
Hari ini akhirnya tiba juga, Alan akan membawa Clara untuk bertemu dengan kedua orangtuanya lagi, sebenarnya jauh di lubuk hati Clara yang paling dalam, dia tidak ingin bertemu dengan calon mertuanya itu, akan tetapi Clara memutuskan akan memberikan kesempatan lagi.
Dia kembali membuang rasa malunya walaupun sebenarnya tidak akan mudah untuk dirinya melupakan segala yang telah dilakukan oleh orangtua Alan kepadanya. Akan tetapi karena melihat perjuangan, ketulusan dan cinta Alan kepadanya akhirnya Clara berusaha untuk menyakinkan dirinya sendiri untuk kembali percaya lagi.
Saat ini detak jantung Clara sudah berdetak tidak karuan sedari tadi, tapi dia berusaha untuk terlihat tenang dihadapan Alan. Selama dalam perjalanan Alan tak henti - hentinya terus saja menggenggam jemari Clara sementara Clara hanya tersenyum saja.
Dia ingin terlihat baik - baik saja dihadapan Alan walaupun Alan juga tidak mudah untuk dibohongi oleh Clara. Alan sendiri dapat dengan mudahnya membaca mimik wajah Clara yang saat ini sangat tegang.
"Sayang...kamu baik - baik saja?" Tanya Alan memulai obrolan.
Clara mengangguk dengan cepat, "Emangnya kenapa?" Ujar Clara.
"Kamu tidak perlu merasa segugup itu Cla...aku tau kok apa yang sedang kamu pikirkan saat ini." Ujar Alan lagi.
"Kelihatan banget ya? Padahal aku sudah bersusah payah untuk menyembunyikannya dari kamu. Aku hanya ingin terlihat tenang dan baik - baik saja didepan kamu Lan...." Ujar jujur Clara.
"Iya kelihatan lah...kamu tidak melupakan sesuatu kan? Aku ini adalah seorang kekasih yang sudah sangat mengenal kamu. Kita pacaran juga sudah bertahun - tahun Cla. Kamu tenang saja ya Cla, aku jamin kali ini orangtua aku sudah menerima kamu dan aku pastikan sama kamu aku akan terus disamping kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian nanti..." Alan berusaha untuk terus meyakinkan Clara.
"Iya Lan...thanks ya!" Ujar Clara sambil tersenyum.
Walaupun Clara tidak bisa menghilangkan ketegangan didalam dirinya, akan tetapi setidaknya dia terlihat sedikit lebih ceria. Selama didalam perjalanan mereka berdua terus saja bercerita tentang hal apapun juga. Itu adalah kebiasaan keduanya. Hingga keduanya sudah tidak sadar lagi kalau saat ini mereka sudah sampai didepan rumah besar yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah kediaman orangtuan Alan sendiri.
Detakan jantung Clara semakin tidak karuan saja, Clara berusaha untuk menarik nafasnya sebelum memutuskan untuk turun, 'Cla...kamu pasti bisa....' Batin Clara untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Alan sudah kembali untuk menggenggam jemari dari kekasihnya itu, "Ayo Cla...aku yakin semuanya akan baik - baik saja. Kamu percaya sama aku kan?" Ujar Alan sekali lagi.
Sementara Clara hanya mengangguk pelan, Clara hanya mengikuti langkah demi langkah Alan saja hingga kini keduanya sudah berada diruang tamu dari keluarga Alan.
Tangan Clara yang semula baik - baik saja kini sudah terasa sangat dingin begitu juga dengan suhu tubuhnya. Alan terus saja menggenggam jemari Clara sambil sesekali memberikan belaian lembut sambil menatap Clara dengan senyumannya.
Kini Papa dan Mama Alan sudah berjalan untuk menghampiri Alan dan juga Clara, "Om...Tante..." Clara menyalami kedua orangtua Alan secara bergantian.
Kedua orangtua Alan sudah melihat kalau Anaknya terus saja menggenggam jemari dari Clara, Keduanya hanya saling menatap sambil memberitahukan maksud tersiratnya saja.
"Ehemm..."
"Pa, Ma, kami berdua ingin segera melangsungkan pernikahan...kalau bisa bulan ini kami berdua ingin segera menikah! Alan tidak ingin pesta yang meriah Alan hanya menginginkan pesta yang tertutup yang hanya dihadiri oleh orang - orang terdekat saja. Alan berharap Papa dan Mama akan menyetujui dan mendukung keputusan kami ini." Ujar Alan panjang lebar.
Kini tatapan kedua orangtua Alan hanya tertuju kepada perut yang sudah kelihatan semakin membesar milik Clara, "Iya Papa dan Mama setuju...sebaiknya kalian berdua melangsungkan pernikahan lebih cepat lebih baik." Ujar Papanya sambil sesekali menatap wajah sedih dari Sang Istri.
"Terimakasih sudah menyetujui dan mendukung dengan keputusan yang kami ambil..." Ujar Alan dengan sangat antusias.
"Terimakasih Om, Tante...Clara harap Om dan Tante bisa melupakan kesalahan Clara yang secara sengaja ataupun yang tidak Clara sengaja. Terimakasih sudah mau menerima Clara sebagai menantu Om dan Tente." Ujar Clara dengan rasa harunya.
Walaupun sebenarnya Clara sendiri mengetahui tentang alasan dibalik dirinya ditermia masuk kedalam keluarga kaya seperti ini. tapi Clara hanya berpura - pura tidak mengetahuinya saja. Yang paling pentin utnuk saat ini adalah dia dapat diterima masuk kedalam keluarga besar dari calon suaminya itu.
"Seharusnya kami yang minta maaf sama kamu Cla...dulu kami sudah sangat melukai perasaan kamu...semoga kamu bisa untuk memaafkan kesalahan kami dulu. Kami hanya menginginkan yang terbaik untuk Anak kami saja, akan tetapi kami sadar kalau kami terlalu keras dan terlalu memaksa Alan selama ini. Bahkan Alan menjadi seorang Dokter saja karena paskaan dari kami berdua selaku orangtua Alan." Ujar Papanya panjang lebar.
"Alan enjoy kok Pa, Ma, Alan benar - benar menikmati menjadi seorang Dokter...Alan juga sangat bangga menjadi Anak Papa dan Mama, mungkin kalau saja Papa dan Mama tidak mendidik Alan terlalu keras, mungkin sekarang Alan tidak mungkin menjadi seorang Dokter seperti sekarang ini." Ujar Alan sambil menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Itu sudah seharusnya kami lakukan selaku orangtua kamu...kami hanya ingin melihat kamu berhasil saja Lan. Kapan rencananya kalian akan melangsungkan pernikahan? Papa dan Mama akan membantu untuk mempersiapkan pernikahan kalian berdua." Tanya Papanya Alan.
"Hmm...kamu maunya gimana sayang?" Tanya Alan tepat dihadapan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Hmm..aku sih ikut sama kamu saja Lan..." Jawab Clara.
"Oke kalau begitu minggu depan kita menikah!" Sontak membuat semua mata menatapnya tajam.
"Kenapa kalian semua harus sekaget itu sih? Aku bersungguh - sungguh mengatakannya." Ujar Alan dengan tetap terlihat sangat tenang.
"Lan kamu jangan ngaco ya Lan...mana mungkin kita bisa mempersiapkannya selganya hanya dalam waktu minggu depan." Ujar Clara.
"Aku serius sayang...selama beberapa waktu ini aku sudah mempersiapkan segala persiapan perikahan kita berdua...emang aku sengaja tidak memberitahukan kamu soal ini." Bisik Alan.
"Oke baiklah...minggu depan kalian berdua menikah ya..." Ujar Papanya Alan.
"Tapi selama sebelum pernikahan kalian berdua sudah tidak diperbolehkan untuk bertemu terus menerus seperti ini....! Papa ingin kalau kalian berdua menjaga jarak sebelum ijab kabul. Gimana? Kamu tidak boleh terlalu sering bertemu dulu." Ujar Papanya Alan dengan penuh penekanan.
"Iya Om...itu tidak masalah." Ujar Calra.
"Sayang...bagaimana mungkin aku tidak melihat kamu satu hari saja?" Ujar Alan.
"Ini semuanya untuk ita sayang...lagian ini hanya untuk sementara waktu saja. bukan?" Clara berusaha untuk meyakinkan Alan.
Dengan berat hati akhirnya Alan mengangguk juga.
"Nah gitu dong...lagian ini hanya akan berlangsung selama seminggu saja! Kita kan masih bisa berhubungan melalui ponsel." Ujar Clara lagi.
"Hmmm...iya sayang." Ucap Alan dengan suara pelan.
"Lan, boleh Mama bicara berdua saja dengan Clara?" Tanya Mamanya.
Saat ini Alan dan Clara sudah saling memandang satu sama lain. Clara memberikan kode dengan menggeleng - gelengkan kepalanya kepada Alan. Akan tetapi Alan semakin mempererat genggaman tangannya.
"Pa, kalau begitu mari kita tinggalkan Mama dan Clara." Ujar Alan lalu mengajak Papanya untuk pergi dari sana.
Clara tidak ingin melepaskan tangannya Alan, Alan sangat mengerti kekhawatiran yang ada didalam hati Clara saat ini, Clara tentu saja sangat trauma dengan kejadian dulu. Bayang - bayang hal itu masih saja mengganggunya.
"Percaya sama aku...Mama tidak akan macam - macam dengan kamu. Ini kesempatan untuk kamu dan Mama saling mengenal lebih dekat lagi Cla. Ini semua dengan tujuan dan kebahagiaan kita berdua yang sebentar lagi akan menjadi seorang orangtua untuk Anak kita kelak." Bisik Alan untuk meyakinkan Clara.
Kini sudah hanya ada Clara dengan Mamanya Alan. Clara masih diam saja tidak tau ingin melakukan apapun juga. Detak jantungnya terus saja berdetak dengan cepatnya sampai membuat rasa gelisah dan khawatir yang berlebihan terus saja menghantuinya.
"Cla..." Panggil Mamanya Alan.
"Ya Tan..."
"Hmm...sebenarnya jujur Tante sangat menyesal dengan apa yang pernah Tante lakukan kepada kamu dulu. Tante tau kamu masih trauma bila melihat Tante. Tapi Tante melakukannya karena Tante adalah seorang Ibu, Tante hanya menginginkan sesorang yang terbaik untuk Anak Tante. Ya walaupun Tante tau pasti kalau cara Tante dan Om salah. Sejak kamu pergi dari hidup Alan, dia berubah Cla, dia sudah tidak perduli lagi kepada Om dan Tante, sampai suatu ketika Tante jatuh sakit, mungkin kalau bukan karena Tante sakit dia juga tidak akan pulang. Dia sangat kecewa memiliki orangtua seperti kami berdua." Ujar Mamanya Alan sambil menerawang apa yang pernah dia lakukan.
Clara saat ini hanya berusaha mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mamanya Alan, lambat laun Clara mulai mengerti dengan alasan orangtua Alan, mungkin juga suatu saat ketika dirinya sudah mempunyai Anak, Clara juga akan melakukan hal yang sama. Hanya saja Clara tidak ingin mengulangi cara salah dari orangtua Alan.
"Cla...Tante harap kamu bisa menjadi orang Istri yang baik untuk Suami dan Anak kamu kelak ya...kalau memungkinkan mohon maafkan kesalahan yang telah Tante lakukan kepada kamu ya?" Ujar Mamanya Alan lagi.
Serasa terkunci bibir Clara, Clara tidak bisa untuk menjawab apapun juga.
"Cla?"
"Hmm...iya Tan?"
__ADS_1
"Kamu bisakan berjanji untuk membahagiakan Alan? Dia benar - benar Anak yang sangat baik Cla..." Ujar Mamanya Alan yang sudah sejak kapan kini sudah berada tepat disebelahnya Clara.
"I-iya Tan...Clara janji! Clara harap kita bisa melupakan masa lau...Clara sudah lama tidak mengingatnya lagi, yang paling penting untuk Clara saat ini adalah kebahagiaan Alan dan juga Anak kami kelak. Tante juga harus melupakan masalalu ya?" Ujar Clara sambil menyentuh tangan Mamanya Alan.
"Terimakasih Cla..." Ujar Mamanya Alan.
"Iya Tante..." Ujar Clara sambil tersenyum lega.
Kini Clara sudah mulai yakin kalau dirinya sudah diterima oleh kedua orangtua Alan. Rasa bahagianya jauh lebih besar dari rasa kecewanya dulu. Secepat itu Clara bisa memaafkan Mamanya Alan.
"Ehemm..ehem...sepertinya ada yang udah akur nih Pa." Goda Alan yang kini sudah kembali.
"Ih kamu apaan sih...Jadi sedari tadi kamu menguping obrolan aku dan Mama kamu?" Ujar Clara dengan kesal.
"Tidak sayang...itu tadi hanya kebetulan saja...aku senang kamu dan Mama bisa mengobrol seperti ini." Ujar Alan lalu berjalan mendekati Clara kembali.
"Oh iya Cla, kamu makan dulu ya sama dengan Alan...Mama udah siapin makanannya." Ujar Mamanya Alan dengan sangat antusias.
"Tuh Cla...Mama sanpai menyediakan makanan khusus untuk kamu lho! Duh udah gak panggil Tante lagi Ma?" Alan terus saja menggoda kedua wanita kesayangannya itu.
"Alan!" Panggil Clara.
"Iya Cla, Mulai sekarang kamu bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama ya...Lagian sebentar lagi kalian berdua akan segera melangsungkan pernikahan." Ujar Mamanya Alan.
"Iya Tan...Mama..." Dengan cepat Clara langsung meralat ucapannya.
Alan merasa sangat bahagia karena melihat Mama dan Clara kini sudah akur. "Ehem...ehem...!" Alan sengaja berdehem untuk mengganggu Mamanya da juga Clara.
"Lihat itu Anak Mama Cla...dia memang sangat jail banget kan? Sebaiknya kita makan sekarang ya...sepertinya Bibi sudah menyediakan makanan diruang makan." Ujar Mamanya Alan.
"Iya Ma..." Ujar Clara sambil berjalan mengikuti Mamanya Alan.
Clara tentu saja menarik Alan untuk pergi bersama dengannya, dia masih merasa kikuk dan kaku sekali. "Sekarang kamu sudah percaya kan sama aku? Kamu jangan terlalu tegang begitu dong sayang." Bisik Alan seraya menggoda Clara.
"Alan...Clara! Mari sini, kenapa kalian berdua hanya berdiri disana saja." Pinta Mamanya.
"Baik Ma..." Alan dan Clara duduk dikursi makan yang kini sudah berhadapan dengan berbagai jenis makanan yang tentunya sangat enak - enak sekali. Selera makan Clara sejak hamil memang sangat meningkat drastis. Tapi disatu sisi Clara masih merasa malu - malu untuk mengambil makanannya. Dia takut terlihat sangat rakus dihadapan calon mertuanya itu.
Tapi sepertinya Mamanya Alan bisa menebak dengan mudah apa yang sedang menganggu pikiran Clara saat ini, "Cla...makan yang banyak ya! Kamu jangan sungkan ya ntar laper lagi lho! Ibu hamil itu harus makan banyak yang banyak mengandung nutrisi lho...bukankah begitu Alan?" Ujar Mamanya.
"Iya Ma." Jawab Clara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Tuh Cla dengerin kata Mama...kamu sih gak percaya sama aku. Anak kita itu sangat banyak membutuhkan nutrisi yang baik lho...iya kan sayangnya Papa." Ujar Alan sambil mengelus perut Clara.
"Iya iya...habisnya Papanya bawel banget Mama kan jadi males..." Ujar Clara.
Alan tau kalau Clara masih merasa belum terbiasa, Tapi Alan berusaha untuk membuat Clara bisa merasa senyaman mungkin dirumah orangtuanya. Kini mereka berempat sedang menikmati makannya sambil sesekali bercanda gurau. Perlahan - lahan Clara sudah mulai merasa lebih tenang seolah bebannya yang sangat banyak hilang seketika.
'Thanks Alan...kamu adalah pria yang selalu tidak pernah putus asa untuk selalu mendukung, menyemangatiku! Aku tidak tau jadinya kalau aku tidak bertemu dengan pria sebaik kamu mungkin hidupku tidak akan sebaik ini.' Batin Clara.
****
Ayo dong mana suaranya? Semoga kalian tetap setia membaca novel ini ya!
__ADS_1
Semoga Alan dan Clara bisa bahagia selamanya walaupun didepan sana masih banyak lagi segala jenis rintangan untuk keduanya.
Happy reading guys!