SECRET LOVE

SECRET LOVE
Berbicara Sesama Lelaki


__ADS_3

Bian berjalan menghampiri Kiana yang sedang duduk menghadap meja rias tengah mengeringkan rambutnya. Dengan pergerakan yang pelan, ia sudah berada di belakang gadis itu mengambil alih pengering rambut kemudian membantu istrinya.


"Mas..." Kiana cukup terkejut saat mendapati Bian yang sudah tiba-tiba berada didekatnya. Apalagi posisi suaminya itu yang sedang berdiri dibelakangnya hanya dengan mengunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Tampak dengan jelas pantulan bagian tubuh atas Bian yang terbuka pada cermin membuat wajah Kiana kembali memanas.


"Aku cuma mau bantu kamu aja," ucapnya santai. Kedua tangannya dengan lihai bergerak seperti seorang pegawai salon yang sedang melayani pelanggannya.


"Istriku pasti capek walau cuma sekedar mengeringkan rambut karena--"


"Mas..." Kiana sengaja memotong kalimat Bian yang sukses membuatnya tersipu malu seakan mengingatkannya pada aktifitas yang baru saja mereka lakukan di kamar mandi.


"Apa sayang?" kekeh Bian saat melihat wajah istrinya yang tersipu malu.


"Biar aku aja, Mas pakai baju sana." titahnya menunjuk pada satu set pakaian yang tersampir di atas ranjang yang sudah ia siapkan.


"Makasih sayang..." ujarnya kemudian memeluk Kiana dan mengecup sepintas pipi dan juga bibirnya sebelum pada akhirnya melenggang pergi berniat untuk segera memakai pakaiannya.


Bian kembali tersenyum jahil saat dengan sengaja melepas handuknya begitu saja sehingga memperlihatkan bagian pusat tubuhnya. Tidak mungkin jika Kiana tak melihat pada apa yang sedang ia lakukan pada pantulan cermin di depannya. Ia sendiri pun dapat melihat dengan jelas seluruh tubuhnya yang polos itu pada cermin.


"Aku lagi pakai baju lho," ujarnya seraya memakai pakaian dalamnya.


"Iya, yang bilang Mas lagi masak siapa?" balas Kiana yang sengaja memalingkan wajahnya.


"Bisa bercanda ya sekarang," kekehnya lagi. "Kamu nggak mau lihat gitu suami kamu lagi pakai baju?" goda Bian yang sengaja memperlambat apa yang sedang dilakukannya.


"Kayak yang nggak ada kerjaan aja liatin orang pakai baju." sergah Kiana yang beranjak hendak mengambil bajunya yang masih berada di dalam lemari.


Dengan hanya menggunakan satu tangannya, Bian dengan mudah menarik Kiana ke dalam pelukannya sehingga gadis itu memekik karena terkejut.


"Mas! Kamu ngapain!"


"Peluk, aku masih kangen sayang..." ucapnya memeluk erat Kiana hanya dengan memakai pakaian dalamnya saja. Tubuhnya menempeli Kiana. Bergerak kesana-kemari seolah apa yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu itu tak pernah ada cukupnya.


"Nanti terlambat," cicit Kiana mengingatkan. Ia pun mulai merasa merinding karena sentuhan suaminya yang menempelinya.


"Sebentar aja, cuma peluk."


"Al keburu bangun, kita belum siap-siap. Nanti acara makan malamnya bisa terlambat." Kiana mencoba melepaskan dirinya dari Bian. Ia tidak dapat membayangkan jika harus meladeni suaminya lagi. Saat ini saja seluruh tubuhnya serasa remuk redam akibat ulah suaminya.


Bian mendengus dengan kasar. Dengan terpaksa ia menuruti perkataan istrinya. Jika saja malam ini tidak ada acara itu, mungkin saja saat ini ia akan kembali menggauli istrinya itu untuk kedua kalinya.


Setelah beberapa saat menyiapkan diri masing-masing, mereka keluar menuruni tangga dengan membawa Al yang berada dalam pelukan ayahnya. Hanya sekedar berbincang dan tak lupa menitipkan bayi mereka pada kedua orang tuanya. Kini keduanya pun sudah berada di sebuah resto mewah dibilangan ibu kota untuk menghadiri jamuan makan malam tertutup tersebut.


Kiana memegang erat tangan Bian saat mereka memasuki pintu resto tersebut dengan perasaan yang berdebar kencang. Baru pertama kali ini ia menginjakkan kaki di sebuah tempat makan mewah, yang dia yakini di dalamnya pasti banyak sekali para pengunjung yang berasal dari kalangan atas. Bukan seperti dirinya yang hanya seorang gadis kampung yang bisa dinilai udik dan juga norak.


Bian menoleh pada Kiana saat merasai tangannya digenggam begitu erat. Tak dapat dipungkiri saat melihat penampilan istrinya malam ini ia semakin terpesona dengan kecantikannya.


Malam ini, Kiana memakai sebuah simple cap dress berwarna hitam dengan detail warna putih berenda yang menutupi bahu hingga dadanya dengan sepasang tali membentuk pita, serta sepasang flat shoes berwarna putih yang membungkus kakinya. Ditambah sebuah Sling bag kecil yang tersampir di bahu lengan kirinya.


Sangat manis dan terlihat begitu cantik. Penampilan istrinya itu menggambarkan usia Kiana yang terbilang masih sangat muda.


Mungkin banyak orang tidak akan menyangka jika gadis yang tengah Bian gandeng tersebut adalah istrinya, seorang ibu beranak satu. Penampilan Kiana seperti seorang gadis belia yang tengah diajak kencan oleh kekasihnya.


Malah sebelum mereka pergi meninggalkan rumah, sempat-sempatnya Bian terus menggoda Kiana.


"Cantik," ungkapnya yang tanpa henti menatap penampilan Kiana dari ujung rambut sampai kakinya.


"Hah?"


"Kamu cantik, ibunya Al tambah cantik. Mas Bian semakin cinta sama Dek Kiana."


"Apaan sih Mas..." Kiana memalingkan wajahnya. Bian hanya terkekeh gemas melihat penampilan istrinya yang bak seorang gadis belia manis yang sedang diajak kencan oleh pacarnya.


Bian sendiri malam itu memakai sebuah kaos berwarna putih berbalut blazer hitam, dipadu dengan celana jeans berwarna hitam dan sepatu sneakers berwarna putih yang menambah kesan casual seorang bapak beranak satu tersebut.

__ADS_1


Mereka berjalan saling bergandengan tangan dengan Bian yang selalu menenangkan kegugupan Kiana, meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Ada Mas, kamu jangan khawatir." ucapnya berulang kali yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kiana. Saat ini ia begitu sangat gugup ketika akan bertemu dengan rekan bisnis suaminya untuk acara makan malam.


"Wah-wah... siapa ini yang baru saja datang?"


seru seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Pak Bian, akhirnya yang ditunggu datang juga. Saya pikir Pak Bian berhalangan untuk hadir. Ayo duduk-duduk," ucapnya dengan ramah setelah sebelumnya saling berjabat tangan.


"Tentu jelas saya tidak akan melewatkan ajakan makan malam bersama Pak Rahman yang super sibuk ini. Lama tidak bertemu saya lihat Pak Rahman dan istri semakin awet muda saja. Semakin serasi..." sahut Bian meladeni.


"Bisa saja," ucap pria itu terkekeh.


"Apa kabar Pak, lama tidak bertemu." ucap Bian pada pria paruh baya yang sejak tadi terus mengulas senyum di samping seorang wanita paruh baya yakni istrinya yang juga tengah tersenyum ramah.


"Baik-baik, sangat baik sekali. Bagaimana keadaan Pak Bian, terlihat semakin tampan dan muda. Lalu ini..."


"Oh iya, perkenalkan ini istri saya Kiana." jawab Bian lugas memperkenalkan istrinya. "Saya baik, semuanya sangat baik, sehingga saya tidak dapat menyangka bisa merasakan kebahagian yang sangat luar biasa ini." ucapnya seraya menatap Kiana dengan seulas senyuman manis.


"Istri? Wah... Pak Bian hebat sekali. Lama tidak bertemu sekalinya bertemu langsung memperkenalkan pendamping hidupnya." kekeh pria itu sembari bertepuk tangan dan sekali lagi menjabat tangan Bian.


"Selamat-selamat. Saya kurang mendengar berita pernikahan Pak Bian, atau mungkin saya dan keluarga yang tidak menerima undangan?" candanya dengan gelak tawa khas pria itu.


"Wah... anda kurang beruntung kalau begitu, atau saya yang mulai pikun," balasnya sambil tertawa kecil.


"Maaf Pak, kami tidak sempat mengundang pada acara pernikahan kami yang digelar sederhana dan tertutup, saat itu pernikahan kami hanya dihadiri oleh keluarga besar saja. Jika berkenan, kami sangat berharap kedatangan Bapak dan keluarga untuk hadir dalam acara resepsi pernikahan kami nanti." terang Bian menutupi boroknya.


"Terima kasih sebelumnya Pak Bian. Semoga acaranya lancar tanpa ada hambatan. Hebat sekali Pak Bian ini, memiliki seorang istri yang cantik dan terlihat masih muda, iya kan Ma?" tanyanya pada sang istri yang berada di sampingnya.


"Betul Pah, istrinya Pak Bian sangat cantik sekali. Saya kira tadi Pak Bian membawa kekasihnya, eh ternyata istrinya. Sangat serasi sekali kalian," cicit istri Pak Rahman tersebut.


Bian tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda mengucapkan terima kasih atas doa yang diberikan oleh pria itu. Kemudian manik matanya beradu pandang dengan seorang pria yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam.


"Baik, bagiamana kabar Pak Bian? Semoga hari-hari anda selalu baik-baik saja." balas Aaric dengan penekan penuh arti. Sekilas manik matanya menoleh pada Kiana lalu mengulas senyum untuk menyapa seorang wanita yang sejak kedatangannya itu sukses menyita perhatiannya.


Sejak pertama melihatnya, Aaric secara diam-diam memperhatikan Kiana. Entah mengapa dadanya sedari tadi berdegup dengan kencang saat ia menyadari sesuatu di depan matanya. Terlebih saat Bian mengucapkan nama Kiana saat memperkenalkan istrinya itu. Jantung Aaric serasa ditempa oleh sebuah godam besar. Menyadarkan akan suatu hal yang membuat dirinya tak menyangka dan menciptakan akan harapannya yang melambung tinggi. Tapi ia tak boleh gegabah, ia mencoba untuk menepis semua perasaan tersebut sebelum ia bisa memastikannya. Ya, dia harus memastikannya terlebih dahulu jika tidak mau terlibat masalah karena sudah salah menerka orang.


"Perkenalkan, istri saya yang paling cantik, Kiana namanya." ujarnya jumawa pada pria itu.


"Aaric," ucap pria itu memperkenalkan diri.


"Kiana," balasnya yang terlihat canggung dengan suasana baru baginya. Sepanjang duduk membersamai suaminya, pandangan Kiana terus tertuju pada gelas bening yang berisi cairan putih miliknya. Ia benar-benar merasa gugup sekali.


Suasana malam semakin hangat setelah acara utama yaitu makan malam selesai, dengan terlihatnya perbincangan antara para pria yang membahas tentang proyek yang baru saja mereka tangani dengan sukses sehingga memicu pembicaraan yang lebih serius lagi untuk kedepannya.


Terlebih saat makan malam berlangsung, Bian tanpa hentinya terus menanyai gadis itu. Masalah tentang suka atau tidak, enak atau tidak, bisa atau tidak, pada hidangan yang mungkin terasa baru bagi istrinya itu. Bukan meremehkan, tetapi Bian ingin mempermudah kesulitan yang dirasakan oleh Kiana. Semua Bian tanyakan agar dapat membuat perasaan nyaman bagi istrinya.


Sedangkan Kiana, gadis itu terlihat cukup bisa membawa diri dengan meladeni pertanyaan demi pertanyaan dari istri Pak Rahman. Bukan kebetulan semata ternyata wanita paruh baya yang ada dihadapannya itu sangatlah ramah. Kiana merasa tak tertekan dan kini terlihat lebih tenang saat berada di sana sepanjang acara berlangsung.


"Saya lihat Mbak Kiana ini sangat masih muda sekali. Anak ketiga saya laki-laki yang mungkin seumuran dengan Mbak Kiana. Dia masih sekolah, masih lama buat lulus. Usianya baru 20 tahun, Mbak sendiri?" tutur wanita itu.


"Kebetulan tahun ini saya menginjak 21, Bu."


"Wah... benar dugaan saya. Mbak Kiana itu masih sangat muda untuk ukuran seorang wanita yang sudah menikah."


Kiana pun tersenyum menanggapi celotehan wanita itu.


"Menjadi seorang istri dari pria yang berprofesi sebagai pengusaha besar tentu membuat Mbak Kiana sibuk tentunya,"


"Saya hanya seorang ibu rumah tangga, setiap hari hanya mengurus suami dan anak."


"Sudah punya anak?" tanya wanita itu setengah terkejut.

__ADS_1


"Sudah, anak kami baru berusia 4 bulan."


"Wah... saya tidak menyangka Mbak Kiana ini sudah mempunyai anak. Padahal jika dilihat, Mbak Kiana ini masih muda sekali dan terlihat seperti seorang gadis yang belum menikah apalagi punya anak." pujinya kagum pada sosok Kiana.


Kiana lagi-lagi hanya mampu tersenyum menanggapi celotehan demi celotehan wanita itu.


Tak sadar, pembicaraan kedua wanita tersebut ternyata dicuri dengar oleh seorang pria yang berada di depannya. Pria tersebut sesekali melirik dengan ekor matanya memperhatikan Kiana yang membuatnya semakin berpikir keras tentang gadis itu. Siapa lagi jika itu adalah Aaric.


Malam bergulir semakin larut. Suasana yang hangat kini berubah menjadi kecanggungan. Kedua pria dan wanita paruh baya yang duduk bersama mereka telah mendahului pergi. Kini tersisa Bian, Kiana, Aaric serta Rayn sekretaris pria itu.


"Bisa kita berbicara? Ada hal yang ingin saya bahas dengan anda." ucap Aaric menatap Bian yang tengah berbicara sesuatu pada Kiana. Tentu saja Pria itu menjengit saat mendengar kalimat tersebut.


"Tentu, apa yang ingin Pak Aaric bicarakan?" balas Bian yang kini memusatkan perhatiannya pada Aaric.


"Bisa ikut dengan saya sebentar?"


Bian nampak berpikir, ia menoleh pada Kiana yang hanya tersenyum saat Bian seolah sedang meminta persetujuan untuk mengikuti permintaan Aaric.


"Mas janji hanya sebentar," ucapnya seraya mengusap punggung tangan Kiana.


"Iya,"


Bian mengikuti langkah Aaric yang ada di depannya. Ia sedikit bingung sekaligus penasaran pada apa yang akan dibicarakan oleh pria itu padanya sehingga harus meninggalkan meja tempat dimana ia meninggalkan istrinya.


Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh pria itu kepadanya. Pikirannya kini justru tertuju pada apa yang terjadi di masa lalu diantara mereka. Mungkinkah Aaric saat ini ingin membahas masalah yang tak kunjung usai yang telah lama berlarut tersebut?


Kini mereka berada di sebuah meja bar dengan bentuk minimalis yang ada di sudut resto tersebut. Mereka duduk saling berdampingan. Belum ada suara yang memulai pembicaraan diantara keduanya selain suara seorang bartender yang bertanya ingin memesan minuman apa.


"Summer cup mocktail satu," cicit Aaric memesan minuman pada seorang bartender. "Lo, pesen apa?" tanyanya beralih pada Bian.


Bian nampak berpikir sebentar. Mendengar kata minuman, ia malah teringat pada malam naas yang terjadi pada dirinya yang menyebabkan Kiana maupun dirinya hidup dalam penderitaan. Bian menatap Aaric, yang mana pria itu pun tengah menatapnya dengan tatapan sinis.


"Gue sama," jawab Bian. Kemudian ia memperhatikan seorang bartender yang dengan lihai sedang meracik minuman yang mereka pesan.


Sekilas ia menoleh ke arah Kiana yang ada di belakang sana bersama seorang pria yang dia ketahui merupakan sekretaris Aaric. Mereka tampak tengah larut dalam sebuah obrolan, terlihat dari gerak tubuh Kiana yang sesekali menimpali pria tersebut. Bian mengangkat alisnya sebelah, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Tak ayal hal tersebut membuat Bian kesal karena tak suka.


Bian kembali beralih pada seorang bartender yang tengah menyajikan dua gelas minuman yang terlihat begitu menyegarkan dihadapan mereka berdua.


"Jadi, apa yang pengen Lo omongin sama gue?" tanyanya langsung to the point pada Aaric yang baru saja menyesap minumannya.


Aaric tertawa sinis, lama tidak melihat wajah pria yang ada di hadapannya kini terlihat kesal karena ulahnya.


"Sepertinya ada yang sudah tidak tahan meninggalkan istrinya di sana," ucapnya menunjuk dengan dagunya kemudian kembali menyesap minumannya.


Bian menghela napasnya dalam-dalam. Menatap lamat-lamat Aaric yang sengaja menunda apa yang ingin dikatakannya. Geram sudah pasti. Lelah rasanya setiap bertemu selalu mendapat kalimat sindiran dengan nada sinis dari pria itu, teman lamanya yang kini menjauh karena suatu hal yang terjadi akibat kesalahpahaman diantara mereka.


Saat ini Bian begitu gelisah. Meninggalkan istrinya seorang diri di seberang sana dengan seorang pria membuatnya tak tenang. Hampir setiap detik dia menoleh pada istrinya yang masih asik berbincang, hal itu pasti terlihat jelas oleh Aaric pikirnya.


Bagiamana jika orang-orang menganggap pria yang sedang bersama Kiana itu adalah kekasihnya?


Bian tidak terima. Seharusnya orang-orang itu tahunya dia lah suaminya Kiana. Bukan laki-laki manapun. Ah... Semakin gelisah saja Bian dibuatnya.


"Gue pengen kita berbicara sebagai sesama laki-laki," ucap Aaric datar.


"Maksudnya? Lo mau kita bahas masalah kita sekarang? Ar, gue--"


"No no..." Aaric menggelengkan kepalanya, jari telunjuk tengahnya ikut mengibas-ngibas didepan wajah Bian. "Gue nggak butuh penjelasan Lo! Gua anggap itu masa lalu, dan gue nggak mau bahas itu lagi. Basi!"


"Terus Lo pengen ngomong apa sama Gua, Aaric..." Bian mulai jengah dengan kalimat Aaric yang terus berputar-putar.


Aaric terkekeh pelan. Ia sangat puas bisa membuat Bian yang mungkin kesal dengan sikapnya yang menyebalkan itu.


"Gue pengen tahu lebih tentang istri Lo," ujar Aaric dengan kata-kata penuh dengan penekanan, seketika memecah keheningan yang beberapa saat diantara mereka yang mana hal tersebut membuat Bian terperanjak atas kalimat pria itu.

__ADS_1


__ADS_2