SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 169


__ADS_3

Tidak seperti biasanya hari ini Mikha berpenampilan secantik mungkin dengan jelana jins pendek dan kaos putih yang hampir menutupi celananya itu, tidak lupa Mikha menggunakan tas selempang kecilnya. Mikha memakai make up tipis agar terlihat tidak terlalu mencolok dan berlebihan. Mikha juga menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Alvin dengan warna yang senada dengan yang dikenakan olehnya.


Mikha sudah membayangkan betapa bahagianya dirinya nanti karena  ini merupakan kencan pertamanya dengan Suaminya. Bahkan Mikha tidak pernah kencan dengan pria lain sebelum menikah. Mikha senyum - senyum sendiri, dia terus saja membayangkan apa yang akan dilakukannya seharian bersama dengan Alvin.


"CEKLEK!"


Alvin keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih berantakan karena basah, dia berjalan mendekati Istrinya yang dilihat oleh Alvin sedang senyum - senyum sendiri.


"Apa yang kamu bayangkan sayang?" Bisik Alvin sambil melingkarkan kedua tangannya diperut Mikha sontak membuat Mikha kaget.


"Alvin! Kamu tuh ya kebiasaan deh ngagetin aku tau gak." Ujar Mikha dengan galaknya.


"Sengaja...pasti kamu sedang membayangkan sesuatu yang nakal ya? Ajak - ajak aku dong sayang." Goda Alvin lagi.


"Ih Alvin apaan sih! Mendingan sana kamu cepat pakaian. Nih udah aku siapin juga pakaian yang akan kamu pakai." Ujar Mikha sambil melepaskan pelukan dari Suaminya itu lalu memberikan pakaian Alvin.


"Kok warnanya samaan dengan kamu? Hmm...aku tau kamu pasti sengaja kan sayang?" Tebak Alvin dengan jailnya.


"Gak tau ah....udah sanaaaaa!" Ujar Mikha sambil mendorong tubuh Suaminya untuk segera memakai pakaiannya.


"Kamu gak ada niat untuk pakaikan baju aku?" Goda Alvin lagi.


"Gak ada! Udah ya aku tunggu kamu dibawah....jangan kelamaan ya!" Setelah berkata seperti itu Mikha segera turun kebawah.


Sepeninggalan Mikha, Alvin hanya senyum - senyum sendiri saja sambil mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Istrinya itu. Tidak butuh waktu lama Alvin sudah siap, tidak lupa Alvin merapikan rambutnya lalu menggunakan parfumnya agar dapat menunjang penampilannya supaya terlihat sempurna dihadapan Sang Istri.


Setelah selesai, Alvin langsung turun kebawah, lagi lagi Alvin dengan jailnya mengagetkan Mikha, "Lagi Mikirin apa sih sayangnya aku?" Ujar Alvin.


"Alvin!" Teriak Mikha sambil memukul - mukul lengan Suaminya.


"Awwww....sakit sayang! Ini bisa dikategorikan dengan kekerasan dalam rumah tangga lho!" Balas Alvin sambil memegangi lengannya dan sesekali meringis kesakitan.


"Biarin aja! Habisnya kamu jail banget deh...." Balas Mikha dengan juteknya.


"Jail - jail begini tapi kamu sayang kan?" Goda Alvin lagi.


"Udah berhenti deh Vin...aku gak suka digituin." Ujar Mikha dengan wajah kesal.


"Hmmm...digituin gimana nih maksudnya? Aku kan gak ada melakukan apa - apa sama kamu?" Ujar Alvin tanpa perasaan bersalah sama sekali.


Mikha hanya menatap tajam kearah Suaminya itu, "Aku gak suka dikejutin begitu...." Balas Mikha.


"Nah gitu dong bicara yang jelas biar aku ngerti juga kan? Sorry deh....dimaaafin gak ya?" Ujar Alvin sambil membelai rambut Mikha lalu mengacak - acaknya.


"Alvin! Ih....jangan diberantakin lagi dong..."


"Nah gitu dong kembali lagi dengan Mikha yang aku kenal! Ayo berangkat sekarang sayang!" Ujar Alvin sambil memeluk pinggang Mikha lalu berjalan bersama - sama.


Selama didalam perjalanan keduanya saling bercanda satu sama lain sambil mendengarkan lagu You Are The Reason dari Calum Scott.


There goes my heart beating


Cause you are the reason


I’m losing my sleep


Please come back now


"Eh kamu suka juga lagunya sayang?" Ujar Alvin kepada Mikha karena secara bersamaan keduanya bernyanyi tanpa direncanakan.


Mikha mengangguk mantap, "Iya Vin...kamu juga?" Tanya Mikha sambil menatap Alvin dengan tatapan tidak percayanya.


"Iya Mik...sejak aku sudah mulai jatuh cinta sama kamu entah kenapa aku jadi suka mendengarkan lagu ini." Jawab Alvin dengan jujur sambil mengelus pipi Mikha.


"Masaaa sih? Ih kok kamu sweet banget sih Vin..." Ujar Mikha sambil memegangi dagu Suaminya yang kini sudah ditumbuhi oleh bulu - bulu halus.


"Aku belum cukuran nih sayang....oh iya kamu suka gak kalau aku memiliki kumis dan jenggot?" Tanya Alvin.


"Sukaa suka aja sih Vin....kamu tetap tampan kok mau bagaimanapun juga." Puji Mikha.


"Apa yang kamu bilang barusan? Coba ulangi sekali lagi? aku mau dengar." Ujar Alvin yang sangat senang mendapatkan pujian dari Istrinya itu.


"Gak ada siaran ulangan! Ntar reff lagunya kita nyanyi bareng - bareng ya Vin." Pinta Mikha.


"Ya kamu kok gitu sih? Sesekali menyenangkan hati Suami itu berpahala lho sayang! Puji dulu deh....aku mau dengar sekali lagi." Alvin sedikit memaksa Mikha untuk memuji dirinya.


'Dasar ya kamu Vin...baru juga dipuji begitu saja sudah senangnya seperti ini.' Batin Mikha sambil mengeleng dan berusaha untuk menahan tawanya.


"Ehemm....oke baiklah! Kamu mau gimanapun juga tetap tampan kok sayang dimata aku." Mikha kembali memuji Suaminya itu sambil memainkan tangannya didagu Alvin.


Alvin tersenyum puas mendengarkan pujian dari istrinya itu, "Nah gitu dong! Terimakasih Istriku." Balas Alvin.


"Udah mau reff ini Vin..."


I’d climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I’ve broken


Oh, cause I need you to see


That you are the reason


There goes my hands shaking


Cause you are the reason


My heart keeps bleeding


And I need you now


If I could turn back the clock


I’d make sure the light defeated the dark


I’d spend every hour, of every day


Keeping you safe


I’d climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you

__ADS_1


And fix what I’ve broken


Oh, cause I need you to see


That you are the reason


You are the reason


Yeah, yeah…


I’d climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I’ve broken


Oh, cause I need you to see


That you are the reason


Keduanya terus saja bernyanyi bersama sambil sesekali menatap penuh dengan tatapan cinta, tangan kiri Alvin terus saja menggenggam jemari Mikha, keduanya benar - benar merasa terhanyut dengan dunia mereka sendiri.


Sesampainya di Mall, keduanya terus saja saling berpengangan tangan tanpa menghiraukan tatapan - tatapan iri yang terus saja menatap keduanya.


"Kamu ingin melakukan apa dulu sayang?" Tanya Alvin.


"Hmmm...apa ya?" Ujar Mikha sambil berpikir sebentar.


"Kita beli tiket nonton dulu deh sayang baru setelah itu kita cari makan gimana?" Ujar Mikha akhirnya dengan antusias.


"Baik Tuan Putri... hari ini semuanya terserah kamu deh." Ujar Alvin sambil membentuk tangannya untuk menyetujui permintaan dari Istrinya.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk membeli tiket nonton, Mikha menyukai film - film horror sedangkan Alvin lebih menyukai film action tapi demi menyenangkan hati Istrinya akhirnya Alvin memutuskan untuk mengalah saja dan mengikuti keinginan Sang Istri.


"Terimakasih Mbak..." Ujar Mikha lalu menerima tiketnya.


Mikha meletakkan tiket nontonnya didalam tasnya lalu sambil berpegangan tangan keduanya keluar untuk mencari tempat makan.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Alvin.


"Apa ya Vin? Apa aja deh..." Ujar Mikha yang mulai merasa bingung karena banyaknya tempat makanan yang tersedia disana.


"Kamu sukanya apa? Makanan indo, korea, jepang atau apa biar kita bisa pilih tempatnya? Aku kan belum tau selera kamu." Tanya Alvin lagi dengan sabar.


"Karena lidah aku sukanya makanan yang pedas - pedas, lebih baik kita ke restoran indo aja deh Vin....lagian aku tidak terlalu suka dengan makanan dari luar." Jawab Mikha dengan jujur.


"Oke baiklah..." Ujar Alvin yang sudah tau akan membawa Istrinya itu kemana.


Kini keduanya sudah duduk dikursi yang berada direstoran itu, "Sayang aku kekamar mandi sebentar ya? Kamu pesankan aku makanan dulu ya, samain aja sama kamu." Ujar Mikha yang sudah tidak bisa bertahan lagi.


Setelah mendapatkan anggukan dari Alvin, Mikha langsung berjalan dengan cepat, "Mbak...kamar mandinya berada dimana ya?" Tannya Mikha.


"Kakak tinggal lurus saja kedepan, lalu diujung sana belok kanan ya." Ujar pelayan restoran itu mengarahkan Mikha.


"Baik...terimakasih." Mikha melangkah dengan cepat menuju kamar mandi.


Setelah selesai, Mikha keluar lalu dari kejauhan dia melihat ada beberapa wanita sedang berdiri dan berbicara dengan Suaminya. Kini Mikha sudah mengepalkan kedua tangannya.


Entah mengapa tiba - tiba saja Mikha memikirkan sebuah ide yang sangat berlian, dia berjalan mendekati Suaminya itu dengan senyuman ramahnya smapai membuat Alvin ngeri sendiri menatapnya.


"Sayang....maaf ya aku lama. Mereka semua siapa sayang?" Mikha sengaja menekankan kata - katanya.


Wanita - wanita itu malah sibuk berbisik - bisik, "Sorry Kak...kirain Kakak tampan ini belum memiliki pasangan."


"Tidak apa  - apa kok santai saja, kenalkan ini Suami saya..." Ujar Mikha lagi sambil tersenyum ramah.


Wanita - wanita itu saling memandang satu sama lain, "Ternyata Kakak ini udah menikah...duh kita harus pergi." Bisik - bisik yang sangat terdengar jelas oleh Mikha dan Alvin.


"Kalau begitu maaf ya Kak....kami permisi ya Kak." Ujar beberapa wanita itu lalu langsung pergi dengan cepat.


Setelah mereka semua pergi, Alvin malah bertepuk tangan untuk Istrinya itu," Wah...wah! Kamu memang luar biasa sayang! Saingan kamu saja dengan mudahnya kabur begitu saja....sepertinya aku memang tidak salah memilih Istri seperti kamu." Puji Alvin.


"Sepertinya kamu sangat senang sekali ya sayang dikerumuni sama mereka tadi? Huh! Dasar plyaboy...melihat wanita bening sedikit saja sudah tertarik." Sindir Mikha yang merasa cemburu.


"Hmmm...ehem...sepertinya ada yang panas nih? Mau aku angetin gak sayang?" Goda Alvin.


"Bisa - bisanya ya kamu Vin masih kepikiran untuk menggoda aku...aku benaran lagi kesal sama kamu nih!" Ujar Mikha yang tidak habis pikir dengan kelakuan Suaminya itu.


"Sorry deh...aku senang melihat kamu cemburu seperti ini sayang." Ujar Alvin sambil mencium pucuk tangan Mikha lalu setelahnya membelai tangan Istrinya sambil menatap Mikha tanpa henti membuat Mikha merasa salah tingkah sendiri.


"Hmmm...biasa aja dong sayang lihatinnya..." Ujar Mikha sambil menarik tangannya.


"Permisi..." Pelayan direstoran itu mulai meletakkan pesanan Alvin dan Mikha diatas meja keduanya.


Mikha masih tidak habis pikir kalau Alvin akan memesan menu makanan sebanyak ini, "Kamu gak salah nih Vin? Kita hanya berdua doang lho?"


"Habisnya aku tidak tau apa yang sedang ingin kamu makan....ya aku pesan aja semuanya." Balas Alvin dengan cueknya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Dasar orang kaya! Gimana coba cara kita untuk menghabiskan makanan sebegini banyaknya?" Ujar Mikha dengan kesalnya.


"Udah ayo makan sayang...jangan dilihatin terus makanannya." Ujar Alvin tanpa ingin menghiraukan ucapan Istrinya barusan.


Keduanya mulai melahap makanannya itu sampai keduanya benar - benar merasa sangat kekenyangan, "Sumpah ya Vin kamu nyiksa aku banget nih!" Mikha kini sudah memegangi perutnya yang terasa sangat penuh.


 Alvin malah tersenyum geli sendiri melihat Mikha yang kini sudah sangat kekenyangan. "Salah kamu sendiri dong kenapa ninggalin aku sendirian tadi?" Balas Alvin sambil cengengesan.


Mikha hanya menatap Alvin dengan tatapan tajamnya saja, 'Dasar menyebalkan! Pasti Alvin sengaja banget nih melakukan hal ini.' Gerutu Mikha didalam hatinya.


Kemudian Alvin memanggil pelayan direstoran itu, "Mbak!"


Pelayan itu dengan siaga berjalan kearah Alvin, "Ya Pak...ada yang bisa saya bantu?"


"Saya minta bill nya ya." Ujar Alvin.


"Vin...aku masih kenyang banget nih..." Rengek Mikha.


"Sayang filmnya sudah mau mulai..." Ujar Alvin sambil menatap jam tangannya.


Akhirnya Mikha hanya bisa pasrah saja menerimanya. Setelah membayar makanan mereka, Alvin dan Mikha berjalan keluar dari restoran itu, langkah Mikha masih terasa sangat berat sekali, Mikha berjalan masih memegangi perutnya saja sambil menyenderkan kepalanya dibahu suaminya.


"Sumpah Vin...aku masih belum bisa untuk berjalan...perut aku rasanya sudah mau pecah..." Rnegek Mikha lagi.


"Mau aku gendong? Tapi siap - siap kita berdua akan menjadi pusat perhatian lagi." Ujar Alvin.


"Tidak usah! Terimakasih atas tawarannya." Balas Mikha.

__ADS_1


Alvin hanya tertawa lepas saja karena berhasil menggoda Istrinya lagi dan lagi.


Selama didalam bioskop, Mikha lagi - lagi merasa sangat tidak suka melihat sekelilingnya yang dipenuhnya dengan semua wanita - wanita muda nan cantik, dia bingung harus duduk disebelah kanan atau kiri. Wanita - wanita itu terus saja terpesona dengan ketampanan Suaminya, lagi - lagi Mikha harus membuktikan dirinya adalah pasangan dari pria tampan yang menyebalkan ini.


"Sayang...aku disini ya." Ujar Mikha dengan manja.


Sontak membuat tatapan tajam nan iri kepadanya, "Ya tampan - tampan sudah ada yang punya! Tapi gapapa kalau belum menikah mah masih bebas...kapan saja bisa putus."


Mikha terus menerus mendengarkan ucapan - ucapan yang menyebalkan itu, Mikha berusaha untuk menahan dirinya.


"Kamu mau ini sayang?" Tanya Alvin sambil memberikan minuman.


Mikha mengangguk, "Iya sayang...apa saja yang kamu berikan aku mau." Jawab Mikha.


"Kamu baik - baik saja kan Mik?" Ujar Alvin yang kini berbisik kepadanya.


"Emangnya kenapa? Aku baik - baik aja kok suamiku...kamu takut aku sakit ya? Perhatiannya Suamiku ini." Ujar Mikha dengan Suara yang sengaja dibuat sedikit keras dan penuh penekanan.


Wanita - wanita muda itu yang berada di kanan dan kirinya langsung berkasak kusuk kembali, Kini Mikha sudah tersenyum dengan puas. Selama menonton film. Mikha terus saja menyenderkan kepalanya dibahu Alvin.


Mikha akhirnya dapat menikmati film yang ingin ditontonnya itu dengan tenang.


Setelah selesai menonton film keduanya melanjutkan kencan lagi, kali ini Mikha ingin memiliki foto box berdua bersama dengan Alvin seperti pasangan kebanyakan, Mikha juga mengajak Alvin bermain di time zone sampai dirinya benar - benar puas. Alvin sebagai Suami hanya ingin menyenangkan hati Istrinya saja, Alvin sangat bahagia bisa melihat senyuman Mikha sudah kembali lagi diwajahnya.


Tanpa terasa akhirnya hari ini berlalu juga dengan sangat cepat, selama didalam perjalanan Mikha terus saja bersikap manja kepada Alvin.


"Thanks ya Vin karena udah mau mengabulkan semua keinginan aku hari ini...aku benar - benar merasa sangat bahagia!" Ujar Mikha dengan jujur.


"Iya sayang....apapun yang akan membuat kamu tersenyum aku akan melakukannya." Balas Alvin sambil mengecup tangan Mikha.


"Jujur ini adalah hari yang paling membahagiakan didalam hidup aku! Kencan yang sempurna dengan Suami yang sangat tampan." Ujar Mikha sambil mencubit hidung mancung Alvin dengan gemas.


"Oh iya? Apa sebelum ini kamu belum pernah berkencan dengan seorang pria atau teman pria kamu gitu?" Tanya Alvin dengan sangat penasaran.


Mikha menggeleng pelan, "Belum pernah! Kamu tau kan hidup aku itu terlalu berarti? Mana mungkin aku menyia - nyiakan untuk hal - hal yang seperti tadi. Bahkan dulu juga aku tidak pernah kepikiran sama sekali." Jawab Mikha dengan jujur.


"Berarti aku beruntung dong bisa menjadi pasangan kencan kamu satu - satunya? Duh demi apa? Aku menjadi sangat bangga kepada diriku sendiri sekarang!" Ujar Alvin yang mulai merasa terbang diatas awan ketika mendengarkan ucapan dari Mikha barusan.


"Dasar berlebihan banget sih kamu...." Ujar Mikha sambil mencubit perut Alvin.


"Sayang...sabar, tahan dulu sampai kita sampai dirumah ya! Aku saat ini sedang menyetir." Goda Alvin sontak membuat wajah Mikha memerah.


"Ih apaan sih!" Ujar Mikha sambil menjauhkan dirinya dari Suaminya itu.


Sontak membuat Alvin tertawa lepas.


Akhirnya mereka berdua sampai juga dikediamannya, Alvin memarkirkan mobilnya, lalu begitu Mikha ingin membuka pintu mobil, Alvin langsung dengan langkah yang sangat cepat langsung menarik tubuh Mikha lalu menahannya dipelukkannya.


Sontak membuat Mikha kaget dengan perlakuan mendadak dari Suaminya itu, "Alvin!" Ucap Mikha.


Tanpa menghiraukan ucapan Mikha lagi, Alvin langsung mencium bibir Mikha dengan perlahan, beberapa kali Alvin mengigitnya dengan gemas agar Mikha membuka mulutnya. Akhirnya pertahanan Mikha runtuh juga, dia dengan suka rela membuka mulutnya dan membiarkan Alvin menguasai bibirnya. Tentunya Alvin langsung tersenyum dengan puas melihat Mikha sudah mulai menerima ciumannya itu. Kini Mikha seakan ketagihan dengan ciuman dari Suaminya itu, Mikha pun sudah melingkarkan kedua tangannya diatas tengkuk leher Sang Suami sambil sesekali meremas rambut Alvin dengan gemasnya.


Dunia terasa seperti milik mereka berdua, bahkan keduanya tidak memikirkan hal lainnya lagi selain terus saja bermesraan.


******


"Pa kita harus bicara..." Ucap Mamanya Alan.


Papanya berjalan mendekat, "Ada apa Ma?" Tanya Papanya yang kini sudah duduk disudut ranjang yang berada disebelah Istrinya itu.


"Alan benar - benar sudah tidak bisa dibilangin lagi! Dia benar - benar sudah tidak waras lagi, masak dia bilang sama Mama kalau dia akan menikahi wanita itu!" Jawab Mamanya dengan ketusnya.


"Dia juga berkata demikian kepada Papa..." Ujar Papanya kembali mengingat kembali dengan apa yang dikatakan oleh Alan beberapa hari yang lalu.


"Lalu apa yang Papa katakan sama dia? Mama tidak akan membiarkan dia untuk menikahi wanita itu." Balas Mamanya dengan emosi.


"Sabar Ma...kamu itu masih belum pulih....jangan terlalu memikirkan ucapan Alan." Suaminya berusaha untuk menenangkan Istrinya.


"Gimana Mama bisa sabar Pa! Ini semua menyangkut kelangsungan dan masa depan dari Anak kita lho! Mama tidak bisa tinggal dia begitu saja!" Ujar Mamanya masih merasa emosi.


'Iya Papa tau Ma...tapi kamu tau sendiri kan kalau kamu terus berkeras untuk tidak menerima wanita itu, Alan pasti akan kabur kembali. Dan pada akhirnya dia akan pergi meninggalkan kita berdua lagi. Kamu mau seperti itu?" Balas Papanya.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Alan pergi lagi....tidak akan!" Ujar Mamanya.


"Kalau begitu kamu harus belajar menerima wanita itu menjadi menantu kita..." Ujar Papanya dengan serius.


Mamanya Alan langsung saja membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, "Apa? Bagaimana mungkin? Itu tidak akan mungkin terjadi....kamu tau kan apa pekerjaan wanita itu? Bisa - bisa Mama malu Pa! Mama haran kenapa Papa berkata demikian?" Balas Mamanya dengan penasaran.


"Katakan Pa! Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Desak Mamanya.


"Hmmm...sebenarnya....sebenarnya....wanita itu hamil Anaknya Alan! Makanya Alan bersikeras untuk menikahi dia." Ucapan Suaminya itu benar - benar membuat Mamanya semakin emosi.


"Gak mungkin...gak mungkin itu Anaknya Alan, bisa saja kan Pa itu Anaknya pria lain lalu dia mengakuinya itu sebagai Anaknya Alan? Lagian Mama heran kenapa Papa jadi membela wanita itu?" Balas Mamanya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Suaminya itu.


"Tapi Alan sudah menunjukkan hasil test DNA nya Ma.... Itu benar - benar Anak Alan dan itu berarti dia merupakan cucu kita." Ujar Papanya.


Mamanya masih mengeleng - gelengkan kepalanya saja, "Tidak...tidak mungkin.... Papa pasti bohong! Bisa saja kan hasil test itu palsu? Iya dia pasti sengaja untuk memalsukannya agar bisa kembali lagi bersama dengan Anak kita...iya kan Pa?" Mamanya masih tidak bisa terima kalau Clara sedang mengandung Anaknya Alan.


"Tidak Ma...karena Alan langsung yang melakukan test DNA itu..." Ujar Papanya dengan lirih sambil berusaha untuk meyakinkan Istrinya.


"Tidak...tidak mungkin...Papa pasti bohong..." Mamanya Alan sudah mulai histeris. Papanya Alan berusaha untuk menenangkan Istrinya itu.


"Tenang Ma...tenang! Kamu jangan terlalu memikirkan hal ini ya...." Ujar Papanya Alan sambil memeluk Sang Istri.


"Bagaimana mungkin aku memiliki menantu seperti dia Pa! Bagaimana mungkin?" Ucap Mamanya sambil menangis tersedu - sedu.


"Papa juga sulit untuk menerimanya Ma...tapi dia memang benar sedang mengandung Anaknya Alvin! Cucu kita..." Balas Papanya lagi.


Mamanya malah semakin histeris.


Dibalik pintu kamar Mamanya Alan yang sebenarnya ingin masuk kedalam tanpa sengaja mendengarkan obrolan Papa dan Mamanya. Hatinya sebenarnya sakit mendengarkan semuanya, tapi Alan juga bersyukur Papanya mau menerima Clara dan mengakui Anak yang ada didalam kandungan Clara adalah cucunya.


Dari sudut bibir Alan terbentuk sebuah senyuman, 'Pa, Ma...Maafin Alan, Maaf karena Alan sudah membuat Papa dan Mama sedih dan kecewa. Tapi Alan janji setelah ini semua berlalu Alan akan menggantikannya dengan rasa bahagia dengan keluarga kecil Alan nanti.' Batin Alan pedih karena menyaksikan secara langsung kesedihan orangtuanya.


Kemudian diam - diam Alan mulai berjalan pergi dari sana lalu berjalan kembali lagi menuju kamarnya, Alan menghena nafas dengan sangat berat. Jujur dia juga merasa bersalah karena telah membuat kedua orangtuanya sedih akibat dari perbuatannya itu.


"Sekarang tinggal bagaimana aku harus menemukan kamu Cla! Aku ingin kita kembali bersama dan bahagia selamanya dengan keluarga kita sendiri. Aku pastikan akan segera menemukan keberadaan kamu dimanapun itu!" Tekat Alan yang sangat kuat.


******


Nah lho yang jomblo jangan baper yak dengan Alvin dan Mikha? Hehe!


Akankah Alan akan bisa menemukan keberadaan Clara?


Penasaran? Hayoooo mana suaranya!


Happy reading guys!

__ADS_1


__ADS_2