
Dirumah sakit...
Alex duduk tepat disebelah Sang Adik sambil terus memandangi Adiknya, dia sangat bahagia karena akhirnya Daniel sadar juga. Daniel memegang tangan Kakaknya, "Jangan banyak bergerak dulu kamu kan masih sakit." Ujar Alex.
Alex menggenggam tangan Daniel, "Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Alex sambil menatap Daniel.
Secara perlahan Daniel menganggukkan kepalanya, "Katakanlah..." Ujar Alex lagi.
"Maafkan Daniel Kak....Apa yang Daniel lakukan dulu adalah sebuah kesalahan besar dan Daniel tau pasti Kakak tidak akan mudah untuk memaafkan Daniel dan juga Bella. Dalam hal ini Bella tidak bersalah Kak. Daniel lah yang selalu memaksa Bella...."
"Kalau soal ini...Kakak sudah tidak ingin membahasnya lagi dan Kakak tegasin sama kamu kalau Kakak sudah memaafkan kamu bahkan sebelum kamu minta maaf sama Kakak. Dan soal Bella, Kakak bahkan sudah tidak mempunyai hubungan apa - apa lagi dengannya, jadi kamu sudah tidak perlu untuk mengkhawatirkan tetang hal ini lagi ya. Semuanya sudah berlalu kok, Kakak minta sama kamu, kamu harus segera sembuh." Ujar Alex sambil mengelus pipi Daniel.
"Terimakasih Kak! Tapi ngomong - ngomong Bella ada dimana? Bisa Kakak memanggil dia untuk masuk?" Ujar Daniel.
"Baiklah...sebentar ya! Kakak tidak akan lama kok." Ujar Alex lalu berjalan keluar dari ruangan Daniel.
Sesampainya diluar, Alex tidak menemukan siapa pun juga, dia mulai mencari Bella kearah sekitar rumah sakit, akan tetapi Alex masih belum menemukan dimana keberadaan Bella sama sekali,
Alex merasa frustasi karena tak kunjung menemukan keberadaan Bella, Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Bella, akan tetapi nomor telepon Bella ternyata sudah tidak aktif sama sekali. Alex sudah mencoba menghubungi Bella beberapa kali akan tetapi hasilnya tetap sama.
"Dimana sih kamu Bel? Kenapa nomor hp kamu tidak aktif sama sekali?" Ujar Alex,
Alex kembali berjalan kearah ruangan Adiknya, dia berjalan sambil terus berpikir. 'Apa jangan - jangan...' Langkah Alex terhenti seketika.
Omanya Alex saat ini baru saja sampai ke rumah sakit, dia ingin segera melihat Cucunya Daniel. Dia segera menghampiri Alex. "Daniel udah gimana?" Tanya Omanya.
Alex menatap Omanya sebentar, "Udah sadar Oma...Oma tolong jagain Daniel sebentar ya! Alex sedang ada urusan." Setelah mengatakan hal itu Alex langsung segera pergi.
"Apa yang terjadi? Kenapa Alex pergi begitu saja? Ah sudahlah..." Ujar Omanya lalu segera masuk kedalam ruangan rawat Daniel.
"Daniel!" Ujar Omanya lalu memeluk Daniel, Omanya sangat merindukan Cucunya itu.
"Omaaa..." Ucap Daniel yang juga sangat merindukan Omanya itu. Sudah sangat lama Daniel tidak melihat Omanya lagi.
"Gimana keadaan kamu? Kemana saja kamu selama ini Daniel? Kenapa kamu sudah tidak pernah pulang kerumah lagi? Kamu tau tidak betapa kangennya Oma kepada kamu." Ujar Omanya tanpa henti - hentinya.
Sementara Daniel hanya melihat Omanya saja sambil tersenyum, "Sudah lama Daniel tidak mendengarkan cerewetnya Oma. Daniel juga sangat merindukan Oma." Ujar Daniel sambil kembali memeluk Omanya.
Omanya sudah tidak mengomel lagi, dia lebih merindukan Cucunya ini dibandingkan dengan rasa kesalnya karena selama ini Daniel sudah tidak pernah memberikan kabar kepada Omanya.
"Kamu tau titik kelemahan Oma ya? Kamu jangan menakut - nakuti Oma lagi ya....Kamu tau betapa sedihnya Oma mendengarkan kondisi kamu yang sudah berbaring lemah dan tidak sadarkan diri seperti kemarin. Cukup Daniel jangan pernah lakukan itu lagi." Ujar Omanya.
"Iya Oma...Daniel janji! Oh iya Kak Alex kemana? Apa tadi Oma tidak bertemu Kak Alex didepan?" Tanya Daniel dengan sangat penasaran karena Kakaknya tak kunjung datang.
"Tadi sepertinya Kakak kamu sedang terburu - buru, dia hanya berpesan untuk menjaga kamu saja. Sepertinya Kakak kamu sedang ada urusan yang mendesak." Ujar Omanya.
"Lalu dimana Bella?" Tanya Daniel lagi, dia merasa ada sesuatu hal yang dijanggal karena Bella tak kunjung muncul juga.
"Oh iya...dimana ya? Bukankah Bella ada disini? Kan dia yang jagain kamu tadi Oma juga tidak melihat dimana keberadaan Bella sama sekali." Ujar Omanya yang baru menyadari kalau tidak adanya Bella disana.
'Apa Kak Alex sedang mencari Bella? Pasti Bella pergi makanya Kak Alex tak kunjung muncul juga.' Batin Daniel.
"Mungkin saja Bella lelah Oma makanya dia pergi sebentar." Ujar Daniel pada akhirnya agar tidak membuat Omanya khawatir.
__ADS_1
"Iya mungkin kamu benar.... Oh iya Oma sampai lupa, tadi Oma masakin kamu bubur dirumah, kamu makan ya." Ucap Omanya sambil mengambil bekal bawaannya.
"Tapi dengan satu syarat.."
"Apa syaratnya?" Tanya Omanya.
"Oma suapin Daniel ya!" Pinta Daniel dengan manja.
"Kirain syaratnya apaan...ya udah deh Oma suapin kamu ya! Tapi kamu jangan mengeluh ya." Kemudian Omanya sudah bersiap untuk menyuapi Daniel.
Daniel benar - benar merasa sangat bahagia karena bisa kembali melihat Omanya lagi. Bukan hanya itu saja, dia bisa kembali bersikap manja seperti seorang Anak kecil bila sudah bersama dengan Omanya.
Dikediaman Alex...
Akhirnya Alex sudah sampai juga dirumahnya, dengan cepat dia langsung turun dari mobilnya lalu melangkah cepat masuk kedalam rumahnya. Sesampainya didalam Alex meneriaki nama Bella namun Bella tak kunjung muncul juga. Alex masuk kedalam kamar Bella lalu melihat kamarnya kosong, dia juga memeriksa kamar mandi. Namun Bella tidak ada disana juga. Alex membuka lemari pakaian Bella dan sesuai dengan tebakan Alex, Bella benar - benar sudah pergi dari rumahnya.
Dia mulai mengingat kembali percakapannya terakhir dengan Bella, 'Ternyata kamu benar - benar sudah pergi tanpa berpamitan sama sekali.' Batin Alex.
Alex lalu berjalan keluar dari kamar Bella, dia melangkah menuju kamarnya. Dia seperti melihat kertas yang berada di meja tak jauh dari kasurnya. Dengan segera Alex mengambil kerta itu dan membaca apa yang tertulis disana.
"Hai Lex! Kalau kamu sudah menemukan surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada lagi disana...hehe.
Sesuai dengan keinginan kamu, aku akhirnya pergi dari hidup, rumah bahkan dari Oma. Dan aku tidak menyesal kok pernah berada disana, mungkin aku akan merindukan kamu dan juga Oma...tapi tak masalah, aku sudah berusaha untuk menebus perasaan bersalahku kepada kamu. Hmm...biar aku tebak pasti saat membaca surat dari aku kamu merasa sangat bahagia kan? Aku bisa merasakannya kok! Ingat janji kamu ya...kamu harus berbaikan dengan Daniel...walau bagaimanapun juga dia akan selalu menjadi Adik kamu. Makasih ya selama ini kamu dan Daniel sudah memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku bersyukur karena Tuhan sudah mempertemukan aku dengan Pria baik seperti kalian berdua. Ya walaupun setiap pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan. Sampaikan salam aku untuk Daniel dan juga Oma ya! Aku harap semoga kalian bertiga selalu bahagia.
Dari wanita yang sangat mencintai kamu walaupun cintaku sudah tidak berhaga lagi dimata kamu. Hehe!
Bella~
Alex duduk ditepi kasurnya sambil memegang kertas dari Bella, Alex merasa sangat kasar saat Bella berada dirumahnya. Dia mulai mengingat - ngingat dengan apa yang pernah dia lakukan dan katakan kepada Bella. Menyesal mungkin itulah yang saat ini terjadi kepada Alex. Akan tetapi Alex juga tidak ingin larut dalam penyesalannya. Dia sekarang memiliki tanggung jawab untuk merawat Adiknya.
Dia mulai melajukan mobilnya kembali, selama didalam perjalanan dirinya kembali melamun bahkan Alex hampir saja menabrak seseorang didepan sana. Dia benar - benar tidak bisa untuk berkonsentrasi. Entah hal apa yang sebenarnya mengganggu pikiran Alex saat ini, apa karena kepergian Bella atau hal lainnya? Hmm.. itu hanya Alex sendirilah yang mengetahuinya.
Sesampainya di rumah sakit, dengan langkah yang sangat berat Alex masuk kedalam ruangan Adiknya, "Kak Alex darimana saja? Oh iya kenapa Kakak hanya seorang diri saja? Bella dimana?" Tanya Daniel penuh dengan selidik.
"Iya Lex...Bella dimana? Jangan bilang sama Oma kamu bertengkar lagi dengan Bella ya?" Ujar Omanya.
Alex menggelengkan kepalanya, "Tidak Oma...Bella sedang ada urusan dengan keluarganya. Dia menghubungi Alex tadi melalui sambungan telepon." Ujar Alex.
"Tapi kenapa dia tidak bilang sama Oma?" Ujar Omanya lagi yang masih tidak mempercayai ucapan dari Cucunya.
Alex mengangkat kedua bahunya, "Mana Alex tau!" Ujar Alex lalu duduk didekat Daniel.
"Gimana sekarang? Apa kepala kamu masih terasa sangat sakit?" Tanya Alex dengan wajah sangat khawatir.
Daniel kembali menggelengkan kepalanya, "Udah gak sakit lagi kok Kak! Apa Kak Alex sedang tidak sibuk ya di kantor?" UjarDaniel.
"Gak kok..kamu tidak perlu khawatir ya! Kamu hanya perlu memikirkan kesehatan kamu saja. Hal lainnya biar Kakak yang mengurusnya." Ujar Alex sambil tersenyum.
"Baik Kak!" Jawab Daniel dengan cepat.
Omanya yang berada diantara kedua cucunya kesayangannya itu hanya merasa bersyukur karena keduanya akhirnya saling memperdulikan satu sama lain lagi. Sebenarnya Omanya sangat penasaran kenapa Alex dan Daniel selama ini saling berjauhan, hanya saja Omanya tidak ingin ikut campur dalam urusan keduanya.
"Gini kan enak lihatnya...yang akur dong kalian berdua!" Ujar Omanya.
__ADS_1
"Iya Oma..."
Setelah melihat Daniel tertidur, akhirnya Oma dan Alex memutuskan untuk keluar dari ruangan Daniel agar tidak menganggu Daniel.
"Lex..." Panggil Omanya.
"Ya Oma.." Alex menatap Omanya yang kini sudah menatap tajam kearahnya.
"Bella dimana? Oma tau kalau kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu.." Tanya Omanya langsung to the point.
Alex menghela nafas dengan berat lalu memberikan surat kemberian Bella kepada Omanya. "Oma baca sendiri saja." Jawab Alex.
"Apa ini?" Tanya Omanya lagi yang tidak mengerti kenapa Alex malah memberikannya sebuah surat.
"Lihat saja Oma...jawaban atas semua pertanyaan Oma ada didalam sana." Ujar Alex lagi.
Omanya semakin merasa sangat penasaran, Omanya langsung membuka surat itu dan membacanya dengan wajah yang sangat serius. Selesai membacanya, Omanya hampir saja terjatuh. "Bella..." Ucap Omanya yang merasa sangat sedih.
"Oma!" Alex memegangi Omanya lalu membawa Omanya untuk duduk dikursi yang sudah tersedia disana.
"Kenapa Bella pergi? Kenapa? Apa ini semua ada hubungan dengan kamu? Tapi kenapa kamu tega sekali melakukannya Lex!" Ujar Omanya sambil menangis.
Alex memeluk Omanya, "Maafkan Alex Oma! Ini keputusan Bella sendiri...Alex tidak tau kalau Bella memilih pergi secepat ini."
"Lalu kenapa kamu tidak mencarinya? Ayo Lex cari Bella, pasti saat ini Bella sedang menangis disuatu tempat." Ucap Omanya sambil menguncang - guncangkan bahu Alex.
Alex lagi lagi menggelengkan kepalanya, "Tidak Oma, percuma saja! Biarkan saja Bella pergi, Alex benar - benar tidak sanggup bila harus melihat Bella setiap hari." Ujar Alex.
"Kenapa kamu sangat jahat Lex! Oma sudah menganggap Bella itu seperti Cucu kandung Oma sendiri. Dia wanita yang sangat baik. Kamu sadar tidak selama Bella ada dirumah kamu selalu memperlakukan Bella dengan semena - mena saja. Dia bahkan tidak mengeluh tentang hal itu, tapi Oma selalu saja melihat Bella menangis didalam kamarnya. Hati kamu sebenarnya terbuat dari apa sih? Kenapa kamu tega sekali melukai perasaan seorang wanita sampai seperti itu?" Ujar Omanya sambil memukul - mukul dada Alex.
Alex hanya menerimanya dengan pasrah saja, dia tau kalau dirinya salah dengan apa yang telah dia lakukan kepada Bella. Alex kembali memeluk Omanya lagi sampai perasaan Omanya benar - benar merasa jauh lebih baik lagi.
'Maafin Alex Oma...Maafin Alex karena sudah membuat Oma menangis seperti ini.' Batin Alex.
Setelah hari ini, setiap kali setiap Daniel bertanya tentang Bella, Alex dan Omanya selalu mengatakan kalau Bella sedang sibuk dengan keluarganya lalu mengarang bebas mengatakan kalau Bella akan segera menikah dengan pria yang sudah dipilihkan oleh keluarga Bella sendiri.
Kebohongan itulah yang akhirnya membuat Daniel tidak pernah bertanya lagi tentang hal yang menyangkut Bella. Karena keadaan Daniel semakin hari semakin menunjukkan perkembangan, Dokter mengizinkan Daniel untuk dirawat dirumah agar proses penyembuhannya semakin baik lagi.
Alex berubah menjadi sosok Kakak yang over protektif kepada Daniel. Dia selalu memeriksa keadaan Daniel setiap harinya walaupun sepulang bekerja Alex sudah sangat lelah dia menyempatkan diri untuk mengecek kepadaan Adiknya.
Setiap hari Alex, Daniel dan Oma selalu sarapan bersama - sama, Alex tidak ingin membuang - buang waktunya lagi. Dia tidak ingin melakukan sebuah kesalahan yang akan disesalinya seperti masalalu. Sekarang waktu bersama dengan keluarganya sangat berharga dan penting untuk seorang Alex. Baginya keluarganya adalah segalanya, dia selalu berusaha agar pekerjaannya cepat selesai agar bisa kembali kerumahnya dengan cepat.
Alex selalu menyempatkan diri untuk pulang sebelum jam makan malam agar dia bisa makan malam bersama dengan orang - orang tersayangnya. Alex benar - benar sudah sangat jauh berubah, satu hal yang tidak bisa diubah olehnya adalah hatinya. Dia sekarang berubah menjadi Alex yang sangat tertutup. Baginya wanita tidak terlalu penting lagi.
Omanya selalu saja berusaha untuk menjodohkan Alex dengan berbagai macam wanita yang menurut Omanya sangat baik, pintar dan bisa menjadi seorang pendamping untuk Cucunya itu. Hanya saja sekali berkencan Alex langsung menegaskan kepada wanita itu agar tidak terlalu berharap kepada dirinya. Dia menegaskan kalau dirinya menolak perjodohan yang dilakukan oleh Omanya.
Beberapa bulan berlalu dengan sangat cepatnya, Omanya tidak pernah menyerah untuk mengenalkan Alex dengan seorang wanita. Omanya ingin Cucunya ini segera menikah dan memiliki seorang Anak. Omanya terus saja mendesak Alex sampai - sampai membuat Alex merasa frustasi dan seringkali menghindari Omanya. Karena setiap kali bertemu Omanya selalu saja membahas tentang perjodohan dan pernikahan dihadapan Alex. Sementara Alex sendiri belum terpikir untuk menikah.
*****
Apa yang terjadi selanjutnya?
Tunggu kejutannya ya! Heheh..kira - kira apa ya apakah ada yang bisa menebaknya?
__ADS_1
**Happy reading guys! **