kenapa? Mas mohon jangan seperti ini..." ucap Bian menatap lekat wajah Kiana yang ia rangkum dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan ambil Al, aku mohon..."


"Sssttt... Siapa yang akan mengambil Al dari kamu, tidak ada."


"Tapi jangan pisahkan aku dengan Al Mas, aku mohon jangan..." pintanya pada Bian dengan wajah yang memelas penuh dengan hibaan.


"Tenang ya sayang dengerin Mas, nggak akan ada yang bisa pisahkan Al dari kamu maupun Mas, kita akan selalu bersama selamanya."


"Aku nggak bisa hidup tanpa Al, jangan bawa dia pergi dari aku Mas, jangan bawa dia pergi..." tangis isaknya yang menggugu tenggelam di bahu Bian.


"Ki, Kia sayang... Tolong dengerin Mas, nggak akan ada satupun orang yang akan berani membawa Al dari kita. Al akan baik-baik saja. Kamu tenang ya jangan menangis lagi. Kasihan bayi kita melihat ibunya sedih seperti ini." tenang Bian pada Kiana sembari menahan amarah yang siap meledak saat itu juga. Ia mengusap lembut rambut kepala Kiana untuk menenangkannya.


"Mas,"


"Sayang, tenang ya,"


Pak Hardi berdeham cukup keras saat melihat Bian dan Kiana berpelukan untuk saling menguatkan dengan deraian air mata yang berjatuhan.


"Bagus sekali jika sekarang kamu sudah ada di sini, Bi." seru Pak Hardi pada anaknya.


Bian yang tengah memeluk Kiana pun mengurai pelukan diantara mereka untuk menoleh pada ayahnya.


"Apa yang sudah Papa dan Mama lakukan sampai membuat Kiana menangis seperti ini?!" ujar Bian dengan kilatan amarah yang tertahan.


Pak Hardi menghela napasnya perlahan sebelum bersuara. "Bisa kalian duduk terlebih dahulu? Ada banyak hal yang harus kita bicarakan." titahnya pada Bian dan Kiana.


"Kalau Papa dan Mama datang kesini hanya untuk menyakiti anak dan istri Bian, Bian nggak akan tinggal diam untuk selalu melindungi mereka meski harus menentang kalian!"


"Bi... Bukan begitu," sahut Bu Ajeng menengahi.


"Apa Ma? Lalu apa dengan semua ini? Kalian sudah membuat Kiana menangis seperti ini. Bian sangat kecewa dengan sikap kalian yang memandang rendah seseorang tanpa melihat sisi baiknya Kiana. Suka atau tidak Kiana istri Bian Ma, ibu dari anak-anak Bian. Bian tidak terima dan akan marah jika ada orang-orang yang berani menyakiti hatinya. Termasuk Mama dan Papa sekalipun. Dan sampai kapanpun juga Bian akan selalu ada untuk Kiana dan Al!"


"Kamu salah paham, Bi, bukan seperti itu." ucap ibunya yang kembali bersuara tak mau jika niat kedatangan mereka ke sana malah membuat masalah semakin runyam.


"Tapi apa yang sudah Mama lakukan pada Kiana sangat keterlaluan Ma! Mama tega! Kiana nggak salah, Bian yang salah di sini sejak awal semua ini terjadi. Kalau Mama nggak suka liat Bian bersama Kiana, Bian sama sekali nggak masalah. Bian bisa pergi jauh dari hadapan Mama membawa Kiana dan Al jika itu membuat Mama merasa lebih baik!" ungkapnya dengan emosi yang meledak-ledak.

__ADS_1


"Bian cukup!" ucap Pak Hardi dengan nada suara yang meninggi untuk menghentikan anaknya yang terus berbicara seolah-olah tengah menyudutkan ibunya sendiri.


"Tapi Pa--"


"Papa bilang cukup! Sudah! Bisa kalian duduk sekarang juga?" Pak Hardi ikut emosi melihat Bian yang meluap-luap dengan amarahnya. "Papa nggak mau sampai mendengar kamu mengeluarkan kalimat yang akan menyakiti hati Mamamu sendiri!"


Bian yang semula masih kesal dengan kedua orang tuanya kini lebih dingin untuk menyikapi permasalahan. Pada akhirnya ia pun menurut pada ayahnya untuk membawa Kiana duduk yang masih menangis di pelukannya. Sekilas ia pun melihat ibunya yang kembali mengeluarkan air mata dengan Al yang berada dalam pangkuannya. Bayi kecilnya itu terlihat memandang sendu Omanya dengan bibir mungilnya yang merapat tipis hendak seperti akan menangis.


"Nampaknya kalian salah paham dengan berpikir jika kedatangan kami kemari dengan sengaja ingin menyakiti kalian. Pemikiran picik seperti apa itu? Apakah ada orang tua yang ingin melihat anak-anaknya menderita? Kalaupun ada di dunia ini, sayangnya kami bukan orang tua seperti itu!" jelas Pak Hardi dengan tegas membuat Bian seketika bungkam.


"Apa kamu tidak malu sama Al anak kamu sendiri, Bian? Lihatlah, betapa dia begitu nyamannya berada dalam pangkuan Omanya. Al begitu sangat merindukan sosok keluarganya. Apa kamu tidak merasa jika apa yang kamu lakukan dengan menyembunyikan kehadirannya selama ini dari kami akan dapat menyelesaikan masalah? Dan itu semua membuat apa yang kamu lindungi menderita karena sikap egois kamu!" Pak Hardi menghela napas dalam-dalam.


"Kami tahu apa yang sudah terjadi diantara kalian memang cukup membuat kami terkejut dan tidak percaya. Terlebih dengan kehadiran Al yang begitu sangat tiba-tiba, dan sekarang kami datang kemari hanya ingin mengurai semua masalah ini agar tidak ada pihak yang tersakiti dan mencari jalan keluarnya sebaik mungkin." tutur Pak Hardi lagi dengan bijaksananya.


Bian tenggelam dalam pikirannya yang berkemelut memahami dengan betul-betul apa yang di katakan oleh ayahnya.


Kini semua mata tertuju pada Al, si bayi kecil tampan yang begitu sangat menggemaskan itu ikut bersuara sehingga menyita perhatian mereka yang ada didekatnya.


Bu Ajeng tersenyum memperhatikan cucu laki-lakinya itu dengan perasaan membuncah. Tak tertinggal Pak Hardi pun ikut menyapa Al yang seolah tengah mengajak mereka berbicara.


"Iya sayang ini Oma sama Opa. Al kangen nggak sama Oma, hem?" Bu Ajeng menciumi seluruh permukaan wajah Al dengan gemasnya. "Cucu Oma sangat tampan sekali," pujinya dengan setulus hati.


"Al begitu mirip sekali denganmu Bi. Saat melihatnya mengingatkan Papa saat-saat pertama kalinya menimang kamu saat masih bayi, sangat persis sekali." ujar Pak Hardi.


"Papa nggak bisa lagi berkata apa-apa untuk memahami bagaimana kalian bisa-- Ya, kalian pasti paham apa yang Papa maksud. Tapi yang jelas, kesalahan terbesar kamu adalah menyembunyikan masalah sebesar ini dari kami sehingga menyebabkan kesalahpahaman dan membuat dua nyawa terabaikan begitu saja karena tindakan kamu, Bian."


"Maafin Bian, Pa. Bian nggak bermaksud untuk menutupi semua masalah ini dari kalian. Bukan maksud dengan sengaja juga Bian melepas tanggung jawab pada Kiana karena keadaan Bian yang Mama dan Papa tahu sendiri seperti apa. Selama ini Bian menyembunyikan masalah ini karena Bian nggak mau membuat beban pikiran kalian bertambah dan yang paling Bian takutkan adalah membuat Mama dan Papa kecewa dengan apa yang sudah Bian lakukan pada Kiana." ungkap Bian apa adanya dengan sejujurnya.


Pak Hardi kembali menghela napas, "Andai saja dulu kamu mau berkata jujur, pasti semua ini tidak akan terjadi."


"Bian takut Mama dan Papa akan marah,"


"Itu konsekuensi atas tindakan yang kamu lakukan, Bi."


"Dan Papa tekankan sekali lagi, kami bukanlah orang tua seperti apa yang kamu pikirkan itu!"


"Lalu mengapa Mama menolak kehadiran Al dan Kiana? Mama tahu, itu membuat hati Bian sakit Ma, Bian sedih melihat itu semua."


"Mamamu terkejut sama halnya seperti Papa. Mama--"


"Pa, biar Mama yang berbicara." selanya memotong kalimat suaminya. "Mama tahu apa yang Mama lakukan itu pasti sudah menyakiti hati kalian. Kamu kecewa dan sakit hati, dan itu sama persis apa yang Mama rasakan mendapati kenyataan anak laki-laki yang Mama banggakan telah menyakiti hati seorang wanita baik seperti Kiana."


"Mama seorang wanita, adikmu Syafira juga Bi, apa kamu tidak pernah berpikir jika apa yang kamu lakukan akan menuai hasil yang berakibat buruk pada kami? Mama sangat malu dan kecewa atas apa yang kamu lakukan pada Kiana. Terlepas apa yang menyebabkan kamu bisa melakukan hal yang menyakitkan pada Kiana sehingga menghadirkan Al yang tidak berdosa dan tak tahu apa-apa untuk menanggung akibatnya."


"Maafin Bian Ma..." sesal Bian seraya mendekati ibunya dan bersimpuh di kakinya. "Bian benar-benar menyesal sudah menyakiti hati Kiana dan juga Mama karena kebodohan Bian."


"Kamu menyesalinya?"


"Sangat Ma, Bian sangat menyesali semua yang udah Bian lakukan. Tapi Bian sangat bersyukur dengan adanya kejadian ini Bian bisa membuka mata dan hati jika Kiana memang wanita yang terbaik untuk Bian. Jadi Bian mohon dengan sangat sama Mama, terima Kiana dan Al untuk mendampingi Bian. Bian nggak bisa hidup tanpa mereka," Bian menghiba pada ibunya.


"Kamu yakin dengan keinginanmu itu?"


"Iya Ma, Bian sangat yakin."


"Apa kamu tidak akan menyesal?"


"Nggak akan pernah sekali pun, Bian hanya mau Kiana dan juga Al, Ma."


"Baiklah," ucap Bu Ajeng mengakhiri percakapan mereka.


Bian menatap tak percaya ibunya dengan menautkan kedua alisnya sampai saling bersinggungan.

__ADS_1


"Ma?"


"Apa lagi Bi?" balas Bu Ajeng tak acuh, seolah menghiraukan anaknya itu yang malah sibuk menggoda cucu kesayangannya.


"Jadi?"


"Ya sudah," jawab Bu Ajeng pendek tak terlalu menghiraukan.


"Pa?" kini Bian beralih pada ayahnya yang ikut-ikutan mengangkat kedua bahunya.


"Terserah apa kata Mamamu," jawab Pak Hardi.


"Ma, jadi bagaimana ini? Bian boleh nggak sih sama Kiana? Kalau Mama masih keukeuh, Bian akan pergi membawa Kiana dan juga Al jauh dari kalian!" ujarnya kesal dengan tingkah kedua orang tuanya.


"Awas saja kamu kalau coba-coba membawa pergi cucu dan menantu Mama," peringat Bu Ajeng pada Bian dengan mata melototnya.


"Ya terus gimana ini nasib Bian?" ucap Bian dengan wajah melasnya.


"Ya kamu tanya sama Kiana, dianya mau nggak sama kamu!"


Bian berdecak kesal, "Ck! Nggak perlu ditanya juga Kiana pasti maulah sama Bian Ma," ucapnya percaya diri.


"Percaya diri banget, yakin Kiana mau sama kamu setelah apa yang kamu lakukan sama dia? Kalau Mama jadi Kiana sih bakalan mikir dua kali buat nerima kamu,"


"Lho kok Mama ngomongnya gitu sih? Bukannya mendukung Bian tapi malah membuat harapan anaknya sendiri jatuh." Bian mencebikkan bibirnya sembari mendengus kesal.


Bu Ajeng mendelik kesal pada putranya itu. "Habisnya kamu itu nakal, Bi! Mama kesel banget sama kamu! Kamu itu ya, awa saja kalau sampai kamu nyakitin hati Kiana lagi yang ada kamu yang bakalan Mama pisahin kamu sama Kiana dan juga Al!" balasnya sembari menjewer telinga anak laki-lakinya itu dengan sekuat tenaga meluapkan kekesalannya pada Bian.


"Aw, aw, aw... sakit Ma, aduh kenapa Mama jewer Bian sih Ma? Sakit tahu telinga Bian ini!" Bian berusaha melepaskan diri dari ibunya seraya mengusap-ngusap telinganya yang terasa sakit dan panas. Kiana yang melihat semua itu hanya mampu meringis menatap suaminya yang kesakitan tanpa bisa melakukan apapun. Namun jauh berbeda dengan Pak Hardi yang malah terkekeh melihat kelakuan istri dan anaknya itu.


"Ki, Mama jewer aku, sakit sayang..." adunya pada Kiana seraya merangsek menduselkan kepalanya pada ceruk leher Kiana.


"Ini tuh nggak ada apa-apanya dibanding kamu udah nyakitin Kiana! Rasain aja tuh sakitnya. Mama kesel sama Kamu, Bi! Udah Ki, biarin nggak usah dibelain dia, tuman!" ujarnya yang mana membuat Al menangis melihat apa yang terjadi pada ayahnya.


"Sssttt... cup-cup, maafin Oma sayang, bukan Al yang nakal tapi ayah kamu yang nakal. Jangan nangis ya jagoannya Oma,"


"Al aja ngerti sampai nangis Karena nggak mau lihat bapaknya disakitin gitu sama Omanya," ucap Bian.


"Mau lagi kamu Bi Mama jewer, hah!" tantang Bu Ajeng pada putranya.


"Nggak ada!"


"Sudah-sudah, sini giliran Papa yang gendong Al. Sini Ma, Papa pingin pegang Al, cucunya Papa ini..."


"Ish, Papa. Cucu Mama juga ini!" aku Bu Ajeng tak mau kalah, namun tak lepas juga memberikan Al pada suaminya. Kini matanya beralih pada Kiana yang juga tengah balik memperhatikannya juga.


"Ki," panggilnya pada Kiana.


"Bu," ucap Kiana lirih hendak akan kembali mengeluarkan air matanya. Bu Ajeng meraih raga rapuh itu ke dalam pelukannya dan terus memeluknya dengan begitu erat.


"Maaf, maaf..." ucap Bu Ajeng lirih.


"Saya yang harusnya minta maaf sama ibu,"


"Nggak Ki, saya dan keluarga yang harus meminta maaf sama kamu terutama atas kelakuan Bian sama kamu selama ini yang udah nyakitin kamu. Maafin Bian ya Ki?"


Kiana menganggukkan kepalanya, "Iya, Bu. Saya sudah memaafkan Mas Bian..."


"Saya nggak tahu harus berkata apa lagi untuk dapat menebus segala dosa-dosa ini. Saya tahu kamu adalah gadis yang sangat baik, dan saya sangat bersyukur pada akhirnya kamu yang menjadi menantu di keluarga ini. Kamu mau kan mendampingi Bian sebagai istri dan menantu di keluarga Adijaya?"


Kiana menatap wajah Bu Ajeng dengan mata yang berkaca-kaca. "Jika ibu merestui," ucap Kiana.

__ADS_1


"Mama, panggil Mama mulai sekarang. Dan mulai saat ini juga Mama dan Papa merestui kalian untuk bersama," ucap Bu Ajeng yang mana Kalimatnya itu mampu membuat Kiana semakin terisak dalam tangisnya.


*****


__ADS_2